You know I love you
Genre: Drama,Romance
Rating: NC 17
Cast: Jung Yunho,Kim Jaejoong,Jung Jinwoon,Kim Haneul,Han Hyunjung
Chapter 10 : We have each other
"Aah..eung..ahh ahh"
Jaejoong terus mendesah, merasakan nikmat yang teramat sangat pada tubuh bagian belakangnya. Ia kini duduk dengan lututnya diatas ranjang, tangannya memegang erat kepala ranjang yang menjadi satu-satunya pegangan untuk menahan tubuhnya atas desakan yang terus di lakukan oleh pria tampan di belakangnya. Yunho tetap fokus pada tusukannya dan tak jarang ia pun mendesah karena rasa nikmat pada kejantanannya.
"Akh akkh, Jae" Erang Yunho. Ia memeluk pinggang Jaejoong erat sambil bibirnya sibuk menghisap perpotongan leher Jaejoong, mencoba memberitahu pada pria manis itu kalau ia juga menikmatinya.
Ini sudah pukul 2 pagi dan mereka hanya istirahat beberapa menit sebelum melanjutkan ke ronde selanjutnya. Sebenarnya Jaejoong sudah sangat lelah, selain karena perjalanan panjangnya dari Seoul ke Paris tapi juga karena harus melayani pria tampan yang ia cintai itu.
.
.
.
.
Jaejoong banyak menguap pagi ini karena ia hanya tidur selama 3 jam,matanya yang agak susah terbuka itu terus bergerak mengikuti satu sosok yang sedang sibuk dengan masakannya,sedang ia tanpa niat membantu hanya duduk santai di kursi makan.
"Jae, kau tak berniat membantuku?" Tanya Yunho yang sibuk dengan wajan. Jaejoong menguap lagi. Bukannya menjawab ia malah meletakkan kepalanya di atas meja. Yunho hanya bisa menghela nafas. Ia maklum, semalam ia sudah memforsir tenaga Jaejoong.
"Kau boleh tidur setelah sarapan, Jae" Kata Yunho lagi, Jaejoong hanya bergumam.
"Aku belum terbiasa dengan jam Paris, seharusnya ini masih malam" Kata Jaejoong masih dengan mata terpejam. Yunho sudah berdiri di hadapannya dengan 2 piring spaghetty.
"Jangan mengeluh terus, cepat makan"
Jaejoong memaksa matanya terbuka walau masih sangat berat. Pandangan matanya bertemu dengan sosok Yunho yang tersenyum. Ia pun menyendokkan sesendok spagetty ke dalam mulutnya. Tak ada komentar,atau ia memang tak bisa melakukan itu?
"Aku tak belajar memasak dengan serius, jadi mungkin rasanya agak aneh" Kata Yunho sambil mengunyah makanannya. Ia tidak pernah peduli seperti apa rasa makanan yang ia masak.
"Aku memang lapar. Seseorang menguras tenagaku semalam" Kata Jaejoong santai. Yunho tertawa ringan.
"Itu karena kau yang menggodaku"
Setelah itu tak ada lagi yang bicara diantara keduanya, hanya menikmati sarapan mereka dengan tenang.
.
.
.
Setelah Jaejoong berusaha keras melawan kantuknya, ia memaksa Yunho untuk menemaninya berkeliling paris, walau Yunho sudah menolak tapi tetap saja tidak akan menang melawan Jaejoong.
"Kenapa jalanmu lambat sekali eoh?" Tanya Jaejoong kesal, ia merapihkan topi yang menutupi matanya, lalu kembali membidik sekelilingnya dengan kamera.
Yunho tetap berjalan santai di belakang Jaejoong, tidak berniat menyamai langkahnya dengan Jaejoong. Sesekali tersenyum memperhatikan tingkah Jaejoong yang menurutnya manis.
Saat ini di paris sedang musim dingin dan Jaejoong keluar dengan sweather bulu berwarna cream dan celana jeans berwarna hitam, di mata Yunho itu cukup menarik. Apapun yang Jaejoong lakukan, yang ia pakai, sangat menarik perhatiannya.
Yunho menajamkan pengelihatannya, melihat Jaejoong yang sedang berbicara dengan pria asing. Tampak Jaejoong tersenyum ramah menanggapi pria itu yang juga tersenyum padanya. Dengan langkah cepat ia menghampiri Jaejoong.
"Yah.." Jaejoong terkejut ketika Yunho menarik tangannya, membuat ia mundur kebelakang.
" Il faut quoi, monsieur? (Ada perlu apa, Tuan?)" Tanya Yunho ketus. Tangannya terus menggenggam tangan Jaejoong.
" Oh, désolé. Je pensais qu'il était seul. (Oh, maaf. Aku pikir ia seorang diri)" Pria itu menggaruk tungkuknya dan tersenyum canggung. Setelah pria itu pergi Jaejoong menghentakkan tangannya, membuat Yunho menoleh.
"Apa-apaan itu, Jung?!" Tanya Jaejoong kesal.
"Apa kau lihat pria itu menatapmu, seolah menelanjangimu?" Kata Yunho berlebihan.
"Cih, bilang saja kau cemburu padanya..dia memang lebih tampan darimu, jadi..."
Ucapan Jaejoong terhenti karena Yunho terlebih dulu membungkam bibirnya dengan bibir pria itu. Yunho mengulum bibir bawah Jaejoong, menyesap rasa manis yang ada di sana, sepertinya Jaejoong memakai lipblam rasa buah pagi ini.
"Ugh.." Mata Jaejoong terbelalak ketika ingat kalau saat ini mereka berada di pinggir jalan. Dengan cepat namun terlambat, Jaejoong mendorong tubuh Yunho, memaksa ciuman mereka terhenti.
Belum sempat Jaejoong bicara, Yunho meletakkan jarinya pada bibir pria itu.
"Kata tampan hanya perlu kau ucapkan untukku. Arasso?" Kata Yunho mutlak, lalu meninggalkan Jaejoong yang terdiam dibelakang.
"YAK!"
Yunho tersenyum sambil berjalan, mengabaikan Jaejoong yang berlari mengejarnya.
.
.
.
"Aku tidak menerima bantahan, blokir semua ATM atas nama anak itu!"
Setelahnya, Jinwoon membanting ponselnya dengan kasar. Ia baru saja melacak keberadaan Jaejoong yang memang benar bersama dengan Yunho dan itu tambah membuatnya geram. Ia kesal dan tak akan main-main dengan semua ini. Yunho secara tak langsung mengibarkan bendera perang di atas puncuk kepala ayahnya.
PRANG!
Jinwoon melempar bingkai foto yang ada di atas nakas kamarnya, foto Jaejoong berserakan di lantai. Pria setengah baya itu sangat kecewa dengan orang yang sangat di cintainya itu, tak menyangka kalau Jaejoong akan menghianatinya terlebih dengan anaknya sendiri.
"Kenapa, Jae? Kenapa kau melakukan ini padaku? KENAPA?!" Teriak Jinwoon, kaburnya Jaejoong membuat hati dan pikirannya kacau.
.
.
.
.
Pelayan itu kembali menggeleng pada Yunho. Jaejoong menarik-narik kaus yang Yunho pakai karena tak mengerti apa yang di maksud pelayan itu. Yunho menoleh dan menghela nafas. Saat ini mereka berada di toko perhiasan dan ketika akan membayar sebuah cincin yang Jaejoong pilih, semua ATM yang Yunho punya telah terblokir.
"Kita pulang, Jae" Yunho menarik tangan Jaejoong yang terus meronta, merasa heran karena mereka pergi tanpa membawa cincin kesukaannya.
"Hey, Yunho! Kau ini kenapa?" Tanya Jaejoong kesal. Mereka sudah berada di luar toko.
"Dengarkan aku" Yunho melihat langsung ke mata Jaejoong, "Semua ATM ku sudah terblokir"
"Hah? Kenapa bisa? Siapa yang melakukannya, Yun?"
"Siapa lagi kalau bukan Aboji"
Jaejoong cukup terkejut, tidak menyangka Jinwoon akan melakukan ini.
"Lalu?"
"Mungkin kau harus berhenti belanja" Kata Yunho cuek lalu berjalan meninggalkan Jaejoong. Apa? Berhenti belanja? Belanja adalah hidupnya!
"Yah, Yunho.."
.
.
.
Haneul terus mengeluarkan puppy eyes miliknya pada Hyunjung, berharap pria yang di cintainya itu menerima usulannya.
"Em..em" Hyunjung menggeleng, membuat Haneul mendesah kesal.
"Kau tega pada anakmu, Hyun!" Ketus Haneul. Ia merajuk sekarang.
Hyunjung tetap pada pendiriannya, tidak akan membantu Jaejoong dalam masalah ini. Tentu saja Haneul tidak setuju karena biar bagaimana pun Jaejoong tetap anaknya.
"Haneul ah, kau harus mengerti. Semua ini demi mereka" Kata Hyunjung dengan suara lembut. Haneul tetap diam, tidak setuju dengan kekasihnya.
"Tapi Jinwoon bisa melakukan segala cara dan Jaejoong akan menderita"
"Aku tahu, tapi aku ingin tahu seberapa kuat cinta mereka. Kalau pun bisa, kita akan membantu mereka di akhir walaupun tak banyak" Jelas Hyunjung. Haneul menatap sendu ke depan, memikirkan nasib anaknya yang mungkin akan buruk.
.
.
.
"Nomer yang anda tuju..."
Itu sudah kali kedua Jaejoong mendapat jawaban yang sama. Ia menelepon nomer ibunya tapi selalu tidak bisa. Tadi ia sudah mencoba menghubungi nomer rumahnya dan tidak ada yang mengangkat, itu membuatnya bingung karena walaupun ibunya tak ada pasti para pelayannya ada di sana.
"Bagaimana ini, Yun?" Tanya Jaejoong khawatir. Yunho juga tidak tahu apa yang harus di lakukan. Ia masih mempunyai uang tabungan lain, tapi itu hanya bisa untuk makan beberapa bulan.
"Tidak ada cara lain, aku akan bekerja" Jaejoong mendelik mendengar itu, apa Yunho sudah gila?
"Bekerja? Punya keahlian apa kau? Biar aku saja" Sergah Jaejoong, ia berdiri dari duduknya lalu melipat lengan kemejanya.
"Aku akan melukis" Kata Jaejoong kemudian, Yunho tertawa.
"Hah? Melukis? Di paris?" Kata Yunho tak percaya.
"Lukisanmu hanya jadi sampah. Pisaco dan da vinci lebih hebat darimu" Lanjut Yunho. Jaejoong merengut.
"Lalu aku harus apa? Menjual tubuhku?" Tanya Jaejoong asal. Yunho jelas tidak suka dengan itu.
"Aku akan bertanya pada Emma, aku rasa dia punya pekerjaan untukku"
Mendengar nama Emma membuat Jaejoong kesal, "Kenapa harus dia?"
"Dia seorang dokter di sini, mungkin dia bisa membantu kita"
"Maksudku, dari sekian banyak orang di dunia ini, kenapa harus Emma yang kau tanyai?" Kesal Jaejoong. Yunho menghela nafas. Jaejoong masih saja tak suka pada sahabatnya itu.
"Ini bukan waktunya cemburu, Jaejoong"
"Aku tak cemburu" Bantah Jaejoong.
"Kau cemburu!"
"Tidak!"
"Cemburu!"
"Tidak, Yunho"
"Cemburu kan?"
"IYA AKU CEMBURU, PUAS?!" Teriak Jaejoong, nafasnya tersengal saking kesalnya.
Yunho tersenyum, dengan lembut ia menarik tangan Jaejoong, mendudukkan pria itu di pangkuannya. Jaejoong hanya diam, kini wajah mereka sejajar. Jaejoong melihat langsung ke bola mata Yunho, begitu pun sebaliknya. Yunho masih tersenyum lembut.
"Jae, kau tahu..aku menyimpan perasaan ini sangat lama, dari dulu hanya kau yang terlihat dimata ku, lalu kau bisa berfikiran cemburu pada Emma?" Kata Yunho. Jaejoong cukup terkejut.
"Maksudmu?"
"Perasaanku masih sama seperti 3 tahun lalu"
Jaejoong mengerti maksud Yunho, ia pun tersenyum.
"Perasaan yang mana?" Tanya Jaejoong pura-pura. Yunho menyatukan kening mereka.
"Aku mencintaimu" Kata Yunho tulus. Mereka berdua tersenyum, lalu entah siapa yang mulai, kedua bibir mereka sudah menyatu, saling melumat dan menyesap. Yunho terus membelit lidah Jaejoong, menukar saliva mereka.
Sepertinya mereka lupa dengan musibah yang sedang menimpa mereka. Jaejoong harus kembali membuka lebar kakinya untuk Yunho.
.
.
.
Emma menatap bergantian pada Yunho dan Jaejoong yang ada di depannya, lalu menggelengkan kepala. Yunho baru saja menjelaskan semuanya dan itu membuat Emma menarik nafas berulang kali. Ia sudah peringatkan Yunho dari dulu, tapi ia hanya di anggap angin lalu.
"Lalu kau memintaku membantu kalian?" Tanya Emma kesal. Yunho tersenyum canggung. Sebenarnya ia merasa tak enak jika harus melibatkan Emma dalam masalah ini, tapi hanya wanita itu yang bisa membantunya.
Emma kemudian merogoh tas kecil miliknya untuk mengambil ponsel, mencoba menghubungi kekasihnya. Selagi Emma sibuk menelepon, Jaejoong menarik-narik sweather yang di pakai Yunho.
"Yunho, apa Emma mau membantu kita?" Tanya Jaejoong sambil berbisik. Yunho hanya tersenyum dan itu bukan jawaban yang Jaejoong minta.
"Yunho" Emma memanggil Yunho setelah menyudahi pembicaraan melalui telepon.
"Kau pernah bercerita padaku tentang keahlianmu dalam aikido, jadi apa kau bisa menunjukkannya? Kau akan di bayar untuk itu" Kata Emma kemudian. Yunho terkejut sedangkan Jaejoong tidak mengerti.
"Tapi itu sudah sangat lama, Em. Mungkin aku sudah tak ahli"
"Kau selalu saja pesimis. Bersemangatlah untuk pria mu itu" Kata Emma sambil menunjuk Jaejoong.
'Sepertinya aku harus belajar bahasa prancis' Tekad Jaejoong dalam hati.
"Lalu apa maksudmu dengan itu? Apa yang Albert bilang?"
"Kau lupa kalau ayahnya mempunyai club bela diri!"
"Ah" Yunho ingat, dulu saat baru mengenal Albert mereka pernah menunjukkan keahlian aikido.
"Jae, kau hanya perlu duduk manis di rumah" Kata Yunho pada Jaejoong, walau tak mengerti ia tetap saja mengangguk.
.
.
.
Hyunjung meletakkan cangkir kopinya keatas meja, lalu menatap serius kearah depan, tepat kearah orang yang ia anggap sahabat.
"Kenapa kau ingin menemui ku? Apa tentang Jaejoong?" Tanya Hyunjung langsung.
"Hyunjung, bisakah kau meminta putra mu untuk pulang? Dia tidak akan bahagia bersama Yunho" Kata Jinwoon. Hyunjung menghela nafas, sahabatnya ini memang keras kepala.
"Kau seolah tahu segalanya, Jinwoon. Tapi kau tak tahu bagaimana perasaan kekasih mu? Tsk" Kata Hyunjung sedikit meledek. Jinwoon meremas serbet di atas meja.
"Jaejoong memang anakku, tapi kekuasaanku hanya sebatas itu. Aku tak bisa memaksanya untuk bersamamu"
"Tapi aku bisa memberikan segalanya pada anakmu, cinta, harta, kepuasan" Kata Jinwoon agak memaksa.
"Tidak semudah itu-"
"Kenapa kau sama sekali tak mendukungku? Aku sahabatmu!" Potong Jinwoon dengan nada tegas.
Srek
Jinwoon bangun dari duduknya, "Untuk ini aku tak bisa membantumu" Katanya sebelum pergi. Jinwoon semakin keras meremas serbet yang dari tadi ia genggam.
.
.
.
.
"Pegang pergelangan tangan lawan lalu mutar kearah belakang tubuhnya seperti ini.." Kata Yunho menjelaskan cara mempertahankan diri dari serangan pada murid club aikido milik ayah Albert.
"Yunho keren yah" Kata Emma dalam bahasa inggris pada Jaejoong yang duduk disampingnya. Jaejoong hanya mengangguk sambil tersenyum, kemudian melihat kearah Yunho yang sedang mempraktekkan gerakan aikido lainnya. Yunho memang sangat keren saat sedang serius seperti itu.
Mereka berdua duduk berdampingan di tribune penonton pada lapangan voli tempat club latihan, Emma datang untuk melihat Albert dan Yunho, sedang Jaejoong hanya Yunho saja.
"Kau tahu dia sangat mencintaimu?" Tanya Emma, Jaejoong menoleh.
"Dia sering bercerita tentangmu, sepertinya dia tergila-gila padamu" Kata Emma lagi. Jaejoong tidak sepenuhnya mengerti perkataan Emma tapi ia bisa menangkap maksudnya. Wajahnya sedikit bersemu. Ternyata perasaan mereka saling berbalas dan pernyataan Yunho waktu itu memang benar.
"Hei" Panggil Yunho dari bawah, Jaejoong dan Emma melihat padanya. Yunho tersenyum lalu menyuruh Jaejoong turun. Sambil tersenyum Jaejoong pun berjalan menghampirinya.
"Daripada kau duduk di situ memperhatikan wajah keren ku, lebih baik kau memasak untukku di rumah?" Kata Yunho dengan senyum menggoda pada Jaejoong. Jaejoong terdiam bingung. Mendengar kata memasak membuat Jaejoong berfikir lebih keras. Ia tidak pernah melakukan kegiatan yang bernama memasak.
"A-apa? Me-masak?" Jaejoong bergumam.
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa memasak" Kata Jaejoong membuat Yunho tertawa.
"Hah? Kau itu dalam posisi wanita dalam hubungan kita, tapi kenapa tidak bisa memasak?"
Mendengar ucapan Yunho itu membuat Jaejoong kesal. Dia? Wanita? Yang benar saja.
"Oke. Aku akan memasak untukmu, Tuan Jung" Kata Jaejoong tegas lalu mendorong dada Yunho supaya memberinya jalan.
Dengan tersungut-sungut Jaejoong keluar dari gedung itu. Di tempatnya Yunho hanya tertawa melihat tingkah Jaejoong yang menurutnya lucu.
"Dia pria yang manis" Kata Emma yang sudah berdiri tak jauh dari Yunho. Yunho tersenyum sambil mengangguk.
"Apa kalian akan begini selamanya? Ayahmu sudah berbuat hal seperti menyetop uangmu, dan pasti akan ada hal-hal lainnya. Kau tak takut?"
"Takut? Tentu saja, tapi aku tidak akan melepaskan Jaejoong dengan mudah"
"Walau itu untuk ayahmu sendiri? Orang yang telah berkorban banyak untukmu?" Lanjut Emma, dan pertanyaan kali ini lebih membuatnya berfikir.
'Apakah bisa?' Tanya Yunho pada dirinya sendiri.
.
.
.
TBC
Aku tahu chap ini pendek, tapi hanya ini yang bisa aku tulis untuk chap ini. Ada satu hal yang buat moodku buruk hingga malas untuk mengetik ff.
Adakah yang galau setelah tahu jaejoong mau wamil tahun depan? Kalau ada berarti kita sama ^^
Selain jaejoong biasku, dia juga alasan aku buat jadi shipper..yah gitulah #jadicurhat
Gimana pendapat kalian tentang chap ini? Mianhae kalau ada yang kecewa. Hehe. Tapi jangan lupa reviewnya ya ^_^
