TsuNami

One Piece

Credit to : Eiichiro Oda Sensei


Chapter 2 : A Game

Dengan jengkel Zoro mengelap lantai ruang latihannya. Sama seperti sebelumnya, yang Zoro bersihkan adalah sisa cairan Nami. Namun cairan ini bukan cairan yang sama dimalam ia menemukan Nami masturbasi di barbellnya, kejadian tersebut sudah lebih dari dua minggu yang lalu. Yang membuat Zoro jengkel adalah Nami bukannya berhenti sejak kejadian itu tapi justru terus melakukan hal tersebut, bahkan sekarang lebih sering, hampir tiap hari Zoro menemukan cairan itu menggenang lengket di barbell dan lantainya.

Frustasi, Zoro melempar kain pelnya, tidak peduli untuk membereskan bekas peralatan mengepelnya. Ia memilih menghilangkan kejengkelannya dengan melakukan pushup. Sensei memang benar, wanita hanyalah pengganggu jiwa, penyihir! Lebih parah lagi, wanita yang mengganggunya adalah Nami si kucing pencuri yang pasti punya banyak cara untuk membuatnya jengkel. Zoro bertekat untuk lebih meneguhkan hatinya dan menghindari Nami bagaimanapun.

Tapi sebenarnya Zoro lupa atau sengaja melupakan pelajaran lain yang diajarkan senseinya terkait ketiga hal yang mengganggu jiwa tersebut.

Pikiran Zoro lebih terpusat pada hal lain yang membuat Zoro jengkel, ia terlalu murah hati membiarkan Nami seenaknya menggunakan Barbellnya. Ia tidak bisa mengancam seperti yang sering Nami lakukan padanya, ia juga tidak bisa mengadukan Nami pada lebih parah lagi, Nami tetap bertingkah sama terhadapnya didepan kru yang lain. Tidak menunjukkan rasa takut atau penyesalan sekalipun sejak kejadian itu.

Ketika akhirnya Zoro berhasil melupakan kejengkelannya, ia sudah kehilangan hitungannya ketika suara si koki mesum memerintahkannya untuk makan malam.

~O~

Suatu malam, Zoro sedang senang. Usopp baru saja memberikan kursi lipat yang baru untuknya. Kursi itu cukup panjang dan bisa digunakan untuk tidur. mirip dengan kursi pantai milik Nami yang selalu dia gunakan untuk berjemur. Namun lebih bagus karena Usopp memberikan spon dikursi itu. Ia menaruh kursi tersebut disamping teropong agar ia bisa mengawasi sekitar sambil tiduran.

Malam itu seperti biasa, Zoro duduk mengintai. Ia membawa koran edisi hari itu beserta sebotol sake untuk menemaninya. Pandangannya fokus dilaut gelap yang tenang, cahaya bulan hanya samar-samar menerangi.

Tubuhnya tegang sebentar, ia bisa merasakan hawa seseorang disekitarnya. Tangannya refleks menyentuh pedangnya. Setelah menyadari siapa itu, ia kembali duduk diam memandang ke dalam teropong. Sebisa mungkin mengabaikan Nami yang telah masuk kedalam ruang pengintai.

"Wah, apa aku mengganggumu?" tanya Nami santai seakan menanyakan kabar cuaca hari itu. Zoro yang ditanya justru diam bersandar ke kursinya, masih mengabaikan Nami. "Bagus lah kalau tidak." Simpul Nami sekenanya.

Dari posisinya, Zoro bisa menentukan jarak mereka, ia tau Nami sedang berdiri di dekat barbell di tengah ruangan. Zoro juga bisa mendengar suara resleting yang ditarik turun. Eh?

Zoro berbalik terkejut sekaligus jengkel, "Oi, apa kau tidak bisa melihatku sedang berjaga?"

Nami tersenyum licik melepaskan celananya, "tadikan aku sudah tanya, apa aku mengganggumu?" Zoro mengernyit, ia tau apa yang hendak dilakukan Nami. Hal tu justru semakin membuatnya jengkel. Sudah berkali-kali ia harus mengelap sisa cairan Nami. Tidak lagi malam ini,"kau tidak ada habisnya ya? Kalau sudah selesai bersihkan sendiri cairanmu itu." Ucap Zoro dingin. Ia kembali membalikkan badannya menghadap keluar. Kali ini ia meraih koran, berusaha tenggelam di dalam berita itu, mengabaikan Nami yang mulai menggerakkan pinggulnya."Oh ya? Ku pikir kau akan menyukai hadiah itu mengingat pada awalnya kau menjilatnya dengan penuh kenikmatan."

Zoro menggeram, sampai mati pun ia tidak akan mengakui hal itu. Sialnya, indera Zoro yang sudah diasah jelas lebih peka dengan setiap gerakan dan suara disekitarnya. Dari posisinya, ia bisa mendengar gesekan kain bikini Nami dengan gagang besi barbellnya. ia menggengam pinggiran korannya dengan erat, membuatnya kusut, masih berusaha mengabaikan Nami. Namun tarikan napas Nami yang mulai memberat diselingi suara desahan tertahan membuyarkan konsentrasi Zoro sepenuhnya.

Ia juga tau, Nami sedang menatapnya, ia bisa merasakan itu. Ia tau Nami menunggu reaksi darinya, tapi ia tidak akan kalah. Biarkan saja penyihir itu mau melakukan apa, ia akan dengan sekuat tenaga melawan godaan Nami.

Sepuluh menit Nami menari di gagang barbellnya, suatu aroma yang dikenal Zoro mulai menyeruak. Aroma yang membuat Zoro pusing, namun sejujurnya membuat ia sedikit ketagihan. Ia bisa membayangkan rasanya, rasa yang unik, sulit untuk dijelaskan, tapi ia tidak membenci rasanya. Imajinasinya melayang jauh, ketika ia secara tidak sadar menjilati asal cairan itu, saat hidungnya dipenuhi aroma itu. Wajah Zoro tiba-tiba memerah merasakan celananya yang menyempit. Sialan kau Nami, pikir Zoro.

Zoro berusaha menjaga kontrol dirinya, ia meletakkan koran yang telah kusut digenggamannya, menutup kedua matanya, menjalankan latihan yang diajarkan gurunya. Zoro berkonsentrasi, menarik napas, menghirup aroma citrus, keringat dan aroma cairan Nami memenuhinya. Eh?

Zoro membuka matanya terkejut mendapati Nami telah duduk dipangkuannya. Memenuhi penglihatannya dengan dada penuh Nami dan rambut orangenya yang panjang. Zoro mendelik marah melihat seringai khas Nami, "apa yang kau inginkan?"

Nami menurunkan pinggulnya, duduk nyaman dipangkuan Zoro, menindih kejantanan Zoro, membuat Zoro membelalakkan matanya. Kini pandangan mereka sejajar. "aku sudah bosan dengan barbellmu Zoro." Ucap Nami dengan nada malas. Ia meletakkan kedua lengannya diatas pundak Zoro, senyumnya terkembang sempurna merasakan kejantanan Zoro.

"Bukan urusanku," Balas Zoro.

"Uhh-humm" senandung Nami tersenyum sambil menggerakkan pinggulnya ke kejantanan Zoro, mengantarkan sensasi baru disekujur tubuh Zoro hingga keujung jarinya.

"Kalau kau sudah bosan dengan barbell itu, gunakan saja benda lain, gagang panci atau kalau perlu gunakan saja hidung Usopp." Kata Zoro sedingin mungkin, mengabaikan debaran dicelananya.

"iiiiissshhh...! kau menyebalkan sekali!" sentak Nami. Ia merasa jengkel sekaligus jijik mendengar penuturan Zoro. Kebiasaan barunya itu, sekali lagi, bukan tanpa alasan. Ia bahkan punya alasan baru kenapa ia berkali-kali melakukannya disini, dan melakukan ini pada Zoro dan bukan pada yang lain. Sejak ia kepergok Zoro, Nami tidak bisa berhenti memikirkan si pendekar itu, bahkan ketika masturbasi, membayangkan Zoro justru semakin membuatnya bergairah. Ia ingin Zoro, ia ingin berada dalam pelukan Zoro. Dan ia ingin Zoro melakukan hal yang sama, hanya memikirkannya. Tapi ia tidak akan mengatakan yang sebenarnya, ia terlalu keras kepala untuk itu. Ia akan menggunakan taktik lain hingga Zoro bertekuk lutut dihadapannya. Setidaknya ia sudah memegang kartu bagus, ia adalah kelemahan Zoro. Cepat atau lambat sang pendekar pasti akan mengijinkannya jatuh kepelukannya.

Zoro hanya bisa terpaku menatap Nami yang jengkel, pipinya bersemu merah menggembung, bibirnya yang merah ranum mengerucut sebal. Sebutir keringat menetes dari dahi Nami, turun hingga keujung rahangnya seperti kristal bening. Zoro menahan diri untuk tidak menjilat tetesan itu.

"Aku datang untuk melakukan negosiasi." Ucap Nami sembari mengibas rambut panjangnya, melemparkan feromon yang kuat.

Zoro menatap curiga, satu hal yang ia pelajari tentang Nami, jangan pernah bernegosiasi dengan Nami, karena kau pasti kalah. Apalagi dalam masalah uang, ia bisa membuatmu mengutang hingga tujuh turunan. Apalagi bernegosiasi dalam posisi seperti ini, dimana Nami menggerakkan pinggulnya dengan erotis menekan-nekan daerah intim mereka bersamaan. Nami akan menang bahkan tanpa perlu mengatakan apapun, ia akan memaksa Zoro mengeluarkan segala hal yang dimiliki Zoro, termasuk iblis yang bersembunyi didalam celananya, ketakutan dengan kutukan yang akan dilontarkan penyihir Nami.

"Aku tidak punya apapun untuk dinegosiasikan." jawab Zoro, ia menelan ludah berat.

Nami tertawa lengking, "Bercintalah denganku." kali ini ia menekankan dadanya ke Zoro, pandangan mereka tak pernah lepas. Nami berusaha menebak ekspresi yang akan dikeluarkan korbannya.

"tidak mau." Jawab Zoro cepat dan santai, seakan-akan yang dia tolak hanyalah pengamen yang meminta uang dengan menjual suara murahan mereka.

Sedikit jengkel dan sakit hati dengan penolakan langsung Zoro, namun Nami tidak langsung main pukul seperti yang selama ini dilakukannya. Meskipun Zoro menolak tapi sejak tadi ia tidak juga menghentikan gerakan pinggul Nami atau menjauhi Nami, itu berarti permainan bahkan masih jauh dari garis finish. "Kenapa tidak?" tanya Nami kalem.

"Karena bukan mukhrim." Jawab Zoro asal.

"mu-muk apa?" tanya Nami kaget dengan jawaban Zoro.

"ck, itu istilah di alabasta untuk dua orang pria dan wanita yang tidak memiliki hubungan darah untuk bersama. Katanya mendatangkan dosa."

"kalau kau punya waktu untuk mengingat istilah aneh kenapa tidak kau gunakan untuk mengingat arah jalanan hah?" tanya Nami jengkel. "berikan aku alasan lebih masuk akal."

Zoro menghela napas, sejak tadi ia sebenarnya sudah pusing, bukan hanya dari permintaan Nami yang aneh tapi karena aroma cairan Nami yang menguar disekitarnya, seakan menghipnotisnya. Dan gerakan erotis Nami justru memperburuk batas kesadarannya. Dengan sedikit kasar Zoro menjauhkan Nami dari tubuhnya. Matanya menjauhi tatapan terkejut Nami, "Aku tidak mau Nami. Kau cari orang lain saja untuk kau ajak bermain!" Bentak Zoro keras. Zoro kali ini benar-benar kesal. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah Nami yang hanya terdiam, ia sebenarnya takut telah menyakiti Nami. Saat mengangkat pandangannya kali ini gantian ekspresi Zoro yang berubah terkejut saat melihat Nami menggigit bibirnya gemetaran menahan air mata yang membuat matanya terlihat berkaca-kaca. Zoro sadar telah membuat Nami menangis, menyakiti Nami. Sialan, Kutuk Zoro dalam hati.

Nami kini menutup wajahnya dengan kedua tangannya, air matanya mengalir deras. Yang menyakiti hatinya bukanlah karena Zoro membentaknya, tapi ucapan Zoro yang menyuruhnya bermain dengan pria lainlah yang membuatnya sakit hati. Walaupun enggan ia akui, tapi Nami sebenarnya telah jatuh cinta pada sang pendekar keras kepala itu. Mana mau ia melakukannya dengan pria lain jika ia sudah menemukan orang yang dicintainya?

Zoro yang merasa bersalah kebingungan, menghela napas untuk yang kesekian kalinya, Nami memang kelemahan terbesarnya.

Melihat Nami menangis benar-benar mengganggunya, sama mengganggunya ketika pedang kuina hilang. Membuatnya kelabakan. Dengan ragu Zoro meraih tangan Nami, menjauhkannya dari wajah Nami. Nami masih menangis, hidung dan pipinya memerah, ia terlihat sesengukan. "Berhentilah menangis," pinta Zoro. "Aku minta maaf."

Nami yang mendengar permintaan maaf Zoro hanya sesengukan tertunduk, masih menjauhkan pandangannya dari Zoro. Tanpa Zoro sadari Nami tersenyum pelan, rencananya berhasil. "Oi, kau mau memaafkanku tidak?" tanya Zoro sekali lagi.

Nami menjawab dengan memeluk Zoro erat. Menumpahkan berat tubuhnya ke sang pendekar. Zoro menghela napas pelan, sekali lagi setuju dengan sensei, wanita memang pengganggu yang paling sulit dilawan.

"Akan aku maafkan jika kamu mau bercinta denganku." ucap Nami dengan suaranya yang entah bagaimana kembali ceria seperti sedia kala seakan ia tidak pernah menangis.

Zoro yang terkejut dan merasa ditipu dengan airmata itu berusaha melepaskan pelukan Nami namun Nami mendekapnya dengan erat, tertawa, enggan melepas pelukannya. "aku tetap tidak mau." jawab Zoro kali ini dengan Nada berat.

"Kenapa?" tanya Nami yang akhirnya menyerah dengan pelukannya, dan menatap ekspresi datar Zoro.

"aku hanya akan melakukannya dengan istriku." Jawab Zoro, ia berharap kali ini alasannya lebih bisa diterima Nsmi.

"Kalau begitu kita akan menikah." Jawab Nami senang. Ia merasa yakin Zoro tidak memiliki teman wanita, atau orang yang disukainya. Tashigi pengecualian, ia hanya orang yang mirip teman kecil Zoro. Kemenangan miliknya.

Zoro mengusap wajahnya, 'wanita ini gila' pikirnya. "Dengar Nami, aku masih tidak mengerti apa permainan yang kau coba mainkan. Tapi aku tidak akan menikahimu. Aku masih memiliki tujuan yang ingin kulakukan. Apa kau lupa yang kemarin ku katakan tentang tiga hal yang akan menghadang dalam mencapai tujuan hidup? Aku rasa kau sudah cukup pintar untuk mengerti maksudku."

Zoro melanjutkan, "lagi pula Nami, aku juga yakin kau juga punya tujuan hidupkan? Kenapa tidak kau gunakan saja waktumu untuk itu dibanding harus menggangguku?" Masih jengkel, Zoro terus berbicara menceramahi Nami. Hal ini merupakan rekor terpanjang Zoro berbicara, dua paragraf! Dan ia belum puas.

"Dan lagi Nami, kenapa kau harus menggangguku. Kalau yang kau inginkan hanya bercinta, minta saja sama yang lain. Aku yakin seratus persen si koki mesum itu akan dengan senang hati menerima jika kau memintanya." Ucap Zoro ketus lalu mendorong Nami lepas dari pangkuannya. Zoro berdiri lalu melangkah cepat keluar. Apapun permainan yang ingin Nami mainkan, ia tidak akan ikut, itulah satu-satunya cara untuk menang dari penyihir itu.

Tanpa Zoro sadari, Nami masih berdiri di posisinya lama, menangis dengan keras. menangis atas penolakan Zoro serta betapa sulit Nami mengatakan perasaannya, ia yang salah. Ia seharusnya mengatakan perasaannya terlebih dahulu, dengan cara yang tepat dan bukan seperti ini. Nami merasa bodoh. Zoro berhak mendapat perlakuan yang lebih baik. Ia menyesal telah memperlakukan Zoro seperti itu.