Chapter 6
Satu lagi koin ditelan. Namun mesin itu diam tak berkutik.
Riou mengusap keringat yang mengembun di dahi. Terik matahari masih menyengat meski sudah sore. Musim panas menjadikan es krim dan minuman dingin sebagai asupan penutup aktivitas. Tak berbeda dengan Riou. Selepas ekstrakulikuler basket, ia memutuskan untuk membeli minuman dingin; pilihannya jatuh pada orange juice. Sekaleng penyegaran sebelum mengikuti kelas tambahan nanti malam. Jujur, ia tidak mengerti kenapa sekolah mengadakan kelas malam kalau materi yang diserap olehnya akan berhenti di satu rumus dasar. Selebihnya pikiran Riou akan kembali pada basket. Mau lanjut turunan? Mustahil.
Berkali-kali telunjuknya menekan tombol jenis minuman, tetapi kaleng itu tak kunjung jatuh berguling. Ada yang salah. Riou mulai memukul sisi samping mesin dengan telapak tangan. Tetap tidak ada hasil. Riou mengedikkan bahu, mungkin memang bukan harinya. Berbekal sisa koin yang menipis, Riou berniat singgah di minimarket.
Ketika berbalik, kedua alisnya terangkat melihat seorang laki-laki berjalan terhuyung-huyung ke arahnya. Laki-laki itu mengenakan kemeja putih bernoda merah-kecoklatan pada bagian lengan dan leher. Ia mencengkram jas gakuran hitam di tangan kanan, sepasang pantofelnya terselimuti debu dan bercak darah. Riou menemukan semburat lebam di wajahnya; bibir tipis itu terlihat lebih merah karena terluka. Pusat arah mata Riou tertuju pada satu linting tembakau di sela bibir laki-laki itu.
"Apa yang kau lihat, hah?!" gertak laki-laki berambut perak ini.
Riou menggeleng, wajahnya tetap tenang, "Tidak ada."
Laki-laki sepantaran Riou itu menyipitkan mata. Perhatiannya berpindah dari tombol-tombol vending machine yang saling menyala tak beraturan ke arah Riou secara bergantian. Secepat itu ia memahami situasi.
"Mesin ini memang sudah tua," ujarnya menggeser tubuh Riou, "dan cuma ada satu cara untuk mengatasinya," sambung laki-laki ini sebelum mengambil ancang-ancang.
Satu tendangan kuat mendarat di tubuh mesin hingga bergetar. Masih tak ada reaksi, laki-laki itu kembali menendang sisi yang berbeda. Tidak lama kemudian mesin itu berdengung panjang hingga satu kaleng cola jatuh siap diambil. Di luar rencana, tapi tak buruk juga.
Riou menatap laki-laki itu dengan kagum, "Terima kasih," dengan cepat Riou mengambil minumannya. Lapisan dingin tipis kaleng menyejukkan kelima jarinya.
"Kau punya korek api?" pertanyaan laki-laki itu membuat Riou segan untuk minum. Ia hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Tsk! Tidak berguna!" Sahutnya jengkel, gigi laki-laki ini menekan-nekan busa filter tak sabar.
Melihat itu, Riou menyodorkan sesuatu dari saku celana,"Apa ini?"
"Permen karet, mint. Lebih baik daripada rokok." Jawabnya tersenyum kecil.
"Aku butuh korek api, bukan omong kosong."
"Aku tidak punya. Aku tidak merokok."
Laki-laki itu memutar kedua bola mata sebelum menangkap nama dan lambang sekolah Riou. Ia mengamatinya dengan seksama.
"Pfft, sekolah elit. Tentu saja." Cibirnya menoleh ke arah lain.
Merasa tidak enak, Riou kemudian bertanya, "Apa kau haus? Aku bisa membeli minuman lagi untukmu. Aku juga bisa… menendang."
Perlahan, laki-laki itu menarik kedua sudut bibirnya. Senyuman itu melebur jadi dengus tawa. Ia bahkan tidak sadar jika rokoknya jatuh begitu saja. Sungguh menggelikan melihat betapa seriusnya raut wajah Riou ketika menawarkan minum.
"Untuk apa? Secara teknis ini milikku, dasar bodoh." Katanya mengambil kaleng cola dari genggaman Riou.
Dia membuka pengaitnya, lalu meneguk dengan keras. Riou menyaksikan dalam diam –dengan bibir setengah terbuka.
Satu desah lega mengakhiri tegukan laki-laki ini.
Ia mengembalikan kaleng itu pada Riou, "Wajahmu menyebalkan," katanya menyeka bibir merah yang membuat Riou nyaris tidak berkedip.
Tiba-tiba ia menghela napas. Tangan kanannya merangkak memijat bahu yang pegal, "Aku heran. Kau ini bertemu mesin tua saja sudah kewalahan, bagaimana jika kau menghadapi masalah yang lebih besar?" gerutu laki-laki itu berjalan melewati Riou.
Ia pun berlalu, berjalan ke arah matahari tenggelam. Riou hanya berdiri tanpa menoleh. Satu jawaban menggantung di ujung lidah. Riou sudah mempersiapkan alasan tetapi amat sulit diutarakan.
Akhirnya, ia hanya mengusap bagian kaleng yang sempat disinggahi bibir tipis itu dengan ibu jari.
Minumannya tak dingin lagi, isinya tak penuh lagi, tetapi laki-laki kelas 3 SMP itu meminumnya hingga tak tersisa. Menelan habis jawabannya.
Tidak terduga.
Sejak hari itu, Riou menemukan jalan pulang kedua. Kakinya selalu melangkah melewati toko yang memiliki vending machine tua. Bukan penganut konsep keberuntungan maupun kebetulan, melainkan jika memang benar dunia adalah lingkaran, tidak ada salahnya jika ia sedikit berharap untuk bertemu laki-laki berambut perak itu sekali lagi. Sejujurnya, kalimat perpisahan yang diucapkannya sangat membekas dalam benak Riou.
Tepat di tahun berikutnya, waktu pun mengabulkan permintaan Riou.
Ia tidak bisa menahan rasa senang saat menemukan laki-laki itu tengah berdiri di antara siswa-siswa yang mengikuti upacara penyambutan anak didik baru.
Kini, mereka satu sekolah.
Dan dengan satu tirai yang sudah tersingkap, Riou berkesempatan untuk melihat lebih jauh.
Kira-kira… 'Siapa namanya?'
'Apakah dia satu kelas denganku?' Lalu—
"Dia bolos lagi? Belakangan ini aku jarang melihatnya…"
"Apa dia baik-baik saja?" Suara Arisugawa Dice –anggota klub basket membuat Riou tersentak. Ia kembali ke dunia nyata. Dua orang itu berdiri di depan loker masing-masing.
"Arisugawa," sapa Riou menggerakkan tangan, pura-pura menata barang.
Dice hanya tersenyum sekilas lalu melipat kedua tangannya di dada, "Terlalu jelas."
Riou menutup lokernya setelah mengambil handuk bersih. Hari ini latihan cukup melelahkan, Rei menyarankan pola penyerangan baru dan semua pemain harus beradaptasi dari awal lagi.
"Apa?"
"Ada sesuatu –ups seseorang yang memenuhi kepalamu," jawabnya sambil menunjuk pelipis dengan dua jari.
Riou terdiam sesaat, kemudian berjalan melewati Dice dengan tas menggantung di bahu. Masih dengan senyum jahil, Dice menyusul rekan setimnya keluar ruang klub basket.
"Kau pasti bertanya, Ke mana dia? Apa dia sakit? Jika iya, apa yang harus aku lakukan? Benar 'kan?" Tebak Dice melangkah beriringan dengan Riou melewati koridor sekolah.
"Tidak." Jawab Riou menatap lurus ke depan.
"Kalau tidak, kenapa hari ini coach menyuruhmu duduk di kursi cadangan?"
"Aku hanya belum bisa menyesuaikan ritme permainan," sanggahnya terdengar ragu.
"Ini pertama kalinya lho~"
Naluri Riou untuk mengalihkan pandangan ke arah lain pun membuat Dice bertambah yakin, "Kan, apa kubilang."
"Apa yang terjadi di antara kalian berdua?" sambung Dice.
"Kami bertengkar dan dia pergi." Riou berkata dengan raut menyesal.
Dice tak langsung merespons. Ia berpikir sejenak.
"Sudah coba mengajaknya bicara lagi?"
Riou menggeleng, "Bagaimana caranya? Ia mungkin membenciku."
"Sederhana. Caranya dengan bertemu langsung dengannya. Kau tahu…bertatap muka." Kata Dice menatap telapak tangannya seakan ada wajah Samatoki di sana.
"Maksudmu, aku harus melempar bola basket ke arahnya lagi?" pertanyaannya membuat Dice berhenti melangkah. Begitu pun Riou.
"Hey, bukan begitu. Walaupun insiden bola basket memang ideku, tapi—itu berhasil 'kan? Ya, itu benar-benar berhasil!" Protesnya membela diri.
Bibir Riou membentuk senyum datar, "Waktu itu aku hanya beruntung karena Samatoki benar-benar datang. Jika yang datang Jyuto atau orang lain, aku tak tahu."
Dice menyikut lengan Riou, "Yang jelas itu lebih dari keberuntungan, sebuah strategi perhitungan seperti berjudi."
Riou memilih diam, tetapi wajahnya masih tak puas.
"Begini. Setelah kejadian itu, kalian membuat kesepakatan. Berangkat dari makan siang, tutor gratis, sampai training camp, apa kau tidak sadar jika sudah sedekat itu? Dan kau mau mengakhirinya begitu saja? Apakah semua ini hanya sebuah lelucon?"
"Aku sudah tidak punya alasan untuk bertemu dengan Samatoki, Arisugawa."
Pelan-pelan Dice tersenyum, "Bukankah ingin bertemu juga termasuk alasan?"
Laki-laki itu sontak menggerakkan kedua tangannya ke segala arah, "Mungkin itu terdengar bodoh, tapi kau tahu apa yang ingin aku katakan."
"Ya, aku mengerti," Riou menahan napas, "Tapi, aku belum siap."
"Seluruh kekhawatiranmu tidak punya kemungkinan 50% untuk terjadi," kata Dice.
Riou menatapnya bingung, "A-Aku mengutipnya dari brosur pengobatan alternatif." Ujarnya kemudian.
Ia pun mengangguk, "Pelan-pelan," lirih Riou mulai mempertimbangkan saran dari rekan setimnya.
"Tidak bisa."
"Kenapa?"
"Kau harus memutuskannya lebih cepat karena aku melihat Samatoki di ujung koridor." Ia menunjuk Samatoki yang berdiri membelakangi mereka.
"Sebaiknya aku putar ara—" Ucapan Riou terpotong saat Dice menarik leher baju olahraganya kurang dari satu detik sebelum ubah haluan.
"Hey! Jangan kabur! Ini kesempatanmu!" sergah Dice tersendat-sendat akibat menahan tubuh Riou yang ingin melepaskan diri.
Riou menatap Dice dengan alis menukik seakan berkata, Kau yakin? Dice membalasnya dengan anggukan agresif tanpa berkedip.
"Cepat!" Kedua tangan Dice mendorong punggung lebar itu agar maju duluan.
Di setiap ayunan kaki, Riou semakin bingung bagaimana harus bersikap. Ia tidak mungkin menyapa Samatoki seolah tidak terjadi apa-apa, di lain sisi Riou tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Detak jantungnya terpacu, meletup-letup; ia sedikit takut.
Laki-laki yang menjadi pusat perhatiannya itu menoleh ke arah kiri. Tangannya terangkat lalu mengayun seolah memberi tanda.
Langkah kaki Riou terhenti begitu melihat seseorang yang Samatoki sapa.
Ichiro.
Laki-laki berambut hitam itu berlari menuju Samatoki. Tangannya membawa tas yang mengkeluk; itu tas gitar hitam. Ichiro lalu memberikannya pada Samatoki. Dari jarak sejauh itu pun Riou bisa menebak jika benda tersebut adalah semi-hollow body merah, gitar yang Samatoki impikan. Rasa percaya dirinya luruh melihat wajah bahagia Samatoki, ia bahkan tertawa. Sudah lama Riou tidak mendengarnya, ia merindukannya.
Dadanya semakin sesak ketika Samatoki memeluk Ichiro tanpa ragu. Walaupun dalam satu garis pandang, Riou merasakan ada sekat tebal yang memisahkan tempat mereka berdiri. Samatoki dan Ichiro tengah tertawa dipayungi langit orange musim gugur—kontras dengan dirinya yang berdiri di antara dua ruang kelas tanpa cahaya.
Riou menggigit bibir bawahnya, genggaman pada tali tas menguat. Tanpa membuang waktu dan enggan merusak pertemuan mereka, Riou pun berbalik. Ia berjalan ke arah Dice. Melewatinya seraya bungkam.
Rasanya menyakitkan.
Dice yang ikut menyaksikan apa yang terjadi pun menghela napas lesu.
"Aku harus berhenti mengoleksi brosur."
-0-
Satu… dua… tiga!
"Kanpai!~~"
"Ini sudah gelas ketiga, kenapa kalian antusias sekali?" tanya Hitoya sambil menurunkan gelas besar bir di meja.
Rei menyenggol bahu Hitoya sambil berkata, "Kau harusnya lebih bersemangat, ini 'kan perayaan untukmu, Amaguni-Sensei," sudut bibirnya membentuk seringai tipis.
"Omong kosong! Perayaan ini terlalu cepat! Jelas sekali kalian cuma mau menguras isi dompetku." Keluhnya mendapat tawa dari guru-guru yang lain.
"Ah~ tidak usah banyak protes. Nikmati saja. Jarang-jarang Otome-san memberi lampu hijau." Balas Rei sebelum minum bir lagi.
Hitoya meralatnya langsung, "Dia tidak ada di sini, Amayado-Sensei. Dia hanya bilang setuju, lalu menghilang."
"Amaguni-Sensei, aku yakin Otome-san punya urusan yang lain. Ya, sesuatu yang lebih penting."
Seorang guru wanita tiba-tiba berkata, "Tapi, Amaguni-Sensei. Apa kau akan baik-baik saja? Aku dengar perjalanannya lumayan lama."
"Ada yang bilang empat jam," timpal guru yang lain.
"Bukan, katanya enam jam. Belum lagi kita 'kan belum tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya."
Hitoya sedikit terganggu dengan bahan obrolan ini, "Ada dua hal yang harus diketahui. Pertama, aku tidak sendirian, ada lima guru yang ikut menetap." Ia melirik keempat guru pria yang sedang membicarakan hal lain. Mereka hanya berjarak satu meja dari tempat duduknya.
"Kedua, kalian tidak berhak untuk berspekulasi." Sambungnya kemudian.
Rei tertawa singkat, "Astaga, santailah sedikit Hitoya. Sifat terlalu seriusmu itu bisa membuat murid-murid kabur…"
"Tutup mulutmu, Rei. Disiplin adalah nomor satu."
"Nah, kami khawatir tentang kedisiplinan-mu itu, Amaguni-Sensei," ucap wanita itu disambut gumam setuju guru-guru.
"Tunggu, sejak kapan kalian begitu perhatian padaku?"
"…Amaguni-Sensei, apa kau bisa langsung beradaptasi di sana?"
"Yah, mungkin. Aku akan berusaha."
"...bagaimana dengan sistemnya? Kurikulum? Atau menyesuaikan silabus dari awal?"
"Pastinya akan ada rapat besar lagi."
"…eh, bagaimana jika sekolah itu berhantu?"
"…ah~ aku jadi takut~"
"…siapa yang mau pesan yakitori lagi?"
"…kita kehabisan acar!"
"…padahal sebentar lagi kita akan sibuk untuk ulangan."
"…Amaguni-Sensei kau harus lebih berhati-ha—"
"BERISIK!"
Jakurai yang duduk paling ujung sontak menggebrak meja tanpa aba-aba. Satu petak ruangan reservasi itu hening seketika. Semua mata tertuju pada Jakurai yang perlahan mengangkat kepala dari posisi menunduk.
"Persetan dengan semuanya! Memangnya kenapa kalau suka es krim nato? APA MASALAHMU BERENGSEK!" serunya membuat orang-orang di sekitarnya menarik diri.
"Hahaha, Jakurai mulai ngelantur…" gelak Rei terhibur.
"KAU HARUS MAKAN BANYAK! DAN JANGAN MENDENGKUR TERLALU KERAS!"
Hitoya melebarkan matanya panik, "Siapa yang memberinya sake?! Sudah aku bilang kalau toleransinya sangat rendah …"
"Biar saya bantu Amaguni-Sensei," tawar Gentaro hendak bangun.
"Tidak, aku saja." Tolak pria itu.
Hitoya bergegas menghampiri Jakurai yang masih terbawa emosi. Ia menarik lengan Jakurai kemudian memaksanya berdiri. Tentu tidak mudah, Hitoya harus mengeluarkan tenaga ekstra ketika menahan beban Jakurai dengan dua tangan.
"Heh~ padahal pertunjukan baru akan dimulai." Kata Rei sedikit kecewa. Tanpa menghiraukan komentar Rei, Guru mata pelajaran Ekonomi itu lantas membopong Jakurai menjauh dari sana.
Suara-suara perbincangan guru semakin menyusut ketika Hitoya melarikan Jakurai ke kamar mandi. Pria itu membuka pintu dengan kakinya. Mereka masuk secara berantakan. Keduanya tidak ada yang duduk di kloset, tetapi sama-sama merosot di lantai. Hitoya sempat membuka bibir kloset jaga-jaga kalau Jakurai memuntahkan isi perutnya. Jakurai, di sampingnya masih meracau tak jelas, kadang memberinya gerakan tubuh yang tak perlu. Memukul, menendang, itu sudah biasa. Toh juga tak sadar dilakukan.
Jakurai menoleh ke arah Hitoya dengan penuh amarah yang mengendap lama. "Aku membencimu!" bentak Jakurai dengan suara cegukan di akhir kata. Sebaliknya, Hitoya menyambut penuh ketulusan. Ada sebuah kemakluman di sana.
"Yah, aku tahu. Harusnya kau menolakku sejak SMP." Punggung Hitoya kian nyaman bersandar pada dinding kamar mandi.
"Perayaan ini sangat konyol!" gerutu Jakurai menekuk kakinya frustrasi, diam-diam mengutuk betapa kecilnya kamar mandi itu. Maksudku, apa yang kau harapkan dari dua orang dewasa dalam ruangan sempit hanya untuk bicara omong kosong?
"Aku setuju."
Bukan sebuah kejutan. Jakurai memang memiliki hubungan buruk dengan minuman keras. Mereka bisa mengubah kepribadian yang tenang itu menjadi buas. Ketika sorot matanya menggelap, semua hal yang ada di hadapannya adalah mangsa. Saat semua orang mulai menjauh dan melindungi diri, Hitoya hanya akan tetap berdiri. Ia akan menggenggam tangan Jakurai. Menyelamatkan Jakurai, orang-orang, serta dirinya.
Kelopak matanya berangsur turun, tampak sedih.
"Jinguji-Sensei," panggil Hitoya lirih.
"JANGAN MEMANGGILKU DENGAN NAMA ITU, BAJINGAN!" keras suara Jakurai mengiringi tangannya yang mendorong bahu Hitoya keluar dari bilik kamar mandi.
"Dengarkan aku dulu."
"PERGI! DAN PERMALUKAN AKU SESUKA-" sebelum kalimat itu terucap sepenuhnya, Jakurai tiba-tiba membungkuk ke arah kloset. Desakan dari perutnya keluar dengan cepat, tanpa bisa ditahan.
Tangan Hitoya sigap menyingkap helai rambut Jakurai, mengulasnya ke belakang berharap tidak basah. Pria ini buru-buru merogoh saku kemeja, seingatnya ada karet gelang yang disimpan. Kemudian Hitoya mulai mengikat rambut Jakurai.
Pria bertubuh jangkung itu mulai tenang, ia kembali duduk dengan mengatur napas. Mata Hitoya terpejam dalam.
"Di saat seperti inilah, untuk pertama kalinya aku menyesal mengambil keputusan," bisik Hitoya mulai mengelus punggung Jakurai.
Ia ragu kalau Jakurai mendengar pernyataannya.
Ia juga ragu kalau ini waktu yang tepat untuk memberikan cincin dalam kotak beludru merah di saku celananya.
-0-
Jari telunjuk itu mengetuk permukaan meja tanpa irama, kedua matanya bergantian melirik arloji lalu pintu keluar yang dilalui Jakurai dan Hitoya. Gentaro mulai cemas. Jakurai belum kembali sedangkan ia harus bersiap pulang karena memiliki agenda mendesak lain.
"Apa yang mengganggumu, Yumeno-Sensei?" tanya Rei mencoba menjaga keseimbangan duduk.
"Saya khawatir dengan keadaan Jakurai-Sensei."
Pria berambut hitam itu mengangguk lembut, "Tenang saja. Dia tak sendiri, ada Hitoya."
Alis Gentaro menaut mendengarnya, "Amayado-Sensei…"
"Sebenarnya saya ingin sedikit lebih lama di sini. Akan tetapi tidak bisa, saya harus menyelesaikan laporan materi persiapan ulangan akhir semester." Ujarnya jujur sekaligus bimbang.
"Eh? Kau belum selesai membuatnya?"
Gentaro tersenyum sekilas, "Bahan materi saya punya porsi lebih banyak, Sensei."
"Heh~" sahut Rei memangku dagu.
"Saya juga tidak mau ketinggalan kereta."
"Mana mungkin. Oh, aku bisa memberimu tumpangan, Yumeno-kun…," ucap Rei sebelum terkekeh.
Arlojinya menunjukkan pukul 09.00 malam. Mau tidak mau Gentaro beranjak kemudian memakai mantel coklat dan syal ungu. Ia bersiap untuk pulang.
"Anda mabuk, Amayado-Sensei. Anda tidak boleh mengemudi. Akan tetapi terima kasih atas tawarannya. Selamat malam, semuanya." Ucap Gentaro memberi hormat. Ia sempat menulis pesan singkat kepada Jakurai untuk memastikan keadaannya. Semoga ia lekas membaik.
Langkah laki-laki itu diterangi lampu jalanan. Kendati kereta terakhir akan berangkat pada pukul 10.00 malam, Gentaro memilih datang lebih awal. Efisiensi waktu tanpa terburu-buru. Suasana jalan tidak terlalu ramai, toko-toko masih buka, segelintir orang setia melakukan aktivitasnya. Gentaro memasukkan kedua tangan ke saku mantel, fase pergantian musim menekan udara menjadi lebih dingin. Sudah saatnya untuk menyiapkan penghangat ruangan untuk menyambut turunnya salju.
"Eh? Bukannya itu Yumeno-Sensei?"
Telinganya berdengung menangkap suara. Namun, Gentaro tidak menghiraukannya.
"Yumeno-Sensei!" panggil seseorang dari arah selatan.
Gentaro spontan menoleh. Ia menemukan seorang laki-laki berkacamata berjalan ke arahnya.
"Iruma-kun?" sapa Gentaro setengah heran, setengah terkejut. Jyuto baru saja keluar dari toko buku lengkap dengan seragam yang masih melekat.
"Selamat malam, Yumeno-Sensei," sapanya.
Gentaro membalasnya pelan, "Kau belum pulang?" sedetik kemudian ia menyadari betapa bodohnya pertanyaan itu.
"Saya sudah selesai les dan beli beberapa buku, jadi saya pikir ini waktunya pulang," jawabnya tersenyum seolah tidak menghakimi pertanyaan Gentaro.
"Ah, begitu, rajin sekali. Oh ya, seingatku halte bus terdekat hanya berjarak dua blok dari sini."
Jyuto menggeleng singkat, "Saya tidak naik bus."
"Lalu?"
"Kereta."
Gentaro tertegun, mereka memiliki tujuan yang sama. "Kebetulan sekali. Kita bisa berjalan ke sana bersama kalau kau mau," tawarnya kemudian.
Kini giliran Jyuto yang tampak lega. Namun, ia memastikan sekali lagi, "Tidak apa-apa, Yumeno-Sensei?"
"Ayo, kau tidak mau ketinggalan kereta 'kan?" ajaknya tak menjawab pertanyaan. Jyuto pun bergegas menyusulnya,"Terima kasih, Yumeno-Sensei."
Gentaro melirik tas jinjing penuh buku yang Jyuto bawa, "Apakah itu buku persiapan kuliah?"
Jyuto tertawa pelan, "Iya, benar. Saya mau mempersiapkannya lebih awal. Saya tidak mau kalau nanti belajar dengan tergesa-gesa."
Jawaban itu mengaktifkan suara 'klik' dalam kepala Gentaro. Matanya mengerjap dua kali.
Gentaro mulai memasang atensi lebih pada laki-laki ini. Menurutnya, Iruma Jyuto adalah murid yang memiliki struktur rencana sistematis sangat ketat. Ia harap Jyuto tidak terlalu keras pada diri sendiri.
"Hmm, Iruma-kun. Tidak ada yang salah dengan prioritasmu. Tapi kau boleh untuk sedikit bernapas lebih leluasa."
"Bernapas… leluasa?"
"Belilah komik dan majalah hobi untuk selingan, aku takut rambutmu akan memutih lebih cepat." Ucapnya serius.
"Saya mengerti. Saya juga membeli buku fiksi dan psikologi. Tapi terima kasih atas sarannya, Sensei," papar Jyuto menyipitkan mata.
"Kau tertarik dengan psikologi?!" Gentaro menyahut antusias.
Mendadak Jyuto menyesal telah berkata seperti itu. Ia terlalu cepat bereaksi.
"Uh, yeah, Bukan hal besar. Saya ingin lebih bisa bersikap dalam memahami orang lain. Terutama tentang... perasaan mereka."
"Memahami perasaan? Sangat spesifik."
Tiba-tiba Gentaro menghentikan langkah kakinya. Jyuto ikut berhenti. Gentaro condong menghadap Jyuto, kedua mata itu menatapnya lekat-lekat.
"Apa kau menyukai seseorang, Iruma-kun?"
Seketika Jyuto menahan napas. Tubuhnya menegang, begitu pun tautan tangan pada tali tas. Reaksi yang muncul terbaca jelas oleh gurunya. Ia sudah tertangkap basah.
"Sa..Saya…," mulut Jyuto kaku saat hendak menjawab. Jujur pikirannya kosong, ia tidak tahu harus bicara apa.
Dua detik berikutnya Gentaro tertawa, "Aku bercanda, Iruma-kun."
"Astaga, maafkan aku. Kalaupun iya, aku bahkan tidak punya hak untuk tahu." Ia menepuk bahu Jyuto beberapa kali.
Seperti lepas dari lilitan rantai, Jyuto pun bebas. Dia tidak jadi tertangkap basah.
"Tapi aku bukanlah orang yang punya rasa toleransi tinggi."
"Maksud Yumeno-Sensei…"
Gentaro mengangguk kecil, "Kalau sampai kau melamun di kelasku karena memikirkan orang yang kausuka maka kau harus menulis sepuluh sastra era lama, Ketua."
Jyuto dengan hidung yang menghangat berkata, "Yumeno-Sensei, saya janji tidak akan melamun," menatap lurus bola mata Gentaro. Nadanya tegas dan lugas; sungguh percaya diri. Terlihat uap tipis keluar dari bibirnya.
Klik! Untuk kedua kali.
Sejujurnya, cukup mengesankan. Rasanya Gentaro dapat memegang kata-kata Jyuto erat-erat.
Gentaro menutup matanya sejenak sebelum melepas syal hati-hati.
Bahu Jyuto mengencang saat Gentaro mulai melilitkan syal ungu tua itu ke lehernya, "Yumeno-Sensei?" panggil murid ini heran.
"Maa, uso desu yo. Aku yakin kau bukanlah orang yang suka melamun," ucap Gentaro lembut. Sebuah kehangatan mengalir dalam dada Jyuto saat mendengar ucapan gurunya.
"Sebentar lagi evaluasi akhir semester, Iruma-kun. Jangan lupa jaga kesehatanmu."
Pria itu menegakkan badan, kembali berjalan. Lebih cepat. Jyuto masih terbeku di posisinya.
Meski hanya dikelilingi remang cahaya lampu jalanan, Gentaro berhasil menangkap wajah Jyuto yang memerah.
Bukan karena sejuk malam atau hangat syal pastinya.
Gentaro mati-matian menahan kedua sudut bibirnya agar tidak tersenyum.
Astaga, mungkin Gentaro terlalu banyak minum bir.
-0-
Desember pekan ketiga.
Samatoki duduk di deretan loker landai dekat jendela ruang klub band. Sambil bersila, ia menyetem gitar akustik. Berkali-kali memutar tunel, ia hanya dapat nada sumbang yang sama. Jemarinya tak bekerja sesuai perintah otaknya, mungkin juga gitar itu sudah terlampau tua. Menyerah, Samatoki menyingkirkan kembali alat musik itu ke sisi lain.
Sebuah pemandangan biasa ketika siswa-siswa menyambut bahagia usainya evaluasi akhir semester. Akan tetapi tidak dengan Samatoki. Perasaannya serupa dengan langit kelabu saat ini.
Sesuatu terjadi. Pesan singkat dari Riou ia dapat tiga hari sebelum ujian. Riou berkata bahwa ia tak perlu repot-repot untuk memberinya tutor karena laki-laki itu sudah mengikuti les tambahan. Keesokan harinya, Samatoki menemukan tumpukan buku catatan dan referensi yang selama ini ia pinjamkan di atas meja. Hanya buku. Tanpa pesan, tanpa salam.
Ia menghela napas. Mengapa ia begitu kecewa? Mengapa rasanya seperti perpisahan?
Perlu waktu banyak bagi Samatoki untuk membiasakan diri. Sangat sulit, ia akui itu. Berat bagi Samatoki untuk menghindari Riou yang berjalan melewati kelasnya. Berat untuk sekadar memalingkan muka ketika berada di depan gymnasium. Berat untuk menghapus semua riwayat panggilan maupun pesan singkat mereka berdua. Samatoki tahu, Riou membencinya; ia harus segera menerima.
Pintu ruang klub terbuka. Sasara datang sembari mengusap kedua telapak tangan demi menghangatkan diri. Sasara sempat tertegun saat melihat ekspresi putus asa Samatoki.
Ia pun mendekat.
"Samatoki! Kita satu kelas lagi, loh!" Sapa Sasara mencoba menghibur.
"Baguslah. Tidak ada yang berubah,"
Laki-laki itu duduk di sebelah Samatoki, "Dan tebak siapa yang mendapat peringkat kedua paralel kali ini?"
"Kau lagi!" Samatoki bergeming. Pandangannya mengarah keluar jendela.
Jeda hening menemani mereka berdua sejenak.
Perlahan, Sasara tergerak untuk mengubah posisi duduk menghadap Samatoki, ekspresinya melembut, "Hari ini sangat dingin ya, Samatoki?"
Pertanyaan itu sanggup mengubah pandangan Samatoki menjadi ke arahnya, "Ya. Dingin dan menyesakkan." Katanya lebih mirip bergumam.
Menyesakkan, ulang Sasara dalam hati. Sudah beberapa kali ia menemukan Samatoki mengisi waktu kosong dengan merenung, wajahnya pun terlihat letih dan murung. Sasara jarang melihat binar jernih pada mata ruby itu. Sasara paham, Samatoki sedang menghadapi patah hati yang …. entah keberapa setelah kepergian ibunya.
"Berakhir." Desis Samatoki masih terdengar oleh Sasara.
"Berakhir?"
"Sudah berakhir."
Tangan Sasara naik, menepuk lutut Samatoki, "Kamu hanya jujur tentang perasaanmu dan itu tidak membuatmu seperti orang bodoh."
Samatoki mendengus, "Aku merusak semuanya."
"Seperti kata orang-orang, kamu harus mencium laki-laki yang salah untuk tahu mana yang benar," kemudian Sasara menggeleng, "Tapi aku tahu kamu tidak menciumnya, jadi entah itu berlaku atau tidak."
Dia menciumku, kami bercumbu. Aku hanyut, dan anehnya … aku tidak mau kami berpisah, kata Samatoki dalam diam, kepalanya menunduk semakin resah.
Ia menambahkan, "Apapun jawaban dia, kita tetap tidak punya hak untuk memaksa, iya 'kan?" nada bicara Sasara merendah tenang.
Samatoki mendesah pasrah, tidak ada pilihan selain menyetujuinya. Di sudut hati kecilnya, Samatoki sama sekali tidak merasakan kelegaan.
"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Samatoki tak sabar.
"Bagaimana jika kita lihat sisi baiknya?" Nada bicara Sasara kembali normal, mereka naik beberapa oktaf, "Saking seringnya kamu murung, kamu melupakan hal-hal yang sudah terjadi. Band kita lolos seleksi pertama, awal yang bagus 'kan? Kamu juga mendapat peringkat dua paralel lagi dan—terima kasih Tuhan—tidak ada kelas tambahan selama libur musim dingin. Ah~ aku yakin kamu juga nggak tahu kalau Busujima Mason bisa masuk peringkat 20 besar paralel."
Kedua mata Samatoki melebar tidak percaya, "Apa katamu?"
Bibir Sasara mengatup seketika, "Oh! Keceplosan!" Rutuknya dalam hati.
Samatoki terdiam. Ia teringat dengan perjanjian terakhir mereka. Kali ini Riou menang taruhan. Ia berhasil meningkatkan nilai, hal itu berarti posisinya sebagai pemain utama tim basket masih aman. Dan Samatoki harus membayar janjinya secara kontan.
"Nggak-nggak, lupakan itu. Kita ngomongin yang lain." Sedikit canggung, tetapi Samatoki tetap mengangguk.
Sasara mengambil napas dalam, "Sejujurnya, aku mau 'cuti' latihan band untuk dua minggu." Katanya memberi gestur mengutip dengan kedua telunjuk.
"Apa maksudmu? Kau bilang band kita lolos seleksi, seharusnya kita—"
"Aku mau pulang ke Osaka, menghabiskan liburanku di sana. Itu pembelaanku," Samatoki mengangkat tangannya sedada, menuntut penjelasan lebih. "Papan ski-ku sudah lama menganggur di rumah. Aku nggak mau melewatkan—oh! Apa kamu mau pergi ke Osaka bersamaku, Samatoki-sama?"
"Tidak bisa. Aku harus mengunjungi ibuku." Samatoki menjawab dan langsung dimengerti oleh Sasara.
"Ah, begitu ya. Tenang saja! Aku berjanji akan membawakanmu daifuku mochi yang banyak." Samatoki menanggapi dengan menaikkan kedua alis.
Keduanya menyandarkan punggung secara bersamaan.
"Kau tahu Samatoki, dengan kamu fokus dengan hal lain seperti band atau sekadar menikmati hari libur, menurutku itu adalah bentuk distraksi yang positif." Ungkap Sasara kembali pada topik sebelumnya.
"Kata seseorang yang mau melarikan diri ke Osaka," sindiran Samatoki membuat Sasara tertawa pelan, "Hey, sedikit istirahat tidak akan memperburuk keadaan. Kemudian, ketika kamu sudah pulih dan siap, kamu bisa mulai memperbaikinya… lagi." Paparnya.
"Bisakah kita kembali pada papan ski-mu yang lama menganggur?"
"Bisa, setelah kamu menanggapi saran paling jeniusku."
Bola mata Samatoki memandang Sasara dengan cemas, "Bagaimana kalau aku… gagal?"
Sasara menyambutnya dengan tersenyum tipis, "Aku tidak bisa memutuskan, Samatoki. Menyerah atau melangkah maju, kamu boleh memilih."
Hanya ada satu masalah. Samatoki bahkan tidak bisa menempatkan dirinya dalam posisi nyaris menyerah atau siap melangkah. Mungkin karena ia belum mencoba ambil keputusan. Mungkin masih ada kesempatan. Belum, sepertinya belum terlambat.
Samatoki menelan ludahnya.
"Sasara?"
"Ya?"
"Kapan pertandingan basket antar sekolah musim dingin di mulai?"
To be continued.
Note:
Finally bisa update! Hahaha /elapkeringet
Setelah melewati masa kritis(?) aka kekurangan asupan, akhirnya bisa pelan-pelan lanjut!
Terima kasih pada semua readers yang sudah menunggu ff ini dengan sungguh amat sangat sabar sekali, terima kasih sekali! Tolong ... jangan bunuh saya huhuhu /sobs
thank you for giving me support all this time, I really appreciate the feedback! thank you for keeping this little fire 'alive'
ILY! Sampai jumpa chapter berikutnya~ 3
Terima kasih sudah mampir (ノ◕ヮ◕)ノ*:・゚✧
Ps. re-upload because I'm so dumb :'
