Ditulis setelah saya selesai main Pokemon Black 2 c:
Disclaimer: Check chapter 1 :3
G – Game
Summary: Eve dapat menaklukan para Elite Four dalam beberapa hari, sedangkan Chung baru bisa menyelesaikan permainan itu seminggu kemudian. Bukannya tanpa alasan.
World: Kinda Canon?
Genre: Humor/Parody/Romance (if you squint)
Words: 825
Eve: Code Nemesis
Chung: Tactical Trooper
Elsword: Rune Slayer
Aisha: Elemental Master
Rena: Wind Sneaker
Raven: Blade Master
.
.
.
Ada sebuah waktu dimana para El Scout memutuskan untuk tidak menerima misi dan hanya bermalas-malasan di rumah. Alasannya? Para El Scout juga manusia (Kecuali Rena dan Eve, namun sama saja) dan butuh istirahat yang cukup dari hal-hal yang membuat mereka stres.
Suatu ketika di salah satu hari istirahat mereka, Elsword dan Aisha menemukan sebuah permainan yang menarik dan memutuskan untuk membelinya. Uang mereka sudah lebih dari cukup berhubung mereka melakukan banyak misi, dan akhirnya membeli untuk masing-masing orang.
"Kau tidak membeli platform untuk permainan ini?" Chung terlihat skeptis ketika melihat kedua orang itu hanya membeli cartridge permainan yang berjudul Pokemon Black 2 dan Pokemon White 2 itu.
Si ksatria berambut merah itu memasang tampang bodoh. Sedangkan penyihir berambut ungu itu wajahnya memerah, sepertinya tidak terima di samakan dengan si-bodoh-berotak-otot di sebelahnya.
Akhirnya, Chung dan Eve sebagai pasangan mekanik, membuatkan platform untuk memainkan game itu setelah mengumpulkan berbagai informasi dan bagian yang tepat untuk mereka semua.
.
.
.
Akhirnya cartridge dibagikan; para laki-laki mendapat Pokemon Black 2 sementara perempuan mendapat Pokemon White 2.
"Hei, Raven. Kau punya Shelmet?" Rena mengintip layar platform milik Raven, dan laki-laki itu refleks menurunkan layarnya. "Mau tukar dengan Karrablast ku tidak?"
"Ah, tentu saja. Berikan kabel data—" Raven menoleh ke arah Elsword, "Hei, berikan kabel datanya, Els. Kau sudah selesai, kan?"
"Tunggu dulu!" Si Rune Slayer menggigit bibir bawahnya, menekan tombol platformnya dengan begitu kasar. "Benda sialan ini terlalu lambat!"
"Jangan bilang begitu kalau kau tidak ikut buat." Chung langsung menyeletuk kesal. Sama seperti Elsword, dia tengah menekan tombolnya dengan kasar seolah tengah melakukan sesuatu dan Elsword baru saja memecahkan konsentrasinya.
Aisha, yang duduk dengan santai di depan Elsword, hanya memutar bola mata. "Duduk biasa saja, dasar bodoh. Kalau kau tidak hati-hati kabelnya bisa lepas." Walaupun dia mengatakan itu, wajahnya jelas terlihat kalau dia juga tidak sabar.
Setelah beberapa saat, terdengar bunyi, TING! Dan kedua orang itu mendesah lega.
"Akhirnya aku mendapat Solosis!"
"Akhirnya aku mendapat Gothita!"
Kedua pasangan itu saling menepukkan tangan, membuat mereka mendapat tatapan aneh dari yang lain. Semua kecuali Eve.
"Oh ya, sejak tadi kau diam saja, Eve." Rena yang baru menyadari itu langsung berjalan ke arah Eve dan mengintip layarnya. "Apa yang sedang—Oh,"
Sepertinya mendengar Rena yang kaget, semua langsung mengerubungi Eve dan menganga.
"—Kau sedang mengalahkan... Champion Iris?"
"Begitulah." Si ratu nasod menggumam.
Saat melihat Pokemon yang sedang di gunakan Eve, wajah Chung langsung memerah.
Sebuah Raichu dengan nama Chung, memiliki level 76; bukan level yang normal untuk orang yang baru pertama kali mengalahkan Elite Four.
"Raichu ini memiliki level paling tinggi dalam timku." Penjelasan itu justru tidak membuat rona merah di wajah Chung menghilang, terutama ketika para laki-laki mulai tertawa cekikikan. Ingin sekali Chung melempar granat ke wajah mereka.
"Iya sih, kalau di lihat-lihat, Pikachu memang mirip dengan rambut Chung." Aisha menggumam, kemudian ikut cekikikan dengan Elsword dan Raven.
"Awalnya aku tidak ingin mengubahnya menjadi Raichu. Namun perubahan itu penting untuk menjadi lebih kuat." Setelah menggunakan Thunder untuk Lapras, yang sepertinya pokemon terakhir Champion Iris, Eve menutup matanya dan meletakkan platformnya di atas meja dan menggumam, "Aku selesai."
"Oh tuhan, Eve. Kau terlalu rajin." Raven menggerutu.
"Bagaimana denganmu, Chung?" Elsword tiba-tiba menoleh ke arah Chung. "Apa kau punya Pokemon yang di beri nama Eve?"
Semua mata langsung terfokus pada Chung. Terutama Eve, yang kelihatannya begitu tertarik dengan topik ini.
"Erm... tentu saja... Eh..." Perasaannya saja, atau mata Eve memang berkilat? "—Aku harus melatihnya lagi... erm... dia belum siap?"
Kilatan di mata Eve menghilang. "Tentu saja." Gadis itu berdiri. "Aku mau pergi ke toko. Ada yang ingin menitip sesuatu?"
"Aku ingin cokelat. Dua batang." Aisha langsung bersemangat mengacungkan dua jari.
"Kau terlalu rakus, nanti kau gendut—" Elsword langsung terkena pukulan di kepala oleh tongkat Aisha. "—aku ingin snack. Apa saja."
"Sayur untuk nanti malam." Rena menyahut, sepertinya masih di tengah trade dengan Raven.
"Aku ingin snack juga." Raven menggumam.
"Ah, aku ikut denganmu." Chung langsung ikut berdiri. "Ada sesuatu yang ingin kubeli."
Eve mengangkat bahu, terlihat tidak peduli. "Ayo, kalau begitu."
Chung mengangguk singkat. Kedua pasangan itu langsung meninggalkan ruangan tanpa mengatakan apapun.
Setelah kedua pasangan itu pergi, mereka yang tersisa langsung melompat ke tempat Chung meninggalkan platformnya. Sepertinya dia lupa dia sedang berada di tengah permainan dan belum mematikan platformnya.
Elsword menekan tombol menu, kemudian mengintip ke tim milik Chung.
Kemudian mereka semua menganga.
"Aku ingin membunuh Chung." Raven menggumam kesal. "Dia bilang Eve kurang terlatih?"
Eve yang dibicarakan Raven adalah sebuah shiny Metagross yang berlevel 89 dan memiliki EV yang sempurna. Memang dia yang paling terlambat dari yang lain, tapi demi tuhan—jika mereka mengadakan turnamen antara satu sama lain, mereka yakin kalau Chung bisa saja menghabisi seluruh tim mereka hanya dengan Metagross ini.
Sementara timnya yang lain? Rata-rata memiliki level 79; tiga level lebih tinggi daripada Eve.
