Suasana canggung sepertinya menjadi ciri khas tiap kami bertemu. Tentu saja, kami dua asing yang saling bertemu tanpa perantara apapun, kecuali restoran siap saji itu. Sekarang kami di sini, di sebuah kafe minimalis bernuansa eropa dengan dua gelas minuman berbeda rasa, saling berdiam tanpa ada satupun dari kami berniat memulai pembicaraan. Aku duduk bersandar pada bantalan sofa, berusaha tenang padahal dalam kepalaku sibuk menyusun kata-kata, ku fokuskan emeraldku agar tertuju hanya pada minumanku, sesekali kulirik ia yang gelisah mengawasi sekitar. Setelah menghubunginya, aku mengajaknya kemari untuk menggali informasi serta membuat sebuah kesepakatan kalau pembicaraan kami hari ini mencapai sesuatu. Suara dehemannya tertangkap di inderaku, aku memutuskan mengawali percakapan.
"Maaf aku menyita waktumu."
Ia menggeleng cepat,"oh, tidak apa. Aku sedang tidak sibuk."
Kembali senyap. Alunan musik memenuhi tiap sudut kafe, menciptakan ambience tersendiri bagi pengunjung.
"Maafkan sikapku tempo hari." ku akui aku sedikit merasa tidak enak meninggalkannya begitu saja tanpa mendengar alasannya terlebih dulu, rasanya aku telah meninggalkan kesan yang tidak baik pada satu-satunya orang yang berpotensi menjadi malaikat penolongku.
"Ah, tidak apa. Wajar saja kau bersikap seperti itu." Ia tampak menyengir lebar. Aku memajukan badanku dari sandaran, menegakkan punggung dan meletakkan kedua lipatan tanganku di atas meja.
"Apa aku boleh tahu alasanmu mengajakku menikah?"
Kulihat ia mengusap tengkuknya,"aku melakukan semua ini bukan untuk taruhan," ia sedikit mengeluarkan cengiran di sela-sela ucapannya, safir birunya tidak langsung menatapku, kedua pasang bola mata itu mengarah pada permukaan meja,"aku bersungguh-sungguh."
Aku menaikkan alis, ternyata ia tidak main-main dengan lamarannya waktu itu,"kenapa aku? Maksudku, kau pasti punya banyak kenalan wanita rekan kerja atau mungkin teman sekolahmu dulu?"
Ia tertawa kecil,"aku bukan orang populer. Semua teman sekolahku dulu laki-laki, aku tidak pandai berinteraksi dengan wanita."
Ah, pantas saja ia nampak gugup selama berbicara denganku. Aku perhatikan bahasa tubuhnya memang terlihat kurang nyaman.
"Tapi kenapa harus aku?" Ya, kenapa harus aku?"Dari sekian banyak wanita, mengapa kau memilihku? Padahal kau bisa saja memilih gadis manis berambut coklat yang duduk di sudut restoran kemarin."
Para waitress sibuk bolak-balik di sebelah meja kami mengantarkan pesanan maupun membersihkan meja di sekitar, aku menatap tuan berambut pirang mencolok penuh tanda tanya. Kenapa harus aku?
"Oh ya? Aku tidak melihat seorang gadis di sana, aku tidak begitu memerhatikan sekitar." ia memberi jeda, aku sedikit membungkuk untuk menyeruput mocktail dari sedotan sambil tidak berhenti memandanginya,"aku memilihmu mungkin karena warna rambutmu yang mencolok?"
Aku berhenti minum dan menegakkan punggungku kembali, wajahku menunjukkan raut terkejut bercampur marah, secara tidak langsung ia sudah menghina rambutku! Tapi aku menyabarkan diri, aku tidak boleh menghancurkan setiap potensi yang ada. Dengar, kalian harus tahu betapa momen ini sangat berarti bagiku. Aku ulangi bahwa aku, Sakura, sama sekali tidak punya teman pria yang bisa diajak bekerja sama menggagalkan perjodohan konyol putusan ibu, dan itu artinya aku benar-benar akan menikah bila perjodohan ini tidak dibatalkan. Jadi, ketika sebuah kesempatan datang, mengapa harus disia-siakan? Aku tahu ini sangat terdengar konyol, menikah dengan orang asing? Yang benar saja, oleh karena itu aku sudah membuat susunan rencana untuk didiskusikan bersama pengacara muda dan pernyataan bodohnya dihadapanku ini.
"Kenapa kau harus menikah?"
"Apa yang satu ini perlu kujawab?"
Aku mengedikkan bahu,"apa kau sangat mengharapkan aku menerima lamaranmu?"
Ia mengangguk,
"Kalau begitu kau harus menjawabnya."
Ia menghela napas pendek,
"Baiklah," ia mulai menceritakan penyebab mengapa ia menjadi seperti ini,"semua ini kulakukan demi ibuku. Ia sedang sakit parah, dan permintaan terakhirnya adalah melihat pernikahanku sebelum ia meninggal." Wajahnya berubah sendu, aku jadi merasa bersalah telah memaksanya bercerita.
"Maafkan aku, mungkin aku memang seharusnya tidak memaksamu."
"Tidak, tidak. Kau sudah seharusnya tahu. Ibuku jatuh sakit sejak dua tahun yang lalu, badannya sangat lemah. Aku ingin mengabulkan permintaannya sebelum semuanya terlambat."
Aku tertegun. Dia tidak sedang berbohong kan? Lagipula kalaupun aku membantunya dengan menikah dengannya, bukankah sama saja aku dan dia membohongi ibunya sendiri? Sungguh tak tega...
"Aku hanya ingin agar kau berpura-pura menjadi calon istri dihadapan ibuku. Pernikahan ini hanya pura-pura." ekspresinya sendu, aku tak tahu ia sedih karena apa, terlalu sulit untuk ku tebak.
"Kau mau membohongi ibumu di masa-masa sulitnya?"
Ia tersenyum getir,"aku tidak tahu harus berbuat apalagi, itu permintaan terbesarnya padaku." gelas demitasenya terangkat, ia mengecap perlahan espresso miliknya. Kafe mulai dipadati pengunjung, menyebabkan satu persatu bangku kosong terisi nyaris setengahnya penuh. Aku terdiam dalam pikiranku, sedang ia menikmati pemandangan luar dari balik kaca membiarkanku mengambil keputusan.
"Dia tidak menjodohkanmu? Bukankah hal itu yang biasa dilakukan orangtua ketika anaknya belum mendapat calon pendamping hidupnya?" aku mengerutkan alis pertanda tak paham akan semua ini, kenapa ibunya tidak menjodohkannya saja dengan wanita lain, bukankah itu menyelesaikan masalahnya? Seperti yang dilakukan ibu padaku, tapi dalam kasusku sama sekali tidak menyelesaikan masalah justru menimbulkan masalah baru. Safirnya makin bersinar begitu bias cahaya dari luar memantul pada permukaan sepasang lensa biru jernih itu,"ibuku tipikal seorang liberalis." kudengar tawa renyahnya begitu merdu dalam gendang telingaku, ia lelaki humoris. Ia tampan dan humoris, ah... ada apa denganku ini, aku baru berkenalan dengan orang asing dan langsung memujanya, padahal ia belum tentu melakukan hal sama denganku, bisa saja ia mencelaku habis-habisan dalam batinnya.
"Beruntungnya kau, ibuku terlalu berbanding terbalik dengan ibumu." Aku kembali menikmati minuman dingin dari gelas, memasang wajah cemberut kala mengingat bahwa apa yang sudah ibu lakukan sangat berdampak dalam kehidupanku. Ia memasang tampang antusias, seakan ingin menggali seluruh data kehidupanku, kepalanya miring kekanan,"oh ya? Apa kau dijodohkan dengan seseorang?"
Aku mencari hal lain yang bisa dilakukan selain bertatapan pada kedua matanya, akhirnya pilihanku jatuh pada memain-mainkan sedotan, tadinya aku ingin berpura-pura merapikan baju,"hn, pria yang sama sekali tidak kucintai. Aku diperlakukan seperti anak berumur lima tahun yang tidak bisa membedakan pisau dan mainan."
Ia melipat kedua tangan di atas meja,"bagaimana dengan kekasihmu? Apa kau tidak punya kekasih?"
Air mukaku berubah, ya, aku bisa merasakannya. Setelah menekuk sebal, kini raut wajahku terlihat kasihan mungkin. Aku kembali menyeruput minuman tapi rasanya pahit, aku yakin aku memesan minuman dengan benar, entah kenapa lemon yang tadi begitu beraroma dalam inderaku kini lenyap begitu saja. Efek nostalgia memang luar biasa, orang yang begitu banyak meninggalkan kenangan mempunyai kekuatan dashyat untuk melumpuhkan kembali logika begitu kotak pandoranya dibuka.
"Aku tidak punya kekasih, kami sudah berpisah."
"Kami berbeda. Ibaratnya aku adalah susunan puzzle dan dia adalah kepingannya, dia memang muat dan sanggup melengkapi, tapi sayangnya bukan untuk mengisi susunan puzzleku, dia milik puzzle lainnya." tanpa sadar aku mencurahkan sedikit isi hatiku, aku memang bodoh, minta dikasihani. Ia tidak tertawa pun berpura-pura sedih, dia hanya diam, membuatku gugup. Apa dia marah? Aku pernah membaca majalah yang salah satu artikelnya mengatakan bahwa pria dalam masa pendekatan tidak suka bila pihak wanita menyinggung-nyinggung soal mantan kekasih. Ia mulai membuka mulut,"melepaskan tidak menghilangkan rasa sakit yang ada, tapi membuat hati kita lebih ringan hingga kita lupa bahwa kita pernah merasa sakit."
Ia cukup bijak, aku tersenyum tulus,"terima kasih." hari ini aku merasa lebih dekat dengannya lagi, tapi tujuanku bukan menjadikannya teman untuk mencurahkan segala isi hatiku.
"Aku rasa aku bisa membantumu bersandiwara," jeda sejenak, ia memberikan kesan penasaran,"hanya saja aku tidak sanggup bila kita langsung memulainya dengan aku berperan sebagai calon istrimu. Kita bisa berpura-pura aku adalah kekasihmu."
Agaknya pernyataanku bukan yang diharapkannya, ia mengubah raut sedikit kecewa.
"Aku memberikanmu penawaran."
Ia mengangguk ragu,"baiklah, setidaknya kau sudah mau membantuku. Aku tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi. Terima kasih."
Suara klakson mobil dari luar menambah kebisingan sekitar, suaranya tidak begitu keras. Aku mengalihkan pandangan keluar jendela pula, segerombolan remaja putri tertawa-tawa sambil menenteng beberapa kantong belanjaan, terlihat bahagia sehabis menikmati hiburan mereka—berbelanja.
"Aku ingin kau juga membantuku." Aku mengerling padanya, rambut kuning acak-acakan bukan membuat tampilannya berantakan, malah makin—ehem—tampan,"simbiosis mutualisme."
"Baiklah." Ia nampak yakin, aku juga serupa. Kami berjabat tangan,"deal."
Setelahnya kami menghabiskan minuman masing-masing, kulirik ia menyesap espresso dan mengeluarkan wajah bertekuk sesudahnya, ia mengumandangkan desahan antara lega dan tidak suka.
"Kalau kau tak begitu suka espresso, kau tidak perlu memesannya." Aku menahan tawa, wajah seperti itu yang ia perlihatkan tiap menyesap minumannya, ia terlalu memaksakan diri. Mukanya tersipu,"yah, aku tidak begitu gemar minuman seperti ini. Aku sedang berlatih." aku menggigit sedotan pelan, tawaku mengalun begitu saja, ia mencoba terlihat seperti pria di hadapanku, aku tahu itu.
.
.
.
.
Kami—aku dan lelaki bernama Naruto itu—berjalan melewati lorong rumah sakit, bau antiseptik melewati rongga hidung masuk ke dalam paru-paru. Lelaki berambut pirang berada di depanku, melangkah pelan seakan meresapi sesuatu di tiap langkahnya. Aku teringat percakapan kami di kafe sebelumnya.
Isi minuman kami tinggal separuh, masing-masing dari kami tidak lagi menyentuh gelas. Sedikit perbincangan mengisi pertemuan kami, dia menceritakan tentang ibu dan silsilah keluarganya, ternyata dia memiliki seorang saudara lebih tua tiga tahun darinya, namanya Uzumaki Menma. Menma sudah menikah dengan Hinata Hyuuga tapi belum dikaruniai seorang anak. Setelah meletakan beberapa lembar uang di atas meja, dia berujar,"ku rasa kita sudah bisa menemui ibuku sekarang."
Aku tertengun, merasa tidak yakin atas ucapannya yang mantap,"bukankah ini terlalu cepat?"
"Tidak, tidak. Aku tidak bisa menunggu lama. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada, selagi ibu masih sanggup."
Aku tercekat, tenggorokanku mendadak terasa begitu kering, gerakan membasahi kerongkongan terhenti. Aku merasa begitu gugup, haruskah aku—yang bukan siapa-siapanya harus bertemu keluarganya sesudah ini?
"Aku bukan tipe pria pemaksa. Tapi untuk yang satu ini, aku memohon padamu."
Ah, dia memohon padaku, tatapan matanya yang sayu membuatku sungkan. Bagaimana aku bisa menolak bila dia sudah memohon seperti ini? Kepalaku bergerak mengangguk. Dia berdiri dengan wajah sumringah, menenteng kunci mobil di jari manisnya,"ayo!"
Dia—Naruto—berhenti di depan pintu sebuah ruangan, sepertinya kamar ibunya, tidak mungkin milik orang lain kan? Aku berdiri di belakangnya, merasa begitu gugup dan takut di saat yang bersamaan. Bagaimana bila susunan rencana kami terbongkar dan aku dicap buruk oleh keluarganya? Tidak hanya itu, biasanya sepasang kekasih akan menyiapkan diri jauh-jauh hari bila ingin bertemu mertua mereka, aku bahkan tidak tahu ibu tuan pengacara ini seperti apa, mungkinkah dia kejam seperti ibu cinderella? Aku semakin takut.
"Ibu, bagaimana keadaanmu?"
Suara berat Naruto menyadarkanku, dia melangkah masuk terlebih dulu, meninggalkan aku yang masih terpaku di depan ruangan—salahku terlalu asyik berimajinasi. Kamarnya tidak serba putih seperti pengecapan—stereotype—orang, wallpapernya berwarna soft blue, ranjangnya terlihat bagus tidak sama yang di tayangkan dalam film horror—hatiku bergumam ini pasti ruang VVIP, ruangannya besar dan luas, ada LCD TV, air conditioner, sebuket bunga anggrek segar diletakkan dalam vas, seorang pria dewasa berambut kuning yang sangat tampan—tunggu dulu, aku mulai ngawur, tentu yang satu itu tidak termasuk fasilitas.
"Aku baik-baik saja sayang. Bagaimana denganmu? Kau tidak lupa makan bukan?" suara nyaring wanita berambut merah panjang—aku terkesima melihat helaian rambutnya—menyahut pertanyaan Naruto, sementara aku masih berada di belakang Naruto, berusaha menentramkan diri dan mencari rasa aman dari punggungnya, sejauh ini aku merasa tidak terlihat, membuatku sedikit lega, sebentar-sebentar merasa gugup lagi, perbincangan ibu-anak tidak begitu ku dengar seksama.
"Siapa gadis manis di belakangmu Naruto?"
Badanku melonjak kaget, tidak kentara tapi aku cukup peka dengan reaksiku yang berlebihan. Ternyata pria tampan berambut kuning seperti Naruto memerhatikanku, membuatku tersipu, kakaknya punya daya tarik sendiri, tidak sanggup aku berlama-lama bertatapan dengan sepasang jelaganya.
"Ah, kenalkan," sebelah tangan Naruto menarikku maju ke depan, memperlihatkanku sepenuhnya pada anggota keluarganya, aku tersenyum canggung, merasa risih juga dipegang olehnya, terakhir kali aku ingat Sasuke merangkulku untuk pertama dan terakhir kalinya,"dia Sakura, kekasihku."
Wajah ibunya mendadak cerah, berbinar gembira,"Naru! Kau tidak pernah cerita pada ibu!" Aku melongo, ini kah yang dikatakan orang sakit? Aku merasa ditipu. Naruto memasang cengiran lebarnya,"maaf bu, aku ingin memberikan ibu kejutan. Nah, Sakura ini ibuku." aku membungkuk,"selamat sore bibi."
Ia mengibaskan tangannya,"ah, tidak perlu seformal itu."
Naruto kembali berbicara,"ini ayahku." Aku menoleh seiringan dengan arah tangannya, mataku melebar, wajahku memerah. A—pa?! Astaga!
"Selamat sore paman." aku kembali membungkuk, berusaha menyembunyikan wajahku yang menghangat. Ayah Naruto hanya tersenyum, ayahnya sangat tampan dan masih terlihat seperti masih berumur dua puluhan. Aku dan Naruto mendekat ke arah ranjang tempat ibunya beristirahat, tanpa komando Naruto mengecup dahi ibunya dan meraih sebuah apel untuk dikupas.
"Duduklah sayang." ia menatapku dalam, jangan lupa dia tengah bersandiwara, tapi dia membuatku gelagapan. Aku menyapu helaian rambut ke belakang telinga sebelum duduk, God! Aku benar-benar gugup. Aku tidak bisa lama-lama bertatapan dengan ibunya, membuatku tambah salah tingkah dan merasa bersalah, aku sungguh tidak berbakat dalam akting, ujian seni dramaku selalu yang terburuk di sekolah menengah. Jadinya aku melirik ibu Naruto sebentar sambil memasang senyum polos, cara pandangnya terhadapku begitu antusias, tak henti-hentinya ia tersenyum manis, aku ingin cepat pulang.
"Kau manis sekali sayang, siapa namamu?" tanya ibunya ramah.
"Haruno Sakura bibi."
"Aa, warna rambutmu memang seperti bunga sakura, begitu cantik." Kedua matanya menyipit ketika ia tersenyum, ibu Naruto lebih cantik. Aku tersenyum paksa, karena grogi,"ah, terima kasih banyak bibi, tapi menurutku bibi jauh lebih cantik." Aku berkata jujur,"bagaimana keadaan bibi?"
"Kau tahu dari Naru ya?" Ia tersenyum lagi, senyuman hangat,"aku sudah merasa baikan, apalagi melihat calon istri Naru, bukan begitu Naruto?" ibu Naruto memberikan tatapan jahil padanya, bermaksud menggoda dan yang digoda hanya memerah.
"Ibu!"
Nyonya Uzumaki tertawa pelan, suaminya ikut tertawa. Sore ini aku menghabiskan waktu berbincang-bincang dengan ibu Naruto dan ayahnya, ibunya sangat ramah dan menyenangkan, aku merasa tenang juga bersalah di saat yang bersamaan.
Usai bercengkrama bersama keluarganya, Naruto mengantarku pulang. Aku berpamitan pulang pada ayah ibunya tetapi dibalas enggan, ibu Naruto seperti tidak senang aku pulang, ia berpesan agar aku datang kembali. Aku bertampang miris, mengingat tidak pasti menepati janji seperti itu. Kami masih berada di koridor rumah sakit, derit kursi roda memenuhi indera pendengarku.
"Terima kasih untuk hari ini Sakura, aku sangat berhutang padamu. Ibu tampaknya sangat menyukaimu." ia melirikku dari samping, aku merasakannya, namun aku hanya memandang lurus ke depan, kemudian menatap lantai,"apakah tidak apa melakukan ini pada ibumu?"
Helaan napasnya terdengar panjang,"kalaupun ini satu-satunya cara supaya dia bisa bahagia. Aku belum melakukan sesuatu yang membuatnya bangga."
"Tapi jika ibumu tahu, bukankah dia akan kecewa?"
"Ya..." Suara baritonenya tertahan di tenggorokan,"biarkanlah kita bersandiwara sampai ibuku kembali sehat."
"Mm, sebenarnya ibumu sakit apa?"
Pria di sebelahku tidak langsung menjawab, aku merasa tidak enak.
"Ah, maaf aku lancang. Tidak apa! Tidak usah kau jawab." selaku cepat sebelum ia benar-benar tersinggung. Ck, cerobohnya aku. Baru berkenalan langsung bertanya yang macam-macam.
"Tubuh ibuku memang lemah. Imunnya bermasalah, beliau tidak mengidap penyakit berbahaya. Hanya saja bila kondisinya benar-benar drop, itu akan mengancam nyawanya. Jadi, aku dan ayah berusaha agar ibu tidak terlalu banyak bekerja, juga menjaga pikirannya tidak terbebani."
"Ah, begitu..." pintu utama rumah sakit terbuka otomatis ketika kami melewati sensornya,"mm, tuan Uzumaki—"
"Panggil saja Naruto, tidak usah begitu formal."
"A-Ah ya, bagaimana kalau kali ini kau yang bertemu ibuku?" aku menoleh padanya ragu-ragu, aku rasa dia tidak mungkin menolak setelah apa yang aku lakukan padanya, hanya saja bagaimana kalau dia belum siap? Maksudku, aku yang belum siap mempertemukan dia dengan ibuku.
Ia mengedikkan bahu, kedua alis pirangnya terangkat,"boleh saja, sekarang?"
Terlalu dini kalau aku mempertemukannya dengan ibu sekarang,"tidak sekarang, lusa pukul dua belas siang, bagaimana?"
Kami berdua berjalan menuju halte, menunggu di stasiun bus tujuan arah rumahku.
"Aku ada janji temu dengan klien sampai pukul dua belas, setengah satu, menurutmu?"
"Baiklah." busnya mendekat, belum berhenti sempurna."Terima kasih sudah mengantar." pintu bus mulai terbuka, menurunkan orang-orang terlebih dulu.
"Aku akan mengantarmu sampai rumah."
"Tidak usah repot-repot," aku menahan lengan jasnya sebelum ia mencapai pintu, sungguh tidak enak merepotkannya.
Ia mendengus tertawa,"kau ini bicara apa? Aku tidak merasa direpotkan sama sekali." ia hendak melangkah lagi, tapi aku sigap menahannya,"tidak usah. Aku merasa tidak enak denganmu. Aku bisa pulang sendiri." dia laki-laki yang baik dan bertanggungjawab. Mata biru jernihnya menjerat netraku dalam,"kau yakin?" aku mengangguk cepat dan langsung naik karena pintu akan segera ditutup.
"Kalau ada apa-apa hubungi aku."
Aku mengangguk lagi. Bus mulai bergerak meninggalkan halte, aku menoleh sebentar mataku berpatokan dengan sosok Naruto dari balik jendela bus, aku tersenyum singkat menandakan aku akan baik-baik saja, ia terlihat begitu khawatir. Seiringan dengan bus yang benar-benar pergi, aku merenungi nasibku di sepanjang perjalanan.
.
.
.
.
Bunyi ketukan berasal dari pintu utama, aku melirik jam antik tua koleksi ibu didinding dekat pintu, jarum pendeknya menunjuk ke angka satu sementara jarum panjangnya berada pada angka sebelas. Aku bergegas membuka pintu, memperlihatkan pemuda berambut pirang mengenakan jas abu-abu berdalaman kemeja putih dan dasi merah.
"Maafkan aku terlambat."
Aku mempersilahkannya masuk,"tidak apa, aku yang harusnya minta maaf ibuku sedang mengikuti perjamuan bersama teman-temannya, apakah pekerjaanmu sudah selesai?"
Dia mengikutiku dibelakang, aku membawanya ke ruang tamu, mendudukkannya di sofa, dan merasa tidak enak.
"Oh, tidak apa. Aku hanya belum menyelesaikan beberapa dokumen klienku."
"Ah! Apakah sangat mendesak? Aku benar-benar minta maaf, mungkin kau bisa menyelesaikannya dulu dan kembali lain waktu ketika jadwalmu sedang kosong?" aku panik, bagaimana bila urusannya lebih penting dibandingkan masalah sepele tapi menurutku tidak sepele ini? Menanggapi reaksiku, ia hanya tersenyum lebar,"tidak apa-apa Sakura, aku akan menunggu sampai ibumu pulang. Aku bisa menyelesaikan pekerjaanku sepulang dari sini."
"Benarkah tidak apa? Aku sudah memberitahu ibu, seharusnya dia kembali sebentar lagi. Ku harap kau tak keberatan menunggu sebentar."
Aku tidak tahu kalau dia merasa terpaksa atau apa, mata serta ekspresinya tidak menunjukkan suatu kekesalan bahkan terpaksa, ia terlihat senang dan baik-baik saja.
"Kau ingin minum teh atau kopi?"
Matanya baru menjelajahi ruang tamuku lalu kembali tertuju padaku yang menarik perhatiannya dari benda-benda sekitar.
"Um, kurasa teh saja."
"Baiklah." Aku membalas gugup sebelum berbalik menuju dapur, sambil melangkah aku merutuki diriku sendiri yang membawa orang beberapa hari dikenal masuk dalam rumahku tanpa penghuni kecuali diriku sendiri. Aku mengeluarkan cangkir dan saucernya, menyeduh daun teh, dan meletakkan dua buah gula balok beserta susu dalam wadah terpisah dengan kue-kue kering. Usai menyiapkan teh, aku mengangkat nampan kembali ke ruang tamu.
Ia tengah mengamati foto keluarga yang tergantung manis di dinding begitu aku memasuki ruang tamu.
"Itu foto yang diambil ketika aku masih berumur empat tahun." ia menoleh sebentar, setelah itu kembali duduk di sofa, aku meletakkan cangkir dan lainnya di atas meja.
"Kau terlihat menggemaskan."
Aku tertawa mendengar bagaimana ia mengucapkan kata menggemaskan,"itu juga yang bibiku katakan, tapi katanya sekarang tidak lagi." ia pun ikut tertawa.
"Jadi, apa yang harus kulakukan saat bertemu ibumu?"
"Cukup berpura-pura menjadi kekasihku. Hanya sampai ibu membatalkan pernikahanku dengan calonnya."
Ia mengangguk, kelihatannya paham dengan rencanaku,"jadi, tidak akan ada pernikahan pura-pura?"
"Tidak, aku hanya ingin ibu membatalkan pernikahanku dengan calon pilihannya. Setelah itu, aku akan melanjutkannya sendiri."
Naruto menggumam, ia menuangkan sebuah gula balok dalam teh lalu mengaduknya, ia menyeruput cairan berwarna coklat saat pintu utama terdengar dibuka dan kembali ditutup. Aku meliriknya yang juga melirikku,"ibuku."
Ia meletakkan cangkirnya kembali di atas saucer. Ibu berjalan masuk sambil menenteng mantel di lengan kanan, agak terkejut atas kedatangan Naruto padahal aku sudah memberitahukan bahwa lelaki itu akan datang hari ini,
"Selamat datang bu," aku menghampiri ibu, mengambil alih mantel darinya untuk diletakkan di coatroom. Ibu melangkah duduk di sofa, Naruto sudah bangkit dari duduknya sebagai tanda kesopanan.
"Selamat siang bibi."
"Selamat siang? Kau—"
Aku menyela sedikit,"dia kekasihku bu." Supaya ibu percaya, namun rasanya ibu malah semakin ragu terhadapku. Ibu mengalihkan lagi pandangannya ke arah Naruto yang membungkukkan badan,"Uzumaki Naruto, saya kekasih putri anda."
Ibu tetap mempertahankan ekspresi bingungnya kemudian menyahut,"a-ah ya, Mebuki Haruno, ibu Sakura."
Mereka berdua duduk, aku pergi ke dapur untuk mengambilkan minum buat ibu, secangkir greentea kesukaannya.
"Jadi, sudah berapa lama kalian berpacaran?" ibu menatap kami bergantian—menatapku dan Naruto yang duduk bersampingan sekarang.
"Sudah dari seminggu yang lalu." dalam hati aku bersorak untuk diriku sendiri, aku mulai mahir bersandiwara, buktinya aku dengan lancarnya berbohong tanpa ada kegagapan sedikitpun. Ibu mengerutkan alis, membuatku menerka apakah aku kurang meyakinkan?
"Lalu kenapa kau baru memberitahu ibu kemarin lusa Saku?"
Mampus, orang berbohong memang tidak bisa menutupi kebenaran.
"Emm, aku dan Naruto masih berunding untuk memberitahukan hubungan kami. Bukankah ibu memaksaku untuk menikah dengan Danzo? Bagaimana kalau ternyata ibu melarang hubunganku dan Naruto?" duh, aku sudah tak tahu lagi apa yang aku katakan, aku sudah terbawa arus.
"Ibu kan sudah bilang, ibu akan membatalkan pernikahanmu dengan Danzo-san bila kau sudah mempunyai pilihanmu sendiri," ibu melihat Naruto dengan serius,"apa kau mencintai Sakura?"
"Tentu saja bibi, saya mencintai putri anda." jawab lelaki di sampingku tanpa keraguan, membuatku memalingkan wajah untuk melongo, dia sangat menjiwai perannya. Aku berbalik lagi, menghentikan aktifitas melongo, ku lihat ibu tersenyum lega, membuatku mengkutinya—tersenyum sangat puas, kayaknya sebentar lagi pernikahan ini terancam batal. Selamat datang kembali masa muda, ingin sekali aku bersujud dan merentangkan tangan sambil berekspresi bahagia.
"Sayang sekali ayah Sakura sedang tidak di rumah. Mungkin kau bisa datang besok, aku dan suamiku akan menunggu kedatanganmu lagi—"
Aku menghentikan pemikiran gilaku, apa-apaan ini, untuk apa ibu mengajak Naruto datang ke rumah lagi. Apakah ini undangan makan bersama? Dalam rangka ingin mengenal masing-masing menantu dan mertua?
"—Tentunya bersama kedua orangtuamu, tuan dan nyonya Uzumaki."
"Haa? Untuk apa ibu?" aku bertanya, tapi kesannya seperti protes, semoga Naruto tidak tersinggung.
Bagus, ini akan jadi acara perjamuan besar-besaran.
"Untuk apa? Tentu saja untuk melamarmu!"
"!"
.
.
.
.
.
.
To be continued
