Previous Chapter: Kyuhyun sudah menjelaskan apa alasannya tidak mau ditunangkan dengan Jessica. Sedangkan Sungmin ragu apakah akan melanjutkan sandiwara mereka.
Kyuhyun merapikan kancing lengan bajunya. Menatap heran pada dirinya sendiri. Kyuhyun menghela napasnya berat. Bahunya merosot dengan lesu. Kyuhyun tidak tidur semalaman, pikirannya sibuk pada Lee Sungmin. Kyuhyun teringat kata-kata Sungmin sebelum yeoja itu keluar dari mobilnya saat semalam Kyuhyun mengantarnya.
"Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Melanjutkannya atau menghentikannya. Tapi kuharap kau tidak memaksakan kehendakmu padaku."
Berbagai pertanyaan menghantui Kyuhyun. Bagaimana jika Sungmin tidak mau melanjutkan hubungan pura-pura mereka? Bagaimana caranya agar Kyuhyun bisa membujuk Sungmin? Bagaimana kalau Sungmin tahu bahwa Kyuhyun tidak pernah merasa sakit lagi pada bagian pentingnya itu? Bagaimana kalau Sungmin menyadari bahwa ancaman tentang visum itu tidak pernah ada?
Kyuhyun menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Dibuangnya pikiran buruk itu jauh-jauh. Kyuhyun harus mencari cara agar Sungmin tetap melanjutkan rencananya. Pertunangannya dengan Jessica harus dibatalkan. Kyuhyun bergdidik jijik membayangkan Jessica dengan obsesinya yang tidak masuk akal itu.
Setelah selesai bersiap-siap, Kyuhyun keluar dari kamarnya dan bergabung dengan kedua orang tuanya di ruang makan. Nyonya dan Tuan Cho sudah menunggu di sana.
Kyuhyun menghindari menatap wajah umma-nya yang melihatnya dengan tatapan tajam. Kyuhyun menduga bahwa ibunya sedang marah padanya karena laporan Jessica tentang kejadian semalam.
"Siapa yeoja itu?" tanya Nyonya Cho sengit.
Kyuhyun yang baru saja menyentuh sumpitnya, kembali meletakannya. "Namanya Lee Sungmin. Dia yeojachingu-ku."
Nyonya Cho menggebrak meja mendengar jawaban Kyuhyun. Mangkuk yang ada di hadapannya bergetar. "Apa maksudmu bicara seperti itu? Kau ini akan bertunangan dengan Jessica. Apa yang akan kukatakan pada orang tuanya kalau kau begitu saja membatalkan rencana itu? Kau bisa mempermalukan keluarga kita."
"Aku tidak membatalkannya. Dari awal aku sudah bilang tidak menyetujui rencana umma dan keluarga mereka. Tidak akan pernah."
"Cho Kyuhyun! Berani sekali kau membantahku?" Nyonya Cho berkata gusar.
Kyuhyun baru saja akan membalas ucapan umma-nya, tapi suara gebrakan pada meja yang berasal dari tengah-tengah mereka, membuatnya menelan lagi kata-katanya.
"Kalian ini apa-apaan sih?" tanya Tuan Cho menatap istri dan anaknya bergantian. "Setiap hari hanya meributkan hal-hal itu saja. Kita ini ada di meja makan, apa pantas bertengkar di meja makan?"
Baik Nyonya Cho maupun Kyuhyun tidak ada yang menyahut ucapan Tuan Cho. Mereka sama-sama menundukkan kepala.
"Kau," Tuan Cho menatap istrinya. "Jangan suka memaksakan kehendakmu sendiri pada Kyuhyun. Dia sudah dewasa dan bisa menentukan pilihannya sendiri."
"Kau selalu membela Kyuhyun. Anakmu luntang-lantung tidak jelas karena menolak mengurusi perusahaan. Apa kau juga akan membiarkan Kyuhyun memilih jodoh yeoja yang tidak jelas asal-usulnya?" ujar Nyonya Cho dengan suara tinggi. Jelas-jelas ia menentang pendapat suaminya.
"Sudahlah. Kau ini berlebihan," sahut Tuan Cho dengan suara yang memancarkan aura kebapakan. "Dan kau Kyuhyun," Tuan Cho beralih pada Kyuhyun. "Jika memang kau sudah memiliki yeojachingu, ajak dia kemari. Perkenalkan pada kami dan buktikan pada umma -mu kalau yeojachingu-mu itu pantas menjadi bagian keluarga kita."
"Tapi…" protes Nyonya Cho.
Tuan Cho menatap istrinya tajam. "Tidak ada tapi. Kau harus berkenalan dulu dengan yeojachingu Kyuhyun, mungkin pilihannya tepat untuk menjadi menantu kita."
"Bagiku, Jessica tetap pilihan yang terbaik," ujar Nyonya Cho sebelum berlalu meninggalkan Tuan Cho dan Kyuhyun.
Kyuhyun memaink tabletnya di tengah-tengah keramian orang-orang yang berlalu-lalang di lobi Radio Sapphire.
Sudah hampir tiga puluh menit Kyuhyun duduk di sana. Menunggu Sungmin selesai siaran. Alasannya yang membawanya ke mari tentu saja, membujuk –memaksa, tepatnya- Sungmin untuk tetap mengikuti permainannya dan datang menemui orang tuanya sebagai yeojachingu-nya. Kyuhyun akan melakukan apapun caranya agar bisa membujuk Sungmin dan membuatnya mengikuti rencananya untuk membatalkan pertunangan paksaan itu.
"Kau lagi," sebuah suara membuat Kyuhyun mengalihkan perhatiannya dari tablet ke sumber suara.
Kyuhyun menyunggingkan senyum malasnya melihat Yunho berdiri di dekatnya. "Aku pun ingin mengatakan hal yang sama."
Yunho mengabaikan Kyuhyun dan kembali berjalan dengan santai. "Apa siarannya sudah selesai? Di mana Sungmin?" tanya Kyuhyun membuat langkah Yunho terhenti.
Yunho berbalik. Menatap Kyuhyun tajam. "Hari ini Sungmin tidak siaran. Dan kalau pun aku tahu di mana Sungmin berada, aku tidak akan pernah mengatakannya."
Tanpa mendengar apa yang akan Kyuhyun katakan, Yunho meninggalkan Kyuhyun begitu saja. Melintasi lobi dan melangkah menuju pintu keluar.
'Sungmin tidak siaran?'
Kyuhyun memeriksa tabletnya, mencari nama Sungmin dalam kontak teleponnya dan menghubungi Sungmin. Begitu terhubung dengan mailbox, Kyuhyun memutuskan meninggalkan Radio Sapphire.
Suju Hospital.
Entah apa yang ada di pikiran Kyuhyun hingga ia membuntuti Yunho sampai ke pelataran parkir Suju Hospital. Kyuhyun tidak mengerti kenapa ia harus mengikuti ke mana Yunho pergi, tapi nalurinya berkata kalau ia ingin bertemu Sungmin maka Yunho bisa menjadi perantaranya. Kyuhyun begitu yakin bahwa Yunho akan menemui Sungmin, tapi begitu sampai di tempat tujuan Yunho, Kyuhyun malah terbengong-bengong.
Kalau nalurinya benar bahwa Yunho akan bertemu dengan Sungmin, kenapa rumah sakit yang dipilih sebagai tempat mereka bertemu? Atau mungkin Kyuhyun hanya penasaran saja, makanya ia bisa terbawa dengan nalurinya, mengikuti Yunho sampai ke sini.
Kyuhyun baru saja akan menyalakan lagi mesin mobilnya saat ia melihat Sungmin keluar dari pintu masuk rumah sakit. Sungmin tersenyum, menyambut Yunho yang juga sedang tersenyum karena kedatangannya disambut Sungmin.
"Cih, norak sekali," tanpa sadar Kyuhyun mendecih melihat adegan itu.
Melihat Sungmin dan Yunho memasuki rumah sakit, Kyuhyun pun turun dari mobilnya. Rasa penasaran Kyuhyun membawa langkahnya untuk mengikuti mereka. Kyuhyun baru berhenti saat Sungmin dan Kyuhyun memasuki sebuah ruangan.
"Ruang fisioterapi?" Kyuhyun menggumamkan pelan tulisan yang tertera di depan pintu ruangan yang tertutup itu.
"Maaf, apa Anda ingin masuk?" tanya seorang berpakaian suster membuat Kyuhyun kaget dan terlonjak sedikit.
Dengan gugup, Kyuhyun menjawab, "Ti… tidak. Aku hanya… merasa seseorang yang kukenal masuk ke dalam ruangan ini," Kyuhyun menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "Tapi sepertinya aku hanya salah lihat."
"Kalau begitu bisa bergeser sebentar? Saya harus masuk," ujar suster itu karena Kyuhyun menghalangi jalan masuknya.
Kyuhyun tersenyum kaku kemudian menggeser tubuhnya untuk memberikan jalan masuk bagi suster.
Kyuhyun memutuskan untuk menahan diri tidak masuk ke dalam. Kyuhyun akan menunggu Sungmin, karena itu ia melangkahkan kakinya melewati lorong-lorong rumah sakit dan duduk di lobi besar rumah sakit.
Di lobi, Kyuhyun duduk seperti orang linglung. Kepalanya terisi penuh tentang apa yang dilakukan Sungmin dan Yunho di dalam ruang fisioterapi. Juga tentang sejauh mana hubungan mereka. Semenjak awal Kyuhyun menyadari bahwa Sungmin memiliki perasaan pada Yunho, lalu apakah Sungmin sudah menyatakan perasaannya? Dan apakah Yunho membalas perasaan Sungmin? Lalu bagaimana dengan rencananya sendiri? Bagaimana dengan perasaannya sendiri?
'Perasaanku? Memang kenapa dengan perasaanku?' tanya Kyuhyun pada batinnya sendiri.
Tidak lama setelah tenggelam dalam lamunannya sendiri, Kyuhyun kembali menginjakkan kaki ke bumi saat dua orang yang ditunggunya melintasi lobi menuju pintu keluar. Kyuhyun bangkit dan memperhatikan mereka dari jarak yang cukup aman. Aman bagi penglihatannya sendiri dan jangkauan Sungmin serta Yunho agar tidak bisa melihatnya.
Rupanya Sungmin hanya mengantar Yunho sampai di depan pintu keluar rumah sakit. Sementara Yunho terus berjalan ke parkiran dan menuju mobilnya. Sungmin tetap berdiri di situ sampai mobil Yunho menghilang. Kemudian baru lah ia berbalik.
"Astaga!" Sungmin hampir meloncat saat ia melihat Kyuhyun berada tepat di hadapannya ketika ia berbalik. "Kenapa kau bisa ada di sini? Apa kau sedang menguntit?"
"Enak saja. Aku tidak serendah itu. Aku ke sini untuk…" Kyuhyun memutar bola matanya untuk mencari jawaban. "… untuk menebus obat. Salepku habis."
Sungmin menghembuskan napas pelan. Ia tahu, sampai kapan pun Kyuhyun akan menyudutkannya pada masalah itu, membuatnya terus-terusan merasa bersalah.
"Kau sendiri sedang apa di sini?" tanya Kyuhyun mengalihkan perhatian agar kembali fokus pada Sungmin.
Sungmin sempat ragu sebelum menjawab, tapi melihat Kyuhyun yang terus menunggu jawabannya, Sungmin pun memberitahukan pada Kyuhyun. "Aku menemani adikku terapi. Dia lumpuh," jawab Sungmin sambil kembali berjalan kembali masuk ke dalam rumah sakit. Kyuhyun mensejajari langkahnya.
"Apa adikmu sakit?" Kyuhyun kembali bertanya.
Sungmin menggeleng. "Ayah dan adikku mengalami kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Ayahku meninggal, sementara adikku mengalami kelumpuhan. Tadinya adikku lumpuh total, tapi dengan mengikuti terapi, akhirnya sedikit demi sedikit adikku mulai bisa menggerakkan kakinya."
"Kecelakaan tunggal?" cecar Kyuhyun.
"Bukan. Mereka ditabrak sebuah mobil. Tapi pengendara itu kabur dan tidak bertanggung jawab sama sekali." Sungmin berhenti mendadak seakan tersadar dari sesuatu. Lalu menoleh ke samping, menatap Kyuhyun garang. "Kenapa kau ini ingin tahu urusanku? Lagipula kenapa kau mengikuti aku?"
Kyuhyun hanya mengedikkan bahu. "Aku ingin bertemu adikmu. Ayo."
Tanpa antisipasi sebelumnya, Kyuhyun menarik sebelah tangan Sungmin ke dalam genggamannya. Sungmin ingin menarik tangannya lagi, tapi Kyuhyun dengan kuat menahannya. "Di mana adikmu menunggu?" Kyuhyun tetap bertanya meskipun sebenarnya ia sudah tahu.
"Sebelah kanan ujung. Ru… ruang fisioterapi."
"Minnie?"
"Eonni?"
Ibu dan adik Sungmin kompak bertanya saat Sungmin yang tangannya masih digenggam Kyuhyun memasuki ruangan fisioterapi. Saat itu Kibum, adik Sungmin, sedang meluruskan kedua kakinya di balon besar berwarna silver.
Melihat kekagetan di wajah ibu dan adiknya, Sungmin melepaskan genggaman tangan Kyuhyun. Tapi kemudian Kyuhyun malah merengkuh pinggang Sungmin hingga tubuh keduanya semakin menempel. Kyuhyun mendekati ibu dan adik Sungmin dengan tetap merangkul pinggang Sungmin.
"Salam kenal. Cho Kyuhyun imnida. Saya adalah namjachingu Lee Sungmin," ujar Kyuhyun dengan santai dan penuh percaya diri
Ibu dan adik Sungmin menatap Sungmin dengan penuh tanda tanya. Sungmin menggeleng-gelengkan kepalanya kuat. Tangannya mencoba melepaskan rangkulan Kyuhyun pada pinggangnya, tapi semakin Sungmin mencoba melepaskan, semakin tubuhnya rapat pada tubuh Kyuhyun.
"Maaf, selama ini saya tidak pernah mengenalkan diri," tambah Kyuhyun, kali ini dengan tampang seolah-olah menyesal.
"Eonni, bukankah kau… dengan Yunho oppa…" Kibum berkata terbata.
"Ah, Sungmin dan Yunho adalah sahabat sekaligus rekan kerja. Aku lah namjachingu Sungmin yang sebenarnya."
CUP.
Tiba-tiba saja Kyuhyun mencium pipi Sungmin. Mata Sungmin melebar, pipinya memerah. Sementara ibu Sungmin menutup mulutnya yang terbuka, dan Kibum mengerjapkan matanya tidak percaya.
"Bukan begitu, chagiya?" bisik Kyuhyun.
TBC
Dear readers, cerita ini sepertinya akan selesai dalam 2 atau 3 chapter lagi. Aku juga sedang mempersiapkan cerita baru. Temanya kembali ke berondong. Hehehe. (Ada yang ingat cerita 'Berondong? Ups!'?). :)
Oh iya, maaf kalau banyak typos ya. Soalnya beberapa huruf dan juga spasi di keyboard-ku error. Aku juga males editnya. Harap maklum ya. :)
