Amelo : Halo. Kembali dengan ff yg gaje ini dan rated telah naik. Yeay! /plak. Karena amel lagi gak ada kerjaan, amel ngerjain ini dan selesai sudah! Sebaiknya yg imannya kuat jangan baca dulu sebelum puasanya tamat yak! /?

A/N : cerita ini buatan "Sakamaki Ama-chan". Amel Cuma ngambil beberapa chapter, dan ide cerita. Tapi, khusus chapter ini Amel bikin ndiri. Tapi tetap ngikutin alur buatan Ama-chan. Yosh! Selamat mengikuti!

.

.

.

.

.

.

My Imouto

Don't like don't read

Disclaimer : chara bukan punya saya. Ide juga bukan punya saya. Saya Cuma lanjutin saja.

Rated : M

Warning : typo, GaJe, alurnya ga jelas, abal, OOC, dll

CHAP 5


CKLING

Bunyi bel pintu pertanda orang memasuki sebuah toko. Seseorang dengan seringai diwajahnya perlahan mendekati Akiko yang bingung ingin membeli apa. Tangan kanannya pun ia ulurkan untuk mencapai Akiko. Seringai diwajahnya pun semakin lebar.

PUK

Sebuah tangan menyentuh pundak Akiko hingga ia reflek berteriak.

"Kyaa-! Uff!" teriak Akiko yang mulutnya sudah dibekap oleh seseorang. Ia menengok keatas untuk melihat siapa yang membekapnya.

"Ha-Haizaki-senpai!" Akiko melepaskan diri dari pemuda berambut abu tersebut.

"Yo.. Akiko-chan. Sedang apa?" dengan tampang tak berdosa dengan senyuman –coretseringaicoret- diwajahnya, Haizaki bertanya.

"Bukannya 'Ada apa'! kenapa mengagetkanku?" Akiko menatap Haizaki tajam.

"Jangan marah Akiko-chan. Aku hanya ingin menyapamu. Tapi sepertinya kau kaget." Jawab Haizaki.

"Dan… kau sedang apa?" tanya Haizaki ulang.

"Haizaki-senpai bisa lihat, kan? Aku sedang membeli minuman. Dan tolong jangan memanggil dengan namaku." Jawab Akiko sembari berjalan kearah kasir.

"Judes banget, sih." Haizaki memeluk Akiko dengan satu tangannya.

"Ryouta memanggilmu dengan namamu, kan? Mengapa aku tidak boleh, hm?" tanya Haizaki yang dagunya bertumpu dikepala Akiko.

"Itu…"

"Tak bisa menjawab? Oh ayolah. Jangan bilang kakamu yang melarangnya." Tangan Haizaki yang satunya, alias yang tidak digunakan untuk memeluk Akiko meraba punggung Akiko. Seperti mencari sesuatu disana.

"Singkirkan tanganmu, Haizaki-senpai!" Akiko mencoba berontak. Namun, pelukan Haizaki amat kuat dari yang ia kira.

"Tidak. Aku hanya ingin merabamu sedikit Akiko-chan." Rabaan Haizaki yang dari punggung pun turun hingga ke pantat Akiko.

"Hentikan!"

SYUUSSH! JLEB!

tiba-tiba Sebuah gunting melayang dan menggores pipi Haizaki dan gunting itu menancap dirak snack.

"Lepaskan dia Shougo. Atau kau mendapat akibatnya." Ujar Akashi dingin. Haizaki pun melepaskan Akiko.

"Yare-yare… Akashi datang juga." Haizaki memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya.

"Oniisan.." Akiko berlari kecil dan pergi kearah Akashi.

"Mundurlah, Akiko." Akashi menarik Akiko agar pergi kebelakangnya.

"Kau pikir bisa menghentikanku dengan guntingmu saja, huh? Naïf sekali Akashi Seijuuro." Seringai Haizaki makin melebar.

"Jangan sekali-kali kau menyentuh adikku lagi, Shougo. Kau tak mau masuk penjara karena pelecehan seksual, kan?" Akashi ikut menyeringai sembari mengeluarkan gunting lainnya.

"Memangnya kenapa? Adikmu itu sempurna Akashi. Cantik, pintar, kaya, dan bentuk tubuhnya bagus sekali. Siapa yang tak terpikat olehnya? Bahkan kau sendiri juga terpikat olehnya, kan?" Haizaki tertawa kecil. Akashi hanya tercengang ditempat walaupun tidak terlihat tercengang.

"Oniisan.." Akiko hanya khawatir dengan kakaknya itu.

"Ano, bisa tidak membuat keributan? Pelanggan lain agak terganggu." Munculan bapak paruh baya. Akashi dan Haizaki melihat sekeliling. Rupanya beberapa orang tengah menonton mereka.

"Ayo pergi Akiko." Akashi menarik tangan Akiko keluar minimarket.

"Tapi minumannya?" tanya Akiko sembari melihat 2 kaleng minuman yang didekapnya.

"Letakkan kembali. Kita pulang." Akashi menaruh 2 kaleng yang didekap Akiko sembarang. Kemudian menarik Akiko paksa untuk keluar, meninggalkan Haizaki yang masih berada didalam minimarket yang menyeringai penuh kemenangan.

-skip time ; Akashi Mansion-

Diperjalanan pulang, Akashi dan Akiko hanya diam. Tak berani berbicara satu sama lain. Bahkan sang supir hanya kebingungan akan tingkah 2 tuan mudanya.

"Jauhi Shougo, Akiko." Ujar Akashi yang sudah berada didalam Mansion. Tepatnya dilorong.

"Aku tau itu." Jawab Akiko.

"Lalu kenapa tadi?"

"Aku sudah mencoba berontak. Tapi, dia kuat sekali."

"Dimana senjatamu?"

"Kutaruh ditas. Tadi kan tasnya kutinggal dimobil."

"Ceroboh sekali kau." Akashi mendekati adiknya yang berada dibelakang. Kemudian ia memukul kepala adiknya pelan.

"Aku tak mau kejadian yang sama terulang lagi. Mengerti?" tanya Akashi.

"Mengerti."

"Nah... Akan kuberikan hukuman karna hal tadi Akiko." Akashi menyeringai kearah adiknya itu.

"Eh? Hanya karena begini dapat hukuman?!" tanya Akiko tak terima.

"Tentu saja. Daripada kulaporkan kepada Otousama tentang piring antik dan kejadian hari ini. Kau lebih pilih mana?" Akashi bertanya dengan nada penuh kemenangan.

"Mendapat hukuman." Jawab Akiko sambil menahan amarah.

"Anak pintar. Hanya hukuman ringan kok. Tenang saja." Seringai Akashi makin lebar. Dan Akiko makin mendapat firasat aneh.

.

.

.

.

.

.

5 minutes later

.

.

.

.

.

Disinilah Akashi dan Akiko berada. Dibalkon yang cukup luas dan mengarah kearah taman dan kolam renang. Terdapat meja dan 2 bangku, juga cemilan beserta teh disana. Akashi dengan tenang membaca novel. Sedangkan Akiko duduk dengan gelisah. Gimana gak gelisah? Akiko disuruh duduk dipangkuan Akashi sembari Akashi membaca novel. Tangan Akashi yang bebas pun memeluk pinggang Akiko agar tidak kabur. Nafas Akashi Nampak terasa oleh Akiko hingga membuatnya gelisah.

"Jangan banyak bergerak Akiko. Sakit." Kata Akashi yang matanya tetap terarah kenovel tersebut.

"Kalau begitu lepaskan aku dan berhentilah dengan cara duduk seperti ini." Akiko makin menggeliat.

"Tidak." Akashi membuka kedua pahanya lebar-lebar hingga bokong adiknya itupun berada dikedua pahanya.

"Begini lebih nyaman, kan?" Akashi bertanya dengan nada kemenangan. Matanya memang masih mengarah kenovel. Tapi ia tau bahwa adiknya sedang menahan malu.

"U-urusai!" Akiko hanya menunduk malu. Melihat hal itu, Akashi menutup novelnya dan menaruhnya dimeja.

"Hem? Kenapa kau malu? Ini kakakmu loh." Akashi mengangkat dagu Akiko hingga wajah Akiko naik. Yang otomatis melihat wajah Akashi.

"Aku tidak malu!" sergah Akiko yang matanya mengarah kearah lain.

"Begitu ya. Aku ingin makan kue." Akashi melepaskan pelukannya dan mengambil piring dengan sepotong kue.

"Ini kesempatan." Batin Akiko. Namun ternyata kedua paha Akashi mengapit dengan kencang kedua paha Akiko yang menyebabkan Akiko tak bisa bangkit.

"Ingin kabur? Tak bisa begitu Akiko. Jika kau kabur, hukumanmu bertambah." Akashi mencolekan bibir Akiko dengan krim kue, yang langsung dijilat oleh Akiko. Akiko hanya menggeram kesal.

"Kenapa kesal? Kau yang memilih mendapat hukuman, kan?" tanya Akashi tenang sambil memakan kuenya.

"Memang. Aku pilih mendapat hukuman dari Oniisan karena hukuman dari Otousama 2x ah tidak 3x lipat dari Oniisan." Jawab Akiko kesal.

"Kau tau kan. Karena itu berhentilah memberontak." Akashi meletakan piring kuenya dan mengambil secangkir teh.

"Menyebalkan!" Akiko menghentakan kakinya mengenai kaki Akashi.

"Itteh!" Akashi kaget. cangkir teh yang Akashi pegang pun bergoyang hingga mengeluarkan beberapa tetes teh dan mengenai punggung tangan dan jari.

"Panas!" Akiko berteriak sambil melihat jarinya telunjuknya dan punggung tangannya yang memerah.

"Maaf Akiko. Sini kulihat." Akashi menaruh kembali cangkir teh tersebut dan memegang tangan Akiko. Ia pun mengecup jari telunjuk Akiko.

BLUSH

"Ke-kenapa aku malu seperti ini?!" batin Akiko panic saat bibir Akashi menyentuh jarinya. Setelah beberapa saat, Akashi memindahkan kecupannya ke punggung tangan Akiko.

"Su-sudahlah Oniisan!" Akiko menarik tangannya namn ditahan Akashi. Akashi pun melepaskan kecupannya. Ia menatap Akiko.

"Sudah gak panas?" tanya Akashi.

"Iya!" jawab Akiko tanpa keraguan.

"Tapi masih memerah." Akashi mengecup kembali jari telunjuk Akiko. Bahkan menjilatnya.

"Ti-tidak apa! Kalo dibilas air dingin pasti langsung sembuh!" Akiko makin greget gak karuan akan tingkah kakaknya.

"Hem… saliva ( air ludah ), bisa menjadi penolongan pertama dalam luka. Jadi, aku akan memberikanmu penolongan pertama terlebih dahulu." Akashi kembali menjilat telunjuk dan punggung tangan Akiko. Akiko hanya mencengkram bajunya sendiri. Setelah puas, Akashi menyeringai puas karna berhasil membuat adiknya greget ga karuan.

"Ada apa? Masih sakit? Masih panas?" tanya Akashi tetap menyeringai.

"Tidak! Sudah baikan!" Akiko menarik tangannya kembali.

"Baguslah kalau begitu." Akashi kembali mengambil cangkir teh dan meminumnya dengan tenang.

"Akiko. Jangan terlalu tegang begitu, dong." Kata Akashi yang meminum teh-nya kembali.

"U-Ukh…" Akiko hanya mencengkram bajunya. Akashi hanya tersenyum.

"Akiko. Buka mulutmu." Perintah Akashi. Akiko reflek membuka mulutnya kecil. Dengan sigap Akashi meminum teh namun tak menegaknya. Akashi pun mencium Akiko. Memberikan teh yang ia minum tadi kedalam mulut Akiko. Setelah selesai, Akiko bangkit dan menutup mulutnya.

"A-apa yang kau lakukan?!" Akiko berteriak histeris.

"Aku ingin meminta maaf." Jawab Akashi kalem.

"Dengan cara seperti itu?!"

"Ya."

"Ukh… O-Oniisan wa baka!" Akiko berlari keluar balkon menuju kamarnya. Terdengar kalau Akiko membanting pintu kamarnya sendiri.

"Hihihi… lucunya." Akashi hanya menyeringai puas. Iapun kembali melanjutkan membaca novelnya dan memakan cemilannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC


Dibalik Mansion Akashi/? :

Hoii! Kalian semua! Dibulan puasa kyk begini amel sempet-sempetnya nulis kek begini yak! Wkwkwwkk! Kali ini amel mau puasin adegan Akashi ama Akikonya. Wkwkwk! Sebenernya masih ada lanjutannya. Cuma nanti kepanjangan dan adegannya makin ehem-ehem gak karuan. Nanti amel dosa. Karna itu amel potong sampe sini aja. Oh ya, ketahuan kan siapa yang mau jadiin Akiko bahan pembalasan?

Nah, chapter berikutnya makin wow! Dan amel mau nanya, ini ff mau dibikin drabble khususnya gak? Tentu saja rated M. karna T malah aneh dan gak cocok. Akhir kata…

MIND RnR?

See you!