Previous Chapter: Sungmin berada di antara dua pilihan. Pulang bersama Kyuhyun atau tetap bersama Yunho.


"Sudah jelas bukan? Lee Sungmin mengatakan tidak akan pulang bersamamu. Jadi sebaiknya kau lepaskan tangannya."

Kyuhyun tidak menuruti begitu saja apa yang diucapkan Yunho. "Tapi dia akan tetap pulang bersamaku," sahut Kyuhyun tidak kalah tegas.

"Sungmin akan ikut bersamaku, bukan begitu, Min?" Yunho menatap Sungmin, dalam hati ia berkata, 'Katakan ya, Min.'

Sungmin menatap Yunho. Kemudian menatap Kyuhyun yang juga sedang menatapnya. Kyuhyun hanya balas menatap dengan tatapan lurus dan datar. Ia yakin kali ini tidak akan ditolak.

"Kalian ini!" Sungmin malah menghentakkan kedua tangan yang dari tadi menggenggam kedua tangannya. "Aku pulang sendiri." Setelah mengucapkan kalimat itu dengan tegas dan lugas, Sungmin meninggalkan Kyuhyun dan Yunho yang kini hanya bisa melongo.

Yunho berinisiatif untuk mengejar Sungmin, tapi seseorang memanggilnya.

"Yun, bisa kita bicara sebentar?" Ryewook, salah satu pegawai di Radio Sapphire yang pernah dilihat name tag-nya oleh Kyuhyun saat ia pertama datang mencari Sungmin. Ryewook menunduk saat mengetahui keberadaan Kyuhyun di situ. Sepertinya ia masih enggan bertemu Kyuhyun karena mengingat kejadian hari itu.

Yunho menatap punggung Sungmin yang semakin menjauh. Dan tanpa bisa dicegahnya, Kyuhyun pergi dan mengejar Sungmin. 'Semoga dia tidak mengganggumu, Min.'


"Naik." Perintah Kyuhyun dari dalam mobilnya. Kyuhyun yang melihat Sungmin sedang berdiri di halte, meminggirkan mobilnya dan menurunkan kaca jendelanya.

Sungmin hanya membuang muka.

"Aku akan mengantarmu pulang. Jadi cepat naik," Kyuhyun mengulang perintahnya. Sungmin tidak menanggapi, bahkan ia mulai pura-pura tidak mengenal Kyuhyun, saat beberapa orang yang ada di sekitar mereka mulai muncul rasa ingin tahu. Mereka tampak seperti pasangan kekasih yang sedang bertengkar.

Kyuhyun turun dari mobilnya. Lalu menghampiri Sungmin.

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu…"

Tiin. Tiin.

Suara klakson bis yang memang seharusnya berhenti di halte itu lebih menarik perhatian Sungmin dari pada mendengarkan perkataan Kyuhyun. Sungmin dan beberapa orang di halte itu menaiki bis yang berada tepat di belakang mobil Kyuhyun. Kyuhyun geleng-geleng kepala mendapati dirinya dianggap angin lalu oleh Sungmin.

Tiin. Tiin. Tiin.

Klakson bis terdengar lagi, mobil Kyuhyun sudah menghalangi pergerakan bis itu. Semantara di belakang bis tersebut, ada bis lain yang hendak merapat ke halte.

Tiiiiiinnnn.

Satu klakson lagi, terdengar lebih panjang dari sebelumnya. Kyuhyun tidak bergeming mendengarnya. Beberapa penumpang mulai penasaran mengapa bis itu tidak juga jalan. Supir bis itu menurunkan jendela yang ada di dekatnya. Kepalanya yang nyaris tidak ada rambut berwarna hitamnya terlihat menyembul di jendela.

"Hei, anak muda, pinggirkan mobilmu. Kau menghalangi bisku," ujar supir itu sedikit kesal.

"Tidak akan sampai kau menurunkan pacarku!" Teriak Kyuhyun.

Kepala supir itu kembali masuk ke dalam bis. Lalu ia menoleh ke arah penumpangnya. "Pemuda itu mencari pacarnya, dan tidak mau bergerak sebelum pacarnya turun," ujar supir bis itu tanpa bertanya siapa pacarnya.

'Sial! Apa maunya sih?' Sungmin merutukinya dalam hati.

"Apakah pacarnya ada di dalam sini?" tanya supir bis itu.

Hening. Tidak satu pun penumpang bis yang mengaku.

"Kalau tidak aada yang mengaku, apa aku saja ya? Dia begitu tampan," ujar seorang yeoja yang duduk di depan Sungmin bicara pada temannya.

Sungmin menundukkan kepalanya. Lalu ia berdiri, diikuti suara koor dari penumpang lainnya. "Oooh… dia rupanya." Ini kejadian yang memalukan bagi Sungmin. Ia terus menunduk walaupun tidak bisa mengurangi rasa malunya.

Sungmin melangkah pelan dan sebelum turun dari bis, Sungmin membungkukkan tubuhnya pada sang supir. "Mianhae."

Kyuhyun tersenyum saat pintu bis terbuka dan Sungmin turun dari sana. Sungmin berjalan menghampiri Kyuhyun dengan kaki yang sengaja dihentak seperti tentara yang sedang baris-berbaris. Rasanya Sungmin ingin sekali menghajar Kyuhyun yang sedang tersenyum licik menatapnya.

"Astaga, kau ini sebenarnya mau apa sih?" Sungmin menahan marah, gemas, dan kesal sekaligus.

"Kuberitahu alasannya dalam perjalanan. Jadi sebaiknya kau cepat masuk, sebelum kita ditabrak bis itu," Kyuhyun menunjuk bis yang ada dipunggungi Sungmin dengan dagunya. Sungmin menoleh, kemudian ia menutup wajahnya seketika karena melihat tidak hanya supir bis yang melongokkan kepalanya di jendela, tapi beberapa penumpang lain. Dan tatapan mereka semua memang persis seperti orang-orang yang siap melakukan apapun, termasuk menabrak orang lain.

Tidak ada pilihan lain, mau tidak mau Sungmin harus mau. Akhirnya Sungmin memutar arah menuju kursi penumpang dengan wajah yang terus menunduk. Sekali lagi, Kyuhyun menampilkan senyumnya yang khas.

"Gomawo! Sampai jumpa," Kyuhyun malah melambai-lambaikan tangannya ke arah supir dan penumpang di dalam bis yang sekarang menatapnya dengan pandangan memaklumi.


"Jadi coba ceritakan, sebenarnya dia itu siapamu?" tanya Kyuhyun saat dirinya dan Sungmin sudah berada di mobil menuju perjalanan ke rumah Sungmin. "Dia terlihat sebagai bodyguard karena selalu berada di sekelilingmu. Atau jangan-jangan dia bayanganmu?"

Sungmin menoleh ke arah Kyuhyun yang sedang berkonsentrasi memperhatikan jalan yang lumayan ramai malam ini. Kyuhyun memperhatikan jalan tanpa menoleh pada Sungmin.

"Tentu saja dia produserku. Jangan mengatakan hal yang aneh-aneh tentangnya," nada suara Sungmin seperti mengancam.

Kyuhyun tersenyum kecut. "Sepertinya dia menyukaimu." Kyuhyun sedikit melirik ke arah Sungmin, gadis itu menundukkan kepalanya. "Atau jangan-jangan kau menyukainya?"

Sungmin menengadahkan kepalanya, ia menatap Kyuhyun sebentar, kemudian menunduk lagi. Kyuhyun tahu, Sungmin sedang tersipu.

"Kelihatannya kalian saling suka?"

"Itu tidak benar. Selama ini Yunho menganggapku hanya sebagai adik saja."

Kyuhyun menganggukkan kepalanya, memahami situasinya. "Rupanya penyiar yang cinta bertepuk sebelah tangan pada produsernya? Tebakanku tepat bukan?"

"A... Aku..." Sungmin tergagap. 'Sial, apa begitu mudahnya aku ketahuan?' Sungmin membatin.

"Aku tidak keberatan kau menyukainya atau tidak –bahkan aku tidak peduli. Tapi ingat, kau harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah kau lakukan, dan itu masih empat belas hari lagi," Kyuhyun mengingatkan tentang benang merah yang mengikat merah untuk dua minggu ke depan.

"Hei, kau..."

"Dan biasakan memanggilku Kyuhyun, akupun mulai sekarang akan memanggilmu, Sungmin," ujar Kyuhyun seenaknya.

Sungmin mendengus sebal. Kyuhyun memang suka seenaknya, dan untuk membantah pun rasanya Sungmin malas sekali.

"Hei," panggil Sungmin.

"Panggil aku Kyuhyun," tolak Kyuhyun, tidak menoleh.

"Hei, Kyu, sebenarnya kenapa kau memintaku menjadi kekasihmu. Kalau aku tebak, laki-laki playboy sepertimu pasti banyak menggoda yeoja dan menipu mereka dengan rayuanmu," ujar Sungmin menghakimi Kyuhyun secara sepihak.

Bukannya terkekeh, Kyuhyun malah tertawa. "Kau benar. Tapi aku hanya ingin memberimu sedikit pelajaran agar kau tidak sembarangan memberi nasihat. Lagipula sudah tidak ada waktu," Kyuhyun menggantung ucapannya.

Sungmin memiringkan tubuhnya dan menatap lurus Kyuhyun yang memperhatikan jalan. "Makusdmu tidak ada waktu?"

"Aku ingin membatalkan pertunanganku."

"Ooh.. Rupanya kau sudah punya tunangan?" Sungmin mengulang ucapan Kyuhyun tanpa sadar ada yang ganjil dalam kalimatnya. "Mwo? YAAAAAAAAAAAA!"

Teriakan Sungmin yang membahana mengagetkan Kyuhyun. Kyuhyun yang kaget menginjak rem dengan begitu mendadak, membuat tubuh keduanya terantuk ke depan dan kepala mereka membentur dashboard.


Kyuhyun mengangkat wajahnya yang baru saja mendarat di dashboard. Wajahnya memerah, dan bagian dahinya yang terantuk dashboard lebih merah lagi. Kyuhyun mengertakkan giginya, menahan emosi dan kekesalannya pada Sungmin. 'Gadis ini…'

"Yaa!" Kyuhyun membentak Sungmin sambil mengelus dahinya yang terasa nyut-nyutan. "Kenapa kau berteriak seperti melihat hantu begitu? Kau tahu itu sangat berbahaya, nyawa kita hampir melayang."

Sungmin tidak bergeming. Kepalanya masih tertunduk menyentuh dashboard mobil. "Lee Sungmin, hei…" Kyuhyun mendorong pelan tubuh Sungmin. Tapi Sungmin tetap diam. "Gwaenchana?"

Kyuhyun mengguncang pelan tubuh Sungmin dengan tidak sabaran. "Hei, kau baik-baik saja?"

terangkat. Dan menatap Kyuhyun yang menunggu reaksinya.

"OMO!" Jelas terlihat wajah Kyuhyun panik dan ketakutan. Persis seperti seseorang yang baru melihat raja dari rajanya hantu yang paling mengerikan di dunia. "Ka… kau…" Kyuhyun bergidik ngeri, tubuhnya merapat di kulit jok mobil hitamnya.

"Wae?" Sungmin membesarkan matanya.

"Darah. Kau berdarah." Kyuhyun menunjuk tepat di bagian tengah wajah Sungmin. "Hidungmu mengeluarkan darah."

Sungmin mengangkat tangannya. Perlahan mendekati bagian yang ditunjuk Kyuhyun. Lembab, basah. Dan karena begitu dekat dengan hidungnya, Sungmin bisa mulai mencium bau anyir yang menusuk.

Suasana hening terbangun seketika. Kyuhyun diam kaku. Sungmin diam dan mulai mencerna apa yang membasahi jari-jarinya.

"Aaaargghh…"


"Kau harus tetap menengadahkan kepalamu sampai darahnya benar-benar berhenti." Perintah Kyuhyun pada Sungmin.

Melihat hidung Sungmin yang mengeluarkan darah, Kyuhyun memutuskan untuk berhenti di sebuah apotek terdekat untuk membelikan kapas penghambat agar darah bisa berhenti mengalir. Kini, Kyuhyun dan Sungmin sedang berada di dalam mobil Kyuhyun dengan hidung Sungmin yang disumbat kapas.

"Kenapa aku begitu sial sih?" Kyuhyun mengeluh. Ia mengacak-acak rambutnya yang hitam legam. Tampangnya kusut persis seperti orang yang baru kehilangan pekerjaan.

"Mwo? Seharusnya aku yang berkata seperti itu," Sungmin membalas tidak mau kalah.

"Hei, kepalamu," Kyuhyun menahan kepala Sungmin agar tetap menghadap ke atas. "Setidaknya kau harus tetap seperti itu selama dua puluh menit agar pendarahannya berhenti."

"Bisa-bisanya kau berkata seperti itu, aku korbannya di sini," Sungmin sedikit berteriak dengan manambah lirikan tajam membunuh meskipun kepalanya tetap terangkat. Kebencian tampak jelas di wajahnya.

"Kau berteriak begitu kencang. Kau yang membuatku memberhentikan mobil dengan mendadak."

"Oh begitu menurutmu? Maaf kalau aku menginterupsi. Perlu kuingatkan bahwa sebelumnya kau sudah mencampuri urusanku, urusan pribadiku."

"Dan siapa yang membuat Yoona menjauh?"

"Ups."

"Hei, kepalamu!" Kyuhyun langsung menahan dagu Sungmin yang ingin menghadapnya. "… dan ingat, kau berhutang satu masa depan denganku."

Sungmin menahan dengusannya mengingat kapas yang menyumbat hidungnya bisa terlepas. "Kau punya tunangan, tapi kau malah menginginkan yeoja itu menjadi pacarmu. Kau memang pria buaya darat."

Senyuman itu. Senyuman paling menyebalkan yang pernah Sungmin lihat di muka bumi ini terlihat lagi di sudut bibir Kyuhyun. "Terserah kau mau bilang apa, aku sudah melakukan visum dan siap menyeretmu ke penjara…" Kyuhyun memajukan sedikit tubuhnya merapat ke tubuh Sungmin.

Dari sudut bawah matanya, Sungmin bisa melihat wajah Kyuhyun.

"Karena itu tetaplah jadi pacarku, sampai akhir bulan ini," lanjut Kyuhyun. Ia menyentuh dagu Sungmin seakan bisa mengetahui respon yang akan Sungmin berikan.


"Kepalamu. Setidaknya lima menit lagi."


TBC


Dear readers, maaf beribu maaf karena baru bisa update cerita. Aku lagi banyak kerjaan yang nggak bisa ditinggal. Sekali lagi maaf ya. *hoping*