You know I love you

Genre: Drama,Romance

Rating: NC 17

Cast: Jung Yunho,Kim Jaejoong,Jung Jinwoon

Chapter 7: Run to you

Haneul mondar-mandir menyiapkan sarapan untuknya dan juga Jaejoong,tak lupa sebuah senandung keluar dari bibir kecilnya. Jaejoong sudah duduk di kursi makannya sambil mengorek telinga kanannya dengan jari kelingking. Merasa geli atas nyanyian suka cita yang terus di perdengarkan oleh ibunya.

"Omoni" Panggil jaejoong. Haneul bergumam.

"Apa kau baru melihat bunga bermekaran?" Lanjut Jaejoong. Haneul berhenti mengoleskan mentega pada pancake buatannya,mendelik pada Jaejoong yang asik memainkan ponsel.

"Maksudmu?"

"Ya,aku melihat ibuku sangat cantik hari ini" Haneul melihat penampilannya,tertawa melihat lolita yang ia pakai.

"Apa Omoni sudah tertalu tua untuk memakai ini?" Tanya Haneul masih terus tertawa kecil.

"Tidak sih. Tapi Omoni terlihat membohongi umur sendiri" Kata Jaejoong santai sambil memakan buah apelnya. Haneul tersenyum. Diam-diam Jaejoong melirik ibunya yang kembali asik dengan masakannya. Ia tidak pernah melihat ibunya sebahagia itu,tersenyum sepanjang waktu dan Jaejoong tahu semua itu terjadi sejak kedatangan Hyunjung yang merupakan ayah kandungnya.

Saat pertama kali mengetahui kalau Hyunjung adalah ayahnya,Jaejoong sangat marah karena merasa di bohongi oleh pria itu. Tapi tidak bisa di pungkiri kalau ia merasa senang dan rindu pada sosok orang yang sangat ia inginkan dalam hidupnya. Meski begitu ia harus memberi pelajaran pada pria yang sangat di cintai ibunya itu.

"Joongie,ada yang ingin Omoni bicarakan denganmu" Kata Haneul setelah meletakkan dua piring berisi pancake diatas meja makan. Jaejoong tidak menjawab dan hanya mengangguk.

"O-omoni...eum Hyunjung...ma-maksudku aku..."

"Bicara yang jelas,Omoni!" Tekan Jaejoong kesal.

"Omoni ingin menikah dengan Hyunjung" Kata Haneul cepat. Jaejoong menghentikan kunyahannya,menatap ibunya dengan terkejut.

"Mwo?"

Haneul diam. Ia menggigit bibir bawahnya gugup. Detik kemudian ia mengangguk meski tak menjawab pertanyaan Jaejoong.

"Tidak!" Tolak Jaejoong. Haneul menatap anaknya bingung.

"Kalian sudah tua dan memikirkan pernikahan? Itu terlambat,Omoni" Lanjut Jaejoong. Haneul memejamkan matanya. Jaejoong memang keras kepala,saat tidak menyukai sesuatu ia akan mempertahankan itu. Haneul mendadak lemas. Akan sangat panjang untuk menyelesaikan masalah ini,pikirnya.

.

.

.

"Kau tahu kan Yun bla bla bla..."

Yunho menatap laptop didepannya dengan serius,mengabaikan seseorang yang terus mengoceh didepannya. Entahlah,dihari yang cerah ini hidupnya yang seharusnya tenang mendadak berisik dengan kehadiran Jaejoong. Ini memang waktunya makan siang dan pria itu mengajaknya makan di cafe tak jauh dari kantor Yunho.

'Ah segaar sekali~' Gumam Yunho dalam hati,merasakan segarnya lemon tea pesanannya. Ia benar-benar mengabaikan semua omongan Jaejoong.

"Menurutku mereka bla bla bla..."

'Lemon tea memang segar di minum pada cuaca seperti ini' Kata Yunho dalam hati. Ia melihat pada gelas minumannya yang sudah habis,memutar-mutarnya hingga pandangannya terpeleset pada wajah seseorang. Jaejoong memandang Yunho dengan menyeramkan.

"Mwoya?" Tanya Yunho tanpa dosa.

Jaejong menyipitkan matanya, "Kau sedang memikirkan apa?" Tanya Jaejoong dengan wajah menyelidik.

"Tidak"

Jaejoong menyandarkan tubuhnya pada kursi lalu meminum jus jerus pesanannya, "Aku kira kau memikirkan wanita itu" Kata Jaejoong sambil melihat keluar jendela.

"Jae,aku tak tahu apa masalahmu..." Kata Yunho, "Bukankah perjanjiannya,setelah aku memuaskanmu kau tidak akan marah lagi?" Lanjut Yunho setengah berbisik.

"Iya,tapi aku 'kan bisa kesal tiap saat" Jawab Jaejoong dengan nada biasa.

"Sekarang kau harus membantuku!" Kata Jaejoong penuh dengan semangat. Yunho hanya bisa pasrah saat Jaejoong menarik tangannya tiba-tiba.

.

.

.

Yunho menatap sekitarnya,merasa mengenal tempat ini. Sekarang ia dan Jaejoong berada di samping sebuah rumah mewah setelah tadi Jaejoong mengemudikan mobil miliknya dengan cepat. Entah apa yang di pikirkan pria manis itu,yang pasti Yunho tak punya waktu untuk bertanya.

Sekarang pun Jaejoong sedang asik mengintip kedalam perkarangan rumah yang terlihat dari tempatnya berdiri. Yunho sangat takut seseorang memergoki mereka berdua dan menganggap mereka seperti maling.

"Ini rumah Hyunjung Ahjussi 'kan?" Tanya Yunho pada Jaejoong yang ada didepannya.

"Ssttt,jangan berisik" Kata Jaejoong memperingatkan. Yunho ikut mengintip seperti Jaejoong. Didalam sana terlihat Hyunjung yang sedang berbincang dengan seorang pria dan pria itu sedang membelakangi jendela sehingga tidak terlihat jelas wajahnya.

Tidak ada hal yang mencurigakan dan kenapa Jaejoong harus berdiri disini dan melihat kedalam,seperti seorang penguntit saja.

"Aku pulang" Kata Yunho lalu melangkah meninggalkan tempat itu. Tapi baru dua langkah,ia sudah tertarik kebelakang dan itu di sebabkan oleh Jaejoong yang menarik kerah kemejanya.

"Mau kemana?"

"Aku mempunyai pekerjaan yang jauh lebih penting dari hobi barumu ini,jae. Aku ingin kembali kekantor" Kata Yunho kesal. Jaejoong mencibir.

"Lalu dengan apa aku pulang? Aku kan pergi denganmu tadi" Yunho memutar bola matanya. Jaejoong selalu punya alasan untuk menahan ia pergi.

"Demi Tuhan,Jae. Kau seorang pria dan di sekitar sini banyak taksi. Atau kau bisa minta diantar pulang oleh Hyunjung Ahjussi" Kata Yunho mulai kesal. Jaejoong menekuk wajahnya.

"Kenapa kau tak ada rasa kasihan pada pria manis sepertiku. Aku akan mengadukanmu pada Jinwoon" Kata Jaejoong. Yunho terbelalak,tak percaya kalau Jaejoong mengancamnya.

"Lalu katakan padaku kenapa kau mengajakku kesini hanya untuk mengintip rumah seseorang?"

"Aku hanya ingin tahu keseharian Aboji-ku,apakah salah?" Kata Jaejoong membuat Yunho terkejut.

"A-apa katamu?"

"Jadi Jinwoon belum memberitahukannya padamu,eoh?" Yunho menggeleng.

"Sahabat ayahmu itu adalah ayah kandungku,Yun. Mereka semua membohongiku,aku kesal" Jaejoong mengerucutkan bibirnya,sedangkan Yunho cukup terkejut tentang itu. Yunho melihat pada Jaejoong lalu ikut mengintip kedalam rumah.

"Lalu kau tak percaya itu jadi ingin memastikannya sendiri dengan cara mengintip seperti ini?" Tanya Yunho sambil menggelengkan kepalanya.

"Aku hanya ingin tahu,apa ia masih pantas aku anggap sebagai seorang ayah. Mereka akan menikah dan aku tidak mau Omoni di sakiti oleh orang itu lagi" Kata Jaejoong yakin.

.

.

.

Jinwoon menatap foto Jaejoong yang menjadi wallpaper di layar laptopnya,tersenyum penuh arti. Sudah banyak rencana yang tersusun di otaknya tentang mereka berdua. Jinwoon sangat mencintai Jaejoong dan sangat berharap pria itu akan menjadi pendamping hidupnya. Menurut Jinwoon tidak ada halangan berarti untuk mewujudkan rencana itu termasuk dengan Yunho.

Ah bicara tentang Yunho,Jinwoon jadi teringat sebuah kenangan masa lalu saat ia dan istrinya mengadopsi Yunho dari sebuah panti asuhan. Jinwoon menyukai Yunho pada awal mereka bertemu karena merasa wajah mereka sangat mirip. Mereka berdua membesarkan Yunho hingga menjadi seseorang seperti sekarang yang bisa ia banggakan.

Drrtt...drrrtt

Jinwoon melihat layar ponselnya yang berkedip-kedip,tertulis nama Hyunjung disana. Tumben sekali sahabatnya itu menelepon disaat jam kerja seperti ini.

"Yeoboseyo"

"Jinwoon ah,kau harus menjadi Best man ku di acara pernikahanku dan Haneul nanti" Jinwoon cukup terkejut dengan itu karena Hyunjung tidak mengatakan apapun sebelumnya.

"Jadi kalian..."

Hyunjung tertawa, "aku tidak sengaja baru memberitahumu sekarang karena aku terlalu gugup hingga melupakannya"

Jinwoon senang dengan berita ini,ia pun menyeringai, "Itu artinya kau akan menjadi mertuaku yah? Hahaha" Kata Jinwoon tertawa sendiri. Hyunjung terdiam.

"Memang kau serius dengan Jaejoong?" Tanya Hyunjung serius membuat Jinwoon menghentikan tawanya.

"Hei kita sudah bersahabat sangat lama Hyun,aku rasa kau tahu bagaimana aku"

"Tapi umurnya sama seperti Yunho..." Hyunjung bingung bagaimana menjelaskannya pada sahabatnya itu. Jinwoon mendesah di tempatnya.

"Aku tahu. Bahkan sebelum aku menjalin hubungan dengannya aku sudah memikirkan ini. Tapi kami saling mencintai,apakah itu salah?" Tanya Jinwoon. Hyunjung kembali terdiam. Tentu ia tahu semua hal tentang Jinwoon dan pria itu memang pria yang baik untuk anaknya tapi ada yang mengganjal dihatinya. Antara tidak rela dan ketakutan tapi ia sendiri tidak tahu kenapa semua perasaan itu ada.

"Hyunjung ah,kau masih disitu?"

"Ne" Jawabnya sedikit pelan.

"Jadi...apa kau memperbolehkan aku menikah dengan Jaejoong?" Tanya Jinwoon lagi. Hyunjung benar-benar bingung sekarang.

"Semua keputusan ada pada Jaejoong. Aku tak bisa memaksa dan tidak bisa memilihkan siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya karena semua yang menjalani adalah dia sendiri" Kata Hyunjung bijaksana. Jinwoon tersenyum,ia bertekad untuk membuat rencananya ini berjalan dengan sangat lancar. Ia yakin kalau Jaejoong pasti akan menerimanya.

.

.

.

.

Jinwoon masuk kedalam rumahnya dalam keadaan lelah sehabis bekerja seharian. Tubuhnya pun terasa pegal karena terus duduk sepanjang hari. Pekerjaannya menjadi direktur sebuah perusahaan besar memang menguras tenaga dan pikirannya.

Saat sedang berjalan kearah kamarnya,ia berpapasan dengan Yunho yang baru keluar dari kamar dengan memakai piyama berwarna biru gelap. Anaknya itu tersenyum padanya.

"Aboji baru pulang?" Tanya Yunho. Jinwoon mengangguk lelah.

"Apa sudah makan malam? Kalau belum,aku akan meminta pada bibi han untuk membuatkan Aboji sesuatu" Tawar Yunho.

"Tidak nak,aku akan segera tidur setelah mandi" Yunho hanya tersenyum,merasa maklum. Mungkin ayahnya sedang lelah mengingat pekerjaan dikantor hari ini memang sangat banyak,dirinya saja baru pulang beberapa jam yang lalu.

Yunho membiarkan Jinwoon melanjutkan langkahnya menuju kamar sedang ia pergi menuju dapur untuk membuat susu. Perutnya agak bermasalah belakangan ini dan butuh minuman yang hangat.

"YUNHOO...JANGAN MENGABAIKANKU!" Teriak Jaejoong dari ponsel yang Yunho pegang dari tadi. Yunho hanya berdecak kesal.

"Apa ibumu tidak terganggu dengan suara berisikmu itu eoh?" Tanya Yunho kesal. Sejak beberapa menit lalu Jaejoong meneleponnya dan Yunho baru mengangkatnya. Sebenarnya ia malas karena tiap hari pria itu selalu mengganggunya.

"Kenapa tidak mengangkat teleponku hah?" Jaejoong kesal dengan Yunho yang tidak segera mengangkat telepon darinya.

"Tadi Emma baru selesai meneleponku,jadi..." Ucapan Yunho harus terpotong karena Jaejoong kembali berteriak.

"OOH JADI YEOJA ITU LEBIH PENTING DARI AKU?"

"Oh demi Tuhan,Jae. Kau berisik sekali"

"Kau membuatku kesal,Jung" keluh Jaejoong. Yunho berdecak. Ternyata emosi mempengaruhi kerja otak dari pria manis itu. Kalau ia menelepon Emma mana mungkin saat pria manis itu menghubunginya tetap tersambung dan bukan terdengar nada sibuk.

Emma tidak menelepon Yunho dan Yunho memang sengaja mengabaikan Jaejoong karena terlalu lelah dengan pria itu. Tadi setelah ia di culik oleh Jaejoong,pria itu harus mengikuti segala permintaan Jaejoong dan mereka terpaksa terus mengintip di samping rumah Hyunjung selama beberapa jam dan bodohnya Yunho menuruti semua itu.

"Aku mau tidur,Jae. Aku lelah" Yunho memang berkata apa adanya. Jaejoong menghela nafas pasrah. Belakangan ini ia jadi sering rindu pada Yunho.

"Ya sudah,aku akan meneleponmu lagi besok" Kata Jaejoong sebelum menutup teleponnya. Yunho menatap bingung kearah layar ponselnya. Jaejoong berkata apa tadi? Oh sungguh ia tidak mengerti jalan pikiran pria itu.

.

.

.

.

Yunho dan Emma duduk di sebuah cafe di pinggiran kota Seoul. Keduanya asik bercerita tentang hal-hal menarik termasuk tentang hubungan Emma dengan sang kekasih.

"Aku selalu cemburu jika dia bersama teman-temannya" Wanita berambut pirang itu terus menggerutu. Yunho tersenyum. Sahabatnya memang begitu,ia dan Albert—kekasihnya - sudah berpacaran sejak sekolah menengah. Wajah Albert yang tampan membuatnya begitu populer di kalangan gadis-gadis,membuat Emma cemburu sepanjang waktu.

"Tapi dia sangat mencintaimu,Em"

"Bien sûr, je ne suis pas assez il (Tentu saja,aku 'kan cantik)" Emma mengibaskan poninya kesamping,membuat Yunho tertawa.

"Eum,terus bagaimana hubunganmu dengan Jaejoong?" Tanya Emma beralih topik. Yunho yang asik meminum milk shake-nya menatap sahabatnya itu.

"Hubungan apa? Kami tak punya hubungan apa-apa" Kata Yunho pura-pura tak mengerti. Emma berdecak,Yunho selalu begitu.

"Aku mengenalmu lama untuk tahu pria seperti apa kau ini" Emma memicing. Yunho hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

"Kau tahu bagaimana hubungan kami sekarang,silahkan simpulkan sendiri"

"Kau masih mencintainya kan?" Tanya Emma menatap serius pada Yunho. Yunho diam dan itu dianggap sebagai jawaban atas pertanyaan Emma tadi.

"Kalau begitu katakan padanya perasaanmu"

"Itu memang mudah jika menyingkirkan kenyataan bahwa ia kekasih dari ayahku sendiri" Kata Yunho dengan nada putus asa.

"Kau membuat keadaan makin rumit,Yun. Bagaimana kalau ayahmu tahu hubungan kalian?"

"Aku sudah menekankan padamu tadi,kami tak punya hubungan apapun selain diatas ranjang. Dia pun datang padaku ketika sedang butuh lalu bersama ayahku sebanyak yang ia mau" Kata Yunho cukup emosi dengan perkataannya sendiri. Emma diam. Mungkin saat ini hati Yunho sedang bergejolak menahan emosi yang terkumpul di benaknya,tapi ia sangat khawatir. Jika dibiarkan seperti ini dampaknya akan luar biasa. Yunho bukan hanya menjadi anak durhaka tapi juga menjadi seorang pengkhianat dan celakanya lagi itu terjadi dengan ayahnya sendiri.

"Aku harap kau bisa memutuskan sebelum semuanya terlambat" Emma tak bisa berkata apapun lagi karena ini sudah bicara masalah hati,tapi sebagai seorang sahabat ia harus tetap memperingatkan sebelum hal buruk yang ia bayangkan terjadi.

Yunho menatap jendela cafe yang sedikit berembun,berharap menemukan jalan keluar dari semua ini.

.

.

.

Yunho dan Jinwoon makan malam dengan tenang. Mereka hanya berdua setelah Emma memutuskan untuk tinggal di hotel karena beberapa hari lagi ia akan kembali ke Paris.

"Yunho,setelah makan ada yang mau Aboji bicarakan" Kata Jinwoon pada anaknya. Yunho mengernyit bingung meski tetap mengangguk.

Setelah selesai makan malam,kedua Jung itu duduk di ruang keluarga. Yunho terus bertanya-tanya dalam hati apa yang akan di bicarakan ayahnya.

Jinwoon merogoh saku kemeja santainya,mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah. Yunho mengerutkan keningnya,menatap benda yang kini tergeletak diatas meja.

"Apa itu,Aboji?" Tanya Yunho. Ia sangat penasaran. Jinwoon membuka kotak itu. Sebuah cincin bertahtakan berlian di sepanjang tepinya menjadikan cincin itu menjadi benda yang bernilai tinggi.

"A-apa maksudnya ini?" Yunho terus berdoa agar apa yang ia takutkan tidak terjadi.

Jinwoon tersenyum, "Aku akan melamar Jaejoong dengan itu"

DUARR..

Suara itu datang bersamaan dengan rintik hujan yang membasahi malam kota Seoul. Hati Yunho berdenyut sakit,merasa darah di seluruh tubuhnya berhenti mengalir membuat kepalanya pusing. Bola matanya bergerak gelisah dan nyaris berkaca-kaca.

"Mwo?" Bahkan pertanyaan itu keluar bagai cicitan burung.

"Ya. Aku akan melamar Jaejoong dan akan menikahinya segera"

Semua itu tak butuh penjelasan lagi. Ia telah kalah,bahkan sebelum ia berperang. Semua yang di takutkan Emma telah terjadi. Pernyataan itu telah melumpuhkan sendi-sendi kakinya.

Ia tak pernah membantah kalau ia memang masih mencintai Jaejoong. Dan semua harus terkubur dengan cepat,bersama asa yang telah hancur tak tersisa.

Yunho sangat tahu bahwa cepat atau lambat semua ini akan terjadi. Tapi...sanggupkah ia menerima kenyataan bahwa Jaejoong akan menjadi istri dari ayahnya sendiri. Itu yang Yunho takutkan hingga tak mau memikirkannya.

TBC

Chap ini puendek yah :D

Diawal ceritanya santai eh pas kebawah jadi menegangkan gak? Hehe. Ini awal dari inti cerita. Chap depan udah di mulai perjuangan Yunho untuk mendapatkan Jaejoong. Kira-kira Jaejoong maunya sama siapa yah? Uang sama cinta mana yg bakal di pilih sama Jaejoongie?

Aku senang chap kemarin responnya banyak tapi mianhae aku gak update cepet karena aku gak mood nulis chap ini,yg ini aja uda aku ganti sebanyak 3X gara-gara kurang feelnya. Semoga tidak mengecewakan kalian yah ^_^

Ayo yang mau ff ini di lanjut silahkan tulis di review ^_^

Thanks to :

haruko2271 / zhe / elmaesteryosephine / hi-jj91 /princesssparkyu /nickeYJcassie /riska0122 /wennycassiopeia /xena hwang / /cminsa / cindyshim07 / jaena / Lady Ze / Gyujiji / Dennis / irengiovanny / Hana – Kara / NaeAizawa / .1272 / Youleebitha / 3kjj / adindapranatha / hanasukie / nunoel31

Silahkan review lagi dan terima kasih buat siapapun yang baca ff gak jelas ini ^_^

Preview next chap:

"Aku ingin bersamamu lebih lama lagi,Jaejoongie" Kata Yunho yang kembali mengemut benda kecil di dada Jaejoong. Jaejoong menyeringai. Ia tidak peduli lagi dengan kebingungannya tentang sikap Yunho hari ini. Yang pasti ia sangat bahagia.

"OMO! AKU ADA JANJI DENGAN JINWOON" teriak Jaejoong tiba-tiba hingga tanpa sadar menendang Yunho sampai pria itu terguling-guling dengan indahnya dilantai yang dingin.

See you next chap ^_^