Saya suka sama papa Hellputt, so why not? c:

Disclaimer: check chapter 1 :3


F – Family
Summary: Chung jarang menceritakan tentang keluarganya. Hanya saat itu saja Chung meminta Eve untuk menemaninya menemui ayahnya di rumah sakit Hamel.
World: Kinda Canon
Genre: Family/Romance
Words: 930

Eve: Code Nemesis
Chung: Iron Paladin

.

.

.

Jujur saja, para El Scout hampir tidak pernah menceritakan tentang diri mereka maupun masa lalu mereka masing-masing.

Bukannya mereka tidak percaya satu sama lain. Tujuan mereka sama—mencari El shard yang hilang, mencari seseorang, mengalahkan orang jahat—bagi mereka itu cukup untuk mengikat mereka satu sama lain.

Kecuali Elsword, yang dengan bangganya menceritakan tentang kakaknya yang hilang dan semua kejayaan kakaknya dan hasil latihan keras yang ia pelajari dari kakaknya. Biasanya berakhir dengan tembakan bola api dari Aisha yang kesal karena acara membacanya terganggu dan Raven yang dengan mudah menendang bokongnya. Sejak saat itu Elsword memutuskan untuk tidak menceritakan tentang kakaknya lagi.

Itulah sebabnya Eve nyaris tidak percaya dengan permintaan dari salah satu teman seperjalanannya, Chung.

"Mau menemaniku ke rumah sakit Hamel? Aku ingin bertemu dengan ayahku."

Eve memiringkan kepalanya, menanyakan kenapa dia yang harus ikut dengannya (bukannya Eve keberatan). Chung hanya menjawab kalau ayahnya tahu banyak hal tentang Nasod, berhubung memang banyak Nasod tua seperti Eve yang tinggal di daerah Hamel. Demi memperoleh informasi tentang keberadaan Nasod tua—dan mengenal Chung lebih jauh, pikiran itu tiba-tiba ada di ujung sirkuitnya—dia setuju untuk ikut dengan laki-laki itu.

.

.

.

Chung adalah yang paling jarang menceritakan tentang dirinya sendiri. Dia bukan orang yang tertutup; malah yang paling ekspresif di antara mereka (kedua setelah Aisha). Eve baru mengetahui alasan sikap Chung sejak mereka masuk ke dalam Temple of the Trials[1], dimana mereka bertemu dengan ayah Chung yang telah terpengaruh oleh kekuatan El kegelapan. Saat itulah Chung baru menceritakan tentang dirinya sendiri dan Eve merasa dia dan Chung begitu mirip, entah dari sudut mana.

Sejak itu pula Chung lebih sering pergi untuk mengunjungi rumah sakit Hamel. Setelah ayahnya menyelamatkan mereka dengan heroik, Eve dengar dia terkena luka yang cukup parah hingga harus tinggal di rumah sakit cukup lama. Namun sejak itu pula, Chung lebih sering tersenyum daripada biasanya.

Mereka sampai di depan rumah sakit Hamel dalam diam. Keduanya terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing, menciptakan suasana canggung yang tidak mengizinkan satu dari mereka untuk memulai pembicaraan. Tangan Chung yang menggenggam sekuntum mawar merah yang mereka beli di tengah perjalanan agak bergetar, sehingga Eve meletakkan sebuah tangan di bahu laki-laki itu, berharap dapat menenangkannya.

"Terima kasih." Chung bergumam pelan, kemudian tersenyum miris. "Aku sudah sering berada di sini, tetap saja tidak biasa dengan perasaan menekan ini."

Eve tidak mengatakan apapun, memutuskan kalau apapun yang ia katakan tidak akan memiliki efek apapun berhubung dia tidak mengerti perasaan Chung. Walaupun begitu, dia mengangguk, mengisyaratkan pada Chung kalau dia tidak akan kenapa-napa.

Chung menelan ludah dengan suara keras, kemudian perlahan-lahan membuka pintu—

"Akhirnya kau datang, Chung!"

—dan yang menyambut mereka adalah teriakan dari dalam ruangan rumah sakit yang terdengar hingga ke ujung koridor.

"Ayah! berhentilah berteriak setiap kali aku datang!" Chung mendesah dan membuka pintu lebih lebar, seolah sudah terbiasa dengan kejutan yang bahkan membuat Eve terpaku di tempat dengan mata melebar.

Laki-laki yang terduduk di atas kasur tertawa terkekeh, tidak terlihat sedikitpun penyesalan di wajahnya. "Ayolah! Ayah hanya merindukan anak semata wayang ayah, bukan?"

Sekali lagi Chung mendesah dan memasuki ruangan, memberikan isyarat bisu pada Eve untuk ikut dengannya. Eve mengangguk, dan masuk ke dalam ruangan yang terbilang sepi itu dari belakang Chung.

"Dan siapa gadis manis ini?" Laki-laki tua itu mengintip ke belakang Chung, mata birunya menatap langsung Eve dari kepala ke ujung kaki.

"Dia Eve, Nasod yang sering ku ceritakan." Chung berdeham. "Eve, ini ayahku, Hellputt Seiker."

Mendengar nama Eve, seolah mata biru Hellputt berkilat. "Oh! Kau Eve? Kau lebih manis dari yang Chung ceritakan!" Chung dengan wajah memerah berteriak 'ayah!', namun tidak di hiraukan oleh laki-laki yang lebih tua. "Chung sering sekali menceritakan tentangmu!"

Eve tersenyum kecil. Setelah dilihat, Hellputt mirip sekali dengan Chung. Dia memperhatikan kedua ayah dan anak itu bertengkar kecil, kemudian senyumnya berubah menjadi miris. Dia tidak ingat—bahkan tidak tahu apa dia pernah merasakan hangatnya sebuah keluarga. Dan sekarang entah mengapa dia merasa cemburu pada Chung yang memiliki seorang anggota keluarga.

Perasaan kesepian yang dingin kembali menyapu hatinya.

"Chung bilang kau adalah Nasod terakhir dari Altera, bukan?" Hellputt tiba-tiba bicara pada Eve, tersenyum lebar. "Bagaimana kalau kau menjadi anggota keluarga kami?"

Wajah Chung kembali memerah. "A-Ayah?!"

Sedangkan Eve, matanya melebar. Merasakan rasa... bahagia? Entahlah. Apapun itu, rasanya begitu hangat, dan dia ingin selalu merasakan perasaan itu.

"Tentu saja." Suara Eve terdengar monoton, namun terdapat sebuah senyum yang dapat membuat hati Chung luluh. "Memiliki sebuah keluarga bisa menjadi pengalaman untuk database ku."

Hellputt tersenyum puas, sedangkan Chung masih memiliki wajah semerah tomat.

"Akhirnya aku bisa memiliki seorang penerus..." Hellputt menggumam, sekali lagi mengundang teriakan malu dari Chung dan tatapan penasaran dari Eve, yang sama sekali tidak mengerti apa yang kedua orang di hadapannya bicarakan.

.

.

.

Chung memperhatikan Eve keluar dari ruangan ketika Hellputt memintanya untuk sebuah pembicaraan pribadi, kemudian kembali menatap ayahnya.

Tanpa mengatakan apapun, Helputt melepas sebuah kalung yang Eve gagal perhatikan; sebuah kalung dengan permata biru yang mirip dengan permata Freiturnier milik Chung, namun yang ini terukir dengan indah oleh tangan seorang ahli.

"Kau mengerti maksudku bukan, Chung?"

Chung tersenyum lebar, kemudian mengangguk dan menerima kalung itu. Kalung yang menjadi pusaka keluarga Seiker, yang digunakan anggota keluarga laki-laki untuk melamar seorang wanita yang dicintainya.

Tanpa mengatakan apapun lagi, Chung berlari dari ruangan mengejar Eve, masih memegang sekuntum mawar merah di tangannya.

"Aku mendoakan kebahagiaan kalian berdua." Hellputt berbisik, kemudian memutuskan untuk menyambut rasa kantuk yang sejak lama menghantuinya.

Sekarang dia bisa tidur dalam waktu yang lama dengan tenang.