You know I love you

Genre : Drama, Romance

Rating : T

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Jung Jinwoon and other

Adakah yang tunggu chapter terakhir ini? Kalau iya, silahkan di baca ^_^

Chapter 14 : Forever love-END

The light of the dusk shines brightly on the two.
Burninghotterthan ever felt before, deep inside the heart.
For a little while, I kept lying to myself that it's ok to be alone

Jaejoong terisak di tempatnya, tubuhnya sudah jatuh ke lantai bersamaan dengan itu, sedang Yunho hanya bisa diam sambil menatap sendu kearah depan, seolah-olah melihat sendiri betapa rapuhnya seorang Kim Jaejoong.

Ia tentu tahu apa kesalahannya, dan ia hanya mencoba menjawab dengan wajar pertanyaan yang Jaejoong ajukan. Ia tentu saja akan datang keacara pernikahan itu, atau kalau perlu ia bersedia menjadi best men dari Jaejoong.

"Kenapa, Yun? Kenapa kau merelakanku semudah itu? Kau tahu aku tidak menginginkan pernikahan ini" Kata Jaejoong setelah lama diam. Yunho ingin membuka mulutnya, tapi sesuatu dalam dadanya menghentikannya.

Pikirannya kembali pada kenangan masa sekolahnya dulu. Tiap ia berjalan di lorong sekolah pada pagi hari, ia menemui banyak gerombolan pria dan wanita yang berjalan mengiring seseorang. Yunho hanya diam, melihat pada sosok yang di kagumi banyak orang. Sosok indah itu tersenyum dengan angkuhnya, seolah kepopularan memberinya kebahagiaan.

Ketika sosok itu melewatinya, mata mereka saling bertemu dan menciptakan getaran dari dalam dadanya. Meski singkat, tapi hal seperti itu yang membuat Yunho senang.

"..Yunho"

'Kau harus menjadi egois, Yunho' Kata-kata Emma kembali terdengar di telinganya, membuat ia menatap lurus kedepan.

'Kau tahu apa yang harus kau lakukan'

"Jae.."

"Saranghae, Yunho. Jongmal" Kata Jaejoong lirih.

"Aku hanya menginginkanmu, Yunho. Semua, tubuhmu, hatimu" Jaejoong terus berbicara, berharap Yunho tersentuh.

"Jae, aku menghormati Aboji melebihi siapapun. Tanpa dia, aku tidak akan menjadi seperti ini, bertemu denganmu, jatuh cinta padamu, dan aku tahu kau akan bahagia bersamanya, tidak jika itu denganku. Aku hanya ingin kau bahagia, itu saja"

Jaejoong menutup matanya, menahan sesak yang semakin banyak di dadanya.

"Aniya, aku mencintaimu, Yunho" Kata Jaejoong tegas, "Kau akan lihat apa yang bisa aku lakukan" Jaejoong berbicara dengan keyakinan yang tidak pernah Yunho dengar. Di tempatnya berada, ia meragukan apa yang di tetapkan hatinya, Jaejoong pasti bahagia jika tak bersamanya.

Tutt..tuut..

Yunho melihat pada ponselnya, Jaejoong baru saja memutuskan komunikasi mereka dan itu membuatnya merasa bersalah. Ia melihat kearah tempat tidurnya, tepat di dinding atas tempat tidurnya, terpajang sebuah bingkai berwarna hitam. Di dalamnya ada foto seorang Kim Jaejoong yang tersenyum penuh keangkuhan.

"Aku harus bagaimana, Tuhan?"

But now, you – I'll never let go.
I'll give you what you're looking for, whenever, whenever.
Forever Love
Let's go on together, melting away any hesitations. Forever love.

.

.

.

Jaejoong menenggelamkan wajahnya di tempat tidur, kepalanya mendadak pusing. Kisah cinta ini begitu rumit, entah kenapa Yunho terlalu susah di yakinkan. Kalau saja pria itu tidak bersikeras untuk merelakan Jaejoong dengan ayahnya, semua tak akan seperti ini.

Wajah Jaejoong menghadap kearah nakas, disana ada dua buah botol berukuran sedang yang sangat Jaejoong tahu apa kegunaannya. Ia tersenyum getir. Harusnya ia sadar dari dulu, kalau sejak awal ia yang salah. Kalau saja ia menerima Yunho saat pria itu menyatakan cinta, semua tidak akan terlambat seperti ini.

"Ini salahku, aku bodoh" Gumam Jaejoong. Ia tersenyum getir, lalu mengarahkan tangannya keatas nakas untuk mengambil botol itu.

Ketika kedua botol itu sudah berada di tangannya, senyuman itu berubah menjadi seringai.

.

.

.

3 hari kemudian...

Yunho memeluk Emma dan Albert bergantian, kedua orang itu tersenyum senang karena Yunho memutuskan untuk pulang ke Seoul. Coba saja dari dulu pria itu melakukannya, tidak akan lebih susah dari sekarang.

"Aku harap, disana kau mendapatkan kebahagiaanmu kembali, Yunho" Kata Emma sambil tersenyum manis. Yunho mengangguk.

Ia berterimakasih pada Emma yang sudah meminjamkan uang untuknya pulang ke negara asalnya dan ia tak tahu kapan bisa membayarnya.

"Maaf jika aku merepotkan kalian" Kata Yunho sambil menggaruk lehernya.

"Hiks, Oppa"

Yunho menoleh pada orang di sampingnya yang tidak bisa menahan airmatanya. Yunho memeluk Jieun yang terisak, mencoba menenangkan gadis yang masih dalam keadaan shock itu. Semalam Yunho memberitahukan padanya jika mereka tidak bisa bersama karena Yunho tak tertarik pada wanita, dan menceritakan semua yang gadis itu ingin tahu, termasuk tentang Tuxedo dan kepulangannya ke Seoul. Awalnya Jieun hanya diam karena masih tak mengerti, tapi kemudian ia tidak bisa berhenti menangis hingga sekarang.

"Maafkan Oppa. Kau gadis yang manis Jieun ah, dan aku yakin kau akan mendapatkan pria yang baik" Kata Yunho sambil mengelus rambut Jieun.

Jieun menggeleng, "Tapi aku menyukaimu, Oppa. Hiks hiks"

"Aku juga, tapi aku menganggapmu adik. Dan aku punya seseorang yang harus aku perjuangkan di Seoul sana. Aku harap kau mengerti"

"Hiks hiks, ne"

"Bagi para penumpang pesawat Boing KRS780 tujuan Seoul, harap bersiap-siap" Suara dari pengeras suara bandara itu menghentikan pembicaraan mereka.

Yunho melepaskan pelukannya, lalu tersenyum pada Jieun "Jja, aku pergi dulu"

"Bye" Yunho mengucapkan salam pada semua yang sudah mengantarnya lalu berjalan kearah pintu keberangkatan.

Ia tersenyum bahagia di setiap langkahnya, berfikir bahwa kepulangannya kali ini adalah benar. Ia sudah memutuskan untuk kembali dan mengambil seseorang yang seharusnya menjadi miliknya.

"Jaejoongie, tunggu aku" Gumamnya.

What kind of a future do you imagine?

Thefirst starI saw at dawn, as I imagined your childhood in the sky.

Now, I will give that to you.
I'll sing for you, my precious you, whenever, whenever.

believe in love

.

.

.

Jauh di sebuah rumah sakit yang berada di Seoul, seorang pria sedang terbaring di atas ranjang. Jarum infus menusuk di punggung tangan kirinya, dan sebuah masker oksigen menutupi hidung dan mulutnya.

Ini sudah hari kedua ia menghuni kamar rawat itu dan sampai sekarang pun belum menunjukkan tanda-tanda terbukanya kedua mata yang tertutup itu. Dokter sudah menanganinya dan seharusnya ia sudah bisa sadar, tapi nyatanya sampai sekarang keadaannya masih sama.

Dia mengalami koma.

Ceklek..

Seorang wanita tengah baya yang masih cantik di usianya, masuk kedalam kamar itu. Gurat lelah terlihat jelas di wajahnya. Ia berjalan kearah ranjang tempat anaknya berbaring.

"Joongie, ini Omoni. Bagaimana kabarmu, eum?" Katanya pada sang anak.

"Kau terlihat menyedihkan" Jawabnya sendiri. Ia menunduk, seketika airmata yang sudah menggenang di pelupuk matanya, menetes membasahi seprai. Ia terisak pelan, menyadari kenyataan kalau sang anak yang sangat ia cintai kini terbaring lemah tak berdaya.

Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau ia terlambat satu menit. Mungkin Jaejoong sudah tidak ada di dunia ini. Ketika ia menemukan Jaejoong di kamarnya, ia baru pulang dari tempat Hyunjung dan mendadak panik karena melihat busa yang keluar dari mulut anaknya. Jaejoong baru saja meminum banyak butiran obat penenang, dan kenyataan itu yang membuat ia sangat terpukul. Jaejoong ingin bunuh diri dan ia tahu apa penyebabnya.

"Buka matamu, nak. Lihat Omoni disini" Haneul menutup mulutnya yang terus terisak.

"Omoni mohon jangan tinggalkan Omoni, Omoni hanya memilikimu sebagai anak, tanpamu apa artinya aku hidup. Hiks..Joongie" Haneul meletakkan kepalanya di atas ranjang, menoleh kearah Jaejoong yang terdiam. Wanita itu mengusap tangan Jaejoong dengan lembut, berharap sang anak meresponnya, tapi yang ia dapat tetap sama. Jaejoong terdiam dengan tenang.

"Omoni mencintaimu"

You're the only love, forever

I can promise you that I'll protect you no matter what.

.

.

.

Yunho terus menghubungi ponsel Jaejoong dan mendapat jawaban yang sama dari operator, "Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif"

Ia menghela nafas, saat ini ia berada di dalam taksi yang membawanya dari bandara ketempat tujuannya, yaitu rumah Jaejoong.

Ia tersenyum tiap kali membayangkan bagaimana wajah terkejut Jaejoong, pasti sangat manis.

"Tunggu aku, Jae"

.

.

.

"Apa Jaejoong ada di rumah?" Tanya Yunho pada seorang maid yang membukakan pintu untuknya. Maid itu terdiam, ia tentu mengenal siapa orang yang berdiri di depannya, orang yang membuat tuannya seperti sekarang.

Dan ketika maid itu menjawab, dunia Yunho seolah runtuh.

"Tuan Jaejoong di rumah sakit karena percobaan bunuh diri"

"M-mwo?" Cicit Yunho. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan, dan berharap semua itu bohong.

"Dia mengalami koma sejak dua hari lalu"

What kind of a future do you imagine?

.

.

.

Yunho berlari seperti orang kesetanan di lorong rumah sakit, semua orang memandang heran kearahnya. Yunho tidak mempedulikan itu karena yang ada di pikirannya hanyalah, Jaejoong.

"Dimana kamar pasien bernama Kim Jaejoong?" Tanyanya tergesa-gesa pada resepsionis.

"Kamar nomer 425" Setelah mengucapkan terima kasih, Yunho segera berlari kembali ke kamar yang di sebutkan tadi.

.

.

.

"Chagya" Haneul terbangun dari tidurnya, setelah Hyunjung mengusap punggungnya. Pria yang merupakan ayah kandung Jaejoong itu tersenyum lembut. Mata Haneul masih lembab dan hal itu membuat Hyunjung cemas. Ia tidak menyangka semua ini akan terjadi.

"Hyunnie, Joongie..." Haneul melihat sendu kearah Jaejoong. Hyunjung mengangguk paham, ia sangat mengerti apa yang di rasakan kekasihnya karena ia pun sama. Ia merasakan sedih yang teramat sangat, melihat anak kandungnya terbaring tak berdaya seperti itu. Ia lebih menyesalkan dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk Jaejoong, ia merasa bukan ayah yang baik.

Bruk..

Kedua orang yang tengah berpelukan itu menoleh bersamaan kearah pintu, mata mereka terbelalak melihat siapa yang baru datang. Yunho tidak mempedulikan tatapan terkejut dari orang tua Jaejoong, pandangannya hanya tertuju pada satu sosok.

Dengan perlahan Yunho masuk kedalam, tak melepaskan pandangannya dari Jaejoong yang masih memejamkan mata. Ia menggeleng pelan, matanya memanas dan ia yakin sebentar lagi airmatanya akan mengalir.

"Ja-jae.." Nafas Yunho tercekat begitu sampai di samping ranjang tempat Jaejoong tertidur. Ia melihat pada wajah pucat pasi pria yang ia cintai.

Haneul dan Hyunjung menyingkir, membiarkan pria itu dekat dengan anak mereka.

"Jae..kenapa, Jae?" Yunho menggenggam tangan kanan Jaejoong yang terasa dingin di tangannya, ia menciuminya berulang kali.

"Bodoh! Apa yang kau lakukan eoh? Kenapa kau tidak menungguku?!" Tanya Yunho agak membentak meski suaranya serak, airmata sudah membasahi pipinya. Ia tidak peduli dengan apapun, yang sekarang ia pikirkan hanya Jaejoong.

"Aku pulang, Jae. Hiks. Aku disini untukmu" Yunho tidak bisa menahan kesedihannya. Jaejoong tetap diam dan Yunho benci itu.

The only treasure in the world. Believe in love.
You're the only love, forever

"Bangun, bodoh! Bangun!" Yunho terus berteriak membuat Hyunjung terpaksa menahan tubuhnya. Haneul menatap khawatir pada Yunho, pria tampan itu tampak menyedihkan.

"Hiks, Jae" Yunho meronta di pelukan Hyunjung, ia terus berteriak memanggil orang yang ia cintai.

"Kau bilang kau mencintaiku, kau bilang kau menginginkanku, tapi ternyata kau bohong!"

"Bangun, Jae. Bangun" Tubuh Yunho melemas. Ia hampir jatuh kalau saja Hyunjung tak menahannya.

"Saranghae"

Bersamaan dengan itu, dari sudut mata kanan Jaejoong mengeluarkan butiran airmata yang langsung melewati pelipisnya.

Dan di balik pintu kamar rawat yang terbuka itu, tubuh Jinwoon merosot kelantai. Ia menjambak rambutnya, merasa bodoh karena telah memisahkan anaknya dengan orang yang di cintainya. Ia merasa gagal sebagai seorang ayah, seharusnya ia mengalah, tapi ia sangat egois hingga membuat dua orang itu terluka.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

I'll give you what you want, whenever, whenever.
believe in love
Absolutely the only light in the world. Believe in love.

.

.

.

Ini sudah hari kelima Jaejoong mengalami koma dan belum ada tanda-tanda akan bangun, tapi hal itu tak membuat Yunho menyerah. Tiap hari ia menemani Jaejoong di rumah sakit dan mengajaknya bicara. Ia terus mengucapkan kata-kata semangat dan cinta untuk sang pujaan hati, sama seperti sekarang.

"Bangunlah, Jae. Nanti kita akan menikah, kau mau kan menikah denganku hm?" Kata Yunho sambil tersenyum.

"Kau tahu, aku meminjam uang Emma untuk pulang menemuimu, dan aku sangat marah ketika melihatmu tidur disini, jadi kau harus bangun" Katanya. Ia sebenarnya merasa bodoh sekarang karena berbicara pada orang yang tidur, tapi ia yakin Jaejoong akan mendengarnya.

Ceklek..

"Yunho ah, ayo makan dulu" Kata Haneul begitu datang, ia membawa dua mangkuk mie. Yunho mengangguk lalu berjalan menuju sofa di pojok kamar. Mereka menghabiskan makanan itu dalam diam.

Yunho meminum airnya, "Gomawo, Ahjumma" Katanya membuat Haneul tersenyum.

"Kau sudah bicara pada Jinwoon, Yun?" Tanya Haneul membuat Yunho menatapnya. Yunho mengangguk. Ia memang sudah bicara dengan ayahnya atau lebih tepat Jinwoon yang memanggilnya.

"Aboji sudah merelakan Jaejoong dan menyetujui hubungan kami"

Haneul tersenyum, ia ikut senang mendengarnya. Seharusnya memang seperti itu, Yunho dan Jaejoong harus bersatu. Tapi ia masih sedih kalau Jaejoong belum juga sadar, padahal kata dokter tidak ada yang salah pada keadaan Jaejoong, mungkin pria itu sedang ingin istirahat lebih lama.

"Ketika Jaejoong sadar nanti, aku akan menikahinya dan membawanya ke paris"

"Mwo? Jadi kau akan memisahkanku dan anakku?" Tanya Haneul kesal. Yunho terkekeh.

"Bukankah sudah seharusnya, lagipula kau akan sibuk dengan Hyun Ahjussi" Wajah Haneul merona saat Yunho mengatakan itu. Ya, setelah Yunjae menikah giliran orang tuanya itu yang akan menikah. Lalu bagaimana dengan Jinwoon? Biarlah waktu yang menjawabnya.

"Eungh..."

Yunho dan Haneul menoleh cepat kearah Jaejoong, dengan segera mereka menghampiri pria itu. Dengan perlahan kedua manik mata Jaejoong terbuka, lalu menyipit karena silau dengan cahaya lampu.

"Jae/Joongie" Yunho dan Haneul memanggil bersamaan. Jaejoong melihat sosok yang sangat ia rindukan, ia menggeleng pelan karena berfikir semua itu hanya ilusi.

"Jae, bicaralah"

"Yu-yunho.." Suara Jaejoong tersendat. Yunho dan Haneul menghela nafas lega.

"Ne"

"Yunho ah..." Jaejoong mengulurkan tangannya untuk menyentuh Yunho dan segera di sambut oleh pria itu.

"I-ini benar kau, Yun? Aku..tidak mimpi?" Yunho mengangguk sambil tersenyum, sekarang Jaejoong sudah menyentuh wajah Yunho.

"Yun, aku-"

"Sstt" Yunho meletakan telunjuk pada bibirnya, menyuruh agar Jaejoong diam.

"Aku senang kau sadar"

"Hiks, aku bahagia, Yun"

"Aku juga"

Haneul tersenyum lega melihat kebahagiaan itu, dalam hati ia berkata "Kau menemukan cinta sejatimu, Joongie. Berbahagialah untuk Omoni. Saranghae"

I'll give you what you're looking for whenever, whenever.
Melting away every hesitation, let's go on, two of us, together.
You're the only love, forever.

.

.

.

E

N

D

.

.

.

Forever love—By Tohoshinki

.

.

.

Yeah, siapa yang senang ayo teriak! Oh akhirnya ff gaje and membosankan ini berakhir juga. Gimana dengan endingnya? Suka, suka, suka ^_^

Nah, ayo cerita gimana pendapat kalian tentang seluruh chapter di ff ini dan bagian mana yang kalian suka?

Terima kasih buat reader yg udah review, follow, favorite dan baca ff ini. Maaf kalau ff ini jauh dari kata sempurna, tapi aku akan belajar dari kesalahan.

*hug*

Ah iya, ff ini ada extranya looooh. Hayo, siapa yg siap sama NC yunjae? Oke, nantikan yah. Tapi bagi yang tidak mau menunggunya juga gak apa-apa kok karena untuk part itu akan terpisah dari ff ini jadi anggap aja itu bonus. Hehe..

Dan aku juga update ff Heroin sesuai janjiku yang bakal lanjut ff itu kalau ff ini udah selesai. Selamat menikmati ^_^

Review ne :-)