Clone

"Death"

Kuperhatikan 2 sosok di sampingku. Aku penasaran apa yang ada di pikiran Naru dan Souban sekarang. Meski kami sekarang bersemangat untuk bertarung bersama, tapi di lubuk hati kami yang paling dalam kami tahu perang ini sulit dimenangkan. Aku yakin mereka punya pertanyaan yang sama denganku. Jika perang ini tak bisa kami menangkan, siapa yang akan jadi Time Traveler ke-2 dan siapa 2 orang lainnya yang akan mengalah dan mati?

Kukubur kembali pertanyaan itu dalam-dalam. Sekarang yang paling penting adalah mencari cara bagaimana mengalahkan Dark Menma dengan keterbatasan jumlah serta tenaga kami.

Aku menoleh ke arah kanan medan perang. Di sana nampak Orochimaru sedang kesulitan melawan 6 Hashirama. Sementara di sisi lainnya Karin susah payah mengimbangi 6 Jinchuuriki yang sudah masuk ke mode bijuu. Clone tak kalah sibuknya melawan 6 Madara yang sudah masuk mode Rikudou.

Maaf teman-teman, bukannya aku tak mau menolong, tapi di sini juga kami sedang kesulitan. Sepuluh orang dalam mode Rikudou yang terdiri dari 6 Obito ET, 3 Naruto ET, dan 1 Dark Menma bagaikan mimpi buruk bagi kami. Belum lagi 4 Minato yang berada tepat di belakang mereka.

"Awas!" teriak Naru.

BLAST!

Enam pedang Nunoboko Obito menghantam tanah tempat kami berdiri. Lekukan tanah yang sudah seperti kawah itu kini makin hancur lagi. Beberapa puluh meter lagi ke dalam tanah aku yakin lava sudah siap meledak ke permukaan bumi. Aku khawatir dimensi ke 7 ini tak mampu lagi menerima serangan-serangan dalam skala besar. Jika pertempuran Hashirama-Madara di masa lalu saja dikatakan bisa mengubah tampilan permukaan tanah di peta, maka dipastikan pertempuran kami saat ini bisa menghancurkan dunia di dimensi ke 7.

Aku mengeluarkan 2 tongkat nunoboko, untuk menahan 6 pedang nunoboko milik Obito.

Souban mengambil kesempatan ini untuk terbang. Dia merubah senapan NR menjadi seperti peluncur misil lalu menghujani musuh dengan puluhan misil. Empat Minato terkena ledakan telak sedangkan sisanya masih bertahan.

"Souban! Empat Minato itu akan hidup kembali, gunakanlah senjata yang bisa mengunci pergerakannya."

Setelah itu Souban mengeluarkan amunisi yang berbentuk cairan untuk menahan serpihan badan 4 Minato.

Kepulan asap dari misil-misil membuat jarak pandang di medan perang berkurang. Naru memanggil 3 Kyuubi, terdiri dari 1 miliknya, 1 milik Akage, dan 1 milik Shichidaime. Tiga Kyuubi bergerak cepat untuk memukul 4 Rikudou Naruto. Karena jarak pandang yang masih kurang, 3 Naruto ET terkena pukulan. Lalu saat Naru melanjutkan pukulan ke Naruto terakhir, yaitu Dark Menma, tiba-tiba tubuh Kyuubi dan Naru terlempar.

BUKH! BUKH!

Itu Limbou!

Naru memegang perutnya yang sakit. "Ugh! Apa itu tadi? Aku yakin pukulanku hampir mengenainya," seru Naru.

"Hati-hati Naru! Rikudou Dark Menma memiliki bayangan tak kasat mata yang bertindak sebagai pelindungnya."

"Sial. Aku sama sekali tak merasakan keberadaannya, ghack-" Kata-kata Naru terpotong saat pukulan tak terlihat lainnya mengenai perutnya. Kali ini pukulannya lebih keras karena Naru sampai muntah darah.

SRAKKK!

Perut bagian kiriku terkena goresan nonoboku. Fokusku benar-benar terbagi. Di sisi lain aku sedang bertarung dengan 6 Rikudou Obito, di sisi lainnya aku khawatir pada Naru dan Souban. Dulu aku dibantu sharingan dan rinnegan milik Sasuke untuk mendeteksi keberadaan limbou, tapi kini dia tak ada. Rinnegan-ku belum sekuat Sasuke sehingga tak bisa melihat keberadaan bayangan Dark Menma tersebut.

TRANG!

Souban menyerang Dark Menma dengan pedangnya, ia memberikan waktu kepada Naru untuk mundur.

"Aku bisa mendeteksinya dengan sensor panas dan energi!" teriak Souban.

Bagus! Sepertinya kami masih punya peluang melumpuhkan Dark Menma dan 3 Naruto ET.

"Senpou: Jiton Odama Rasengan!"

Kukeluarkan rasengan magnet berukuran besar untuk mengunci pergerakan 6 Obito ET. Rasengan magnet adalah gabungan rasengan milikku dengan chakra milik si rakun Shukaku (Ichibi/bijuu ekor 1). Jurus itu cukup ampuh untuk menahan pergerakan 6 Obito ET karena bisa mengikat tubuh mereka.

Setelah 6 Obito ET teratasi, aku segera membantu Souban dan Naru. Naru nampak sedang menyembuhkan sendiri luka di perutnya. Seandainya bisa, Naru harus berterima kasih kepada Shichidaime dan Akage karena sudah memberikan chakra mereka. Kini penyembuhan Naru 3 kali lipat lebih cepat dari biasanya.

Sementara Souban kulihat sedang dihabisi Dark Menma. Ia bisa mendeteksi bayangan Dark Menma, hanya saja dikeroyok oleh Dark Menma, bayangannya, dan 3 Naruto ET bukanlah keadaan yang bagus bagi Souban. Beberapa armor NR yang dipakainya hancur karena tak kuat menahan kuatnya pukulan musuh.

"Aku sudah tak apa-apa, Nii-san," gumam Naru.

Aku mengangguk. Kami segera membantu Souban.

Naru menerjang dan menendang Dark Menma, sedangkan aku menarik 3 Naruto ET dengan mokuton. "Dimana posisi bayangannya?!" teriakku pada Souban.

"Tepat di belakangku! Ia sedang menarik badanku!"

Segera kubuat segel untuk menggunakan salah satu jurus terhebat Hashirama.

"Senpou: Myoujinmon!"

Souban balik mengunci pergerakan bayangan Dark Menma agar ia tak kabur. Sepuluh gerbang berukuran besar yang saling menumpuk datang secara tiba-tiba dan menahan bayangan Dark Menma ke tanah. Meski aku tak bisa melihatnya tapi aku yakin bayangan Dark Menma sudah tertangkap karena ada tekanan pemberontakan dari arah bawah. Kami bertiga menjauh untuk mengatur napas kami dan merencanakan serangan.

KRAK!

Tak kusangka Naruto ET, Naru ET, dan Shichidaime ET menghancurkan mokuton yang kubuat. Dark Menma memperkuat aliran chakra ke 3 Naruto ET tersebut. Ia tak ingin membiarkan kami lolos. Tiga Naruto ET berhasil mengejar kami dengan mudah dan-

"Linbou Hengoku!" "Linbou Hengoku!" "Linbou Hengoku!"

Ketiganya menyerang kami dengan bayangan mereka yang tak terlihat.

"Tiga bayangan bergerak ke arah kita dengan cepat!" teriak Souban.

DHUAKKKK!

Kami bertiga sudah berusaha menahan serangan. Tapi karena aku dan Naru tak mengetahui persis posisinya, kami tak tahu bayangan-bayangan itu mau menyerang kami ke bagian mana. Akhirnya aku dan Naru hanya pasrah. Aku terkena pukulan di ulu hati dan Naru di wajah. Souban adalah satu-satunya yang tahu serangan yang dibentuk bayangan tersebut. Saat bayangan tersebut mengincar dadanya, sensornya memperlihatkan dengan jelas sehingga Souban segera menyilangkan kedua tangannya di dada. Sayangnya pukulan Shichidaime ET begitu kuat hingga armor tangan kiri NR hancur.

Kami terhempas ke dasar kawah dengan luka yang parah. Armor tangan kiri NR sudah hancur, otomatis tangan kiri Souban pun ikut terluka. Naru mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya. Aku menduga tulang hidungnya patah karena kulihat tadi pukulan yang mengenainya keras. Sedangkan aku sendiri merasakan sakit yang luar biasa di perutku, disusul dengan sesak napas. Rasa sakitnya tak biasa. Kurasa ada pendarahan di dalam.

Aku tahu Rikudou yang harus kami hadapi tinggal 4 yaitu Naruto ET, Naru ET, Shichidaime ET, dan Dark Menma. Bayangan Dark Menma sudah tertangkap. Tapi aku tak mengira kalau 3 lainnya yang merupakan edo tensei bisa melakukan jurus Linbou Hengoku juga.

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Terik matahari siang menerpa wajahku. Aku menoleh ke sisi kiri, kulihat Souban sedang meringis memegangi tangan kirinya. NR sudah melepaskan armor bagian tangan kirinya. Mungkin agar kerusakan tak menyebar ke badan. Aku menoleh ke sebelah kanan, kulihat Naru tak bergerak. Aku sempat kaget takut dia kenapa-kenapa. Ternyata dia masih bernapas. Ia hanya kehabisan chakra. Ia sedang berusaha mengatur napasnya.

Tiba-tiba cahaya matahari yang menyinari wajahku tertutup seseorang, Dark Menma.

"Ghhhkkk!"

Dengan cueknya di duduk di perutku, menambah rasa sakit yang kurasakan.

"Aku kecewa," gumamnya pelan. "Kukira pertempuran ini akan berlangsung lama. Ternyata hanya begini saja kemampuan kalian."

Setelah itu dia tak bicara apa-apa lagi. Hening. Hanya ada suara pertempuran Orochimaru, Karin, dan Clone dari atas sana. Aku tak mengerti kenapa Dark Menma tak langsung membunuh kami.

"Kenapa… kau lakukan ini?" tanyaku pada Dark Menma.

Dark Menma kembali menoleh ke arahku.

"Apa memang harus ada alasannya?" kata Dark Menma balik bertanya.

"Tentu saja! Dulu… Yami sempat menjawab kalimat… yang sama saat kutanya kenapa memburu 6 Naruto lain. Tapi kemudian… aku tahu kalau tujuannya adalah jadi Time Traveler. Jadi aku yakin kau juga punya alasan. Yang jadi masalah adalah apa alasanmu? Kau sudah jadi time traveler, kenapa masih memburu kami?"

Dark Menma mematung mendengar pertanyaanku. Tak lama kemudian dia tersenyum dan berdiri. Dia melangkah menuju ke arah Naru.

"Hei, kau mau apa?!" bentakku.

Dark Menma tak menjawab, dia membungkuk kemudian menarik leher Naru ke atas. Aku berusaha bangun tapi rasa sakit di perutku masih saja menyiksaku.

"Gadis ini sangat berharga bagimu, huh?" tanya Dark Menma.

"Lepaskan dia!" bentakku lagi.

Dark Menma tak menghiraukanku. Di tangannya ia sudah menyiapkan sebuah serangan lain. Sebuah pancaran energi yang dikellingi angin. Pusat di pancaran energi itu terlihat familiar. Dari warna dan bentuknya aku tahu kalau itu lava (yoton)!

"Tak seperti Yami, tujuanku menghabisi kalian adalah murni untuk mencari kesenangan!" jawab Dark Menma sambil tersenyum. Dark Menma lalu mengarahkan serangannya ke badan Naru.

"Senpou: Yoton Rasen Shuriken!"

"Brengsek!"

Kukumpulkan tenagaku yang tersisa untuk membentuk serangan yang sama. Tanpa buang waktu lagi segera kulemparkan ke arah Dark Menma.

"Senpou: Yoton Rasen Shuriken!"

Tanpa kuduga Naru yang dari tadi diam saja ternyata sedang menyiapkan serangan juga.

"Senpou: Chou Odama Rasen Shuriken"

Dark Menma nampaknya tak gentar sedikitpun.

"Tingkatan kekuatan Rikudou kita berbeda, Naruto! Apalagi jika dibandingkan dengan mode Kyuubi-Senjutsu-mu, Naru! Kalian tak akan menang!"

BOOM!

Satu yoton rasen shuriken beradu dengan yoton rasen shuriken lain ditambah odama rasen shuriken. Saat ketiganya beradu menciptakan ledakan yang melemparkan tubuh kami, termasuk Souban. Berbeda sekali dengan Dark Menma yang hanya mundur beberapa langkah saja. Yoton (lava) adalah chakra yang diambil dari kekuatan Son Goku (Yonbi/bijuu ekor 4). Yoton adalah gabungan elemen api dan tanah. Ketika gumpalan lava itu meledak, tanah di dasar kawah ikut meleleh, membuat lava dari inti bumi ikut bereaksi sehingga memancar ke permukaan tanah.

Sebelum aku dan Naru tercebur ke dalam gumpalan lava, Clone datang menarik kami berdua ke permukaan, ke tempatnya bertarung tadi. Souban mengikuti kami dari belakang. Dark Menma tak ingin membiarkan kami lolos sehingga memerintahkan 3 Naruto ET menghadang kami dari atas.

Kami terjebak di tumpukan bebatuan. Di dasar kawah ada Dark Menma, sedangkan di atas ada 3 Naruto ET, beserta 3 bayangan mereka yang tak bisa kami lihat sedang mencegat kami.

Souban mengambil inisiatif untuk berlari duluan. Diserangnya 3 Naruto ET, berikut 3 bayangannya dengan tembakan beruntun.

"Kalian pergilah duluan!" teriaknya.

"Bagaimana denganmu?!" tanya Clone sambil menghentikan langkahnya.

"Aku akan menyusul!" jawab Souban tanpa menoleh.

Clone mengerti keputusan Souban. Ia melanjutkan berlari dengan melingkarkan tanganku dan Naru di lehernya lalu membawa kami ke permukaan. Kami bahkan sudah tak mampu untuk sekedar menggunakan hiraishin. Chakra kami hampir habis. Jadilah Souban bertarung habis-habisan dengan 3 Naruto ET. Souban meluncurkan misil bernama Jericho dari punggung armor NR. Sesaat setelah diluncurkan, 1 misil itu terpecah jadi ratusan misil kecil dan menghancurkan tebing sekeliling kawah, membuatnya longsor ke dasar.

Kenapa dia mengincar tebingnya? Tidak tubuh 3 Naruto ET?

Saat itulah aku sadar Souban tak benar-benar berniat untuk menyusul kami. Dia bermaksud mengorbankan nyawanya untuk mengubur 3 Naruto ET dan Dark Menma dengan longsoran batu, lalu melelehkan mereka dengan lava di dasar kawah.

"SOUBAANNN!" teriakku.

BOOOM!

Ledakan beruntun terdengar setelahnya. Misil Jericho memiliki daya ledak yang sangat besar. Tebing-tebing di sisi kawah hancur seketika, mengirim bebatuan terjun ke dasar kawah.

Dugaanku terbukti saat Souban melepas armor NR setelah ledakan terjadi. Souban menarik tubuh 3 Naruto ET ke dasar kawah. Tak memberikan kesempatan mereka untuk kembali ke atas. NR tak bisa berbuat apa-apa karena ada banyak reruntuhan bebatuan yang meluncur ke bawah. NR memutuskan untuk menjauh karena dirinya sendiri bisa terkubur jika diam di sana.

Tak lama kemudian ada energi yang datang dari kawah lalu masuk ke dalam tubuhku. Itu merupakan tanda kalau Souban sudah benar-benar tewas. Kebetulan aku berada paling dekat dengannya dibanding Naru sehingga energi itu masuk ke dalam tubuhku.

Satu lagi nyawa 'Naruto' gugur. Uzumaki Naruto alias Souban telah mengorbankan nyawanya untuk kami.


Kematian Souban bukan satu-satunya kesedihan kami. Saat tiba di atas, aku melihat Karin sedang sekarat dengan badan yang penuh luka. Bahkan napasnya terlihat tersengal-sengal. Tak jauh dari Karin ada tubuh Orochimaru yang sudah di tutupi kain. Itu sudah cukup menandakan kalau ia sudah mati.

"Orochimaru kesulitan menandingi kekuatan 6 Hashirama. Begitu juga dengan Karin yang kewalahan melawan 6 Jinchuuriki. Hebatnya, mereka bisa mengalahkan musuh di saat-saat terakhir. Orochimaru berhasil mengalahkan 6 Hashirama. Sedangkan Karin berhasil menyegel 6 bijuu ke dalam tubuhnya," jelas Clone.

Aku beringsut mendekati tubuh mereka. Ketakutanku telah jadi kenyataan. Satu per satu anggota timku mati. Aku memang tak menjanjikan keselamatan kepada mereka. Ini misi hidup dan mati. Tapi aku tak menyangka keadaan mereka akan setragis ini.

Clone menjadi yang paling tahu kondisi Karin dan Orochimaru karena ia bertarung di dekat mereka. Aku tak bisa menyalahkannya atas keadaan Karin dan Orochimaru. Kami semua menghadapi musuh yang kuat, tak terkecuali Clone yang harus menghadapi 6 Madara. Untung saja ia bisa memenangkan pertempuran melawan 6 Uchiha tersebut lalu membawa Karin dan Orochimaru ke sini.

"Karin menyegel 6 bijuu ke dalam tubuhnya?" tanyaku kepada Clone untuk memastikan karena tak percaya.

"Uhuk!"

Tiba-tiba Karin terbatuk.

"Karin!" Aku memegang kepala Karin.

"Dia benar. Aku menyegel 6 bijuu ke dalam tubuhku. Hebat, 'kan?" candanya.

Aku mati-matian menahan rasa sedihku. Bisa-bisanya Karin bercanda di saat seperti ini. Tapi aku akui dia memang hebat. Tubuhnya tak terlatih untuk menerima banyak chakra dari bijuu, tapi kenyataannya dia bisa berhasil menyegel semuanya. Dia memang Uzumaki sejati. Aku memaksakan sebuah senyuman meski sedang sedih.

"Ya, kau hebat. Aku senang telah merekrutmu jadi anggota timku," balasku.

Karin berusaha membuka kaca matanya. Kaca kirinya sudah pecah sehingga justru mengganggu penglihatan Karin. Kubantu Karin untuk membukanya. Kurapikan rambut merah yang menutupi matanya.

"Aku sudah tak kuat lagi. Aku harus segera memindahkan semua chakra bijuu ke tubuh kalian," gumam Karin pelan.

DEG! Ini sama persis seperti kasus Shichidaime.

"Tapi-"

"Jangan banyak protes, baka," potong Karin. "Jika aku mati, maka keenam bijuu akan mati bersamaku. Aku tak mau usahaku sia-sia."

Aku mengigit bibir bawahku. Aku tak punya pilihan lain.

"Baiklah. Masukkan semuanya ke dalam tubuh Naru," saranku.

"Bagaimana denganmu?"

"Luka Naru lebih parah karena terkena rasengan."

"Naruto bisa masuk ke dalam tubuhku," tambah NR. "Aku mendeteksi pendarahan dalam dan beberapa tulang rusuk yang patah. Ada fungsi untuk merekonstruksi tulang dan menghentikan pendarahan dalam armor-ku."

Karin akhirnya setuju untuk memberikan 6 bijuu ke dalam tubuh Naru. Clone membopong Naru ke dekat Karin karena ia sudah tak mampu berjalan sendiri. Karin lalu memegang tangan Naru. Enam bijuu berpindah dengan cepat. Tak lama kemudian tangan Karin tergolek tak berdaya.

"Karin! Karin!"

Tidak ada jawaban.

Karin telah tewas...


Dark Menma keluar dari longsoran tanah, diikuti Naruto ET dan Naru ET. Sejak awal aku memang ragu Dark Menma bisa kalah hanya dengan lelehan lava di dasar kawah. Dia pasti bisa menetralkannnya dengan elemen lain sebelum ia celaka. Tapi setidaknya Souban berhasil memerangkap Shichidaime ET di dalam tanah.

Dengan kematian Karin, Orochimaru, dan Souban, persentase kemenangan kami turun lagi. Sekarang keadaan memang 3 lawan 3, tapi kekuatan kami jauh berbeda. Dark Menma, Naruto ET, dan Naru ET masih terlihat segar dengan mode Rikudou mereka. Mereka juga masih punya 2 bayangan limbou yang tak bisa kami lihat, yaitu bayangan Naruto ET dan Naru ET. Sedangkan di pihak kami sudah tak ada yang benar-benar fit. Clone memanfaatkan sisa chakra dalam mode Rikudou-nya. Naru baru saja membaik, dengan luka yang sedang dalam masa penyembuhan. Sedangkan aku sedang diam dalam armor NR. NR menyuruhku untuk tak banyak bergerak sementara fungsi recovery dalam armor menyembuhkan lukaku. NR bilang dia yang akan mengambil kendali (autopilot) selama 3 menit ke depan.

Diam dalam armor NR ternyata tak sesumpek yang kukira. Meski seluruh badan ditutupi armor (minus armor tangan kiri yang hancur), ternyata oksigen segar tetap mengalir ke dalam topeng. Pandangan pun nyaris 360 derajat karena sumber penglihatan NR berupa kamera khusus. Tampilan dari kamera disajikan dengan jelas dengan layar hologram di depan mataku. Ada banyak angka-angka dan pengukuran yang tertera di sekitar mataku. Tapi NR bilang jangan pedulikan semua itu. Dia bilang yang terpenting adalah tulisan power dan hit points (HP), yang berarti kekuatan dan ketahanan armor. Saat ini power NR sebesar 30% dari total dan HP-nya hanya tinggal 25%. Saat HP habis, maka itu berarti NR akan mati.

Dengan pandangan NR yang bisa di-zoom, aku pun jadi tahu kalau wajah Naruto ET dan Naru ET lebih tua dari perkiraanku. Aku tak terlalu memperhatikan karena samar oleh retakan khas edo tensei di tubuh mereka. Sekarang saat kugunakan fungsi zoom milik NR, aku sadar Naruto ET lebih tua dariku dan dari Shichidaime, mungkin umurnya sekitar 30-an, sedangkan Naru ET sekitar 20-an. Aku tak tahu dari mana Dark Menma mengambil mereka.

Aku memutar otakku untuk menyusun strategi baru.

Musuh kami yang tersisa berjumlah 5 jika limbou dihitung, yaitu:

Dark Menma

Naruto ET

Limbou Naruto ET

Naru ET

Limbou Naru ET

Sedangkan di pihakku ada 3 orang, yaitu:

Aku (Naruto)

Naru

Clone

Kami masih kalah jumlah. Aku perlu tambahan orang.

"Aku punya rencana," gumamku dari dalam tubuh NR.

Clone dan Naru merapat ke dekatku.

"Ini rencana terakhir yang kupunya. Jika ini gagal maka kita tamat."

"Setidaknya kita berusaha sampai akhir. Apa rencanamu?" tanya Clone.

"Aku akan gunakan kekuatan 6Paths of Pain pada mayat-mayat yang di-edo tensei oleh Dark Menma. Lalu akan kugunakan untuk menyerang balik Dark Menma."

"Tubuh siapa yang akan kau pakai?"

"Tubuh 6 Madara, 6 Obito, 4 Minato dan 2 Naruto."

"18? Itu 3 kali jumlah normal! Kau tak akan mampu mengendalikan 18 orang, Nii-san!" kata Naru khawatir.

Ia pasti sudah mempelajari kalau 6 Paths of Pain sulit dikendalikan. Nagato saja susah payah mengendalikan 6 tubuh. Terkadang 5 tubuh akan 'non-aktif' saat kekuatan difokuskan pada salah satu Pain. Sekarang aku akan mengendalikan 3 kali dari jumlah yang pernah dilakukan Nagato. Tak heran kalau Naru khawatir terjadi sesuatu yang buruk padaku.

"Kita tidak akan menang jika mengambil 6 tubuh saja. Percayalah padaku, Naru."

Naru dan Clone diam untuk beberapa saat. Mereka sepertinya sedang mencari alternatif rencana lain. Tapi tidak mereka dapatkan, tak ada cara lain yang bisa kami dilakukan. Akhirnya mereka setuju. Clone jadi yang pertama bicara.

"Baik aku setuju. Aku yang akan memasang besi chakra di ke-18 tubuh. Sebelum itu aku ingin memberikan ini kepada Naru."

Clone memegang tangan kanan Naru. Sebuah pancaran sinar muncul dari tangan mereka. Setelah ia melepasnya aku melihat lambang matahari di telapak tangan Naru.

"Senjutsu Rikudou?!" tanyaku dan Naru bersamaan.

"Ya. Mode Rikudou bisa digunakan jika pengguna memiliki 9 chakra bijuu. Sekarang chakra di tubuh Naru ada 9, yaitu terdiri dari bijuu ekor 3 sampai 8 pemberian Karin, Kyuubi Akage, Kyuubi Shichidaime, dan Kyuubi Naru sendiri. Itu chakra yang cukup untuk mengendalikan mode Rikudou-Senjutsu."

"Bagaimana denganmu? Kau akan rentan terkena serangan jika hanya dalam mode Kyuubi-Senjutsu," kata Naru.

Clone tersenyum dan menatap kami bergantian. Lalu ia memegang pundak kami untuk menenangkan. Sikapnya mengingatkankanku pada Naruto Shichidaime, sang tuan rumah dimensi ke-7 yang telah mati. Namun jika diperhatikan lagi Clone lebih dewasa dari Shichidaime.

"Jangan khawatir. Aku hanya kloning yang dibuat oleh NR. Aku yang asli sudah mati 12 tahun yang lalu."

"Jangan bilang begitu! Bagiku kau sama seperti kami. Kau sudah banyak membantu kami," seru Naru.

Clone menggeleng pelan sambil mengusap kepala Naru. Ia seperti menyembunyikan sesuatu dari kami.

"Ini keputusanku. Suatu saat kau akan mengerti, Naru." Clone menoleh ke arahku. "Berikan besi chakra-nya."

Aku membuat 18 besi chakra dengan tangan kiriku dan memberikannya kepada Clone.

"Aku tak akan lama dan segera bergabung dengan kalian," katanya.

Clone berlari menuju 6 Madara yang disegelnya, 6 Obito yang kukunci dengan jiton, 4 Minato yang ditahan Souban dengan cairan plasma, dan 2 Naruto (Yami ET dan Akage ET) yang kusegel dengan jurus penyegelan yang diajarkan oleh Sai padaku.

Naru menoleh ke arahku dan langsung tahu apa yang harus dilakukan. Aku masih dalam perawatan NR, sehingga ia harus turun tangan melawan 3 Naruto untuk mengulur waktu.

"Aku akan melawan mereka sementara Nii-san melakukan recovery. Tenang saja," kata Naru.

Aku memaksakan diri untuk tersenyum ke arah adikku agar ia tetap semangat. "Hati-hati, Naru."

Naru mengeluarkan 2 tongkat gudoudama dan melesat menuju 3 Naruto. Ia mengadukan 2 tongkatnya dengan 2 pedang nunoboko milik Naruto ET dan Naru ET. Benturan yang keras menyebabkan tanah di sekitarnya kembali hancur.

Maafkan aku, Hokage-sama, bukan saja aku tak bisa melindungi Konoha 7 seperti pesan terakhirmu, bahkan dunia ke-7 ini saja sudah tak bisa kulindungi. Lava memancar dari gunung dan lempengan-lempengan bumi. Besarnya kekuatan dalam pertarungan kami membuat ketidakseimbangan energi di permukaan dan di inti bumi. Tanah sudah banyak yang hancur. Inti bumi sudah tak kuat menahan tekanan dari dalam.

Semoga Shichidaime mau memaafkanku.

Aku kembali memfokuskan pada pertarungan Naru.

Naru telah berhasil menempelkan 2 gudoudama di bahu ET. Bagus! Dari kasus Tou-san di perang dunia ninja ke-4, tubuh ET-nya yang hancur tak bisa meregenerasi jika terkena gudoudama langsung. Sifat gudoudama bisa menetralkan ninjutsu. Apalagi sekarang tak ada Yami sehingga penetralan tak akan terganggu.

BOOM!

Bahu Naru ET berhasil dihancurkan. Namun Dark Menma menendang gudoudama yang di bahu Naruto ET ke arah Naru. Untung saja ia berhasil mengelak. Entah dimana gudoudama itu meledak karena terlempar sangat jauh.

Serangan belum selesai, Dark Menma datang dikawal oleh Naruto ET dan bayangannya. Naru diberondongi serangan oleh ketiganya. Tendangan, pukulan, rasengan, gudoudama, dan senjutsu bertubi-tubi menyerangnya. Yang paling merepotkan tentu saja bayangan (limbou) Naruto ET yang tak terlihat.

Saat dihabisi seperti itu, muncul Clone yang membantunya. Ia memberikan isyarat padaku kalau ia selesai memesang besi chakra di 18 tubuh. Kebetulan dada dan perutku sudah tak sesakit tadi. Fungsi penyembuhan di armor NR sudah bekerja dengan baik.

Saatnya menyerang!

"Kalian sudah bersemangat seperti biasanya. Aku tak akan main-main lagi kali ini. Majulah!" teriak Dark Menma. Ia terlihat senang karena kami masih bisa melawan. Dasar maniak pertarungan!

"Ini serangan terakhir yang akan mengakhiri hidupmu!" teriakku.

Aku terbang melesat menggunakan roket peluncur di kedua kaki NR. Sensor yang dimiliki NR membantuku melihat dengan jelas keberadaan bayangan Naruto ET dan Naru ET. Bayangan-bayangan itulah yang dari awal selalu mengacaukan formasi kami. Aku menendang Naru ET, ia tak bisa menangkisnya karena tangan dan bahunya tadi hancur oleh gudoudama milik Naru. Kepala bayangan Naru ET kuhantam dengan ujung senapan. Sedangkan bayangan Naruto ET kuhadiahi dengan tembakan di perut. NR sengaja mengubah mode senapannya ke shotgun agar efeknya lebih mematikan dalam tembakan jarak dekat. Perut bayangan Naruto ET hancur. Heh, senjata-senjata dari masa depan boleh juga.

"Lanjutkan serangan!"

Naru dan Clone melanjutkan serangan melawan Dark Menma, Naruto ET, dan Naru ET. Aku mundur untuk masuk ke tahap selanjutnya. Aku mengerahkan semua chakra yang kupunya untuk menggerakkan 18 tubuh di belakang sana. Darah keluar dari hidungku. Ini lebih susah dari yang kukira.

Jika usahaku berhasil, maka keadaan akan berbalik.

Musuh kami yang tersisa tinggal 3, yaitu:

Dark Menma

Naruto ET

Naru ET

Sedangkan di pihakku meningkat pesat, yaitu:

Aku (Naruto)

Naru

Clone

6 Madara

6 Obito

4 Minato

2 Naruto

Usahaku tak sia-sia, 18 tubuh yang terdiri dari 6 Madara, 6 Obito, 4 Minato, dan 2 Naruto berhasil kugerakan. Sekarang mereka berada tepat di belakangku.

"Argghhh!"

Tubuh Clone tertusuk oleh pedang nunoboko Naruto ET dan Naru ET. Sesuai dugaan Naru, mode Kyuubi biasa tak akan sepadan dengan mode Rikudou. Sementara Naru jadi bulan-bulanan Dark Menma. Seperti yang Dark Menma bilang, tingkatan mode Rikudou kami tak sama dengannya. Dark Menma terlihat berpengalaman sekali dalam memainkan gudoudama miliknya. Ia seperti sudah sangat lama menguasai mode Rikudou. Kemampuannyamelebihiku, bahkan melebihi Clone ketika dia masih dalam mode Rikudou, padahal umur Dark Menma terlihat lebih muda dari Clone. Dilihat dari fisiknya Dark Menma seumur denganku. Makanya aku heran, kenapa dia bisa sangat hebat meski tak memakai kemampuan time travel?

Aku tak tega melihat kedua temanku dihabisi. Tapi chakra yang kukumpulkan belum cukup!

"Bertahanlah Naru, Clone!" Aku memerintahkan NR untuk melakukan hal lain selagi aku berkonsentrasi. "NR, suntikkan painkiller ke aliran darahku!"

NR melakukan apa yang kusuruh. Dengan painkiller yang masuk ke aliran darah, semua rasa sakit di tubuhku lenyap. Luka tetap ada, tapi sinyal rasa "sakit" tidak dikirimkan ke otak. Ini berbahaya karena otak tak lagi memberi tahu bagian tubuh mana yang cedera, tapi aku terpaksa melakukannya.

Aku meningkatkan aliran chakra ke 18 tubuh lebih banyak lagi.

Aku mengubah mereka semua ke mode Rikudou!

"Uhuk!"

Aku memuntahkan darah sehingga topeng NR terkena darah. NR membuka topengnya karena keberadaan topeng itu malah membuatku tak nyaman.

"Kau tak apa-apa? Kedelapanbelas tubuh itu sudah masuk ke mode Rikudou," tanya NR

"Aku tak apa-apa, tambahkan lagi painkiller!"

Setelah rasa sakit berkurang, aku menggerakan semua edo tensei untuk menyerang Dark Menma. Aku membaginya sama rata. Artinya masing-masing Tendo, Shurado, Ningento, Chikushodo, Gakido, dan Jigokudo berjumlah 3.

6 paths kuperintahkan melawan Naru ET.

6 paths kuperintahkan melawan Naruto ET sekaligus menyelamatkan Clone.

Sayangnya nyawanya sudah tak tertolong.

6 paths sisanya (2 Madara, 2 Obito, 2 Naruto) kuperintahkan melawan Dark Menma, sedangkan aku sendiri menyelamatkan Naru yang terluka parah. Kubaringkan tubuh Naru di tanah. Kusuruh dia untuk diam memulihkan tenaganya.

Aku menguatkan hatiku melihat keadaan adikku yang seperti itu. Tapi di saat seperti ini tak ada waktu untuk bersedih.

Aku menyusul 6 edo tensei yang sedang melawan Dark Menma.

2 Obito merupakan Shurado.

2 Naruto merupakan Tendo.

2 Madara merupakan Chikushodo.

Sekarang musuhku tinggal 1 dan merupakan yang terkuat, yaitu Dark Menma. Aku pastikan dia tak akan lolos dalam serangan terakhirku.

Dark Menma mengetahui serangan yang akan kukeluarkan sehingga ia membuat tameng dari gudoudama. Tak tanggung-tanggung, dia membuat 7 lapis tameng dari gudoudama!

2 Shurado meluncurkan ribuan misil ke arah Dark Menma.

KABOOOOOMMMMMMM!

Belum cukup!

Dua pasang tangan mereka berubah jadi 4 bazooka dan diluncurkan ke arah Dark Menma

"Kaiwan no Hiya!" "Kaiwan no Hiya!"

Belum cukup!

2 Tendo menyerang Dark Menma dari 2 arah yang berbeda tanpa menunggu hasil serangan Shurado.

"SHINRA TENSEI!" "SHINRA TENSEI!"

Belum cukup!

2 Chikushodo memanggil 12 hewan kuchiyose dipadukan dengan 4 meteor untuk menghancurkan tameng Dark Menma. Chikushodo bisa memanggil meteor karena tubuh yang digunakannya adalah tubuh Madara.

"Kuchiyose no Jutsu!" "Kuchiyose no Jutsu!"

"Tengai Shinsei!" "Tengai Shinsei!"

Medan pertempuran sudah seperti dunia yang tak berpenghuni. Sepanjang mata memandang hanya ada hamparan tanah yang hancur lebur. Lava memancar dari mana-mana. Di pusat medan perang ada bulatan hitam yang merupakan tameng Dark Menma. Dari 7 tameng yang dibuatnya, seranganku tadi hanya mampu menghancurkan 2 saja.

Sebaliknya, justru Dark Menma menghantam semua paths of pain dengan petir dari jarak jauh.

"Senpou: Ranton Kouga!"

Serangan tak boleh berakhir di sini!

NR mengambil inisiatif untuk mengambil pedang dipunggungnya, sedangkan aku membuat pedang nunoboku. Kami mendekati tameng Dark Menma dan menebaskan pedang kami bersamaan. Pedang nunoboku di tangan kiri dikendalikan olehku. Pedang adamantium di tangan kanan dikendalikan oleh NR.

TRANG! TRANG!

2 lapis tameng kembali hancur, tapi saat beradu dengan lapisan ke-3, kedua pedang kami hancur.

"Jangan berhenti!" kata NR.

Ia menghantamkan bahu, tangan, dan lututnya sendiri ke tameng Dark Menma. Lama-lama terbentuk retakan dan lapisan ke-3 hancur. Namun bersamaan dengan itu armor NR juga hancur. Layar hologram di depan mataku menunjukkan (hit points) HP dan power NR sudah 0%. Perlahan layar itu lenyap. Armor NR lepas dengan sendirinya dari tubuhku.

"Tinggal 2 lapis tameng lagi. Jangan menyerah. Serang sampai akhir…" Itulah kata-kata terakhir NR sebelum semua lampu di armor-nya mati, tanda hilangnya kehidupan di sana.

"DARK MENMA!" teriakku kesal.

Tadi Clone mati, sekarang giliran NR.

Aku ingat pesan NR, serangan beruntun ini tak boleh berhenti. Aku harus menyerang Dark Menma tanpa henti. Kugabungkan semua gudoudama yang kupunya. Kutempatkan di tangan kanan dan kiri dan kukumpulkan semua chakra yang kupunya di sana. Dua gudoudama itu perlahan membesar hingga melebihi ukuran tubuhku sendiri.

Ini serangan terakhirku. Kuharap ini bisa mengalahkan Dark Menma… atau paling tidak, bisa memberikan peluang bagi Naru untuk mengalahkannya.

Kedua bola gudoudama tak bisa membesar lagi, aku sudah kehabisan chakra.

Kuhantamkan keduanya ke arah tameng Dark Menma.

"SENPOU: TSUIN RASEN GUDOUDAMAAAA!"

DHUAKKKK!

Lapisan kedua hancur…

Lapisan terakhir hancur…

Tak kusangka Dark Menma sudah menyiapkan serangan yang sama di dalam sana.

"SENPOU: TSUIN RASEN GUDOUDAMAAAAAAAAA!"

"Berengsek kau Narutoooo! ARGGHHHHH!"

Empat rasengan beradu. Aku nyaris kalah, tapi aku tahu ini serangan terakhir hasil pengorbanan teman-temanku. Aku tak boleh menyerah. Kudorong rasengan milikku lebih kuat.

"Ini untuk teman-temankuuuu! Heaaahhhh!"

Dan akhirnya 2 rasengan gudoudama itu menghancurkan 2 rasengan gudoudama milik Dark Menma…

Menghantam badan Dark Menma…

Merobek perutnya…

Melukai wajahnya…

Mematahkan tulang rusuknya…

Dan menghempaskannya ke tanah…


"N-Nii-san?! Bangun! Aku mohon…"

Aku membuka mataku. Hal pertama yang kulihat adalah tangis Naru. Aku sudah tak bisa bergerak. Bahkan aku tak bisa menggerakkan tangan untuk sekedar menghapus tangis di pipi adikku.

"Kalian bersekongkol untuk mengorbankan nyawa kalian?!" tanya Naru padaku sambil membentak. Aneh sekali, dia membentak, tapi pelukannya di badanku begitu erat seolah tak mau kehilanganku.

Aku tersenyum. Rasanya itu saja sudah cukup untuk menjawab pertanyaannya.

"Dari awal kita memang tak akan menang melawan Dark Menma jika tak ada yang jadi Time Traveler Ke-2."

"Lalu kenapa aku yang harus jadi Time Traveler Ke-2? Kenapa tidak kau saja, Nii-san?"

"Saat aku di dalam armor NR…" Napasku mulai tersengal. Aku kesulitan bernapas. "Dia bilang kalau di masa depan aku sudah pernah mencoba menjadi time traveler tapi gagal dalam mengontrolnya. Mungkin aku memang tak pantas jadi orang yang bisa mengontrol waktu. Aku merasa aku pernah punya dosa besar di masa lalu. Entah apa itu."

"Tapi bukan cara ini yang kuinginkan. Ini terlalu kejam. Kenapa tidak mendiskusikan dulu hal ini? Mungkin kita bisa cari cara agar kali ini kau bisa mengontrol kekuatan time traveler!"

"Kakak mana yang tega mengorbankan nyawa adiknya sendiri?" kataku balik bertanya.

Tangis Naru semakin menjadi. Tetesannya mengalir ke wajahku.

Napasku semakin berat. Kurasa waktuku tak lama lagi.

Dalam posisi yang sedang dipeluk Naru, aku menguatkan diriku untuk mengecup pipi kanan Naru untuk terakhir kalinya. Lalu aku berbisik di telinganya. "Setelah semua chakra-ku masuk ke tubuhmu dan kau jadi Time Traveler Ke-2, segera habisi Dark Menma sebelum dia memutar ulang waktu, selagi dia terluka parah. Aku percaya padamu. Kau… bisa meyelesaikan… semua masalah ini… Selamat tinggal… Naru, aku… sayang… padamu..."

"Tidak jangan tinggalkan aku, tidak, tidaaak! NII-SAAAANNN!"

Sementara itu pandanganku mulai gelap seberapa kuat pun aku membuka mataku. Aku sempat melihat wajah Naru yang sedang berteriak-teriak tapi suaranya tak bisa kudengar. Aku merasa mati rasa di bagian kaki, kemudian menjalar ke badan, hingga akhirnya aku tak bisa merasakan apa-apa.

Aku tak menyesali keputusanku ini. Ini bukan masalah siapa yang menjadi tokoh utama, tapi lebih kepada menentukan siapa yang berpeluang lebih besar mengalahkan Dark Menma agar dunia ini terselamatkan. Pasti ada alasan kenapa aku gagal jadi time traveler di masa depan.

Bagi sebagian orang jadi pemeran utama mungkin menyenangkan, tapi ada kalanya kita juga harus membantu orang lain untuk jadi 'pemeran utama'. Jika kata Jiji, orang yang mati itu bagaikan pohon yang tumbang. Bukan berarti ia tak berguna, justru tubuhnya jadi pupuk yang membantu tunas baru untuk tumbuh. Begitu juga dengan kematianku dan teman-temanku yang lain. Kematian kami akan mengantarkan Naru untuk mengubah dunia menjadi lebih baik.

Benar kata orang, saat kau akan mati. Bayangan orang-orang yang kau sayangi berdatangan di pikiranmu. Begitu juga dengan momen-momen bersama mereka dan apa pesan yang mereka sampaikan.

2nd Jiraiya dan 2nd Jiji bilang padaku kalau aku sudah membawa kehidupan Naru ke arah yang berbeda. Maka inilah pertanggungjawabanku pada mereka.

2nd Kakashi dan 2nd Yamato bilang kalau aku mengidap sister complex yang akut. Aku tak peduli, itu bentuk kasih sayangku kepada Naru.

Shion berkata aku adalah kunci dari semua masalah ini, maka aku yang akan membukakan gerbang kemenangan untuk Naru.

2nd Orochimaru dan 1st Karin bilang aku seorang kakak yang baik, maka kubilang mereka orang yang lebih baik karena bisa berubah dari yang asalnya jahat jadi baik. Tak semua orang bisa begitu.

Hinata bilang aku tak pernah kehilangan mimpiku, aku hanya merubah mimpiku. Maka sekaranglah saatnya aku mewujudkan mimpi itu, menyelamatkan Naru.

Hanabi bilang dia mencintaiku, maka aku mencintainya lebih dari apa yang dia kira.

Lalu terakhir, Naru bilang aku telah mengobati kesepiannya, aku berpikir justru dialah yang mengobati kesepianku selama 4 tahun aku bersamanya. Aku tak menyesali sedikitpun keputusanku untuk menjadi kakaknya. Juga keputusanku untuk berkorban untuknya.

Selamat tinggal, Naru…

To Be Continue…


A/N: Summary terbaru:

Dimensi 1: Naruto & Clone (DEAD)

Dimensi 2: Naru

Dimensi 3: Menma (DEAD)

Dimensi 4: Yami (DEAD)

Dimensi 5: Akage (DEAD)

Dimensi 6: Souban & NR099 (DEAD)

Dimensi 7: Hokage (DEAD) & Nee-san (DEAD)

Dimensi ?: Dark Menma

Trivia:

Jericho itu nama misil dari film Iron Man. Gunung aja bisa hancur dengan misil ini.

'Senpou: Tsuin Rasen Gudoudama' adalah jurus karangan saya. Seperti namanya, rasengan itu bentuknya seperti rasen shuriken, hanya saja berwarna hitam karena elemen yang dicampurkan ke dalamnya adalah serpihan gudoudama. Sementara Tsuin berarti kembar, yang berarti rasengan-nya ada 2.

Salam anti-mainstream!

© rifuki