Previous Chapter: Nasihat Yunho untuk Sungmin yang mengatakan bahwa ia tidak boleh menyesal karena tidak mengungkapkan kebenaran, membuat Sungmin berpikir, apakah ia akan menyesal jika menolak Kyuhyun?
Dug. Dug. Dug.
Kyuhyun mengetuk jendela mobil Yunho tepat di mana Sungmin duduk. Meskipun Kyuhyun sudah berulang kali berkata bahwa Sungmin akan menoleh padanya, tetapi kenyataannya Sungmin tidak menoleh sedikit pun. Sungmin tetap berjalan berdampingan dengan Yunho dan meninggalkannya. Tapi Kyuhyun tidak ingin menyerah begitu saja. Karena itu ia tetap mengejar Sungmin meskipun Sungmin enggan menoleh.
Bahkan sampai roda mobil Yunho perlahan berputar, Sungmin masih belum juga menanggapi Kyuhyun. Kyuhyun berlari mengejar mobil itu hingga keluar parkiran.
"SUNGMIN! LEE SUNGMIN! LEE SUNGMIINN!" Kyuhyun sudah berusaha mengejar mobil yang membawa Sungmin, tapi apa daya kakinya bukan kaki robot yang bisa bergerak cepat. Mobil itu tidak berhenti, seolah penuh dengan keangkuhan mobil itu semakin jauh meninggalkan Kyuhyun.
Napas Kyuhyun terengah. Keringat membasahi kemeja hitam yang dipakainya. Kemudian Kyuhyun menunduk, bertopang pada dengkulnya. Ia berbisik lirih, memanggil nama Sungmin. "Lee Sungmin."
Saat napasnya sudah kembali lebih normal, Kyuhyun kembali menegakkan badannya. Lalu ia kembali berjalan menuju kantor Radio Sapphire. Tanpa Kyuhyun sadari beberapa orang di sekitarnya memperhatikan dirinya. Tapi Kyuhyun tetap berjalan, seperti yang lain baginya tidak tampak di mata.
"Well listeners, stay tune on Radio Sapphire, because after this song, me and Heart to Heart will be back," ucap Sungmin sebelum menarik tuas dan terdengarlah sebuah lagu dari Elton John, Sorry Seems to be The Hardest Word.
Sungmin melepas earphone -nya sebelum menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursinya. Ia menghembuskan napasnya keras. Tema yang diangkat untuk siarannya hari ini adalah tentang maaf. Sungmin mengingat-ingat lagi cerita yang tadi ia dengar dari pendengarnya.
"Aku ingin meminta maaf pada kekasihku. Maaf karena aku tidak datang pada hari perayaan hubungan kedua tahun kita. Sungguh, aku tidak sengaja, aku ingat tentang janji pertemuan kita. Tapi apa daya, ada pekerjaan tambahan yang tidak bisa kutolak. Itulah kenyataannya, kuharap kau mendengar ini dan mau memaafkanku."
Sebuah permintaan maaf untuk kesalahan yang tidak sengaja diperbuatnya.
"Aku bodoh. Bodoh karena pada saat dia meminta maaf, aku malah mengatakan aku membencinya. Sungguh aku menyesal. Aku tidak pernah menyangka hari itu adalah hari terakhir kami bertemu, sebelum dia meninggal karena kecelakaan. Andai waktu bisa diputar kembali, aku ingin sekali mengatakannya, bahwa aku sudah memaafkannya dan aku sangat mencintainya."
Sebuah penyesalan karena tidak memaafkan kesalahan orang yang dicintai.
Kedua cerita dari peneleponnya itu mengganggu pikirannya. Ia langsung teringat Kyuhyun. Permintaan maaf Kyuhyun karena kesalahan ibunya, juga diri Sungmin yang sampai saat ini belum memaafkan Kyuhyun. Bagaimana jika Sungmin tidak mau memaafkan Sungmin dan akhirnya menyesal sendiri.
"Minnie," suara Yunho terdengar melalui speaker kecil di samping peralatan siaran Sungmin. Ini jarang sekali terjadi, Yunho jarang sekali memanggil namanya dengan bantuan alat. Biasanya ia hanya perlu mengetuk kaca yang memisahkan ruangan mereka. Apa Yunho sudah memanggil nama Sungmin berkali-kali dan tidak mendapat tanggapan?
Sungmin melihat ke arah Yunho yang memberikan kode bahwa lagu akan segera mencapai bagian akhir, dan Sungmin harus segera bersiap dengan earphone dan microphone siarannya.
Lima, empat, tiga, dua, satu.
"Sesuai dengan janjiku sebelumnya, kalau aku akan kembali menemani kalian dalam acara Heart to Heart on Radio Sapphire. Bagaimana guys? Apakah di antara kalian masih ada yang belum berani meminta maaf atau belum bisa memaafkan? DJ Ming masih setia untuk mendengarkan cerita kamu. Jadi jangan ragu, angkat teleponmu, dan hubungi Radio Sapphire tentunya. Waw, sepertinya sudah ada penelepon. Halo, dengan siapa di sana?"
"Dengan Cho," jawab si penelepon.
Jantung Sungmin berhenti selama sepersekian detik saat mendengar nama itu. Dan lagi Sungmin merasa tidak asing dengan suara wanita dewasa yang meneleponnya ini. Jangan-jangan…
"Apa yang ingin Anda katakan?" Tanpa sadar Sungmin menggunakan bahasa formal setelah yakin yang menghubunginya adalah Nyonya Cho.
"Ini tentang kesalahanku," ujar Nyonya Cho. "Semua adalah kesalahanku. Karena kesalahanku, anakku harus menerima ganjaran yang tidak seharusnya. Aku tidak pernah sengaja tentang kecelakaan itu. Bahkan aku sudah menyerahkan diri kepada pihak yang berwajib, tapi mereka tidak menahanku karena memang kecelakaan itu adalah murni ketidaksengajaan. Kumohon, maafkan aku, hukum saja aku, jangan anakku," lanjut Nyonya Cho dengan suara parau dan diakhiri dengan isak kecil. "Dia tulus mencintaimu."
Yunho menatap Sungmin khawatir. Ia memperhatikan perubahan raut wajah Sungmin. Sesaat ia melihat kebencian di sana, tapi kemudian raut wajah Sungmin berubah, sedih tapi juga bimbang.
"Aku butuh saranmu, menurutmu, apa yang harus kulakukan agar kau memaafkan aku?" tanya Nyonya Cho.
Sungmin terdiam mendengar pertanyaan Nyonya Sungmin akan spontan memberikan saran untuk peneleponnya. Kali ini Sungmin benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak menyangka Nyonya Cho membuat pengakuan maafnya di publik seperti ini.
"Tidak bisakah… kau memaafkan aku?"
Sungmin menggigit bibir bawahnya. Ia bingung harus berkata apa. Ini adalah kali pertama bagi Sungmin kesulitan menjawab pertanyaan dari pendengarnya selama siaran. Pertanyaan yang sebenarnya tidak sulit, tapi kasusnya berbeda, yang bertanya adalah Nyonya Cho. Kalau saja yang mengajukan pertanyaan ini adalah orang lain, mungkin dengan mudah Sungmin akan menjawab, "Hati manusia memiliki dua sisi. Hati memang memiliki sisi yang sangat keras, bahkan lebih dari baja. Tapi hati manusia tetaplah hati, yang memiliki nurani. Hati manusia sangat lembut, jauh lebih lembut dari kapas. Terus berusaha untuk meminta maaf, suatu saat hatinya akan luluh juga."
Suara Sungmin tercekat. Ia tahu benar bahwa hatinya akan sulit untuk memaafkan kesalahan Nyonya Cho, tapi bagaimana pun ia harus memberikan saran, paling tidak komentar.
Lama keheningan terangkat di antara mereka. Sungmin masih berpikir apa yang seharusnya ia utarakan. Yunho pun tampak menunggu respon Sungmin tanpa ada niat untuk memutuskan sambungan telepon dari Nyonya Cho.
"Waktu yang akan membantumu," ujar Sungmin akhirnya. Merasa Sungmin akan mengatakan sesuatu yang lain, Nyonya Cho tetap diam. "Hanya itu yang bisa kukatakan padamu. Maaf, kami akan menerima penelepon lain."
Tanpa ragu-ragu Sungmin mengakhiri percakapannya dengan Nyonya Cho. Usai pembiaraan itu, pandangan mata Sungmin kosong. Pikirannya kacau. Kata-kata Nyonya Cho menggema memenuhi gendang telinganya.
Yunho perlu mengetuk kaca yang memisahkan mereka untuk menyadarkan Sungmin bahwa siaran mereka belum berakhir, dan Sungmin masih harus menerima penelepon lain.
"Kau mau kuantar?" tawar Yunho yang melihat Sungmin sedang bersiap untuk pulang.
Sungmin menyelempangkan tasnya, lalu menggeleng. "Tidak. Aku perlu ke suatu tempat terlebih dahulu," tolak Sungmin.
"Kau mau ke mana? Aku bisa mengantarmu," desak Yunho. Ia khawatir pada Sungmin setelah kejadian Nyonya Cho menelepon tadi. Ia takut terjadi sesuatu pada Sungmin, atau Sungmin melakukan sesuatu yang bisa membahayakan dirinya.
Sungmin tersenyum simpul. "Aku ingin pergi ke suatu tempat, dan aku sedang ingin sendiri."
Yunho membalas senyum Sungmin meskipun perasaannya masih tidak enak untuk membiarkan Sungmin pergi sendirian. "Baiklah, tapi jika kau perlu sesuatu, segera hubungi aku," ujar Yunho disambut dengan anggukkan kepala dari Sungmin sebelum ia keluar.
Sungmin melangkah gontai keluar dari gedung Radio Sapphire. Gerimis turun saat langkah pertamanya keluar dari Radio Sapphire. Sungmin mengambil langkah cepat untuk sampai pada halte terdekat. Ia tidak sendiri di sana. Ada beberapa orang berdiri di sana. Sungmin berpikir mungkin yang mereka tunggu sama dengannya, tetapi tujuannya tentu saja berbeda dengan dirinya. Seperti manusia, semua sama-sama menjalani hidup, tapi keinginan dan kebahagiaannya berbeda-beda.
Tidak lama kemudian, bus yang ditunggu Sungmin datang. Sungmin mengetatkan pegangannya pada tali selempang tasnya seiring dengan dingin yang mulai menyapanya. Ia menaiki bus dengan harapan ia tidak salah mengambil jalan dan bisa sampai dengan selamat sampai tujuan. Dalam arti yang lebih bermakna. Dalam hati ia berharap, semoga akan ada jalan yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan yang belakang terjadi dalam hidupnya.
Sungmin melewati beberapa gundukan tanah basah. Hujan sudah berhenti saat ia masih berada dalam perjalanan menuju tempat ini. Ya, tempat di mana ayah tercintanya dikubur lima tahun yang lalu. Tanah dan nisan masih basah karena hujan. Sementara angin bertiup cukup kencang. Membuat Sungmin perlu memeluk dirinya karena ia merasa mulai kedinginan.
Pemakaman itu cukup sepi di senja menjelang malam ini. Bulu kuduk Sungmin meremang saat melewati makam-makam basah itu. Sungmin terkejut karena ia melihat ada satu sosok yang sedang berdiri di depan makam ayahnya.
Mata Sungmin terbuka lebar sebelum kemudian mengedipkan matanya beberapa kali. Saat ia mengenali sosok itu. Cho Kyuhyun.
'Kenapa ia bisa ada di sini? Berdiri tepat di depan makam appa?' tanya Sungmin dalam hati.
Sambil mengendap-endap Sungmin mendekat ke arah tepat di mana Kyuhyun berdiri. Ia menyembunyikan dirinya di balik sebuah pohon besar yang ada di dekat makam ayahnya dan tempat Kyuhyun berdiri.
"Tuan Lee, aku mencintai putri Anda."
Itu kalimat pertama yang Sungmin dengar. Kalimat yang bisa menggetarkan jiwa dan perasaannya, yang bisa membuat jantungnya berdetak tak karuan. Kalimat yang juga membuatnya sekarang menitikkan air mata.
"Aku tahu, di sana kau pasti sudah tenang, kau juga tidak akan mendengar ucapanku ini. Kedatanganku ke tempat ini tidak bisa mengubah apapun. Mungkin juga tidak bisa meluluhkan hati putrimu, Lee Sungmin."
"Aku tidak pernah bertemu dengan Anda, bahkan ibuku adalah penyebab kepergian Anda. Membuat keluarga Anda begitu menderita selama ini. Tapi, aku bersungguh-sungguh dalam mencintai putri Anda. Aku akan berusaha membuatnya menyadari perasaanku dan perasaannya sendiri.
"Pertemuan kami begitu singkat, hubungan kami berjalan dengan sangat tidak baik. Entah mengapa aku bisa merasakan cinta pada putri Anda. Sebelumnya, aku hanya anak manja yang suka bermain-main, tapi Sungmin mengubah segalanya. Perjuangan hidupnya begitu keras. Membuatku ingin berbuat yang lebih baik. Tuan, aku mencintainya sebelum mengetahui peristiwa kelam masa lalu yang menimpa Anda. Untuk masa yang akan datang, aku berjanji akan selalu membahagiakannya, melimpahinya dengan cinta dan kasih sayang. Karena itu, izinkan aku untuk terus mencintainya."
"Selamanya."
TBC
