Gomen update telat ;; saya stuck milih ini atau Empress/Emperor, akhirnya malah milih ini :'3

update selanjutnya saya usahain besok, setelah itu normal lagi :3

Disclaimer: Check chapter 1 :3


E – Equations
Summary: Chung bukanlah orang yang paling pintar dalam pelajaran fisika.
World: AU
Genre: Romance/Humor
Words: 459

Eve: Code Battle Seraph
Chung: Deadly Chaser

.

.

.

Ketika Eve memasuki ruang tamunya membawa dua cangkir teh dan sepiring kue, dia menemukan kekasihnya, Chung, tengah membanting kepalanya di meja tamunya.

Perempuan berambut perak itu mendesah pelan, meletakkan nampan dengan minuman panas dan cemilan itu di dekat kepala kekasihnya. Tidak peduli kalau dia akan terkena cipratan dari minuman yang masih mendidih itu di kepalanya nanti.

Chung mendongak—wajahnya terlihat seperti orang mati hingga Eve sempat meragukan kalau dia memang Chung—dan tersenyum tipis. Keningnya terlihat merah, terlalu banyak membenturkan diri ke meja kayu, sepertinya. Eve tidak membalas senyum miris Chung dan duduk di hadapannya.

"Jadi?" Eve memulai, melipat tangannya di depan dada. "...Masih mau bilang tidak butuh bantuanku?"

Senyum Chung menghilang. Kini dia terlihat tersinggung. "Aku tidak apa-apa, Eve." Melihat pacarnya memutar bola mata, Chung menambahkan, "Serius. Tadi aku hanya kesepian karena kau bilang mau mengambil makanan—"

Chung bukanlah orang yang pintar berbohong. Dan Eve adalah orang yang paling tahu—dan paling bisa melihat dibalik kebohongannya.

Chung bukanlah orang yang paling pintar dalam pelajaran fisika. Kalau nilainya yang lain rata-rata memiliki angka sembilan puluh, maka nilai Fisika hanya akan berada tipis di atas rata-rata. Dan menolak tawarannya—sebagai orang yang memiliki nilai Fisika tertinggi satu angkatan—terasa seperti sebuah penghinaan bagi Eve.

"Kenapa kau begitu tidak ingin ku bantu?" Eve menggerutu, menatap kertas yang sedang dipelajari Chung dan menyelesaikannya dengan mudah dalam kepalanya.

Chung mendongak, menatapnya sekilas, sebelum mengeluarkan senyum lembut khasnya yang selalu berhasil membuat hati Eve meluluh, "Karena aku ingin kaulah yang menginginkan bantuanku."

—dan gombalan bodohnya. Eve menarik nafas sambil berhitung. Ini sudah yang kedua kalinya hari ini; dia berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan memukul Chung jika dia berhasil membuat wajahnya memerah tiga kali. Yang pertama adalah tadi pagi ketika dia bilang dia akan segera datang ke rumah Eve setelah mendengar kalau dia sendirian di rumah, terdengar seperti pacar yang protektif dan menggoda disaat yang sama.

Keheningan kembali menyelimuti mereka, minus suara erangan dari Chung dan suara gesekan penghapus di atas kertas secara kasar. Sementara Eve sibuk sendiri dengan ponselnya, terlihat tidak peduli dengan pacarnya dan lebih senang menghibur diri sendiri dengan permainan menyebalkan yang diberi tahu oleh Aisha tadi pagi.

Ketika Chung tiba-tiba memanggilnya, Eve mendongak, jelas tidak senang dengan Chung yang mengganggu konsentrasinya.

"Kau tahu, aku memang tidak pintar fisika." Chung berkata, seolah lebih menjelaskan tentang semua masalah yang tengah ia hadapi.

Sebelum Eve bisa membalas, Chung melanjutkan, kini dengan senyum yang—dimata Eve—terlihat begitu menggoda, "...Setidaknya aku mengerti tentang persamaan 'aku tambah kamu sama dengan love'."

Satu.

Dua.

Tiga—

Telapak tangan Eve mendarat di pipi Chung yang seputih porselen, berbeda jauh dengan milik Eve yang kini sudah berwarna senada dengan rambut Elsword.