You know I love you

Genre: Drama,romance,hurt

Rating: NC 17

Cast: Jung yunho,kim jaejoong,jung jinwoon,han hyunjung,kim haneul

Pairing: yunjae,woonjae (jinwoonXjaejoong)

Warning: typo(s),cerita pasaran,tidak sesuai EYD.

DON'T LIKE,DON'T READ!

Chapter 2: "Someone in the past"

"Kim Jaejoong"

DEG

Jaejoong,Jinwoon dan juga Yunho mengerutkan kening ketika melihat Hyunjung terbelalak melihat Jaejoong yg berdiri di hadapannya. Entahlah,pria itu seperti melihat hantu ketika melihat wajah malaikat Jaejoong.

Hyunjung menelan ludahnya perlahan. Ia seperti mengalami dejavu saat melihat wajah Jaejoong.

'Hyunjung ah...dengarkan aku dulu'

'Jepaskan!'

'Tapi aku berkata yg sebenarnya'

'Kau iblis'

"Hyunjung" Panggil Jinwoon ketika sahabatnya itu melamun. Jaejoong yg terus di lihat seperti itu menjadi kesal,sebenarnya apa yg di lihat pria itu darinya. Bukan sebuah keanehan jika ada lelaki yg melihatnya begitu,tapi pandangan Hyunjung yg terkejut seakan menuduhnya.

"Kau baik-baik saja?"

"I'm sorry. Silahkan masuk" Hyunjung berusaha menguasai dirinya. Ketika Jaejoong berjalan melewatinya,ia tetap memandangnya dg lekat,tentu saja itu membuat Jaejoong jengah.

.

.

.

"Dia kekasihku yg kemarin aku ceritakan. Bagaimana?" Kata Jinwoon memperkenalkan Jaejoong dg bangga. Mereka sudah duduk di kursi makan sambil menunggu makan malam di siapkan.

"Dia cantik" Jawab Hyunjung jujur sambil memutuskan pandangan dari wajah Jaejoong. Jinwoon tersenyum senang.

"Apa ahjussi mengenal Jaejoong sebelumnya?" Tanya Yunho yg dari tadi diam.

"Apa?"

"Ah tidak. Kami baru bertemu di sini. Kenapa Yunho?"

"Tidak" Yunho tersenyum. Ia tidak mungkin menanyakan keanehan yg dirasakannya. Yunho terus memperhatikan Hyunjung yg saat ini sedang berbicara dg ayahnya.

Yunho sedikit terkejut ketika merasakan paha kanannya tersentuh olehtangan. Dg cepat ia melihat kearah pahanya yg saat ini sedang di elus lembut oleh...

"Jaejoong" Bisik Yunho sambil menatap kearah Jaejoong yg tersenyum tanpa melihat kearahnya.

'Shit' Yunho langsung menyingkirkan tangan milik pria di sampingnya itu. Jaejoong susah payah menahan tawanya melihat wajah tegang Yunho. Ia akui kalau Yunho jauh lebih tampan sekarang di banding masih sekolah dulu. Dulu saja bisa dibilang Yunho sama sepertinya tapi yg beda Yunho tidak memanfaatkan kepopuleran itu.

Dua orang wanita membawakan makan malam ke empat orang itu. Dan dalam beberapa menit mereka semua sibuk dg hidangan yg cukup banyak.

"Sepertinya kau mempersiapkan ini dg baik" Kata Jinwoon setelah mereka selesai makan. Suara tawa Hyunjung terdengar.

"Tentu saja. Untuk menyambut kedatangan sahabat yg lama tidak aku temui,semua ini adalah hal wajar"

"Seharusnya aku yg melakukan ini" Balas Jinwoon. "Nanti lain kali kau yg datang kerumahku"

"Jaejoong sshi bagaimana makanannya?" Tanya Hyunjung pada Jaejoong.

"Makanannya sangat enak" Jawab Jaejoong sambil tersenyum.

"Baguslah kalau begitu" Wajah Hyunjung sudah tidak setegang tadi. Ia sudah bisa membedakan kalau Jaejoong bukan orang yg di kenalnya.

.

.

.

.

"Aboji,boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Yunho saat mereka dalam perjalanan pulang setelah mengantar Jaejoong. Yunho dan Jinwoon duduk berdampingan.

"Kenapa Hyunjung ahjussi menunjukkan wajah terkejut saat melihat Jaejoong tadi?"

Jinwoon berdehem sebelum menjawab. "Mungkin...iya ingat seseorang dimasa lalu" Jawab Jinwoon sambil menerawang. Ia melihat keluar jendela tanpa mempedulikan Yunho yg bertambah bingung.

"Maksudnya?"

"Entahlah. Aku tidak berhak memberitahumu" Ujar Jinwoon. "Saat aku bertemu Jaejoong untuk pertama kali juga ekspresiku sama seperti Hyunjung"

"Aboji kau membuat ku tambah bingung" Jinwoon menoleh pada Yunho sambil tersenyum,seolah-olah meyakinkan kalau hal itu tak perlu di pusingkan. Yunho semakin penasaran,apa sebenarnya yg ada di masalalu Hyunjung dan juga ayahnya.

'Jaejoong' Batin Yunho.

.

.

.

.

Seorang wanita mengeram kesal ketika mengintip dibalik tembok untuk melihat dua orang yg sedang asik bercanda. Wanita itu merasakan kesal yg teramat sangat. Kemarin ia baru saja mendengar gosip yg mengatakan kalau dua orang yg ada di hadapannya itu sudah menjadi sepasang kekasih. Dan bodohnya sekarang ia melihatnya sendiri.

"Damn!" Umpatnya kesal.

.

.

.

.

"Argh!" Jaejoong memaki karena sudah sejak 10 menit handphone miliknya terus berdering. Tentu saja itu mengganggu tidur cantiknya.

"Yoboseo?!" bentak jaejoong. Ia sangat kesal kalau ada yg mengganggu tidurnya seperti ini.

"Sepertinya kau sangat menikmati tidurmu" Suara tenang itu membuat Jaejoong langsung membuka matanya. Ia segera duduk dari tidurnya.

"Omoni"

"Haha..apa kabar anakku?" Jaejoong benar-benar tidak menyangka ibunya akan menelepon.

"Kapan omoni pulang?" Bukan menjawab tapi Jaejoong malah bertanya dg nada ketus. Di line telepon sang ibu tertawa renyah.

"Aku tahu kau merindukan Omoni"

"Lusa Omoni akan pulang ke Seoul,jadi kau harus menjemputku di bandara" Ibu Jaejoong memang berada di Beijing sejak 2 minggu yg lalu untuk menghadiri beberapa fashion show di negara itu dan meninggalkan Jaejoong sendiri di seoul.

"Araseo!" Jawab Jaejoong malas. Ia merapihkan poninya.

Setelah telepon tertutup jaejoong berdecak kesal. Jika ibunya pulang itu artinya ia kembali dihadapkan pada deretan peraturan.

Ibu Jaejoong yg bernama haneul itu memang memberikan banyak peraturan sejak Jaejoong kecil,alasannya agar sang anak terbiasa dg semua itu ketika berada di luar rumah.

Jaejoong bangun dari tempat tidur lalu beranjak ke kamar mandi. Satu jam lagi ia harus kuliah.

.

.

.

Yunho membetulkan kerah kemeja biru muda yg di pakainya,memakai dasi yg sudah jadi di lehernya. Ia menatap kagum pantulan dirinya di cermin. Jung Yunho selalu tampan.

Ketika ia menuruni tangga,sang ayah sudah duduk dg tenang di kursi makan sambil membaca koran pagi.

"Pagi,Aboji"

"Pagi,Yunho" Yunho duduk di samping ayahnya yang tersenyum melihat penampilan anaknya itu.

"Kau ingin sarapan yg lain?"

"Tidak. Roti sudah cukup" Yunho mengambil 1 lembar roti tawar lalu mengolesi dengan selai cokelat.

"Appa lupa kalau Prancis punya roti khas,jadi kau terbiasa memakan itu" Kata Jinwoon sambil meletakkan koran yang ia baca ke kursi kosong disampingnya.

"Tapi aku lebih suka makan roti saat supper*. Selebihnya hanya pasta"

"Kau tahu kan kalau di korea jarang ada pasta. Kalau pun ada sudah dalam bentuk mie saji" Yunho mengangguk. Meski ia lama di Prancis tapi ia tidak pernah meninggalkan kebiasaan orang Korea. Buktinya ia masih fasih berbahasa Korea.

"Disana apa Liana menjaga pola makanmu?" Tanya Jinwoon lagi. Mereka lebih senang bercakap pada pagi hari. Liana adalah orang yg Jinwoon sewa untuk menjaga Yunho di Prancis. Seorang wanita bertubuh subur.

"Tentu. Ia yg menyiapkan makanku selama 4 kali dalam sehari"

"Oh cukup lama kami tidak bertemu" Kata Jinwoon. Mereka berdua melanjutkan sarapan sambil mngobrol ringan.

.

.

.

.

Junsu bertepuk tangan setelah pertunjukkan yg baru saja di lakukan Yoochun. Ia bersama ratusan orang lainnya terlihat antusias sejak memasuki wahana sirkus hewan. Di bawah sana Yoochun beserta teman-temannya membungkuk hormat,juga tak lupa seekor singa laut dengan lucunya ikut membungkuk.

"Chunnie" Teriak Junsu sambil berjalan kearah Yoochun yg sibuk membereskan pakaian renang. Pria manis itu mengulurkan botol minum pada Yoochun.

"Gomawo"

"Kau tadi hebat..." Ucapan Junsu terhenti saat Yoochun mengangkat telunjuknya. "Maksudku tadi kalian hebat" Ralat Junsu. Yoochun tidak suka kalau Junsu hanya memujinya.

"Benarkah?" Junsu mengangguk semangat. Ia mengangkat kedua jempolnya di depan wajah Yoochun.

"Apa lagi saat Bornie melakukan lompatan hingga berputar. Kyaa dia pandai sekali" Seru junsu riang. Bornie adalah nama singa laut di pertunjukkan kali ini.

"Yeah,tentu saja. Yang melatihnya saja orang hebat" Yoochun tersenyum.

"Tentu. Chunnie ku memang hebat!" Ujar Junsu setuju. Yoochun mengacak-acak rambut junsu.

"Ah iya ada yang mau aku bilang padamu" Ujar Junsu saat keduanya sudah berada di taman. Yoochun melepaskan jilatan es krimnya untuk melihat Junsu.

"Yunho Hyung sudah pulang ke Seoul"

"Benarkah?" Yoochun terkejut. Junsu mengangguk cepat.

"Jaejoong hyung sendiri yg bilang"

Yoochun berdecak sebal. "Kau masih saja berteman dengannya"

"Siapa?" Tanya Junsu tak mengerti.

"Kau dan Jaejoong" Tunjuk Yochun. Junsu hanya tersenyum polos.

"Kapan Yunho kembali?"

"Beberapa hari yg lalu,aku ingin memberitahumu tapi handphone mu rusak dan kau sibuk sekali hingga sulit ku temui" Gerutu Junsu sebal. Yoochun hanya tertawa.

"Mianhae. Karena aku miskin aku harus banyak bekerja"

"Chunnie. Jangan katakan itu lagi"

"Bukankah itu kenyataan?" Junsu merengut tapi Yoochun malah menempelkan es krimnya ke mulut Junsu dan mereka kembali tertawa bersama.

.

.

.

.

Yunho sudah duduk di depan meja kerjanya dengan tumpukan file yg ada di atasnya. Ia harus membereskan pekerjaan manager terdahulu yg tidak rapih. Sebenarnya manager yg dulu tidak melakukan kesalahan apa-apa hanya saja Yunho terlalu perfeksionis dalam bekerja,persis seperti ayahnya.

Terlalu serius bekerja membuat Yunho tak sadar kalau sang ayah sedang berdiri di depan pintu ruangan yg sedikit terbuka. Jinwoon tersenyum. Yunho memang selalu bisa di andalkan.

.

.

.

.

Jaejoong mengumpat sebal karena Junsu tidak menjawab teleponnya.

"Pasti ia sedang sibuk dengan Yoochun" Jaejoong berjalan sambil terus mencoba menghubungi Junsu.

BRAK-

"Kalau jalan pakai mata!" Bentak Jaejoong. Lengannya sakit sekali ketika berbenturan dg orang yg menabraknya.

Didepan Jaejoong berdiri seorang pria berkacamata tebal yg sangat 'kurang' penampilannya di mata Jaejoong yg selalu sempurna.

"Dasar orang bodoh!" Tanpa Jaejoong kenali orang yg keluar dari tipenya itu ia bentak.

Dan tanpa bicara lagi,ia pergi meninggalkan orang itu.

Orang yg Jaejoong maki tadi bernama Lee Jinsuk yg merupakan penggemar berat Jaejoong dan akan melakukan apapun untuk mendapatkan pria manis nan sombong itu. Jinsuk menyeringai di balik wajah memelasnya.

.

.

.

.

Yunho menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di belakangnya. Ia memijit keningnya yg terasa pusing. Pekerjaannya baru selesai setengah tapi ia sudah lelah seperti ini,ia tidak boleh mengabaikan kesulitan dari pekerjaan yg ayahnya percayakan padanya.

Sebelum pergi ke kantor ia telah meyakinkan dirinya bahwa ia bekerja di perusahaan ayahnya bukan hanya untuk menunjukkan siapa dirinya,agar para karyawan lain tidak merasa bahwa ia berbeda dg mereka. Yunho mempunyai tanggung jawab pada perusahaan dan diri sendiri,dengan menyingkirkan fakta bahwa ia anak dari pemilik perusahaan.

Oleh karena itu ia akan membuktikan pada semua orang bahwa ia bisa berdiri diatas kakinya sendiri tanpa bayang-bayang ayahnya.

"Permisi tuan" Yunho melihat seorang wanita yg merupakan sekretarisnya berdiri di depan pintu.

"Sekarang sudah jam makan siang,Direktur Jung ingin anda makan dengan beliau" Kata wanita bernama Jieun itu.

"Baiklah"

Yunho berjalan di lorong lantai 8 menuju lift yg akan membawanya ke lantai 10 tempat ayahnya berada.

Setelah sampai didepan pintu bertuliskan direktur utama,Yunho membenarkan dasinya lalu ia mengetuk pintunya.

"Masuk" Teriak ayahnya dari dalam. Dengan perlahan Yunho membuka pintu berwarna putih itu.

Ketika masuk ayahnya tersenyum melihat sang anak. Dimata Jinwoon saat ini Yunho tampak sangat lelah.

"Apa pekerjaan itu menyulitkanmu,nak?" Tanya Jinwoon pada Yunho yg duduk didepannya. Yunho menggeleng sambil tersenyum untuk mengatakan bahwa ia baik-baik saja.

Dering handphone menghentikan mereka. Jinwoon tersenyum setelah melihat siapa yg meneleponnya.

"Iya,baby" Yunho memutar bola matanya,siapa lagi yg ayahnya panggil baby selain Jaejoong.

Secara tak langsung pria berkulit putih itu sudah meracuni otak ayahnya. Setidaknya itu yg di pikirkan Yunho.

"Kau ingin ke kantor? Kebetulan aku dan Yunho akan makan siang...ya baiklah" Jinwoon menutup teleponnya sambil tersenyum kearah Yunho.

"Ternyata kalian cukup akrab ya dulu" Kata Jinwoon membuat Yunho bingung.

"Jaejoong selalu senang kalau aku mengajakmu bertemu dengannya"

"Ne,begitulah" Tentu jawabannya tidak. Yunho hanya tak ingin memperpanjang masalah ini. Jaejoong senang dengan kehadirannya? Cih yg benar saja.

.

.

.

.

Jaejoong memainkan serbet di tangannya sambil terus tersenyum. Ia seperti seorang wanita yg sudah membuat janji untuk kencan. Awalnya ia akan ke kantor Jinwoon bukan untuk mengajak pria itu makan siang,tapi hanya alasan agar ia bisa bertemu Yunho. Bagaimana Jaejoong tahu Yunho bekerja di perusahaan ayahnya? Tentu saja Jinwoon yg mengatakannya

secara tidak sengaja.

Uuh,dulu Jaejoong menyesal sudah menolak pria tampan seperti Yunho.

"Sudah lama menunggu?" Jaejoong sedikit terlonjak ketika mendengar suara itu. Ia mendongkak untuk melihat Jinwoon dan Yunho yg sudah berdiri didepannya. Jaejoong tersenyum. Matanya memandang Yunho yang mengalihkan pandangan kearah lain.

"Ani. Kau mengagetkanku" Kata Jaejoong sambil tersenyum polos. Tangannya mengusap rambut di atas tungkuk. Ia jadi malu karena tadi sedang melamun.

Yunho dan Jinwoon duduk didepan Jaejoong. Seorang pelayan datang menanyakan pesanan pada mereka bertiga dan setelahnya pergi.

"Aku ke toilet dulu" Kata Jinwoon lalu pergi dari sana,meninggalkan Yunho dan Jaejoong.

Jaejoong terus tersenyum kearah Yunho yg acuh. Hal itu membuat Yunho risih. Ia tidak suka saat Jaejoong memandangnya seperti itu karena itu akan membuat ia tergoda. Ia akui Jaejoong sangat cantik.

"Yunho..bagaimana jika besok kita jalan-jalan?" Tanya jaejoong tiba-tiba.

"Kenapa bukan kau dan aboji saja? Kenapa juga aku harus ikut?" Yunho malah bertanya ketus.

"Loh,ini memang hanya kita Yunho. Bagaimana?" Tanya Jaejoong lagi sambil mengerling nakal. Berulang kali Yunho menahan nafasnya untuk menolak segala godaan pria didepannya.

"Maaf menunggu" Seru Jinwoon menyelamatkan Yunho. Bersamaan dengan itu pelayan datang membawakan pesanan mereka. Yunho menghela nafas lega.

"Sepertinya kalian sedang bicara serius?"

"Ah tidak. Aku dan Yunho hanya bicara tentang masa sekolah. Iya kan?" Jaejoong kembali menatap Yunho. "Dan kita berniat mengunjungi sekolah kita dulu"

Yunho membulatkan matanya mendengar keputusan sepihak teman lamanya itu. Ia berusaha bicara lewat kontak mata dengan Jaejoong tapi Jaejoong tak melihat padanya.

"Wah itu bagus. Kapan kalian mau pergi?"

"Rencananya sih besok"

"Kau mau ikut?" Tanya jaejoong pada Jinwoon. Yunho berharap ayahnya mau ikut.

"Lebih baik tidak. Aku tidak mau mengganggu acara anak muda" Dan harapan Yunho pun pupus.

"Haha..baiklah" Jaejoong kembali menatap Yunho sambil menyeringai.

Hari ini yunho benar2 pusing.

.

.

.

.

Junsu mengedarkan matanya ke penjuru kelas. Ia tidak menemukan Jaejoong. Pria manis itu menghela nafas sambil melihat jam tangannya. Tadi saat ia sedang bersama Yoochun,Jaejoong terus saja menghubunginya tapi karena handphone-nya dalam kondisi silent dan ia taruh di tas jadi ia tidak tahu kalau Jaejoong menelepon.

Pada pukul 1 mereka ada kelas lagi,tapi sampai sekarang Junsu tidak melihat Jaejoong.

"Aww.." Junsu memekik karena tepukan di bokongnya. Ia menoleh dan mendapati Jaejoong yg sedang melipat tangan di dada.

"Kemana saja kau?" Tanya Jaejoong ketus. Junsu hanya tersenyum sambil mengusap belakang kepalanya.

"Mian hyung,tadi aku bersama cChunnie"

Jaejoong memutar bola matanya. "Whatever!"

Mereka berdua memasuki kelas bersama-sama.

.

.

.

Hyunjung sedang duduk di sofa depan tv sambil melamun. Film yg ada didalam tv seolah tak menarik bagi pria berusia 45 tahun itu. Saat ini ia sedang mengingat masa lalu yg sudah ia tinggalkan selama 20 tahun itu.

'Hyunjung ah~'

Hyunjung yg saat itu sedang berjalan di lorong sekolah menghentikan langkahnya. Ia tersenyum ketika melihat Minhwa berlari menghampirinya. Gadis cantik berkuncir buntut kuda itu terengah-engah ketika sampai didepan Hyunjung.

'Kita pulang bersama' Seru Minhwa dengan riang. Gadis itu memang selalu ceria.

'Tentu'

Hyunjung tersenyum ketika mengingat saat-saat itu. Mereka sangat bahagia meski hanya hal-hal kecil. Bagi Hyunjung,melihat Minhwa selalu disisinya saja itu sudah lebih dari cukup.

.

.

.

Jaejoong sudah menunggu di bandara sejak 30 menit yg lalu,tapi ia mencibir ketika melihat papan penerbangan yg mengatakan kalau pesawat yg di tumpangi ibunya mengalami keterlambatan dari jadwal akibat badai salju.

Ia juga sudah menghabiskan dua cup kopi hangat dan ia sangat benci menunggu.

Drrt drrt

Handphone di tangannya berdering,segera ia mengangkatnya.

"Hallo omoni...ne,aku sudah di bandara sejak tadi...baiklah"

Jaejoong menghela nafas kesal,sebentar lagi hidupnya akan kembali di penuhi peraturan. Dan satu-satunya cara ialah menghindar dengan memilih tinggal di apartemen daripada di rumah.

"Jaejoong" Jaejoong mengangkat wajahnya ketika suara ibunya memanggil.

Seorang wanita bermantel soft pink berjalan dengan anggun keluar dari gate kedatangan. Kacamata hitam menutupi pandangannya,serta rambut yg di gelung keatas membuat ia tampak seperti seorang ratu. Wajah wanita bernama Kim Haneul itu masih tetap kencang diusia yg sudah lebih 40 tahun. Melihat Haneul sama seperti melihat Jaejoong. Cantik tapi

terkesan sombong.

"Bagaimana kabarmu?" Tanya Haneul sambil memeluk anak tunggalnya.

"Baik" Jaejoong tersenyum kaku pada ibunya.

Lalu kedua ibu dan anak itu pun berjalan menuju mobil Jaejoong terparkir.

.

.

.

'Hyunjung...aku tahu kau membenciku,tapi aku hanya ingin kau melihatku. Itu saja. Kenapa yg ada di matamu hanya Minhwa Minhwa dan Minhwa?!'

PLAK..

"Hah..hah..hah" Deru nafas Hyunjung tak beraturan,keringatnya mengalir banyak.

Ia baru saja mengalami mimpi yg cukup mengganggu. Pria tengah baya itu mengusap peluh di wajahnya.

"Kenapa? Kenapa rasa bersalah itu kembali lagi? Hah"

Hyunjung menjambak rambutnya frustasi. Kenangan yg sudah ia lupakan selama 20 tahun kini kembali lagi,padahal ia pergi ke london untuk melupakannya tapi tetap saja tidak bisa.

"Jaejoong..Kim Jaejoong" Rapal Hyunjung lirih.

TBC~

Saya tidak tahu apa fic ini layak di sebut bagus karena banyak sekali kekurangan.

Cerita fic ini akan cukup rumit,dan moment Yunjae minim sekali. Tapi chapter depan akan ada moment untuk mereka.

Kalian harus bersiap-siap melihat Jaejoong yg agresif di sini.

Review ne~

Jeje100607

*supper: makan tengah malam.