You know I love you
Genre: Romance, little hurt
Rating : Nc 17
Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Jung Jinwoon and other
Chapter 12 : when we're apart
*iklan* buat yang tanya Jinwoon itu ada gak, ya dia member 2AM ^_^ anggap aja dia udah tua. Hehe
.
.
.
Haneul menatap khawatir kearah anaknya yang dari tadi tak semangat mengaduk-aduk makanan. Jaejoong cukup pucat 2 hari ini, tepatnya setelah ia pulang dari paris. Anaknya itu pun tak bicara banyak seperti biasa. Entah apa yang telah terjadi, tidak mungkin 'kan Jaejoong marah padanya?
"Joongie, kau ke kampus 'kan hari ini? Cepat selesaikan sarapanmu" Kata Haneul. Tangan Jaejoong berhenti mengaduk, lalu melepaskan sendok yang ia pegang begitu saja, sampai terdengar dentingan. Tanpa bicara, ia berdiri lalu mengambil tasnya di atas meja dan berbalik pergi. Haneul merasakan kalau yang sedang berjalan menjauhinya bukan anaknya. Haneul menggigit bibir bawahnya, ia harus memberitahu Hyunjung tentang ini.
.
.
.
Junsu terus mengejar Jaejoong yang tidak berhenti sedikit pun, padahal ia sudah memanggil dari tadi. Jaejoong berjalan cepat kearah kelasnya, di ikuti oleh Junsu yang terengah-engah.
Setelah kelas usai, ponsel milik Jaejoong bergetar, terdapat nama Jinwoon di sana.
"Yeoboseyo" Jawabnya.
"Baby, bagaimana kalau malam ini kita pergi ke club langganan kita?" Kata Jinwoon dengan riang, jelas sekali kalau saat ini ia sedang bahagia.
"Ne" Jawab Jaejoong tak bertenaga.
"Baiklah, nanti aku akan menjemputmu"
Click
Jaejoong memutuskan sambungan terlebih dahulu. Ia sangat malas bicara lama dengan mantan kekasihnya itu. Ia melihat pada layar ponselnya yang menyala, terdapat wajah Yunho di sana. Ia melihatnya lama sampai layar itu mati. Ia ingin menangis, tapi tidak bisa. Airmatanya sudah habis.
"Hyung, wajah patah hati mu itu begitu mengkhawatirkan" Kata Junsu yang dari tadi duduk menghadapnya. Jaejoong melihat pada sahabatnya itu.
"Junsu ah, kau tahu kalau Yoochun itu miskin?" Tanya Jaejoong tiba-tiba. Junsu terhenyak. Ia tahu itu, Yoochun hanya seorang broken home yang bekerja sebagai pelatih anjing laut.
"Jika suatu hari ada orang-orang yang tidak menyukai hubungan kalian, apa kalian akan berpisah atau memilih tetap bersama?"
Junsu bingung harus menjawab apa, "Tapi kalau kalian harus berpisah, bagaimana?" Jaejoong terus bertanya dengan menggebu dan wajah yang penasaran.
"Berarti kami bukan jodoh" Jawab Junsu asal.
'Kita memang tak berjodoh' Jaejoong terhenyak, Yunho juga pernah mengatakan itu.
Jaejoong menunduk lesu, ia benar-benar merindukan Yunho.
.
.
.
"Bagaimana ini, Hyun? Aku takut anak kita frustasi lalu bunuh diri?"
Haneul terus merengek sejak setengah jam yang lalu menarik kerah baju Hyunjung dan bertanya dengan nada khawatir yang berlebihan.
"Tenanglah, biar dia menyelesaikan urusannya sendiri. Aku tahu dia anak yang kuat" Kata Hyunjung. Ia tetap bicara dengan tenang, karena ia percaya semua akan berakhir bahagia.
"Cih, kau terlalu santai menghadapi perkara cinta anakmu" Kata Haneul kesal. Ia membelakangi Hyunjung yang tertawa. Pria berusia hampir setengah abad itu menarik tubuh kekasihnya hingga menempel padanya. Haneul diam saja di perlakukan begitu, tentu saja karena itu bentuk kemesraan mereka.
"Baby, tak apa kan menunda pernikahan kita?" Tanya Hyunjung. Haneul memainkan tangan pria yang di cintainya itu, lalu menggeleng.
"Anak kita lebih penting. Dia sedang dalam masa sulit, seperti kita dulu"
"Ya, cinta segitiga itu memang rumit" Timpal Hyunjung. Haneul mengingat betapa liciknya dulu, membuat Hyunjung menidurinya lalu berniat memaksa pria itu menikahinya, padahal Hyunjung sangat mencintai minhwa.
Haneul merasa posisi Jinwoon adalah dirinya dulu, meski pada akhirnya jelas berbeda. Hyunjung mencintainya, tapi apakah Jaejoong bisa mencintai Jinwon? Jelas ada perbedaan antara dulu dan sekarang.
Haneul hanya berdoa, semoga anaknya mendapat yang terbaik.
.
.
.
Jaejoong duduk di beranda kamarnya, menghisap sebatang rokok yang asapnya mengepul. Kadang ia memejamkan matanya ketika angin berhembus. Ia sedang rumit sekarang. Ia benci semua ini. Yunho menjeratnya terlalu dalam. Apa pria itu mau balas dendam? Mencampakkannya sama seperti dulu ia menolaknya?
Drrrt...drrtt..
Nama Jinwoon muncul di layar ponsel Jaejoong yang tergeletak di lantai. Jaejoong hanya melirik, tanpa berniat menjawabnya. Ia sedang malas sekarang. Jinwoon terus berbicara hal-hal yang menurutnya sangat memuakkan.
Lama Jaejoong tak menjawab, Jinwoon menghentikan panggilannya. Jaejoong tampak tak peduli dan hanya melihat kedepan sambil menghisap rokoknya.
Ia sedang melamun, bagaimana jalan hidup dan cintanya. Mungkin ini doa yang di ucapkan mantan-mantang kekasihnya saat mereka di putus olehnya. Sebenarnya Jaejoong tak percaya dengan cinta, karena kalau cinta itu ada, ibu dan ayahnya tidak akan seperti sekarang dan ia juga bukan berstatus anak di luar nikah. Meskipun begitu, ia sangat berterima kasih pada keduanya karena mereka ia ada di dunia ini, meskipun caranya salah.
Ia belum berbicara pada keduanya setelah pulang dari Paris, bukan..ia bukan sedang marah, hanya saja ia sedang memberi pelajaran karena sudah seenaknya melepas tangan ketika anaknya sedang susah. Kalau saja orang tuanya itu mau membantunya, Yunho juga tidak akan menyuruhnya pulang.
Drrtt..drrtt..
Ponsel Jaejoong kembali bergetar dan itu adalah sebuah pesan. Ia menghembuskan asap rokok di mulutnya lalu mematikan rokok itu pada asbak di dekat kakinya.
Membaca pesan itu dengan malas,
From: Jinwoon
Jae, aku akan menjemputmu pukul 7 jadi kau dandanlah yang cantik.
Cih, Jaejoong sebal ketika ada yang mengatakannya cantik. Ia benci kata itu tertuju padanya. Lain halnya jika Yunho yang mengatakan itu. Ia memang tampan, tapi ketika bersama pria itu maka kata tampan hanya cocok untuk Yunho.
To Jinwoon
'Baiklah'
Jawaban yang singkat.
.
.
.
Suara dentuman musik elektro terdengar di club Mirotic, club malam yang cukup terkenal di Seoul. Jinwoon memarkirkan mobilnya di depan club lalu keluar dan membukakan pintu untuk Jaejoong.
Pria yang memakai cardigan berwarna cream itu keluar setelah Jinwoon membuka pintu mobil. Pria itu tercium wangi ketika angin menerpa tubuhnya.
Jinwoon tersenyum, menarik tangan Jaejoong lembut. Mereka memasuki club yang terkenal sebagai club gay, tempat yang dulu cukup sering Jaejoong datangi. Ia dan Jinwoon juga bertemu di tempat itu.
Ketika masuk, hidung Jaejoong langsung mencium bau alkohol yang menguar dari gelas-gelas yang di pakai pengunjung. Sudah lama ia tidak kesana dan mendapatkan suasana yang berbeda. Dulu club ini mempunyai panggung penari yang kecil, tapi sekarang cukup besar dan ada tiang yang berdiri di tengah panggung.
"Wine 2" Kata Jinwoon pada bartender. Jaejoong duduk di stool bar, mengarahkan pandangannya pada sekitar.
Gelas wine tersodor di depan Jaejoong. Ia hanya melihat kearah gelas itu hingga tangan Jinwoon merangkulnya.
"Kau sakit, Baby?" Tanya Jinwoon. Ia mengecup pipi Jaejoong, sedang Jaejoong hanya mengeluh. Di lepasnya tangan Jinwoon lalu meminum wine miliknya dalam sekali teguk.
"Satu lagi.."
Bartender itu melihat pada Jinwoon yang hanya tersenyum.
"Sepertinya kau sedang ingin mabuk. Bagaimana dengan ini?" Jinwoon menyodorkan dua butir kapsul berwarna pink pada Jaejoong. Jaejoong hanya melihat malas kearah obat yang ia kenal itu.
"Bagaimana?"
Jaejoong berdiri sebagai jawaban, lalu meminum lagi wine di gelasnya yang sudah terisi, dan berjalan meninggalkan Jinwoon. Jinwoon tersenyum lalu mengambil obat di atas meja tadi, kemudian menyusul mantan kekasihnya itu.
.
.
.
Prank..
"Hei, Yunho. Apa kau mau membuatku bangkrut?!" Teriak seorang pria bertubuh besar dari balik pintu dapur. Yunho mengelap wajahnya yang berkeringat. Ini sudah kali ketiga dia membuat kegaduhan saat merapihkan piring-piring di atas meja.
Sudah dua hari ini Yunho bekerja di sebuah kedai kecil di pinggir kota, untuk menambah pemasukan keuangannya. Ia tidak bisa hanya mengandalkan uang hasil mengajar aikido.
Yunho masuk ke dapur sambil membawa piring-piring kotor dan menaruhnya di mesin pencuci piring, kemudian kembali lagi kedepan untuk mengelap meja-meja yang masih kotor.
Kedai sudah tutup karena waktu sudah menunjukkan pukul 11. Si pemilik kedai sedang menghitung uang hasil penjualan hari ini di meja kasir.
Nafas Yunho agak tersengal, sepertinya ia sedang tidak enak badan. Sejak siang tadi tubuhnya terus berkeringat padahal di kedai terpasang 2 pendingin.
"Yunho, ini uang bayaranmu hari ini" Pria bernama pierre itu menyodorkan uang sejumlah €12,5 kearah Yunho. Yunho mengucapkan terima kasih lalu berjalan menuju pintu keluar karena pekerjaannya sudah selesai.
Yunho merapatkan mantel di tubuhnya karena merasa dingin yang teramat sangat. Saat baru berjalan beberapa langkah, ponsel dalam saku mantelnya berbunyi. Terdapat nama Emma di sana.
"Hallo, Em"
"Yunho, kau sudah pulang bekerja?"
"Yea, aku sedang menuju halte bis"
"Apa kau tidak tahu jadwal bus terakhir? Ini sudah lewat jam 10" Kata Emma mengomel di line seberang. Yunho tahu itu tapi siapa yang tahu ia harus lembur sampai malam.
"Aku juga-"
"Kau tunggu disana, aku akan menjemputmu" Kata Emma tanpa mendengar perkataan Yunho.
Telepon terputus, Yunho hanya menghela nafas. Percuma menolak juga karena Emma bukan tipe orang yang mau di bantah.
Yunho menunggu di halte selama 10 menit, lalu sebuah mobil audi hitam berhenti di depannya. Emma menurunkan kaca mobilnya. Yunho tersenyum lalu beranjak dari duduknya, masuk kedalam mobil.
Yunho memerhatikan Emma yang sedang menyetir, gadis berambut pirang sebahu itu memakai dress berwarna pink soft.
"Apa kau habis berkencan dengan Albert?" Tanya Yunho. Emma tersenyum.
"Apa Albert tahu kau menjemputku?"
Emma menggeleng, "Kalaupun tahu memang kenapa? Toh dia sudah mengenalmu"
"Bukan begitu, nanti dia khawatir padamu"
"Yang harus di khawatirkan adalah kau, Yun. Kau tampak menyedihkan sekarang" Kata Emma, topik mereka sudah bukan tentang gadis itu lagi, tapi sudah berganti ke pria tampan itu.
Yunho hanya diam. Ia bingung harus menjawab apa. Emma berdecih.
"Aku benci sifatmu yang seperti itu, Yun. Kau selalu peduli pada perasaan orang lain, tapi kau mengabaikan perasaanmu sendiri. Kau tahu, kalau kau hanya menyakiti dirimu sendiri" Kata Emma penuh emosi. Ia sungguh kesal dengan sahabatnya itu.
"Kau tidak akan tahu apa alasanku melakukan ini. Aku hanya ingin Jaejoong bahagia"
"Apa?" Emma menepikan mobilnya, lalu menghadapkan tubuhnya kearah Yunho.
"Bahagia katamu? Kau hanya sedang membunuhnya secara perlahan!"
.
.
.
Jaejoong memijat keningnya yang terasa sakit. Ia terbangun karena lehernya terasa kering. Menoleh ke samping, kearah orang yang menghabiskan malam bersamanya. Tadi malam saat Jinwoon menyentuhnya, tidak di pungkiri kalau ia merasakan nikmat tapi rasa nikmat itu menjadi hambar ketika ingat siapa orang yang sedang melakukan itu.
Jaejoong sudah terbiasa merasakan sentuhan Yunho, dan akan menjadi aneh jika orang lain yang melakukannya. Jaejoong ingin sekali menangis. Ia mengusap wajahnya kasar. Ia benci keadaan seperti ini. Ingin rasanya berteriak sekeras-kerasnya, memaki hidup yang terasa tak memihak padanya.
Ia sangat mencintai Yunho dan hanya ingin orang itu yang menyentuhnya, bicara padanya dan tidur dengannya.
.
.
.
Jinwoon bangun pagi itu dengan wajah lelah. Ia baru saja melewati malam yang melelahkan. Ia melihat kearah samping lalu tersenyum. Ia pun mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas.
Klik
Jinwoon tersenyum, melihat hasil foto yang baru ia ambil tadi. Kemudian seringai tampak di wajahnya.
-EMAIL SEND-
.
.
.
Yunho baru selesai mandi, mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia berjalan kearah lemari, mengambil kaos hitam dan celana bahan lalu memakainya.
Drrt...drrrtt
Ponselnya yang terletak di atas meja bergetar. Ia bingung siapa yang mengirim pesan pukul 12 malam.
Mata Yunho melebar dan lututnya menjadi lemas, ketika melihat sebuah foto yang baru terkirim di ponselnya. Yunho ingin menangis tapi tidak bisa meski dadanya terasa sesak.
Foto itu adalah foto yang di kirim oleh ayahnya. Foto Jaejoong yang sedang tertidur dengan dada yang terekspos dan memperlihatkan bercak merah disana.
Yunho tidak salah lagi. Ia tahu apa yang baru saja di lakukan ayahnya dengan Jaejoong. Ia benci dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apapun. Seharusnya ia tahu kalau ini adalah resiko yang harus ia tanggung ketika memilih merelakan Jaejoong untuk ayahnya. Ia tidak boleh cemburu. Ayahnya sangat mencintai Jaejoong dan sudah sewajarnya mereka melakukan itu. Tapi, ia bertanya-tanya apa Jaejoong menikmati semua itu? Jika ia lalu bagaimana ketika dengannya?
.
.
.
Sudah 1 bulan berlalu sejak Jaejoong pulang dari paris. Ia tidak seceria seperti sebelumnya dan lebih banyak melamun. Ia sudah lama tidak merokok tapi sekarang ia sering merokok dan meminum minuman beralkohol lagi. Semua itu ia lakukan ketika dirinya sedang di terpa masalah yang tidak bisa ia selesaikan dengan cepat. Pernah suatu hari ia di jemput oleh ibunya ketika mabuk di bar, dan di marahi seharian. Ia tidak peduli, yang ia ingin hanya melupakan masalahnya.
"Hyung, kau mau ikut berlibur denganku dan Chunnie?" Tanya Junsu ketika mereka berjalan di lorong universitas.
"Tidak. Aku sedang malas"
"Ayolah, Hyung. Kau mau terus seperti ini? Aku sedih melihatnya" Kata Junsu dengan wajah sedih.
Jaejoong memasang wajah tak peduli. Ia tidak masalah dengan semua itu, mungkin ia akan memilih mati.
"Kau tahu kan kalau aku tak suka berlibur" Kata Jaejoong kesal lalu berjalan cepat meninggalkan Junsu.
Junsu menghela nafas. Sepertinya rencana ibu Jaejoong tidak berjalan lancar.
.
.
.
Jaejoong menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang, ia sedang mendengarkan lagu dari radio yang tengah di setelnya. Terdengar suara merdu dari seorang penyanyi bernama Park Junsu. Love is like snowlake.
Saya mencoba untuk hidup setiap hari dengan baik
Sehingga saya bisa bertahan melalui sedikit demi sedikit
Karena tanpa Anda, tidak ada hari esok
Tidak ada harapan, sama seperti hari ini
Sekarang saya ingin Anda
Cinta datang seperti hujan salju
Aku memegang tangan saya untuk menangkapnya namun selalu meleleh
Dari saat saya pertama kali melihat Anda, itu selalu Anda
Aku mengambil satu langkah lagi dan langkah lain
Karena bagi saya, itu perlu hanya Anda
Jaejoong membuka kancing kemejanya, mengeluarkan sebuah kalung berbandul rosario yang menggantung di lehernya. Ia mengelusnya perlahan, merasakan seolah-olah tengah mengelus kulit orang pemberi kalung itu. Jaejoong sangat merindukannya. Terus bertanya-tanya bagaimana keadaan pria itu. Apakah bahagia? Apakah Yunho menjalani hidupnya seperti biasa? Apakah Yunho menangis? Apakah Yunho menyesal?
Jika pertanyaan itu di tujukan padanya, ia akan menjawab kalau ia menderita, hidupnya tak sama lagi, ia menangis tiap malam, dan ia sangat menyesal, kenapa jalan cintanya berkelok seperti ini.
Jaejoong hanya bisa berdoa, semoga Tuhan memberinya yang terbaik.
.
.
.
Yunho berjalan di deretan buku-buku, membaca sekilas judul-judul yang terdapat disana. Ia sedang mencari buku pesanan Emma yang tidak punya waktu hanya untuk membelinya sendiri. Emma bekerja sebagai dokter bantu di sebuah rumah sakit di paris, jadi jika banyak pasien yang datang untuk di periksa ia terpaksa harus lembur.
Saat sedang berjalan, Yunho menabrak seseorang karena matanya terus terfokus pada buku-buku itu. Untung saja orang yang di tabraknya tidak terjatuh.
"désolé .. désolé (maaf..maaf)" Kata orang yang Yunho tabrak, bukankah itu seharusnya perkataan Yunho?
"Ah.." Yunho dan orang itu saling bertatap. Yunho menabrak seorang gadis berwajah asia dan mereka sama-sama berfikir kalau negara asal mereka pun sama.
"Apa kau orang korea?" Tanya Yunho. Gadis itu mengangguk, tersenyum lebar.
"Aku tidak menyangka akan bertemu dengan teman satu negeri di sini" Kata gadis itu. Senyumnya tidak begitu asing di mata Yunho.
"Siapa namamu?" Tanya gadis itu.
"Jung Yunho"
"Park Jieun"
.
.
.
TBC
(Curhat author, bagi yg tidak suka bisa langsung review)
Yey, update lagi ^_^ makin mendekati akhir nih, moga 2 chapter lagi tamat. Jadi semangat.
Apakah ada yang galau? Suka deh bikin ff galau begini. Noh Yun, makanya jadi orang jangan sok bahagiakan orang padahal dirinya menderita #plak
Ah iya, kemarin ada yang tanya kenapa cwo yg trobsesi ama jj kok g ada lg. Itu karena aku lupa plot awal ff ini. Hehe. Mian atas ketidak nyamanan ini #sungkem
nanti bakal aku repost untuk chap itu.
Terima kasih buat reader yang udah repot-repot review ff ini, ngikutin update-an ff aneh ini. Maaf kalau banyak salah. Hehe.
Jangan lupa review-nya ^_^
See you next chapter~
