You know I love you
Genre : Romance
Rating : NC 17
Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Jung Jinwoon
Chapter 13 : The Tuxedo
Kling..
Yunho menoleh kearah pintu masuk kedai, seorang gadis bersurai hitam memasuki kedai tempatnya bekerja. Ia tersenyum pada gadis yang sudah di kenalnya selama 2 bulan ini.
"Oppa..kata Umma, dia ingin bertemu denganmu lagi" Kata gadis yang bernama Jieun itu. Yunho menegakkan tubuhnya, meninggalkan sejenak pekerjaannya membereskan meja.
Yunho sudah pernah kerumah Jieun sekali karena gadis itu yang memaksanya.
"Apa Umma-mu akan menghidangkan banyak makanan untuk menyambutku?" Canda Yunho.
"Tentu saja.." Kata Jieun, "Kurasa Umma menyukaimu" Lanjutnya sedikit berbisik.
"Hei, Yunho. Bekerjalah yang benar" Teriak Pierre dari balik pintu dapur. Jieun menutup mulutnya sambil tersenyum, ia melihat pada Yunho.
"Bagaimana? Mau ya, Oppa?" Jieun mengeluarkan puppy eyes-nya.
Yunho tampak berfikir. Keluarga Jieun memang menyambutnya dengan baik dan Yunho merasa nyaman berada disana. Mungkin karena mereka satu asal jadi lebih cepat akrab.
"Baiklah, tapi setelah aku menyelesaikan ini" Kata Yunho menunjuk ke meja.
.
.
.
"Apa kau yakin dengan ini, Joongie?" Tanya Haneul dengan nada khawatir. Ia terus mengikuti Jaejoong yang mondar-mandir dari kamar mandi ke kamar tidur. Kemarin Jinwoon sudah melamarnya secara langsung di hadapan Hyunjung dan Haneul, dan Jaejoong menerimanya dengan nada dan wajah yang santai.
"Omoni!" Jaejoong berhenti tiba-tiba, membuat Haneul menubruk tubuhnya, "Hargailah keputusanku" Katanya dengan nada lemah.
"Kau sedang putus asa. Iya kan, Joongie? Aku baru tahu anakku mudah menyerah" Kata Haneul memandang remeh ke arah anaknya.
Jaejoong berdecih, "Sudahlah. Lebih baik Omoni tidur" Ia menyeret Haneul keluar dari kamarnya.
"Jo-joongie, Chamkam "
BLAM!
Jaejoong meletakan tangannya di pintu, lalu menunduk. Ia sudah memutuskan akan menikah dengan Jinwoon seperti yang seseorang inginkan.
"Ini keinginanmu kan, Yun? Oke, aku terima tantanganmu!" Kata Jaejoong sambil tersenyum hambar.
.
.
.
Yunho tersenyum canggung ketika beberapa pelayan berlalu-lalang membawakan banyak makanan. Di depannya, Nyonya Park dan Jieun menatap puas kearah Yunho.
"Mi-mian, Ahjumma. Apa ini tidak berlebihan?"
"Oh, tentu tidak. Aku sengaja menyuruh mereka memasak semua ini" Kata Nyonya Park. Yunho hanya melihat makanan itu tanpa berniat menyentuhnya.
"Sudahlah, Oppa. Umma memang seperti itu" Kata Jieun. Ia mengambil piring Yunho lalu mengambilkan nasi untuknya.
Yunho hanya diam. Nyonya Park dan Jieun begitu baik padanya, mungkin karena di keluarga itu tidak ada seorang pria. Tuan Park atau ayah Jieun meninggal 3 tahun lalu karena kecelakaan pesawat dan Jieun adalah anak tunggal. Mungkin Nyonya Park menganggapnya seperti anak sendiri dan ia juga merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka.
Ketiga orang itu pun menghabiskan makanan sambil sesekali bergurau.
.
.
.
"Oppa yakin tidak ingin menginap? Ini sudah malam" Kata Jieun yang mengantar Yunho sampai di depan rumah. Yunho tersenyum. Tadi mereka terlalu asik bermain game hingga lupa waktu alhasil Yunho pulang larut malam.
"Besok aku harus bekerja pagi-pagi" Kata Yunho lembut.
"Aku bisa mengantarmu dengan selamat"
Yunho menggeleng, mencoba menolak dengan pelan agar Jieun tak tersinggung. Gadis berambut gelombang itu memang cukup manja. Meski mereka baru mengenal beberapa bulan tapi sudah sangat akrab karena sifat gadis itu yang periang.
Jieun memajukan bibirnya sebal, "Aku janji akan menginap disini lain waktu" Kata Yunho, mencubit pipi Jieun dengan lembut.
Gadis itu langsung tersenyum, ia percaya Yunho akan menepati janji. Setelahnya Yunho pamit untuk pulang, meski ia tak tahu apakah masih ada kendaraan yang bisa ia tumpangi mengingat bus terakhir sudah berangkat sejam yang lalu.
Yunho sudah berjalan menjauh dari rumah Jieun, ia mengeratkan baju hangat yang ia pakai. "Haruskah aku menghubungi, Emma?"
.
.
.
Jaejoong hanya mengorek telinganya dengan jari kelingking ketika orang didepannya sedang menjelaskan apa-apa saja yang di butuhkan untuk pernikahan antara ia dengan Jinwoon. Sedangkan Jinwoon mendengarkan dengan seksama semua yang dijelaskan oleh staff even orginizer itu.
"..Lalu kartu undangan mana yang anda sukai?" Pria berkacamata itu berbicara pada Jaejoong yang terus diam. Dan tak mendapat respon kalau saja Jinwoon tidak menyenggol tangan Jaejoong.
"Kau mau yang mana, Baby?" Tanya Jinwoon lembut. Jaejoong menatap datar kearah tiga kartu undangan yang berjejer di atas meja. Ia sama sekali tak berminat dan hanya memilih acak.
"Ini" Tunjuk Jaejoong pada kartu undangan di bagian tengah. Jinwoon dan pria berkacamata itu menatap kagum kearah Jaejoong karena memilih kartu yang paling bagus.
"Baiklah, selanjutnya dekorasi"
.
.
.
Intensitas pertemuan antara Yunho dan Jieun menjadi lebih sering karena Universitas tempat Jieun menuntun ilmu hanya berbeda satu blok saja dari kedai tempat Yunho bekerja.
Seperti hari ini, gadis berambut panjang bergelombang itu sudah duduk manis didalam kedai. Ia hanya diam, memesan beberapa makanan agar ia ada alasan untuk tinggal lebih lama di sana. Pemilik kedai hanya menghela nafas ketika terus melihat Jieun berada disana.
Yunho yang sibuk membawa pesanan pelanggan ke meja, tersenyum pada Jieun, begitu pun sebaliknya.
Gadis berusia 19 tahun itu terlalu senang berada di dekat Yunho, karena menurutnya, selain tampan Yunho juga berbeda dari pria-pria yang pernah ia kenal. Mungkin karena ia terlalu lama tinggal di paris, membuat ia berfikir standart laki-laki bukan yang seperti Yunho.
Yunho tentu tahu sinyal-sinyal yang selalu di sebar oleh Jieun, tapi ia hanya pura-pura tak peduli. Ia hanya menghargai Jieun dan juga menganggapnya tak lebih dari seorang adik. Lagipula, Yunho tak punya ketertarikan berlebih pada wanita.
Jieun gadis yang baik, ceria dan penuh semangat, dan tentunya menular juga padanya. Bahkan Yunho bisa sedikit melupakan masalahnya.
.
.
.
Yunho baru saja tiba di rumahnya setelah Jieun mengantarnya tadi. Ia baru akan membuka pintu apartemen ketika ponselnya bergetar. Di lihatnya ada pesan dari seseorang.
"Yunho, aku mengirimkan kartu undangan padamu. Aku berharap kau bisa datang" Itu isi pesan yang baru saja di kirim oleh Jinwoon. Yunho termenung, agak terkejut dengan pesan itu, tapi ia sudah tahu sebelumnya kalau ini akan terjadi. Yunho tertawa hambar di depan pintu apartemennya, menertawakan kebodohannya sendiri.
Di bukanya lampiran email yang ayahnya kirim, sebuah undangan berwarna cokelat emas terlihat disana.
Ada nama ayahnya, juga orang yang ia cintai. Rasanya dunia akan terbalik di sekitar Yunho ketika membaca deretan tulisan itu.
Benarkah cintanya akan berakhir semudah itu?
.
.
.
Jaejoong melempar ponselnya keatas tempat tidur, ia mengusap wajahnya kasar sambil mengeram. Hari ini benar-benar gila. Jinwoon mengajaknya berkeliling untuk menyiapkan segala keperluan tentang pernikahan mereka. Penikahan apa? Ia benci dengan kepura-puraan yang sedang ia jalani. Ia merasa hambar ketika berada di dekat Jinwoon. Sejak dulu ia memang tidak pernah merasa senang berada di samping Jinwoon selain tentang uang tentunya.
"Joongie, kau sudah makan, nak?" Tanya Haneul dari balik pintu kamar Jaejoong. Jaejoong yang hampir terlelap mengeram mendengar suara ibunya.
"Ne"
"Sebelum tidur, mandilah dulu" Setelah berkata itu, Haneul pergi meninggalkan pintu kamar anaknya.
Setelah tak terdengar suara ibunya, Jaejoong beranjak dari tempat tidur menuju kekamar mandi.
.
.
.
Yunho merapihkan rambutnya yang agak berantakan karena angin baru saja berhembus. Ia melihat kearah jam tangannya, lalu melihat sekitar. Banyak orang berlalu lalang di taman tempatnya berdiri saat ini, menunggu di bawah tiang lampu taman. Sudah sekitar 10 menit ia menunggu di sana, lalu tersenyum ketika melihat seseorang melambaikan tangan sambil tersenyum.
"Apa Oppa menunggu lama?" Tanya Jieun yang sudah berada di depan Yunho. Pria tampan itu menggeleng.
"Tidak. Aku minta maaf karena mengajakmu pergi hari ini"
"Tidak juga, aku cukup senggang sore ini" Kata Jieun. Yunho tersenyum melihat penampilan Jieun yang cukup manis untuk gadis seusianya. Gadis itu memakai mantel berwarna merah jambu dengan jeans untuk bawahannya dan memakai sepatu panjang hingga menutupi lututnya. Yunho tampak familiar dengan penampilan itu.
"Jadi kita mau kemana?" Tanya Jieun membuyarkan lamunan Yunho. Mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan, atau lebih terlihat Jieun yang memegang tangan Yunho.
.
.
.
"haaa~"
Jaejoong berulang kali menghembuskan nafasnya, sambil merasakan dingin air yang menerpa kulit telanjangnya. Ia berdiri di bawah shower, mandi cukup lama dari kebiasaannya, untuk sekedar menyegarkan tubuhnya yang terasa melelahkan.
Tepat di depannya berdiri, ada sebuah kaca panjang yang bisa membuat tubuhnya terlihat keseluruhan. Ia menatap biasa kearah cermin itu, melihat pantulan dirinya. Ia begitu mengagumi tubuh sempurnanya, yang tentu saja di amini oleh orang-orang yang pernah melihatnya. Dari beberapa pria yang pernah tidur dengannya tak ada yang kecewa dengan tubuhnya, termasuk Yunho.
"Aah.." Jaejoong membalikkan tubuhnya, terpejam lalu membiarkan kepalanya tersiram air. Dengan mengingat Yunho saja sudah membuat tubuhnya bereaksi.
"Shit!"
.
.
.
-Wedding Boutique-
Jieun membaca satu persatu tulisan yang terpampang di atas sebuah toko. Ia cukup terkejut ketika Yunho menghentikan mobil tepat di depan toko ini.
"Kita mau beli apa, Oppa?" Yunho hanya tersenyum lalu berjalan kearah pintu masuk toko.
" Bienvenue, n'importe qui peut aider? (Selamat datang, ada yang bisa di bantu?)"
"Aku butuh Tuxedo"
.
.
.
Dua hari kemudian...
Ting..tong..ting..tong
"Apa benar ini rumah tuan Jung Jinwoon?" Tanya seseorang berseragam merah setelah Jinwoon membuka pintu rumahnya.
"Benar, aku Jinwoon"
"Ini paket untuk anda, Tuan" Jinwoon terkejut ketika menerima sebuah kotak yang cukup besar berwarna kuning, terlebih setelah melihat siapa pengirimnya.
From. Jung Yunho
Rue d'alesia no 12
Setelah berterima kasih, Jinwoon membawa kotak itu kedalam rumah. Merasa curiga dengan hadiah yang sengaja di kirimkan putranya itu. Dengan tidak sabaran ia membuka pembungkus kotak itu, lalu melihat isinya.
Didalamnya ada dua buah Tuxedo lengkap dengan celananya. Yang satu berwarna hitam sedang yang lainnya berwarna putih, di saku Tuxedo berwarna putih itu terselip sebuah mawar merah plastic. Bersama dengan kedua pasang Tuxedo itu ada sebuah kertas. Jinwoon membaca satu persatu kata yang di tulis oleh anaknya.
'Yang hitam untuk Aboji, dan yang putih untuk Jaejoong. Semoga pernikahan kalian di berkati. Tuxedo itu adalah hadiah dariku'
.
.
.
Yunho terus di berondong pertanyaan oleh Jieun sejak kepulangan mereka dari toko beberapa hari lalu. Gadis itu merasa bingung ketika Yunho membeli dua pasang Tuxedo, jika memang hanya Tuxedo biasa maka Jieun tidak akan penasaran tapi ini adalah Tuxedo pernikahan.
"Aku hanya ingin memberi hadiah untuk orang yang akan menikah" Kata Yunho ketika Jieun bertanya, tapi itu tidak membuat gadis itu puas. Seperti sekarang, Jieun masih bertanya ketika ia menelepon Yunho.
"Kenapa kau membeli dua? Apa temanmu yang menikah dua orang?" Tanya Jieun. Yunho menggaruk telinganya, merasa salah karena mengajak Jieun ikut bersamanya. Gadis itu cukup berisik jika sudah bertanya. Yunho melihat kearah Emma yang duduk di depannya meminta bantuan, tapi gadis Paris itu tak mempedulikannya.
"Aku akan menjelaskannya nanti"
Yunho langsung memutuskan percakapan lalu menon-aktifkan ponselnya. Ia menghela nafas.
"Tenyata wanita memang menyebalkan!" Keluh Yunho. Emma menatap tajam kearah sahabatnya.
"Kau bicara itu di depan wanita.." Balas Emma, "Aku rasa gadis itu menyukaimu"
"Ya, aku cukup peka terhadap orang yang mempunyai perasaan terhadapku" Kata Yunho bangga. Emma mencibir.
"Tapi kau tak peka dengan perasaan seseorang"
"Apa?"
"Tidak, aku hanya bergumam..lalu bagaimana dengan hadiahmu itu?"
"Aku beli dua" Jawab Yunho santai.
"Lalu kau tak menyesal? Kau ikhlas memberikannya?" Tanya Emma merasa kesal dengan tingkah orang di depannya, sedang Yunho hanya mengangkat bahunya.
"Lalu kau mau aku bagaimana? Menangis meraung-raung?"
.
.
.
Jaejoong mencoba menghubungi seseorang yang sudah lama tak ia hubungi, bibir kecilnya terus memaki ketika suara operator menyapanya. Ia sudah mencoba selama beberapa kali dan jawabannya tetap sama.
"Aku harus bagaimana, Yun? Kenapa kau tidak memperjuangkan aku?" Tanya Jaejoong. Ia mungkin bersikap biasa saja selama ini, memperlihatkan kalau ia baik-baik saja, tapi kedatangan Jinwoon tadi pagi membuat ketakutannya semakin bertambah.
Tunangannya itu memberikan sebuah kotak berisi Tuxedo berwarna putih dan mengatakan kalau itu adalah pemberian Yunho. Benarkah? Apa benar Yunho yang membelikannya? Jadi pria itu benar-benar sudah merelakannya? Itulah pertanyaan yang terus terlintas di otak Jaejoong.
Ia tak khawatir sebelumnya karena yakin Yunho akan datang menghentikan pernikahan dan membawanya pergi menjauh dari Jinwoon, tapi tampaknya semua itu hanya mimpi. Orang yang ia cintai itu bahkan memberikannya sebuah jas pernikahan.
"Aku harus bagaimana?" Tanya Jaejoong sambil mengigit bibirnya. Ia menoleh kearah kalender meja, dan melihat sebuah lingkaran merah di bagaian bawah pada tanggal 25 juni. Itu adalah tanda yang ia buat untuk tanggal pernikahannya, dan itu hanya beberapa minggu lagi.
Jaejoong menjambak rambutnya frustasi.
.
.
.
"Setidaknya peduli lah pada perasaannya. Dia mencintaimu" Kata Emma dengan raut wajah serius. Yunho menghela nafas, merasa ada beban di hembusannya. Jika boleh jujur, tentu saja ia peduli, kalau tidak mana mungkin jadi seperti ini. Ia hanya ingin Jaejoong bahagia, dan ia cukup pasrah dengan kepercayaan 'cinta tak harus memiliki' yang di anutnya.
"Kau akan menyesal, Yunho. Kau harus berubah menjadi pria yang egois dan mementingkan kebahagiaanmu mulai sekarang" Lanjut Emma, Yunho ingin bicara tapi segera di dahulu oleh wanita itu.
"..Kau tahu dengan jelas apa yang harus di lakukan, dan semua itu masih belum terlambat" Kata Emma penuh penekanan. Yunho terdiam, pikirannya melayang entah kemana.
.
.
.
Jaejoong duduk di kursi santai yang ada di beranda kamarnya, bersandar dengan nyaman, menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya, mencoba melepas beban yang menggerogoti kehidupannya. Ketika hampir tertidur, ponsel miliknya yang tergeletak di atas ranjang berbunyi. Ia berdecak lalu berjalan kearah kamarnya untuk menjawab telepon itu, dengan malas dan tanpa melihat siapa peneleponnya.
"Wae?" Tanyanya ketus. Orang di line sebrang terdiam, membuat kening Jaejoong berkerut.
"Hei, bicaralah!" Katanya kesal. Ia hampir memaki kalau orang itu tak bersuara.
"Jae.."
Deg~
Jaejoong hampir terjatuh keatas tempat tidur, tubuhnya mendadak lemah. Ia antara percaya atau tidak, ketika suara itu menyebut namanya, rasanya sudah bertahun-tahun tak begitu.
"Ini aku, apa kau masih di sana?"
"Yu-yunho.." Nafasnya tercekat, rasanya ia ingin menangis. Ia bukan tipe pria cengeng yang akan dengan mudahnya menangis, tapi ia tidak peduli jika harus melakukan itu sekarang.
"A-aku..."
"Ah, syukurlah. Bagaimana kabarmu?" Tanya Yunho sambil tertawa. Jaejoong menggeleng, ia merasa matanya mulai memanas.
"Aku baik" Jawabnya singkat.
"Eum, apa Aboji sudah memberimu Tuxedo dariku?" Tanya Yunho tanpa beban. Jaejoong terdiam, merasa heran kenapa Yunho bertanya dengan santainya, seolah-olah tak terjadi apa-apa di antara mereka.
"Itu bagus" Suara Jaejoong mengecil. Ada nada kekecewaan di sana.
Yunho tentu saja tahu, kalau pertanyaannya tadi membuat Jaejoong heran. Ia hanya ingin tahu apa Tuxedo itu cocok untuk Jaejoong.
"Sebenarnya aku takut kau tidak menyukainya, karena aku bingung harus membeli apa jadi aku pesankan itu" Kata Yunho, "Dan aku rasa kalian akan cocok memakai itu"
"Yunho!" Jaejoong agak membentak dengan suara serak.
"Apa kau akan datang?" Tanya pria manis itu. Yunho terdiam agak lama, berfikir apa jawaban yang harus ia katakan, hingga ucapan yang seharusnya, meluncur dengan santai dari bibir hatinya.
"Tentu saja"
Dan jawaban itu sukses membuat lutut Jaejoong lemas.
Bruk..
"Jae!"
"Hiks.."
.
.
.
T
B
C
.
.
.
Nah, apakah yunho akan datang? Jawabannya, tentu saja. Hehehe.
Chap depan ending..gimana, apa kalian senang? Dari awal nulis ini ff, aku semangat banget gegara aku suka sama plotnya, tapi pas di chap 3 terakhir bikin aku semakin malas buat lanjutinnya, karena faktor-faktor tertentu. Yah, nasib punya mood yg gampang terbang XD
Chap depan pasti ending, gak ada di bagi dua atau apapun biar kalian tidak menunggu terlalu lama lagi. Nah, ayo kasih pendapat kalian apa yang harus terjadi di ending. Apakah Jinwoon akan merelakan Jaejoong begitu saja atau tetap pada pendiriannya dan apakah Jaejoong akan bunuh diri? Yah itu mungkin saja jika mood author sedang buruk. Haha.
Jangan lupa cinta kalian di kotak review yah ^_^
I love you :-*
See you, all~
