TsuNami
One Piece
Credit to : Eiichiro Oda Sensei
chapter 1: citrus
Zoro Memanjat tangga menuju Crownest atau ruang pengintai, tangannya dengan mudah meraih tiap anak tangga diatasnya, Zoro bahkan bisa melakukan ini dengan kedua mata yang tertutup. Hal ini dikarenakan hampir setiap saat ia bolak-balik berada diatas sana untuk memenuhi tugasnya sebagai pengintai sambil berlatih dengan berbagai ukuran barbell baru yang disediakan Franky atau sekedar tidur siang disitu. Setibanya diujung anak tangga dengan sedikit paksaan ia membuka pintunya dan melangkah kedalamnya.
Ia melangkah meraih sebotol air minum di dekat pintu, menenggaknya sampai habis. Ini adalah kebiasaan Zoro sebelum memulai latihan. Setelah itu ia akan melakukan sedikit pemanasan barulah kemudian ia melakukan latihan rutinnya. Mengangkat barbell atau melakukan push up dengan hitungan harus lebih banyak dari hari sebelumnya. Barbell dan push up adalah latihan yang baik sebagai seorang pendekar pedang agar setiap tebasan memiliki tenaga dan kecepatan yang akurat.
Kali ini Zoro memutuskan untuk mengangkat barbell. ia berjalan kearah barbell besar yang terletak ditengah ruangan. Ia mengangkat barbell itu dengan kedua tangan dengan mudahnya, seakan barbell itu seringan botol minumnya yang sudah tergolek habis dilantai baja. Ia menyiapkan posisinya dan mengangkat barbell itu lebih tinggi melampaui kepalanya dan mulai berhitung untuk mengalahkan rekornya kemarin, seribu lima puluh kali angkat.
"satu... dua... ti... " belum sempat Zoro menyelesaikan hitungan ketiganya, ia terkejut ketika merasakan sesuatu yang basah terjatuh ke ujung hidungnya.
Zoro melepas tangan kirinya dari pegangan barbell dan dengan jari telunjukkan mengelap cairan itu, memperhatikannya, sesuatu yang bening dan sedikit lengket. Zoro mencoba menciuminya namun tidak mengenal bau menyengat yang menguap dari cairan itu. Baru pertama kali ini Zoro menciumi bau cairan seperti itu. Kali ini ia mendekatkan cairan itu ke bibirnya, dan dengan ujung lidahnya mengecap sedikit cairan tersebut. "Rasa aneh apa ini." pikirnya yang juga baru pertama kali menemukan rasa seperti itu.
Zoro merendahkan barbell sejajar dengan kedua matanya dan memastikan asal cairan itu adalah dari gagang barbell yang sedang diangkatnya dan bukan dari atap. Zoro meletakkan barbell besarnya. Pandangannya terfokus pada lantai tempat ia meletakkan berbellnya, cairan yang sama terlihat sedikit membasahi lantai. Zoro mengernyitkan keningnya, ini pasti kerjaan iseng Luffy atau Usopp yang ingin mengerjainya, "akan kutangkap kalian." demikian pikir Zoro.
Tapi sebelum menangkap mereka, Zoro memutuskan untuk terlebih dahulu membersihkan lantai dan melanjutkan latihanya. Zoro mengambil kain pel di dalam lemari dan mulai membersihkan sisa kejailan Luffy atau Usopp. Setelah ia merasa lantai cukup bersih, Zoro kemudian melanjutkan latihan mengangkat barbellnya yang tertunda. Kali ini berhasil mencapai seribu enam puluh dua.
~O~
"Addaawww! Bukan kami pelakunya!" Usopp menjerit kesakitan saat Zoro menjitak kepalanya.
"Iwya Zowo kawi shedwari twadi hwanya wemancing ikwan di dwek swawping." Jawab luffy yang sedang dicubiti pipnya dengan tangan Zoro yang satunya.
Zoro diam sesaat mendengar jawaban Luffy. Di kru mereka, Luffy dan Chopper lah yang tak pernah dan tak bisa berbohong. Jika bukan mereka lalu siapa yang menumpahkan cairan itu di barbell miliknya?
~O~
Sebulan lebih berlalu sejak kejadian cairan aneh di barbell dan lantai tempat latihan Zoro. Ia bahkan sudah melupakannya dan kembali berlatih seperti sedia kala, melakukan push up atau mengangkat barbell hingga mengalahkan rekornya kemarin.
Seperti biasanya, ketika malam beranjak dan semua kru mulai bergerak ke atas ranjang masing-masing, Zoro justru melangkah keluar menerpa angin malam yang sejuk dan berjalan santai ke arah tempat pengintai. Aroma citrus dari jeruk yang ditanam Nami bercampur dengan aroma asin laut mengiringi langkah kaki Zoro. Ia selalu menyukai aroma itu, bahkan, pohon-pohon jeruk yang ditanam Nami merupakan salah satu hal yang disukai Zoro. Bukan hanya karena buahnya yang lezat, namun ketika sing hari matahari bersinar terik dan ruang pengintaian menjadi pengap, Zoro akan tidur siang diatas rumput dibawah pohon jeruk itu. Terlelap dengan aroma citrus yang entah kenapa selalu bisa membuatnya tenang.
Zoro mengangkat tubuhnya mantap ketitian tangga. Perlahan ia merangkak keatas, menuju tempat pengintaian.
"Hyaaan."
Zoro terkejut mendengar suara erangan pelan berasal dari atasnya, dari tempat pengintaian tepatnya. Zoro meningkatkan kewaspadaannya, bisa jadi penyusup telah masuk kedalam sana. Dengan cepat dan tanpa suara Zoro memanjat titian tangga hingga keujung. Dengan perlahan ia membuka pintu, menciptakan celah kecil agar bisa mengintip kedalam.
Sayangnya cahaya rembulan tiba-tiba tertutup awan dan Zoro tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang ada didalam. Ruang pengintaian memang dibiarkan gelap tanpa penerangan agar lebih mudah ketika mengintai objek jarak jauh disekitar kapal dan laut yang gelap. Cahaya dari dalam ruangan justru mengganggu sehingga satu-satunya penerangan hanyalah cahaya rembulan.
Tapi secara samar Zoro bisa melihat bayangan yang sedang bergerak ditengah ruangan, ditempat ia selalu meletakkan barbellnya. Bayangan itu bergerak dengan aneh dan sepertinya sedang sibuk melakukan sesuatu hingga tidak menyadari keberadaan Zoro. Dengan perlahan Zoro masuk kedalam tempat pengintaian, kemudian mengeluarkan pedangnya mengarah ke si penyusup.
Zoro berjalan disepanjang dinding yang gelap, si penyusup sedari tadi hanya memunggungi Zoro, sibuk dengan kegiatannya dengan gerakan-gerakan aneh diatas gagang barbell Zoro, si penyusup dengan nafas berat sesekali mengeluarkan erangan-erangan pelan.
Zoro melangkah semakin mendekat, kini ia tau siapa penyusup itu bahkan sebelum cahaya rembulan kembali terang dan memenuhi ruangan. Menghela nafas pelan Zoro menyarungkan lagi pedangnya dan berjalan ketengah ruangan sambil melipat kedua lengannya di atas dadanya, memandangi si penyusup, bukan, memandangi Nami yang sedang menggoyangkan pinggulnya maju mundur dibarbell Zoro.
"Ha-aaaaaaahhhhhh." suara erangan panjang dikeluarkan Nami dari bibirnya, kepalanya terangkat ketas dan matanya menutup erat, pipinya bersemu merah dengan peluh menutupi sekujur tubuhnya ia terlihat sedikit gemetaran. Baru pertama kali ini Zoro melihat Nami dengan ekspresi seperti ini. Membuat Zoro terkejut. Selama ini ekspresi yang dikeluarkan Nami dihadapan Zoro hanyalah ekspresi marah ketika meminta bayaran tagihan, atau ekspresi ketakutan ketika melawan musuh yang menyeramkan. Heh, Zoro menggeleng pelan, sejak kembali dari dua tahun yang lalu, sudah sangat jarang Nami menunjukkan ekspresi ketakutan dihadapannya, Nami telah menjadi wanita yang lebih kuat.
"apa yang kau lakukan?" Ucap Zoro datar.
Espresi Nami berubah total mendengar suara Zoro, refleks ia membalikkan badannya menghadap Zoro, kengerian tergambar jelas di wajahnya, ia tertangkap basah masturbasi di ruang pengintai, lebih parah, di barbell yang sehari-hari dipakai Zoro latihan.
Hal ini bukan tanpa alasan, Nami punya penjelasan cukup masuk akal mengenai kejadian ini. Sejak mengoleksi novel harlequin dan membaca romance dewasa yang disajikan cerita itu, Nami mulai mendambakan sesuatu yang tidak dimilikinya, membuatnya frustasi. Ia ingin melepaskan tekanan yang dirasakannya selama ini, tapi ia tidak memiliki pasangan, kekasih, apapun sebutannya itu untuk saling melepaskan hasrat. suatu hari ketika sedang membaca harlequin di ruang pengintai, ide itu terlintas begitu saja ketika ia melihat gagang barbell ditengah ruangan, menggodanya. maka tanpa sadar ia melepaskan hasratnya itu disana. yang justru membuatnya ketagihan.
Zoro mengulang pertanyaannya, "apa yang kau lakukan?"
Aroma yang dikenali Zoro sebulan yang lalu kembali menyeruak di indera penciuman Zoro, ia memandang barbell yang gagangnya telah basah oleh cairan yang sama sebulan lalu. Kemudia memperhatikan Nami dari ujung kepala hingga... Matanya tertuju ke celana bikini biru Nami yang juga telah basah oleh cairan yang sama. Bergantian ia mengalihkan penglihatannya dari kedua benda tersebut.
Terkejut bercampur malu memenuhi ekspresi Nami, ia sekera menutup penglihatan Zoro dengan menyatukan kedua lututnya.
Penuh rasa ingin tau, Zoro berjongkok menunduk, tangannya menahan tangan Nami diposisinya ketika Nami hendak mundur menjauh. Dengan tangan yang satunya lagi ia memaksa Nami memisahkan kedua lututnya, Zoro kemudian merendahkan kepalanya diantara kedua paha Nami, aroma yang sama menyengat penciuman Zoro namun aroma ini lebih segar dari yang pertama kali ditemukannya, tapi tetap sama, aroma yang memabukkan, membuatnya ingin terus menciumi aroma itu. Aroma yang membuat ketagihan seperti bensin yang digunakan untuk menjalankan mesin kapal, seperti citrus yang membuatnya betah berlama-lama dibawah pohon jeruk.
Membuat Zoro penasaran, bagaimana rasanya? Apakah rasanya akan sama seperti yang pertama kali ditemukannya? Atau akan berbeda karena aroma yang dikeluarkan lebih menyengat, namun lebih segar. Bagaimana rasanya.
Zoro memosisikan kepalanya semakin kedalam, bibirnya tepat dihadapan celana bikini Nami. Dengan perlahan Zoro mengeluarkan lidahnya yang tebal dan hangat kedaerah kewanitaan Nami tanpa menyadari apa yang dilakukannya sebenarnya. Mengabaikan getaran tubuh Nami.
Zoro hanya terdiam merasakan rasa yang sama namun diisi sesuatu yang berbeda. Ia sendiri bingung. Ia kembali menjilat kali ini dengan dorongan lebih, membuat Nami mendesah pelan. Mencium dan merasakan cairan itu membangunkan suatu dari dalam diri Zoro, membuatnya ingin menggeram, melakukan sesuatu, apapun itu untuk menghentikan tekanan yang sedang dirasakan Zoro dicelananya.
Nami dengan masih gemetaran mengepalkan tangannya merasakan sensasi lidah hangat Zoro di daerah sensitif miliknya, ia seakan bermimpi. Baru saja dari surga, ke neraka, lalu ke surga lagi dengan lidah Zoro yang terus menjilatinya. Hidung mancung Zoro tanpa sadar menyodok klitoris Nami, membuat Nami kembali mendesah panjang.
Zoro bangkit dari posisinya terkejut dengan suara kesakitan yang dikeluarkan Nami. Demi apapun Zoro tidak akan pernah menyakiti kru mereka, tugasnya untuk melindungi. Pikir Zoro yang berusaha mengabaikan perasaan lain dalam dirinya, perasaan mendamba, ingin lebih mendengar suara itu. Zoro mengernyit berpikir, mengingat ajaran yang dulu pernah diakatakan sensei padanya. Zoro kemudian duduk bersila menutup matanya dan berdiam di depan Nami. Meninggalkan Nami yang kebingungan.
"Kenapa idiot?" Ucap Nami tanpa sadar setelah kecewa dengan Zoro yang tiba-tiba berhenti membahagiakannya.
Zoro mengangkat satu alisnya tanpa membuka matanya jengkel mendengar kata idiot yang dilontarkan Nami, tapi akhirnya menjawab juga. "Menenangkan jiwa dari gangguan yang berkecamuk."
"Hah?" Nami mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
Zoro akhirnya membuka matanya, menatap Nami langsung ke kedua mata amber milik Nami. "Wanita tidak akan mengerti." Jawab Zoro.
"Hah?!" kali ini Nami yang jengkel, sepertinya Zoro lupa siapa salah satu kru paling pintar di kapal mereka. Nami bahkan mendapat julukan bajak laut wanita terpintar selautan. "Kalau kamu tidak bisa jelaskan dengan baik bilang saja bodoh!" balas Nami. Ia masih jengkel bahkan saat Zoro bukannya menjelaskan justru kembali diam menutup matanya dan berpikir. Nami akhirnya memutuskan mengabaikan saja dan berniat melupakan ini semua, ia beranjak keluar ketika Zoro tiba-tiba menyuruhnya berhenti.
Sedikit berharap namun masih menyisakan kejengkelannya Nami berhenti dan berbalik menghadap Zoro yang juga telah berdiri lima langkah menghadapnya. "Sejak masih di dojo," ucap Zoro ragu. Ia tidak pernah menceritakan masa-masa ketika ia masih di dojo pada kru lain. Yang selalu senang menanyakan masa kecilnya dan selalu senang mendengar ceritanya adalah Chopper. Zoro tidak pernah menjadi orang yang mulai membicarakan hal itu, tapi entah kenapa ia ingin membicarakan hal itu pada Nami, agar wanita keras kepala itu tidak salah pahan.
"Sejak masih di dojo, kami selalu diajarkan untuk fokus mencapai tujuan hidup kami dan menghindari hal-hal yang mengganggu yang membuat kami lemah." lanjut Zoro tenang. "Kau sudah tau pasti tujuanku adalah menjadi pendekar pedang terhebat dan mengalahkan Mihawk." Nami mengangguk pelan, jelas ia tau.
"Lalu ada hal-hal yang mengganggu, yang harus kami hindari ketika ingin mencapai tujuan kami." kali ini pandangan Zoro beralih kelantai menjauhi tatapan Nami, "Yang pertama adalah Harta. Harta yang berlebih akan membuat kami buta dan melupakan tujuan kami."
Walaupun kurang setuju dengan apa yang diucapkan Zoro, Nami tidak memberikan komentar apapun. Ia sejak kecil memiliki pengertian bahwa harta dan uang bisa mengabulkan apa yang kita inginkan dengan lebih mudah. Dengan uang, ia bisa membeli pulau dan menyelamatkan warga desanya. Meskipun ia juga sadar betul ada hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Zoro melanjutkan ketika melihat Nami hanya terdiam, "Yang kedua adalah kekuasaan. Kekuasaan yang tidak seimbang membuat kami serakah. Dan yang ketiga," Zoro terdiam sesaat sebelum menjawab kalem. "dan yang ketiga adalah wanita."
Nami memandang Zoro terkejut, hendak protes. Tapi Zoro lebih dulu melanjutkan, "Wanita bisa menggoyahkan keteguhan hati kami. Lebih mengerikan dari kedua hal sebelumnya. Sensei pernah bilang suatu saat kami akan berhadapan dengan ketiga hal diatas dan salah satu atau ketiganya akan sangat sulit kami hadapi." Zoro tertawa sebelum melanjutkan, "kedua hal pertama tadi, harta dan kekuasaan, aku sama sekali tidak tertarik. Kedua hal itu tidak pernah menggangguku."
"Berarti yang akan sulit aku hadapi adalah wanita." Zoro memandang lurus ke arah Nami, dengan suaranya yang berat, lirih ia berkata, "setidaknya sekarang aku tau kau kelemahan terbesarku."
Pipi Nami memerah meskipun ia tidak bisa memastikan ucapan Zoro adalah pujian atau hinaan.
"Aku harap sekarang kau bisa mengerti dan tidak salah paham sebelum menuntutku dengan tagihan-tagihan tidak masuk akal lainnya." jawab Zoro memalingkan badannya kearah teropong, mengakhiri percakapan mereka malam itu sepihak.
Nami yang merasa terusir melangkah keluar dari ruang pengintai dengan perasaan campur aduk.
Halo sylph here, salam kenal semua.
Bagimana ceritanya? suka? kurang suka? benci? silahkan tinggalkan komentar atau tebakan kalian apa yang akan terjadi selanjutnya, apakah Nami akan melupakan kejadian semalam? ataukah Nami memutuskan mengambil tindakan ceroboh dan mengganggu ketenangan jiwa Zoro? selamat berfantasi.
