Disclaimer: check chapter 1 :3


D – Dream
Summary: Seorang Nasod seharusnya tidak bisa melihat mimpi. Namun kenapa dia malah melihat sebuah mimpi yang tidak ingin ia lihat?
World: Canon
Genre: Romance/Hurt/Comfort
Words: 879

Eve: Code Nemesis
Chung: Tactical Trooper

.

.

.

'Tidur' dalam bahasa Nasod tidak sama dengan manusia. Tidur bagi nasod hanyalah memutuskan energi ke sirkuit untuk sementara waktu untuk mengistirahatkan sekaligus mengisi kembali sumber energi El mereka yang habis ketika melakukan kegiatan sehari-hari.

Oleh karena itu mereka tidak bisa melihat mimpi. Mimpi, menurut database milik Eve, adalah sebuah rentetan gambar atau kejadian yang muncul dalam pikiran ketika tidur. Pikiran Eve tidak berjalan ketika Eve 'tidur', oleh karena itu Eve tidak mungkin bermimpi.

Namun malam itu dia melihat sesuatu yang aneh dalam tidurnya.

Dia melihat kawan seperjalanannya—ralat itu, sahabat-sahabatnya—terperangkap dalam penjara api. Dia melihat bagaimana wajah sahabat-sahabatnya terlihat tersiksa. Kemudian laki-laki itu—entah mengapa dia selalu menjadi pusat fokus Eve—dengan tubuh yang seolah tidak akan bergerak lagi, tergantung di langit-langit gedung di Velder yang terbakar—

Eve akan terbangun beberapa menit kemudian. Butiran keringat bermunculan dari keningnya, bahkan air mata terkadang ikut mengalir tanpa ia sadari.

.

.

.

Dalam beberapa kesempatan ketika mimpi itu datang, dia lah yang selalu memberikan rasa sakit itu pada sahabat-sahabatnya.

Setiap kali Eve menggerakkan tubuhnya, sebuah tangan yang berbentuk cambuk akan melucuti kulit mereka yang terekspos. Wajah mereka selalu menunjukkan kebencian yang di tunjukkan hanya padanya. Dan Eve tidak bisa melakukan apapun selain melukai mereka; tidak mampu meminta maaf, menjelaskan kalau ini hanya mimpi, berusaha untuk membuat mereka lebih baik—

Hanya laki-laki itu yang terus tersenyum padanya. Senyumnya begitu lemah, namun Eve selalu melihat ekspresi yang sama dalam wajahnya,

'Aku percaya padamu.' Kedua iris biru itu seolah berbisik padanya.

Dan setelah melihat laki-laki itu, biasanya Eve akan terbangun dan langsung menangis terisak.

.

.

.

"Eve?"

Ratu nasod berambut putih itu mendongak, menemukan sepasang mata biru yang selalu ia temui dalam mimpinya, dan langsung mengalihkan perhatiannya kembali ke air danau yang sejak tadi ia pandangi tanpa membalas sapaan laki-laki itu. Laki-laki pirang itu mendesah, dan tanpa meminta izin Eve, langsung duduk di sisinya.

"Apa yang kau lakukan?" Suara Eve terdengar begitu dingin. Dia sedang tidak ingin bicara dengan siapapun. Dia tidak ingin melukai mereka seperti yang ia lakukan dalam mimpinya.

Chung menatap Eve melalui bayangannya di air laut, menemukan tanda kurang istirahat dan kesedihan, dia tersenyum kecil, "Ada yang mengganggumu?"

Eve tidak menjawab. Dia memutuskan untuk memeluk kakinya dan menyembunyikan wajahnya di lututnya supaya laki-laki itu tidak dapat melihat ekspresinya. Dan Chung langsung tahu kalau memang ada sesuatu yang mengganggu sang ratu nasod.

"Kami selalu ada di sisimu." Chung berkata singkat, kemudian menepuk bahu Eve sebelum berdiri. "Kau tahu dimana bisa bicara kalau kau butuh bantuan." Laki-laki berambut pirang itu berbalik, kemudian meninggalkan Eve sendirian di pinggir danau yang tenang.

'Kami selalu ada di sisimu.'

Kata-kata Chung terngiang di kepalanya. Entah mengapa kata-kata itu membuatnya merasa agak tenang.

Setidaknya ada yang percaya padamu. Kalimat itu terlintas di benak Eve, yang hanya mengangkat bahu dan mengabaikan pikiran itu.

Untuk sekarang, biarkan Eve merasa tenang dalam mimpi memiliki teman yang bisa mempercayainya.

.

.

.

Malam itu Eve mendobrak masuk ke kamar Chung—yang kebetulan berada di sebelah kamarnya—membawa sebuah kotak yang berisi dengan cadangan energi daruratnya, mengagetkan si pemilik kamar yang tengah mengotak-atik sebuah console game yang ia temukan di pinggir jalan beberapa hari yang lalu.

"Chung, bisa kah aku tidur denganmu malam ini?" Eve langsung berkata tanpa basa basi, membuat Chung yang masih dalam keadaan shock makin bertambah kaget.

"E-Eh?! T-Tidur?! M-maksudmu, tidur seperti, 'tidur'?!"

Eve memiringkan kepalanya, agak bingung dengan kekagetan Chung yang berlebihan. "Bukankah tidur dalam bahasa manusia adalah menutup mata dan beristirahat?"

Chung, seolah baru berhasil mengembalikan ketenangan dirinya, langsung berdeham. Wajahnya masih memerah dan enggan bertemu pandang dengan Eve. "Oh, ya. Kau benar. Maaf."

Si ratu nasod ingin membalas, namun sirkuitnya terasa ingin meledak karena kurang tidur akhir-akhir ini. Dia memutuskan untuk menyambungkan sumber energi darurat ke slot di belakang lehernya dan menjatuhkan dirinya di kasur Chung yang terasa empuk, seolah mengundangnya untuk datang ke dunia mimpi.

"Selamat malam, Chung."

Eve langsung menutup mata dan membiarkan energi berhenti mengalir ke sirkuitnya, tenggelam ke dalam kegelapan.

.

.

.

Chung memperhatikan Eve yang langsung terlelap beberapa detik setelah mengucapkan selamat malam, kemudian mendesah. Melihat Eve yang tertidur begitu tenang begitu membuatnya merasa mengantuk. Laki-laki pirang itu meregangkan ototnya yang kaku karena diam di tempat berjam-jam, kemudian meletakkan semua barang yang hendak ia bongkar dan mematikan lampu kecil di atas meja, membuat kegelapan menyelimuti kamarnya.

Jantungnya terasa berdebar-debar. Nafasnya yang memburu berbeda jauh dengan nafas Eve yang tenang dan pelan.

Dia merasa seperti orang jahat sekarang. Chung mendesah dan berusaha untuk mengembalikan ketenangan dalam dirinya. Dia berjalan ke arah kasur, kemudian duduk di sisi kasur perlahan, berusaha untuk tidak mengganggu tidur sang ratu. Dia menyingkirkan beberapa helai rambut keperakan dari wajahnya, memandangi wajah tidur perempuan berwajah stoic itu dan tersenyum.

Setelah beberapa saat, dia akhirnya berbaring di sebelah perempuan itu. Lengannya melingkar di pinggang Eve dan satu lagi menarik kepala Eve ke dadanya. Dia merasakan gadis itu bergerak sedikit, seolah untuk mencari posisi yang lebih nyaman dalam pelukan Chung.

Chung tersenyum pelan—menyukai bagaimana Eve bisa pas dalam pelukannya, dan mencium puncak kepala Eve dengan lembut.

"Selamat malam, Eve."

.

.

.

Malam itu, Eve melihat mimpi ter indah yang pernah ia lihat.