Previous Chapter: Kyuhyun terus saja mengancam Sungmin dengan mengatakan akan melaporkan Sungmin jika ia menolak untuk menjadi kekasihnya.


"Jadilah pacarku, DJ Ming."

"Kau akan segera ditangkap dengan tuduhan pembunuhan karakter, penghasutan, perbuatan tidak menyenangkan, dan penganiayaan."

"Terserah kau mau bilang apa, aku sudah melakukan visum dan siap menyeretmu ke penjara…"

"Min, Lee Sungmin." Yunho menghembuskan napasnya. Sadar bahwa dari tadi ia hanya berkomunikasi satu arah. Lee Sungmin memang menatapnya, tapi pandangan matanya kosong. Dan jelas pikirannya tidak berada di dalam tubuhnya. Entah sedang melanglang buana ke mana. "DJ Ming!" Tegur Jung Yunho lebih keras. Rupanya teguran itu cukup efektif mengembalikan pikiran Sungmin kembali ke raganya.

"Ne?"

"Kau tidak mendengarkan aku, Min," keluh Yunho. Ia menurunkan kertas naskahnya di meja.

"Ups." Sungmin memberikan senyum tidak enaknya pada Yunho. "Sampai di mana kita tadi?"

Sungmin memusatkan mata dan pikirannya pada kertas-kertas yang ada di tangannya. Rasanya cukup memalukan ketahuan sedang melamun di tengah-tengah briefing sebelum siaran.

"Apa kau sedang ada masalah?" tanya Yunho dengan raut wajah yang khawatir tapi tetap penuh perhatian.

Sungmin menggeleng pelan, tidak yakin. "Aku baik-baik saja. Kurasa kita bisa melanjutkan pekerjaan. Siaran hampir sepuluh menit lagi," ujar Sungmin mengalihkan perhatian Yunho.

Yunho menghela napasnya. Ia tahu ada sesuatu yang dipikirkan Sungmin, karena tidak biasanya Sungmin kehilangan konsentrasi seperti ini. Tapi Sungmin, siaran akan segera dimulai dan yang Yunho tahu betul, Sungmin tidak ingin bercerita apa yang sedang mengganggu pikirannya.

"Temanya adalah kencan pertama. Dan ini daftar lagu yang akan diputar," Yunho dengan penuh kesabaran menjelaskan ulang apa yang sebenarnya sudah disampaikannya pada Sungmin. "Jangan lupa, selama siaran sebelum lagu diputar, kau harus mengumumkan tentang perayaan ulang tahun radio kita, sebuah pesta topeng. Juga kuis dengan hadiah free ticket untuk hadir dalam perayaan tersebut. Jangan lupa, perayaan ini terbatas."

Sungmin menggumam tidak jelas sebagai tanggapan. Pikirannya memang benar-benar tidak berada di ruangan ini. Kalimat-kalimat Kyuhyun dengan nada mengancam terus melintas di memorinya.

"Gwaenchana?" tanya Yunho, ia menatap Sungmin penuh perhatian. Matanya teduh, seperti biasa. "Apa dia mengganggumu?"

Sungmin menggelengkan kepalanya. Tidak yakin dengan gerakan kepalanya sendiri.

"Kau tahu, kau bisa mengatakan padaku jika sesuatu terjadi padamu?" Yunho mengingatkan bahwa dirinya bahkan lebih siap membantu Sungmin 1 x 24 jam, dibanding polisi.

Sungmin mengangguk. Ia tersenyum sedikit. Wajahnya sedikit memerah tanpa diperintah. Dan hatinya? Sungmin memberikan senyum yang semakin lebar, yang berasal dari hatinya. Sejak satu tahun lalu ia bekerja sebagai penyiar di Radio Sapphire, Sungmin sudah memerintahkan dirinya untuk menahan diri. Menahan diri dari apapun yang berkaitan dengan kebaikan dan ketulusan yang diberikan Yunho.

Yunho mengacak-acak pelan poni Sungmin. "Kalau kau sudah siap, kita bisa mulai masuk ke ruang siaran. Waktu kita tidak banyak," ujar Yunho sambil menunjuk pada jam digital di mejanya dengan dagu. "Kau bisa membawa kertas-kertasmu. Aku tahu semua akan baik-baik saja. Ayo."

'Ya, semua akan baik-baik saja. Selama orang itu tidak melaporkan aku atau menuntutku.' Sungmin menambahkan dalam hatinya. Hanya dalam hati, karena pada akhirnya ia tidak mau mengacaukan siarannya dan membuat Yunho kecewa.


"Well, satu lagu yang indah dari Sixpence None The Ritcher, Kiss Me. With me again, DJ Ming. Oke, aku masih menunggu telepon dari kalian yang ingin menceritakan pengalaman first date. Oh ya, dan jangan lupa, ada satu free pass perayaan ulang tahun Radio Sapphire. Apa sudah ada penelepon?" suara Sungmin mengisi ruangan bernuansa hitam-putih dengan perabotan minimalis. Sebuah ruang kerja yang terkesan hangat, tidak dingin tidak juga panas. Dinamis dan modern.

Yunho menggelengkan kepalanya. Itu berarti belum ada penelepon yang menghubungi. Sungmin hanya mengangkat bahunya, lalu kembali mendekatkan bibirnya ke microphone.

"Karena belum ada yang menelepon, aku akan mengingatkan lagi. Buat kalian yang berhasil menghubungi Radio Sapphie dan curhat tentang pengalaman kencan pertama, kalian bisa langsung mengikuti kuis. Hadiahnya apa? Tentu saja free pass untuk datang ke acara ulang tahun Radio Sapphire," Sungmin mengambil jeda sedikit sebelum melanjutkan. "Acaranya akan sangat menyenangkan. Karena tema tahun ini adalah Mask to The Max. Yap, di acara ulang tahun Radio Sapphire nanti yang datang memang menggunakan topeng. Selain itu akan banyak bintang tamu, dan kalian yang beruntung, boleh membawa pasangan lho." Sungmin menatap Yunho yang sudah memberikan kode bahwa ada penelepon yang masuk.

Sungmin kali ini mengangguk. "Well, aku coba lagi. Apa sudah ada penelepon?" Sungmin tetap bertanya meskipun ia sudah mendapat perintah untuk menyambungkan telepon yang sudah masuk.

"Uhm… ne." Jawab suara singkat di ujung telepon. Suara seorang namja.

"Dengan siapa aku bicara?" tanya Sungmin seceria dan seramah mungkin.

Hening selama tiga detik. "Aku C. Panggil saja seperti itu," jawab C, si penelepon.

Sungmin mengerutkan keningnya. Ia menatap Yunho untuk meminta pendapat. Yunho hanya mengangguk, ia mengerti kenapa Sungmin meminta pendapatnya. Sungmin pasti berpikir mungkin C adalah salah dari penggemar Sungmin, tapi selama tidak mengganggu sepertinya tidak apa-apa.

"Well, apa kau mau menceritakan tentang pengalaman kencan pertama dengan seorang yeoja?" Sungmin bertanya, layaknya teman lama.

Jeda lagi selama beberapa detik. "Ini bukan tentang pengalaman kencan pertama kami, aku dan yeojachingu-ku. Maksudku, kami berpacaran. Tapi hubungan kami sedikit aneh."

"Aneh? Apa maksudmu?" Perasaan ingin tahu dalam diri Sungmin tergelitik.

Kembali jeda, kali ini cukup lama. Sungmin berpikir mungkin namja ini sedikit ragu apakah akan mengungkapkan cerita cintanya di sebuah radio yang didengar ribuan orang di Seoul. "Komunikasi kami kurang baik. Hampir setiap kali kami bertemu, kami selalu saling beradu pendapat, tarik urat, bahkan pernah saling melukai," jawab C.

Sungmin sedikit tercekat. Bayangan Kyuhyun seketika melintas. Juga tentang ancaman-ancaman tentang pelaporan dan tuntutan.

"Bagaimana menurutmu?" Pertanyaan C membuyarkan lamunan Sungmin. Yunho menatap Sungmin melalui jendela besar yang memisahkan mereka. Sungmin sadar tidak seharusnya ia melamun saat siaran.

"Bagaimana dengan kencan kejutan?" Sungmin memberi saran. Kali ini tidak berpikir sebelum memberi saran. "Bisa menjadi kencan pertama untuk kalian juga, kan?"

Meskipun tidak melihat sosok C, tapi jeda yang ada di antara mereka disadari Sungmin bahwa C sedang mempertimbangkan saran darinya. "Apa kau pikir keadaannya akan jadi lebih baik?"

"Kuharap begitu," jawab Sungmin. "Ah iya, C, apa kau berminat untuk mengikuti kuis yang Radio Sapphire adakan?"

C tidak bersuara. Tapi di keheningan itu, Sungmin bisa mendengar nada menimbang dari C.

"Oke." C akhirnya menjawab singkat.

Sungmin tersenyum lega, rupanya pendengarnya berminat mengikuti kuis ini. "Well, C, kuharap inilah keberuntunganmu. Dan pertanyaannya adalah…"


"Jadi, ada berapa orang yang menjawab pertanyaannya dengan benar?" tanya Yunho pada Sungmin seusai siaran mereka.

Sungmin membuka-buka kertas yang ada di tangannya dan membaca catatan yang sudah dibuatnya. "Hmmm… Yang menjawab ada tiga orang. Tapi menurutku jawaban yang paling menyentuh adalah jawaban dari penelepon yang mengaku sebagai C," Sungmin menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari tulisannya.

"Oh ya, apa jawabannya?" Yunho tampak tertarik.

Sungmin melirik Yunho sekilas, sebelum membaca isi catatannya. "Cinta bukan hanya kata benda yang dapat kita miliki atau kata sifat yang dapat kita rasakan. Cinta juga sebuah kata kerja, ada yang perlu kita lakukan untuk mencintai seseorang, yaitu berusaha. Berusaha mendapatkannya ketika berjuang, berusaha memepertahankannya ketika sudah bersamanya, berusaha memperjuangkannya ketika goyah, dan berusaha merelakannya ketika cinta itu pergi." Sungmin membacakan jawaban yang tadi diberikan C saat ditanya mengenai apa definisi cinta menurutnya. Sungmin menoleh pada Yunho. "Bagaimana menurutmu?"
Yunho mengerjapkan matanya, tampak sedikit terperanjat dengan pertanyaan Sungmin yang begitu mendadak. Sebenarnya bukan pertanyaan yang mendadak, Sungmin hanya membacakan ulang jawaban C yang sebenarnya sudah didengar Yunho. Apakah jawaban dari C atau Sungmin yang sedang membacakannya untuk Yunho?

"Yunho?"

Yunho memundurkan tubuhnya hingga merapat pada sandaran bangku yang didudukinya. Ia sadar, sedari tadi ia duduk dengan posisi terlalu tegap dan tegang.

"Aku juga berpikir jawabannya adalah yang terbaik. Jadi, kalau kita sudah berpikiran sama, bagaimana kalau kita langsung tentukan saja pemenangnya?" tawar Yunho pada Sungmin.

Sungmin mengangguk. "Kalau begitu aku akan menyerahkan datanya pada Ryewook. Biar dia yang menghubungi pemenangnya, dan mengatur kelanjutannya." Sungmin bangun dari duduknya hendak melangkah. Tapi tangan Yunho menahannya.

Sungmin menatap Yunho dengan heran dan penuh tanda tanya.

"Datanglah bersamaku ke pesta nanti."

Sungmin mengerutkan keningnya, menatap mata Yunho dengan seksama. Mencari tahu, apakah yang diucapkan Yunho barusan adalah sebuah pertanyaan atau pernyataan.

Tapi kemudian Sungmin menghilangkan garis kerutan di keningnya, kemudian menarik kedua sisi bibirnya. Tersenyum pada Yunho. "Tentu."


Sungmin menghela napas berat saat langkahnya terhenti di depan kantor Radio Sapphire. Di sana sudah berdiri Kyuhyun dengan celana panjang hitam dan kemeja biru langit dengan lengan panjang yang sudah di gulung setengah. Kyuhyun tampak seperti eksekutif muda yang baru pulang kerja.

Kyuhyun yang tadinya bersandar di pintu mobilnya sambil menunduk memainkan ponselnya menoleh ke arah Sungmin. Dengan cepat menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.

Sungmin menyipitkan matanya, lalu berjalan seolah-olah tidak melihat keberadaan Kyuhyun. Melihat pergerakan Sungmin, Kyuhyun langsung menghalangi langkah Sungmin.

"Kali ini apalagi?" tanya Sungmin malas. Sungmin menghindari mata Kyuhyun. Ia memejamkan matanya dan menghirup napas keras-keras. Dan…

'Aroma colonge maskulin dan sedikit green tea. Ini… Astaga! Apa yang aku pikirkan.' Sungmin menghembuskan napas keras-keras berharap bisa menghilangkan kekacauan yang ada di pikirannya.

Kyuhyun menyelidik ke arah belakang Sungmin, seperti sedang mencari sesuatu, atau seseorang. "Apa kau memecat algojomu?" tanya Kyuhyun, ada nada mengejek di suaranya.

Sungmin memincingkan matanya ke arah Kyuhyun, lalu menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan pertanyaan Kyuhyun. "Dia bosku, dia partner kerjaku. Dia bukan algojo, jadi sebaiknya jaga kata-katamu," ancam Sungmin serius.

"Tapi aku bersedia juga jadi algojomu, karena sepertinya kau membutuhkan itu sekarang," ujar sebuah suara dari samping kiri Sungmin. Sungmin dan Kyuhyun otomatis menoleh ke arah sumber suara. Yunho dengan santai menghampiri mereka. Sungmin menatap Yunho kagum, seolah-olah Yunho adalah penolongnya. Sementara Kyuhyun, membuang pandangannya. Berdesis pelan dan menggumam, "Cih, pahlawan kesiangan."

Sungmin tidak begitu jelas mendengar ucapan Kyuhyun, tapi sekali lagi Sungmin memincingkan matanya untuk memperingatkan Sungmin bahwa sebaiknya Kyuhyun bisa menjaga sikap dan ucapannya.

"Apa kau datang untuk menjemput Sungmin?" tanya Yunho tanpa basa-basi pada Kyuhyun.

Kyuhyun baru saja akan menjawab, tapi Yunho menyelanya. "Jika iya, maaf mengecewakanmu. Malam ini Sungmin akan pulang bersamaku."

Yunho tidak menunggu persetujuan atau bantahan dari Sungmin. Yunho juga tidak membiarkan Kyuhyun bereaksi, karena dengan cepat Yunho menarik tangan Sungmin untuk memasuki mobilnya yang terparkir tidak jauh dari situ.

Kyuhyun memperhatikan langkah Yunho dan Sungmin. "Dia akan menoleh," ujar Kyuhyun pada dirinya sendiri. "Dia pasti menoleh."

Benar saja, sedetik Sungmin menoleh ke arahnya sesaat sebelum dirinya masuk ke dalam mobil. Kyuhyun menyunggingkan satu sisi bibirnya.


"Lihat, dengan siapa dia seharusnya pulang, 'kan?" gumam Kyuhyun.


TBC

...

Akhirnya bisa posting setelah sekian lama. Apa masih ada reader yang ingin membaca cerita ini?