Amelo : Halo. Kembali dengan ff yg gaje ini dan rated yang masih ababil ini. Kali ini ratednya masih T. tapi mungkin chapter selanjutnya akan dinaikan menjadi M. dan.. adegan yang wow bakal dimulai chapter depan #plak. Tapi nikmatin yang chap abal ini dulu ya.
A/N : cerita ini buatan "Sakamaki Ama-chan". Amel Cuma ngambil beberapa chapter, dan ide cerita. Tapi, khusus chapter ini Amel bikin ndiri. Tapi tetap ngikutin alur buatan Ama-chan. Yosh! Selamat mengikuti!
.
.
.
.
.
.
My Imouto
Don't like don't read
Disclaimer : chara bukan punya saya. Ide juga bukan punya saya. Saya Cuma lanjutin saja.
Rated : T buat jaga aja
Warning : typo, GaJe, alurnya ga jelas, abal, OOC, dll
CHAP 4
Bosan. Itulah yang dialami para GoM yang masih berada dipenginapan. Mereka sudah menjalani latihan, bermain One-on-One atau Three-on-Three atau yang lainnya. Game seperti ToD, bentengan, atau permainan daerah suatu Negara banyak pulau di Asia Tenggara pun sudah mereka mainkan semua. Tapi entah Kise nyari mati atau emang otaknya udah kelewat bosan ia menyarankan permainan ini.
"Ne… gimana kalau kita main Pocky Game?" tanya Kise menyambar satu bungkus pocky milik Murasakibara yang belum terbuka alias masih tersegel. Yang lain pun hanya melotot kaget karena sudah pasti sang raja absolute dengan kepala merah itu tidak akan menyetujuinya, melainkan akan memarahi atau bahkan melukai kise habis-habisan.
"Boleh juga tuh! Bosan nih! Tidak apa-apa, kan?" suara lembut dan ceria itu bukannya mencairkan suasana malah membuat suasana makin mencekam.
Demi apa seorang adik seorang Akashi Seijuuro yang dikenal sangat anti dengan yang namanya hal-hal berbau romantisme atau cinta, sang adik malah menyetujui salah satu permainan pasangan mesra tersebut.
"Akiko… kau serius?" tanya Akashi menatap tajam Akiko.
"Daripada bosan, mending main kan!" Akiko hanya tersenyum tanpa dosa. Dilihat dari wajahnya, ia tak tau cara bermain permainan tersebut.
"Akiko-chan tau cara bermain Pocky Game?" tanya Momoi.
"Eh Momoi-senpai tak tau?" tanya Akiko dengan nada tinggi yang membuat semuanya berpikir bahwa Akiko tau cara bermain pocky game.
"Padahal aku ingin bertanya pada Momoi-senpai bagaimana cara bermainnya." Ujar Akiko menggaruk pipinya pelan. Dan itu membuat semuanya sweatdrop.
"Akashi-san benar-benar tak tau?" tanya Kuroko memastikan sekali lagi.
"tidak. Oniisan tak pernah membicarakan tentang permainan itu. Makanya aku menyetujuinya, karna pasti menyenangkan." Jawab Akiko senang.
"Justru tidak dibicarakan untuk menjaga kesucianmu, Akiko/chan/chi/Chin/Akashi-san" batin GoM + Momoi.
"Are? Kenapa berwajah seperti itu? Memangnya permainan ini tidak menyenangkan ya?" tanya Akiko. Dan ia mulai berpikir bahwa permainan ini sangat tidak bermutu menurut Oniisan-nya. Dikarenakan yang merekomendasikan adalah senpai kuningnya itu.
"Permainan ini sangat tidak menyenangkan. Ganti yang lain." Ujar Akashi absolute. Dan membuat semua berpikir ulang ingin memainkan apa.
.
.
.
5 minute laters~
.
.
"Akh! Aku tak bisa berpikir lagi! Sudahlah! Pocky game juga tak masalah!" Aomine berbicara dengan nada frustasi. Disetujui dengan anggukan Kise.
"Aku tidak menerima permainan itu! Satsuki atau Shintarou! Pikirkan permainan yang wajar!" tolak Akashi yang dilanjuti dengan perintah absolutnya.
"Ta-tapi Akashi-kun, permainan yang kupikirkan sudah kita mainkan semua. Dipiranku tinggal Pocky Game saja." Jawab Momoi takut.
"Aku tak pernah memikirkan permainan tidak bermutu seperti itu-nodayo. Jadi jangan tanya aku." Tambah Midorima.
"Sudahlah Oniisan, Pocky Game aja ya." Pinta Akiko memelas. Sedangkan Akashi hanya termenung beberapa saat.
Akashi POV
'Sudahlah! Setujuin saja! Lagipula kau ingin melakukan itu dengan Akiko bukan?'
Tapi bagaimana kalau seandainya ia malah membenciku? Maksudku karena berakhir dengan ciuman
'Kau pernah menciumnya Baka! Dan sejak kapan Akashi jadi penakut? Buktikan saja!'
Perkataan diriku yang satunya membuatku kembali berpikir ulang.
"Oniisan?"
Aku pun tersentak ketika Akiko memegang tanganku dan memanggilku. Tak ada pilihan lain, itulah pikirku. Aku pun menghela nafas.
"Baiklah. Kita bermain Pocky Game." Ujarku dengan nada absolute seperti biasa.
"Pocky Game?! Serius?!" Satsuki tampak kaget. Yah… kupikir tidak ada salahnya. Mungkin dia kaget karena bisa saja ia melakukannya dengan Tetsuya. Tapi aku tidak peduli.
Normal POV
"Nah.. kalau begitu kita undi-ssu!" Kise pun mengeluarkan kotak dengan 8 batang kayu didalamnya.
"Kenapa mesti diundi?" tanya Aomine.
"Kalau memilih sendiri, ada kemungkinan ada yang tidak setuju." Jawab Kuroko yang sedari tadi diam.
"Yosh! Disini ada 8 orang kan? Berarti 4 pasang! Nah, silahkan diambil-ssu!" Mereka semua pun mulai mengambilnya. Ada yang memerah, ada yang kaget, ada yang biasa saja, dan… ada yang cemburu?
"Kyaa! Aku bersama Tetsu-kun!"
"Nande? Aku juga ingin dengan Kurokocchi, tapi dapatnya Murasakibaracchi."
"Hmph! Setidaknya aku denganmu Akashi. Bu-bukannya aku menyukaimu-nodayo! Tapi, lebih baik denganmu daripada yang lainnya!"
"Etto… aku dengan Aomine-senpai."
Satu suara! Satu suara lagi permisa! Satu suara yang bikin semuanya tercekat! Semua kepala warna-warni itupun serempak melihat Akiko dan Aomine!
"Uwaaahhh! Akikocchi dengan Aominecchi-ssu!" teriak Kise histeris.
"Tidak boleh! Bibir suci Akiko-chan tidak boleh tersentuh oleh bibir Aomine-kun!" dengan cepat Momoi memeluk Akiko.
"Nyem… itu sih.. keenakan… di Mine-chin.. nyem…" ujar Murasakibara sambil memakan cokelat batangan.
"Akashi-kun?"
Satu suara lagi. Suara lembut nan datar milik Kuroko langsung menyedot perhatian. Kecuali Akiko yang masih dinasehati tentang Aomine dan Momoi yang menasehati Akiko.
Akashi duduk dengan tenang seperti biasa. Iya tenang, tapi belakangnya loh, hitam pekat. Seperti menahan amarah. Batang kayu yang dipegangnya pun…
CTAK
Patah. Hingga membuat semuanya makin kaget.
"Te-tenanglah Akashi. Aku tak akan sampai ke bibirnya- wuaah!" Aomine yang ingin membuat baik keadaan malah membuatnya makin buruk dengan insiden gunting terbang.
"Su-sudahlah Akashicchi… ini hanya game kok. Tidak usah diambil pusing…"
SYUUNG.. CTAK!
Lagi, insiden gunting terbang tak mampu membuat 2 gadis diantara 6 cowo itu berpaling menghadap mereka. Tapi ternyata sudah memakan korban 1 orang.
"Ne, kapan mulainya?" tanya Akiko yang sudah diberi nasehat panjang lebar oleh Momoi.
"Ki-kita harus menentukan urutannya dulu-ssu." Jawab Kise sambil mengeluarkan 4 kertas kecil. Yang langsung diambil oleh sang wakil pasangan/?
Tetap. Ada yang terkejut, biasa saja, dan tenang. Baiklah.. amel jelaskan urutannya.
Pair Kise-Mura : 1
Pair Aka-Mido : 2
Pair Kuro-Momo : 3
Pair Ao-Aki : 4
"Kenapa hari ini aku sial sekali?" Kise meratapi dirinya dengan sedih sembari ditepukin punggungnya oleh Kuroko.
"Saa… Ayo mulai! Aku ingin tau seperti apa Pocky Game itu!" Akiko berkata dengan senang. Dengan berat hati Kise mengambil sebatang Pocky.
"Murasakibaracchi.. ayo-ssu." Kise memakan salah satu ujung pocky tersebut. Murasakibara hanya mendekat dan memakan salah satunya. Keheningan pun terjadi.
"Ayo majulah!" teriak Aomine yang membuat Kise maju alias memakan pockynya satu gigitan. Murasakibara juga melakukannya. Tapi, satu gigitan Murasakibara sama dengan 3 gigitan Kise. Al hasil dalam waktu singkat, wajah keduanya sudah saling bertemu. Dengan berat hati, Kise pun maju kembali dengan gigitan kecil. Mengetahui jaraknya semakin dekat, Murasakibara hanya makan satu gigitan kecil, menurutnya. Dan hanya tinggal satu gigitan lagi makan bibir mereka akan bertemu.
"Ayoo! Satu langkah lagi!" Aomine berteriak kegirangan. Tapi, dengan cepat Kise mematahkan batang Pocky-nya hingga ciuman pun tak terjadi #ameldibakar
"Yah.. padahal sedikit lagi, tuh." Momoi mendesah kecewa.
"Kau tak seru Kise" Aomine hanya mengupil bosan.
"Oh… jadi Pocky Game seperti itu. Kalau itu sih aku dan Oniisan pernah." Ujar Akiko polos yang menyedot semua perhatian.
"Apa maksudmu Akiko-chan?" Momoi mendekati Akiko dengan cepat. Sedangkan Akashi hanya stay cool. Padahal dalam hatinya ia udah gugup ga karuan.
"Gini loh. Aku tak sengaja memecahkan piring antik peninggalan Okaasama. Kalau Otousama mengetahuinya, aku akan dimarahi panjang lebar. Karena itu aku membereskannya sendiri, dan Oniisan melihatnya. Dia berjanji tidak akan bilang Otousama, Dengan satu syarat melayaninya hari itu juga." Akiko mempotong ceritanya. Semua pun melihat Akashi.
"Apa?"
"Tidak"
"Jadi, aku sangat lelah kala itu. Memakai baju Maid, memasak untuknya, membersihkan kamarnya, dan lain-lain. Bahkan pr dari sekolah miliknya pun kukerjakan. Saat aku bilang sudah capek, dia mengajakku untuk bermainan permainan ini. Yang mematahkannya duluan harus melayani lawannya selama 2 hari. Jadi, aku dan Oniisan bermain permainan tersebut. Dan kami saling tidak mengalah." Lanjut Akiko.
"Ja-jadi… Akikocchi ciuman dengan… A-Akashicchi?" tanya Kise gugup.
"Yah begitulah…" jawab Akiko.
TEK TEK TEK
"EEEHHHH?! Beneran ciuman?!" teriak semua histeris. Akiko pun mengangguk. Walaupun dipipinya ada semburat merah. Sedangkan Akashi, hanya mengalihkan pandangannya ke luar ruangan.
"Sudahlah. Jangan bahas topik ini. Ayo lanjutkan permainannya." Ujar Akashi Absolut.
"Tapi sekarang giliran kita Akashi." Jawab Midorima.
"Lalu?" Akashi pun mengambil satung batang pocky lalu memakan salah satu ujungnya, dan mengarahkan ujung yang lain kearah Midorima.
Dengan wajah terpaksa (tentu dengan semburat merah, malu), Midorima memakan ujung yang satu lagi. Kedua pria tampan merah dan Hijau ini rupanya tidak ada yang mau mengalah. Tampak dari pocky yang tinggal sedikit, tapi masih dilanjutkan perlahan. Hingga Akashi menatap Midorima tajam, barulah Midorima mematahkan pocky tersebut.
"Coba aku dengan Akashicchi, kan kalo misalnya ciuman dengan Akashicchi bisa jadi ciuman tak langsung dengan Akikocchi." Kise mengeluh sambil memanyunkan bibirnya. Ia tak sadar sudah membangkitkan jiwa iblis Akashi lagi.
SYUUUUTT… CTAK! CTAK! JLEB!
3 gunting. 2 meleset, 1 mengenai sasaran. Selamat Kise. Kepalamu hanya terkena 1 gunting #amelditabokin
"Yeey! Selanjutnya aku dan Tetsu-kun!" Momoi berteriak girang. Ia mengambil satu batang pocky.
"Ayo Tetsu-kun! Loh… Tetsu-kun kemana?" Momoi mencari sosok baby blue itu. Yang lain pun mencarinya.
"Kurokocchi?"
"Oi, Tetsu!"
.
.
.
.
.
"Aku disini." Ujar Kuroko didekat Akiko. Akiko pun menjerit
"Kyaa!" dengan sigap ia memeluk Oniisannya.
"Tetsuya. Tidak baik mengangetkan orang lain." Ujar Akashi yang tak mampu mengubah muka teplon Kuroko sedikitpun.
"Saa.. Tetsu-kun! Ayo!" Momoi menggigit salah satu ujung pocky, dan mengarahkan ujung lainnya ke Kuroko.
Kuroko pun mendekat dan mulai memakan ujung yang satunya. Semua diam, menatap tegang antara Kuroko dan Momoi yang masih maju dan memakan pockynya hingga jarak mereka tinggal satu gigitan saja. Suasana menegang.
Apa yang terjadi?
.
.
.
.
.
Kuroko maju…
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan mencium Momoi…
.
.
.
.
.
Cium?
.
.
.
.
.
.
Momoi?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"EEEHHHHH?!" semua berteriak. Kecuali Murasakibara dan Akashi tentunya. Bagaimana mungkin seorang Kuroko yang datarnya minta ampun mencium Momoi tanpa meninggalkan semburat merah atau apapun. Cium weh! CIUMAN! #mel. Sedangkan yang dicium… hanya pingsan dan mengigau 'aku dicium Tetsu-kun'
"Bukannya itu keinginan kalian? Dan ini merupakan rule-nya bukan? Jadi kulakukan saja." Kata Kuroko yang wajahnya tak bersalah sama sekali.
"Ya.. ba-baiklah. Selanjutnya Aominecchi dan Akikocchi." Lagi-lagi. Suara Kise membuat suasana mencekam.
"Haah… tidak ada pilihan lain." Aomine mengambil satu batang pocky dan menggigit salah satu ujungnya. Reflek atau apa, Akiko mendekati Aomine. Aomine pun mengarahkan ujungnya ke Akiko.
Dan wahai para pembaca! Akiko pun langsung memakan ujungnya tanpa ragu! Dan melihat hal itu, Aomine menyeringai kecil. Ia pun maju 2 gigitan. Merasa tak mau kalah, Akiko pun juga maju 2 gigitan. Tersisa 3 gigitan lagi. Aomine maju 2 gigitan! Sekarang jarak mereka makin dekat. Dan apa-apaan ini! Kenapa Aomine sudah menutup matanya?! Semburat merah mulai menghiasi wajah Akiko. Ia pun maju perlahan, dan mulai merasakan nafas Aomine.
Semua yang disana hanya diam, gatau mau ngapain. Antara tegang dan takut. Tegang karena yah… Akiko bakal mencium Aomine. Dan takut… karena yah.. para pembaca bisa membayangkannya sendiri.
CKRIS! TRAK!
Oh apa yang terjadi pembaca?! Ternyata Akashi menggunting batang pocky hingga batang pocky itupun putus! Semua yang menyaksikan hanya terdiam. Kecewa atau takut? Pembaca bisa membayangkannya sendiri.
"Tak akan kubiarkan kau menciumnya Daiki." Akashi pun langsung menarik Akiko kebelakangnya.
"Heh? Ini hanya game Akashi. Dasar Siscon." Aomine yang mengatakan itu langsung menutup mulutnya.
"Cari mati." Batin semua yang disana kecuali Akashi tentunya.
Dan game ini pun berakhir dengan sekaratnya Aomine. Setelah game berakhir, Akashi memutuskan agar sekarang sudah waktunya pulang. Mereka pun berberes barang mereka, dan berkumpul di mobil milik Akashi. Dengan senang hati, Akashi mengantar mereka kerumah masing-masing. Tentu saja atas permintaan Akiko. Setelah mengantar Midorima, yang merupakan penumpang terakhir dimobil Akashi.
"Ano.. Tuan. Bensinnya sudah tinggal sedikit. Bisakah kita ke pom bensin terlebih dahulu?" izin supir pribadi Akashi.
"Ya baiklah."
Mobil mewah itupun memasukin pom bensin yang terbilang cukup sepi. Entah kenapa. Sang supir keluar untuk membeli bensin. Sedangkan dua saudara Akashi menunggu didalam. Hingga Akiko merasa haus.
"Ne.. Oniisan. Aku beli minum dulu, ya." Ujar Akiko sembari keluar mobil.
"Mau beli minum dimana?" tanya Akashi.
"Itu. Di minimarket sana." Tunjuk Akiko. Akashi pun hanya mengangguk.
"Oniisan baik deh! Oniisan.. Daisuki.." Akiko pun menutup pintu mobil.
Akiko pun berjalan menuju minimarket di pom bensin tersebut. Tanpa menyadari tatapan memburu dari sekelompok orang.
"Hei hei. Itu adiknya Akashi, kan?"
"Tentu saja! Lihat surai rambutnya. Dan dia keluar dari mobil mewah itu. Sudah pasti dia!"
"Ketua! Ada adiknya Akashi disini!"
Sedangkan yang dipanggil ketua hanya menengok dan melihat Akiko memasuki minimarket.
"Hem? Adiknya Akashi?"
"Iya!"
"fuuh. Akashi Akiko kah? Lumayan untuk jadi bahan pembalasan." Sang ketua hanya menyeringai.
"Siapkan rencana yang bagus. Kita gunakan dia untuk membalas Akashi." Perintah ketua sambil berdiri.
"Saa… ayo bersenang-senang… Akashi Seijuuro."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Curhatan tijel :
Fuh! Akhirnya selesai juga! te-he~ mulai ada masalah, mulai ada masalah~ *nari ubur-ubur* . gimana? Akashi siscon-nya keliatan kah? Ya sudahlah.
Btw, ada yang menunggu fanfic amel yang berjudul "Welcome To Miracle's Café"? amel mau ngasih spoiler nih!
Spoiler Welcome To Miracle's Café :
"Dia sepupuku, Momoi Satsuki."
"Kyaaa! Kalian imut, deh!"
"(name) terlihat gentleman."
"Crossdressing?!"
"Aku menyerah"
Amel : te-he~ ada yang kepo kah? Fanfic ini masih setengahnya. Masih nyicil lah. Nah sekian cap cip cup saya.
MIND RnR?
SEE YOU IN THE NEXT DUO AKASHI
