Apakah aku sedang masuk dalam tayangan reality show yang banyak dibicarakan khayalak ramai? Tentang adegan lamaran super romantis yang kemudian ditayangkan ke seluruh negeri. Mataku mencoba untuk berkedip, udara membuatnya kering dan perih tapi tenagaku menguap entah kemana, mentalku masih syok. Atau jangan-jangan ini acara jahil yang suka mengerjai orang-orang? Aku mencari-cari sekeliling, kalau-kalau ada juru dan kamera tersembunyi, ingin rasanya aku melambaikan tangan pertanda tak kuat dengan lelucon ini. Aku akan sangat senang apabila seorang host acaranya datang sambil tertawa memberitahukan bahwa aku baru saja dikerjai, aku tidak akan marah.

Pria di depanku masih menunduk, aku masih terkejut. Kami sama-sama terdiam, sampai ia mengangkat kepalanya, hal pertama yang merebut ketertarikanku adalah sepasang safirnya yang begitu indah. Ia memposisikan tubuhnya kaku, mengarahkan pandangannya ke arah lain—apapun itu selain menatap mataku. Membasahi kerongkongannya gugup, akhirnya ia mau menatapku.

"Kau—mau menikah denganku?"

Lagi-lagi ia mengeluarkan lelucon, lama-lama ini mulai tidak lucu. Aku sama sekali tidak mengenalnya, lalu ia tiba-tiba datang melamarku? Apa sekarang sedang ngetren melamar orang asing?

Dahiku berkerut,"apa aku mengenalmu?" burgernya baru separuh ku gigit, dan aku meletakannya kembali di atas piring. Kenapa sih hari ini ada-ada kejadian yang membuatku tidak bisa makan dengan tenang? Mungkin aku sudah harus ditakdirkan menjaga pola makan, Kami-sama mewanti-wanti supaya aku menjaga tubuh ini, ciptaan dari-Nya. Atau mungkinkah ini kutukan perawan tua? Oh, terlalu banyak asumsi aneh dariku. Pria asing di depanku nampak terkejut,"maafkan aku lancang. Namaku Uzumaki Naruto," ia merogoh saku jasnya, penampilannya lumayan rapi juga,"aku seorang pengacara."

Uzumaki? Aku merasa familiar, tapi lupa pernah mendengarnya dimana. Pengaca— apa? Seorang pengacara? Ia menyodorkan sebuah kartu nama dengan kedua tangannya, sedikit ragu aku menerimanya. Aku memang akan sangat membutuhkan pengacara untuk menceraikan Danzo nantinya, hanya kalau bisa kami tidak perlu menikah sekalian, tunggu—tapi kenapa pertemuan kami begini berantakan sih, mungkinkah ada maksud tersembunyi? Jangan-jangan aku bukan anak kandung ibu, lalu ibu kandungku yang sebenarnya mengirimkan pengacara untuk membawaku kembali? Oh tidak! Kenapa jadi tidak nyambung begini?

Ku lihat ia duduk dengan posisi tegang dan gelisah, aku menatap kartu nama yang ku pegang—dia—kartu nama—lalu dia lagi.

"Kenapa—?"

"Kenapa? Apa?"

Aku belum bisa mencerna semua ini,

"Kita orang asing yang baru bertemu pagi ini, dan kau langsung melamarku? Kau bercanda?"

Kulihat dia langsung melambaikan tangannya ke depan wajahku,"tidak! Aku serius. Maksudku—aku harus melakukan ini."

"Kenapa?" mengapa dia bisa begitu sembrono? Melamar orang asing, itu hal yang mustahil dan teraneh sepanjang hidupku,"kau bahkan tidak mengenalku. Bagaimana kalau ternyata aku psikopat atau penderita gangguan mental?"

Dia tersenyum tipis,"aku rasa kau bukan tipe orang menakutkan seperti itu."

"Oh, tentu saja aku tidak! Bagaimana kalau kau, yang ternyata seorang pembunuh berdarah dingin dan akan menyiksaku nanti?" kali ini aku berbicara pada diriku sendiri, logikaku mulai bekerja. Mungkin karena kejadian seperti ini, makanya dari kecil ibu sudah tidak mewanti-wantiku untuk tidak berbicara dengan orang asing.

"Te-Tentu saja aku tidak seperti itu! Aku? Seorang psikopat? Oh God!"

Dia berbicara meyakinkanku, tapi aku memandanginya curiga. Aku tahu sejak kecil aku tidak sama seperti anak-anak perempuan lain seusiaku, yang berkhayal dan berimajinasi dilamar seorang pangeran tampan berkuda putih dengan kata-kata manis sambil bersujud membuka kotak cincin bertahtakan berlian. Aku tergolong cerdas sejak kecil, dan ayah selalu mengasah logikaku, jadi aku tahu pangeran beserta kuda putihnya hanya ada di dunia dongeng, sekarang aku menyadari satu hal lagi, laki-laki jaman sekarang tidak mau repot-repot bersujud hanya gara-gara seseorang. Ok, ku akui aku agak sedikit trauma pada laki-laki karena Uchiha Sasuke. Tapi aku tidak pernah membayangkan pun berharap dilamar di sebuah restoran siap saji penuh orang-orang lapar yang mengisi perut sebelum bekerja, dengan orang asing, tanpa cincin dan—tanpa cinta. Hal terakhir unsur paling penting bagi masa depanku.

Wajahku tampak berpikir,"lalu kenapa kau—" aku mulai tersadar, mungkin alasannya karena—"kau taruhan dengan teman-temanmu?" Mataku memicing tajam padanya,

"Apa?"

"Kau menjadikanku bahan taruhan?" Suaraku mulai naik, dan aku tahu itu,"Kau taruhan dengan teman-temanmu untuk mendapatkanku kan?"

"Demi Tuhan aku bukan lagi anak remaja berseragam yang melakukan hal ini untuk bersenang-senang. Aku—He-Hei! Tunggu!"

Aku membereskan semua barang-barangku, tanpa mau bersusah payah mendengarkan alasannya aku mulai melangkah pergi.

.

.

.

.

.

Kejadian kemarin sebaiknya dilupakan saja. Aku sudah tidak pernah dan tidak akan mau menginjakkan kakiku di restoran fastfood itu lagi, dan aku berusaha melupakan semuanya. Memulai hidupku dari awal, err—bukan berarti aku memulai semuanya bersama Danzo, aku tidak seputus asa itu. Setelah menceritakan semuanya pada Ino, si pirang itu malah mengataiku bodoh, katanya aku terlalu negative thinking, bisa saja lelaki itu hanya bisa memandangiku dari kejauhan karena belum berani berbicara denganku, jadi dia terus mengikutiku sampai mendapat momen yang tepat. Please Ino, itu lebih terdengar seperti stalker, dan memulai pembicaraan dengan melamarku? Well, aku berpegang teguh pada pemikiranku.

Hari ini ibu mengajakku pergi ke suatu tempat, masih belum tahu kemana, ibu terus bergumam rahasia bila kutanya berulang kali. Menyerah, aku pasrah dibawa ibu, toh paling berbelanja sesuatu. Kami memasuki sebuah toko yang memajang gaun-gaun pernikahan di depan etalasenya. Aku berbisik pada ibu ketika pelayan pergi mengambilkan pesanannya,"ibu mau menikah lagi?"

Ibu memukul bahuku, lumayan pelan tapi lumayan sakit juga.

"Bodoh! Ini untukmu, Danzo-san sudah memesannya untukmu."

Aku melongo, mundur beberapa langkah menjauhi ibu. Ibu dan Danzo benar-benar serius! Kupikir mereka akan berkata pernikahan ini salah karena Danzo salah mengira bahwa aku adalah Sakura-nya yang lain, dan semua berteriak april mop! Aku memegang kepalaku frustasi—agak berlebihan memang, yah... supaya menambah kesan dramatis ceritaku ini. Pelayan itu membawa sebuah gaun putih seputih dicuci pemutih kemudian memperlihatkannya pada ibu yang memuji betapa cantiknya gaun itu, padahal menurutku gaun itu norak, motifnya terlalu banyak, mengembang dibagian bawah—tidak akan ada wanita yang mau menyentuh gaun yang membuat mereka terlihat gendut, dan—apa itu dibagian lengannya? Oh, aku tidak akan pernah menyentuh, memakai, mencoba gaun itu.

Ibu mengalihkan pandangannya dari gaun itu, aku melakukan hal yang sama cuma bedanya ibu menatapku sumringah, aku menatapnya ngeri.

"Tunggu apalagi Sakura? Cobalah!"

"Bu, mendadak perutku tidak enak, kurasa aku diare. Uhhh..." Jangan melihatku seperti itu, kami-harus-pergi-dari-tempat-ini. Sebenarnya aku yang harus pergi, tapi meninggalkan ibu sendiri sama seperti mencari perkara.

"Oh Tuhan, ibu sudah bilang jangan suka makan sembarangan! Maaf, kurasa kami akan mencoba gaunnya lain kali Shizune."

"Tidak apa-apa nyonya, anda bisa datang kembali besok." Shizune tersenyum ramah, lalu mengerling ke arahku, aku hampir lupa untuk bersandiwara,"cepat sembuh nona Sakura." Aku mengangguk cepat dan menarik ibu pergi dari sana. Aku harus cepat mencari akal menghentikan semua kekacauan ini.

.

.

Berusaha mengingat teman-teman waktu sekolah dan kuliah dulu bukanlah hal yang mudah apalagi kalau kau sudah meninggalkan jenjang pendidikan itu hampir beberapa tahun lamanya. Seperti yang aku lakukan, berusaha bernostalgia demi mendapatkan sebuah ilham penting. Jujur, waktu masih sekolah dan kuliah aku bukan primadona yang digilai banyak pria atau punya banyak teman pria. Teman priaku bisa dihitung jari, aku bukan orang yang sangat cantik sampai-sampai mempesona kaum pria. Tidak, aku wanita biasa-biasa saja. Itulah penyesalanku, mengapa aku tidak punya teman dekat pria yang bisa membantuku? Paling tidak menghentikan rencana pernikahan ini. Kalian pasti berpikir semua akan baik-baik saja, menikah dengan konglomerat dan bersikap layaknya mendapat happy ending. Tapi aku tidak bisa berpura-pura, aku tidak segila itu pada materi, aku lebih mengutamakan perasaan mungkin karena itu aku bisa dibodohi Sasuke, hhh... Lagi-lagi nama itu. Apa aku harus berserah dengan takdir? Kami-sama beri aku petunjuk...

Selembar kartu—sepertinya kartu nama jatuh begitu aku mengambil buku dalam tas, huruf-huruf tercetak rapi di atas, mataku menjelajahi kartu itu setelah aku memungutnya dari lantai.

Uzumaki Naruto

Apakah ini jawabanMu Kami-sama?

.

.

.

Baiklah, aku sedikit munafik usai mengatakan aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di restoran siap saji berkat kejadian tempo hari toh nyatanya di sanalah aku sekarang berada. Berjalan mencari salah satu bangku kosong sambil pandanganku tetap meneliti sesuatu, aku menemukannya duduk di pojok dekat jendela bersama seorang anak laki-laki berambut cokelat, firasatku benar dia ada di si—masa bodoh dengan firasat, aku tidak mengenalnya. Tempat dudukku tak jauh dari mereka, supaya aku bisa menganalisis, aku bukan stalker. Anak berambut cokelat tampak bersemangat mengunyah burgernya dan menceritakan tentang seharian di playground—aku mendengarnya samar-samar—sementara pengacara muda itu sesekali menimpalinya tak kalah semangat. Tanpa kusadari aku tersenyum, dia terlihat menyukai anak kecil, entah mengapa aku menjadi lega, sepertinya dia orang baik-baik. Tapi, itu anaknya kah?

Aku menggapai ponselku, mencari sebuah nama di kontak sampai nada sambungan berganti suara berat pria. Manik giokku tetap bertahan pada satu atensi, interaksi kedua anak dan lelaki berambut pirang itu, mereka berhenti sejenak karena suara ponsel mengganggu keduanya, ia—si pirang menjawab telepon.

"Tuan Uzumaki, apakah tawaranmu tempo hari masih berlaku?"

.

.

.

.

TBC