Silau cahaya matahari menerpa wajahku, dengan lambat aku berusaha membuka mata, mengintip sinar mentari dari balik salah satu kelopak mata. Rutinitas pagi, biasanya aku akan mengecek ponsel dan itulah yang aku lakukan. Tiga panggilan tak terjawab dari Ino membuatku berdecak, alih-alih membalas panggilannya aku memilih mandi untuk menyegarkan tubuh, aku bisa meneleponnya sebelum makan siang nanti. Sesudah mandi aku menyusul ibu di dapur yang sedang menyiapkan sarapan. Ayah sudah duduk manis sambil membaca koran. "Pagi yah." Sapaku sejenak, lalu membuka kulkas dan menuang susu dingin kedalam gelas yang telah ku ambil dari meja. Ayah menggumam membalas sapaanku tanpa memecah konsentrasinya pada berita yang ia baca. Usai menenggak minuman, aku membantu ibu meletakkan sarapan di meja, dan kami memulai sarapan diiringi pembicaraan ringan.
Siang hari yang terik, aku dan ibu duduk berdampingan, ibu sibuk memilah-milah foto pre-wedding yang nantinya akan dicetak dan dipajang di apartemen Naruto, karena nantinya setelah menikah aku akan pindah ke sana. Sementara ibu melihat-lihat foto, aku menghubungi Ino. Nada sambung langsung terdengar, bersahutan dengan ocehan ibu yang aku balas dengan anggukan atau gumaman. Ibu berbalik kemudian merebut telepon genggamku, aku mendelik kaget.
"Bu! aku harus menghubungi Ino!" Demi Tuhan aku harus menghubungi Ino balik. Dia mencoba menghubungiku berkali-kali pertanda ada sesuatu yang benar-benar penting harus ia sampaikan padaku. Ibu memutuskan panggilan, menyita benda mungil tidak bersalah dalam genggamannya.
"Daritadi ibu berbicara padamu Saki, tapi kau mengabaikan ibu. Sana urus foto pernikahanmu."
"Tapi bu—"
"Tidak ada tapi-tapian." Ibu langsung pergi membawa ponselku. Semua kata-kataku tertahan di tenggorokan, ibu tidak bisa dibantah, ucapannya adalah perintah mutlak. Aku mencoba mengumpulkan kembali kesabaranku melalui helaan napas, jemariku bergerak menelusuri tombol-tombol laptop, kemudian pada layarnya memunculkan foto-fotoku dan Naruto dalam balutan pakaian pengantin. Aku terus menggeser sambil memperhatikan tiap foto, tapi tidak memperhatikan pikiranku yang kembali berputar pada saat kami melakukan sesi foto.
Aku menyibak tirai yang menutupi ruangan tempatku mengganti baju kasual biasaku menjadi gaun pengantin sederhana tanpa lengan dengan bawahan panjang dan memiliki belahan pada kaki kiriku. Malu-malu, aku berjalan gugup ke arah Ayame yang akan merias wajahku.
"Kamu cantik sekali Sakura." Ia mendudukanku pada sebuah kursi tinggi.
"Benarkah?" Aku menatapnya melalui kaca di hadapanku, beberapa bola lampu mengelilingi pinggiran bingkainya. Ayame mengangguk antusias,"Naruto pasti akan pangling melihatmu, belum lagi aku membubuhkan make-up di wajahmu, dia tidak akan berkedip."
"Menurutmu begitu?" Aku tersenyum geli karena membayangkan wajah Naruto yang terkejut. Aku jadi ingin mendengar pendapatnya tentangku hari ini.
Ayame selesai mendandaniku, wajahku tidak diberi dandanan yang mencolok, karena hari ini kami akan melakukan sesi foto diluar ruangan. Rambutku dibiarkan terurai, dan dikepang setengahnya lalu diberi mahkora bunga warna-warni. Sambutan Kabuto menyapaku ketika aku tiba di tempat kami akan melakukan pemotretan (aku merasa seperti seorang model). Naruto berbalik mendapatiku sudah berdiri di belakangnya, ia langsung berdiri dan aku menyapanya canggung.
"H-hai." Ia menelitiku dari atas ke bawah, bawah ke atas. Aku merasa risih, apakah penampilanku begitu buruk hingga ia tidak berkata apapun? Kabuto langsung menyuruh kami siap pada posisi masing-masing. Awalnya kami tidak mengalami masalah apapun, sampai saat kami harus melakukan kontak lebih dari sekedar berpegangan tangan. Oke, aku pernah hampir memeluk Naruto saat berdansa, tapi melakukannya dua kali bukan hal yang mudah. Aku tidak boleh bersikap canggung atau Kabuto akan merasa heran dengan tingkah laku kami, Naruto terlihat agak panik namun dengan cepat ia kembali tenang. Kabuto mengkomandokan Naruto memeluk pinggangku dan menatap langsung ke kedua bola mataku. Ia menarik napas sejenak, kemudian meletakkan kedua tangannya pada pinggangku sebelum menarikku mendekat padanya, aku menahan napas saat perutku menabrak badannya, tanganku terangkat dan berhenti di udara. Demi Tuhan, demi apapun, aku merasa begitu malu, baru kali ini aku sangat dekat dengan seorang pria. Mukaku tertunduk, seolah ada beban yang menghalangiku menghadap padanya. Kabuto menyuruhku agar menatap mata Naruto, aku mengangkat wajahku, kedua bola mata berwarna biru jernih itu menatap lurus padaku, aku langsung kembali menunduk. Ya Tuhan, aku tidak sanggup berlama-lama bertatapan dengannya, perutku serasa berputar dan wajahku terasa menghangat. Aku memejamkan mata, merutuki diriku sendiri sampai sesuatu menyentuh daguku, begitu aku membuka mata aku melihat tangan Naruto menopang daguku agar wajahku terangkat dan berhadapan dengannya. Tatapan matanya melembut membuatku rileks, bunyi shutter kamera terdengar sesudahnya, Kabuto mengarahkan kami keluar rangan. Aku langsung mendahului Naruto karena aku merasa sangat malu, tapi ia mensejajarkan dirinya di sampingku laku berkata,
"Kau sangat cantik hari ini."
Mukaku terasa panas, aku berpaling menyembunyikan wajahku,"terima kasih."
Kali ini kami diberikan payung berwarna oranye. Aku dan Naruto melakukan beberapa pose, sama seperti di awal kami tidak mengalami kesulitan apapun, hingga Kabuto menyuruh kami bersembunyi dari kamera di balik payung lalu berciuman. Aku tidak tahu apakah Kabuto berniat mengerjai kami atau dia memang bersungguh-sungguh. Kami tidak mungkin menolak, tidak ada pasangan yang akan menikah yang menolak berciuman di foto pernikahan mereka. Sisi positifnya, Kabuto tidak mengharuskan kami berciuman tepat di depan matanya. Naruto menatapku, aku mengangguk kecil mengijinkan karena aku tahu ia mengkhawatirkanku. Lengannya yang berhiaskan lipatan kemeja putih pada sikunya mengarahkan payung menutupi kami dari Kabuto, jantungku berdegup kencang seperti ingin meletus, aku menutup mataku erat. Aku merasakan terpaan napasnya pada kulit wajahku, tapi aku tidak merasakan bibirnya pada bibirku. Ketika aku membuka mata wajah kami terpaut beberapa inci. Aku terpaku, tidak mendengar teriakan Kabuto yang menyudahi pemotretan. Naruto sudah menarik kembali wajahnya menjauh, dan aku masih terpaku, haruskah aku kecewa? Ah! bukan karena aku inigin dicium! Hanya saja... Entahlah...
Aku kembali tersadar dari lamunan masa lalu, kaget mendapati diriku menggali ingatan dalam alam bawah sadarku sampai aku tidak menyadari ibu sudah duduk manis membaca majalah di sampingku. Tak mau membuang waktu lama aku langsung melakukan kegiatanku. Setelah memilah-milah, aku dan ibu menghabiskan waktu bersama untuk spa dan perawatan lainnya karena katanya kulitku harus terlihat cantik juga bersinar. Sejujurnya aku tidak terlalu memerhatikan hal itu, aku hanya memikirkan apa aku akan muat dalam gaun pengantin setelah memakan beberapa cemilan manis hari ini.
Memikirkan besok adalah hari pernikahanku membuat hatiku gelisah tidak karuan, besok akan menjadi hari yang besar bagiku! Dan berbicara tentang besok, kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi besok, entah itu hal yang baik atau buruk. Tapi aku berharap semoga saja besok menyenangkan...
.
.
.
.
.
.
.
TBC
