You know I love you
Genre: Romance
Rating: NC 17
Cast: Jung Yunho, Kim Jaejoong, Jung Jinwoon and other
Warning : Boys love/yaoi, aneh, ajaib dan bikin galau :-p
Chapter 11
Jaejoong menghela nafas setelah selesai memakai apron milik Yunho. Otaknya benar-benar kosong, tidak tahu harus memasak apa. Karena ia memang tak bisa memasak kecuali menggoreng telur.
"Lebih baik ia menyuruhku untuk memuaskannya diranjang, daripada di meja makan" Gerutu Jaejoong sambil membuka kulkas. Disana ada 1 potong ayam, telur dan beberapa minuman beralkohol.
Ia menjentikkan jarinya ketika sebuah ide cemerlang terlintas di otaknya. Ia lalu berjalan kekamar dan keluar dengan membawa laptop milik Yunho. Di bukanya browser internet dan mulai mencari resep makanan yang enak.
Matanya sibuk menelusuri halaman web tentang berbagai resep makanan. Ia tidak tahu makanan seperti apa yang Yunho suka. Ia bisa saja membuatkan Yunho makanan prancis tapi di kulkas tak ada bahan makanannya.
Ia tersenyum ketika menemukan resep makanan korea yang ia sukai. Ibunya sering membuatkan makanan itu ketika tinggal di seoul untuk waktu yang lama.
"Yosh! Kim Jaejoong, kamu pasti bisa!" Katanya menyemangati diri sendiri.
Laptop milik Yunho ia letakkan di atas counter dapur. Ia mulai mencuci ayam yang di ambilnya dari kulkas, dengan terlebih dulu memakai sarung tangan. Wajahnya terlihat serius ketika membersihkan ayam yang memang sudah bersih itu.
Setelah selesai ia kembali melihat laptop untuk mengetahui langkah selanjutnya.
"Hm, gingseng? Aish aku lupa, disini kan tidak ada gingseng" Gumamnya. Ia membuka semua laci yang ada di dapur berharap menemukan yang ia cari. Lalu matanya secara tak sengaja menemukan sebuah toples di dalam kulkas yang berisi benda yang ia perlukan. Merasa heran kenapa benda itu ada di sana.
"Ah, tak penting" Ia melanjutkan kegiatannya, mengikuti langkah-langkah yang tertulis di dalam web itu.
.
.
.
Yunho baru saja selesai mengajar murid-muridnya di hari pertama. Ia cukup lelah karena sudah lama tidak melakukan kegiatan seperti tadi. Ponsel yang sedang di pegangnya berbunyi, terdapat nama Jaejoong disana.
"Yunho, kau sudah selesai? Cepatlah pulang" Kata Jaejoong setelah Yunho menjawab ponselnya.
Yunho menyeringai, "Apa kau begitu merindukanku?" Tanya Yunho dengan nada menggoda. Jaejoong berdecak sebal di tempatnya.
"Aku membuatkan makanan spesial untukmu"
"Wah, apa itu?"
"Cepatlah pulang kalau kau ingin tahu!" Tanpa membiarkan Yunho menjawab, Jaejoong menutup ponselnya.
Yunho hanya menggelengkan kepalanya, merasa lucu dengan tingkah kekasihnya itu.
.
.
.
"Tada~ sup ayam gingseng buatan Kim Jaejoong yang tampan ini" Seru Jaejoong dengan riang, senyum tak lepas dari bibirnya. Yunho pun ikut tersenyum. Wajah Jaejoong begitu lucu saat mengatakannya.
"Wah, biar aku coba..." Yunho menarik kursi makan lalu duduk di sana, berbinar melihat sup yang tersaji di dalam mangkuk yang ada di depannya.
"Nah, silahkan di makan, Tuan Jung" Kata Jaejoong. Yunho ingin segera menyicipi sup itu, tapi perhatiannya terarah pada sosok Jaejoong yang berdiri di sampingnya.
Yunho menyeringai, "Kau lebih indah lagi ketika tidak memakai apa-apa selain apron itu" Kata Yunho sambil menunjuk-nunjuk perut Jaejoong. Refleks Jaejoong menutupi bagian yang di tunjuk Yunho.
"Yak! Cepat makan!" Jaejoong memukul tangan Yunho, sedang Yunho hanya tertawa.
Pada suapan pertama, raut wajah Yunho tidak menunjukkan ekspresi apapun, lalu pada suapan yang kedua, wajah Yunho mengernyit merasakan rasa aneh di lidahnya.
"Uhuk...uhuk..."
"Yu..Yunho" Jaejoong segera mengambil minum untuk Yunho yang terus terbatuk.
"A-apa rasanya aneh?" Tanya Jaejoong agak takut. Yunho sudah berhasil menghentikan batuknya.
"Aku pernah memakan sup dengan jenis yang sama, tapi seingatku rasanya tidak seperti ini" Kata Yunho. Jaejoong tak pernah terganggu ketika orang secara tak langsung menyakitinya, tapi tidak ketika oleh Yunho. Ia hampir menangis.
"Mi-mian, kau bisa memesan makanan di luar. Aku akan membereskan ini" Kata Jaejoong dengan suara lemah. Ia tidak melihat pada Yunho, sampai tiba di dapur sambil membawa mangkuk sup.
Yunho melihat kearah Jaejoong yang membuang sup itu ke saluran pembuangan. Ia merasa bersalah telah mengatakan hal seperti tadi, seharusnya ia terus memakan sup itu walau rasanya tak enak.
Perlahan Yunho berjalan kearah Jaejoong yang sedang mencuci mangkuk bekas sup, meletakkan kedua lengannya di pinggang Jaejoong, menyandarkan tubuh pria itu padanya. "Aku tak bermaksud menyakitimu, Jae" Katanya dengan lembut.
"Tidak, Yun. A-aku..." Suara Jaejoong bergetar. Ia langsung berbalik dan memeluk Yunho. Suara isakan terdengar dari mulut Jaejoong. Yunho menenangkan Jaejoong dengan mengusap punggungnya.
"Seharusnya aku tahu kalau aku tidak bisa menjadi pasangan yang baik untukmu hiks, aku hanya akan menyusahkanmu" Kata Jaejoong.
Yunho tersenyum tipis, "Seharusnya aku yang berkata seperti itu. Aku bukan pria yang bisa membahagiakanmu dengan harta, tapi aku punya cinta yang lebih berharga dari itu"
Jaejoong merasakan dadanya berdesir mendengar Yunho mengatakan itu. Ia tahu Yunho tak bisa memenuhi kebutuhannya yang terus melekat di hidupnya yaitu kemewahan, tapi dengan berada di sini bersama Yunho berarti ia sudah memutuskan melepaskan segala kemewahan itu. Ia sudah memikirkannya matang-matang, ia hanya butuh Yunho.
Yunho melepas pelukan Jaejoong lalu menghapus airmata di pipi Jaejoong, "Kau tahu, Jae. Aku akan berjuang untukmu, mempertahankanmu sebisa ku" Kata Yunho.
Mereka saling menguatkan saat ini, tapi apakah akan selamanya? Mengingat seseorang akan bertindak lebih dari memblokir ATM.
.
.
.
Yunho mengerutkan keningnya ketika dosen pembimbing yang ia temui siang ini mengatakan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehnya.
"Maaf, Yunho. Skripsi yang kau susun tidak lulus kriteria, dan itu di nilai oleh beberapa dosen selain aku"
Dan kata-kata itu mematahkan harapannya untuk lulus kuliah tahun ini.
"..Tapi kau bisa kembali mengikutinya tahun depan, sama seperti teman-teman mu yang lain"
Yunho tahu itu, tapi perjuangannya untuk lebih unggul dari yang lain akan menjadi sia-sia.
Dosen pembimbing itu menepuk bahu Yunho, meski tak membantu apapun tapi itu sebagai bentuk perhatian terakhir. Yunho berjalan lunglai di sepanjang lorong Universitasnya, yang membuatnya sedih adalah membayangkan wajah Jaejoong nanti.
Tadi sebelum ia berangkat ke Universitas, Jaejoong memberinya semangat dengan wajah riang berharap ia mendapatkan kabar yang membahagiakan.
"Mianhae, Jae"
.
.
.
Yunho pulang dengan menaiki sebuah taksi. Sepanjang perjalanan ia memikirkan apa langkah selanjutnya yang ia tempuh. Ia tidak bisa membiarkan Jaejoong ikut kedalam penderitaan yang seharusnya hanya miliknya. Ia sangat mencintai pria itu dan cinta untuknya tidak harus memiliki. Tapi apakah ia bisa menjalani semua ini tanpa Jaejoong?
"Tuan, apa kau sudah membaca koran hari ini?" Tanya si supir taksi membuat Yunho mengalihkan perhatiannya pada pria berusia tengah baya itu. Yunho menggeleng, ia tidak sempat untuk membacanya.
Supir itu tersenyum lembut, Yunho bisa melihat itu dari pantulan kaca mobil.
"Seorang wanita terbunuh oleh calon suaminya hanya karena wanita itu lebih mencintai orang lain selain tunangannya"
"Kadang cinta bisa membuat kita mampu melakukan hal yang menurut kita gila tanpa mempertimbangkan mana yang baik dan mana yang buruk, tapi mati karena cinta yang suci jauh lebih indah daripada mati karena dendam" Supir taksi itu terus berbicara. Yunho tahu kalau supir itu bisa menebak apa yang sedang ia pikirkan tapi tak menyangkan contoh kasusnya sama seperti yang ia alami, dan tentunya ia tidak mau kisah cintanya berakhir seperti itu hanya karena keegoisan. Ia tidak ingin melihat Jaejoong menderita jika terus memaksakan diri bersama dengannya.
Yunho kembali pada pemikirannya. Ia harus melakukan sesuatu yang memang sudah ia lakukan dari dulu. Jaejoong mungkin akan menangis tapi nanti ia akan tersenyum cepat atau lambat.
.
.
.
.
Jaejoong sibuk dengan ponselnya yang dari tadi mencoba menghubungi ibunya. Sepertinya sang ibu benar-benar sudah mengganti nomer hp. Jika saja ia punya nomer ponsel Hyunjung, ia bisa menghubungi pria itu.
"Aish" Gerutunya. Ia menelepon ke rumahnya pun tidak ada jawaban, kalau pun ada hanya mesin penjawab otomatis.
"Omoni~ kau tega membiarkan anakmu ini menderita . . ." Katanya seolah pada Haneul.
Jauh di seoul, Hyunjung memegang gagang telepon rumah Haneul setelah tadi terdengar bunyi telepon dan ketika di lihat ada nomer Jaejoong di sana. Ia melakukan itu jika Jaejoong menelepon lagi maka akan terdengar nada sibuk.
"Kau jahat sekali, Hyun!" Kata Haneul yang berdiri di sampingnya sambil terus mencubit tangan Hyunjung.
Hyunjung tidak mempedulikan rengekan orang yang ia cintai itu, "Ini hanya akan menjadi shock terapi untuknya, tidak akan sampai membunuh"
"Iya, tapi dia anak kita. Aku bersamanya sejak lama, dan aku tak bisa diam saja"
"Aku tahu, Haneul ah. Aku tahu yang terbaik untuk anakmu. Dia sudah besar dan ini keputusannya, ia tidak bisa melakukannya setengah-setengah" Jelas Hyunjung panjang lebar. Sebenarnya Haneul mengerti maksud Hyunjung, tapi naluri keibuannya mendesaknya untuk membantu Jaejoong.
Jinwoon memang bukan orang yang jahat, tapi semua orang yang kecewa pasti bisa menjadi jahat tiba-tiba.
.
.
.
Jinwoon sedang menyusun berkas-berkas yang baru ia terima dari sekretarisnya, ketika ponselnya berdering. Terdapat nama orang yang sudah lama di kenalnya. Ia menjawab telepon itu tanpa bersuara, mencoba mendengar apa yang akan di ucapkan oleh anaknya pertama kali.
"Aboji..aku tahu kau membenciku, tapi bisa tidak kau jangan melibatkan Jaejoong?" Tanya Yunho. Ia tahu ayahnya tak mau bicara dengannya, tapi ia hanya berusaha. Ia melakukan ini demi Jaejoong, takut nanti ayahnya akan melakukan hal yang lebih dari ini.
"Suruh dia pulang, lalu lupakan dia" Kata Jinwoon lalu menutup teleponnya. Yunho terdiam di tempatnya.
Taksi yang di naiki Yunho berhenti di depan apartemennya. Setelah membayar ia langsung menuju ke dalam gedung. Ia masih menggunakan fasilitas yang di berikan ayahnya, cepat atau lambat ia harus meninggalkan semua itu. Dan yang menjadi pikirannya, apa Jaejoong mau meninggalkan semuanya. Ia jadi semakin ragu untuk itu.
"Yunho~" Jaejoong menyambut Yunho begitu membuka pintu. Wajah pria itu berbinar. Ia berfikir kalau Yunho sudah lulus, akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan yang bagus.
Yunho hanya tersenyum tipis, setelah mengecup bibir Jaejoong, mereka berdua masuk kedalam. Jaejoong merasa aneh dengan sikap Yunho yang tak bersemangat, bukankah sebelum pergi tadi wajah itu sama riang dengannya?
"A-apa ada hal yang terjadi?" Tanya Jaejoong ragu. Yunho memegang bahu Jaejoong, menatap mata bulat kekasihnya itu.
"Aku tidak lulus, Jae. Aku tidak ada gunanya sekarang" Kata Yunho. Jaejoong membulatkan matanya, bagaimana Yunho bisa tidak lulus, padahal setahunya Yunho termasuk siswa yang pandai, bahkan di tahun ketiganya saja ia bisa ikut ujian akhir.
"K-kenapa?"
Yunho menggeleng, "Besok kau harus pulang ke Seoul" Kata Yunho dan itu lebih membuat Jaejoong shock.
"Ma-maksudmu?"
"Ya, aku tidak bisa membawamu kedalam penderitaanku, jadi lebih baik kau pulang dan menikahlah dengan Aboji"
Jaejoong menggeleng lalu menjauhkan diri dari Yunho, "Jadi kau merelakanku dengan Jinwoon, dan membiarkan aku bahagia diatas airmata?" Tanya Jaejoong. Ia tidak habis pikir Yunho mengatakan hal seperti itu setelah apa yang sudah ia lakukan untuk pria itu.
"Aku mencintaimu, bukan Jinwoon. Tidak ada yang bisa mengubah itu selain aku" Lanjutnya. Yunho tak tahu harus berkata apa, ia juga tidak ingin seperti itu, tapi hanya ini satu-satunya cara.
"Oleh karena itu, benci lah aku. Anggap aku pria menjijikkan, miskin dan jelek"
Jaejoong tersenyum meremehkan, "Kau sedang mengujiku 'kan, Yun?" Lalu mendekat kearah Yunho, mencengkram kerah kemejanya.
"Aku pria bebas, Jung Yunho. Tidak ada yang bisa mengaturku termasuk kamu" Kata Jaejoong dengan berapi-api.
"Kau mau menyerah dan menyuruhku memilih orang yang tidak aku cintai, setelah apa yang kita lakukan? Kau bodoh!" Airmata mengalir dari kedua mata indahnya. Ia benci menangis. Sejak ibunya memukulnya karena terus bertanya tentang siapa ayahnya, ia tidak membiarkan airmata mengalir membasahi pipinya. Tapi sekarang, ia tidak bisa menahan lagi. Dadanya terisi penuh dengan gemuruh angin, membuatnya sesak dan menyebabkan ia ingin menangis.
Yunho menarik Jaejoong kedalam pelukannya, "Mianhae, Jae. Mungkin kita tidak berjodoh" Jaejoong menangis semakin keras setelah mendengar itu. Yunho menyuruhnya menyerah Juga, memaksanya memilih orang yang tidak dia inginkan.
Mungkin beginilah akhir dari kisah mereka.
.
.
.
Bandar udara Charles de gaulle pagi ini begitu ramai, mungkin di karenakan hari minggu dan banyak orang pergi berlibur menggunakan pesawat.
Yunho dan Jaejoong sudah tiba di sana sekitar setengah jam yang lalu, tengah berada di ruang tunggu terminal keberangkatan. Sejak semalam Jaejoong tidak berbicara pada Yunho, dan Yunho hanya berbicara seperlunya. Mereka tampak canggung seolah-olah tidak saling mengenal. Tentu saja Jaejoong kecewa pada Yunho, semalaman ia di kamar mandi, menangisi keadaan yang tengah ia alami. Yunho tahu itu, mendengar isakan sedih yang di keluarkan kekasihnya, tapi ia menulikan pendengarannya dan tak berniat menarik kata-katanya kemarin. Semua ini demi kebaikan mereka.
Jaejoong tak melihat kearah Yunho yang duduk di sampingnya. Ia hanya melihat kearah orang yang berlalu lalang. Ia merasa sedih di tambah melihat banyak pasangan yang saling bergandengan, tampak mesra dan ia ingin seperti itu.
"Jae" Panggil Yunho. Jaejoong tidak menoleh padanya, ia mengambil tangan Jaejoong dengan paksa, meletakkan sebuah benda yang ia beli kemarin.
Jaejoong melihat pada tangannya, sebuah kalung berbandul rosario berwarna merah ada di sana. Yunho tersenyum. Ia membeli itu kemarin saat melewati toko perhiasan. Ia ingin memberikan itu sebagai kenangan terakhir darinya.
"Harga kalung itu memang tidak seberapa, tapi ia akan indah berada di lehermu" Kata Yunho. Jaejoong merasakan dadanya sakit.
"Pesawat jurusan Seoul, akan berangkat 15 menit lagi..." Pemberitahuan itu membuat Jaejoong berdiri. Ia mengambil tas dan kopernya, berjalan tanpa mempedulikan Yunho. Baru beberapa langkah, ia merasakan pelukan di punggungnya.
"Jaejoong ah, saranghae" Kata Yunho, mencium bahu Jaejoong lalu melepaskan pelukannya. Ia sudah merelakan Jaejoong dan inilah cara yang ia pilih.
Jaejoong meneruskan langkahnya, dengan berat ia mencoba tidak menoleh. Ia tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa Yunho, dan ia akan menjalaninya nanti setelah tiba di Seoul.
Ia hanya diam, menangisi nasib cintanya.
.
.
.
Jaejoong menangis dalam diam di pesawat. Ia ingin sekali berteriak sekencangnya agar sesak didadanya bisa hilang. Ia berharap saat bangun pagi tadi semua yang ia dengar dari Yunho itu hanya mimpi buruk. Ia ingin semuanya tidak berjalan seperti ini, padahal ia sudah menyusun segala rencana dan mempersiapkan dirinya untuk hidup bersama Yunho dengan segala kekurangan, bukan mempersiapkan diri untuk menerima kenyataan yang menyakitkan ini.
Beberapa jam kemudian Jaejoong tiba di Seoul. Ia langsung pulang kerumahnya, sangat lelah setelah perjalanan dari paris ke seoul yang cukup jauh. Ia mengejutkan kedua orang tuanya yang sedang berbicara di ruang tamu.
"Joongie ah" Panggil Haneul ketika Jaejoong terus berjalan tanpa menyapanya. Ia akan mengejar Jaejoong tapi tangan Hyunjung menahannya.
Hyunjung menggeleng, memberitahukan pada Haneul untuk tidak mengganggu Jaejoong. Haneul kembali melihat pada Jaejoong yang sudah tak terlihat.
.
.
.
Jinwoon berbinar melihat ponselnya berkedip terlihat nama Jaejoong. Tanpa menunggu lagi ia menjawabnya.
"Yeoboseyo"
"Jinwoon ah, kapan kau akan menikahiku?" Tanya Jaejoong langsung. Nada suaranya terdengar dingin. Jinwoon merasa keberuntungan sedang berpihak padanya.
"Kapanpun kau siap, Baby" Kata Jinwoon lembut.
.
.
T
B
C
.
.
Ingat ini bukan ff angst. Hehe #timpukdirisendiri
Aku suka sama chapter ini, yang mungkin menurutku ini keputusan berat buat Yunho. Apakah alurnya terlalu cepat? Sengaja deh biar ff ini gak panjang kayak sinetron, mungkin 3 chapter lagi tamat. Yey!. Setelah itu aku menyelesaikan ff yang lain.
Mau jawab review tapi waktuku gak cukup, lagi banyak masalah di dunia nyataku jadi maaf kalau updatenya sedikit dan lama.
Terima kasih buat yang mau susah-susah review di ff yang jauh dari kata sempurna ini. Dan terima kasih juga buat silent reader (pengagum rahasia).
Jangan lupa reviewnya ya ^_^
