Previous Chapter: Secara terang-terangan Nyonya Cho menolak kehadiran Sungmin. Benarkah hanya karena mereka berbeda status sosial? Atau karena ada rahasia yang disembunyikan?
"Kau ini apa-apaan?!" Tuan Cho benar-benar tidak habis pikir akan sikap istrinya yang begitu kasar pada Sungmin.
"Anda benar Nyonya Cho," ujar Sungmin pelan. Kepalanya tertunduk, menatap tangannya yang terbungkus tangan hangat Kyuhyun. Kemudian beralih pada Nyonya Cho. "Tapi Anda harus menarik kata-kata Anda. Saya tidak pernah memanfaatkan anak Anda. Saya juga bukan perempuan rendah seperti yang Anda katakan. Kami berjuang untuk bertahan hidup setelah ayah meninggal. Apa yang kami lakukan bukan sesuatu yang salah atau merugikan orang lain. Kami tetap menjaga kehormatan keluarga kami," suara Sungmin bergetar. Hatinya seperti terbelah, dan teriris karena ucapan Nyonya Cho. Sungmin bisa terima kalau dirinya dihina, tapi kalau alasannya adalah karena kondisi keluarganya, Sungmin tidak bisa menerimanya. Air matanya menetes begitu sadar tangan Kyuhyun tetap menggengamnya.
Pikirannya berkabut, penglihatannya mulai kabur karena air matanya menggenang. Ia sadar, hatinya sudah memiliki Kyuhyun. Sungmin berlari, meninggalkan keluarga Cho yang tertegun. Bahkan Sungmin tetap melangkahkan kakinya meskipun ia mendengar Kyuhyun memanggil-manggil namanya.
Saat berada tepat di luar restoran, Kyuhyun baru berhasil menyamai langkah Sungmin. Tangan Kyuhyun menggapai lengan Sungmin dan memaksanya untuk berhadapan dengannya meskipun Sungmin meronta.
"Tolong, Min. Maafkan perkataan ibuku yang keterlaluan," Kyuhyun memelas.
Sungmin menutup matanya, tidak sanggup melihat mata Kyuhyun yang begitu dalam menatapnya. Setelah dapat mengontrol emosinya, Sungmin memberanikan melihat Kyuhyun. "Kyuhyun dengar, ibumu benar. Seharusnya kau mencari yeoja lain yang pantas untukmu. Yang sepadan dengan keluargamu. Dan… dan…" Sungmin nyaris kehilangan kata-kata. "… aku sadar. Kita hanya berpura-pura. Maaf kalau malam ini aku mengacaukannya. Selamat tinggal," Kyuhyun menghempaskan tangan Kyuhyun.
Sungmin berjalan menjauh. Ia tidak akan menoleh pada Kyuhyun. Dulu, ia pernah sekali menatap ke belakang dan bertemu pandang dengan Kyuhyun, dan itu disesalinya sekarang. Harusnya ia tidak pernah melakukan itu.
Sungmin tidak menyadari bahwa Kyuhyun mengejarnya. Kyuhyun sudah berdiri di depannya. "Pulanglah bersamaku," pinta Kyuhyun. Tangannya kembali menggenggam tangan Sungmin.
Sungmin menggelengkan kepalanya dan mencoba melepaskan tangan Kyuhyun. Tapi semakin Sungmin meronta, Kyuhyun menggenggamnya semakin erat. "Aku bisa pulang sendiri. Lepaskan."
"Tidak, aku akan mengantarmu. Ibumu memintaku untuk menjagamu. Jadi biarkan aku mengantarmu," ujar Kyuhyun. Ini bukan permintaan, tapi keputusan. Kyuhyun langsung saja menarik tangan Sungmin dan membawanya ke tempat mobilnya di parkir, bahkan sebelum Sungmin menolak.
"Umma! Kau tidak boleh berkata seperti itu pada yeoja yang kucintai!"
"Umma! Kau tidak boleh berkata seperti itu pada yeoja yang kucintai!"
"Umma! Kau tidak boleh berkata seperti itu pada yeoja yang kucintai!"
Kata-kata itu begitu jelas terdengar di telinga Sungmin. Terulang-ulang terus tanpa dimintanya. Setidaknya selama perjalanan dari restoran sampai dengan rumahnya, saat ia duduk di sebelah Kyuhyun dalam kebisuan.
Saat sadar, mobil yang dikendarai Kyuhyun sudah berada di depan rumah Sungmin. Beberapa menit perjalanan mereka habiskan untuk larut dalam pikiran masing-masing. Sungmin baru saja akan membuka pintu untuk dirinya sendiri, tapi ucapan Kyuhyun membuatnya tertegun.
"Apa kau membenciku?" tanya Sungmin pelan.
Sungmin berbalik menatap Kyuhyun. Lagi-lagi Sungmin terperangkap dalam mata Kyuhyun. Mata Kyuhyun seperti lumpur hidup, menghisap, menenggelamkan, dan menjeratnya. Hanya karena tatapan itu Sungmin yakin ia bisa berhenti bernapas, juga jantungnya berhenti berdetak.
"Tidak," jawab Sungmin. "Aku hanya tidak suka mendengar ucapan ibumu. Mianhae," lanjut Sungmin, ia sendiri tidak mengerti mengapa harus minta maaf.
"Tolong jangan meminta maaf. Seharusnya aku yang meminta maaf. Aku yang melibatkanmu sampai sejauh ini, aku juga yang membuatmu mendengar ucapan kasar dari ibuku," ujar Kyuhyun penuh penyesalan.
Sungmin menutup matanya, ia merasa lelah. "Baik. Aku memaafkanmu," akhirnya Sungmin berkata.
Mendengar ucapan Sungmin, senyum Kyuhyun terurai. Senyum yang berbeda dari seringai jahilnya. Senyum Kyuhyun kali ini meluluhkan Sungmin. Memberinya getaran halus hingga ke hatinya.
"Jadi, apa kita masih bisa bertemu?" tanya Kyuhyun lagi.
"Tidak."
"Wae? Kenapa kau…"
"Cukup, Kyuhyun. Selamat tinggal." Setelah mengucapkan kata perpisahan itu, Sungmin pun berbalik, membuka pintu kemudianturun dari mobil Kyuhyun.
Seketika itu Kyuhyun sudah merasa kehilangan Sungmin. Perasaan ini asing baginya. Kyuhyun tidak meengenali perasaan yang baru pertama kali dirasakannya. Tanpa ragu Kyuhyun membuka pintu mobilnya dan mengejar Sungmin yang hendak membuka pagar rumahnya. Kyuhyun berdiri di depan Sungmin dan menghalangi jalan masuknya.
"Kumohon jangan seperti ini. Min," pinta Kyuhyun setengah memohon, setengah memaksa.
Dahi Sungmin berkerut. Hatinya seperti diremas. "Apa maksudmu?"
"Aku… aku…" Kyuhyun yang bingung, merasa tidak mampu menjelaskan apa yang ingin ia sampaikan pada Sungmin.
"Aku tidak mengerti. Jika kau memang memerlukan yeoja untuk menjadi kekasihmu, seharusnya kau mencari yang dapat diterima ibumu. Dan karena hubungan kita hanya sebatas itu, maka tolong disudahkan saja," Sungmin terdengar putus asa mengahadapai Kyuhyun. "Jangan temui aku lagi. Dan aku akan berusaha mengganti pengobatanmu. Aku akan mentransfernya begitu aku punya uang."
Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, tidak. Ini bukan tentang masalah itu, apalagi masalah uang. Ini semua tentang…"
"Tentang apa?!" jerit Sungmin dengan suara tertahan. "Apa yang tidak aku mengerti di sini? Apa yang membuatmu begini? Kenapa aku harus…"
KISS.
Sungmin membelalakkan matanya. Ia nyaris tak percaya saat Kyuhyun menarik tubuhnya dan mempertemukan bibir mereka. Sungmin merasa kerangka tubuhnya mencair. Ia akan hanyut terbawa perasaan hangat yang memeluknya. Oh tidak, itu tangan Kyuhyun yang sedang memeluk pinggangnya.
Perlahan Sungmin memejamkan matanya. Meresapi bibir Kyuhyun yang mulai bergerak di atas bibirnya. Meskipun Sungmin takut saat ia membuka mata semua ini hanya mimpi, tapi setidaknya ia berharap pernah merasakan mimpi indah itu. Kedua tangan Sungmin mulai bergerak menggenggam kedua siku Kyuhyun, mencari pegangan untuk memastikan ia masih tetap berpijak.
Akhirnya Kyuhyun melepaskan bibirnya dari bibir Sungmin dengan perasaan tidak rela. Tapi Kyuhyun belum memisahkan jarak antara mereka. Kyuhyun menempelkan dahinya pada dahi Sungmin. Mereka bernapas dalam satu udara, satu irama.
"Ini tentang apa yang aku rasa, Lee Sungmin." Suara Kyuhyun terdengar sangat pelan dan lembut di telingan Sungmin. "Aku tidak tahu sejak kapan. Aku mulai terus mencari alasan untuk bisa bertemu denganmu. Aku jadi ingin lebih tahu tentangmu, bahkan keluargamu. Dan aku tidak suka saat kau bersama dengan bodyguard-mu…"
"Dia partner kerjaku, juga bosku," bisik Sungmin pelan. Ia berusaha menahan dorongan untuk tersenyum. Bagaimana bisa Kyuhyun cemburu untuknya?
"Terserah kau menyebutnya apa." Kyuhyun menarik pelan wajahnya dari Sungmin. "Pipimu sangat merah."
Sungmin bisa merasakan itu, pipinya memang menghangat. Pipinya merona tanpa diminta. Terlebih saat Kyuhyun menggodanya seperti itu.
"Hidungmu kembang kempis," ujar Sungmin membalas ucapan Kyuhun.
"Tidak. Hidungku tidak kembang kempis," Kyuhyun berkilah. Dalam hati ia bertanya apa benar hidungnya kembang kempis, karena ia memang merasa butuh udara sebanyak-banyaknya. Perasaan asing yang ada di dadanya begitu membuncah hingga ke indera penciumannya. Dan jika benar hidungnya kembang kempis seperti yang dikatakan Sungmin, sebenarnya Kyuhyun juga merasa sedikit malu.
"Kalau begitu pipiku juga tidak merah," Sungmin membantah ucapan Kyuhyun sebelumnya.
Kyuhyun mengangguk. "Baiklah. Pipimu tidak merah, dan hidungku tidak kembang kempis."
Sungmin menggeleng. "Hidungmu tetap kembang kempis."
Kyuhyun membesarkan matanya. Tapi tidak lama kemudian sisi-sisi bibirnya tertarik, wajahnya berubah cerah dan tersenyum. Melihat senyum Kyuhyun yang seperti itu, membuat Sungmin ikut tersenyum. Lama-kelamaan senyum mereka itu berubah menjadi tawa.
"Udara semakin dingin. Masuklah."
"Ya, sampai jumpa, Kyu."
"Thank you for join me today, see you tomorrow with me DJ Ming, still on Heart to Heart Sapphire Radio 172.90 FM. So guys last but not least, I Won't Give Up by Jason Mraz, Ciao!"
Sungmin menarik sebuah tuas dan terdengarlah lagu terakhir yang diputarkannya. Sungmin melepas headphone yang dipakainya. Kemudian berjalan ke ruangan kecil tempat Yunho mengatur siaran yang dibawakan Sungmin.
"Siaran yang menyenangkan. Kau tampak begitu bahagia hari ini," komentar Yunho sambil mematikan beberapa peralatan kontrol siarannya.
Sungmin memperhatikan jari-jari Yunho yang terlihat begitu lihai di atas alat-alat itu. "Biasa saja," jawab Sungmin berusaha menyembunyikan senyum yang tidak bisa ditahannya.
Yunho meneliti Sungmin. Matanya terlihat berbinar, senyumnya merekah, dan pipinya memerah. "Apa kau tidak akan menceritakan padaku mengapa kau begitu bahagia?"
Sungmin hanya mengangkat bahunya, kemudian keluar dari ruang siaran diikuti Yunho. Mereka berjalan ke ruangan Yunho untuk sedikit melakukan evaluasi seperti yang biasa mereka lakukan setelah siaran.
"Mood-mu hari ini begitu bagus. Siaran pun terasa menyenangkan. Pendengar pun pasti senang," puji Yunho saat mereka sudah berada di ruangannya.
"Ini juga karena kau Yun," ujar Sungmin. "Aku selalu senang siaran bersamamu," lanjut Sungmin balik memuji Yunho.
"Minnie," panggil Yunho pelan sambil menatap Sungmin. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Ne?"
"Apa kau pernah jatuh cinta?" tanya Yunho pelan, nyaris berbisik.
Sungmin terlihat terkejut mendengar pertanyaan Yunho. Tapi perlahan senyum mengembang begitu saja menghiasi wajah Sungmin. Kemudian Sungmin mengangguk. "Kurasa aku sedang jatuh cinta."
Yunho ikut tersenyum mendengar jawaban Sungmin. Perasaannya melembut. Tapi tidak dengan tubuhnya, kaku seperti balok yang tidak goyah pada angin. "Boleh aku tahu kau sedang jatuh cinta pada siapa?"
Sungmin menautkan keningnya, menimbang-nimbang apakah perlu memberitahukannya pada Yunho. "Ngng… Sepertinya aku jatuh cinta pada… Cho Kyuhyun," bisik Sungmin pelan. Sangat pelan, juga dengan wajah tertunduk.
Bahu Yunho merosot begitu saja. Jawaban Sungmin yang seperti itu tidak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya. Yunho bisa melihat bagaimana senyum Sungmin yang semakin merekah, pipinya yang merona, dan matanya yang terisi penuh. Jelas Sungmin sedang memikirkan orang itu, bukan dirinya. Inikah alasan Sungmin begitu bahagia hari ini? "Be… begitukah?" tanya Yunho tergagap.
Sungmin menganggukkan kepalanya. "Aku sendiri tidak tahu persis bagaimana perasaannya. Terlalu banyak perbedaan di antara kami. Apalagi awal dari hubungan kami tidak begitu baik," lanjut Sungmin. Matanya kini menerawang, teringat semua kejadian penolakan dan penghinaan yang dilakukan ibu Cho Kyuhyun.
Yunho mengambil kedua tangan Sungmin, kemudian menggenggamnya. "Berusahalah untuk kebahagiaanmu, Minnie. Aku mendoakanmu."
Sungmin menatap Yunho. Kini, ia bisa merasakan bagaimana perasaannya selama ini. Yunho memang baik, Sungmin selalu merasa senang bersamanya. Yunho begitu perhatian dan juga lembut. Tapi Yunho tidak memberikan apa yang diberikan Kyuhyun, yaitu perasaan ketika jantungnya berdebar begitu cepat.
"Gomawo, ne." Sungmin tersenyum mendengar doa Yunho untuknya, dalam hati ia pun berdoa agar Yunho bisa menemukan seseorang yang tepat, yang bisa membuatnya bahagia. "Apa sudah selesai? Aku ingin pulang," ujar Sungmin sambil menarik perlahan tangannya yang digenggam Yunho.
"Sudah. Kuharap siaran kita besok bisa lebih baik dari hari ini," jawab Yunho. "Apa kau ingin kuantar?"
"Tidak perlu. Bukankah kau ada rapat dengan direktur?" Sungmin bertanya sekaligus mengingatkan.
Yunho menepuk dahinya. "Ah, kau benar. Hampir saja aku lupa. Kalau begitu, kau hati-hati di jalan ya."
Sungmin mengangguk, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Yunho. Yunho menatap punggung Sungmin yang menjauh, kemudian menghilang di balik pintu ruangannya. Sungmin tidak pernah menoleh padanya, seperti Sungmin pernah menoleh untuk Kyuhyun.
"Lee Sungmin," panggil seseorang saat Sungmin baru saja menginjakkan kaki di luar gedung Radi Sapphire.
"Kyu? Kau sedang apa di sini?"
"Ibuku bilang, dia ingin bertemu denganmu lagi."
TBC
Dear readers, sebelumnya aku pernah bilang kalau cerita ini bakalan selesai dalam 2-3 chap lagi. Tapi sebenernya aku seharusnya ngasih taunya di chap ini. Karena cerita The Radio aku perkirakan akan selesai di chap 14 atau chap 15.
