You know I love you
Genre: Drama,Romance
Rating: Nc 17
Cast: Jung Yunho,Kim Jaejoong,Jung Jinwoon,Kim Haneul,Han Hyunjung
Chapter 9: Between Two Heart
Yunho terdiam di depan jendela hotel. Pandangan matanya mengarah kebawah,pada orang yang tengah sibuk menggeret koper-koper untuk di masukkan ke dalam Taksi. Hatinya terus berteriak dari tadi untuk segera berlari ke bawah dan mencegah kepergian pria itu, tapi Yunho sudah memutuskan, mungkin lebih baik ia menyerah saja.
Jaejoong sudah selesai dengan koper-kopernya, dari tadi wajahnya di tekuk. Ia kesal. Dari semalam ia tidak bertegur sapa dengan Yunho, pagi ini pun ia pergi tanpa pamit entah pria itu sudah bangun atau belum. Setelah pertengkaran semalam, mereka saling diam. Jaejoong bingung dengan sikap Yunho.
Sepanjang perjalanan pulang ke seoul,Jaejoong terus saja menggerutu membuat sang supir bingung.
"Dasar sialan, memang dia kira ponselku murah? Seenaknya saja membuangnya"
Supir hanya bisa menggelengkan kepala mendengar itu.
"Lihat saja, akan aku adukan pada Jinwoon" Katanya, kemudian ia ingat tentang janjinya dengan Jinwoon lalu menepuk keningnya.
"Pasti dia menungguku semalaman" Katanya, membayangkan wajah kecewa kekasihnya.
.
.
.
Jinwoon menatap jendela rumahnya yang sedikit berembun, menghela nafas. Semalam Jaejoong tidak datang ketempat yang sudah ia beritahukan. Berulang kali ia menelepon kekasihnya itu tapi selalu saja dalam keadaan tak aktif. Karena terlalu cemas ia pun menelepon Haneul, dan sahabatnya itu bilang kalau Jaejoong sedang pergi bersama Junsu, dan lebih hebatnya lagi ia tidak tahu nomer ponsel Junsu.
Jinwoon menghela nafas untuk kesekian kalinya, ia tentunya khawatir pada kekasihnya itu. Ia sudah menyiapkan makan malam romantis dan segala yang bisa menunjang rencananya, tapi ia harus kecewa karena semua itu gagal.
Seorang pelayan rumahnya datang ke hadapannya, "Tuan,ada yang mencari anda"
"Siapa?"
"Wooniiie~" Panggil Jaejoong panjang sambil berlari kearah Jinwoon.
Jinwoon agak sesak saat Jaejoong memeluknya erat.
"Woonie ah,Mianhae~" Seru Jaejoong. Jinwoon tersenyum dan balas memeluk Jaejoong.
"Kau dari mana saja, Jae? Aku menunggumu semalaman" Jaejoong melepas pelukannya lalu menatap Jinwoon dengan tatapan bersalah.
"Aku pergi memancing dengan Junsu, lalu saat sedang asik menarik pancingan ponsel ku tercebur ke laut" Bohongnya. Ia memang berniat memakai alasan itu jika ada yang bertanya, tapi tidak dengan ponsel yang tercebur.
"Padahal aku sudah menyiapkan semuanya" Kata Jinwoon. Jaejoong mengingat perkataan Yunho tentang Jinwoon yang akan melamarnya. Ia mendadak bingung.
"Eum,kalau begitu aku pulang dulu" Kata Jaejoong terburu-buru, ia segera berlari dari hadapan Jinwoon.
"Tu-tunggu, Jae" Jinwoon pun mengejar Jaejoong dan berhasil memegang tangannya.
"Aku..."
"Mianhae, mungkin Omoni menungguku"
"Tidak, Jae. Aku harus mengatakan ini.." Jinwoon memaksa Jaejoong dengan memegang kedua lengannya agar pria itu tidak melarikan diri lagi.
"So, Will you marry me?" Kata Jinwoon lantang. Jaejoong terdiam, bingung ingin mengatakan apa.
Jinwoon merogoh saku celananya, "Kau pasti menyukai ini" Katanya sambil menyodorkan kotak kecil lalu membukanya.
Jaejoong memandang kearah isi kotak itu, ketika ingin membuka mulut, keduanya menoleh pada suara gaduh di depan pintu.
"Yunho.." Gumam Jaejoong. Yunho menyandarkan tubuhnya di pintu masuk, sebotol bir ada di tangannya. Ia menatap Jaejoong dengan tatapan yang tak biasa, dan Jaejoong melihat ada sorot mata dingin di sana.
"Apa-apaan kau, Yun?" Tanya Jinwoon melihat anaknya yang tampak berantakan. Yunho tak menjawab. Ia seperti bukan Yunho saat ini.
"Apa? Jangan melihat padaku!" Kata Yunho sambil mengibaskan tangannya. Ia pun berjalan menuju kamarnya dengan sempoyongan. Jaejoong menatap iba pada Yunho.
"Jadi...apa jawabanmu?"
Yunho membuka pintu kamarnya, sebelum masuk ia menoleh pada dua orang yang masih berada di posisi yang sama.
"I do"
Brak!
"GYAAAAH!"
Prank!
Jinwoon seharusnya tersenyum mendengar jawaban Jaejoong, tapi ketika mendengar teriakan anaknya bersamaan dengan bunyi sesuatu yg pecah. Ia segera berlari menuju kamar Yunho yang berada di lantai atas.
"Yunho!" Jinwoon menghampiri Yunho yang tertidur di lantai.
"Aboji...aku ingin kembali ke Paris, besok" Kata Yunho tanpa memandang kearah ayahnya.
Jaejoong hanya bisa diam. Ada sebuah perasaan tak rela ketika mendengarnya. Yunho akan kembali ke Paris dan itu artinya ia tidak akan bertemu Yunho lagi.
.
.
.
Hari ini adalah hari kepergian Yunho kembali ke Paris. Pria itu tampak murung dan tidak mau melihat kedepan. Jaejoong memaksa ikut mengantar Yunho ke bandara, tanpa tahu Yunho tak ingin melihatnya. Jaejoong belum menyadari apa kesalahannya yang membuat Yunho seperti ini.
Yunho sudah memutuskan tak akan kembali lagi ke seoul meskipun ayahnya memaksa untuk menghadiri acara pernikahan ayahnya dengan Jaejoong. Jaejoong cukup sedih mendengar Yunho akan kembali ke Paris, meski alasan pria itu karena masa liburnya telah habis.
Di bandara, Yunho hanya memeluk ayahnya dan hanya melirik pada Jaejoong. Ada sorot mata kecewa yang Yunho tunjukkan padanya dan Jaejoong tak tahu apa itu.
"Aku kira kau bisa datang ke acara pertunanganku dan Jaejoong..." Kata Jinwoon dengan kecewa. Yunho hanya tersenyum tipis.
"Kalau begitu, ketika kau pulang nanti, bawalah seorang gadis pada Aboji yang berstatus kekasihmu"
"Untuk yang itu..." Yunho melirik Jaejoong, "Aku akan memikirkannya"
'Pesawat boieng 737KR akan segera berangkat 10 menit lagi,harap penumpang naik kedalam pesawat'
Suara pemberitahuan itu menghentikan percakapan ketiga orang tersebut.
"Aboji, aku pergi dulu.." Yunho membungkukkan tubuhnya, lalu berbalik dan jalan menuju pintu pemeriksaan.
Jaejoong mencelos,Yunho tak menganggapnya ada. Ia hanya bisa memanggil nama pria itu dalam hati.
"Yunho ah~"
.
.
.
Tuk tuk tuk
"Aku tak percaya kalau kau sangat bodoh" Emma mendelik kearah Yunho yang terdiam di depannya, setelah wanita itu mendengar cerita Yunho tentang kembalinya ia ke Paris. Yunho tak merespon ucapan Emma karena ia pun bingung. Keputusan ini ia ambil secara cepat. Saat itu kepalanya sangat pusing. Ada perasaan tak rela saat Jaejoong menerima lamaran ayahnya, ia kecewa pada Jaejoong tapi bukan itu masalahnya. Ia lebih kecewa pada dirinya sendiri yang tak bisa melakukan apa-apa, dan sekarang Emma di depannya bertanya seperti seorang polisi.
"Em, diamlah" Emma langsung diam, melihat pada sahabatnya yang tampak melamun.
"Mungkin memang seharusnya begini. Dia memang harus menikah dengan ayah" Kata Yunho, ada nada pasrah yang tercampur disana.
Emma tahu semua ini berat untuk Yunho, dan ia membiarkan sahabatnya itu menyelesaikan masalahnya sendiri.
Sedangkan Yunho, menatap embun pada gelas yang ada di depannya.
'Jaejoong, anak kelas sebelah' Kata Siwon pada Yunho.
'..Kami berpacaran'
Yunho hanya bisa terperangah, Siwon memang pria kaya dan Jaejoong suka itu,sedangkan ia tak ada yang tahu siapa seorang Jung Yunho itu.
.
.
.
Jaejoong menenggelamkan wajahnya pada bantal sofa ruang tamunya dan beberapa kali geraman terdengar dari mulutnya. Haneul yang baru keluar dari dapur merasa heran dengan tingkah anaknya, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Joongie, nanti kau bisa kehabisan nafas" Kata Haneul setelah duduk di sebelah putranya. Jaejoong menatap sang ibu dengan mata merahnya.
"Omoni" Panggil Jaejoong pada Haneul yang asik membaca.
"Apa Omoni bahagia saat Ahjussi melamarmu?" Tanya Jaejoong. Haneul mendelik setelah mendengar Jaejoong berkata aneh.
Pluk
"Dia itu ayahmu!" Haneul memukul kepala Jaejoong.
"Ish jawab saja!"
Haneul tampak berfikir, "Tentu, karena aku sangat mengharapkannya"
"Wae?" Tanya Haneul dengan pandangan menyelidik.
"Ani!"
"Joongie, apa kau mencintai Jinwoon?" Tanya Haneul. Jaejoong diam.
"Atau, kau punya orang lain?" Jaejoong juga diam.
"Boleh Omoni tebak?" Jaejoong menggeleng cepat.
"Tidak usah!" Jaejoong kembali menenggelamkan wajahnya ke bantal. Haneul terdiam, merasa aneh dengan anaknya.
Tak berapa lama terdengar isakan halus yang Haneul tahu milik anaknya.
"J-joongie.."
.
.
.
.
Hari-hari di lewati Yunho dan Jaejoong dengan tak bersemangat,Yunho sangat malas meski hanya ke kampus untuk meminta nilai, sedangkan Jaejoong menolak semua ajakan kencan Jinwoon kecuali belanja. Bahkan pernah Jinwoon harus gigit jari karena Jaejoong menolak bercinta dengannya. Sepeninggalan Yunho, Jaejoong merasa jiwanya ikut pergi bersama pria tampan itu. Hampir tiap hari ia melamun, mengingat kembali saat-saat mereka masih bersama, bahkan ia kadang merindukan sentuhan Yunho.
"Baby, ingat jadwal kita mencoba jas untuk pesta pertunangan kita lusa" Kata Jinwoon melalui telepon. Jaejoong menubrukkan punggung tangannya pada dahi.
"Sepertinya aku demam" Kata Jaejoong asal. Jinwoon khawatir.
"Apa aku harus kerumahmu sekarang?"
"Tidak Woonie, aku tidak parah" Jinwoon menghela nafas,
"Jae, acara pertunangan kita dua hari lagi. Semua hampir siap, kenapa kau tidak bersemangat?"
"Aku gugup. Ini pertama kalinya untukku"
"Aku tahu, tapi kau terlihat tak serius"
"Mian" Jaejoong tak berkata apapun lagi, dengan agak kesal Jinwoon mengakhiri pembicaraan mereka.
Jaejoong menghela nafas,
"Apa ada yang Omoni tak tahu?" Ia sedikit tersentak ketika Haneul bersuara.
"Ti-tidak"
Ada jeda diantara mereka. Haneul mengenal Jaejoong selama 20 tahun dan sangat tahu watak anaknya itu. Jaejoong tak pernah begini sebelumnya, kalau pun anaknya seperti itu Haneul yakin ada penyebab yang kuat.
"Kalau kau tidak ingin bertunangan dengan Jinwoon, kenapa kau menerima lamarannya?" Tanya Haneul. Jaejoong melihat wajah ibunya.
"Aaah kau membuatku bingung Omoni!" Teriak Jaejoong lalu pergi ke kamarnya. Haneul hanya bisa ternganga melihat tingkah anaknya itu.
"Anakku sedang galau" Gumamnya.
.
.
.
Hari dimana pertunangan antara Jaejoong dan Jinwoon telah datang,semua orang di Ballroom hotel itu terlihat sibuk. Jinwoon tampak menyalami semua tamu yang datang. Acara akan dimulai setengah jam lagi. Jaejoong sudah berada di perjalanan bersama kedua orang tuanya. Penampilannya sungguh luar biasa, rambutnya di potong pendek dengan poni yang menutupi matanya dan berwarna blonde. Hyunjung bisa melihat kalau anak kandungnya itu sedang gelisah hingga membuat duduknya tak tenang.
"Kau ini seperti anak gadis yang akan menikah, joongie" Kata Haneul yang merasa gerah dengan tingkah anaknya itu. Jaejoong menggeleng sambil menoleh pada ibunya.
"Tidak Omoni..aku hanya-"
"Kalau kau ingin mundur kita belum terlambat, Jae. Aku bisa mengurus kepergianmu ke Prancis" Kata Hyunjung yang seakan tahu apa yang ada di pikiran anaknya. Haneul dan Jaejoong mengerutkan kening melihat pada pria tengah baya itu.
"Jungie, apa maksudmu?"
"Aku seorang pria sama seperti anakmu jadi tentu aku tahu apa yang dia mau" Kata Hyunjung sambil tersenyum. "Termasuk tentang Yunho"
Kata-kata terakhir Hyunjung itu membuat Jaejoong dan Haneul membelalakan matanya. Jaejoong menggigit bibirnya. Kenapa ayahnya itu tahu tentang Yunho dan kenapa bisa berfikir kalau ini tentang Yunho. Jaejoong sendiri saja belum berani memutuskannya.
"Joongie...kau menyukai Yunho?" Haneul menoleh pada anaknya. Jaejoong terdiam, bola matanya bergerak gelisah. Apakah perasaannya terlalu jelas terlihat?
"Bu-bukan begitu...aku sendiri saja tidak mengerti bagaimana perasaanku sendiri. Mungkin begini lebih baik" Kata Jaejoong dengan pelan seakan tak yakin dengan ucapannya sendiri.
"Tapi Joongie, apa Jinwoon tahu tentang ini?" Tanya Haneul. Jaejoong menggeleng.
"Omoni...aku harus bagaimana?" Tanya Jaejoong dengan nada putus asa. Mereka bertiga terdiam hingga mobil yang mereka tumpangi mendekati hotel tempat acara pertunangan itu di selenggarakan.
.
.
.
Yunho hanya memerlukan beberapa kali pertemuan dengan dosen untuk mendiskusikan tentang skripsi yang akan ia buat sebagai syarat lulus universitas. Yunho cukup pandai di kelasnya dan hanya memerlukan waktu 3 tahun untuk mengikuti tes kelulusan, ia dan juga para dosennya cukup puas dengan itu. Dari dulu Yunho selalu mengandalkan otak jeniusnya daripada nama besar ayahnya karena ia sadar di Prancis jarang yang mengenal ayahnya sebagai penguasa bisnis di Korea Selatan. Bahkan saat masih sekolah dulu tidak ada yang mengenal latar belakang Yunho yang merupakan anak seorang pengusaha sukses kecuali Yoochun. Yunho cukup sadar dengan statusnya yang merupakan anak angkat ayahnya yang sekarang, meski Jinwoon tak bilang tapi sudah sepantasnya Yunho merasa tahu diri.
Emma datang ke cafe tempat biasa mereka bertemu bersama dengan Albert kekasihnya. Sepasang kekasih itu saling berangkulan mesra hingga tiba di depan meja Yunho.
"Comment ĂȘtes-vous, Yunho? (Apa kabar, Yunho?)" Tanya Albert.
"Toujours bon. Vous? (Selalu baik. Kamu?)" Albert tersenyum sebagai jawaban. Mereka kini duduk saling berhadapan. Yunho sudah cukup mengenal kekasih dari Emma itu. Albert seperti pria eropa kebanyakan, cukup tinggi dan tampan. Yang membuat pria itu tampak manly adalah rambut tipis di sekitar dagunya itu.
"Yunho, bagaimana diskusimu dengan Mr. Ramond?" Tanya Emma.
"Cukup baik, tapi masih banyak yang harus aku perbaiki lagi" Kata Yunho sambil melambai kearah pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka. Emma dan Albert memesan makanan sedang Yunho hanya memesan Capucinno hangat.
"Yunho, kata Emma kau akan membawa kekasihmu setelah pulang dari Seoul? Lalu mana dia?" Yunho cukup tertohok dengan pertanyaan Albert itu. Emma membuat kontak mata dengan Yunho seakan mengatakan maaf. Yunho tersenyum. Itu wajar saja karena selama 3 tahun ini Yunho belum pernah mengenalkan seseorang pun pada mereka. Albert tak mengetahui apa yang terjadi, jika pertanyaannya membuat Yunho mengingat apa yang ingin ia lupakan.
"Kenapa diam?" Albert bertanya karena Emma dan Yunho hanya diam dan saling memandang.
Emma memegang lengan kekasihnya, "Mungkin kau akan terkejut jika Yunho memperkenalkan seseorang padamu"
"Kenapa?"
"Ah sudahlah,mungkin aku harus segera pulang. Apartemen ku cukup berantakan karena aku tinggal beberapa bulan" Kata Yunho lalu beranjak dari duduknya. Emma merasa menyesal tidak memberitahu Albert apa saja yang tidak boleh di tanyakan pada Yunho. Albert yang tak mengerti hanya mengerutkan keningnya.
"Aku pulang dulu, Em. Bye Albert" Yunho pergi sambil melambai pada kedua orang itu. Emma berdiri seakan ingin mengejar sahabatnya tapi tangan Albert memaksanya untuk duduk kembali di tempatnya.
"Ceritakan padaku tentang ini, Emma" Albert sudah terlanjur penasaran.
Emma menghela nafas sebelum berbicara, "Yunho seorang Gay" Dan jawaban itu cukup membuat Albert terkejut. Ia tak tahu sebelumnya. Meski di Prancis hubungan seperti itu sudah bukan hal baru tapi tetap saja itu mengejutkannya yang berfikir kalau Yunho bukan pria seperti itu.
.
.
.
Yunho meminum wine yang di belinya di jalan sepulangnya dari cafe. Ia menatap jendela sambil menikmati minumannya itu. Ini hari keenam Yunho meninggalkan Seoul dan kemarin merupakan hari pertunangan ayahnya dengan Jaejoong, dan beberapa bulan lagi mereka akan menikah. Yunho tersenyum getir, cintanya yang sudah bertahan lebih dari 3 tahun itu harus terpaksa ia lupakan demi ayahnya. Yunho harus melakukan itu setidaknya sebagai balas budi untuk kebaikan Jinwoon padanya.
Ting tong..ting tong
Yunho menggeram karena bunyi bel itu mengacaukan kegiatan santainya. Dengan agak malas ia berjalan kearah pintu yang bel-nya terus di tekan berulang kali.
"Hei!-" Mata Yunho mengerjap berulang kali untuk meyakinkan pandangannya tentang orang yang berdiri dihadapannya itu. Ia baru meminum beberapa teguk wine dan tidak mungkin kalau sekarang ia sedang mabuk. Tapi tidak mungkin orang yang berdiri didepannya adalah orang yang saat ini ada di pikirannya.
"Hei, kenapa diam?" Tanya orang itu. Yunho kembali yakin kalau orang itu adalah...
"Jaejoong?"
"Iya" Jaejoong hampir tak bisa menahan tawanya melihat wajah bingung Yunho yang seperti orang bodoh. Yunho melihat kearah belakang tempat Jaejoong berdiri. Tak ada siapapun.
"Kau..Jaejoong"
"Iya,Yun. Ini aku" Jaejoong mengambil tangan Yunho untuk diletakkan di sisi wajahnya. Yunho masih terdiam bingung, Jaejoong cukup kesal dengan itu.
Pluk
Yunho segera menjauhkan tangannya yang baru saja di daratkan Jaejoong kearah bokong pria manis itu.
"Apa kau pernah memegang bokong seperti punya ku, hm?" Tanya Jaejoong agak lucu.
"A-apa kau datang bersama...Aboji?" Tanya Yunho dengan nada pelan pada akhirnya. Jaejoong menggeleng sambil tersenyum.
"Yunho, aku baru saja tiba 2 jam lalu dan langsung pergi mencarimu, beruntung aku bertemu Emma yang baru keluar dari sebuah Cafe. Dengan bahasa inggrisku yang pas-pasan ini aku bertanya dimana tempat tinggalmu dan dengan bujukan mautku Emma memberitahuku" Kata Jaejoong tanpa menjawab pertanyaan Yunho.
"Lalu kau membiarkanku berdiri disini? Cih pria macam apa kau ini" Jaejoong mendorong tubuh Yunho hingga memberi jalan padanya untuk masuk.
"Wah ini apartemenmu? Lumayan bagus"
"Jae" Yunho memegang tangan Jaejoong dan membuat pria itu berhadapan dengannya.
"Jelaskan padaku kenapa kau bisa ada di sini?"
.
.
.
"AARRRGGGHH!" Jinwoon menjatuhkan semua barang yang ada diatas meja setelah mendengar penuturan Hyunjung tentang ketidak hadiran Jaejoong pada pesta semalam.
"Jaejoong mencintai anakmu, jadi biarkan mereka bersama"
"Kau tak mengerti Hyun...mereka mengkhianatiku" Kata Jinwoon dengan kilat marah yang terlihat di matanya.
"Lalu kau membiarkan Jaejoong pergi untuk menyusul Yunho?"
"Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk anakku. Aku tidak bisa memaksanya untuk tinggal bersama pilihan yang seharusnya tidak ia pilih"
"Tapi aku mencintainya, Hyun!"
"Aku tahu, tapi kenyataannya Jaejoong mencintai orang lain dan orang lain itu adalah anakmu sendiri"
"Yunho bukan anakku. Dia rival ku sekarang" Kata Jinwoon dengan nada marah. Hyunjung menatap khawatir pada sahabatnya itu. Sepertinya setelah ini Yunho harus bersaing dengan ayahnya sendiri.
'Tuhan,apa salah anakku?' Tanya Hyunjung dalam hati.
TBC
Dan part ini pun berakhir disini ^^.
Gimana pendapat kalian tentang chap ini? Seru? Garing? Menegangkan? Atau bahkan menyeramkan? Hehe. Mianhae kalau ada yang kurang puas. Sepertinya Yunho memang harus bersaing dengan Jinwoon,atau mereka harus bertanding tinju dulu untuk mendapatkan Jaejoong? Haha,semuanya bakal terjawab satu persatu. Ff ini gak bakal panjang kok tapi kalau udah merasa bosan gak disarankan untuk melanjutkan baca.
Mian updatenya lama karena tiba-tiba aku kehilangan mood nulis dan juga karena ffn yang agak menyebalkan beberapa hari ini ^^
Balas reviewnya lain kali yah,yang pasti aku baca semua review yang masuk ^_^
Pupay next chapter! Review ne~
