Setelah saya liat lagi, ternyata banyak banget angst-nya oAo"
disclaimer: check chapter 1 :3
B – Bon Voyage
Summary: "Aku akan terus menunggumu." Dia terus melihat ke ujung laut, mengharapkan kapal yang membawa pasukan perang datang dan berlabuh.
World: AU
Genre: Romance/Angst
Words: 527
Chung: Iron Paladin
Eve: Code Empress
.
.
.
Dia adalah seorang tentara. Dia adalah seorang putri konglomerat. Takdir memisahkan mereka seperti dinding tebal yang tidak akan bisa di tembus.
Namun mereka terus berusaha mendobrak dinding itu. Sulit, namun akhirnya mereka bisa saling bertemu.
Eve selalu menemukannya di pinggir laut di tengah malam. Memandang laut dengan tatapan kesepian, seolah berusaha mencari ujung dimana laut dan langit malam penuh bintang bertemu.
Gadis berambut putih itu duduk di sebelahnya tanpa suara, menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki berambut pirang seolah itu memang tempatnya berada. Laki-laki di sebelahnya hanya tersenyum dan melingkarkan lengannya di pinggang Eve. Seperti yang selalu ia lakukan setiap malam.
"Mereka akan datang." Eve menggumam, mendekatkan dirinya lebih dekat ke tubuh Chung. "Aku akan menunggu bersamamu."
Chung tersenyum—miris, kemudian menoleh untuk mencium kening Eve. "Tidak perlu." Mendengar Eve mendengus kesal, Chung menambahkan, "Seorang wanita butuh istirahat yang cukup untuk menjaga kecantikan mereka, bukan?"
"Jadi kalau aku tidak cantik, kau tidak menyukaiku?"
Pertanyaan pedas Eve membuat Chung tertawa, kini lebih keras. Sang putri kini memasang wajah kesal, yang sepertinya tidak luput dari pandangan sang tentara.
"Eve selalu cantik di mataku." Eve mendongak, menemukan Chung tengah memandangnya dengan hangat. Rona merah muncul di pipi Eve setelah Chung mengatakan itu, begitu jelas terlihat di permukaan kulitnya yang pucat meskipun cahaya bulan begitu redup. Eve terlihat begitu manis di mata Chung.
Laki-laki berambut pirang itu mendekatkan wajahnya. Eve tersenyum pelan dan menutup matanya, membiarkan bibir mereka bertaut. Dengan deburan ombak dan bintang-bintang yang menjadi saksi bisu pertemuan rahasia mereka, bibir mereka terpisah.
"Aku akan pergi besok." Chung akhirnya berbisik di telinga Eve, suaranya terdengar sedih. "Aku akan bergabung dengan tentara lain. Dan mungkin saja aku tidak bisa kembali—"
"Aku akan menunggumu." Bukan sikap seorang wanita berkelas untuk memotong kata-kata seseorang. Dan Eve telah melanggar aturan itu. Namun ia tidak peduli lagi dengan segala omong kosong yang berhubungan dengan kelas atas. "Jangan berani-berani mengatakan kalau kau tidak akan kembali, Chung."
Chung balik memandanginya; ekspresinya campuran sedih, kaget, dan bahagia. Ekspresi sedih kemudian surut dari wajahnya, terganti oleh sebuah senyum yang begitu Eve sukai.
"Kau benar." Laki-laki itu mencium kening Eve sekali lagi. "Tunggulah aku, Eve."
Mereka berdua kemudian berdiri, masih memandangi satu sama lain dengan tatapan dalam, kemudian menautkan bibir mereka sekali lagi—begitu singkat hingga Eve menginginkan lebih.
Kemudian mereka berbalik, menuju dunia mereka masing-masing. Di saat matahari terbenam nanti mereka hanya orang-orang yang tidak saling mengenal, terpisah oleh kasta. Bertemu di malam hari, dimana orang-orang begitu lelah hingga tidak peduli dengan hal-hal seperti itu lagi.
Mereka berharap, langit malam menjadi saksi, kalau mereka bisa bertemu lagi di suatu saat tanpa harus memikirkan tentang kelas seperti ini.
.
.
.
Dia terus menunggu, memandangi laut yang warnanya berbaur dengan langit malam, mencari ujung dimana langit dan laut bertemu. Menanti kapal yang membawa tentara perang datang dan berlabuh.
Menunggu Chung untuk menyapanya ketika matahari terbit, tersenyum tanpa harus di paksakan di depan konglomerat lain, menggenggam tangannya tanpa merasa malu akan tatapan menuduh dari orang-orang, dan membawa Eve pergi menuju kebebasan.
"Bon voyage, au revoir."
