Previous Chapter: Setelah kenyataan tentang masa lalu terungkap, Kyuhyun menyadari bahwa ia mencintai Sungmin. Namun, berat bagi Sungmin menerima kenyataan tersebut.


"Saranghae, Lee Sungmin."

Air mata Lee Sungmin langsung berhenti mendengar kalimat Kyuhyun. Hanya tiga kata, tapi seperti bisa menghentikan waktu. Sungmin menyentuh dada kirinya, tepat jantungnya kini berdetak dengan cepat, membuat Sungmin khawatir jika dirinya punya kelainan jantung. Dan lututnya, terasa seperti lilin yang terkena panas, terasa lumer. Sungmin menjatuhkan dirinya. Mendudukkan dirinya di lantai karena khawatir tidak sanggup berdiri lagi.

'Apa yang dia katakan? Mengapa dia mengatakan itu setelah semua kenyataan ini terungkap?' tanya Sungmin pada dirinya sendiri. 'Eothokke?'

"Kau tahu, Sungmin?" ujar suara dari balik pintu. "Aku benar-benar seperti sedang dipermainkan oleh takdir. Hidupku seperti roda yang berputar. Semua masih baik-baik saja sampai saat seorang gadis menyiramku dengan segelas air di depan umum. Kupikir Tuhan sudah mengubah segalanya dari sana."

Jeda sebentar. Sungmin penasaran dengan kelanjutan kalimat Kyuhyun, meskipun ia bisa menebak ke arah mana kalimat itu.

"Tuhan mengubah rencanaku seratus delapan puluh derajat. Mempertemukan aku denganmu. Penyiar galak, tapi baik hati. Dari situ aku hanya mengikuti rencana yang sudah ditentukan Tuhan, sambil terus berharap rencana-Nya sejalan dengan rencanaku. Tapi kemudian aku salah."

"Aku tidak pernah berencana untuk mencintaimu. Aku sadar, perasaanku padamu adalah rencana yang sudah disiapkan untukku, untukmu, untuk… kita. Dan sekarang, sekali lagi, roda kembali berputar, semua sudah berjalan sesuai dengan rencana Tuhan. Masa lalu yang tidak bisa sama sekali aku ubah, meskipun jika bisa, aku ingin mengubahnya," Kyuhyun berhenti bicara, seperti akan menyelesaikan kalimatnya.

Sungmin mendengarkan semua ucapan Kyuhyun sekaligus membenarkannya. Rencana Tuhan. Kyuhyun benar, semua yang terjadi di masa lalu, saat ini, bahkan masa yang akan datang adalah rencana Tuhan. Tidak ada seorang pun yang bisa mengubahnya, meskipun besar keinginan seseorang mengubah takdirnya sendiri. Tapi bagi Sungmin, haruskah ia menerima begitu saja takdir yang Tuhan berikan untuknya?

Kenyataan bahwa Nyonya Cho adalah orang yang membunuh ayahnya dan membuat adiknya lumpuh sangat berat untuk Sungmin terima. Dan sekarang, sudah saatnya Sungmin menghadapi takdirnya sendiri.

Sungmin menarik napas panjang. Ia kembali berpijak pada kedua kakinya, lalu menghapus sisa air mata di pipi dan sudut matanya. Dengan tekad kuat, Sungmin membalik badannya. Tangannya yang sedikit gemetar menyentuh gagang pintu. Sungmin akan membuka pintu itu, untuk bertemu takdirnya.


"Lee Sungmin," panggil Kyuhyun pelan saat pintu kayu itu terbuka dan menampakkan Sungmin.

Kyuhyun tersenyum begitu melihat Sungmin, tapi lama-kelamaan senyum itu memudar ketika Kyuhyun memperhatikan wajah Sungmin yang tampak sinis terhadapnya.

"Pergilah," ujar Sungmin pelan.

"Sungmin, tidak bisakah kita…"

Sungmin menggeleng tegas. "Tidak. Sebaiknya mulai sekarang kita tidak perlu saling bertemu lagi, dan anggap saja kita tidak pernah saling mengenal."

"Apa tidak ada yang bisa kulakukan agar kau memaafkan kesalahan ibuku?" tanya Kyuhyun, hanya keputusasaan yang ada pada nada suaranya.

"Jika ada, maka itu adalah ayahku, juga kesembuhan adikku," jawab Sungmin dengan suara gemetar, jelas ia susah payah menahan air matanya.

"Lee Sungmin…"

Sebuah suara memanggil Sungmin pelan. Sungmin menoleh untuk memastikan siapa yang memanggilnya. Benar saja, dari balik punggung Kyuhyun nampak tubuh rapuh Nyonya Cho. Pipinya basah, karena air mata. Sejak kapan ia berdiri di sana?

Rahang Sungmin kembali mengeras dan jantungnya seakan diremas saat melihat Nyonya Cho. Wajah mendiang ayahnya begitu jelas di pelupuk matanya. Kepedihan itu seketika kembali naik ke permukaan.

"Jebbal, kau boleh membenci aku selamanya, tapi jangan membenci Kyuhyun. Dia sama sekali tidak tahu apa-apa," ujar Nyonya Cho dengan suara pelan dan diselingi isakan.

"Saya tidak peduli. Lebih baik Anda bawa putra Anda ini. Setelah itu tinggalkan rumah saya dan anggap kita tidak pernah kenal sama sekali," Sungmin masih tetap berkeras.

Sungmin tidak mempedulikan Kyuhyun yang memanggil namanya, ia masuk ke dalam rumah, menutup pintunya. Yang Sungmin dengar hanya ajakan dari Nyonya Cho pada Kyuhyun agar pergi dari rumah Sungmin, seperti permintaannya.


Yunho berjalan mendekati mesin penjual minuman otomatis. Lalu ia merogoh sakunya untuk mencari uang logam yang kemudian ia masukkan ke dalam mesin itu. Ia memperhatikan gambar-gambar minuman yang ada di hadapannya, setelah yakin, Yunho menekan dua tombol yang berbeda.

Dengan membawa dua kaleng minuman dingin, Yunho berjalan ke sebuah bangku taman. Di mana seseorang sedang menunggunya.

"Ini," ujar Yunho sambil menyodorkan salah satu kaleng minuman yang dibawanya.

Sungmin mengangkat kepalanya. Lalu memaksakan diri untuk tersenyum dan menerima kaleng minuman pemberian Yunho. Yunho pun duduk di samping Sungmin, dan membuka kaleng minumannya sendiri.

Baru saja Yunho akan meminum minumannya, tapi gerakannya berhenti karena dilihatnya Sungmin hanya melamun sambil menggenggam kaleng minumnya. Yunho menukar kaleng minumannya sendiri dengan kaleng minuman milik Sungmin.

"Minumlah," ujar Yunho lembut.

Perbuatan Yunho itu membuat Sungmin tersadar bahwa ia sekarang bersama Yunho. Tidak seharusnya ia mengacuhkan Yunho seolah-olah tidak melihat keberadaannya.

Yunho pun membuka satu kaleng minumannya sendiri, dan meminmnya. "Hari kau sangat aneh," komentar Yunho. "Kau banyak melamun, bahkan saat siaran kau tidak bersemangat."

Sungmin meneguk minumannya. Dalam hati Sungmin membenarkan apa yang dikatakan Yunho, bahwa hari ini ia tidak bersemangat dan banyak melamun.

"Aku… aku sudah tahu siapa yang menabrak ayah dan adikku," lirih Sungmin nyaris tidak terdengar.

Yunho yang baru akan menelan minumannya hampir saja tersedak mendengar ucapan Sungmin. "Apa kau bilang? Kau tahu apa?"

Yunho memperhatikan jemari Sungmin mengetat pada kaleng minuman yang digenggamnya. Sungmin pasti merasa sangat berat menghadapi kenyataan yang mengejutkan ini.

Sungmin menganggukkan kepalanya seraya menghela napas berat. "Umma dari Kyuhyun adalah orangnya," ujar Sungmin pelan, suaranya mulai bergetar. "Orang yang lima tahun lalu menabrak ayah dan adikku."

Sekali lagi air mata itu menetes, padahal Sungmin sudah mati-matian menahannya. Ia tidak ingin terlihat lemah, tapi ia tidak kuat menanggungnya sendiri. Ia menerima pekerjaan siaran sebagai DJ di acara Heart to Heart karena ia tahu, setiap orang yang memiliki masalah perlu berbagi dan seorang pendengar yang baik. Dan sekarang, itulah yang dibutuhkan Sungmin, pendengar yang bisa memaklumi permasalahannya.

"Lalu… bagaimana?" tanya Yunho hati-hati.

Sungmin menceritakan semuanya pada Yunho. Tentang ketidaksengajaan Nyonya Cho, tentang permintaan maaf mereka, dan juga… "Dia bilang, dia mencintaiku," ujar Sungmin akhirnya sampai pada bagian di mana Kyuhyun menyatakan cintanya.

Untuk sesaat Yunho sempat menahan napas. Kyuhyun sudah mengungkapkan perasaannya pada Sungmin. Secara naluriah, perasaan cemburu itu hadir tanpa diminta. Bukankah selama ini Yunho hanya menganggap Sungmin sebagai adik? Ia bersikap sebagai sosok kakak sekaligus sahabat yang baik untuk Sungmin. Selama ini apakah Yunho tidak sadar? Kenapa harus sekarang rasa ini hadir?

"Aku… aku…" Sungmin terbata-bata, meskipun tangisnya mereda. "Aku pun jatuh cinta pada Cho Kyuhyun."

Hening. Baik Sungmin maupun Yunho tenggelam dalam pemikirannya masing-masing. Yunho yang sadar bahwa ia sudah terlambat. Sadar bahwa sikap Sungmin sangat nyata bahwa ia sudah benar-benar jatuh cinta pada Cho Kyuhyun. Tidak ada celah untuk dirinya saat ini, karena jika Yunho memaksakan dirinya, itu malah akan membuat Sungmin lebih bersedih.

Sedangkan Sungmin merenungkan tentang perasaannya sendiri terhadap Kyuhyun. Perasaan yang tidak seharusnya ia ungkapkan untuk orang lain. Seharusnya ia menyatakannya untuk Kyuhyun. Dalam hati Sungmin terus memerintahkan dirinya sendiri untuk mengubur dalam perasaannya, karena sampai kapan pun, ia tidak mungkin bisa bersatu dengan Kyuhyun.

"Minnie," tegur Yunho memecah keheningan di antara mereka. "Jangan sampai kau menyesal," ujar Yunho.

"Eoh?"

Mata Yunho menerawang, lurus untuk menghindari tatapan Sungmin. "Kita orang-orang yang beruntung. Tuhan menghadirkan cinta dalam hati kita, sudah seharusnya kita bersyukur. Caranya? Dengan tidak menyia-nyiakannya," lanjut Yunho.

Cinta, bersyukur, tidak menyia-nyiakan.

Kata-kata itu berputar di otak Sungmin, seperti suara-suara yang saling berteriak satu sama lain.

"Jangan sampai menyesal. Terlebih di saat kau belum mengungkapkan kebenarannya," pesan Yunho sebelum meninggalkan Sungmin.

Sungmin memikirkan kata-kata Yunho, tidak ada penyesalan yang lebih menyakitkan selain kehilangan sebelum mencoba mempertahankan.

Sementara Yunho, tanpa diketahui Sungmin, tersenyum tipis. Ia merasa dirinya begitu bodoh, karena seharusnya apa yang diucapkannya adalah untuk dirinya sendiri.

'Tapi aku tidak akan menyesal jika kau bahagia, Minnie. Tolong jangan membuatku kecewa karena sudah melepaskanmu,' ujar Yunho dalam hati.


Sepanjang hari ini Sungmin banyak melamun. Itulah yang bisa Yunho simpulkan. Orang-orang perlu mengulang ucapan saat berbicara dengan Sungmin karena ia tidak fokus. Sungmin juga beberapa kali tersandung, syukur Yunho banyak menemaninya hari ini, ia dengan sigap menangkap Sungmin ketika melihat tanda-tanda tidak baik yang akan terjadi pada Sungmin.

Melihat banyak kemungkinan buruk bisa menimpa Sungmin, Yunho pun memutuskan untuk mengantarkan Sungmin pulang. Ia tidak mau sesuatu terjadi menimpa Sungmin.

Mereka melangkah bersama keluar dari Radio Sapphire dalam diam. Tidak banyak pembicaraan di antara mereka. Yunho tahu, kalau pun ia berbicara, maka Sungmin lebih banyak diam tidak menanggapi ucapannya.

"Lee Sungmin."

Sungmin yang tadinya berjalan menunduk, mengangkat kepalanya saat mendengar suara berat itu.

Bumi seperti runtuh di kakinya. Ya, hanya Kyuhyun yang bisa membuat dunianya seperti ini. Berputar dan terbalik dalam sekejap mata.

Sungmin menghindari Kyuhyun, memilih untuk berjalan terus dan menghiraukannya. Seolah Kyuhyun hanya angin yang berhembus di malam hari.

"Jebbal, Sungmin," pinta Kyuhyun tidak menyerah. Ia melangkah tepat di hadapan Kyuhyun, mencoba menghalangi jalannya.

"Apalagi sekarang?" tanya Sungmin nyaris putus asa bercampur tidak mengerti. "Aku tidak mau bicara denganmu lagi."

Kyuhyun mencoba meraih tangan Sungmin, namun Sungmin dengan segera menepisnya. Sungmin khawatir jika ia membiarkan Kyuhyun menggenggam tangannya, ia tidak akan mau melepaskan tangan yang hangat itu.

Sekali lagi Kyuhyun mencari tangan Sungmin. Kali ini Yunho yang menepis tangannya. Dahi Kyuhyun mengernyit, sejak kapan Yunho berdiri di samping Sungmin. Kyuhyun bahkan sama sekali tidak menyadarinya.

"Ini bukan urusanmu," tegas Kyuhyun pada Yunho sebelum kembali menatap Sungmin. "Lee Sungmin," panggil Kyuhyun lagi. Sungmin menghindari tatapan Kyuhyun.

"Dia bilang tidak. Apa kau tidak mengerti?" sergah Yunho cepat.

Kyuhyun baru saja akan membantah ucapan Yunho, tapi Yunho lebih dulu memotongnya.

"Kau akan menyakitinya jika terus memaksanya," ujar Yunho.

Seperti sebuah pukulan telak yang mengenai jantungnya, ucapan Yunho begitu mengena. Menyakiti Sungmin adalah hal yang tidak terpikirkan oleh Kyuhyun, bagaimana mungkin ia ingin menyakiti yeoja yang dicintainya?

"Ayo, Minnie. Kita pergi," ajak Yunho pada Sungmin. Dan seperti robot yang dikendalikan, Sungmin mengikuti tanpa penolakan sedikit pun.

Kyuhyun ingin menghalangi mereka, mencegah Sungmin ikut dengan Yunho agar tetap bersamanya. Tapi kaki Kyuhyun seperti terpahat di tanah. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena Kyuhyun benar-benar tidak ingin menyakiti Sungmin, seperti yang dikatakan Yunho.


"Lee Sungmin, jebbal, sekali ini menoleh lah ke arahku. Jika kau menoleh, aku akan mengejarmu dan tidak akan pernah melepaskanmu lagi… untuk selamanya."


TBC


Dear readers, akhirnya bisa update. Maaf ya karena terlalu lama. Maaf juga kalau ceritanya jadi semakin nggak nyambung, soalnya aku sendiri lupa cerita sebelumnya kayak gimana. :)