You know I love you
Genre: Drama,romance
Rating: Nc 17
Cast: Jung yunho,Kim jaejoong,Jung jinwoon,Kim haneul,Han hyunjung
WARNING: chapter ini terdapat tulisan yang tidak pantas di baca oleh anak di bawah umur. Jika umur kalian belum mencukupi atau kalian belum siap membaca,silahkan meninggalkan halaman ini atau tidak membaca pada part ini.
Jika kalian suka silahkan di baca ^_^
.
.
.
Chapter 5: The memories
Yunho mengusap wajah lelahnya sambil memasuki rumah,ia pulang agak siang karena setelah bangun tadi ia kembali bercinta dengan Jaejoong. Sepertinya ia tergila-gila dengan pria cantik itu.
"Dari mana,Jung Yunho?" Suara itu menginterupsi langkah Yunho menuju kamar. Ia berbalik dan mendapati ayahnya sedang duduk di ruang televisi.
"Aboji"
Jinwoon meletakkan koran yang ia baca ke atas meja,lalu berjalan menghampiri putranya.
Yunho melihat pada lantai di depannya,tak tahu harus bilang apa.
"Semalam Hyunjung meneleponku dan mengatakan kesalahpahaman yang terjadi di sana"
"Jaejoong pergi dan kau mengejarnya,tapi kenapa aku menghubungi ponsel kalian tidak ada yang aktif? Aku mengkhawatirkan kalian"
"Mi-mianhae,a..aku" Yunho gugup sekali. "Jaejoong menangis semalam dan aku menenangkannya juga mendengarkan ceritanya..ja-jadi"
"Kalian menghabiskan waktu bersama?" Tanya Jinwoon sambil mendelik. Yunho mendehem untuk menghilangkan kegugupannya. Ia tidak membayangkan bahwa dalam aplikasinya sangat berbeda dari teorinya.
"Begitulah" Kata Yunho perlahan, "Ta-tapi tidak seperti yang Aboji pikirkan" Lanjutnya cepat.
Jinwoon tertawa ringan lalu menepuk punggung anaknya. "Kau tegang sekali,nak. Aku hanya bertanya"
Yunho mendesah lega sambil memegang dadanya. "Oh Aboji,aku takut sekali"
"Kau tak perlu begitu,aku paham..usia kalian sama dan kalian teman baik jadi hal itu wajar" Kata Jinwoon menjelaskan.
"Lagi pula aku tahu kau punya seseorang disana" Yunho mendelik,merasa bingung dengan perkataan ayahnya. Tanpa menjawab kebingungan Yunho,Jinwoon pergi kearah ruang kerjanya.
...
Haneul berjalan di rak khusus makanan ringan,wajahnya terlihat serius membaca nama-nama makanan itu. Tiap memilih makanan untuknya dan Jaejoong,terlebih dahulu ia melihat komposisinya,mereka tidak biasa memakan makanan berlemak dan tidak bergizi.
Saat menemukan makanan yang cocok untuknya,sebuah tangan lain berada diatas tangannya.
"Oh sorry.." Pemilik tangan itu bersuara dan menarik tangannya. Haneul tetap melihat kearah depan antara terkejut dan tak percaya. Ia mengenal suara itu,suara yang dulu sangat ia sukai.
"Hyun.." Haneul bicara tanpa mengubah posisinya,orang yang ia panggil tadi menegang di tempat. Seperti gerakan dalam adegan film,Haneul menoleh datar kearah orang di sampingnya.
Hyunjung merasakan rak-rak di sekitarnya jatuh karena getaran hebat,ia mundur beberapa langkah menatap mata Haneul yang teduh. Sedang Haneul berdiri dengan angkuh lalu mengalihkan pandangannya,berniat pergi dari supermarket yang baru ia masuki 10 menit lalu.
"Tunggu!" Suara Hyunjung menghentikan langkah Haneul.
"Haneul-ah" Sudah lama Hyunjung tak memanggil nama itu.
"Anggap kau tak mengenalku" Kata Haneul dingin lalu berniat pergi lagi.
"Jaejoong..."
Nama itu kembali menghentikan langkah Haneul,wanita berusia 40-an itu menautkan alisnya lalu berbalik.
"Kau.."
"Jaejoong itu anakmu 'kan?" Hyunjung mengabaikan ekspresi bingung wanita didepannya. Haneul terdiam meski tatapannya masih terlihat bingung.
"Berarti dia..." Hyunjung menghentikan ucapannya,ia tahu Haneul bisa menebak apa yang ia maksud. Haneul menggeleng tegas.
"Tidak"
"Dia anakku...hanya aku" Lanjut Haneul menegaskan. Tanpa menunda lagi ia berlari dari hadapan Hyunjung yang langsung mengejarnya.
Di luar supermarket,Hyunjung berhasil menangkap tangan Haneul.
"Please,jangan begini" Hyunjung menahan Haneul yang tak henti memberontak.
"Lepaskan aku,brengsek!" Haneul menghentakkan tangan Hyunjung hingga terlepas dari pergelangan tangannya.
Plak...
"Aku membencimu!" Kata Haneul tajam. Hyunjung diam,menatap mata Haneul yang mengkilat marah.
"Memang,aku memang brengsek,bahkan setelah berlalu 20 tahun aku tetap brengsek"
"Tapi apa kau tahu selama ini aku hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah? Aku menyesal Haneul,percayalah" Kata Hyunjung dengan lembut. Haneul menunduk,matanya mengembun. Ia benci ini,benci saat dirinya menjadi lemah.
Bahkan ketika pria didepannya memeluknya,ia tetap diam menunduk. Airmata jatuh di ujung sepatu mahalnya.
Hyunjung,pria yang dulu sangat dicintainya,yang ia pertahankan lebih dari apapun,pria yang membuat ia memiliki Jaejoong dan satu-satunya pria yg membuatnya lemah.
"Aku tahu kau ibunya setelah aku melihat wajahmu di wajahnya,ia mirip denganmu" Haneul masih tetap diam,menangis tanpa suara. Membiarkan pikirannya melayang ke 20 tahun yang lalu.
'..Aku tidak bohong hyun ah,ini anakmu'
'Kau! Aku tahu wanita seperti apa kau ini. Hentikan omong kosongmu. Minggu depan kami akan menikah,jadi enyahlah dari hidupku'
Kata-kata itu sudah menjelaskan semuanya,bahwa ia tidak di inginkan,kehadirannya tidak di harapkan terlebih oleh orang yang telah memberi kehidupan didalam perutnya.
.
.
.
"Waktu aku kerumahmu,kata pelayan di sana kau pergi ke Prancis untuk sekolah mode disana" Dari tadi Hyunjung terus berbicara,sedang Haneul sibuk mengaduk-aduk jus jeruk-nya.
"Apa Minhwa juga ikut bersamamu?" Tanya Haneul tanpa melihat pada Hyunjung. Hyunjung terdiam.
"Maksudmu saat aku ke London?"
"Bukan,saat kau kesini"
"Tidak"
"Kenapa? Bukankah kalian suami-istri?" Tanya Haneul gusar.
Hyunjung tersenyum lalu menggeleng. "Kalaupun iya,mungkin anak kami sudah sebesar Jaejoong"
Haneul mengerutkan keningnya,bukankah 1 hari setelah kepergiannya ke prancis hyunjung dan minhwa menikah?
"Minhwa mengidap kanker darah"
Haneul terkejut bukan main.
"Ma-maksudmu?"
"Saat kami berdiri di depan Pastur,ia terjatuh di depanku,spontan aku menangkapnya. Dari hidungnya mengalir darah segar,semua orang yang datang histeris melihatnya. Aku begitu shock dengan kejadian yang begitu cepat,setelah tersadar dengan situasi yang terjadi,aku sudah berada di dalam Ambulans,menggenggam tangan dingin Minhwa yang pucat"
"Semua itu terjadi bagai mimpi dan begitu cepat"
Hyunjung menatap Haneul yang tampak shock,tatapan matanya melemah. Ia menebak ada rasa menyesal dalam sorotan matanya. Hyunjung memegang tangan Haneul di atas meja.
"Aku pindah ke London karena ingin menghapus kenangan tentang Minhwa dan juga kau"
"Hyun...aku"
"Aku tahu,semua sudah berlangsung lama dan kita bisa memulainya dari awal" Kata Hyunjung,ia dan Haneul saling berpandangan.
"Ceritakan padaku,dimana kau mengenal Jaejoong"
.
.
.
"KIM JAEJOONG! DIMANA KAU?"
Jaejoong terperanjat dari tidurnya ketika mendengar teriakan Haneul,belum sempat ia menyahut,Haneul sudah berdiri di ambang pintu kamarnya lalu berjalan mendekatinya.
Plak!
"O-omoni.." Jaejoong memegang pipinya yang baru di tampar. Wajah Haneul mengeras,menatap marah kearah anaknya.
"Apa yg Omoni lakukan?!"
"Seharusnya aku yang bertanya padamu,sejak kapan kau berhubungan dengan Jinwoon?" Jaejoong menghela nafas. Merasa tak peduli dengan kemarahan Haneul. Ia kembali berbaring dan menutup matanya,melihat itu membuat Haneul semakin geram.
"Bukankah Omoni tahu aku gay" Kata Jaejoong dengan santai,matanya masih tertutup.
"Iya,tapi tidak dengan Jinwoon"
"Kenapa? Kami saling mencintai" Kata Jaejoong tak mau kalah,ia kini sudah duduk kembali.
"Demi Tuhan,Jae. Dia seumuran ayahmu" Haneul memegang dahinya frustasi.
"Lalu kenapa?" Haneul semakin stress ketika melihat wajah biasa putranya.
"Oh God"
...
Jinwoon dan Yunho menghabiskan waktu senja mereka di halaman belakang rumah keluarga Jung. Jinwoon menyerumput teh hijaunya sambil memejamkan mata,sedang Yunho sibuk melihat majalah otomotif di tangannya.
Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing hingga sebuah suara datang mengintrupsi.
"Baby~" Jaejoong berjalan cepat kearah ayah dan anak itu,lalu memeluk Jinwoon dari belakang seperti anak kucing.
Jinwoon tersenyum sambil mengusap lengan Jaejoong yang melingkar di lehernya lalu menoleh,Jaejoong mengecup bibir Jinwoon yang menyamping lalu mereka berdua tertawa,melupakan mahluk tak berdosa di sekitar mereka.
"Ehem..aku disini" Gumam Yunho sambil mengelus rambutnya. Jaejoong menegakkan tubuhnya lalu berjalan kearah Yunho dan duduk di bangku kosong sampingnya.
"Wajahmu cerah sore ini,Yunho" Kata Jaejoong basa-basi,dengan lirikan menggoda yang tersembunyi. Yunho tahu itu,meski Jinwoon tak menyadarinya.
Setelahnya Yunho hanya menahan diri pura-pura tak peduli dengan dua orang yang asik bersenda gurau,walaupun sesekali ia melirik Jaejoong yang dari tadi tersenyum.
"Kau tahu,baby. Omoni itu cerewet sekali" Kata Jaejoong pada Jinwoon dengan ekspresi yang kesal.
"Dia sudah tahu hubungan kita"
Mwo?
Yunho hampir tersedak minumannya ketika mendengar itu. Wajah Jinwoon juga menunjukkan keterkejutan meski dengar arti yang berbeda.
"Lalu,Omoni meminta aku membawamu kerumah" Lanjutnya. Yunho tetap diam sambil memandang ayahnya yang merenung.
"Baby.."
Drrt...drrt
Ponsel Jinwoon diatas meja bergetar,di layar yang berkedip terdapat nama Hyunjung.
"Yoboseyo"
"Jinwoon ah,akhirnya aku tahu..aku akan menebus kesalahanku"
Jinwoon melihat pada Jaejoong yang juga melihat kearahnya.
"Oh,syukurlah. Eum,nanti aku akan meneleponmu. Baiklah"
Jinwoon memutuskan sambungan telepon antar keduanya lalu menghela nafas. Ada satu hal yang Hyunjung lupa,yaitu Jaejoong. Bagaimana reaksi Jaejoong ketika tahu bahwa..
"Aboji,wae?" Yunho bertanya lebih dulu.
"Jaejoong" Jinwoon menatap Jaejoong dengan serius.
"Kau ingin tahu siapa ayahmu?" Jaejoong mengernyitkan alisnya mendengar itu.
.
.
.
"Omoni! Omoni oddiseyo?" Teriak Jaejoong tak sabaran. Haneul berjalan santai dari arah dapur,membawa toples makanan ringan.
"Kata Woonie..eum maksudku Jinwoon,aku harus bertanya padamu tentang ayahku" Haneul tersentak.
"a-aku.."
"Katakan Omoni! Aku berhak tahu" Paksa Jaejoong.
Haneul terdiam,haruskah ia menjawab sekarang? Dulu ia tak pernah menjawab karena kecewa dengan Hyunjung tapi sekarang perasaan itu sudah berkurang.
"Ke-kenapa kau.."
"JAWAB OMONI!" Jaejoong berteriak pada Haneul.
"Orang itu aku"
Kedua orang itu menoleh ke sumber suara. Hyunjung berdiri di depan pintu sambil tersenyum,berjalan maju kearah Jaejoong yang tampak bingung.
"Aku ayahmu,Jaejoong" Kata Hyunjung lagi. Jaejoong hanya terperangah dan tak percaya. Benarkah orang yang sedang tersenyum di depan adalah ayahnya?
"A-ahjussi.." Jaejoong menatap ibunya yang memberi isyarat melalui anggukan.
Tak percaya dengan semua itu,Jaejoong menggelengkan kepalanya. Ia merasa sangat asing dengan Hyunjung dan lagi pria yang mengaku sebagai ayahnya itu adalah teman dari kekasihnya. Itu berarti mereka saling kenal.
"Dia ayahmu,Joongie. Orang yang membuatmu ada di dunia ini"
"Apa kalian menikah?" Tanya Jaejoong tiba-tiba,dan mendapat gelengan yang sama dari keduanya.
Jaejoong mendengus, "Jadi aku anak haram? Atau jangan-jangan Omoni menjadi selingkuhannya,lalu hamil dan melahirkanku?" Katanya dengan ekspresi mengejek.
PLAK!
Haneul menampar Jaejoong dengan cukup keras,lalu menatap anaknya dengan pandangan marah, "Jaga ucapanmu! Kau bicara dengan ibumu"
Jaejoong hanya menyeringai,atau itu tanda dari rasa kecewanya,dibohongi dan di khianati.
"Aku benar kan? Makanya aku tak jauh beda darimu" Jaejoong tetap berbicara santai,mengabaikan Haneul yang siap melayangkan tamparannya lagi tapi segera di tahan oleh Hyunjung.
"Hentikan!" Kedua orang berwajah mirip itu menoleh kearah suara. Hyunjung memasang wajah serius,lalu mendekati Jaejoong yang tak mau menatapnya lama.
"Jaejoong," Ia melembutkan suaranya,menghadapkan tubuh Jaejoong kearahnya lalu memegang kedua bahu pria manis itu. "Aku tahu kau marah,tapi dengarkan dulu penjelasan kami"
Jaejoong membuang wajahnya,tak mau memandang kearah orang yang dikenalnya itu.
"Kalian menipuku" Kata Jaejoong masih tak mau menatap Hyunjung. "Kau..." Jaejoong mengalihkan pandangannya pada wajah Hyunjung.
"Katamu kau tak yakin siapa ayahku,tapi ternyata itu kau sendiri" Hyunjung melihat kalau Jaejoong sedang merajuk sekarang. Ekspresi wajahnya memang menunjukkan kalau ia marah tapi dari nada suaranya,tak terdengar seperti itu.
"Aku tidak berbohong,Jaejoong. Aku memang tidak tahu,atau tidak yakin. Pertama kali melihatmu,aku memang sudah merasa kita punya hubungan darah,tapi aku tak mau mengulangi kesalahanku karena telah salah memilih" Kata Hyunjung menjelaskan. Jaejoong menatap mata orang yang mengaku sebagai ayahnya itu,mereka saling berpandangan tapi beberapa detik kemudian mata Jaejoong berair.
"Aku benci kalian" Kata Jaejoong dengan nada dingin. Airmata mengalir dari kedua mata indahnya tapi ekspresi yang ia tunjukan sangat berbeda jauh.
"Kalian membuat aku menunggu" Setelah berkata itu Jaejoong menepis tangan Hyunjung dari bahunya lalu berlari meninggalkan rumah itu tanpa mempedulikan teriakan Haneul yang memanggil namanya.
.
.
.
Yunho sedang bersantai sambil membaca majalah yang baru di belinya,di temani dengan cemilan yang pembantunya beli di Supermarket,juga dengan segelas coklat hangat yang cocok diminum di musim dingin ini. Tapi kesenangannya di ganggu oleh bunyi bel yang di bunyikan terus menerus. Saat ini pelayan di rumahnya sedang sibuk sedangkan ayahnya pergi main golf bersama rekan bisnisnya.
"Jaejoong!" Yunho terdorong kebelakang karena pelukan tiba-tiba dari Jaejoong. Pria manis itu tidak mengatakan apa-apa dan hanya memeluk tubuhnya dengan erat membuatnya sedikit sesak nafas.
"He-hei..."
"Yunho. Ayo kita ke hotel" Yunho terbelalak mendengar ajakan Jaejoong itu. Ia berusaha melepaskan pelukan Jaejoong yang sangat erat tapi tidak bisa,Jaejoong membiarkan tubuh mereka saling menempel.
"Apa-apaan kau? Lepas" Yunho menghentak dengan keras membuat pelukan itu berhasil terlepas. Yunho menatap kesal kearah Jaejoong yang sekarang memasang wajah polos.
"Ayolah~" Jaejoong merajuk sekarang,memegang lengan kekar Yunho lalu menggoyangkannya.
"Atau kau mau kita melakukannya di sini?" Ancam Jaejoong dan mendapat teriakan protes dari Yunho.
"Kau ingin Aboji membunuhku?"
Jaejoong mendekatkan wajah mereka hingga hidung mereka saling menempel,lalu membisikkan kata-kata yang membuat Yunho terperangah.
'I miss your cock so badly'
.
.
.
Jaejoong terdesak diantara tembok kamar mandi yang lembab karena air hangat terus mengalir dari shower yang ada tepat diatasnya. Kedua matanya terpejam dan bibirnya terbuka seiring dengan desahan halus yang keluar dari sana. Yunho memasukkan lidahnya kedalam lubang telinga Jaejoong yang merupakan bagian sensitif dari pria manis itu. Satu jari kanannya bergerak cukup sulit diantara belahan bokong Jaejoong,membuka celah yang akan dimasuki oleh batang kemaluannya. Jaejoong terus membisikkan kata-kata kotor untuk mengekspresikan kenikmatannya.
Mereka saat ini sedang berada di dalam kamar mandi hotel. Atas permintaan Jaejoong tadi akhirnya mereka memilih sebuah hotel yang cukup mewah. Tampaknya mereka akan lebih sering memilih tempat untuk bercinta.
Yunho tahu ini salah,tapi sebagai pria dewasa ia menginginkan ini,apalagi saat ada seseorang yang dengan suka relanya menawarkan sebuah kenikmatan meski seseorang itu adalah kekasih ayahnya sendiri.
Jaejoong menungging di depan closet dengan wajah yang menoleh kebelakang,menikmati wajah penuh nikmat yang di tunjukkan oleh Yunho. Sekarang pria itu sedang menggoyangkan tubuhnya sehingga batang kemaluannya masuk agak tersendat kedalam lubang kenikmatan Jaejoong.
"Oohh Yunhooo akhh" Jaejoong mengerang,merasakan lubangnya terisi penuh dengan nikmat membuat kepalanya pusing. Yunho mengusap perlahan punggung jaejoong yang di penuhi tato bergambar panah itu untuk memberitahukan kalau ia mendapat kenikmatan dari tubuh orang yang ada didepannya ini.
"Akh shit! Aku keluaaarrr" Yunho menggerang keras di iringi dengan getaran-getaran pinggangnya.
.
.
.
.
Jinwoon baru saja selesai bermain golf bersama rekan bisnisnya. Ia tidak mendapati Yunho dimana pun padahal ia ingin menceritakan kegiatannya tadi. Jinwoon sudah bertanya pada pelayan dirumahnya dan mengatakan kalau Yunho pergi bersama dengan Jaejoong beberapa jam yang lalu. Jinwoon hanya merasa aneh,biasanya jika akan pergi dengan Jaejoong,Yunho pamit padanya tapi sekarang terkesan mendadak. Ia tidak mempermasalahkan itu sebenarnya tapi tetap saja ia merasa aneh.
Tanpa membuang waktu lagi,Jinwoon mencoba menghubungi Yunho tapi ponsel anaknya tidak dalam keadaan aktif,maka ia mencoba untuk menghubungi Jaejoong.
Lama ia menunggu hingga suara serak Jaejoong terdengar.
"Baby, kau ada dimana?" Tanya Jinwoon pada kekasihnya. Jaejoong terdiam sebentar lalu tertawa.
"Aku ada di kamar. Kenapa? Kau merindukanku?" Tanya Jaejoong sewajar mungkin. Jinwoon tersenyum.
"Ani,apa Yunho ada bersamamu?"
"Menurutmu? Apa kau berfikir aku bersamanya di kamar? Tadi aku memang bersama dengannya tapi kami hanya mengobrol sebentar di cafe,karena aku membuatnya kesal jadi dia pergi meninggalkanku,bahkan aku yang membayar semua minuman kami" Jaejoong berbicara dengan nada kesal.
"Ah tidak. Mungkin dia pergi bertemu dengan temannya yang lain,atau mungkin ia sedang dalam perjalanan kembali ke rumah. Nanti kalau Yunho menghubungimu bilang padanya kalau aku mencarinya. Bye" Jinwoon menutup teleponnya lalu tersenyum. Ia sudah khawatir tadi. Mungkin Yunho butuh waktu lain di luar rumah. Ia pun bergegas pergi ke kamarnya.
Di tempat lain,Jaejoong mengembalikan ponsel miliknya keatas nakas lalu kembali mempererat pelukannya pada tubuh telanjang Yunho.
"Selain menyebalkan kau juga sangat pintar berbohong" Kata Yunho yang asik meminum wine yang ia pesan setelah datang ke hotel ini. Jaejoong tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Dan aku bisa di andalkan. Hahaha" Jaejoong lalu mengecup perut Yunho yang ada didepan wajahnya.
"Kalau Aboji tahu,dia pasti akan membunuhku" Kata Yunho sambil meletakkan gelas wine keatas nakas. Ia menarik rambut Jaejoong keatas dengan lembut membuat wajah pria manis itu mendongkak. Mata mereka saling berpandangan.
"Jadi katakan padaku apa masalahmu?" Tanya Yunho lalu mengecup hidung Jaejoong. Jaejoong mengerjap polos.
"Kenapa kau berfikiran seperti itu?"
"Karena wajahmu tadi menunjukkan keputusasaan"
"Kau hanya menebak. Aku tidak seperti itu" Jaejoong bangun dari tidurnya lalu mengambil rokok yang ada di atas tempat tidur. Ia membakar satu rokok lalu menghisapnya.
"Ceritakan saja padaku,Jae" Yunho menyandarkan kepalanya pada punggung telanjang Jaejoong.
"Janji kau tidak akan mengatakan ini pada siapapun?" Kata Jaejoong menoleh pada Yunho lalu membisikkan sesuatu.
"Shit!" Yunho membanting tubuh Jaejoong keatas ranjang lalu membuang rokok yang di pegang oleh Jaejoong setelah mematikannya terlebih dahulu. Ia memenjarakan tubuh mulus Jaejoong di bawahnya.
"Aku membencimu,Jae. Karena kau membuatku candu" Kata Yunho sebelum mencium Jaejoong dengan brutal.
'Aku sedang ingin merasakanmu di dalam tubuhku,lagi,lagi dan lagi'
TBC
Aku harap ini gak berlebihan yah, sifat jj dari awal emang udah begitu. Aku tahu karakter ini bukan dia banget tapi liat foto-foto naked dia belakang ini bikin aku berfantasi untuk ff ini. Yah pokoknya gitu deh :D
Mohon review-nya ya ^^
