Kami akhirnya tiba di tempat percetakan milik Yamato. Naruto memarkirkan mobilnya sebelum mematikan mesin, lalu kami melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil. Aku memandangi bangunan di depanku, tempat percetakan milik Yamato terbilang kumuh, aku merasa ragu sesaat dan kepalaku mulai berpikir mungkin Naruto memang tidak niat dengan pernikahan ini. Tapi begitu masuk aku langsung berubah pikiran, apa yang tampak dari dalam sangat berbeda dengan luarannya. Seluruh interior tempat itu berwarna putih, dimulai dari dinding, kusen jendela, hingga benda-benda kecil seperti lampu meja serta vas bunganya berwarna putih. Untuk sesaat aku pikir aku berada di dimensi lain. Ketika aku tengah mengagumi ruangan tersebut, sebuah suara menyapa kami.
"Selamat siang."
Kulihat Naruto menjabat tangan seorang laki-laki berumur sekitar dua puluh enam-an,"selamat siang Yamato."
"Kamu sudah membawa daftar namanya?"
Naruto mengambil daftar nama dan memberikannya pada Yamato. Kami—aku dan Naruto—mengekor di belakang lelaki berambut cokelat itu sampai di meja kerjanya, mendiskusikan kembali hal-hal yang ingin kami koreksi mulai dari desain undangannya, jenis kertas yang digunakan, dan lainnya. Sejauh pengamatanku, Yamato orang yang fleksibel dan bisa diajak kerja sama, ia tidak begitu keberatan saat kami banyak merombak desain undangannya dari desain awal. Setelah melalui banyak diskusi kami telah mencapai kesepakatan, Yamato bilang dia akan menyelesaikan sebelum tenggat waktu yang kami berikan. Aku dan Naruto beranjak meninggalkan ruangan setelah mengucapkan terima kasih pada Yamato. Entah mengapa aku kembali teringat pada sesuatu yang ditulis Naruto di daftar nama, hal itu memicu rasa penasaranku. Aku membuka pertanyaan begitu kami berjalan ke parkiran,"kalau boleh tau, siapa nama yang kamu tulis di daftar nama terakhir?"
"Hm?" ia menoleh,"oh, bukan siapa-siapa. Hanya teman lama, aku hampir saja melupakannya. Aku belum bisa mengenalkannya padamu sekarang, karena dia orang yang sangat sibuk. Tapi aku yakin dia akan datang ke resepsi pernikahan untuk memastikan bahwa aku benar-benar menikah, hahaha," Naruto seperti sedang bernostalgia mengingat teman lamanya yang entah siapa itu, berikutnya Naruto mulai sedikit bercerita tentang kawannya meskipun tidak begitu membuka identitasnya,"dia pasti kaget begitu tahu aku akan mendahuluinya. Sudah kukatakan untuk segera menikah. Huh, lagipula semua wanita tidak akan tahan dengan lelaki dingin seperti dia." nah, aku makin penasaran, seperti apa sih teman Naruto itu? Yang bisa kulakukan saat ini hanya menerka, aku mengangkat bahu melupakan rasa penasaranku.
Aku dan Naruto makan siang bersama di sebuah kedai vegetarian yang terletak di pinggir kota, cukup jauh dari tempat awal kami kunjungi; memakan waktu yang cukup lama untuk perjalanan dari tempat percetakan sampai di kedai ini, tapi kata Naruto masakannya lumayan enak. Well, dilihat dari banyaknya pengunjung kali ini aku tidak meragukannya. Mungkin mulai sekarang intensitas pertemuanku dan lelaki berambut pirang ini akan semakin meningkat, Naruto adalah pribadi yang menarik, aku menemukan kesamaan kami dalam hal kuliner. Naruto tampak berbincang dengan pelayan, memesan menu yang menjadi rekomendasi favorit kedai ini. Aku menyesap teh darjeelingku, mm, bau harum langsung menguar begitu makanan diantar hingga disajikan di meja kami. Makanannya tidak buruk, hitung-hitung diet.
Selesai makan Naruto memaksa untuk membayar makan siang, kami sempat beragumen sampai kami mencapai kesepakatan untuk membagi harganya, ingat Naruto masih belum menjadi suamiku. Kami berjalan keluar kedai ketika sebuah suara menginterupsi kami berdua, awalnya aku menyangka pelayan kedai memanggil kami karena kami tidak mengambil uang kembalian yang kami berikan karena kami bermaksud memberi tips akan tetapi aku pikir aku hampir kena serangan jantung begitu melihat siapa yang berdiri di belakang kami—Aburame Shino dengan kacamata kunonya.
"Sakura..." ia melafalkan namaku dan entah bagaimana lebih terdengar bagaikan mantra voodoo bagiku. Aku sangat tidak suka caranya melafalkan namaku, terkesan begitu berlebihan dan aku benci hal itu. Bagaimanapun aku mencoba bersikap biasa saja, kupaksakan wajahku agar bisa tersenyum sekalipun hanya sebuah senyuman simpul,"hai Shino." aku tidak paham akan apa yang Shino pikirkan saat ini, aku memang tidak pernah bisa mengerti dia, susah untuk menebak siratan apa yang terpancar dari matanya karena terhalang benda berbentuk bulat yang tersangga di hidungnya.
"Siapa dia?" Shino masih menghadap padaku, mungkin dari balik kacamatanya ia mengamati Naruto tidak suka, dari dulu ia tidak suka aku dekat dengan laki-laki manapun. Dia bukan hanya cemburu berlebihan, dia terlalu terobsesi padaku! Sejenak aku melirik ke arah tuan Uzumaki, sebelum kembali menghadap Shino, dengan ragu aku mulai bersuara,"aku baru saja makan siang bersama partnerku," aku merasa Naruto sempat melirikku, ucapanku tidak sepenuhnya bohong, aku berusaha memberikan jawaban ambigu.
"Perkenalkan, namaku Naruto Uzumaki." tangan berkulit kecoklatan milik Naruto terulur ke arah Shino, nampaknya lelaki berkacamata hitam itu tidak mau repot-repot membalas jabat tangan Naruto. Merasa percuma tuan Uzumaki menarik tangannya, aku tidak mau mereka berkenalan lebih lanjut, aku tidak mau Shino kembali men-stalkku, aku tahu mungkin aku kepedean, tapi siapa yang tahu apakah Shino masih menyimpan perasaannya padaku? Lebih baik aku jaga jarak, kalian tidak tahu betapa aneh dan mengerikannya dia,"maaf Shino, kami harus pergi. Selamat tinggal." aku tidak mau mengucapkan sampai jumpa, karena aku berharap tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Naruto berbalik sebentar, memandangi Shino yang masih berdiri kaku di tempatnya lalu bertanya padaku,"rekanmu?" Bingung, aku tidak tahu harus menjawab apa, tapi kuputuskan untuk berkata jujur,"mantan kekasihku."
"Aa." balas Naruto singkat tanpa ada perbincangan lanjutan di antara kami sampai Naruto mengantarku pulang.
.
.
.
.
.
.
Sore hari di hari jumat terasa begitu menyenangkan, aku hampir menghabiskan seharian untuk mengerjakan beberapa pekerjaan dari tempat kerjaku. Sekarang aku duduk manis membaca beberapa buku ditemani secangkir es limun, di sampingku ada ibu yang juga duduk menyelesaikan rajutannya, ibu sedang merajut beberapa sweater untukku dan ayah karena tidak lama lagi musim dingin tiba.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya ibu di sela-sela kegiatan merajutnya, aku membalik halaman lalu menjawab,"semuanya lancar bu." ibu menggerakkan jarum serta benang dengan seirama, kacamata yang bertengger di hidungnya sedikit melorot, gulungan benang berwarna merah makin menipis seiringan dengan gerakan tangan ibu yang tak berhenti,"kemarin Danzo menelepon," aku langsung menutup buku dan merapat pada ibu,"apa katanya bu? Ia tidak mengancam ibu untuk tetap menikahiku kan?" Dengan perasaan yang tak terdefinisikan aku menunggu ibu berbicara, semoga si tua Danzo tidak melakukan hal macam-macam pada ibuku.
"Dia hanya mengucapkan selamat atas pertunanganmu, dan bilang ia tidak bisa hadir nanti. Tapi ia akan mengirimkan beberapa hadiah."
"Dia patah hati karena aku mau menikah jadi dia tidak mau datang?"
Ibu masih menekuni kegiatannya sambil bercerita,"tidak, ia akan menikah di hari pertunanganmu."
"Apa?!" suaraku melengking, ibu sempat menutup telinga,"kalau ia bisa mencari penggantiku semudah itu kenapa ibu masih memaksaku menikahinya?!"
"Butuh sebuah cambuk supaya bisa menggerakkan kerbau yang malas." ibu mengeluarkan sebuah perumpamaan yang aneh, jadi aku disamakan seperti seeko kerbau? Sungguh tidak nyambung. Aku mengangkat tangan menutupi wajahku, ternyata aku hanya diancam. Kenapa aku mudah sekali dijebak, aaargh! Tahu begini aku tidak perlu menerima lamaran Naruto. Aku tidak membencinya, kebohongan (baca: ancaman) ibu membuatku terjebak dalam kebohongan-kebohongan lainnya. Aku bangkit dari sofa, mengambil gelas minumku yang sudah kosong, mungkin segelas es limun lagi bisa mendinginkan pikiranku. Lusa acara pertunanganku dan Naruto akan digelar, aku sudah memutuskan agar pestanya hanya mengundang keluarga besar kami saja. Ah, aku tidak punya kuasa apapun untuk membatalkan pertunangan ini. Helaan napas berat tak sengaja keluar dari mulutku, biasanya ibu akan marah karena aku terdengar seperti orang susah, sekarang aku memang sedang kesusahan. Mengapa? Aku merana dalam hati.
.
.
.
.
.
Kak Tayuya membubuhkan perona di atas kedua pipiku, malam ini pertunanganku dan Naruto akan digelar, dan sekarang aku sedang bersiap-siap. Kak Tayuya adalah salah satu kenalan ibuku yang bekerja sebagai make-up artist, namanya sudah melejit di kalangan para entertainer. Aku duduk diam ketika kak Tayuya memoles bibirku dengan gincu berwarna merah membara, ia memang pintar memadu madankan fashion dan make-up, jadi untuk kesempurnaan penampilanku malam ini aku menyerahkannya di tangan kak Tayuya. Ibu datang melihat keadaanku, beliau mendekat ke arah kami,"bagaimana Tayu?"
"Sudah selesai bibi," usia kak Tayuya yang terpaut jauh dari ibuku membuatnya memanggil ibu lebih sopan. Ibu menggandengku keluar ruangan setelah mengajak kak Tayuya bergabung dengan keluarga kami di luar.
"Kau harus melihat Naruto, ia luar biasa tampan." ungkap ibu, tak lupa wajahnya yang tersipu-sipu, tak ada bedanya dengan remaja wanita dimabuk cinta. Aku jadi heran sendiri, sebenarnya siapa yang akan ditunangkan. Beberapa keluarga Naruto yang lewat menyapa kami, sedikit bingung juga karena melihat air mukaku yang begitu kontras dengan ibu, beliau kelihatan bahagia sementara aku? Aku terlalu gugup untuk bisa sekedar tersenyum. Tangan ibu menyentuh pipiku dan menariknya pelan,"kau ini, kenapa terlihat seperti digiring ke penjagalan? Ayo senyum. Kau harus terlihat bahagia malam ini, lagipula akhirnya kau akan menikah dengan lelaki pilihanmu bukan dengan Danzo. Anak ini!" hahh, andai ibu tahu kebenarannya. Aku cuma bisa mendengarkan celotehan ibu tanpa berniat menyela maupun membantahnya. Langkah kami terhenti tepat di depan pintu ruangan dimana acara diadakan, aku meremas tangan ibu gugup.
"Tenanglah, rileks dan jangan lupa tersenyum." ibu balik meremas tanganku, aku memandangi mata hijaunya yang sama seperti milikku, memberikanku ketenangan, namun begitu pintu dibuka badanku langsung terasa kaku. Aku tersenyum tiba-tiba membuat senyumku tampak aneh. Mataku beredar memperhatikan seluruh tamu yang melihat ke arah kami, kemudian terhenti pada sosok Naruto, seperti kata ibu ia terlihat tampan. Ia menyusul ke arah kami dan menawarkan tangannya, aku melepas genggaman ibu lalu menggenggam telapaknya, terasa begitu hangat. Akhirnya kami sampai di meja berisikan keluarga kami, ayah ibuku beserta ayah-ibu-kakak dan kakak ipar Naruto.
"Wah, salam kenal. Apakah kau benar calon istri Naruto?" lelaki berambut biru gelap mencondongkan tubuhnya ke arahku, melipat kedua tangannya di atas meja. Aku mengangguk malu,"aku tidak menyangka. Kupikir adikku ini akan menjadi bujang lapuk selamanya, aku tidak habis pikir sekarang ia mendapatkan calon istri yang sangat cantik." aku tersenyum malu, padahal dalam hati aku gembira, siapa yang tidak senang dipuji? Meskipun hanya basa-basi, hehehe. Naruto membalas malu-malu,"diamlah kak. Kalau kau bisa mendapat istri secantik kak Hinata, tentu aku juga bisa." mendengar namanya dibawa-bawa kak Hinata tertawa kecil, aku terdiam mengamati gerak-geriknya, ia begitu anggun dan dewasa. Pandangan kami saling bertabrakan, kak Hinata tersenyum lembut,"maafkan kami belum memperkenalkan diri. Namaku Hinata Hyuga, dan ini suamiku," ia menunjuk kakak Naruto,"Uzumaki Menma."
"Salam kenal adik ipar!" Kak Menma berujar riang, aku mengangguk pelan tak lupa membalas memperkenalkan diri,"Haruno Sakura."
Ibu Naruto, bibi Kushina menarik sebelah lengan baju Naruto. Mereka berbicara sesuatu tapi aku tidak tahu apa, aku tidak bisa dengar karena mereka berbisik. Aku langsung bertanya usai bibi Kushina berbicara dengan ibuku.
"Ada apa?"
Naruto menjawab,"bukan apa-apa, ada tamu dari keluargaku yang tidak bisa hadir. Tenang saja, mereka akan hadir di pesta penikahan nantinya." Oh, jadi begitu. Aku baru saja menenggak minumanku ketika Naruto mengajakku berdansa. Aku kembali menggenggam tangannya dan ia menuntunku ke ruang kosong di tengah ruangan dimana orang-orang tengah berdansa menikmati alunan musik. Ia memegang pinggulku; aku meletakkan tanganku di atas bahunya canggung. Gaun panjang hitamku tidak mempersulitku untuk melakukan gerakan dansa. Sementara kami berdansa, Naruto mendekatkan wajahnya, nyaris membuat jantungku meledak karena berdegup terlalu kencang. Sial, aku tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya. Ia berbisik pelan di telingaku.
"Kamu cantik." ah, aku tidak tahu ia hanya berbasa-basi atau apa, kalimatnya yang sesingkat itu mampu membuatku salah tingkah. Rasanya ada sesuatu yang menggelitik dalam perutku.
"Terima kasih, kau juga tampan." lalu kami menghabiskan sepanjang malam untuk berdansa. Tidak ada lagi kata-kata yang mengudara di antara kami. Aku tak tahu mengapa, tapi aku menyukai keheningan yang tercipta di antara kami. Bukan keheningan menyesakkan yang pernah kurasakan bersama Sasuke dulu, tapi keheningan yang begitu nyaman. Aku menutup mata, membiarkan bau cologne yang Naruto kenakan malam ini membuaiku.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
Notes:
Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mereview. Maaf saya tidak bisa mencantumkan nama kalian satu-satu atau mengirim PM sebagai balasan review kalian. Tapi saya sudah membaca review kalian satu-satu, dan kalian adalah alasan saya melanjutkan fiksi ini. Terima kasih dari lubuk hati saya yang terdalam. :)
