Preview Chapter: Sungmin lebih memilih untuk pulang bersama Yunho saat Kyuhyun datang untuk menjemputnya. Meskipun Sungmin memilih bersama Yunho, tapi dalamnya hati siapa yang tahu?


Sungmin menatap dirinya di cermin. Entah sudah yang ke berapa kalinya. Kepalanya dimiringkan, sambil terus menatap bayangan sosok perempuan yang nyaris tidak dikenalnya.

"Kau cantik eonni," ujar Lee Kibum, adik kandung Sungmin satu-satunya.

Sungmin menoleh ke adiknya, meminta untuk diyakinkan sekali lagi.

Kibum menggerakkan kursi roda yang dipakainya mendekat ke arah Sungmin. Ya, Kibum memang mengalami kelumpuhan sejak lima tahun yang lalu. Sebuah kecelakaan yang merenggut nyawa ayah mereka dan menyebabkan kelumpuhan Kibum. Meskipun kondisinya lumpuh, tapi Kibum tetap berkarya, yaitu dengan menerima jahitan dan sesekali menerima permintaan make up beberapa orang yang mengenal mereka.

Dan malam ini, Sungmin yang tomboy telah berubah menjadi seperti seorang dewi dari mitologi Yunani. Gaun hitam anggun yang langsung dijahit oleh Kibum melekat pas di tubuh Sungmin. Bahannya lembut dan menggantung tepat di atas lutut Sungmin. Gaun tanpa lengan dan bertali tipis di kedua bahu Sungmin, serta aksen garis berwarna emas di bagian pinggang yang membuatnya tetap terlihat menawan dalam kesederhanaan.

Kibum jugalah yang malam ini menjadi penata rias dan penata rambut bagi Sungmin.

Rambut Sungmin yang biasanya hanya dikuncir kuda, kini digerai dan dibuat sedikit bergelombang. Riasan wajah Sungmin tidak tebal namun tetap membuatnya terlihat berbeda. Kibum tahu betul struktur wajah kakaknya, bagian mana yang patut diberi perhatian lebih. Mata dan bibir Sungmin adalah bagian yang paling cantik, menjadi andalan dengan tatanan yang sederhana tapi tetap memikat.

"Percayalah eonni, kau sangat cantik," ulang Kibum. Dalam hati ia juga memuji hasil pekerjaannya sendiri.

Sungmin berlutut di hadapan Kibum sehingga tubuhnya sedikit lebih rendah dari adiknya yang duduk di kursi roda. Sungmin menatap adiknya dengan bersungguh-sungguh, rasa terima kasih dan kagum yang tidak pernah putus.

"Ini hasil kerjamu. Aku tidak meragukan kemampuan adikku, hanya saja..." Sungmin mendesah pelan, kesulitan mencari kata yang tepat. "... ini seperti bukan diriku," akhirnya Sungmin memilih kata itu agar tidak menyinggung adiknya.

"Selama ini kau yang tidak menyadari betapa cantiknya dirimu. Kau cinderella, dan aku ibu peri," kata Kibum mengedipkan sebelah matanya.

Sungmin tersenyum kemudian memajukan tubuhnya untuk memeluk Kibum. Tepat pada saat itu ibu mereka masuk ke dalam kamar.

"Nah tuan putri, pangeran Yunho menunggumu di bawah. Segera temui dia dan beri kejutan padanya dengan tampilanmu yang luar biasa cantik," ujar Lee Heechul, ibu mereka yang meskipun sudah memesuki usia tua tapi masih terlihat cantik dan enerjik.

Sungmin berdiri dan merapikan gaunnya sekali lagi. Heechul mendekat dan berdecak kagum melihat penampilan Sungmin yang berubah 180 derajat.

"Ya Tuhan, Kibum kau usir ke mana kakakmu yang tomboy itu?" goda Heechul pada kedua putrinya.

Kibum mengangkat kedua bahunya lalu menggeleng. Kemudian mengedipkan matanya. "Aku sudah menyihirnya. Kini cinderella sudah siap untuk berpesta," Kibum ikut-ikutan menanggapi candaan ibunya dan membuat pipi Sungmin semakin merona.

"Sudahlah, sebaiknya aku berangkat sekarang. Aku tidak mau membiarkan Yunho menunggu terlalu lama. Dan ibu peri sekali lagi terima kasih. Umma, aku berangkat,"pamit Sungmin sambil berlalu meninggalkan ibu dan adiknya yang masih tertawa senang karena berhasil menggodanya.


"Apa kau harus pergi?" tanya seorang wanita cantik pada putranya yang sudah berpakaian sangat rapi.

Anak wanita itu mengangguk tanpa menoleh pada ibunya, apalagi pada perempuan yang ada di samping ibunya.

"Tunggu!" Sergah ibunya cepat, memotong langkah anaknya. "Di mana sopan santunmu? Jessica ada di sini dan kau malah pergi?" Sang ibu terlihat kesal, sementara yeoja yang dipanggil Jessica itu hanya menunduk.

"Aku tidak harus pergi dengannya," jawab sang anak acuh.

"Seharusnya malam ini kalian makan bersama, kan? Kenapa kau malah ingin pergi dan meninggalkan Jessica?"

Mau tidak mau sang anak pun menatap yeoja itu. Pandangannya malas, bahkan terkesan jijik. Dan bukannya prihatin karena tampang memelas yang dipasang Jessica, ia malah mencibir, 'Drama!'

"Bawa Jessica bersamamu kalau kau memang ingin keluar dari rumah ini," sang ibu berkata dengan tegas. Sang anak mau membalas perkataan ibunya, tapi sang ibu lebih cepat memotongnya, "Dan jangan membantah!"

Merasa tidak punya pilihan lain, sang anak pun hanya mengedikkan bahunya malas, lalu berjalan ke arah pintu keluar. Sementara sang ibu tersenyum pada Jessica dan mengisyaratkan agar yeoja itu mengikutinya.

Seperti prajurit yang mendapat komando dari jendral, Jessica pun berlari kecil mengikuti langkah sang anak yang acuh.


"Nona manis, silakan ini topengmu," ujar Yunho, menyerahkan topeng berwarna emas pada Sungmin sebelum mereka memasuki aula tempat berlangsungnya pesta Radio Sapphire.

Sungmin menerima, tapi wajahnya merengut untuk menyembunyikan pipinya yang semerah delima. "Kau tidak perlu mengucapkan itu berulang kali, Yun."

Yunho memakai topeng setengah wajah berwarna biru tuanya. "Aku rasa aku akan mengatakannya sepanjang malam ini. Kau tahu, Min? Kau terlihat berbeda. Kau memang sangat cantik malam ini," ujar Yunho sambil menatap mata Sungmin lembut.

Sungmin tidak sanggup membalas tatapan Yunho, ia langsung saja memakai topengnya, berharap kegugupannya tidak terlalu terlihat jelas.

"Ayo." Yunho menawarkan lengannya pada Sungmin agar mereka bisa segera memasuki aula karena pesta akan segera dimulai. Malu-malu Sungmin menggamitkan tangannya pada lengan Yunho.

"Hei, apa kau tidak bisa berjalan pelan?" Suara seorang yeoja di belakang mereka membuat Sungmin dan Yunho berhenti.

Sungmin memperhatikan seorang yeoja bertopeng merah muda yang sedang berusaha menyamakan langkahnya dengan seorang namja yang mengenakan topeng putih. Namja itu tampak acuh dan terus berjalan. Bahkan melewati Sungmin dan Yunho begitu saja dan memasuki aula.

Sungmin dan Yunho saling pandang, mereka kompak mengangakat kedua bahu mereka bersamaan. Sementara yeoja bertopeng merah muda itu tampak kesulitan dengan sepatu high-heels yang dipakainya.

"Apa kau tahu siapa mereka?" tanya Sungmin.

Yunho menggelengkan kepalanya. Wajah dua orang tadi sudah tertutup topeng, jadi sulit dikenali. "Entahlah. Mungkin karyawan, atau mungkin undangan," Yunho menjawab tidak yakin.

Sungmin mengerutkan keningnya, ia penasaran pada kedua orang yang baru saja melewati mereka. "Sudahlah, ayo, kita masuk," ujar Yunho membuyarkan keheranan pada diri Sungmin.


Pesta ulang tahun Radio Sapphire cukup meriah meskipun selain karyawan tidak banyak tamu undangan yang datang. Sungmin sendiri sekarang sudah mulai membaur dengan teman-temannya sesama karyawan dan penyiar Radio Sapphire. Sesekali Sungmin menangkap mata Yunho yang kini sedang berbincang dengan petinggi Radio Sapphire.

Sungmin memiringkan kepalanya. Menatap Yunho dengan topeng yang masih terpasang di wajahnya. Harus diakui, Yunho memang terlihat sangat tampan malam ini. Setelan jas berwarna biru gelapnya seperti dirancang khusus untuk dirinya. Rambut lurus kecoklatannya diberi gel dan disisir rapi. Yunho tampak seperti seorang bangsawan yang tampan.

Sungmin terkesiap saat tanpa sengaja Yunho melihat ke arah dirinya. Merasa tertangkap basah sedang memperhatikan Yunho, Sungmin memilih meminum minumannya dan kemudian mengalihkan perhatiannya dengan berpura-pura mendengarkan obrolan teman-temannya.

"Ladies and gentlement, apa kalian senang malam ini?" Suara MC yang berada di panggung tiba-tiba menyatukan perhatian seluruh pengunjung pesta. MC itu mengacungkan gelas yang dipegangnya, kemudian dengan kompak aula itu menggemakan kata "ya".

"Untuk menambah meriah suasana, aku akan membawa kalian semua pada sebuah permainan. Nama permainannya adalah Dance with Me. Sebentar lagi lampu akan dimatikan, dan akan ada lampu sorot yang memilih secara acak pasangan paling beruntung untuk berdansa di atas panggung. Dan untuk kalian yang lain, don't worry, lantai dansa ini cukup luas untuk kita berdansa sepanjang malam. So guys, wanna join with me?" MC meletakkan tangannya yang membuat lingkaran di dekat telinga. Seolah-olah siap menerima jawaban penuh semangat dari pengunjung. Pengunjung pesta pun bersorak menyetujuinya.

"Pasang topengmu dengan benar kawan.." Hening sejenak. Sekali lagi MC mengangkat gelas yang dipegangnya. "… and let's play the game."

Sedetik kemudian semua lampu dalam aula itu padam. Terdengar beberapa orang kasak-kusuk, ada yang berharap mendapat kesempatan itu, atau hanya sekadar menebak-nebak siapa yang akan terpilih.

Sungmin sendiri tidak terlalu berharap, bahkan ia tidak terlalu tertarik untuk berdansa. Belum lagi kemungkinannya jika ia berdansa dengan seseorang yang tidak membuatnya nyaman, atau dengan bodohnya ia malah tersandung kaki sendiri dan mengacaukan dansanya. Semua pikiran-pikiran itu menggelantung begitu saja membuat Sungmin memilih untuk begerak dalam kegelapan. Mencoba ke arah pinggir dan…

"Yes! We got you, lady!" Suara MC terdengar entah di mana ia berdiri sekarang. Sungmin mencari suara MC tersebut, tapi di sekitarnya gelap.

"Yes, you! The gold-lady," ujar suara MC masih terdengar tanpa terlihat wujudnya.

Sungmin mengedipkan matanya dari balik topeng. Tiga detik kemudian barulah Sungmin sadar bahwa hanya dirinya yang bercahaya, hanya dirinya yang mendapat sorotan lampu berwarna putih.

'Sial.' Umpat Sungmin dalam hati.

"Naiklah ke atas panggung, Nona, dan mari kita cari pangeran dansamu malam ini," ujar MC dengan semangat.

Sungmin menundukkan kepala. Berharap tidak hanya wajahnya saja yang memakai topeng tapi seluruh tubuhnya juga kalau bisa sebaiknya diselimuti jaket tembus pandang. Sudah pasti Sungmin ingin kabur dari ruangan itu, tapi suara-suara dari pengunjung lain mulai terdengar menyemangatinya untuk naik ke atas panggung.

Akhirnya mau tak mau Sungmin mulai melangkah ke atas panggung dibantu sorot lampu yang menuntun jalannya. Sungmin menunggu di atas panggung, sementara MC mulai bicara lagi, entah dari sudut mana. "Boys, jangan biarkan tuan putri kedinginan dan menunggu lama, bersiaplah."

Sungmin memejamkan matanya berharap Yunho sebagai yang terpilih. Sungmin tidak ingin membayangkan dengan siapa lagi ia akan berdansa.

Sementara di sudut gelap yang lain, Yunho berdiri dengan sedikit gelisah. Ia tahu betul siapa yeoja bertopeng putih yang sedang berdiri di tengah panggung. Hati kecilnya berharap akan ada lampu yang akan menyala tepat di atasnya.

'Aku. Aku. Aku.' Gumam Yunho berulang kali dalam hati penuh harap. Seperti malaikat berada dekat dengannya, keinginannya langsung dikabulkan Tuhan. Lampu putih itu sedikit demi sedikit menyala di atas kepalanya dan…

Seseorang menubruk tubuh Yunho dan membuat Yunho terjatuh ke lantai. "Ugh. Maaf, Bung," lanjut si penubruk.

"Well, princess." Suara MC itu terdengar lagi saat cahaya putih dari lampu sorot berada tepat di atas seorang namja bertopeng putih yang tubuhnya sedikit menunduk dan tangan kanan terulur ke bawah, seperti gerakan ingin mengambil sesuatu. Posisi tubuh namja bertopeng putih persis seperti gerakan film yang di-pause. "Is your white-prince?" Lanjut sang MC.

"Tunggu apalagi, naiklah ke atas dan temui sang putri, Pangeran," ujar MC dengan semangat yang tidak kurang dari semangatnya saat meminta Sungmin naik ke atas panggung.

Tidak perlu menunggu lama karena sedetik kemudian namja bertopeng putih itu melangkah –dengan sorot lampu- ke atas panggung, tempat Sungmin berdiri, menerka siapa sosok dibalik topeng itu. Dan…

Yang sudah begitu saja meninggalkan Yunho yang tadinya siap menyambut uluran tangan namja bertopeng putih, sehingga menyebabkan Yunho malah terjatuh lagi dalam gelap.


"Sial," keluh Yunho.


TBC


Typo-nya pasti banyak banget. Nggak aku edit soalnya. :)

Nama Sooyoung di chap ini aku ganti jadi Jessica, karena ternyata namanya udah ada di chap satu. Maaf ya atas kekhilafanku. Terima kasih untuk reader yang sudah mengoreksi. :)