"SAHUR! SAHUR!"
Tek! Tek! Tek!
Dong! Dong! Dong!
Miaw!
Terdengar suara orang-orang yang membangunkan orang untuk sahur di sekitar pesantren. Tak lupa juga dengan alat tempur mereka yang tak lain adalah toa, kentongan, panci bekas, dan… kucing? Oh tentu saja bukan. Kebetulan mereka melewati kucing yang lagi tidur nyenyak trus kucingnya kaget deh gara-gara suara-suara itu.
Sementara itu…
"Ngh~ udah saatnya sahur ya?" guman Ustad Rifai yang baru bangun dari tidurnya. Lalu dengan malas, Ustad Rifai melihat jam dinding yang jarum panjangnya menunjuk angka enam, sedangkan jarum pendek berada di tengah-tengah angka tiga dan empat.
"Hm… setengah empat pagi ya? Bentar lagi imsak dong. Yosh! Bangunin anak-anak buat sahur ah!" kata Ustad Rifai lalu beranjak dari kasur dan memulai membangunkan anak-anak Sekoting.
.
.
.
.
.
Disclaimer :
Kuroko no Basket Tadatoshi Fujimaki
Shingeki no Kyojin Hajime Isyama
Pesantren Al-Sekoting (SnK's parody) Pesantren Al-Sekoting RP
but this fanfiction is mine
Rated : K
Genre : Humor & Friendship
Warning :
doakan gak ada typos, relakan mereka OOC, misalnya ini fic gaje, pastikan kau tetap RnR, soal nge-flame itu mah cuek, lama-lama jadi nge-fave, siapa yang tau pasti, silahkan dibaca dulu… -nyanyi ala Budi Doremi-
Happy reading minna…
.
.
.
.
.
"Woy! Bangun woy! Sahur!" seru ustad Rifai sambil menggedor-gedor masing-masing pintu asrama cowok. Sedangkan untuk asrama cewek itu tugasnya Hanji.
Di kamar Eren dan Kuroko…
"Kuroko! Bangun yuk! Kita sahur bareng-bareng!" kata Eren sambil mengguncangkan tubuh Kuroko yang sedang terlelap.
"Ugh~ bentar lagi. Aku masih mengantuk" jawab Kuroko malas.
"Tapi Kuroko, bentar lagi udah mau imsak. Emang kamu mau gak puasa karena gak sahur?"
Setelah itu, Kuroko langsung bangkit meskipun rasa malas masih menghampiri cowok Aquarius itu. Ya, mereka emang duo yang paling normal. Dan itu karena Tsuki tidak tega untuk menistakan mereka.
Di kamar Midorima dan Akashi…
Tok! Tok! Tok!
"Woy! Cepat bangun! Sahur! Bentar lagi imsak nih!" terdengar suara Ustad Rifai dari luar kamar.
Midorima terbangun karena suara ustad itu. Lalu Midorima menoleh ke arah Akashi yang masih tidur dengan pulasnya. Bangkit lalu menghampiri Akashi dan mengguncang-guncangkan tubuh mungil Akashi untuk bangun.
"Akashi! Akashi!" bisik Midorima sambil terus mengguncang tubuh Akashi.
"Ugh~ apaan sih, Shintarou? Ngantuk tau…" keluh Akashi malas.
"Ish… bangun sahur!"
Hening sejenak.
'Cling!', tiba-tiba Akashi senyum-senyum gaje.
"Ya udah deh aku bangun. Tapi, ada syaratnya" kata Akashi memasang muka seimut mungkin. Sementara Midorima memasang wajah 'what-is-it?'.
"Cium aku~" jawab Akashi sambil memonyong-monyongkan bibirnya. Bener-bener dah ini anak…
'Idih! Ogah nemen!' batin Midorima bergidik. Tapi mau bagaimana lagi, kalau Akashi tidak bangun dan tidak sahur, yang disalahin pasti juga Midorima. Orang dianya kan temen sekamar Akashi.
'Aha!' batin Midorima tiba-tiba dapat ide. Setelah itu, Midorima mengambil kodok kerosuke-nya lalu menempelkannya pada bibir (monyong) Akashi.
Chu~
Cepat-cepat Midorima menyingkirkan kerosuke-nya sebelum si cowok merah itu membuka matanya. Lalu si cowok klorofil itu mendekatkan wajahnya ke Akashi seolah-olah abis mencium cowok Sagitarius itu.
"Hm… kok rasanya aneh ya? Kayak bau-bau comberan gitu" kata Akashi.
O-ow… Midorima lupa kalau kerosuke-nya abis nyemplung ke got gara-gara kesenggol Connie secara tidak sengaja waktu jalan-jalan keliling pesantren. Dan si cowok Cancer pun lupa untuk membersihkannya. Akashian deh Akashi… (Izuki: Ah! Kitakore! | *Tsuki ketularan Izuki* | Izuki: Kitakore lagi! | Tsuki: Urusaii naa~ *nendang Izuki*)
Okey… back to the story…
Di kamar Aomine dan Kise…
Tok! Tok! Tok!
"Sahur! Sahur!"
"Hm… apaan sih Akashicchi… aku masih ngantuk ssu~ zzzz…" keluh Kise kembali ngorok. Dan sepertinya Kise salah orang deh, kan yang bangunin anak cowok Sekoting kan Ustad Rifai. (=.=a)
"Zzzzz… zzzz…" dan jangan tanya lagi soal Aomine. Dia kan kebo sejati.
Dan sepertinya couple KopiSusu kita bakal melewatkan sahur pertama mereka tahun ini. Ish! Ish! Ish…
Di kamar Connie dan Takao…
Terlihat Takao yang sedang asyik chatting-an di laptop.
Takao_siRajawali: Saku-chan~ hisashiburi? Ogenki?
SakuraiSumimasen9: Genki desu. Gimana kabarnya? Ku dengar Takao-san dan teman-teman Takao-san pindah di pesantren ya? (Tsuki: Okey… ini ceritanya Takao sama Sakurai temenan waktu SD. Muehehehe…)
Takao_siRajawali: E-etto… menyenangkan juga sih pastinya. O iya, kapan-kapan Saku-chan main dong ke Sekoting! Di sini anaknya seru-seru loh!
KosukeCintaDamai: *masuk ruang chat*
KosukeCintaDamai: Woy kamu temennya Sakurai! Kamu juga temennya si daki bulukkan itu kan!
SakuraiSumimasen9: Ano… Wakamatsu-san… \(0)/!
Takao_siRajawali: Daki? Bulukkan? Maksudmu Aomine?
KosukeCintaDamai: Ya, iya! Siapa lagi coba?! Eh! Bilangin ke dia kalau dia masih punya utang bakwan selusin, bakso 5 mangkok, siomay 4 mangkok, sama cireng 10 porsi sama gue. Cepet suruh dia bayar!
'Eh buset! Banyak amat ngutangnya?' batin Takao sweatdrop. Sementara itu Aomine tiba-tiba mimpi buruk dikejar kodok raksasa yang kayak di pelem naruto. Katanya sih kodok itu naksir berat sama Aomine, makanya nguber-nguber. Okey… mulai ngaco.
Morigantengcelalu: Wah! Wah! Waa… ada apa nih rame-rame? –kepo mode on–
Takao_siRajawali: Oh itu si dekil yang suka ngupil punya banyak utang. (Aomine kejang-kejang)
IzuizuKitakore: Si dekil yang suka ngupil? Ah! Kitakore! XD
HyuugaJunpei4: Izuki… berhentilah ngebanyol! Gak ada yang ketawa kok.
IzuizuKitakore: Ih, syirik aja si Hyuuga ;p
Morigantengcelalu: Udahlah mas bro… mungkin itu emang udah jalannya XD
Takao_siRajawali: Cie belain cieee… XD
Morigantengcelalu: Iya dong… sebagai calon suami yang baik ;)
IzuizuKitakore: Moriyama-san no baka… (-_-;)
HyuugaJunpei4: Oy! Playboy cap badut ancol! Lu sama Izuki gak bakal gue restuin!
SakuraiSumimasen9: SUMIMASEN! SUMIMASEN!
Takao_siRajawali: Lha? Saku-chan, kenapa kamu yang jadi minta maaf? –sweatdrop–
Morigantengcelalu: Tenang aja Izuki sayang, meskipun cinta kita dihalangi oleh si megane, cintaku padaku tetap besar sebesar badannya Murasakibara #eaaa… (Murasakibara bersin-bersin)
HyuugaJunpei4: Apa lu bilang?! Sini lu kalau berani! Gue sunat lu!
"Oy! Chatting-an mulu! Ayo sahur! Keburu imsak loh!" ajak Connie.
"Iya, iya… ini aku udah selesai kok!" kata Takao sambil menutup laptopnya. 'Lagian ntar ruang chat-nya bakal penuh sama adegan calon mertua vs calon menantu' batinnya.
.
_–_o0o_–_
.
Akhirnya setelah susah payah Ustad Rifai membangunkan para santri yang hampir setara dengan kebo, mereka pun berkumpul di aula untuk makan sahur. Dan tentu saja kecuali dua kebo yang bernama Kise (Kise: HIDOI!) dan Aomine yang entah mengapa masih tetap molor meski udah mimpi buruk.
Dan sekarang mereka sudah selesai sahur. Kagami yang masih ngantuk pun hendak minggat dari situ sebelum suara Joko menginterupsinya.
"Oy! Mau kemane lu?!" seru Joko.
"Mau tidurlah! Emang mau ngapain lagi?" jawab Kagami sok polos.
"Kata Pak Ustad, kita harus baca niat puasa dulu. Betul kan, Pak Ustad?" kata Eren ala anak TK lalu melirik Ustad Rifai yang hanya ber-'hn'-ria untuk menjawabnya.
"Okelah…" kata Kagami pasrah.
Dan pembacaan niat puasa pun dilaksanakan dengan Ustad Rifai sebagai pemimpinnya.
"Udah ah! Mau tidur lagi" kata Kagami setelah niat lalu bangkit dari tempatnya.
"Kagami Taiga!" tiba-tiba suara Pak Kamiya Hiroshi nongol. (All: Eh?! Yang mana?!). Okey… tepatnya seorang ustad uhukcebol berambut belah tengah seperti Takao hanya saja lebih tua jauh… sekali. #dikemplang. Dan siapa lagi kalau bukan ustad kesayangan kita, Rifai.
"Apa lagi?" tanya Kagami setengah merajuk.
"Bentar lagi kan Subuh. Sholat jamaah dulu" nasihat bijak dari Ustad Rifai.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar!"
"Nah, itu udah ada adzan tuh" tunjuk Eren entah pada apa.
"Atsushi, ini sudah Subuh. Ngapain kamu ngemut milikita?" tanya Akashi saat melihat Murasakibara ngemut permen milikita dengan khidmat.
"Hah? Emang kenapa kalau Subuh, Aka-chin?" tanya balik Murasakibara dengan watados… atau blo'on? Okey please… jangan mutilasi aku!
Midorima pun langsung menarik paksa permen itu dari mulut si titan berwarna ungu janda. Ahem… rambutnya maksudnya. Dan otomatis si bayi gede itu pun ber-'hey'-ria.
"Kalau sudah Subuh, berarti kau tak boleh makan, Murasakibara!" omel Midorima gak nyante.
"Kalau gak boleh makan, mati dong Mido-chin~~" protes si cowok kelebihan kalsium sampai-sampai Akashi dan Kuroko tidak kebagian.
"Udah… tenang aja Mukkun… ntar Maghrib juga udah boleh makan" hibur Momoi.
"Udah! Udah! Sekarang waktunya sholat! Seru Ustad Rifai.
"Iya, Pak Ustad"
.
_–_o0o_–_
.
Tiga jam kemudian…
"HOAAAAMM~~~" uap Kise lalu bangun.
"Udah pagi ya ssu?" guman Kise lalu kedip-kedip. 'Chotto! Kok rasanya ada yang kurang ya ssu?'
"Oy, Aominecchi! Kau merasa ada sesuatu yang kurang gak ssu?" tanya Kise pada Aomine yang sekarang lagi ngupil sambil garuk-garuk pantat.
"Hm? Apa?"
"Un… apa ya?"
Otak AoKi loading…
1%
21%
32%
55%
75%
88%
99,9999999999%
100% loading completed!
"O IYA! KITA BELUM SAHUR!" teriak AoKi dengan pilu.
.
_–_o0o_–_
.
Jam dua belas siang…
"Laper ssu~~" keluh Kise yang sekarang lagi berbaringan di bawah pohon manga bersama Aomine dan Murasakibara.
"Haus~~" keluh Aomine dengan wajah menggenaskannya.
"Snackku disita Aka-chin semua~~" guman Murasakibara sedih.
'Kamu mah masing mending sempat sahur tadi, dasar bayi bongsor!' dumel AoKi.
"Slurp~ aah~" tiba-tiba terdengar suara menyerutup minuman.
'Ekh?!' batin AoKiMura yang sepertinya tertarik dengan suara tadi.
"Suegerrrrrrrrnyaaaaaaa…"
Penasaran, mereka pun mendekati sumber suara tersebut dan menemukan Sasha yang sedang minum es degan dan makan kentang goreng. Dan jadilah si monyet negro, model gagal, dan bayi titan itu ngamuk-ngamuk gak terima.
"UWAAAAA! SASHACCHI CURANG SSU!" teriak Kise heboh.
"Sasha-chin kok gak puasa?!" tanya Murasakibara dengan ekspresi kayak pas Seirin vs Yosen di WC. Winter Cup maksudnya.
"Ketahuan Pak Ustad baru rasa loh…" kata Aomine sok menakut-nakuti.
"Apaan sih?! Orang aku lagi dapet kok! Makanya aku gak puasa! Dan aku gak takut kali kalau ketahuan Pak Ustad!" omel Sasha. Oh… pantes.
"Dapet?" guman mereka saling berpandangan. Tak lama kemudian senyum gaje pun terpampang di wajah mereka.
.
_–_o0o_–_
.
Sepuluh menit kemudian…
"Slurp~ hm… enaknya es krim ini. Rasanya manis seperti Kurokocchi" kata Kise yang sedang menikmati es krim coklat. Sementara itu, Kuroko yang berada pada jarak 300 meter darinya pun bersin-bersin.
"Oy! Kau makan apa itu?! Gak puasa, hah?!" tanya atau lebih tepatnya bentak Ustad Rifai yang kebetulan lewat.
"Eh, Pak Ustad! Ini es krim coklat ssu. Pak Ustad mau? Enak loh ssu! ITTAI!" tawar Kise yang langsung dihadiahi tendangan Pak Ustad di pipinya. Dan jangan tanyakan kenapa kaki Pak Ustad bisa nyampe di pipi mulus Kise. Silahkan tebak sendiri jawabannya.
"Saya juga tau kali! Lha terus kenapa kamu gak puasa?!"
"Saya kan dapet, Pak Ustad" jawab Kise cari mati. Dan bokong Kise pun menjadi korban fabulous kick-nya Ustad Rifai.
Dan mungkin kalau settingnya di Kaijou, Ustad Rifai bakal jadi Kasamatsu kedua kali ya?
Sementara itu, Aomine dan Murasakibara yang juga berniat membatalkan puasa mengurungkan niatnya karena melihat Kise yang disiksa habis-habisan sama ustad kece berzodiak Capricorn itu. Ceritanya mereka lagi ngintip Kise.
.
_–_o0o_–_
.
Jam tiga sore…
"Haa… kapan bukanya… laper nih…" keluh Connie lalu guling-guling di lantai mushola. Sekarang cowok-cowok Sekoting udah pada ngumpul di teras mushola.
"Aha! Gimana kalau kita main Truth or Dare saja! Lumayan buat ngabuburit!" usul Eren.
"Hm… ide yang bagus. Kalau begitu, ayo kita hompimpa dulu! Siapa yang kalah dia duluan" kata Akashi dengan semangat.
"Trus yang sudah dapat giliran boleh menunjuk yang belum. Okey?" lanjut Akashi.
"Setuju!"
"Yosh! Mari kita mulai!" seru Akashi kemudian mereka mulai hompimpa.
"Hompimpa alaihum gambreng! Pak Ustad pake baju rombreng!" dasar santri-santri durhaka. Sementara itu, Ustad Rifai jadi kejang-kejang di kantor.
Dan giliran pertama pun diambil Kuroko karena dia kalah hompimpa.
"Okey, truth or dare?" tanya Eren selaku pencetus ide permainan.
"Dare aja deh" jawab Kuroko.
"Kalau gitu… ah! Coba ketawa! Yang lebar ya!" tantang Eren.
"Setuju! Tet-chan kan jarang ketawa apalagi sampai ngakak!" seru Takao menyetujui.
"Eh? Ta-tapi…" belum sempat Kuroko selesai berbicara tiba-tiba sudah ada yang memotongnya.
"Ketawa atau kami yang buat kamu jadi ketawa, Tetsuya?" tantang Akashi ikut-ikutan.
Kuroko hendak menolak ketika tiba-tiba tangan Kagami menahannya.
"Eh? Apa-apaan nih?" Kuroko cengo.
"Oy! Ini Kuroko udah aku pegangin nih" kata Kagami yang langsung saja mendapat tatapan jahil dari Eren, Takao, dan Akashi. Dan beberapa menit kemudian, si trio jahil pun mulai menggelitiki tubuh Kuroko setelah berseru, 'SERAAAANG!'.
"Eh? Eh! Hen… hentikan! Hmph~~" protes Kuroko kegelian lalu, "Hahaha… AHAHAHAHAHAHA!"
Semua pun terdiam kecuali Kuroko yang masih tertawa sampai-sampai ada setitik air di matanya.
"Well, good job Tetsuya. Sekarang ayo kita lanjutkan permainan dan kau Tetsuya, cepat tunjuk salah satu di antara kami!" kata Akashi.
"Fiuh~" nampak Kuroko yang agak ngos-ngosan karena ketawa tadi. "Mas Eren"
"Eh? Iya Kuroko?" tanya Eren, si biang kerok, menoleh pada Kuroko.
"Pilih truth or dare?" tanya Kuroko dengan aura-aura gelap. Balas dendam ceritanya.
"Hm… truth"
"Ceritakan pada kami, sejak kapan kau naksir sama Pak Ustad? Dan kenapa kau bisa naksir sama Pak Ustad?"
"Eh? HUWE?! E-etto… haruskah ku jawab, Kuroko?" tanya Eren salah tingkah. Kuroko dengan wajah datarnya hanya mengangguk mengiyakan.
"A-ano… um… sejak…"
"Lamaaaaaa…" protes semua kecuali Eren dan Kuroko yang udah gak sabaran.
"Diam napa! Lagi gugup nih!" omel Eren dengan muka memerah.
"Kalau gitu, cepat dong jawab pertanyaan Tetsu! Kita-kita udah kepo tau!" omel Aomine. Yang lainnya pun mengangguk.
"Sejak Pak Ustad berbagi permen Yupi padaku…" jawab Eren sambil memegangi pipinya yang terasa panas.
Flashback on
"Pak Ustad! Aku mau mengumpulkan tugas. Eh? Pak Ustad makan apa itu?"
Eren yang niatnya mau ngumpulin tugas Ustad Rifai, malah jadi bertanya saat si ustad sedang makan sesuatu yang berbentuk hati yang kenyal dan manis.
"Oh… ini Yupi. Kamu mau?"
Eren ngangguk-ngangguk.
"Boleh. Tapi cuma satu saja ya?"
Setelah Ustad Rifai memberi sebungkus kecil Yupi berbentuk hati, Eren pun memakannya. Beberapa detik kemudian, wajah Eren berubah menjadi blink-blink dengan mata yang berbentuk hati.
"Enak… mau lagi…" kata Eren lalu menggrepe-grepe Yupi Ustad Rifai yang masih bejibun.
"Enak saja! Gak boleh!" kata Ustad Rifai sambil menendang muka Eren.
"Huh… pelit…"
Flashback off
'Hee?' batin orang-orang facepalm.
"Okey… sekarang giliran Midorima!" kata Eren yang udah balik dari fall-in-love-mode-nya.
"Eh? Aku?" tanya Midorima sambil menunjuk diri sendiri.
"Pilih truth or dare?"
"Truth, nanodayo" jawab Midorima menaikkan kacamata.
"Pilih Akashi atau Takao?"
"Eh? Pertanyaan macam apa itu, nanodayo?"
"Udah… Mas Midorima jawab saja!" kata Kuroko.
"Aku pilih Oha-asa, nanodayo"
"Oha-asa tidak ada dalam pilihan, Midorimacchi" kata Kise ikut memanas-manasi. Sementara itu, Akashi dan Takao memandang Midorima dan juga pasang kuping baik-baik untuk jawaban Midorima.
"Aku pilih…"
"Ya?"
"Pilih…"
"Ya…?" dan terlihat pula mata Akashi dan Takao berbinar-binar.
"Takao"
'WHUT?!' batin Akashi ngejlok.
'Horeeee…' batin Takao gembira.
"Ja-jangan salah sangka dulu! Aku memilih Takao bukan karena aku suka, nodayo! Tapi karena Takao bisa aku suruh-suruh! Kalau Akashi mah, yang ada aku yang jadi budak" lanjut Midorima berkilah. Dasar tsundere!
'Pfft~ ternyata…' batin Akashi jadi cekikikan. Tapi dia jadi kasihan juga dengan teman 'Bakao'-nya itu.
"Jadi selama ini kau anggap aku sebagai budak?! Mou~ kau kejam banget sih, Shin-chan! Oke fix! Lo gue end!" omel Takao sok ngambek.
"Ya udah, sok atuh! Lagian sejak kapan kita jadian?" balas Midorima jadi sewot. Dan Takao pun sukses nangis di pojokkan.
_SKIP_
"Okey… sekarang waktunya aku yang memilih" kata Aomine yang sudah dapat giliran. "Oy, Joko! Elu pilih truth or dare?"
"Um… apa ya… dare deh!" jawab Joko dengan nyante.
'Waa… kebetulan nih…' batin Aomine yang entah kenapa merasa untung.
"Cepat balikin sandal gue yang lu curi kemarin, CEPET! Atau gue akan laporin ke Pak Ustad!" ancam Aomine yang ternyata adalah langganannya Joko saat maling sandal di mushola.
"Hehehe… ntar aja ya pas lebaran" tawar Joko nyengir.
"TEME LUUUU!"
"Weits! Woles bro… woles!" kata Joko dengan pose peace.
"Mending Mas Joko nyerahin aja deh sandalnya ke Mas Aomine! Soalnya Pak Ustad lagi melotot tuh!" kata Kuroko sambil menunjuk Pak Ustad yang berada di jarak 250 meter dari mushola sedang melotot ke arah mereka, lebih tepatnya Joko.
'Glek!'
"Ya-ya udah deh… nyoh!" kata Joko pasrah sambil mengembalikan sandal Aomine yang entah sejak kapan di kantongnya. Dan begitu Joko menengok lagi ke arah Pak Ustad…
'Loh? Kok Pak Ustad menghilang?' batin Joko shock. Yups! Pak Ustad sudah menghilang. Joko pun merinding membayangkan kemunculan Ustad Rifai yang kayak dedemit.
"Ya udah, sekarang giliran Armin. Elu mau milih truth or dare, Min?"
"Truth"
"Elu cowok apa cewek sih?"
Armin pun facepalm dengan pertanyaan absurd Joko.
.
_–_o0o_–_
.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar!"
Tak terasa, adzan Maghrib pun berkumandang. Tanda berakhirnya puasa pada hari itu.
"Alhamdulillah… kita buka yuk!" ajak Eren. Lalu mereka semua masuk ke dalam mushola yang ternyata menu buka puasanya sudah disiapkan oleh petugas putri dan santriwati yang membantu.
"Serbuuuuuu!" seru Aomine dan Kise yang hendak menyerbu menu buka puasa tersebut.
"Eh! Eh! Eh! Baca doa dulu!" seru Ustad Rifai mengingatkan.
"Bismillahirahmannirrahim, amin!" doa AoKi dengan kecepatan yang setara dengan pesawat jet. Makhlum… doanya orang lapar…
"Oy! Doa yang bener dong!" omel Ustad Rifai sambil menyambit kepala biru dan kuning itu. "Eren! Coba kau contohin doa buka puasa!"
"Ya, Pak Ustad" kata Eren lalu memimpin berdoa, "Bismillahirahmannirrahim… Allahuma lakasumtu wa bika amantu wa ala rizkika aftartu biramatika yaa arhaman rahimin…"
"Amin…" dan diamini oleh semuanya.
Dan mereka pun menikmati buka puasa bersama. Terutama Kise dan Aomine yang tadi gak kebagian sahur.
.
.
.
–_–つづく–_–
Author's diary :
Tsuki : *melototi isi chapter*
Uwaaaaa… apaan nih… aku bener-bener telat pake banget ya… padahal udah lebaran gini malah baru puasa… *pundung*
O iya, ngomong-ngomong lebaran, minal aidzin wal faidzin ya minna… mohon maaf bila selama ini aku jarang update, update lelet, malah sampe nelantari fic lagi. *ngelirik fic multichap sebelumnya yang rata-rata mandeg di chap 3*
Tapi aku janji, nanti kalau ada kesempatan plus otak lagi fresh bakal aku beresin deh semua fic multichapku. Dan mungkin, insya Allah chapter depan udah lebaran sekaligus chapter yang terakhir. Kalau mau sequel, silahkan hubungi aku lewat PM. Kalau enggak, juga gak maksa kok. Okey… ku rasa segitu dulu…
Matta aimashou… *lambai-lambai tangan*
