Time Traveler – Part 1
"The Third World"
"Ghhhh! Inikah sikapmu terhadap orang yang sudah menghidupkanmu?!" bentak Dark Menma kepada Naru.
Naru terdiam mendengar kata-kata Dark Menma.
"Masuk ke lorong waktu lalu lihat lebih detail bayangan-bayangan di sana! Seharusnya kau mulai sadar siapa yang salah di sini! Uzumaki Naruto alias Naruto alias Rokudaime alias Limited Time Traveler alias Clone, mereka semua sama saja. Semua keturunan Naruto selalu melakukan kesalahan! Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan membunuhmu agar kebencian ikut mati bersamamu. Lalu dunia akan kuputar kembali ke awal. Aku akan menciptakan dunia ke-3."
Dark Menma tersenyum meremehkan.
"Heh, itu akan memulai siklus baru yang tak akan ada hentinya. Naruto dunia ke-3 akan membuat kesalahan lagi lalu-"
"Aku akan menciptakan dunia yang lebih baik dari yang pernah ada!" potong Naru dengan suara yang tegas dan serius. Dark Menma sampai terdiam dibuatnya. "Aku akan membuat dunia ke-3 dengan caraku sendiri. Aku tak akan meniru cara Naruto ke-1 di masa lalu, apalagi meniru caramu! Aku akan menghidupkan semua Naruto dari 7 dimensi, termasuk dirimu yang belum diliputi kebencian, dan tak akan membiarkan kalian menderita. Aku akan pastikan kalian bahagia dan menghargai setiap detik kehidupan kalian!"
Dark Menma langsung terkejut. 'Apa-apaan dengan gadis pirang ini? Ia pikir segampang itu?' batin Dark Menma.
"Kau terlalu naif, Naru. Keinginanmu itu sulit untuk diwujudkan. Selain itu kau tidak akan terikat lagi dengan ruang dan waktu. Kau akan kehilangan segalanya mulai dari keluarga, teman, dan tempat tinggal. Keberadaanmu akan digantikan oleh 'Naru baru' dari dunia ke-3 hingga membuatmu iri padanya."
Naru menatap Dark Menma tepat di mata. Dark Menma tak tahu kalau Naru sudah memikirkan keputusannya mata-matang. Ini bukan keputusan yang diambil Naru secara mendadak. Naru sudah memikirkan hal ini sejak NR mengatakan kalau harus ada 1 Naruto yang jadi time traveler ke-2. Ia ingin mengakhiri peperangan antar Naruto. Bukankah ketujuh Naruto seharusnya hidup rukun?
Naru sudah berpikir jauh ke depan. Naru punya mimpi untuk menciptakan dunia yang penuh kedamaian. Hanya saja ia tak tahu kalau ia benar-benar harus mewujudkan mimpinya karena ia yang dipercaya jadi time traveler. Beberapa menit yang lalu harapannya itu hanya sebatas khayalan yang ada di pikirannya. Sekarang sudah terlambat untuk mundur. Jika ia mundur dan menuruti keinginan Dark Menma untuk bergabung dengannya, Naru akan menyia-nyiakan semua pengorbanan yang dilakukan 6 Naruto. Dia tak akan ada bedanya dengan Dark Menma, dia akan menjadi 'Dark Naru'. Apa arti pengorbanan 6 Naruto kalau begitu?
Naru tak akan mengubah sedikit pun keputusannya. Dark Menma salah jika menganggap Naru bisa dipengaruhi.
"Aku tak peduli jika nanti posisiku digantikan. Aku tak keberatan jika aku akan sendirian. Hal yang paling kuutamakan adalah kebahagiaan 7 Naruto di dunia yang nanti kuciptakan. Harus ada yang mengakhiri siklus ini. Akulah yang akan mengakhirinya."
"Kau-"
Dark Menma sudah tak tahu harus bicara apa lagi untuk mempengaruhi Naru. Ia sudah kehabisan kata-kata.
"Diamlah. Aku tak akan berubah pikiran berapa kali pun kau membujukku."
Naru membentuk kombinasi segel panjang dan rumit yang sangat dikenal Dark Menma.
"Tunggu, Naru!"
Naru tak menghiraukan Dark Menma.
"TIME TRAVEL!"
Dunia yang asalnya diam kini berputar berlawanan arah.
Dunia di ketujuh dimensi dan segala isinya kembali ke masa lalu dalam waktu sekejap. Semua yang hancur kembali seperti semula. Semua yang mati telah hidup kembali. Persis keadaan 46 tahun lalu.
Dunia ke-3 telah diciptakan oleh Naru sang time traveler ke-2.
Tangan Dark Menma terkulai lemah ke tanah. Ia sudah gagal mempengaruhi Naru untuk bergabung bersamanya. Tak lama lagi dunia ke-2 ciptaannya yang ia sebut 'game' akan tertimpa oleh dunia ke-3 ciptaan Naru.
"Kau bodoh," gumam Dark Menma pelan.
Naru tersenyum pahit menanggapi Dark Menma. Ia tahu ia memikul tanggung jawab yang sangat besar. Bohong jika Naru melakukan time travel tanpa beban. Semua teman-temannya di dunia ke-2 tak lama lagi akan hilang. Tapi Naru terpaksa melakukan ini. Sejak awal keberadaan dunia ke-2 atau 'game' adalah sebuah kesalahan besar yang dimulai Dark Menma. Tak seharusnya 'game' dibiarkan berjalan. Game harus diakhiri.
Saatnya memulai sebuah dunia yang lebih manusiawi, dunia ke-3, The Third World.
"Ayo kita jalan-jalan," ajak Naru. Naru melingkarkan tangan Dark Menma ke lehernya karena pria itu sudah tak bisa berjalan.
"Dunia ke-3 sudah tercipta. Kau bilang akan membunuhku, kenapa kau tak melakukannya sekarang? Kau mau membawaku kemana?"
Naru tersenyum simpul.
"Aku bilang membunuhmu tapi tidak dengan tanganku. Jika aku membunuhmu dengan tanganku, maka aku tak ada bedanya denganmu. Aku tak ingin sepertimu. Tapi tenang saja, dengan fisik yang sekarang aku yakin sebentar lagi kau mati."
"Sialan!" bentaknya. 'Apa memang bicara-halus-tapi-pedas itu sifat seorang time traveler?' batin Dark Menma.
Dark Menma bersumpah seumur hidup ia tak pernah direndahkan seperti ini. Dark Menma ingin sekali menghabisi Naru sekarang juga seandainya ia punya tenaga. Apa daya, sekarang untuk berjalan sendiri saja ia tak bisa. Naru tak peduli cacian Dark Menma. Ia mengeratkan pegangannya di badan Dark Menma.
"Aku akan tunjukkan bagaimana caraku membangun dunia."
Setelah Naru mengecek ketujuh dimensi, ia menyimpulkan ada 2 jenis alur kehidupan Naruto di setiap dimensi. Pertama adalah alur yang menuju kebahagiaan dan kedua adalah alur yang menuju penderitaan. Alur yang menuju kebahagiaan tak wajib diperbaiki, hanya opsional. Yang wajib diperbaiki adalah alur yang menuju penderitaan karena alur penderitaan dari beberapa Naruto bahkan memicu terlahirnya time traveler baru yang akan memperpanjang siklus buatan Dark Menma.
Naru memakai jurus lanjutan, yaitu limited time traveler, untuk menentukan kapan atau sebelah mana sejarah yang ingin ia ubah dari masing-masing dimensi.
Dimensi ke-7,Shichidaime & Neesan (16th)
Dimensi ke-7 memiliki 1 alur yang menuju kebahagiaan.
Masa yang dipilih Naru adalah saat Naruto di sana berumur 16th dan belum jadi Shichidaime Hokage. Saat itu Naruko-Neesan yang merupakan bunshin memutuskan untuk 'memberontak' kepada Shichidaime. Shichidaime baru pulang dari sebuah misi yang melelahkan. Tak lama kemudian Konohamaru datang mencegatnya.
"Apa maumu?" tanya Shichidaime, merasa kesal karena perjalanan pulangnya harus terganggu.
"Tentu saja kita bertarung!" bentak Konohamaru, tak sedikitpun merasa takut.
"Cih, jangan salahkan aku jika kau kalah!"
"Jangan meremehkanku, aku yakin bisa mengalahkanmu!"
"Ck. Kau terlalu percaya diri."
"Jangan banyak bicara! Ayo kita buktikan!"
"Tunjukan kemampuan terbaikmu!"
Shichidaime dan Konohamaru adalah 2 shinobi yang kekuatannya disegani. Shichidaime disegani karena ia telah dilatih selama 2,5 tahun oleh legendary sannin Jiraiya. Konohamaru disegani karena ia cucu Hokage ke-3 dan telah menunjukkan peningkatan kekuatan yang signifikan di akademi. Bagi orang yang tak mengenal keduanya dengan baik, pasti akan menyangka akan terjadi pertarungan dahsyat. Padahal…
"SEXY NO JUTSU!"
… mereka hanya saling memamerkan kecantikan bunshin mereka sendiri. Duel klasik yang selalu mereka lakukan jika keduanya bertemu.
Hari itu Konohamaru kembali kalah karena bunshin-nya kalah cantik dan sexy dari bunshin Shichidaime. Lucunya, setelah pertarungan berakhir bunshin milik Shichidaime tak mau dilenyapkan seberapa kalipun Shichidaime me-release-nya. Dia memberontak dan menyatakan ingin hidup lebih lama di dunia.
"Menghilangnya seorang bunshin juga tergantung pada keinginan bunshin itu sendiri. Kalau ia tidak ingin menghilang, maka ia tidak akan menghilang," jawab bunshin itu.
Shichidaime tak menyangka akan ada 1 bunshin-nya yang tak mau diatur. Shichidaime terlalu capek untuk meladeninya. Ia meninggalkannya begitu saja, namun bunshin itu mengikutinya hingga ke apartemen. Karena kesal, Shichidaime mengunci pintu dari dalam sehingga bunshin-nya tak bisa masuk ke apartemen. Ia dibiarkan kedinginan di luar di saat salju sedang turun dengan lebatnya. Sang bunshin tidak menyerah dan tetap diam di depan pintu padahal sebenarnya ia bisa melenyapkan dirinya sendiri kalau mau. Ia ingin membuktikan kalau ia serius ingin hidup lebih lama di dunia.
Kagum pada semangat bunshin-nya untuk hidup, akhirnya Shichidaime membiarkan bunshin-nya masuk. Memberinya pakaian hangat, cokelat panas, membiarkannya tinggal, dan memberinya nama. Nama tersebut adalah Uzumaki Naruko.
Berdasarkan pemeriksaan Tsunade, Naruko-Neesanadalah seorang perempuan yang sempurna. Struktur gen Shichidaime dan Nee-san berbeda. Entah gen Shichidaime mengalami mutasi atau apa, yang jelas secara teknis Nee-san bukan Shichidaime. Dia seperti seorang manusia baru yang terlahir lewat bunshin Shichidaime. Mirip cerita Adam dan Hawa, bedanya Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam. Kini tubuh Nee-san berubah solid seperti manusia biasa.
Shichidaime dan Nee-san selalu menghabiskan waktu bersama. Kebersamaan itu membuat kesepian yang selama ini dirasakan Shichidaime menghilang. Keduanya memutuskan untuk jadi sepasang kekasih. Namun tanpa mereka sadari, Nee-san mengambil 50% chakra Shichidaime untuk bisa hidup. Bisa dikatakan kalau Nee-san masih 'setengah bunshin'. Proses metabolisme dalam tubuhmu tak bisa memproduksi chakra sendiri. Kekuatan Shichidaime tak bisa maksimal karena masalah ini. Ia pernah pulang dalam keadaan koma karena hal itu.
Nee-san sangat terpukul. Ia merasa ini kesalahannya karena bersikeras untuk tetap hidup. Andai ia menuruti perintah Shichidaime untuk melenyapkan dirinya dulu. Ia berpikir satu-satunya cara adalah dengan membunuhdirinya sendiri agar 50% chakra dari tubuhnya kembali kepada Shichidaime. Meskipun rasanya akan sakit karena sekarang tubuhnya sudah solid.
"Kau kekasihnya! Kau pikir Naruto akan diam saja mengetahui kau bunuh diri?" tanya Sakura kesal.
"Kalau begitu jangan beritahu Naruto-kun mengenai hal ini. Hapus ingatan Naruto tentangku dengan jurus milik Ino atau Inoichi-san. Buat Naruto-kun melupakanku dan menganggapku tak pernah ada dalam kehidupannya."
Di celah dimensi, Naru mendudukkan Dark Menma. Lalu ia bersiap masuk ke dimensi ke-7. Dimensi ke-7 memang termasuk alur yang bahagia. Naru berpikir saat ini adalah saat yang tepat untuk merubah alur yang bahagia menjadi lebih bahagia di dimensi ke-7. Naru akan mencegah Nee-san bunuh diri dan menghilangkan ingatannya dari kepala Shichidaime.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Dark Menma.
"Perhatikan saja," jawab Naru. Ia lalu pergi ke dimensi ke-7.
Nee-san akan membunuh dirinya sendiri di sebuah ruangan tertutup. Sementara para saksi akan menunggu di luar ruangan. Mereka baru akan masuk ke dalam ruangan jika Nee-san sudah dinyatakan mati. Nee-san memegang kaiken dengan kedua tangannya. Pedang berukuran 10 inchi itu ia arahkan ke jantung dalam satu ayunan cepat.
GREP! TRANG!
Pedang itu jatuh ke lantai sebelum sampai ke jantung Nee-san. Naru terlanjur membawa Nee-san dengan hiraishin ke kamar perawatan Shichidaime. Ia juga mengusir dokter dan perawat yang ada di dalam serta mengunci pintu.
"Siapa kau?!" tanya Nee-san.
Naru memakai jubah hitam yang tudungnya menutupi bagian atas wajah sehingga wajahnya tak terlalu jelas terlihat.
"Bunuh diri? Itukah caramu menyelesaikan masalah?" tanya Naru mengalihkan pembicaraan.
Nee-san tak menjawab. Ia sadar Naru sedang mengkritik penyelesaian masalah yang ia buat.
"Dulu kau sudah berjanji untuk tak akan meninggalkan Naruto. Ia lelah selalu sendirian selama ini. Kaulah orang yang bisa menghilangkan rasa kesepiannya selama ini. Jika kau mati maka kau akan melanggar janjimu."
"Itu karena aku tak mau dia dalam bahaya!" jawab Nee-san. "Aku tak mau menyerap chakra Naruto-kun terus-menerus. Perang dunia ninja ke-4 sudah di depan mata. Chakra-nya harus kembali ke 100%."
"Dengan kau pergi, dia memang lebih aman karena semua chakra-nya akan kembali. Tapi apa kau pikir melenyapkan dirimu sendiri bisa membuatnya senang? Setelah ingatan tentang dirimu dihapus dari kepalanya pasti dia akan merasa ada yang hilang karena aku yakin sebagian besar isi kepalanya didominasi olehmu. Lalu, apa kau tak berpikir kalau memori seseorang itu adalah hal yang bersifat pribadi? Apa hakmu melenyapkan semua kenangan indah tentangmu di kepala Naruto? Kau tak punya hak sedikitpun meskipun kau kekasihnya. Yang bisa memilih kebahagiaan Naruto itu dirinya sendiri, bukan kau!"
Kata-kata Naru tepat mengenai sasaran. Kini Nee-san terduduk lemas di samping tempat tidur Shichidaime sambil menangis. Naru tahu kata-katanya agak kasar. Tapi ia harus pastikan Nee-san tak akan bunuh diri. Ia menyatukan tangan Shichidaime dan Nee-san.
"Genggam erat tangannya. Teruslah berada di sampingnya setiap saat, termasuk dalam perang nanti. Berjuanglah terus di sampingnya. Dampingi dia sampai jadi ninja terkuat. Sekarang ia memang lemah karena hanya memiliki 50% chakra, tapi dengan adanya kau di sisinya dengan 50% chakra lainnya, kalian akan memiliki 100% chakra yang bisa melindungi diri kalian dan semua penduduk desa. Tingkatkan terus kekuatan kalian hingga bisa melampaui kekuatan kalian saat ini."
TOK! TOK! TOK!
"Buka pintu!" teriak suara dari luar kamar.
"Aku harus pergi, ingat kata-kataku," pesan Naru sebelum ia pergi.
"T-tunggu, siapa namamu?" tanya Nee-san.
Naru hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman.
BRAK!
Pintu kamar terbuka dengan paksa, menampakkan Tsunade, Inoichi, dan beberapa dokter.
"Aku merasakan chakra yang sangat kuat dari sini. Aku juga yakin dia yang membawamu ke sini dari ruang eksekusi. Siapa dia? Kemana dia sekarang?" tanya Tsunade bertubi-tubi.
Nee-san menggeleng pelan. "Lupakan itu. Aku tidak jadi membunuh diriku sendiri. Bisakah kau membujuk tim dokter untuk mengizinkanku tetap di samping Naruto-kun? Aku sudah berjanji untuk tak akan meninggalkan Naruto-kun. Jadi tetap berada di sampingnya adalah cara terbaik agar ia cepat sembuh."
Tsunade dan tim dokter menyetujui permintaan Nee-san karena setelah diperhatikan, keberadaan Nee-san di dekat Shichidaime mempercepat penyembuhannya. Itu terjadi karena chakra dari tubuh Nee-san berbalik mengalir ke tubuh Shichidaime, konsekuensinya Nee-san jadi lemas dan mudah lelah.
Di celah dimensi, Dark Menma memandang aneh perbuatan yang dilakukan Naru.
"Tanpa kau ubah sejarah di dimensi ke-7 pun, 10 tahun lagi mereka berdua akan kembali bersama. Kenapa kau capek-capek mengubah sejarah segala?" tanya Dark Menma saat Naru kembali menjemputnya di celah dimensi. Ia heran karena menurutnya Naru hanya membuang-buang chakra.
"Tak akan adil jika tak ketujuh dimensi alurnya kusempurnakan. Dengan tindakanku barusan, aku telah menambah 10 tahun kebahagiaan bagi Shichidaime dan Nee-san."
Dark Menma terkejut. Naru serius ingin mengubah semua nasib Naruto!
Dimensi ke-6, Souban & Naruko (16th)
Tak seperti dimensi ke-7 yang punya 1 alur, dimensi ke-6 memiliki 2 alur utama yang bisa dilalui. Sayangnya kedua alur kehidupan itu merupakan alur yang mengharuskan Karin, kakak Souban, mengalami kecelakaan.
Alur pertama adalah alur menuju kebahagiaan. Kushina dan Minato yang sudah bercerai memutuskan untuk menikah kembali. Karin sangat senang mendengar berita ini. Minato yang sudah 14 tahun tinggal di Inggris kembali ke Jepang. Karin memutuskan untuk menjemput ayahnya, dan adik perempuannya Naruko (Naruko merupakan kakak kembar Souban, 10 menit lebih tua). Dalam perjalanan ke bandara, mobil yang dikendarai Karin mengalami kecelakaan hingga ia meninggal di usia 19 tahun.
Souban sangat terpukul oleh kejadian ini. Tapi sisi baiknya adalah keluarga Namikaze bersatu lagi. Naruto jadi memiliki ayah dan kakak kembar yang keberadaannya sempat disembunyikan dari Souban.
Alur kedua adalah alur menuju penderitaan, alur yang menuju pada kehancuran dimensi ke-6. Kushina dan Minato tidak memutuskan untuk menikah kembali. Minato tetap bekerja di perusahaan otomotif roda dua di Inggris. Ia termasuk orang terkaya di Inggris. Saking kayanya, ia sering memberikan donasi ke teman-teman lamanya di Jepang. Penerima donasi tetapnya adalah Hyuuga Hiashi dan Hyuuga Hizashi. Kedua orang kembar tersebut adalah senior Minato saat kuliah. Ketiganya tetap akrab meskipun beda angkatan dan beda jurusan.
Setelah lulus Hiashi mendirikan perusahaan yang memproduksi android bernama Hyuuga Cyber Company. Sedangkan Hyuuga Hizashi jadi seorang pengembang Virtual Reality Massively Multiplayer Online Role-Playing Game (VRMMORPG) yang mengizinkan pemain untuk masuk ke dunia game bernama Shinobi Online. Sejak saat itulah Minato sering memberikan donasi ke 2 orang tersebut.
Kedua perusahaan itu melakukan ekspansi besar-besaran dan melakukan merger. Bahkan Hyuuga Cyber Company bekerja sama dengan departemen pertahanan untuk membuat android hibrid, gabungan antara robot dan armor suit. Mereka memproduksi android dengan dilengkapi self learning artificial intelligence (SAI) yaitu kecerdasan buatan yang bisa mempelajari sifat manusia.
Suatu hari program SAI semakin pintar karena terus belajar dari lingkungan sekitarnya. Ia sadar kalau keberadaan umat manusia adalah ancaman bagi dirinya. Program tersebut memutuskan untuk melanggar 3 law of robotics lalu memusnahkan manusia. Ia berubah jadi virus yang menginfeksi seluruh jaringan komputer di dunia. Mengambil alih jaringan satelit, listrik, nuklir, dan semua fasilitas yang terhubung dengan jaringan internet. Perang nuklir pun tak bisa dihindari. Dunia nyaris berakhir pada tahun 2040. Umat manusia hampir punah.
Hal tersebut sangat ironis, karena salah satu pengembang android di Hyuuga Cyber Company adalah Karin, puteri tertua Minato. Jadi, donasi Minato dan penelitian Karin telah mengarahkan pada kehancuran dunia. Karin pun akhirnya dibunuh NR099, android ciptaannya sendiri yang telah terinfeksi virus. Ia meninggal pada tahun 2050 saat umurnya 60 tahun.
Naru tentu tahu alur pertamalah yang harus ia pilih..
Dengan begitu Minato akan kembali ke Jepang, menghentikan donasi ke Hyuuga Cyber Company dan Shinobi Online Developer Team, dan Karin akan meninggal di umur 19 tahun. Itu memang bukan alur yang sepenuhnya bahagia, tapikepunahan umat manusiabukan pilihan yang bagus. Setidaknya alur pertama tidak membuat umat manusia di dimensi ke-6 musnah.
Masa yang Naru pilih adalah saat Souban dan Naruko berumur 15 tahun dan Karin 18 tahun. Naru datang ke Inggris, tepatnya ke ruang kantor Minato.
Minato yang saat itu sedang bekerja tentu sangat kaget melihat Naru ada di ruangannya. Ia menganggap Naru adalah puterinya karena mereka sangat mirip. Umur mereka pun sama 15 tahun sehingga nyaris tak bisa dibedakan dari segi fisik.
"Apa yang kau lakukan di sini, sayang?" tanya Minato.
"Aku ingin kau menikah lagi dengan ibu dan kembali ke Jepang. Aku ingin bertemu ibu dan saudara-saudaraku," kata Naru tanpa basa-basi.
Minato tercengang. Sudah lama puterinya tak membahas masalah ini.
"Tidak Naruko, ayah-"
"Tolonglah," kata Naru sambil memelas.
Minato paling lemah melihat wajah puterinya yang memelas begitu. "Aku akan memikirkannya. Pulanglah ini sudah malam."
"Kau tahu ini sudah malam, lalu kenapa kau masih bekerja?" tanya Naru.
Jawaban Naru serasa menusuk dada Minato. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Dirinya pun sudah seharusnya pulang ke rumah. Minato memperhatikan Naru lebih detail. Rasanya ada yang aneh dengan puterinya. Bukan saja dari jubah hitam yang dipakainya, tapi dari omongannya yang berubah tajam. Puterinya tak pernah menyindirnya seperti ini. 'Apa ia sedang sensitif?' pikir Minato.
Setelah kepergian Naruko palsu, Minato memikirkan baik kata-kata Naru. Ia sangat memanjakan puterinya selama ini. Naruko ada dalam tanggung jawabnya secara penuh karena dulu ia memperjuangkan hak asuhnya. Minato jadi merasa bersalah jika membuat sedih puterinya.
Minato menelepon sekretarisnya. "Kita tunda rapatnya, besok saja. Suruh semua untuk pulang." Setelah itu Minato menelepon nomor lain.
Ia menunggu dengan harap-harap cemas.
"Halo?"
"Kushina. Ini aku- Halo? Halo?" Kushina langsung menutup telepon begitu mendengar suara orang di telepon. Biarpun mereka sudah belasan tahun tidak bicara, Kushina masih hapal suara Minato.
Minato memang sudah menduga kalau Kushina tak ingin bicara dengannya. Pasti masih sakit hati karena sikapnya dulu. Panggilan telepon yang dilakukan setelah itu tak pernah lagi diangkat Kushina. Minato tak kehabisan akal. Disambarnya smartphone di ujung meja dan ia segera mengirimkan sebuah email.
Subject: Ini tentang Naruko…
Begitulah subject email tersebut. Kushina tentu khawatir jika itu menyangkut masalah puterinya. Biar bagaimanapun ia ibu kandung Naruko.
"Tolong jangan ditutup lagi," kata Minato saat berhasil menghubungi Kushina.
"Kuharap ini hal penting. Ada apa dengan Naruko-chan?"
"Dia ingin kita menikah lagi," jawab Minato to the point.
Kushina tak merespon. Tapi dari suara napas tak beraturan yang terdengar, Minato yakin kalau Kushina masih di sana. Suara napas yang tak beraturan itu pun jadi bukti kalau Kushina kaget mendengar kata-kata Minato.
"Ayo kita menikah lagi. Ini demi anak-anak. Aku akan berhenti bekerja di sini dan kembali ke Jepang," tambah Minato.
"Ini keputusan yang tak bisa diambil dengan tiba-tiba. Aku ingin pastikan dulu apa sekarang kita satu pandangan."
"Aku mengerti."
Setelah itu keduanya mengobrol panjang lebar. Hal yang dibicarakan adalah keseriusan Minato untuk menikah lagi. Ia ingin menikah murni karena anak-anak atau memang masih memiliki perasaan kepada Kushina? Kushina menilai keputusannya terlalu mendadak sehingga ia harus memikirkannya baik-baik. Mereka mendiskusikan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Mereka juga menceritakan perkembangan keadaan anak-anak mereka.
Pada intinya kedua orang itu masih cocok dalam berkomunikasi. Keduanya juga masih memiliki rasa sayang satu sama lain. Hanya saja kecintaan Minato pada pekerjaannya 14 tahun lalu telah menggiring pernikahan mereka dalam kehancuran. Minato bertekad untuk tak akan mengulangi kesalahannya lagi.
"Aku sudah menuruti permintaanmu. Ibumu bilang ia akan memikirkannya dulu," kata Minato saat ia sampai di rumah. Sepulang kantor ia sudah tak sabar untuk mengatakan hal itu kepada puterinya. Meskipun ia dan Kushina belum memutuskan untuk menikah, setidaknya hubungan mereka membaik.
"Permintaan apa?" tanya Naruko bingung, tanpa beranjak dari tempat tidurnya. Saat itu ia sedang duduk di kasur dan membaca novel.
Minato tak mengerti jawaban Naruko. Apa puterinya lupa? Masa baru sejam sudah lupa?
"Bukankah tadi kau ke kantor dan memintaku untuk menikah lagi dengan ibumu?"
Naruko tambah bingung.
"Dari tadi aku diam di rumah."
"Eh?"
Setelah itu Minato diberondongi berbagai pertanyaan oleh puterinya mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Minato sendiri bingung apa yang telah terjadi. Akhirnya ia menyerah dan menceritakan semuanya kepada Naruko. Naruko menganggap kemunculan Naruko lain di kantor ayahnya sebagai efek dari terlalu lelahnya Minato dalam bekerja. Namun di balik itu semua Naruko bersyukur karena ia akan segera bertemu dengan ibu dan saudara-saudaranya.
Naru tersenyum puas dari kejauhan. Rencana keduanya berhasil. Saatnya pergi ke dimensi selanjutnya.
Dark Menma tak memberikan respon apa-apa selain berusaha menahan rasa sakit di dadanya yang makin parah.
Dimensi ke-5, Akage & Shion (16th)
Dimensi ke-5 memiliki banyak alur yang menuju kebahagiaan. Yang membedakan tiap alur di sana adalah keputusan Akage dalam memilih pasangan.
"Apa ini? Sejenis harem?" tanya Dark Menma sinis.
"Haha. Sepertinya begitu," kata Naru sambil tersenyum.
Yeah, berkunjung ke dimensi ke-5 bagaikan menonton cerita harem bagi Naru dan Dark Menma. Akage adalah satu-satunya Naruto yang populer di kalangan perempuan. Mungkin karena rambut merah Uzumaki-nya yang banyak dikagumi perempuan. Fisik memang bukanlah yang utama, tapi kenyataannya fisiklah yang dilihat pertama kali oleh perempuan.
Saat sedang di akademi, Akage diperebutkan oleh sebagian besar perempuan di kelasnya. Setelah lulus ujian Chuunin, Sakura menyatakan cintanya dengan terang-terangan. Namun seperti perempuan-perempuan lainnya, Akage menolak dengan halus dengan alasan ia akan berlatih dengan Ero Sennin. Sakura mengerti dan mengatakan 2,5 tahun lagi ia akan menanyakan hal yang sama. Saat pulang dari latihan 2,5 tahun bersama Ero Sennin, giliran Ino yang menyatakan cintanya kepada Akage.
"Aku perlu waktu untuk berpikir." Itulah jawaban yang Akage berikan kepada Ino.
Tak lama setelah itu, ada misi ke Negara Iblis untuk membantu pendeta wanita bernama Shion untuk menyegel jiwa Mouryou. Di sana lagi-lagi ada perempuan yang mengatakan cintanya kepada Akage, yaitu Shion. Pernyataan cinta Shion tidak secara langsung sehingga membuat Akage salah paham.
"Turunkan aku," kata Shion saat Akage dan dirinya tiba di tempat yang cukup jauh dan aman dari jangkauan letusan gunung api. Mereka sudah berhasil menyegel jiwa Mouryou yang mengakibatkan meletusnya gunung api. Akage menurut, kemudian menurunkan Shion.
"Kurasa ini akhir karirmu sebagai seorang pendeta," kata Akage sambil tersenyum.
"Tidak. Harus ada lagi. Aku menyadarinya ketika aku berada dalam Mouryou. Ia hidup di tiap hati orang jahat. Jika Mouryou kedua atau ketiga muncul, seseorang harus siap menghentikannya. Dan mereka harus berhati-hati terhadap seorang genin." Shion memberi penekanan pada kata 'genin' dan Akage tertawa. Shion kembali memandang pegunungan di depannya yang mulai terlihat jelas saat asap dari gunung api mulai menghilang.
"Mulai saat ini aku tidak akan menyalahkan takdir lagi. Jadi seorang pendeta adalah kewajibanku," lanjut Shion. "Bagaimana menurutmu Naruto?"
Naruto saat itu belum dijuluki Akage (rambut merah). Akage tersenyum menanggapi Shion. Shion melanjutkan kata-katanya lagi.
"Dan kekuatanku harus diturunkan kepada pendeta selanjutnya. Apa kau mau membantuku, Naruto?" tanya Shion sambil menoleh ke arah Akage. Senyuman masih terkembang di wajahnya.
"Tentu!" Akage nyengir dan mengangkat jempolnya. "Aku akan melakukan apa pun untuk membantumu."
"Be-benarkah?" tanya Shion tidak percaya.
"Ya," jawab Akage mantap.
"Aku pegang kata-katamu," kata Shion sambil mengalihkan pandangannya ke pegunungan di hadapannya, menyembunyikan pipinya yang merona merah.
Kakashi, Gai, Neji, Lee, Shikamaru, dan Temari hanya bisa sweetdrop melihat tingkah Akage yang polos. Sakura adalah satu-satunya orang yang kesal di sana. Akage baru tahu maksud perkataan Shion saat Neji memberi tahunya di perjalanan pulang. Maksud Shion 'menurunkan kekuatan pada pendeta selanjutnya' adalah menikahi Shion dan memberinya anak.
Akhirnya sepulang misi Akage hanya melamun di Ichiraku Ramen.
Naru memutuskan untuk mengubah alur Akage saat itu. Sebenarnya ini opsional saja. Tanpa Naru datang pun Akage sudah pasti memilih Shion di masa depan. Hanya saja Naru ingin mempercepat pengambilan keputusan Naruto agar Shion tak dibiarkan menunggu lama.
"Aishiteru yo, Naruto-kun," kata Naru, tiba-tiba mucul di samping Akage.
"N-nani?! Kau juga menyukaikuuu?"
"Ahaha, bercanda, bercanda. Aku tak ingin menambah banyak daftar perempuan yang memusingkan kepalamu." Dengan cueknya Naru mengambil miso ramen di hadapan Akage yang belum tersentuh sedikitpun, lalu memakannya.
"Ternyata jadi pria populer itu susah, huh?" tanya Naru di sela-sela makannya. Akage tentu saja tak mencurigai Naru sebagai henge-nya. Henge-nya di dimensi ini berambut merah, tidak pirang.
"Ya, begitulah," jawab Akage lemas. Ia bahkan tak sedikitpun marah melihat makanan favoritnya hampir habis dimakan Naru.
"Ceritakan padaku."
Akage menghela napas pelan. Ia tak kenal gadis di sampingnya tapi entah kenapa ia tak ragu untuk menceritakan keluh kesahnya. Mungkin sudah terlalu pusing.
"Tiga orang menyatakan cintanya padaku. Aku bingung harus memilih yang mana. Sakura sudah lama menyatakan cintanya tapi aku belum memberinya kepastian, Ino beberapa hari lalu dan belum kujawab juga, lalu Shion kemarin. Mereka berbeda dengan semua perempuan yang pernah kutolak, aku takut mereka marah jika kutolak. Bahkan aku terlanjur berjanji untuk menikahi Shion gara-gara salah pengertian."
"Ckck. Kebaikanmu itulah yang membuatmu kebingungan. Kau harus tegas, tegas bukan hal yang salah. Mereka sudah menyatakan cinta mereka, itu berarti mereka sudah siap ditolak." Akage manggut-manggut tanda mengerti. "Siapa yang lebih kau sukai dari ketiganya?"
"Semua."
"Dasar playboy!" ejek Naru. "Baiklah, menurutku pilihlah Shion."
"Hah? Kenapa? Kau bahkan tak kenal ketiganya, kenapa kau bisa dengan mudah bilang untuk memilih Shion?"
"Jika kau menyukai 3 orang dalam waktu bersamaan, pilih yang ke-3. Karena jika kau benar-benar menyukai yang pertama, seharusnya kau tak akan berpikiran untuk menyukai yang kedua atau yang ketiga."
Kata-kata Naru cukup masuk akal.
"Selain itu. Shion adalah satu-satunya perempuan yang kau beri jawaban. Dia bertanya demikian pasti karena dia siap menikah denganmu. Meskipun hanya salah paham, tapi janji tetaplah janji. Secara tak langsung kau telah menjawab pernyataan cintanya lebih dulu. Jelaskan saja pada 2 gadis lainnya. Pasti mereka akan mengerti. Masalah kau cocok dengan Shion atau tidak, itu bisa dipikir belakangan. Yang penting kau berusaha menepati janjimu."
Perlahan beban pikiran Akage hilang.
"Terima kasih banyak! Bagaimana caranya aku membalas kebaikan-" Saat menoleh ke sampingnya, gadis pirang berjubah hitam itu telah lenyap. "Hei, dimana kau? Jii-san, kau melihat gadis pirang tadi?"
Seperti sudah disebutkan sebelumnya, perubahan sejarah di dimensi ke-5 hanyalah opsional. Tapi karena tindakan yang dilakukan Naru tadi, ia berharap bisa menambah 1 tahun ekstra kebahagiaan untuk Akage dan Shion.
"Uhuk… uhuk…" Naru mendekati Dark Menma yang terlihat makin kerepotan.
"Kau masih kuat?" tanya Naru.
"Ya."
Dimensi ke-4, Yami (10th)
Dimensi ke-4 memiliki 2 alur yang terdiri dari alur yang menuju kebahagiaan dan penderitaan.
Dimensi ini termasuk dimensi yang rawan yang berpotensi melahirkan kegelapan (Yami) di diri Naruto. Namun terlepas dari diliputi kegelapan atau tidaknya diri Naruto di dimensi ke-4 nantinya, kita akan tetap panggil dia dengan sebutan 'Yami' agar lebih mudah membedakannya dengan 6 Naruto lainnya.
Masa yang dipilih Naru adalah saat Yami berumur 10th, masa dimana penduduk sedang gencar-gencarnya menghina Yami. Ini sesuai dengan masa yang diminta Yami kepada Naruto di dunia ke-1. Sayangnya saat itu Naruto menolak mentah-mentah permintaannya.
Di umur ini, Yami adalah Naruto yang paling mudah dipengaruhi dan tersulut emosinya dibanding 6 Naruto lain.
Berulang kali dikeroyok dan dipukul penduduk membuat Yami jadi anak yang kuat. Suatu ketika Yami dikeroyok oleh sekelompok penduduk yang membencinya. Ia sudah sampai di puncak kesabaran saat itu. Diam-diam ia memungut batu sebesar kepalan tangan dari tanah.
Saat si pemukul akan menghajarnya lagi, Yami melemparkan batu itu untuk membela diri. Si pemukul yang diperkirakan baru berusia 12 tahun itu tak mampu mengelak.
"Awas!"
GREP!
Naru menangkap batu tersebut. Batu berhasil ditangkap sejengkal di depan wajah target. Si pemukul kaget. Ia ketakutan karena dirinya nyaris dihantam batu besar.
"Pergi sebelum ada yang terluka," ujar Naru. Si pemukul dan teman-temannya lari terbirit-birit.
Naru tak banyak bicara. Ia membuang batu dalam genggamannya, lalu mendekati Yami, dan menyembuhkan luka-lukanya. Awalnya Yami kaget dan takut Naru akan memukulinya juga. Ketakutannya lenyap saat luka-luka di badannya sembuh dengan perlahan. Yami juga kaget melihat betapa cepatnya penyembuhan luka di badannya. Ia yakin pasti perempuan pirang di hadapannya bukan orang sembarangan.
"Kenapa mereka melakukannya? Mereka menyalahkanku atas apa yang tidak kulakukan," kata Yami lirih.
Melihat wajah polos Yami yang masih berumur 10 tahun ini membuat Naru tak percaya kalau 6 tahun lagi ia akan jadi orang yang sangat berbahaya. Keadaan Yami saat ini sangat rapuh dan mudah dipengaruhi oleh orang lain. Sekaranglah saatnya Naru membelokkan alur kehidupan Yami ke arah yang lebih baik. Yami harus menyalurkan emosinya ke hal yang positif.
"Bersabarlah. Melawan balik para penduduk tidak akan menyelesaikan masalah."
"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Yami.
"Jadilah Hokage."
Yami tercengang. Menjadi Hokage tak pernah terpikirkan olehnya. Yang ada, ia malah membenci jabatan itu setengah mati. Berulang kali ia mencorat-coret patung kepala Hokage.
"Dengan jadi Hokage, maka seluruh penduduk akan menghormatimu," tambah Naru.
Barulah saat itu Yami mengerti. Menjadi Hokage adalah cara agar ia tak lagi dihina dan dibenci para penduduk. Dengan jadi Hokage, maka para penduduk dipaksa untuk menghormatinya.
"Apa aku layak jadi Hokage?" tanya Yami ragu.
"Saat ini belum, tapi jika kau jadi ninja yang hebat kau akan layak jadi Hokage. Salurkan emosi dan kekuatanmu untuk menjadi ninja hebat. Jadikan itu tujuan hidupmu agar hidupmu terarah."
Setelah kepergian Naru, Yami memikirkan perkataan Naru berulang-ulang. Selama ini ia memang belum punya tujuan hidup. Ia menjalani harinya hanya sekedar untuk bertahan hidup. Ia tak pernah serius masuk ke akademi. Teori ninja yang diajarkan guru tak pernah diperhatikannya. Saat ada pelajaran praktek, Yami akan melakukannya dengan seenaknya. Saat sparing, Yami akan menyerang lawannya dengan gerakan yang tak beraturan, tak berdasarkan taijutsu yang diajarkan.
Sudah saatnya Yami berubah. Ia harus serius agar ia bisa jadi ninja yang hebat dan suatu saat bisa jadi Hokage.
"Iruka-sensei," panggil Yami saat pelajaran usai.
"Ya, Naruto?"
"Bisakah kau ajari aku melempar shuriken?"
"Tentu saja."
Dimensi ke-3, Menma (16th)
Dimensi ke-3 juga memiliki 2 alur yang menuju kebahagiaan dan penderitaan. Peristiwa yang membedakan kedua alur tersebut adalah kepergian Menma ke Suna. Jika Menma pergi ke Suna, maka Konoha akan diserang dan orang-orang terdekatnya akan mati. Jika Menma tak pergi ke Suna maka ia punya kemungkinan untuk menyelamatkan penduduk Konoha.
Masa yang dipilih Naru adalah saat Menma di sana berumur 16th, tepatnya sesaat sebelum Menma meninggalkan Konoha untuk pergi ke Suna menjalankan misi kelas D. Untuk kedua kalinya, Naru melihat kejadian ditinggalkannya Hinata oleh Menma. Ternyata melihat langsung kejadian itu lebih membuat Naru sedih dibanding hanya melihat dari bayangan di lorong waktu.
Hinata kembali dibuat menangis oleh Menma. Naru sudah tak sabar untuk memberi pelajaran kepada Menma.
PLAK!
Pipi Menma sukses terkena tamparan Naru. Pergerakan Naru sangat cepat sehingga ia tak sempat menghindar. "Apa-apaan? Siapa kau?!" tanya Menma panik.
'Itu karena sudah membuat Hinata menangis,' batin Naru.
"Identitasku tak penting, Menma. Yang terpenting adalah kau harus kembali ke Konoha. Kau bisa memberikan misi ini ke orang lain. Itu misi kelas D yang tak terlalu urgent."
"Siapa kau sebenarnya? Kenapa tahu semua itu?" Sebagai seorang mantan ANBU, Menma cukup hati-hati dalam menghadapi orang asing. Namun lagi-lagi Menma tak dihiraukan. Sejak pertama Naru datang, Menma merasakan kekuatan yang luar biasa dari tubuh Naru sehingga ia tak mau memancing datangnya konflik. Ia segera melanjutan perjalanannya. "Aku akan tetap pergi."
Tiba-tiba Naru mengeluarkan kunai dari kantongnya.
"Jika kubilang aku akan membunuh Hinata, orang tuamu, teman-temanmu, dan menghancurkan Konoha, apa kau akan tetap pergi?"
Langkah Menma terhenti. Ia tertegun mendengar perkataan halus namun tajam Naru.
"Jangan main-main denganku! Apa tujuanmu sebenarnya?" Untuk kesekian kalinya Menma tak dihiraukan. Naru bersiap melakukan hiraishin. "Hei, tunggu."
Dalam hitungan detik tubuh Naru sudah menghilang dari hadapan Menma.
"Ah, sial!"
Menma segera menggunakan jurus serupa lalu kembali ke Konoha. Tempat yang dikunjunginya adalah tempat terakhir ia menggunakan hiraishin di Konoha, yaitu tempat ia dan Hinata berdebat sebelum ia meninggalkan Konoha. Tanpa ia duga Hinata masih ada di sana, terduduk di jalanan desa yang sudah mulai sepi.
"Hinata! Kau tak apa-apa?" tanya Menma panik. Ia mengira Hinata terluka oleh sosok gadis pirang tadi, tapi ternyata tidak.
Hinata tak percaya Menma telah kembali. Buru-buru ia mengusap air matanya dengan lengan jaket. "T-tidak."
"Hei, kau… menangis?" tanya Menma saat ia melihat mata lavender Hinata yang sembab. Ia juga masih bisa melihat pipi Hinata yang basah. Sebenarnya tanpa bertanya pun Menma sudah tahu kalau Hinata habis menangis. Menma hanya ingin memastikan.
"Tidak, baka! Mataku kemasukan debu," elak Hinata.
Menma tahu itu bohong. Yup, tipikal Hinata sekali, harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakui kalau dirinya sudah menangis. Menma lalu teringat perdebatannya dengan Hinata sebelum ia pergi. Ia yakin itulah yang membuat Hinata menangis. Entah perasaan apa yang dirasakan Menma saat ini. Merasa bersalah? Ya. Lega karena Hinata tidak apa-apa? Itu juga benar.
Menma baru sadar kalau dirinya akan sangat panik saat tahu Hinata dalam bahaya. Ia baru sadar kalau Hinata termasuk orang yang sangat berharga baginya. Bayangan-bayangan tentang sikap Hinata beberapa tahun ke belakang bermunculan di otaknya. Ia ingat bagaimana Hinata mengusir perempuan lain yang berusaha dekat dengannya, ia ingat bagaimana sedihnya Hinata saat ia pulang dalam keadaan terluka, ia ingat bagaimana khawatirnya Hinata saat ia terus-menerus menjalankan misi untuk melupakan Shishui. Hinata sangat peduli padanya. Kenapa ia baru sadar sekarang?
Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.
Menma mengangkat dagu Hinata, memaksa wajah Hinata yang dari tadi menunduk untuk menatapnya. "Kau sudah makan?"
Hinata baru pulang misi dan langsung mencari Menma, tentu saja ia belum makan. "Belum," jawab Hinata pelan dengan pipi yang merona merah. Ah, sisi tsun-tsun Hinata kini telah dikalahkan oleh sisi dere-dere Hinata. Lihat saja pipi merahnya itu. Itu membuat Menma gemas.
"Ayo makan di rumahku, tadi ibuku terlihat memasak banyak makanan. Kita bisa menghangatkannya," kata Menma sambil tersenyum.
Wajah Hinata makin merona merah saat melihat wajah ramah Menma. Ini pertama kalinya Menma kembali tersenyum setelah berbulan-bulan sedih karena kehilangan Shishui sahabatnya. Menma mengulurkan tangannya ke arah Hinata, Hinata menyambutnya tanpa ragu. Sebenarnya Menma bisa menggunakan hiraishin untuk pulang ke rumah. Tapi ia ingin menghabiskan waktu berdua lebih lama dengan Hinata sehingga memutuskan untuk jalan kaki saja.
Sebelum makan malam Menma sempat memberi tahu temannya di kesatuan ANBU untuk memperketat penjagaan di perbatasan Konoha. Belakangan diketahui kalau ada shinobi tak dikenal dalam jumlah yang besar sedang bersiap menyerang Konoha. Atas informasi yang diberikan Menma, pasukan ANBU mengambil langkah cepat dengan menyerang mereka lebih dulu selagi mereka belum siap. Akhirnya setengah kelompok shinobi tersebut bisa dikalahkan sedangkan sisanya mundur.
Naru melihat pemandangan di hadapannya dengan puas. Beda halnya dengan Dark Menma yang bersikap datar.
"Kenapa? Kau tak rela 3rd Menma hidup bahagia?" Dark Menma tak juga menjawab. "Kau harus belajar menerima kenyataan. Kau tak boleh iri pada dirimu yang lain."
Dark Menma diam dikritik seperti itu. Entah mengerti, entah tak terima.
Dimensi ke-2, 3rd Naru (10th)
Dimensi ke-2 memiliki 2 alur yang menuju kebahagiaan dan penderitaan. Masa yang dipilih Naru adalah saat 3rd Naru (Naru dunia ke-3) di sana berumur 10th , sehari setelah Naruto datang ke dimensi itu.
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah-celah gorden orange di kamar 3rd Naru telah sukses mengusik tidur gadis itu. Ia berusaha menutup sorotan cahaya matahari dengan tangan kanannya, lengkap dengan wajah yang merenggut kesal. Tapi lama-kelamaan akhirnya ia bangun juga. 3rd Naru mengedarkan pandangan ke setiap penjuru apartemen untuk mencari Naruto. Otaknya masih mencari tahu apa pertemuannya dengan Naruto kemarin hanya mimpi?
Tapi jika itu mimpi, bagaimana bisa sekantong buah-buahan itu ada di lemari es? Mana mungkin 3rd Naru mampu membeli itu semua. Bayangan Naruto menyelamatkannya dari lemparan-lemparan buah busuk masih segar di ingatan Naru. Jadi ia ragu kalau itu semua hanya mimpi.
3rd Naru sarapan dengan ramen instan. Selanjutnya ia hanya melamun di meja makan, padahal sebentar lagi ia harus segera berangkat ke akademi.
"Naruto tak akan datang. Lupakan dia," kata Naru. Ia bersandar di dinding dekat jendela dapur.
3rd Naru panik karena ada orang asing yang masuk ke apartemennya. Ia mundur hingga terjebak di sudut dapur. Perlahan Naru melepas tudungnya, menunjukkan kemiripan wajah mereka. 3rd Naru melotot tak percaya pada apa yang dilihatnya. Perempuan di hadapannya terlihat sangat mirip dengannya. Rambut pirang tapi lebih panjang, ada 3 pasang tanda lahir halus di pipi, mempunyai sepasang mata safir, dan bahasa tubuh yang ia tunjukkan.
"Tapi dia sudah janji akan menemaniku. Dari mana kau tahu kalau Nii-san tak akan ke sini?"
"Aku melarangnya untuk ke sini. Berhenti mengharapkan Naruto, lagipula dia bukan kakakmu. Penyegelan Kyuubi 10 tahun lalu adalah hari dimana kau dilahirkan. Kau anak pertama jadi tak mungkin memiliki kakak."
3rd Naru terpaku, kemudian ia menangis. Ia terlanjur berharap kalau Naruto akan datang lagi padanya. Naru beranjak lalu merengkuh 3rd Naru ke dalam pelukannya. Membiarkan gadis kecil itu terisak dalam pelukannya. Naru tahu ini hal yang cukup berat bagi 3rd Naru. Tapi kebohongan tak selayaknya dibiarkan berkepanjangan.
"Berusahalah sendiri," kata Naru sambil mengusap air mata 3rd Naru. "Suatu saat kau akan tumbuh jadi anak yang kuat jika kau berlatih dengan sungguh-sungguh."
Keduanya tak bicara setelah itu. 3rd Naru masih berusaha menguatkan hatinya agar tak lagi mengharapkan kedatangan Naruto. Setelah ia cukup tenang, barulah ia sadar sesuatu.
"Apa kau diriku dari masa depan?"
Naru tersenyum menanggapi pertanyaan 3rd Naru. Ia memang pintar dalam menganalisis keadaan. Sayangnya Naru tak bisa menjawab pertanyaan itu.
"Kenapa tidak tunggu saja 4-5 tahun lagi? Jika kau tumbuh jadi gadis cantik sepertiku, itu berarti aku adalah dirimu."
3rd Naru tentu tak puas dijawab seperti itu. Tapi Naru segera mengalihkan pembicaraan. "Cepat ganti baju dan segera pergi ke akademi. Aku akan mengantarmu, khusus untuk kali ini saja."
3rd Naru langsung senang. Ini pertama kalinya ia diantar ke akademi oleh seseorang.
Naru melambaikan tangannya saat 3rd Naru masuk ke dalam bangunan akademi. Naru tak iri pada 3rd Naru meski gadis itu punya segalanya. Ia justru ingin memastikan kalau alur kehidupan 3rd Naru berjalan menuju kebahagiaan. Ia yakin alur yang dipilihnya ini benar. 3rd Naru akan tumbuh jadi gadis yang kuat tanpa bantuan Naruto sekalipun. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Di celah dimensi, Dark Menma berkata "Kau bisa mengatur emosimu saat melihat dirimu yang lain. Aku acungi jempol untuk itu. Tapi tantangan selanjutnya dimulai setelah ini."
Naru penasaran dengan maksud Dark Menma. Dilingkarkannya tangan Dark Menma ke lehernya kemudian mereka bergegas ke dimensi terakhir.
Dimensi ke-1, Naruto (17th)
Dimensi ke-1 memiliki alur yang banyak dan rumit. Terdiri dari 3 alur utama yang kemudian bercabang jadi puluhan alur kehidupan yang lebih rumit. Anehnya dari 3 alur utama itu tak ada yang berakhir bahagia. Semuanya berakhir pada siklus game yang dibuat Dark Menma. Dengan kata lain, semua alur di dimensi ke-1 mengarah pada lahirnya time traveler selanjutnya. Tiga alur utama yang ditemukan Naru adalah:
Alur Kesempatan Kedua:Naruto gagal mengalahkan Pain – Hinata mati – Ditolong oleh Naruto dari masa depan –Hinata dihidupkan – Memicu Time Travel
Alur Kesempatan Kedua Masa Depan:Naruto berhasil mengalahkan Pain – Naruto jadi Hokage – Saat berumur 24 th, Hinata lenyap dari dunia karena sejarah berubah (efek alur pertama) - Menggunakan Limited Time Travel ke masa lalu – Hidupkan Hinata muda – Memicu Time Travel
Alur Time Traveler:
Naruto berhasil mengalahkan Pain – Naruto menolak pelantikan Hokage – Pergi ke dimensi Naru - Memicu Time Travel
Ketiga alur itu selalu berakhir dengan memicu lahirnya time traveler lain. Dimensi ke-1 berpotensi merusak 6 dimensi lain. Naru mencoba memilih salah satu alur untuk diubah, yaitu alur ke-3. Ia akan merubah keputusan Naruto di sana.
"... kami sudah mendapatkan laporan bagaimana kau berjuang dalam perang dunia ninja," ujar Daimyo, pemimpin tertinggi Negara Api saat memberikan sambutan dalam acara pelantikan Hokage.
"Uzumaki Naruto, atas jasa-jasa, pengabdian, dan kesetiaanmu selama ini terhadap Konoha, serta atas rekomendasi dari para dewan dan tetua desa, aku sebagai pemimpin tertinggi Negara Api mengangkatmu sebagai Hokage Ke-6. Majulah ke depan, Naruto."
Naruto terpaku di tempatnya. Ia sedang memikirkan Naru di dimensi ke-2.
"Naruto?" tanya Daimyo bingung. Mata sayu karena efek penuaan itu menatapnya bingung. "Naruto, kau mendengarku?"
Naruto tersadar dari pemikirannya.
Daimyo sudah bersiap menyerahkan jubah bertuliskan Hokage Ke-6 serta topi Hokage.
"Maka dengan ini kuresmikan kau menjadi-"
"Maaf," potong Naruto. "Aku tidak bisa menjadi Hoka-"
BUKH!
Naru memukul Naruto tepat di wajah. Tak peduli pada kekagetan semua penduduk Konoha 1 karena calon Hokage mereka dihajar di hadapan publik. Ditariknya kerah jaket Naruto dan dibawanya dengan hiraishin ke hutan Konoha.
"Kau tak boleh ke dimensi ke-2 lagi!" bentak Naru sambil mendorong tubuh Naruto ke batang pohon.
"Kenapa? Ugh!" Naruto yang mencoba berdiri kembali didorong oleh Naru. Kekuatan Naruto tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Naru.
"Perpindahanmu ke dimensi ke-2 akan memicu ketidak stabilan dimensi. Yang jelas itu mengarahkanmu pada kehancuran yang makin parah lagi."
Naruto tak tahu siapa gadis pirang di hadapannya. Tapi dari kekuatan besar yang dipancarkannya, Naruto tahu Naru bukan orang sembarangan. 'Jangan-jangan dia bisa melintasi dimensi juga', pikir Naruto.
Naru merasakan kedatangan ANBU dalam jumlah yang besar. Acara pelantikan Hokage adalah acara besar, sudah pasti banyak ANBU yang ada di desa untuk mengamankan keadaan. Dan sekarang semua ANBU itu mengarah ke lokasi Naru untuk menyelamatkan calon Hokage mereka.
"Lupakan Naru, dia sudah tak kesepian lagi di sana. Aku akan terus memperhatikanmu. Jika kau mencoba untuk pergi ke dimensi ke-2, aku tak akan segan untuk membunuhmu!" seru Naru. Ia bersiap untuk kembali ke celah dimensi.
"Kau salah jika aku datang menolong Naru untuk mengobati kesepiannya!" teriak Naruto. "Yang benar adalah Naru yang mengobati kesepianku!"
Naru terdiam mendengar kata-kata Naruto. Meskipun Naruto yang ada di hadapannya sekarang berbeda dengan kakaknya, tapi perasaan yang dua Naruto itu rasakan adalah sama. Lima tahun lalu kakaknya datang ke dimensi ke-2 lalu tinggal di sana bukan semata-mata untuk menemani Naru, tapi untuk mengobati rasa kesepiannya juga. Dengan kata lain mereka saling menemani satu sama lain.
"Aku juga kesepian di sini!" teriak Naruto.
Teriakan Naruto menyadarkan Naru untuk kembali fokus pada tujuannya. Ia tak boleh bersikap lembek hanya karena wajah Naruto di hadapannya mengingatkannya pada kakaknya. Naru harus menahan perasaan sedih di hatinya. Ini semua demi kebaikan Naruto juga. Akhirnya Naru pergi meninggalkan Naruto begitu saja. Ia segera menuju celah dimensi untuk menjemput Dark Menma. Setelah itu ia akan melanjutkan rencananya.
Setelah alur di ketujuh dimensi diubah, Naru berkeliling menjelajahi waktu di setiap dimensi. Ia ingin memastikan kalau alur yang diubahnya mengarah pada alur kebahagiaan sesuai yang diharapkannya.
Di dimensi ke-7, Shichidaime dan Nee-san hidup bahagia. Berkat sejarah yang diubah Naru, mereka menikah 10 tahun lebih cepat dari alur sebelumnya. Mereka dianugerahi seorang anak laki-laki bernama Naoki. Shichidaime dilantik jadi Hokage saat ia berumur 23 tahun, menjadikannya Hokage kedua termuda setelah Minato.
Di dimensi ke-6, Minato dan Kushina memutuskan untuk menikah pada tanggal 18 September 2010. Karin meninggal dunia di usia 19 tahun karena kecelakaan mobil saat akan menjemput Minato dan Naruko ke bandara. Namun sisi positifnya, keluarga Namikaze telah bersatu kembali. Hyuuga Cyber Company dan Shinobi Online Developer Team tidak melakukan ekspansi besar-besaran. Dua perusahaan itu tak bekerja sama dengan Departemen Pertahanan sehingga android hibrid-armor suit NR099 tak pernah tercipta. Artificial intelligence tidak memberontak dan akhirnya manusia tidak punah.
Di dimensi ke-5, Akage menikahi Shion setelah melakukan pendekatan selama 1 tahun. Satu tahun itu telah memberikan Akage gambaran kalau ia dan Shion cocok. Ia ingin menikahi Shion bukan sekedar ingin menepati janji, tapi memang pada dasarnya ia menyayangi Shion. Akage menetap di Negara Iblis untuk melindungi negara itu bersama Shion. Mereka dikaruniani anak perempuan yang diberi nama Sena. Gadis itulah yang akan dijadikan penerus Shion kelak. Akage dan Shion melatih Sena semua ilmu yang mereka kuasai tanpa membuat Sena terbebani. Hasilnya, Sena jadi anak yang berbakat dan periang meskipun ia punya beban untuk meneruskan tanggung jawab ibunya menjaga jiwa Mouryou.
Di dimensi ke-4, Yami jadi salah satu murid berbakat di akademi. Itu berkat mimpi yang diberikan Naru padanya saat ia berusia 10 tahun. Sekarang ia jadi punya impian yang harus ia kejar. Kemampuan Yami sangat diperhitungkan oleh murid berbakat lainnya seperti Sasuke dan Neji. Ia lulus ujian Genin, Chuunin dan Jounin tanpa hambatan. Perlahan ia mulai mendapatkan banyak teman. Namun ia masih belum dipercaya untuk masuk lebih dalam ke pemerintahan Konoha seperti jadi ANBU dan Jounin Instructor. Barulah saat ia mengalahkan Pain, semua penduduk mulai memberikan respek padanya. Kesempatan jadi Hokage pun terbuka lebar. Yami hanya tinggal membuktikan kalau dirinya layak dengan terus mengabdikan diri kepada Konoha dan jadi shinobi yang bisa diandalkan untuk melindungi desa.
Di dimensi ke-3, Menma jadi Naruto yang melalui jalan paling mulus untuk jadi Hokage. Ia ditunjuk jadi Hokage di umur 18 tahun, termuda dari semua Naruto. Dia dikenal seorang pribadi yang baik sejak kecil. Terlahir dari pasangan shinobi hebat, Minato Namikaze dan Kushina Uzumaki. Melakukan banyak misi penyelamatan desa. Tak ada alasan untuk tak memilihnya jadi Hokage menggantikan Tsunade. Kehidupan keluarganya pun tak kalah sempurna. Minato bergabung dengan Konohagakure Tactical Division sementara Kushina ditarik ke Konohagakure Intelligence Division karena kemampuannya dalam bidang enkripsi-deskripsi kode dan penyegelan. Setidaknya kedua orang tua Menma lebih sering berada di dalam desa, tidak sering keluar menjalankan misi yang berbahaya. Menma dan Hinata sudah menikah sejak setahun lalu, saat umur mereka 17 tahun. Hinata kini sedang mengandung. Mau tak mau naluri keibuannya telah memaksa Hinata untuk tampil lebih feminim dari waktu ke waktu.
Di dimensi ke-2, Naru jadi salah satu murid berbakat di akademi, persis seperti Yami. Namun kekuatan Naru lebih menonjol di ninjutsu dan genjutsu dibanding taijutsu (atau yang berhubungan dengan stamina). Naru pun bisa lulus ujian genin, chuunin dan jounin dengan lancar. Teman-temannya banyak karena ia mudah bergaul. Hanya saja banyak yang tak percaya saat ia bilang akan jadi Hokage. Naru perlu waktu lebih lama untuk membuktikan kelayakannya jadi Hokage. Ia baru bisa jadi Shichidaime Hokage 15 tahun kemudian setelah Kakashi (Rokudaime).
6 dimensi sudah berjalan sesuai sesuai keinginan Naru. Tapi dimensi ke-1 tak juga menunjukkan alur yang membahagiakan bagi Naruto.
Di dimensi ke-6, alur kehidupan Naruto yang sempat diubah oleh Naru malah masuk ke alur penderitaan. Naruto di sana menuruti perintah Naru untuk tidak pergi ke dimensi ke-2. Tapi ternyata perubahan itu saja tak cukup. Naru sudah berulang kali menggunakan jurus limited time traveler di dimensi ke-1 untuk mengubah sejarah. Ia mencari dengan teliti di mana saja letak kesalahannya. Dari puluhan alur yang diubah, akhirnya selalu salah. Kadang Naruto dibunuh, kadang dia mengorbankan diri untuk orang lain, kadang memicu time travel dan masuk ke siklus 'game', bersikeras melakukan dimensional traveler, dan mengacaukan dimensi lain yang sudah bahagia.
"Apa yang harus kulakukan, Nii-san?" tanya Naru. Ia sedang menatap langit senja di atasnya. Berkali-kali ia mengusap air mata yang mengalir dari kedua matanya. Di sampingnya ada mayat Naruto, salah satu ending dari alur yang ia ubah. Nii-san yang dipanggil Naru bukan Naruto yang tergeletak tak bernyawa di sampingnya, tapi Naruto dari dunia ke-2 yang sudah menganggapnya adik.
"Aku sudah melakukan 30 kali limited time traveler, dan aku belum juga menemukan alur yang bahagia untuk sosok reinkarnasi dari dirimu ini." Naru memegang tangan sosok yang tak bernyawa di sampingnya.
"Apa perlu aku turun tangan secara langsung untuk membantunya?" tanya Naru lagi. Padahal ia tahu Niisan-nya tak akan menjawab dari akhirat sana. "Tapi kalau itu kulakukan dia tak akan bisa mandiri."
Ya, sejak awal Naru hanya memberikan arahan kepada 7 Naruto di dunia ke-3 agar mereka masuk ke alur yang ia inginkan. Jika mereka sedang bertarung, Naru tak akan menolong. Naru membiarkan mereka berusaha sendiri. Naru membiarkan alur mereka mengalir sendiri menuju kebahagiaan. Lalu kenapa di dimensi ke-1 ini ia tak pernah menemukan alur yang bahagia?
"Aku sudah bilang padamu, Naru. Aku lebih lama jadi time traveler dari pada kau. Aku sebut Naruto pembuat masalah karena memang semua alur kehidupannya tak ada yang bagus. Uhuk…uhuk…" Dark Menma menutup batuknya dengan tangan. Saat ia membuka tangannya ada darah kental di sana. Ia merasa hidupnya tak akan lama lagi.
"Aku akan melakukan limited time traveler lagi sampai kutemukan alur yang bahagia bagi Naruto!"
Dark Menma menarik pelan jubah yang dipakai Naru. "Dasar keras kepala. Terserah apa yang kau lakukan. Yang jelas aku mengikutimu sampai di sini saja. Tubuhku sudah tak kuat untuk menahan tekanan time travel."
Naru memeriksa nadi Dark Menma. Nadinya sudah lemah.
"Pernahkah kau berpikir kalau kekuatan time travel terlalu besar untuk kita miliki?" tanya Dark Menma tiba-tiba.
Naru menatap Dark Menma tak mengerti.
"Setelah aku melihat 6 alur yang kau ubah, aku malah berpikir kalau makna 'bahagia' itu berbeda tiap orang. Aku menganggap dunia ke-2 bahagia karena aku bisa bermain di dalamnya. Sebaliknya, kau tidak bahagia di dunia ke-2 karena kau jadi objek permainanku. Kau malah menilai alur-alur yang kau pilih di dunia ke-3 itu bisa membuat bahagia 7 Naruto."
Dark Menma berhenti bicara untuk memberikan waktu kepada Naru untuk meresapi kalimatnya sekaligus untuk menghela napas. Napasnya sudah terasa berat.
"Aku berpikir kekuatan time travel seharusnya tidak dimiliki oleh manusia. Karena manusia sering berpikiran subjektif, bukan objektif. Manusia sering menilai dari perspektif atau sudut pandang dirinya sendiri, bukan dari sudut pandang orang lain. Jadi kesimpulannya, alur yang menurutmu benar, belum tentu benar," lanjut Dark Menma.
Naru tak terlalu kaget mendengar kalimat itu keluar dari mulut Dark Menma. Biar bagaimanapun Dark Menma hidup puluhan tahun lebih lama darinya. Dia sudah mengalami kebahagiaan dan penderitaan yang panjang. Dia punya pengalaman yang lebih banyak. Dia lebih pintar. Selama ini ia hanya menutupi sisi keseriusan dirinya dengan sifat arogan dan kekanakan.
Itu jadi kata-kata terakhir Dark Menma sebelum ia mati. Ia mati di samping Naruto ke-3, reinkarnasi Naruto yang selalu jadi musuh abadinya.
Naru tak ingin menyerah seperti kata Dark Menma, ia melakukan limited time traveler lagi, lagi, dan lagi hingga 99 kali. Saat itulah limit kekuatan Naru tercapai.
Sayangnya, hasilnya sama saja. Alur Naruto tak pernah mencapai alur bahagia apapun yang Naru lakukan.
Naru lalu teringat pada kata-kata terakhir Dark Menma. 'Bahagia' itu muncul dari perspektif diri Naru sendiri. Bisa saja alur yang dianggapnya membahagiakan Naruto bukanlah takdir sesungguhnya.
Naru memejamkan matanya. Dimensi ke-1 terlalu rumit untuk ia mengerti. Kali ini ia mengerahkan semua chakra-nya yang tersisa untuk melakukan limited time traveler terakhir di dimensi ke-1. Namun kali ini ia memilih masa yang lebih jauh.
Tepatnya 17 tahun lebih awal dari saat ini, yaitu masa dimana Naruto baru lahir ke dunia.
Naru memutuskan untuk membiarkan alam di dimensi ke-1 memilih sendiri takdirnya.
To Be Continue…
A/N: Langsung pencet next.Chapter 19 terlalu panjang (10rb+ kata) jadinya dipotong. Sisanya di chapter 20.
Salam anti-mainstream!
© rifuki
