You know I love you

Genre: Drama,Romance

Rating: NC 17

Cast: Jung Yunho,Kim Jaejoong,Jung Jinwoon,Kim haneul and Other

Author: khania/kim hyun ri

Summary: Cinta segitiga antara Yunho, Jaejoong dan juga Jinwoon. Tentang bagaimana cara Yunho memperjuangkan cintanya,tentang bagaimana ia bersaing dengan ayahnya sendiri untuk mendapatkan itu,dan tentang kenakalan Jaejoong terhadap keduanya. Ditambah dengan kisah masa lalu mereka.

Chapter 4: Pay Love

"Hyuuung" Teriak Junsu menghentikan langkah Jaejoong yang baru keluar dari kantin kampus. Jaejoong berbalik dengan wajah kesal.

"Wae?"

"Kan kita belum selesai bicara,Hyung" Junsu tetap berwajah tak bersalah meski telah membuat Jaejoong kesal. Di dalam tadi,saat mereka sedang menghabiskan makan siang Junsu bilang,kalau ibunya Jaejoong semalam menelepon menanyakan putranya itu.

"Aku hanya bertanya semalam kau kemana. Ahjumma terus meneleponku"

"Aku malas pulang kerumah. Semalam aku ke hotel bersama Jinwoon" Junsu memutar bola matanya.

"Sudahlah yang pasti kau harus pulang cepat. Ahjumma menunggumu" Kata Junsu lalu pergi dari hadapan Jaejoong. Sedang Jaejoong memakai kacamata hitamnya lalu mencibir "Merepotkan"

. . . . .

Sekretaris Shin menerima berkas yang baru saja di tandatangani Yunho.

"Apa Aboji sudah datang?" Tanya Yunho

"Sebelum masuk kesini,aku baru bertanya pada Sekretaris Han. Katanya Presdir belum datang" Yunho terdiam,lalu tersenyum pada sekretaris Shin.

"Baiklah. Kau boleh keluar" Seperginya sekretaris Shin,Yunho mengambil ponsel dari dalam saku.

"Halo" Yunho mengerutkan keningnya ketika sebuah suara yang bukan milik ayahnya terdengar di line sebrang.

"Jaejoong.." Seketika Yunho tak bersemangat. Jaejoong yang sedang bersantai di ruang keluarga rumahnya pun langsung membetulkan duduknya.

"Yunho..ah akhirnya" Seru Jaejoong senang. Yunho hampir menutup teleponya.

"Jangan di tutup,Yun" Kata Jaejoong dengan nada manja. Yunho kesal,padahal ia sudah sengaja mengganti nomer ponselnya.

"Dimana Aboji?" Tanya Yunho malas.

"Entahlah. Tadi pagi kami berpisah di depan hotel" Kata Jaejoong santai. Yunho mendengus.

"Jadi semalam kalian bersama?" Tanya Yunho dengan nada biasa,tapi tidak menurut Jaejoong.

"Ah,jadi kau cemburu?" Tanya Jaejoong riang.

"Aku tutup teleponnya sekarang" Yunho menjauhkan teleponnya hingga mendengar pekikan Jaejoong.

"JUNG YUNHO"

"Apa sih?"

"Kau belum membayar tubuhku malam itu" Yunho terkejut mendengar itu.

"Ma-maksudmu?" Tanya Yunho bergetar. Di seberang sana Jaejoong menyeringai.

"Kau pikir itu gratis? Ingat,aku masih kekasih ayahmu"

"Kau. Apa semua pria yang tidur denganmu harus membayar?" Yunho benar-benar tak habis pikir,ternyata Jaejoong seperti itu.

"Tidak juga. Aku hanya bercinta dengan pacar-pacarku," Katanya santai. "Tapi tidak pernah dengan anak pacarku sendiri"

"Lalu apa mau mu?"

"Temui aku di taman,besok jam 3 sore" Kata Jaejoong lalu menutup teleponya membuat Yunho menggeram kesal.

Jaejoong terkikik geli membayangkan wajah bingung Yunho tadi. Pasti sangat lucu.

"Hahaha,ternyata seru juga" Kekehnya.

"Apanya yang seru,Kim Jaejoong?" Tanya Haneul yang sudah berdiri di depan sofa tempat Jaejoong duduk.

"Ti-tidak Omoni" Haneul melipat tangannya di dada.

"Omoni mendengar banyak tentangmu dari Llee Ahjumma" Kata Haneul sambil berjalan ke arah sofa dan duduk di samping puteranya.

"Kau butuh penerus,Joongie" Jaejoong menoleh mendengar itu.

"Omoni kan tahu kalau aku-"

"Ne,tentu saja. Aku ibumu" Potong Haneul. Ia tidak pernah melarang Jaejoong dengan segala ketidak-normalan seksualnya itu. Ia lama tinggal di Perancis yang masyarakatnya berpikiran luas.

"Tapi kau harus tetap menikah dengan wanita 'kan?" Jaejoong terdiam. Ibunya benar,tapi Jaejoong membutuhkan kemewahan yang di tawarkan para lelaki.

"Omoni tak memaksa. Sifat kita sama,dan aku memahami perasaanmu" Setelah berkata itu,Haneul meninggalkan Jaejoong yang merenung.

. . . . .

Hyunjung menatap serius laptop di depannya. Di layar 14" itu terlihat jelas isi email yang sedang di bacanya. Ia memang tidak salah membawa Asisten pribadinya jauh-jauh dari London.

"Namanya Kim Jaejoong,anak seorang designer terkenal Seoul yang memiliki cabang butik di Prancis. Berusia 21 tahun,masih aktif sebagai Mahasiswa di Toho University semester 5 fakultas Design Interior" Itu isi email yang di kirim Edward.

"Nama ibunya Kim Haneul,41 tahun"

Setelah membaca baris terakhir dari email itu,Hyunjung tersentak. Ia masih mengingat jelas wajah dari pemilik nama itu,karena mereka pernah menghabiskan waktu bersama dalam beberapa tahun.

"Jadi...aku benar" Gumam Hyunjung pada dirinya sendiri.

Pertama kali melihat Jaejoong,ia tahu wajah pria itu sama seperti orang di masa lalunya. Walau mereka berjenis kelamin beda,tapi darah Haneul memang mengalir di anak itu.

Jari panjangnya menari di atas Keyboard mengetik sebuah nama di kotak pencarian.

"Kim Haneul"

Ada banyak wajah yang sama pada beberapa kolom. Wajah itu kembali mengingatkannya pada masa lalu.

'Hyunjung ah,lihat aku membuatkan bekal untukmu' Haneul menunjukan kotak bekalnya pada Hyunjung. Pria itu menatap datar pada tataan rapih dalam bekal itu.

Lalu berjalan tak mempedulikannya. Haneul mengerutkan kening,tapi hatinya langsung panas ketika dengan tersenyum,pria pujaan hatinya menerima bekal dari Minhwa,teman sekelas mereka.

Haneul mencengkram erat bagian bawah kotak bekalnya dengan pandangan marah. Lalu pergi dari sana untuk menghabiskan bekal yang di bawanya sendirian.

Hyunjung memejamkan matanya. Ia ingat betapa ia tak mempedulikan wanita itu setelah tahu kalau Haneul menyukainya.

Hyunjung menyimpan salah satu foto. Dalam foto itu,Haneul memakai riasan natural,rambutnya bergelung keatas dan ada sebuah bunga yang cukup besar berwarna pink terselip disana,sepertinya wanita itu ingin pergi ke pesta atau semacamnya.

'Aku akan pindah kuliah ke Paris'

Hyunjung menghubungi sahabatnya untuk memberitahu tentang semua yang ia tahu. Cukup lama ia menunggu sebelum suara merdu terdengar di telinganya.

"Halo.."

"Jaejoong?. Bukankah ini nomer Jinwoon?" Terdengar tawa kaku dari Jaejoong.

"Iya. Kami bertukar ponsel karena milikku rusak. Ia berjanji akan membelikan yang baru untukku"

Jelas Jaejoong sambil menggaruk lehernya. Padahal ia sengaja melempar ponselnya hingga rusak,agar ia mempunyai alasan untuk mengetahui nomer Yunho.

"Lalu,apa dia ada bersamamu?"

"Tidak. Aku ada di rumah. Hubungi saja nomer kantornya"

"Oh,baiklah," Kata Hyunjung. "Ah,apa kau ada waktu malam ini?"

Jaejoong mengerutkan keningnya. "Kenapa?"

"Tidak,aku hanya ingin berbincang denganmu. Tapi tak apa kalau kau sibuk"

"Apa hanya kita berdua atau dengan Jinwoon?" Tanya Jaejoong ragu. Tidak mungkin 'kan sahabat dari kekasihnya itu menyukainya.

"Terserah"

"Baiklah. Aku akan menghubungi Jinwoon"

Setelah telepon terputus,Jaejoong mengetuk ponsel Jinwoon ke dagunya berulang kali seraya berfikir. Ia tersenyum ketika ide cemerlang menghampiri otaknya.

Ponsel itu kembali mendarat di telinganya setelah menekan angka 1 dalam panggilan cepat. Menunggu cukup lama untuk mendapat jawaban.

Yunho baru saja keluar dari ruang rapat ketika ponselnya bergetar. Di lihatnya nomer sang ayah di sana.

"Halo"

"Yunho" Pekik Jaejoong senang. Yunho hanya memutar bola matanya,jengah.

Pria bertubuh tegap itu berjalan menuju lift bersama beberapa karyawan,masih dengan menelepon.

"Kenapa kau senang sekali meneleponku?" Tanya Yunho kesal. Terdengar suara tawa dari ponselnya.

"Karena aku ingin. Kenapa? Toh aku memang memerlukanmu" Kata jaejoong menantang. Yunho menghela nafas bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Langkah panjangnya bergerak ke arah ruangan yang berlabel "Manager's Room"

Yunho mendudukkan pantatnya pada kursi. "Apa kau ingin bicara dengan Aboji?"

"Tidak perlu. Kemarin,semalaman kami berbicara"

"Lalu?" Tanya Yunho mengerutkan kening.

"Sahabat ayahmu menelepon. Ia mengundang kita makan malam" Kata Jaejoong menjelaskan. Hal itu terdengar aneh di telinga Yunho.

"Kita? Kau dan aku?" Jaejoong menahan tawanya.

"Ne"

"Jam berapa?"

"Jemput aku jam 7 malam" Kata Jaejoong yang terdengar seperti perintah.

"Kau yakin hanya kita?"

"Iya,handsome. Kita berdua" Kata Jaejoong agak kesal. Yunho merinding mendengar sebutan itu.

"Baiklah. Terserah kau saja" Kata Yunho sebelum mengakhiri pembicaraan.

Jaejoong tersenyum penuh arti. Pria itu menyukai segala interaksi dengan Yunho. Sikap Yunho yang di buat seolah cuek dan dingin semakin membuat Jaejoong penasaran. Rasa menyenangkannya sama seperti ketika ia mendapat Lamborghini berharga 14 milyar dari Jinwoon.

. . . . . .

Yunho berhenti di depan rumah Jaejoong,biasanya pria manis itu sudah berdiri disana jika sudah janji dengannya. Tapi sekarang tidak ada tanda-tanda keberadaannya.

Dengan sangat malas,Yunho keluar dari mobilnya dan berniat membunyikan bel rumah mewah itu.

Beberapa kali ia menekan bel tapi tak ada tanda-tanda pintu di buka. Ketika berniat pergi,terdengar suara pintu terbuka di belakang Yunho.

"Siapa?" Tanya Haneul yang membuka pintu. Yunho terdiam di tempat,ketika melihat wajah wanita yang sudah melahirkan Jaejoong itu.

"Halo" Karena tidak ada respon,Haneul pun menggerakkan tangannya di depan wajah Yunho,hingga Yunho tersentak.

"Ah,mianhae" Kata Yunho agak canggung. "Apa Jaejoong ada di rumah?"

Haneul mengangkat sebelah alisnya,melihat Yunho dari atas kebawah. Sepertinya pria itu tak asing di matanya.

"Siapa kau?" Tanya Haneul sedikit dingin,membuat Yunho gugup.

"A-aku.."

"Yunho!" Teriak Jaejoong dari arah tangga. Haneul dan Yunho melihat kearahnya.

"Mian membuatmu menunggu" Kata Jaejoong dengan riang. Yunho memberi pandangan gugup pada Haneul.

"Apa dia kekasihmu,Joongie?" Tanya Haneul dengan pandangan menyelidik. Jaejoong mengerucutkan bibirnya.

"Jangan sebut nama kecilku,Omoni"

Yunho terbelalak. Pantas saja wajah wanita di depannya tidak asing,ternyata dia memang ibu Jaejoong.

"Ayo,Yun. Kita pergi sekarang" Ajak Jaejoong sambil menarik tangan Yunho. Sebelum pergi,Yunho sempat melemparkan senyuman canggung pada Haneul.

.

.

.

"Wanita tadi ibumu,Jae?" Tanya Yunho yang di jawab gumaman dari Jaejoong. Pria itu sibuk dengan ponselnya.

"Masih cantik" Kata Yunho membuat Jaejoong menoleh dan memasang wajah kesal.

"Jangan memuji orang lain di depanku!" Seru Jaejoong dengan tegas.

"Hah?" Yunho bertanya seperti orang bodoh.

"Lupakan!" Pekik Jaejoong,kembali sibuk dengan ponselnya. Yunho masih bingung dengan ucapan Jaejoong yang tadi.

"Kau bilang apa pada Aboji tentang makan malam ini?" Tanya Yunho melirik sekilas pada Jaejoong yang asik tersenyum-senyum.

"Ya mengatakan apa adanya," Katanya. "Dengan sedikit bualan tentunya. Hahaha"

Yunho memutar bola matanya jengah.

"Pantas saja Aboji bilang 'sepertinya kalian mulai dekat' sebelum aku pergi"

"Aku hanya bilang kau memaksa pergi denganku,karena ingin menjagaku"

"Hah? Bualan macam apa itu? Memalukan" Yunho kesal dengan Jaejoong yang malah tertawa geli.

"Aku terlalu mahal untuk di biarkan pergi sendiri,Yunho"

"Mahal? Ha ha ha" Tawa Yunho hambar,membuat Jaejoong kesal.

"Katakan padaku,pernah tidak kau tidur dengan pria sepertiku? Kau itu beruntung,Yun. Ayahmu saja aku pintai bayaran untuk tubuhku"

"Apa kau tidak malu bicara seperti itu? Kau tampak seperti pria murahan.." Yunho terkejut dengan ucapannya sendiri. Di lihatnya wajah Jaejoong yang datar.

"Memang. Aku memang seperti itu. Tidak ada yang salah. Semua pria mengatakan itu padaku" Kata Jaejoong bernada biasa. Banyak yang menganggapnya begitu tapi entah kenapa terasa beda saat Yunho yang mengucapkannya.

Yunho merasa bersalah dengan ucapannya. Jaejoong berubah muram dan melemparkan pandangannya keluar mobil.

. . . . .

"Apa makanannya enak?" Tanya Hyunjung setelah mereka bertiga menghabiskan makan malam. Yunho mengelap ujung bibirnya dengan napkin,sedang Jaejoong meminum air putihnya.

"Enak,Ahjussi" Kata Yunho sambil tersenyum.

"Jaejoong,bagaimana kabar ibumu?" Tanya Hyunjung membuat Jaejoong melihat padanya.

"Dia..baik" Kata Jaejoong seperti berbisik.

Hyunjung tersenyum. "Aku ini teman SMA dan kuliahnya" Katanya.

"Berarti dengan Aboji juga?" Tanya Yunho. Jaejoong hanya diam,memperhatikan Hyunjung yang terlibat pembicaraan dengan Yunho.

"Dari mana anda tahu,ibuku teman anda?" Tanya Jaejoong sambil memandang lekat. Hyunjung tersenyum.

"Mudah saja. Wajah kalian mirip. Aku kira kau akan mirip ayahmu"

"Apa kau mengenal ayahku?" Tanya Jaejoong dengan wajah penasaran. Hyunjung terdiam.

"Siapa dia?"

Plak!

'Hentikan pertanyaan bodoh itu,Jaejoong!' Bentak Haneul pada Jaejoong yang masih berusia 12 tahun. Jaejoong memegangi pipinya yang berdenyut sakit.

'Tapi aku ingin tahu siapa ayahku,Umma. Hiks'

'AYAH MU SUDAH MATI,JAEJOONG. MATI!'

"Tentu saja" Kata Hyunjung membuat Jaejoong kembali ke masa ini. Wajahnya seolah bertanya 'apa?'

"Nu..nuguya?" Jaejoong bergetar gugup. Yunho melihat ada ketakutan dan keingintahuan yg bertautan. Hyunjung terdiam.

"-Tapi aku tak berhak memberitahumu,karena akupun tak yakin"

"Maksudmu?"

"Jaejoong. Aku belum bisa memastikan apa benar orang itu ayahmu atau bukan. Bagaimana kalau aku salah?" Jelas Hyunjung. Jaejoong menggelengkan kepalanya.

"Aku benar" Kata Jaejoong sambil menunduk. "Selama ini dugaanku benar,aku memang anak yang tidak di inginkan"

"Jaejoong.."

"A-aku lahir tanpa mempunyai ayah yang pasti,karena ibuku tidur dengan banyak pria. IYA 'KAN?!" Bentak Jaejoong kemudian. Yunho baru kali ini melihat Jaejoong menangis meski dengan wajah datar. Pria manis itu berlari keluar rumah menulikan pendengarannya saat Yunho berteriak memanggilnya.

.

.

.

Jaejoong berjalan cukup jauh dari rumah Hyunjung. Airmata mengalir di wajah datarnya. Malam ini begitu dingin. Udara menerpa sweater V-neck miliknya.

'Kau seperti pria murahan..' Kata-kata Yunho itu terdengar jelas di telinganya. Ia tidak berhak marah. Semua memang benar. Ia hanya pria yang mau tidur dengan siapapun. Hanya demi uang. Mungkin sifat itu yang menurun dari ibunya.

"Jae.." Jaejoong tak menoleh atau menghentikan langkahnya meski Yunho terus memanggilnya dari dalam mobil. Mobil Yunho berjalan perlahan di samping Jaejoong.

"Ini sudah malam. Ayo kita pulang" Tak ada jawaban dari Jaejoong. Yunho menghela nafas.

"Ayolah,Jae. Aboji bisa membunuhku kalau kau seperti ini" Kata Yunho pasrah. Jaejoong menghentikan langkahnya. Yunho tersenyum.

"Masuklah.." Jaejoong pun masuk kedalam mobil. Saat Yunho hendak menjalankan mobil,pria manis di sampingnya menubrukkan bibir pada bibir tebalnya.

"hmpph..jaemmph" Jaejoong melumat bibir Yunho kasar membuat pria itu sulit bernafas. Kalau ia tidak mendorong Jaejoong menjauh,ia pasti mati.

"Hh hh apa-apaan kau? Hahh hah"

Jaejoong tak menjawab tapi malah menempelkan kepalanya pada dada Yunho. Yunho terkejut melihatnya. Jaejoong mencengkram kemeja Yunho bagian dada.

"Peluk aku,Yunho" Yunho diam meski tetap memeluk Jaejoong.

Jaejoong mempererat pelukannya. Ia suka dengan bau tubuh Yunho.

Yunho dapat mencium wangi shampo yang Jaejoong pakai,menyeruak dari sela helai rambutnya. Untuk beberapa saat mereka terdiam seperti itu.

"Sejak lahir Omoni sering meninggalkanku di rumah bersama pengasuh. Ia pergi dan tinggal di Paris untuk waktu yang lama. Meski begitu hidupku tidak pernah sulit. Ia mengirimkan banyak uang dan mainan yang aku sukai" Kata Jaejoong mengingat masa lalunya.

"Aku pernah bilang padanya,jika ada Aboji..Omoni pasti akan menemaniku selalu karena Aboji yang akan mencari uang. Tapi tiap aku berkata itu,Omoni akan membentakku dan meminta agar aku tidak pernah berkata itu.

Kau tahu kenapa aku menyukai pria?" Jaejoong mendongak melihat Yunho. Yunho menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan.

"Aku tidak pernah mencium wangi pria yang khas. Aku tidak pernah mendapat perhatian seorang pria,dan aku tak pernah merasakan di beri kemewahan oleh pria,jika aku menyukai wanita"

"Aku butuh sosok pria yang menginginkanku,walau itu hanya tubuhku" Jaejoong tersenyum. Ia pun menegakkan tubuhnya,melihat pada Yunho sambil tersenyum.

"Aku menemukan semua itu dalam diri ayahmu,Yunho" Yunho tersentak.

"Aku rasa,impianmu agar aku tidak bersamanya tak akan terwujud" Kata Jaejoong menyeringai. Yunho memasang wajah cemas. Terkejut ketika jari Jaejoong menelusuri rahangnya.

"Tapi aku bisa memikirkannya lagi jika kau bisa memuaskanku...di ranjang"

. . . . . .

Yunho bangun dari tidurnya karena haus. Dengan mata yang setengah terbuka ia mengulurkan tangan ke samping nakas untuk mengambil gelas. Setelah minum beberapa teguk,hausnya pun hilang. Ia terkejut ketika sebuah tangan memeluk pinggangnya. Di sebelahnya,terbaring seorang pria yang semalam bermain buas bersamanya.

Selimut tak menutupi seluruh tubuh Jaejoong yang tengkurap hingga yunho bisa melihat dengan jelas punggung telanjang Jaejoong yang di penuhi bercak merah hasil karyanya.

Saat memakai gaya menungging,ia tak henti menciumi punggung Jaejoong ketika rasa nikmat mendera tubuhnya,dan terciptalah tanda itu.

Wajah Yunho memanas. Ini kedua kalinya ia mengkhianati Sang ayah. Oh,Yunho merasa menjadi anak yang durhaka.

"Eungh" Keluh Jaejoong dalam tidurnya. Yunho tak bisa memungkiri kalau tubuh Jaejoong membuatnya nikmat berkali-kali. Dan gaya bercinta pria itu sangat hebat untuk Yunho yang tidak berpengalaman dalam urusan itu. Contohnya malam tadi,pria itu tak mengeluh lelah ketika Yunho terus membrondongnya dengan gerakan keluar masuk yang sungguh cepat.

'Oh Shit!' Tubuh bagian bawah Yunho kembali membesar hanya dengan membayangkan kegiatan tadi.

"Awas kau,Kim Jaejoong" Kata Yunho geram. Jaejoong tersenyum dalam tidurnya.

.

.

.

TBC

Yunjae NC lagi ^^ yunho uda mulai kecanduan jae nih~. Gimana seru gak chapter kali ini? Aku mau tanya,apa karakter jae aku buat nakal banget atau nakal aja? Karena aku bakal buat cerita yang bikin kalian nyaman bacanya.

Aku gak balas review kali ini karena ini darurat banget,jadi mian kalau ada typo ya ^^

Kasih aku review yang manis ya ^^