Author's greeting :
Tsuki : Assalamualaikum minna…
Terima kasih atas review-nya dan juga terima kasih yang sudah fav maupun follow. Awalnya ku pikir fanfic ini bakalan gak laku sampai lemes memikirkannya. Tapi untunglah semangat nulisku balik lagi. Yosh! TATAKAE! –teriak-teriak ala Eren–
O iya, sedikit ralat nih dari chapter satu. Di sini, Kuroko tidak punya misdirection. Jadi kalau kalian menyadari ada tulisan seperti, "Sedangkan si imut yang kadang-kadang gak kelihatan itu, bernama Kuroko Tetsuya" anggap aja gara-gara ketutupan badan temen-temennya yang gede-gede. Kan Kuroko paling kecil dibanding Kisedai yang lain. #diignitepasskai.
Trus juga, tokoh-tokoh SnK yang sudah mati, seperti Marco dan Petra, di sini masih hidup. Tapi chapter kemarin aku lupa nyelipin Marco. Hehehe… #peace.
Yosh! Langsung saja! Check this out!
.
.
.
.
.
Disclaimer :
Kuroko no Basket © Tadatoshi Fujimaki
Shingeki no Kyojin © Hajime Isyama
Pesantren Al-Sekoting (SnK's parody) © Pesantren Al-Sekoting RP
but this fanfiction is mine
Rated : K
Genre : Humor & Friendship
Warning :
doakan gak ada typos, relakan mereka OOC, misalnya ini fic gaje, pastikan kau tetap RnR, soal nge-flame itu mah cuek, lama-lama jadi nge-fave, siapa yang tau pasti, silahkan dibaca dulu… -nyanyi ala Budi Doremi-
Happy reading minna…
.
.
.
.
.
Keesokan harinya…
Sebuah mobil berwarna hitam mengkilap memasuki pintu gerbang pesantren Al-Sekoting. Setelah menemukan tempat parkir yang nyaman, mobil itu pun berhenti. Mobil itu ternyata dikemudikan oleh cowok kalem bersurai hitam yang bernama Nijimura Shuzo itu.
"Minna! Ayo bangun lalu turun! Kita udah sampai nih!" seru Nijimura membangunkan para kouhai-nya. Tapi kemudian langsung sweatdrop saat melihat pose tidur mereka yang terbilang unyu.
Di pojok kanan belakang, nampak Midorima yang tidurnya diapit oleh Akashi dan Takao. Dimana Akashi memeluk lengan kanan Midorima lalu bersandar di bahu kanannya. Begitu juga dengan Takao yang memeluk lengan kiri dan bersandar di bahu kiri Midorima. Ada juga Aomine yang sedang ngorok keras banget di bangku tengah trus kaki kirinya nempel di muka Kise yang tidur sambil memeluk Kuroko. Sedangkan Kuroko sendiri malah memeluk Kagami yang tidurnya pulas banget kayak gak bakalan bangun. Sementara itu, Murasakibara yang berada di sebelah Takao, tidur dengan mengemut permen m*lkit*.
"Muehehehehe…" Nijimura langsung menatap horror ke arah Momoi yang ketawa-ketawa nista di sampingnya. Oh… rupanya cewek pink ini lagi mimpi trus ngigau toh…
"Haa… adik-adikku yang manis…" guman Nijimura tersenyum ngenes. Dan tentu saja kata 'manis' dalam kalimatnya itu mengandung makna yang berbeda. Entah apa itu.
Lalu Nijimura mengambil sebuah toa besar yang entah mengapa bisa muat ditaruh di bawah kakinya. Setelah itu, dia pun berteriak pake toa, "WOY! BANGUN WOY! KITA UDAH SAMPE TAU!"
"Ugh… senpai berisik sekali sih…" guman Momoi yang paling dekat tempat duduknya dengan Nijimura langsung terbangun.
"Hm… Shin-chan milikku, Bakashi…" guman Takao mengigau.
"Enggak… Shintarou itu milikku, Bakao…" bales Akashi juga mengigau.
'Hadeh… biarpun lagi tidur juga masih… aja ngeributi Midorima' batin Nijimura yang diam-diam merasa khawatir dengan cowok megane berklorofil itu.
"Groooookkk~~ grooookkk~~~"
'Cih! Ini lagi si daki! Ngebo mulu…' batin Nijimura sambil ngelihatin Aomine yang masih tetep ngorok.
Sedangkan Kise, Kuroko dan Kagami sudah bangun walaupun masih harus ngumpulin nyawa dulu. Begitu juga dengan Midorima dan Murasakibara yang masih setengah sadar.
1 detik…
Kise merasa ada 'sesuatu' yang berat di pipi kanannya.
2 detik…
"Ugh… apaan sih ini… kok bau sih? Udah gitu kayak ada dakinya lagi" guman Kise lalu melihat kaki nista milik Aomine yang nemplok di pipinya.
3 detik…
"UGYAAAAAA!" teriak Kise langsung menendang Aomine. Otomatis cowok bulukkan itu nyungsep deh di mobil. Kasihan…
"Ittei… apa-apaan sih, Kise?! Sakit tau!" omel Aomine.
"Yee… salah Aominecchi sendiri dong! Seenak jidatnya naruh kaki di muka orang! Gak sopan ssu!" omel balik Kise.
"Udah! Udah! Mending kalian semua turun dari mobil! Kita sudah sampai tau!" lerai Nijimura yang udah gondok dari tadi.
"Hah? Sampe?" koor mereka bersembilan langsung melek.
"Iya…" jawab Nijimura dengan wajah pasrah. Dan langsung saja mereka pun turun dari mobil. Tak lupa Momoi juga memakai selendang yang dijadikannya kerudung mengingat ini adalah wilayah pesantren.
"Wow… sugoii…" mereka semua berdecak kagum melihat suasana di Al-Sekoting.
Pesantren tersebut memiliki halaman yang luas tapi kebersihannya sangat terjaga. Ya, seperti kata Ustad Rifai, "Kebersihan adalah sebagian dari iman". Maka dari itu, setiap hari Jum'at semua santri diwajibkan untuk kerja bakti membersihkan lingkungan pesantren. Dan tentu saja atas perintah dari sang Ustad coretcebolcoret itu. Bahkan toilet santri juga tak kalah bersihnya karena Ustad Rifai gak mau kalau dia jalan-jalan trus nemu toilet kotor nan bau. Selain bersih, pesantren ini juga ramah lingkungan karena banyak ditumbuhi pepohonan dan juga berbagai macam tanaman yang dirawat dengan baik.
Pesantren Al-Sekoting menghadap ke arah timur dan memiliki beberapa gedung yang mengelilingi lapangan pesantren. Dua di antaranya merupakan gedung untuk ruang kelas. Gedung yang terletak di sebelah selatan adalah gedung untuk SMP, sedangkan yang di sebelah utara adalah gedung untuk SMA. Kedua gedung tersebut saling berhadapan dengan jarak sekitar 20 meter. Ya, Pesantren Al-Sekoting adalah pesantren yang diperuntukkan untuk siswa SMP dan SMA. Masing-masing gedung tersebut memiliki tiga lantai sesuai dengan tingkatan kelas dengan masing-masing lantai terdiri dari enam kelas. Gedung di sebelah timur dan menghadap ke sebelah barat itu adalah ruang guru yang juga terbagi menjadi dua, guru SMP dan guru SMA, dan terpisahkan oleh ruang kepala sekolah dan yayasan. Di lantai atas ruang tersebut terdapat ruang multimedia dan ruang computer. Ruang piket berada di depan masing-masing kantor guru sesuai dengan tingkatan sekolah. Di sebelah selatan, juga terdapat beberapa gedung seperti perpustakaan dan mushola.
"Selamat datang di Pesantren Al-Sekoting" sebuah suara yang tegas dan berwibawa itu mengalun lembut di telinga para Kiseki no Sedai. Pemilik suara itu adalah Ustad Rifai, ustad yang paling terkenal di Pesantren Al-Sekoting.
"Eh! Ada Pak Ustad Rifai. Assalamualaikum, Pak!" sapa Nijimura lalu salaman dan cium tangan sama Pak Ustad.
"Waalaikumsalam. Jadi mereka semua ini yang akan masuk ke pesantren ya, Nijimura?" tanya Pak Ustad sambil menunjuk sembilan makhluk Kiseki no Sedai yang cengo melihat Pak Ustad.
Sementara itu, Kiseki no Sedai (minus Takao) memperhatikan Pak Ustad dengan seksama. Merasa familiar, mereka pun beralih memandang Takao. Kemudian, kembali lagi memandang Pak Ustad. Kembali ke Takao lagi. Hingga akhirnya…
"Takao! Kok kamu gak bilang sih kalau adikmu itu jadi ustad di pesantren?" tanya Kagami mewakili. Yang lainnya mengangguk. Kini, giliran Pak Ustad yang cengo.
"Hah? Emang aku gak punya adik kok!" bantah Takao.
"Tapi kalian begitu mirip, Takao-kun" kata Kuroko yang masih tetap dengan wajah datarnya.
"Mirip mbahmu? Mukanya aja muka tua kok! Kalau pun dia adekku, pastinya dia masih SD. Kan dia pendek"
"Tapi ngomong-ngomong, suaranya kok jadi mirip Akashi ya? Tadi ku pikir aja Akashi yang ngomong. Ya gak, Kise?" kata Aomine yang diangguki oleh Kise.
Ya iyalah mirip. Suaranya Pak Kamiya Hiroshi gitu loh… (Okey, mungkin itu OOT)
"Apa jangan-jangan, dia itu anaknya Takao sama Akashi?" kata Kagami yang dengan ngawurnya menuduh Pak Ustad adalah anaknya Takao dan Akashi.
"Oh please deh, Kagami/Taiga! Aku dan Bakashi/Bakao itu rival untuk mendapatkan Shin-chan/Shintarou! Dan satu lagi, kami ini cowok!" omel Bakashi dan Bakao. Eh! Maksudku, Akashi dan Takao. Jadi, tolonglah turunkan guntingnya!
"Tapi mungkin saja bisa terjadi. Siapa tau yang awalnya Aka-kun dan Kazu-chan rebutan Midorin, jadi saling mencintai lalu menikah dan punya anak. Kyaaaa…" celetuk Momoi si fujoshi.
Dan mereka semua gak sadar dengan hawa-hawa mematikan yang datang dari tubuh Pak Ustad.
'Oh… gitu ya?' batin Pak Ustad senyum tapi kayak nahan urat gitu. Ternyata dia tersinggung saat dibilang 'pendek' dan 'tua'.
Beberapa menit kemudian…
"Ah, sumimasen Pak Ustad. Mereka emang udah rada-rada. Hontou ni sumimasen" kata Nijimura sambil bungkuk-bungkuk dan juga dengan perasaan tidak enak. Sedangkan di belakangnya sudah ada 9 makhluk yang berlutut dengan benjol di kepala masing-masing. Rupanya Nijimura abis memberi 'pelajaran' kepada 9 kouhai tercintanya.
"Ah, gak apa-apa. Udah biasa mah… hahaha…" kata Pak Ustad dengan senyum maksa. Padahal hatinya udah ngedumel, 'Kurang asem! Orang kece nan ganteng ini kok dibilang tua dan pendek. Udah gitu dituduh anaknya si rambut merah sama si raven lagi'
Sepertinya virus narsis Kise udah nular ke Pak Ustad.
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi pulang dulu. Ada urusan mendadak nih. Titip Kiseki no Sedai ya! Assalamualaikum!" pamit Nijimura yang langsung ngacir menuju mobil dan pergi meninggalkan kawasan pesantren. Pak Ustad pun sweatdrop beberapa saat.
"Haa… apa boleh buat" guman Pak Ustad kemudian menoleh ke arah Kiseki no Sedai. "Oy! Kalian! Ayo ikut aku ke ruang kepala sekolah! Nanti akan ada pembagian kelas dan ruang kamar asrama untuk kalian"
"Iya, Pak Ustad" kata mereka yang dengan polosnya mengikuti Pak Ustad menuju ruangannya Pak Erwin. O iya, selain jadi ketua yayasan, Pak Erwin juga merupakan kepala sekolah di Pesantren Al-Sekoting.
.
_–_o0o_–_
.
Di ruangan Pak Erwin…
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" sahut seorang pria berambut pirang yang ganteng dan juga bersuara berat-berat seksi gitu. Dialah Erwin Smith yang biasa dipanggil Pak Erwin.
Pintu pun terbuka dan menampilkan Pak Ustad Rifai beserta Kiseki no Sedai yang membuntutinya.
"Ah, ada apa, Pak Ustad?" tanya Pak Erwin dengan suara yang bisa membuat cewek meleleh. Lihat aja muka Momoi yang udah blushing.
'Kok suaranya mengingatkanku pada seseorang? Cuma bedanya orang itu ngomongnya pake nanodayo' batin Kiseki no Sedai minus Midorima dan Momoi.
"Cuma mau mengantarkan santri baru baru kok, Erwin" jawab Pak Ustad dengan nada dingin. Dan ngomong-ngomong, Pak Ustad sopan banget ya manggil atasannya langsung nama? #ditendang.
"Oh begitu ya?" kata Pak Erwin lalu menoleh ke arah Kiseki no Sedai dan tersenyum. "Selamat datang di Pesantren Al-Sekoting"
'Keren…' batin Momoi dengan aura sparkling di wajahnya.
"Pes! Pes! Aominecchi!" bisik Kise sambil menyikut Aomine.
"Nani?" tanya Aomine ogah-ogahan.
"Kalau seumpamanya Pak Kepsek ngomongnya pake nanodayo, pasti bakalan jadi Midorimacchi yang kedua"
"Hm… iya juga ya?" guman Aomine.
"Aku mendengarmu, nanodayo" kali ini suara seksi itu berasal dari Midorima.
Okey… salahkan saja suara mereka yang begitu mirip. Pak Ono Daisuke gitu loh… (Maaf, OOT lagi)
"Saa, langsung saja ke pembagian kelas dan asrama. Pak Ustad, nanti tolong antarkan mereka ke kelas mereka masing-masing ya?" kata Pak Erwin.
"Baik" kata Pak Ustad. Padahal batinnya, 'Enak aja nyuruh-nyuruh gue? Emang lo siapa gue?'
.
_–_o0o_–_
.
Beberapa saat setelah keluar dari ruangan Pak Erwin…
Terlihat Momoi yang sedang berjalan bersama Kiseki no Sedai yang lainnya dengan muka madesu. Ada apa dengan Momoi?
"Momoi-san? Kau kenapa?" tanya Kuroko heran melihat Momoi yang seperti hilang harapan.
"Mou~ ini tidak adil, Tetsu-kun!" jawab Momoi frustasi. Dan mereka pun menghentikan langkah mereka.
"Eh? Tidak adil gimana maksudnya?" tanya Kagami ikut penasaran.
"Masa kalian semua ada yang sekelas dan bahkan seasrama, tapi aku malah sendiri?! Kan gak adil!" curhat Momoi.
"Kalau itu mah wajar, Momoi. Kamu kan satu-satunya perempuan di Kiseki no Sedai. Dan di dalam aturan pesantren, laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim tidak boleh satu kelas, apalagi satu asmara, nanodayo" kata Midorima dengan bijak.
"Maa, maa, kau tenang saja, Momocchi! Gak usah sedih ssu. Kan Momocchi tidak sendirian. Pasti di kelas dan asrama Momocchi banyak temennya kok ssu" hibur Kise.
"Kita senasib, Satsuki" kata Akashi ikutan madesu.
"Kau kenapa, Aka-chin?" tanya Murasakibara.
"Aku gak terima. Si Bakao sama Shintarou bisa sekelas. Tapi kenapa aku malah sekelas sama orang macam Daiki sama Taiga?!" protes Akashi sambil menunjuk Aomine dan Kagami. "Kalau sama Tetsuya sih masih mending dari pada dua orang absurd tadi"
"Itu sih, derita lo, Bakashi" kata Takao sambil melet ke Akashi.
"Apa kau bilang, Akashi?! Aku ini orang absurd?!" amuk Kagami kayak macan lapar tapi gak ada makanan.
"Hoy, Akashi! Jangan mentang-mentang kamu imut, –ya meskipun masih imutan Tetsu sih– tapi jangan sembarangan menghinaku dong! Aku tau kalau aku ini jelek. Um… eh, tapi masih jelekkan Kagami deh" kata Aomine yang langsung dijitak Kagami.
"Enak aja kau ngomong!" kata Kagami setelah menjitak Aomine.
Ckris! Ckris!
"Begitu ya?" guman Akashi dengan aura gelap mengelilingi tubuhnya.
'Wah! Gaswat nih!' batin Kiseki no Sedai minus Akashi.
"Untuk apa aku hidup di dunia ini kalau aku tak mampu mendapatkan apa yang ku mau?" guman Akashi mulai ber-melankolis. Sepertinya dia sudah tertular Kise yang hobinya ngedengerin music mellow sambil ber-galau-ria.
'..huwat?!'
"Lebih baik aku mati saja!" kata Akashi yang mau menggoreskan pergelangan tangannya dengan guntingnya. Oh sumpah! Kayaknya ini anak diam-diam udah kebanyakkan nonton sinetron.
"Gyaaaa! Akashicchi jangan mati ssu!" cegah Kise yang dengan paniknya menghampiri Akashi lalu berusaha merebut gunting di tangan sang ketua Kiseki no Sedai.
"Lepaskan aku Ryouta! Sudah tidak ada gunanya lagi aku hidup di sini! Tidak ada yang sayang sama aku!" kata Akashi yang OOC to the max.
"Jangan Akashicchi~~! Kami semua sayang kok sama Akashicchi. Iya kan, Midorimacchi?"
"Hee? Ke-kenapa harus aku?!" tanya Midorima blushing. Ingat, itu cuma karena efek ke-tsundere-annya aja, nanodayo. (Midorima : Berhenti menirukanku, nanodayo!)
"Ayolah Midorimacchi… kau gak mau kan Akashicchi mati karena bunuh diri, trus arwahnya gentayangan gara-gara marah sama kita!" kata Kise mulai lebay.
"Oy! Kise! Jangan nakut-nakuti aku kenapa sih?!" omel Kagami yang ketakutan saat mendengar kata 'arwahnya gentayangan'. Owalah… badan boleh bongsor tapi nyalinya longsor. #dihajarBakagami.
"Ugh… bukan berarti aku mengkhawatirkanmu ya, Akashi! Tapi aku gak mau kamu mati bunuh diri! Itu sangat merepotkan, nanodayo!" kata Midorima dengan nada tsun-tsun-nya.
"Shintarou…" panggil Akashi dengan mata kucingnya yang berbinar-binar. "Apakah kita akan selalu bersama?"
"Te-tentu saja! Baka! Kita semua kan teman!" kata Midorima lalu berbalik dan melipat tangannya di dada. Dan Akashi pun memeluk Midorima dari belakang.
"Tak akan ku biarkan kau merebut Shin-chan dariku, Bakashi!" amuk Takao lalu…
"Oy! Udah belum opera sabunnya? Udah mau pelajaran nih!" seru Pak Ustad yang udah capek ngelihat sinetron dadakan para santri barunya. Dikacangin pula.
"I-iya, Pak Ustad!" seru Kiseki no Sedai yang baru nyadar udah ngacangin Pak Ustad dari tadi. Lalu capcus menuju gedung SMA lantai dua karena kelas mereka di sana.
Pak Ustad menghela nafas berat. Ternyata harapannya pupus sudah karena ternyata santri barunya gak ada bedanya sama santri-santri Al-Sekoting lainnya. 'Emangnya Pesantren Al-Sekoting ini semacam tempat penampungan orang bermasalah apa?' batinnya capek deh.
Kamu sabaro Pak Ustad… #FabKicked
.
_–_o0o_–_
.
Di kelas 2A putra…
"Eren, denger-denger nanti bakalan santri baru. Emang bener ya?" tanya Connie. Sekarang ini Eren, Connie, Rustam, dan Budi sedang duduk melingkar di meja Eren.
"Iya. Kata Pak Ustad, mereka dari Teiko" jawab Eren.
"Mereka cewek apa cowok?" tanya Rustam.
"Belum tau"
"Eh! Eh! Ngomong-ngomong, tadi aku liat ada delapan orang cowok sama satu orang cewek rambutnya warna-warni di ruangan Pak Erwin. Mungkin mereka itu kali santri barunya. Pesantren kita kan gak ada yang rambutnya warna-warni" kata Budi yang tadi melihat Kiseki no Sedai saat melewati ruang Pak Erwin.
"Hm… bisa jadi" guman Rustam ngelus dagu.
"Woy! Pak Ustad Rifai datang!" seru salah satu santri yang langsung membubarkan diskusi Eren dkk. Tak lama kemudian, Pak Ustad masuk dengan diikuti Kuroko, Kagami, Aomine, dan Akashi.
"Ahem! Assalamualaikum, anak-anak!" sapa Pak Ustad dengan nada dinginnya.
"Waalaikumsalam, Pak Ustad!"
"Mulai hari ini, kalian mendapat teman baru. Nah, kalian berempat, silahkan perkenalkan diri kalian masing-masing!" kata Pak Ustad lalu menyuruh empat orang santrinya untuk memperkenalkan diri. Dan perkenalan pun dimulai dari Kuroko.
"Salam kenal. Nama saya Kuroko Tetsuya. Saya pindahan dari SMA Teiko. Yoroshiku onegaishimasu" kata Kuroko lalu ber-ojigi.
"Hello, guys! Namaku Kagami Taiga. Aku juga pindahan dari SMA Teiko. Nice to meet you" lanjut Kagami dengan logat Amerikanya.
"Aku Aomine Daiki, pindahan dari SMA Teiko. Yang bisa mengalahkanku hanyalah aku" lanjut Aomine. Kelihatan banget gak niatnya.
"Namaku Akashi Seijuurou, pindahan dari SMA Teiko juga. Yoroshiku" lanjut Akashi dengan kalemnya.
"Saa, kalian berempat boleh duduk sekarang" kata Pak Ustad kemudian.
"Baik, Pak"
"Eh, Eren! Yang namanya Akashi kok suaranya mirip Pak Ustad ya?" bisik Connie yang duduk di depan Eren.
"Ish! Mana aku tau?" balas Eren. Ya iyalah suara mereka mirip orang seiyuu-nya aja sama.
"Oy! Connie! Eren! Apa yang kalian bicarakan?" tanya Pak Ustad.
"Eh… gak apa-apa kok Pak Ustad!" jawab Connie gugup lalu kembali menghadap ke depan.
"Ano…" guman Kuroko.
"Hn? Gah?! Sejak kapan kau di sini?!" tanya Eren lalu kaget melihat Kuroko yang berdiri di sampingnya. Keasyikkan ngerumpi sama Connie sih…
"Baru saja kok. O iya, apakah tempat ini kosong?" tanya Kuroko sambil menunjuk kursi di sebelah Eren yang kosong.
"Kosong kok. Kalau mau duduk di sini, silahkan saja"
"Arigatou gozaimasu"
Kuroko dan Eren pun duduk sebangku di bangku tengah di barisan paling barat. Sekarang, mari kita lirik yang lain!
Aomine duduk di bangku nomer dua dari belakang di barisan paling timur. Di depannya ada Kagami yang duduk di bangku tengah paling timur. Lalu Akashi duduk di bangku nomer dua dari depan di barisan kedua paling timur. Sedangkan Rustam dan Budi duduk sebangku di belakang Akashi.
"Nee, Kuroko" panggil Eren.
"Nan desu ka?"
"Namaku Eren, salam kenal!" kata Eren lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Hai" kata Kuroko sambil membalas uluran tangan Eren.
"Semoga betah di sini ya! Di sini banyak orang aneh soalnya" kata Eren. Kuroko pun hanya membalasnya dengan senyum tipis. Ini si Eren belum tau aja kalau anak-anak Kiseki no Sedai sama parahnya dengan santri Al-Sekoting yang lain.
"Sekarang buka buku materinya halaman 28! Ada latihan empat soal tolong kerjakan! Bapak mau pergi sebentar karena ada urusan" kata Pak Ustad yang tak lain adalah wali kelas 2A putra itu lalu melangkah pergi.
.
_–_o0o_–_
.
Di kelas 2B putra…
"Anak-anak, hari ini akan ada santri baru pindahan dari Teiko" kata Pak Kyai Pixis, selaku wali kelas 2B putra.
"Nah, kalian berempat silahkan masuk untuk memperkenalkan diri!"
Setelah itu, masuklah Midorima, Takao, Kise, dan Murasakibara. Dan perkenalan pun dimulai dari Kise.
"Hallo semua! Namaku adalah Kise Ryouta. Aku adalah santri yang paaaaaaling guanteng nan ketjeh!" seru Kise dengan ceria dan juga narsis.
"Ittei! Midorimacchi!" protes si cowok kuning saat kakinya ditendang Midorima yang berdiri di sampingnya.
"Hajimemashite. Namaku Midorima Shintarou, nanodayo" si pelaku malah memilih mencueki protesan si korban dan melanjutkan sesi perkenalan.
"Kalau aku, namaku Takao Kazunari. Aku adalah paca-.. ittei! Shin-chan!" kata Takao seketika terpotong gara-gara kakinya diinjek Midorima.
"Jangan dengarkan dia, nanodayo"
"Namaku, nyam~ nyam~ Murasakibara Atsushi nyam~ nyam~" lanjut Murasakibara dengan singkat dan juga padat ditambah lagi dengan suara kunyahan karena saat itu Murasakibara sedang makan T*ro.
"Baiklah, sekarang kalian boleh duduk" kata Pak Kyai Pixis sambil sweatdrop dengan perkenalan absurd tadi. Dan mereka berempat pun bubar mencari tempat duduk.
"Hai! Apakah di sebelah sini kosong?" tanya Kise pada Armin. Armin pun mengangguk.
"Kalau begitu, aku duduk di sini ya?"
Armin mengangguk lagi. Dan mereka pun duduk sebangku di bangku nomer dua dari depan di barisan nomer dua dari timur. Sedangkan Midorima dan Takao duduk sebangku di bangku tengah di barisan nomer dua dari barat. Lebih tepatnya, Takao menyeret Midorima untuk sebangku dengannya setelah mengusir penghuni aslinya. Dan Murasakibara duduk di bangku paling belakang di barisan kedua paling timur. Tau sendirilah, kan Murasakibara perawakannya super subur tuh. Sangking suburnya, naiknya tuh ke atas mulu gak ke samping. Okey, itu korban iklan. Dan kalau Murasakibara duduk di depan, nanti yang ada bakal diprotes sama yang di belakang.
.
_–_o0o_–_
.
Di kelas 2A putri…
"Assalamualaikum, anak-anak!" sapa seorang ustadzah yang muda nan cantik bernama Petra. Dia adalah wali kelas 2A putri.
"Waalaikumsalam, Bu Petra" sahut para santriwati.
"Nah anak-anak, mulai hari ini kalian akan mendapat teman baru dari SMA Teiko. Nah, Momoi-san silahkan perkenalkan dirimu!" kata Bu Petra dengan ramah.
"Baik, Bu Petra" kata Momoi lalu berdiri menatap teman-teman barunya.
"Salam kenal! Namaku Momoi Satsuki, pindahan dari SMA Teiko. Yoroshiku!"
"Baiklah, sekarang kau boleh duduk di sebelah Mikasa" kata Bu Petra sambil menunjuk si gadis bersurai hitam sebahu yang ditutupi oleh jilbab krem itu. Seragam khas Al-Sekoting.
"Terima kasih, Bu" kata Momoi lalu duduk sebangku dengan Mikasa.
Dan pelajaran Bu Petra pun berlanjut.
.
_–_o0o_–_
.
Jam istirahat di kelas 2A putra…
"Oy Tetsu! Ayo kita ke kantin!" ajak Aomine menghampiri Kuroko yang sedang asyik mengobrol dengan Eren.
"Ya, nanti aku akan menyusul. O iya Aomine-kun, kenalin namanya Eren" jawab Kuroko kemudian memperkenalkan Eren pada Aomine.
"Kamu Aomine kan? Aku Eren, yoroshiku!" kata Eren.
"Yoroshiku"
"Waa… aku ikut kenalan dong! Aku Kagami" kata Kagami ikut bergabung.
"Aku Eren, yoroshiku!" sahut Eren.
"O iya, ngomong-ngomong, kenapa kalian pindah sekolahnya kok barengan kayak gini?" tanya Eren mulai kepo.
"Senpai kami yang memasukkan kami ke pesantren. Katanya sih biar kami bisa belajar agama" jawab Kuroko. Eren hanya ber-oh-ria.
"Akashi! Kau mau ke mana kok buru-buru?" tanya Kagami saat melihat Akashi keluar dengan tergesa-gesa.
"Mau ke kelasnya Shintarou" jawab Akashi kemudian menghilang di balik pintu.
"Haa… entah mengapa perasaanku jadi tidak enak" guman Aomine.
"Eh? Emang kenapa?" tanya Eren heran.
"Ah! Gak apa-apa kok Eren-kun. Gak usah terlalu dipikirkan" jawab Kuroko.
.
_–_o0o_–_
.
Sementara itu di kelas 2B putra…
"Kise-chin, ke kantin yuk! Aku mau beli snack" ajak Murasakibara lalu menghampiri Kise dan Armin yang masih betah di bangku. Awalnya sih mau ngajak Midorima sama Takao sekalian, tapi ternyata Tuhan tidak mengijinkan. Kenapa? Jangan tanya Tsuki. -_-`
"Okey! Ayo Armin ikut! Sekalian kenalan" kata Kise lalu mengajak Armin.
"Are?" guman Murasakibara melotot ke arah Armin.
"Eh? Kenapa, Murasakibaracchi?"
"Kore wa…" kata Murasakibara menunjuk Armin. "Kenapa ada cewek di kelas cowok? Bukannya kalau di pesantren, cowok sama cewek dipisah ya?"
Gubrak!
Armin pun pundung dalam hati.
"Maa, maa, udah… gak usah galau! Murasakibaracchi emang suka ceplas-ceplos kok" hibur Kise yang sesama cowok cantik. Ya, Kise dan Armin sama-sama dilahirkan menjadi seorang cowok yang berwajah seperti cewek.
Brak!
Tiba-tiba seseorang menendang pintu kelas yang malang. Dan nampaklah sesosok berambut merah yang sudah masuk ke mode yandere.
"Sudah ku duga! Apa yang kau lakukan pada Shintarou-ku, BAKAO?!" geram Akashi dengan penekanan suku kata 'ku' setelah kata 'Shintarou'.
"Eh? Ada yang ngamuk deh kayaknya" sindir Takao.
"Akashi! Bisakah kau tidak menendang pintu kelas, nanodayo?"
"Oh maaf. Kakiku kepleset" jawab Akashi. Otomatis semua penghuni kelas sweatdrop.
"Hee… alasan macam itu, Bakashi?" sahut Takao yang juga ikut sweatdrop.
"Suka-suka dong! Masalah buat lo? B-A-K-A-O" kata Akashi berkacak pinggang lalu mengeja nama panggilan sayang Takao dari Akashi.
"Ngajak berantem lo?!" kata Takao mulai tersulut emosi.
"Iya" tantang Akashi yang dengan sombongnya menganggkat dagunya.
"Okey! Lo jual gue beli!" sahut Takao dengan logat Betawi lalu main jambak-jambakkan bareng Akashi.
"Haa… aku gak kenal mereka, nanodayo" guman Midorima menaikkan kacamatanya lalu berjalan keluar meninggalkan Akashi dan Takao yang asyik main jambak-jambakkan.
"Hoy! Armin!" panggil Joko lalu menghampiri Armin yang disusul Marco di belakangnya.
"Eh? Ada anak baru di sini. Kenalin, namaku Joko Krisnanto. Bisa dipanggil Joko" kata Joko setelah melihat Kise dan Murasakibara bersama Armin.
"Aku Kise dan ini Murasakibara. Senang bertemu denganmu" sahut Kise sambil memperkenalkan dirinya dengan Murasakibara.
"Aku Marco, salam kenal" kata Marco ikut memperkenalkan diri.
"Salam kenal ssu"
"O iya by the way, temanmu yang di sana kenapa tuh?" tanya Joko sambil menunjuk Akashi dan Takao yang sedang jambak-jambakkan tak lupa dengan bahasa-bahasa kebun binatang seperti, "meow… guk-guk… mbek… kukuruyuuuuk…"
"Oh… paling mereka lagi kehabisan obat" jawab Kise poker face.
"Oh ya sudah. Ayo kita ke kantin!" ajak Joko.
"Ayo!" sahut Murasakibara yang bersemangat begitu nyangkut sama cemilan.
Sementara itu, Akashi dan Takao masih saja jambak-jambakkan gak jelas. Dan malahan santri-santri yang masih di kelas malah bersorak-sorai mendukung salah satu dari mereka. Ada yang teriak, "Bakashi! Bakashi! Bakashi!" dan juga yang teriak, "Bakao! Bakao! Bakao!". Well, sebenarnya mereka gak tau karena belum kenal. Dan itu aja gara-gara mereka berdua yang saling memanggil dengan panggilan 'sayang' masing-masing.
"Eh? Tunggu! Tunggu!" kata Akashi yang langsung menghentikan pertengkaran gajenya dengan Takao. "Kemana Shintarou?"
Krik… krik… krik…
Bunyi jangkrik di atas genting… jangkriknya turun… tidak terkira… #plak –dibantai seluruh chara KnB dan SnK karena nyanyi-nyanyi gaje–
"Eh iya! Shin-chan ngilang!" seru Takao. Dan langsung saja kedua point guard itu ngacir keluar kelas buat nyari si hijau megane.
.
_–_o0o_–_
.
Di kelas 2A putri…
"Eh, Momoi! Kok kamu mau-maunya sih dimasuki ke pesantren? Di pesantren kan gak bebas, banyak aturan dan larangan" tanya Sasha.
Sekarang ini Momoi sedang dikelilingi oleh para santriwati termasuk Shasa, Ymirah, dan Christa, untuk sesi tanya jawab. (Tsuki: wew! Gaya bahasa apaan nih?-_-`). Mikasa? Paling dia nyari Eren.
"Bener kata Sasha. Kalau di sekolahmu kan pasti diperbolehkan main hape kan? Kalau di sini mah jangankan main hape, pegang hape aja dihukum" sahut santriwati yang lain.
"Etto… sebenarnya sih aku masuk pesantren gara-gara disuruh sama senpaiku. Ya, tapi mau bagaimana lagi, mungkin ini memang nasibku" jawab Momoi.
"O iya, ngomong-ngomong Momoi-san, sekolah di SMA regular itu enak apa enggak?" tanya Christa.
"Ada enaknya dan ada gak enaknya. Entahlah. Ku rasa semua sekolah sama saja kok" jawab Momoi.
Ya, sepertinya cuma di kelas Momoi yang paling normal. Setidaknya untuk sementara ini.
.
_–_o0o_–_
.
Terlihat langit sudah berubah warna menjadi jingga kemerah-merahan tanda hari sudah sore. Matahari pun mulai merangkak ke ufuk barat karena sudah capek membagikan sinarnya pada hari itu. Dan bulan pun muncul di ufuk timur untuk menggantikan matahari.
Dan karena sudah sore, para santri pun pulang ke asrama mereka yang berada tak jauh dari pesantren. Setelah beristirahat di asrama sebentar, mereka kembali ke mushola Al-Sekoting untuk sholat Maghrib berjamaah.
Nah, sekarang ayo kita intip asrama putra…
"Eh? Eren-kun, kau di kamar ini juga?" tanya Kuroko saat memasuki kamar asramanya.
"Iya, ini adalah kamarku. O iya, sebelumnya Pak Ustad ngomong kalau aku bakalan punya temen sekamar yang baru. Dan ternyata itu kamu toh?" jawab plus tanya balik dari Eren.
Kuroko mengangguk.
"Waa… kebetulan sekali! Bisa ngobrol banyak dong kita!" kata Eren senang sekali.
"Ya, aku juga senang bisa bertemu Eren-kun. Mudah-mudahan kita bisa jadi teman dekat ya" kata Kuroko sambil tersenyum suuuuuuuuuuper manis. Kawaii…
"Amin…"
"Allahu Akbar, Allahu Akbar!"
"Eh, udah Maghrib! Kita ke mushola yuk, sholat berjamaah!" seru Eren mengajak Kuroko. Dan karena Kuroko dan Eren adalah tokoh utama favorit Tsuki di masing-masing anime, maka mereka tinggal satu kamar di asrama.
Sementara Eren dan Kuroko berjalan menuju mushola, mari kita intip Takao yang satu kamar sama Connie…
"Takao-san, ayo kita ke mushola!" ajak Connie yang sudah rapi dengan pakaian koko dan kain sarung yang melilit di bawahnya. Tak lupa juga dengan peci yang menutupi kepala hampir botaknya.
"Gak ah! Lagi dapet!" kata Takao yang lagi badmood. Connie pun sweatdrop.
Takao, cowok mana mungkin bisa dapet? -_-`
Kenapa Takao jadi badmood? Kalau begitu mari kita lirik kamar sebelah yang diduga sebagai penyebab utama Takao ngambek…
"Baby I love you… love you… love you so much! And I miss you… miss you… when your gone…" terlihat Akashi yang sedang nyanyi lagunya Ch*rr*bell* sambil nari-nari balet. Sepertinya dia lagi senang banget.
"Akashi! Berhenti nyanyi lagu nista itu, nanodayo! Kau membuatku mual dengan mendengarnya, nanodayo!" omel Midorima yang ternyata anti fans Ch*rr*bell*.
"Suka-suka aku dong, Shintarou! Aku kan lagi seneng soalnya kamu sekamar sama aku. Gak sekamar sama Bakao" kata Akashi.
Oh… jadi itu toh alasannya…
Saa, mari kita beralih pada Kagami yang baru selesai mandi. Dan tentunya dengan rambut merah-hitamnya yang basah dan juga handuk yang melilit pinggangnya hingga menampakkan dada dan perutnya yang berotot. (Tsuki: uwaaaaaa… *nosebleed*)
"Segernya…" kata Kagami sambil mengosok-gosokkan rambutnya. Lalu mata crimsonnya membulat saat melihat Armin, teman sekamarnya, sedang duduk manis di atas ranjang.
Otak Kagami loading…
.
.
1%
.
.
10%
.
.
22%
.
.
53%
.
.
76%
.
.
89%
.
.
99%
.
.
100%
Loading completed!
"UGYAAAAAAAAAA!" teriak Kagami kayak banci taman lawang yang mau diraep. #dilemparBakagami.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Marco, temen sekamar Kagami yang lain, yang baru pulang dari mushola. Ceritanya para santri udah selesai sholat Maghrib. Armin pulang duluan karena Marco masih ada urusan. Sedangkan Kagami bukannya ikut sholat malah keasyikkan mandi di kamar asrama.
"Oy! Kau ngapain di asrama cowok?! Kau kan cewek! Mau mengintipku mandi ya?!" tanya Kagami sambil menunjuk-nunjuk Armin. #poor_Armin
"Astaghfirullahal'azim… fitnah tuh fitnah!" bantah Armin gak terima dikira cewek. Ya iyalah, Armin kan cowok tulen. Cuman cantik.
"Halah gak usah ngeles! Bilang aja kamu mau melihatku topless! Dasar gadis mesum!" tuduh Kagami.
"Siapa juga yang mau mengintipmu?! Dan aku bukan gadis mesum! Aku kan co-.."
"Alesan! Sekali mesum tetep mesum! Hidup mesum!" kata Kagami yang dengan gebleknya memotong ucapan Armin.
"Ano…" kata Marco menengahi pertengkaran gaje antara Bakagami dengan 'si gadis mesum' –itu menurut Kagami– itu. Tak lupa dengan sebutir keringat besar di kepalanya.
"O iya, kamu! Cepet bawa pacarmu ini pergi!" suruh Kagami dengan nista kepada Marco.
"Tapi…"
"Apa?!"
"Dia kan cowok" kata Marco.
Hening…
Kagami melirik takut-takut ke arah Armin yang mengeluarkan aura-aura hitam.
"Sudah jelas kan kalau aku ini bukan gadis-mesum?!" tanya Armin dengan penuh penekanan.
(Amanat: kalau sudah waktunya sholat, sholat! Jangan mandi di saat sholat Maghrib, jika kalian tidak ingin mengalami kejadian nista seperti yang dialami Bakagami!).
Dan bagaimana keadaan santri yang lain? Terlihat Rustam dan Budi yang damai-damai saja di kamar mereka. Secara, mereka kan udah best friend sejak masih merangkak. Trus ada juga Aomine dan Kise yang asyik main ular tangga di kamar mereka. Ya, itung-itung sebagai penggantinya main one-on-one basket karena mereka belum sempat nyari lapangan. Dan terakhir, sepertinya Joko mulai mengakrabkan diri dengan Murasakibara yang menjadi teman sekamarnya yang baru. Ini terbukti dengan mereka yang saling berbagi snack. Atau lebih tepatnya, Joko yang nyomot snacknya Murasakibara. Dan tanpa disadari oleh Murasakibara, Joko membawa karung berisi sandal colongan dari mushola.
OMG! Joko…
.
.
.
–_–つづく–_–
Author's diary :
Tsuki : Second chapter has finished!
Waa… sorry ya kalau seumpamanya pendiskripsiannya kurang. Abis ngantuk nih… jadi idenya mampet deh! Mana mereka OOC parah lagi… -_-``
Ya sudah, kalau begitu aku pamit dulu!
Mind to review?
