Di depan mataku, Ino, Temari, dan Tenten tengah bercerita, tak jarang mereka tertawa karena ada cerita yang lucu. Aku sesekali ikut menimpali dan ikut tertawa, meski tak selepas biasanya. Aku juga tak begitu paham apa yang sedaritadi mereka bicarakan karena terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri, berpikir apakah aku harus membagi sesuatu yang kupikirkan ini dengan mereka. Sahabat-sahabat wanitaku berkumpul di atas ranjang, asyik menikmati cemilan sambil menonton televisi. Aku menyenderkan dagu di atas lipatan tanganku, mengamati taman tepat di seberang rumah Tenten dari jendela, memejamkan mata ketika angin sepoi-sepoi membelai kulitku lembut. Ah, aku jadi merasa ingin tidur siang. Kelopak mataku kembali terbuka, menampilkan manik hijau yang terlihat dari pantulan kaca jendela, aku berbalik ke arah mereka.

"Menurut kalian, bagaimana bila aku menikah dalam waktu dekat ini?"

Ino berhenti tertawa, berbarengan dengan Tenten dan Temari yang menatapku. Wajah Ino berubah terkejut,"kau hamil?" tanyanya heboh. Aku meringis,"tentu saja tidak."

"Apa ibumu masih memaksamu menikah sesegera mungkin?" untung Tenten tidak menyampaikan pertanyaan konyol, aku mengangguk, ia kembali bertanya,"dengan paman Danzo?" aku menggeleng cepat,"lalu dengan siapa?"

Lantai kamar Tenten terasa jauh lebih menarik daripada tatapan intimidasi Ino dan gadis berwajah oriental di sebelahnya,"umm, dengan pria yang baru kukenal minggu lalu."

Terdengar tarikan napas kemudian suara tercekik, Ino membuka mulutnya lebar,"siapa?"

"Lelaki yang melamarku di restoran tempo hari." kali ini bukan hanya mulut Ino, matanya ikut melebar, membuatku merinding. Yang lain manggut-manggut dan diam, Temari tidak banyak berkomentar, ia lebih memilih larut dalam buku yang diambilnya sembarang dari lemari Tenten.

"Kau tidak bisa menikah dengannya begitu saja, kalian bahkan baru mengenal seminggu!" Tenten histeris, ia paling tidak suka hal-hal ceroboh layaknya yang kukatakan tadi, bagaimana bila aku menikah dalam waktu dekat bersama orang asing yang baru kukenal dalam jangka waktu begitu dekat. Aku tahu Tenten orang yang paling tidak suka sesuatu yang sembrono, apalagi perihal berbau pernikahan. Ia akan menentang, ia lebih senang hidupnya rumit, sesuatu yang harusnya mudah akan ia buat sulit dengan pemikiran-pemikiran kolotnya itu. Um, aku tidak bermaksud mengejek atau menyudutkannya, hanya saja untuk ukuran manusia yang hidup di era modern ini, orang-orang pasti memilih sesuatu yang simpel, berbeda dengannya. Intinya ia suka membuat segala sesuatunya berbelit-belit, terkadang hal itu baik tapi tak jarang hal itu juga buruk. Tapi, soal pernikahan terburu-buru ini aku sangat setuju padanya.

"Mengapa tidak? Kau bisa mencoba mengenalnya selama kalian menjadi suami-istri." nah, lain Tenten lain pula Ino. Mereka seperti dua kutub yang berbeda, bila Tenten 'tidak' maka Ino adalah 'iya', tidak pernah aku melihat mereka sependapat, kejadian seperti itu sangaaaaat jarang, bisa dihitung jari bahkan tergolong langka. Ino lebih berpikir instan, mungkin hal itu mempengaruhi kehidupannya yang terlihat santai, tapi tak jarang merugikannya juga,"banyak kok pasangan yang tidak lama menjalin hubungan lalu menikah, dan akhirnya pernikahan mereka bertahan lama. Mereka bisa saling jatuh cinta dalam pernikahannya itu."

Tenten mencibir, ia menarik gulingnya dari Ino. Kebiasaan setiap ia beragumen dengan gadis berkuncir kuda itu, tak suka barangnya disentuh,"kau lihat darimana? Drama korea? Telenovela? Sinetron? Ino, ini dunia nyata, dunia nyata yang tidak seindah drama-drama di televisi!"

"Um, aku biasa membacanya di novel, juga cerita-cerita fiksi, yang terkadang terinspirasi dari kisah nyata."

"Bodoh, kau ini hidup dalam dunia nyata atau imajinasi sih? Tidak semua nasib orang-orang sama kan? Bagaimana kau bisa tinggal dengan pria baru dikenal? Bagaimana kalau ternyata ia lelaki yang ringan tangan?"

"Dengar Tenten, maka dari itu Sakura harus mencoba. Kalau tidak dijalani siapa yang tahu kan, mungkin saja lelaki itu jodohnya."

Aku mulai berpose malas, perdebatan mereka berdua tidak akan ada habisnya. Aku butuh saran bukannya membuka perdebatan, ck. Kedua mata ini beralih pada Temari yang masih duduk kalem, berkutat dengan bukunya, ia sama sekali belum berkomentar apa-apa sejak tadi. Hanya saja aku melihatnya melirikku di awal pembicaraan, setelah itu ia kembali pada bukunya. Aku tidak ingin mengusiknya, mungkin ia sedang berkonsentrasi pada bacaannya, tapi tak dapat kupungkiri aku merasa sedikit kecewa. Sampai tiba waktunya kami harus pulang ke rumah masing-masing, Tenten mewanti-wantiku untuk tidak segera menikah apalagi dengan orang yang baru kukenal sebentar, begitu ia masuk Ino menghampiri dan menyarankanku mengambil kesempatan ini, karna mungkin saja Naruto adalah jodohku, kemudian ia pulang setelah menawariku dan Temari tumpangan menggunakan mobilnya, aku menolak secara halus, aku rasa naik bus bukanlah ide buruk lagipula aku tidak ingin merepotkannya, rumahku dan rumah Ino berlawanan arah tapi searah dengan Temari, jadi aku dan gadis berkuncir empat itu memutuskan naik bus bersama. Selama perjalanan ke halte aku memilih bertanya pada Temari,

"Bagaimana menurutmu bila aku menikah dalam waktu dekat ini Temari?"

Pandanganku tetap lurus ke depan, namun masih bisa kurasakan Temari melirikku hanya dalam hitungan detik lalu ia menatap lurus ke arah jalan pula.

"Aku tidak ingin banyak berkomentar, ini hidupmu, dan yang pantas mengambil keputusan adalah kau sendiri,"

Ia diam sebentar,"aku pikir kau pasti bisa membedakan mana yang baik dan tidak bagi dirimu sendiri. Aku tidak mau ikut campur dan menyuruhmu memilih sesuai keinginanku atau apa yang menurutku benar,"

"Sebagai teman aku hanya mengingatkanmu bahwa setiap keputusan yang kau ambil pasti ada resikonya, jadi kau harus siap dengan setiap akibat dari keputusan yang kau pilih. Apapun yang terbaik bagimu Saki."

Aku tersenyum, mungkin bagi orang-orang kata-kata Temari tidak cukup berarti, akan tetapi bagiku kata-katanya sangat membantu. Memang tidak memberikan jawaban, namun membuatku berpikir akan jawaban itu. Setidaknya ia sudah mengangkat sedikit bebanku. Akhirnya halte bus mulai tampak dalam jarak pandang kami.

.

.

.

.

.

Semalaman aku berpikir mengenai keputusan yang akan aku ambil dan resikonya, sangat rumit menurutku. Bila aku menolak Naruto, aku pasti berakhir menikah dengan Danzo sekaligus mengecewakan bibi Kushina, dan bila aku menerima Naruto artinya aku harus menikah (tambahkan kata: pura-pura) tanpa ada cinta di dalamnya. Kesimpulan yang ku ambil dari dua keputusan itu adalah pada akhirnya aku akan menikah bersama dengan orang yang tidak kucintai. Helaan napas panjang berhembus begitu saja dari bibirku, aku memantapkan hati untuk menolak Naruto, begini lebih baik. Biarlah aku memaksakan hatiku, daripada aku harus berdusta hingga akhirnya membuat banyak hati tersakiti, cukup hatiku saja yang ku korbankan, ok, aku cukup melankolis. Banyak kalimat yang ternyata bisa kupelajari dari serial-serial drama. Sambil menunggu Naruto di bawah pohon apel, aku duduk manis di atas bangku kayu taman, menikmati ice cream karamel di tanganku. Lidahku menjelajahi benda manis dan dingin rasa karamel, sementara mataku bergerak meneliti orang-orang yang memenuhi taman. Anak-anak bermain riang di atas perosotan membuatku tertarik untuk mengamati mereka, tak pelak mereka bermain kejar-kejaran di atas kotak pasir lalu terjatuh dan kemudian membangun istana pasir menggunakan ember plastik kecil berwarna merah.

"Maaf membuatmu menunggu."

Aku sedikit terkejut menyadari Naruto sudah berdiri di sebelah bangku, saking asyiknya mengamati anak-anak bermain aku tidak merasakan kehadirannya. Buru-buru aku berdiri, berhenti menikmati ice cream-ku, ia menyuruhku kembali duduk lalu ikut duduk di sampingku. Tidak ada satupun dari kami yang berkata-kata. Memangku kedua tanganku dimana salah satu anggota tubuhku itu masih menggenggam cone es, aku memusatkan atensiku pada warna karamel di atasnya. Naruto juga sepertinya sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedikit meliriknya di samping, ia mengenakan pakaian formal, aku merutuki diriku yang selalu mengajaknya bertemu di waktu yang salah, harusnya dia sedang makan siang bukannya di sini bersamaku. Netraku memandang bias matahari yang menembus dedaunan pohon apel langsung ke tanah. Memantapkan hati dengan jawabanku, menarik napas dalam.

"Aku—"

"Sakura—"

Mendengar namaku dipanggil aku langsung reflek menoleh ke arahnya, ia nampak begitu tegang. Berikutnya ia menghadap padaku dan memegang kedua bahuku erat, seperti mencengkram tapi tidak sakit.

"Aku tahu ini berat bagimu. Tapi aku berjanji akan menjaga serta memperlakukanmu dengan baik," mata biru lautnya memandangku lurus, tepat ke mataku. Wajahnya serius, membuatku membasahi kerongkongan,"aku akan menjagamu, aku tidak akan menelantarkanmu begitu saja hanya karna ini sandiwara. Bagaimanapun bila menikah nanti aku akan mengemban tanggung jawabku sebagai suami." tubuhku sedikit bergoyang mengikuti tangannya di bahuku, manik hijaku bergerak mengikuti manik safirnya, mencari-cari kesungguhan dalam sana dan aku menemukannya ketika melihat bayangaku terpantul dari mata indahnya. Pikiranku kosong, kemantapan hatiku langsung menguap begitu saja mendengar pernyataannya, ia telah menghipnotisku.

"Jadi, apa kau akan menerima keputusan ibumu untuk mempertemukan kedua orangtuaku dengan orangtuamu?"

Tanpa sadar—aku benar-benar tidak sadar, pikiranku sudah melayang hanya karna terpana olehnya—aku mengangguk, ragu di awal kemudian mengangguk cepat. Berkebalikan dengan keinginanku sebelumnya ingin menggeleng. Tanpa kusadari pula es rasa karamel sudah terpisah dari cone-nya yang kugenggam erat pada tangan kananku (kini terjulur ke samping) dan tergeletak di atas tanah, mencair perlahan-lahan bersatu dengan debu.

Beberapa saat kemudian aku sadar akan apa yang baru saja kulakukan. Aku memaki diriku yang begitu teledor, dalam hati tentunya. Mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur, aku tidak mungkin menarik perkataanku sendiri. Akhirnya aku membuat kesepakatan lagi dengan Naruto, bahwa aku hanya mengijinkannya untuk membahas mengenai pertunangan; aku belum siap untuk menikah. Dan ia merasa tidak keberatan, selama kami masih terikat, ia bilang demi ibunya. Naruto mengabariku dan ibu bahwa ia dan kedua orangtuanya akan datang malam ini untuk membicarakan mengenai lamaran sekaligus makan malam. Aku dan ibu sudah sibuk mempersiapkan hidangan makan malam mulai dari siang hari, kami menyelesaikan semuanya tepat pada pukul lima sore, setelahnya kami bersiap-siap membersihkan diri sambil menunggu tamu kehormatan ibu—yeah, aku harus menyebutnya begitu karna ibu menyuruhku untuk. Beliau sangat antusias membicarakan masalah sakral ini. Aku mengenakan dress simpel yang longgar, menyibukkan diri di ruang makan dengan menyalakan beberapa batang lilin. Terdengar bunyi ketukan, aku bergegas membuka pintu ketika mendengar langkah kaki menuruni tangga—tanpa melihat aku sudah tahu itu pasti ibu dan ayah—merapikan sedikit anak-anak rambutku sesaat sebelum membuka pintu. Dua pria berwarna rambut sama dan satu wanita berambut merah berdiri dan tersenyum manis, aku membalasnya serupa, kami berpelukan menempelkan pipi-pipi kami.

"Bagaimana kabar bibi? Apa bibi sudah merasa baikan?"

"Tentu saja! Aku sudah merasa sangat sehat karna ingin bertemu denganmu, ah, apalagi untuk membicarakan rencana masa depan kalian." bibi Kushina tertawa renyah, Naruto menegurnya pelan,"ibu." wajahnya agak merona digoda seperti itu oleh ibunya sendiri. Aku menyapa paman Minato, sesudahnya mempersilahkan mereka masuk. Ibu dan ayah sudah menunggu di koridor,

"Selamat malam, perkenalkan saya ibu Sakura, nama saya Mebuki, Haruno Mebuki. Dan ini suami saya Haruno Kizashi." ibu dan bibi Kushina saling menyapa layaknya teman lama, ia mengangguk sebentar pada paman Minato, yang kini berjabat tangan dengan ayah. Kemudian mereka beruda dipersilahkan langsung masuk keruang makan. Ayah menarik kursi untuk ibu, lalu untuknya sendiri di ujung meja, di sebelah kanannya paman Minato melakukan hal yang sama pada bibi Kushina, dan di sebelahnya Naruto sudah duduk menyibakkan napkin untuknya sendiri. Aku mengambil beberapa basket hard roll dan soft roll serta beberapa butter sebagai pembuka. Keempat orang dewasa itu saling berbincang mulai dari appetizer hingga dessert, terkadang kami—aku dan Naruto ikut dilibatkan dalam pembicaraan mereka. Aku memasukkan potongan terakhir cheesecake, mengunyahnya pelan lalu menyapu bibirku dengan napkin bermotif kotak-kotak warna merah.

"Bagaimana kalau kita pindah ke ruang keluarga?" ayah mengangkat gelas wine-nya dan berdiri meninggalkan meja makan diikuti oleh yang lain. Beliau duduk di salah satu sofa pada ruang keluarga, menyeruput sedikit anggur merah dari wadahnya, paman Minato mulai mengawali perbincangan.

"Kami datang kemari untuk membicarakan tentang putera kami yang ingin melamar puteri anda."

Ayah mengangguk,"aku tidak keberatan selama putera anda berniat baik untuk menggantikanku menjaga puteri manisku ini, bagaimana menurutmu Mebuki?"

"Dengan senang hati, aku tidak ingin memisahkan dua orang yang saling mencintai, aku tidak akan menentang hubungan ini."

Aku begelut dalam diam, mencintai? Darimananya? Gugup, aku meremas bagian bawah dressku, tidak begitu memerhatikan Naruto di sebelahku, jadi aku tidak begitu paham apabila ia sama gugupnya denganku atau justru ia merasa biasa saja.

"Jadi, karna hubungan ini sudah direstui kedua belah pihak, apa kita bisa langsung melangsungkan pernikahan?" tanya Kushina.

"Tunggu—" sela Naruto, membuat tiap pasang mata mengarah padanya,"kami rasa akan terlalu cepat bila kami melangsungkan pernikahan. Aku dan Sakura ingin melanjutkan hubungan kami pada tahap pertunangan dulu."

Keempat orang dewasa itu masih memandangi kami berdua, membuatku agak risih. Ayah menaikkan alis merah mudanya,"terserah kalian saja." jawaban ayah membuatku bengong, apa ayah sama sekali tidak berniat melakukan sesuatu untuk mempertahankan puterinya yang manis ini? Seperti yang dilakukan kebanyakan ayah di dunia ini, yang biasa over-protective apalagi terhadap anak gadisnya yang sedang dilamar. Setelah menyetujui segala sesuatu dalam lamaran ini (termasuk rancangan pernikahan, meskipun ini mungkin tidak akan lama lagi terealisasi) aku dan Naruto bertukar cincin, ternyata pemuda berambut jabrik itu telah menyiapkan sepasang cincin perak dengan batu berlian di tengahnya. Ia tersenyum lembut, aku menaikkan bibirku paksa. Bukannya aku tidak senang, aku akan sangat bahagia, sangat. Bila saja ada cinta di antara kami berdua.

.

.

.

.

.

Tidak terasa aku dan Naruto sudah melewatkan tiga hari tambahan bersama—pertemuan awal kami diluar hitungan, demi mengurus masalah pernikahan kami. Kami sibuk mengurus masalah gaun dan jas pengantin, selebihnya ada event organizer yang telah merancangkan rencana dan tempat pernikahan, melalui ideku tentu saja, ini pernikahanku jadi aku akan tetap turun tangan, masa bodoh dengan pernikahan bohongan, toh aku hanya akan menikah sekali seumur hidup—hm, aku tidak yakin mengucapkannya. Di hari minggu ini aku dan Naruto berkumpul di apartemennya demi menyusun nama-nama sahabat maupun kerabat yang akan kami masukkan dalam daftar undangan. Beberapa kali bertemu dan mendatangi tempat tinggalnya membuatku sedikit (hanya sedikit) mengenal Naruto, ternyata ia orang yang berantakan, yah, tipikal umum seorang laki-laki, dilihat dari tumpukkan baju menggunung di ruang tamu, beberapa serakan sampah, dan cup ramen di hari pertama mengunjunginya. Aku bisa memahami ia adalah pria bujang yang sibuk dan kurang bisa merawat diri sendiri, lemari pendinginnya hanya terdapat beberapa susu basi dan buah-buahan yang sudah membusuk, selebihnya kosong melompong. Untung aku mendapat beberapa bungkus ramen di lemari (aku sudah sangat kelaparan waktu itu), setelah memilah-milah karena sebagian sudah melewati tanggal expired. Aku meringis, lelaki ini benar-benar membutuhkan pendamping hidup yang bisa mengurusnya. Di seberang meja makan yang terbuat dari kaca, Naruto mengambil salah satu cookies buatanku, menjejalnya dalam mulut sambil memerhatikanku yang sedang menulis.

"Siapa lagi?"

Ia mengunyah cookies dan menelannya,"hmm, Kakashi."

Aku langsung menulis nama yang keluar dari mulutnya,"ada lagi?"

"Kurasa sudah cukup."

Pena di tanganku berhenti menari di atas kertas. Aku temenung, sebuah nama tiba-tiba melintas di atas kepalaku, untuk sesaat terbesit pikiran untuk menuliskan namanya tapi aku tidak begitu yakin.

"Ada apa?" Naruto bertanya, aku menatapnya, menggeleng pelan,"Apa kau ingin mengundang mantan kekasihmu?"

Bagaimana Naruto bisa tahu?

"Tidak apa kalau kau ingin mengundangnya. Tulis saja namanya."

Ide itu sangat menggoda, tapi aku menggeleng. Kami sudah memutuskan tidak muncul di kehidupan masing-masing kami, tidak peduli apakah itu hubungan persahabatan atau semacamnya. Aku mendapati diriku kembali menggeleng,

"Dia tidak suka keramaian."

Naruto tertawa,"mengingatkanku pada seorang teman. Mantan kekasihmu pasti orang yang dingin."

Aku mengangguk.

"Berikan kertasnya padaku." Aku menyodorkan kertas beserta pena-nya pada pria di seberangku. Ia membaca satu persatu nama yang tertoreh di atas kertas.

"Apa ini cukup?"

"Ya."

Ia seperti teringat sesuatu dan menuliskan—kurasa ia menuliskan nama seseorang. Wajahnya terangkat memandangku,

"Aku akan membawa ini pada Yamato untuk mencantumkannya pada undangan nanti."

"Tentu saja."

Bangkit dari kursi, aku mengikuti Naruto yang mengambil kunci mobil, ia hendak mengantarku pulang, selama perjalanan aku menghabiskan waktu berpikir—akhir-akhir ini aku sering sekali berpikir, sudah tak terhitung lagi, bisa-bisa aku cepat beruban. Tapi aku tidak habis pikir, aku membayangkan orang yang sama sekali belum pernah kubayangkan kehadirannya dalam hidupku akan menjadi seseorang yang berpengaruh besar bagi masa depanku. Semoga semuanya baik-baik saja, hingga nanti waktunya tiba.

.

.

.

.

.

Tbc

.

.

.

Notes:

Maaf bila chapter ini terkesan pendek atau alurnya kecepatan. Atau sama sekali tidak masuk akal. Dan maafkan saya lama mengupdate cerita ini, tidak ada maksud menelantarkan, tapi untuk menyuarakan ide ini sangat sulit, saya sempat minder karena saya merasa tulisan saya tidak menarik dengan diksi dan penataan kalimat yang itu-itu saja. Saya hampir patah semangat, jadi saya kurang ada motivasi untuk menulis. Ditambah jadwal saya sedang padat, malam ini saya berusaha mengelarkan chapter ini. Untuk ceritanya, saya masih belum bisa memastikan akan jadi berapa chapter. Dan, ada beberapa yg bilang ini cinta kilat, tapi saya akan berusaha (semoga) membuat Naruto dan Sakura tidak akan jatuh cinta begitu saja tapi ada prosesnya, kemungkinan akan bertele-tele ceritanya, karna semua butuh proses tidak langsung terjadi begitu saja. Maaf notesnya panjang, terakhir terima kasih untuk yg sudah mereview, maaf saya tidak bisa membalas satu-satu tapi saya sudah membaca semua review yg anda berikan dan itu menjadi semangat saya untuk menulis. :)