Previous Chapter: Setelah kejadian penolakan dan penghinaan yang dilakukan Nyonya Cho, kini ia malah ingin bertemu lagi dengan Sungmin.
"Ibuku bilang, dia menyesal sudah bersikap tidak baik padamu kemarin. Dia ingin bertemu denganmu lagi, dan meminta maaf. Apa kau mau?" tanya Kyuhyun.
Sungmin meragu untuk sesaat, tapi kemudian mengangguk. Kyuhyun lega mengetahui bahwa Sungmin memberikan kesempatan untuk ibunya. Kemudian Kyuhyun membawa tangan Sungmin dalam genggamannya dan menuntun Sungmin agar ikut dengannya.
Selama dalam perjalanan Sungmin terlihat berpikir, sesekali terlihat tegang, atau ragu. Setidaknya, itulah yang diilihat Kyuhyun saat sesekali ia menoleh ke arah Sungmin di antara konsentrasinya menyetir.
Perasaan tegang begitu menyengat Sungmin ketika mobil Kyuhyun memasuki sebuah halaman luas. Sungmin memperhatikan halaman rumah itu, kepalanya mulai pening dan isi perutnya seakan minta dikeluarkan. Begitu Kyuhyun membukakan pintu di sampingnya, Sungmin sedikit tertegun. Terlebih saat Kyuhyun mengulurkan tangannya dan tersenyum menunggu Sungmin menerima uluran itu.
Sungmin menghela napas berat sebelum menyambut uluran tangan Kyuhyun. Telapak tangan Kyuhyun yang jauh lebih besar miliknya itu sangat hangat. Rasanya begitu tepat tangannya berada di sana.
Perjalanan untuk memasuki rumah Kyuhyun bagi Sungmin terasa sangat panjang. Tapi genggaman Kyuhyun pada tangan Sungmin membuatnya sedikit lebih tenang. Meskipun Sungmin belum benar-benar tenang sebelum tahu apa maksud ibu Kyuhyun mengajaknya untuk bertemu lagi.
"Mwo?!" suara melengking dari ruang keluarga Kyuhyun membuat langkah Sungmin dan Kyuhyun yang berada di ruang tamu terhenti. Sungmin dan Kyuhyun sama-sama mengenalinya sebagai suara Jessica. "Aku dan Kyuhyun bertunangan besok? Kenapa begitu mendadak Ahjumma? Lagipula, apa ayah dan ibuku sudah setuju?" tanya Jessica.
Sungmin benar-benar merasa dipermainkan. Jadi inikah tujuannya? Mengajak Sungmin bertemu hanya untuk memberitahunya bahwa Kyuhyun akan bertunangan dengan Jessica. Yeoja yang memang seharusnya menjadi tunangan Kyuhyun.
Sungmin baru saja akan menarik tangannya, tapi Kyuhyun menahannya. Ia menatap tajam pada Sungmin, mencoba memberi penjelasan melalui matanya, bahwa Kyuhyun juga tidak tahu rencana ibunya.
"Aku tidak punya pilihan. Aku tidak mau jika dibiarkan terlalu larut, yeoja itu akhirnya akan tahu bahwa aku pelakunya," ujar suara yang dipastikan milik Nyonya Cho.
Pengakuan yang samar itu membuat Sungmin mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia melirik Kyuhyun, wajah Kyuhyun sama seriusnya mendengarkan percakapan Jessica dan Nyonya Cho. Keningnya berkerut, jelas ia penasaran.
"Pelaku? Pelaku apa?" suara Jessica terdengar lagi.
"Lima tahun yang lalu. Aku menabrak seorang laki-laki dengan anak kecil. Aku sudah mendengar cerita keluarga yeoja itu, dan aku sudah menyelidikinya. Laki-laki dan anak kecil yang kutabrak adalah ayah dan adik dari yeoja itu, Lee Sungmin."
-SUNGMIN POV-
Aku tidak tuli. Pendengaranku juga masih baik. Jadi bisa kupastikan aku mendengar apa yang baru saja terdengar. Percakapan dua orang yeoja, Jessica dan Nyonya Cho. Dunia yang kupijak seakan runtuh seketika.
Awalnya, aku merasa cukup yakin dengan datang kembali ke rumah ini lagi. Terlebih saat Kyuhyun mengatakan bahwa ibunya menyesal. Aku bertekad akan membuka hatiku untuk berbesar hati memaafkan Nyonya Cho jika ia meminta maaf. Tapi kenyataannya? Pertunangan Jessica dan Kyuhyun dilaksanakan besok. Juga kelanjutkan percakapan mereka.
Nyonya Cho menyebut-nyebut soal kecelakaan lima tahun lalu. Aku tidak ingin mempercayai apa yang kudengar. Aku memilih menulikan telingaku jika bisa. Seharusnya aku tidak pernah datang ke rumah ini. Kenyataan ini terlalu menyakitkan.
Aku merasa napasku diambil. Mungkin aku sudah tenggelam di samudera dan tidak akan pernah muncul ke permukaan lagi. Tapi kemudian aku merasa tanganku diguncang. Tanganku yang masih dalam genggaman Kyuhyun. Terlalu nyata untuk menarikku ke permukaan.
"Aku ingin pulang," lirihku pada Kyuhyun. Kyuhyun mengetatkan genggamannya pada tanganku. Rasanya sakit, Kyuhyun bisa saja mematahkan jari-jariku.
"Aku tidak tahu maksud ibuku apa, tapi kita harus mendengar penjelasannya. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum bicara dengannya," ujarnya. Tanpa mendengar persetujuan dariku, Kyuhyun menarik paksa tanganku agar mengikutinya. Aku tidak sempat menolak, dan di sinilah aku. Berdiri kaku, sekaku Nyonya Cho dan Jessica yang kulihat mata dan mulutnya terbuka lebar. Mereka pasti terkejut melihatku.
"Umma, aku dan Sungmin sudah mendengarnya," Kyuhyun yang bicara.
"Kyu! Lepaskan tanganmu. Aku tidak suka kau menggenggam tangannya seperti itu!" Jessica histeris sambil menunjuk tanganku yang masih digenggam Kyuhyun. Yeoja ini sangat mengganggu. Menyebalkan.
"Ini bukan urusanmu, Nona," desis Kyuhyun tajam. "Sebaiknya kau segera enyah dari sini. Aku mual melihat tingkahmu."
Jessica menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi. "Ahjumma, kau dengar itu. Kyuhyun mengusirku. Aku…"
"Pergilah, Jess. Ini urusan kami."
"Ahjumma?" Yeoja itu tampak syok mendengar pengusiran Nyonya Cho. Harusnya dia sadar, kehadirannya tidak diharapkan. "Baiklah. Jangan harap aku mau bertunangan denganmu. Aku tidak sudi!" bentaknya tepat di wajah Kyuhyun sebelum pergi meninggalkan rumah Kyuhyun dengan langkah yang dihentak berlebihan.
Dan suasana hening itu datang. Begitu mencekam layaknya suasana tempat syuting film horor. Aku tidak suka ini, rasanya aku ingin kabur.
"Jelaskan, Umma," tuntut Kyuhyun, seperti mewakiliku.
"Malam itu. Lima tahun yang lalu. Aku baru saja pulang dari rumah kakek dan nenekmu. Jalanan cukup lengang karena baru saja turun hujan. Saat itu benar-benar berkabut. Jarak pandangku sangat pendek. Aku mengendarai mobil seperti biasa. Tapi tiba-tiba saja ada yang menyebrang jalan. Aku tidak sempat menginjak rem. Dan tahu-tahu tubuh mereka sudah jatuh di depan mobilku," Nyonya Cho berkata dengan mata menerawang.
Aku mulai menangis. Aku sudah berusaha menahannya. Aku kembali teringat saat malam itu polisi ke rumah kami, mengabarkan bahwa ayah dan adikku kecelakaan. Mereka ada di rumah sakit, dan polisi bilang ayah sudah meninggal sementara Kibum masih belum sadarkan diri. Ibuku pingsan saat itu juga. Suasana sangat kacau.
"Aku bersungguh-sungguh. Aku tidak sengaja, ayah dan adikmu yang menyebrang dengan mendadak. Aku tidak mengebut, aku juga dalam keadaan sadar. Kau bisa menanyakannya pada kepolisian. Mereka menyatakan aku bebas, karena memang benar aku tidak sengaja, bukannya aku lalai. Aku…"
"Tidakkah kau merasa iba pada kami? Setidaknya bersimpati pada kami?" Aku memotong ucapan Nyonya Cho. Aku sungguh tidak tahan mendengar ceritanya. "Kalaupun kau tidak sengaja, seharusnya kau sadar bahwa keluargaku kehilangan pegangan hidup kami! Semua uang kematian ayah tidak cukup untuk membiayai pengobatan adikku. Kami menjual semua yang kami punya untuk membuatnya sadar dari koma. Setelahnya? Kau tahu apa?!"
"Aku harus bekerja setiap hari untuk membiayai sekolah dan keluargaku. Adikku putus sekolah, bahkan lumpuh. Kami hanya mampu menyewa rumah kecil yang sempit. Aku tidak pernah merasakan bangku kuliah karena harus bekarja. Selama ini aku tidak hanya bekerja sebagai penyiar, aku bekerja sebagai pelayan di supermarket setiap pagi. SEMUA DEMI APA?!"
"Demi bertahan hidup! Agar kami bisa berteduh saat hujan. Agar kami bisa tetap makan walau sederhana. Agar kami tidak diusir saat pemilik rumah menagih uang sewa. Agar adikku bisa tetap menjalankan terapinya."
Emosiku tumpah begitu saja. Aku tidak bisa menahannya lagi. Ini terlalu menyakitkan. Selama ini keluargaku sudah cukup menderita.
"Aku sangat takut. Aku ingin mendatangi kalian, tapi aku tidak siap. Bahkan aku tidak pernah siap. Aku takut kau akan menuntutku meskipun aku dinyatakan bebas. Aku tahu, kau dan keluargamu pasti membenciku. Terlebih anakku," katanya menatap Kyuhyun. "Aku takut anakku terluka dan membenciku."
Oh, sial. Nyonya Cho benar. Kami tidak hanya berdua, ada Kyuhyun di sini. Dan aku sudah mati rasa sampai tidak merasakan tanganku yang masih digenggamnya. Bahkan Kyuhyun meremasnya, membuat tanganku sedikit kram.
"Nyonya Cho, yang terhormat. Sungguh kau sangat egois. Aku harap dia baik-baik saja."
Aku beralih pada Kyuhyun. "Lepaskan tanganku."
"Min, tolong. Aku…"
"Lepaskan!" Aku meronta padanya. Aku berusaha menarik tanganku agar terlepas dari tangannya. "Aku benci harus mengetahui semua ini. Aku benci pada ibumu! Aku benci padamu! AKU BENCI KALIAN!"
Pada kalimat terakhirku yang terakhir itulah tanganku terlepas. Aku berlari tanpa mempedulikan suara tangisan Nyonya Cho. Aku juga berhasil keluar dari rumah Kyuhyun tanpa menoleh padanya meskipun dia memanggil-manggil namaku.
-SUNGMIN POV END-
Sungmin memasuki rumahnya masih dalam keadaan masih menangis dan kacau. Ibunya dan Kibum yang sedang mengobrol menatap Sungmin yang berdiri di dekat mereka dengan wajah yang ditutup dan terisak.
"Minnie?"
Tanpa diminta Sungmin langsung berlutut dan memeluk kaki ibunya yang sedang duduk di samping Kibum. "Wae, Minnie sayang?" Pertanyaan dari ibunya itu hanya dijawab Sungmin dengan suara tangis yang malah semakin nyaring.
Kibum menatap heran pada ibunya. Ini baru kali pertama mereka melihat Sungmin menangis sampai seperti ini.
"Appa," bisik Sungmin disela isaknya. Suaranya terdengar bergetar dan begitu lemah.
"Appa?" tanya Kibum. "Ada apa dengan appa, Eonni?"
Setelah cukup lama menahan tangisnya, Sungmin pun mulai bercerita. Semuanya. Juga cerita bagaimana ia bisa mengenal Kyuhyun. Siaran radio itu yang membuatnya mengenal Kyuhyun. Kehadiran Kyuhyun yang awalnya begitu membuatnya tersiksa. Hingga saat ini, saat dirinya mulai merasakan perasaan yang berbeda. Sungmin jatuh cinta pada Kyuhyun.
"Omo!" Kibum menutup mulutnya mendengar pengakuan Sungmin tentang perasaannya pada Kyuhyun. "Jadi, eonni mencintai anak dari pembunuh appa?"
"Bummie," tegur ibu Sungmin. Lalu beralih pada Sungmin yang kini sudah berada di pelukannya. "Dengarkan eomma, Minnie. Semuanya yang terjadi adalah takdir Tuhan. Appa meninggal karena Tuhan sudah menggariskannya."
"Benar, Eonni. Aku ikhlas menerima kenyataan tentang kelumpuhanku. Lagipula terapi yang selama ini aku jalani sudah mulai membuahkan hasil. Kita tidak boleh menyia-nyiakan apa yang selama ini kita lakukan hanya karena kemarahan."
"Kita harus bisa memaafkan, karena itulah yang selalu diajarkan appa pada kita. Memaafkan kesalahan orang lain," ibu Sungmin menambahkan sambil mengelus pelan rambut Sungmin.
"Tapi, Eomma…" Sungmin mengangkat kepalanya menatap wajah cantik ibunya yang sedang tersenyum.
Tok. Tok. Tok.
Seseorang mengetuk pintu rumah mereka. Ketiganya saling bertatapan. Heran, karena tidak biasanya ada tamu berkunjung malam-malam.
Dor. Dor. Dor.
Ketukan itu mulai berubah menjadi gedoran. Membuat keluarga kecil itu mulai ketakutan.
"Lee Sungmin!" Suara itu berasal dari luar rumah mereka. "Aku tahu kau ada di dalam. Buka pintunya, Min. Aku ingin bicara! Kita perlu bicara!"
"I… itu Cho…" Sungmin tergagap. "… Kyuhyun."
"LEE SUNGMIN!" Teriakan Kyuhyun berbarengan dengan suara gedoran pintu yang semakin intens.
"Aku tidak mau bicara dengannya, Eomma," ujar Sungmin pada ibunya. Air mata Sungmin yang tadinya sudah mulai berhenti mengalir, mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Lee Sungmin, tolong buka pintunya. Aku ingin bicara denganmu," kali ini suara Kyuhyun lebih terdengar memohon. Suara gedoran di pintu itu sudah tidak terdengar lagi.
"Eonni, beri Kyu oppa kesempatan. Setidaknya kau harus mendengar apa yang ingin disampaikannya. Jangan sampai kau menyesal," Kibum berujar, tangannya terulur untuk menghapus air mata Sungmin yang sudah membasahi pipinya.
"Bummie benar, Minnie. Sebaiknya temui dia, bagaimanapun Kyuhyun sama sekali tidak terlibat dalam kecelakaan lima tahun yang lalu."
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan lagi di pintu kayu itu. "Jika kau memang tidak mau bertemu denganmu. Dengarkan aku bicara, Min," ujar suara di balik pintu. "Aku tahu kau bisa mendengarku."
Sungmin akhirnya mendekat ke pintu dan menempelkan telinganya.
"Aku tidak tahu apapun tentang kecelakaan yang disebabkan ibuku. Aku tidak tahu mengapa akhirnya aku harus bertemu denganmu. Bahkan aku tidak tahu, mengapa Tuhan menakdirkan semua ini pada kita."
Jeda sejenak, tubuh Sungmin merosot ke lantai begitu saja.
"Ada dua hal yang tidak pernah bisa aku minta dari Tuhan," Kyuhyun masih saja berbicara. "Aku tidak pernah meminta dilahirkan dari rahim siapapun. Juga, aku tidak pernah meminta pada siapa aku jatuh cinta."
"Saranghae, Lee Sungmin."
TBC
Dear readers, maaf kalo cerita ini terlalu memaksakan dan nggak jelas, aku sebenernya juga merasa begitu. Karena itu, aku akan mem-pause cerita ini sampai waktu yang nggak bisa aku tentukan. Mungkin sampai mood-ku balik lagi untuk melanjutkan cerita ini. Mohon maaf dan harap maklum ya. :)
Oh iya, aku udah posting prolog untuk cerita terbaruku, 'I Love You Bu Guru.' Silakan dibaca kalo berkenan. :)
