seharusnya ini di update waktu hari pak lentin kemarin, tapi karena saya sibuk... sumimasen c':

disclaimer: check chapter 1! c:


H – Hair
Summary: Di balik Chung yang memutuskan untuk membiarkan rambutnya panjang seperti wanita, ada alasan tersendiri rupanya.
World: Kinda canon?
Genre: Romance
Words: 691

Eve: Code Nemesis
Chung: Iron Paladin
Rena: Grand Archer
Raven: Blade Master

.

.

.

"Eh? Kenapa aku membiarkan rambutku panjang?"

Eve mengangguk singkat, tidak membiarkan tatapan dari anggota El Scout yang lain—tatapan penasaran dan curiga—mengganggunya sama sekali. Jujur saja, mereka sama penasarannya seperti Eve, hanya saja memutuskan untuk tidak bertanya karena, hei, Chung bisa melakukan apapun yang ia lakukan, bukan? Lagipula Chung tidak pernah menanyakan hal-hal pribadi pada mereka, jadi adil.

Hanya Eve saja yang bisa bertanya to-the-point begitu. 'Sungguh hebat kekuatan Nasod...' semua di dalam ruangan itu (kecuali Chung dan Eve) berpikir.

"Hmm... kenapa ya?" Chung meletakkan kunci inggris yang sejak tadi ia gunakan untuk memperbaiki sebuah mesin kecil—entah apa itu, mereka sudah lupa—di atas meja dan bertopang dagu. "Hm, sekarang baru kau sebut, aku juga tidak tahu."

"Hah?"

Chung memandang Eve yang terlihat kesal dengan senyum miring. Sial, dia tidak puas. Tidak ada yang bisa menghentikan Eve jika dia penasaran. Eve harus tahu apapun yang membuatnya penasaran. Pernah suatu ketika mereka menemukan Eve tengah mengotak-atik komputer dan mencari sesuatu dalam internet. Dia bilang dia penasaran dengan sesuatu yang ia temui tiga ratus tahun lalu dan tidak bisa menyingkirkan perasaan penasarannya.

Terlihat seperti tengah berpikir keras, Chung akhirnya menjawab, "Ayahku memiliki rambut seperti ini." Dia menyisir rambutnya dengan tiga jari. "Aku merasa bisa sekuat ayahku jika memiliki rambut yang sama sepertiya." Akhirnya dia mengangkat bahu. "Yah, pada akhirnya aku malah merasa tambah merindukannya."

Eve masih menatapnya, terlihat setengah curiga, namun akhirnya hanya mendesah dan mengangkat bahu. "Oh, begitu." Dia masih kecewa dengan jawaban itu rupanya. Chung bersyukur Eve memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh.

Laki-laki berambut pirang panjang itu mendesah, kemudian memanggil untuk menghentikan Eve yang sudah berjalan memunggungi mereka. Ratu nasod itu berhenti dan berbalik, "Ya?"

"Aku suka rambutmu."

Eve memiringkan kepala, kemudian memandang rambut putih panjang yang ia biarkan tergerai dan memainkannya dengan jari telunjuk. "Terima kasih." Dan langsung berbalik dan meninggalkan lima orang yang ada di ruangan itu.

Baru saja Chung hendak kembali ke pekerjaan sebelumnya, Raven sudah menyeletuk, "Karena dia, bukan?"

Yang ditanya hanya tertawa, "Mungkin?" dan mengambil alat-alat serta mesinnya ke ruang tidurnya. Menolak untuk menjawab pertanyaan lain dari teman-temannya.

.

.

.

Chung sudah terbiasa di panggil perempuan, baik sengaja maupun karena orang yang memanggilnya tidak tahu. Biasanya dia hanya akan tertawa dan membetulkan kalau sebenarnya dia adalah laki-laki.

Sebenarnya rambutnya tidak sepanjang itu, sungguh. Rambutnya hanya sedikit lebih panjang dari Aisha, namun masih kalah panjang dari Rena dan Eve.

Sepertinya Elsword memang suka mengatai orang dengan setiap hal yang ia anggap lucu. Itulah sebabnya dia yang paling sering terkena amukan dari semua perempuan yang, Raven katakan, lebih ganas daripada laki-laki.

Hanya saja hari itu kesabaran Chung sudah mencapai batasnya.

"Aku ingin memotong rambutku saja!" Chung mengerang pada Rena, yang menurutnya memiliki sifat paling dewasa di antara semuanya. Aisha mungkin bisa membantu, tapi dia sedang tidak ada. Sedangkan Eve, well, Chung sendiri tidak mengerti dengan perempuan itu.

Rena tertawa pelan, mengelus kepala Chung, berusaha menghiburnya. "Bukankah kau ingin terlihat seperti ayahmu?"

"Aku tidak menduga kalau akan sesulit ini!"

Baru saja Rena hendak mengatakan sesuatu, seseorang sudah memasuki ruangan itu. Jelas-jelas di wajahnya tertera kalau dia hendak meledak.

Orang itu tidak lain adalah Eve.

"Kau," Dia menunjuk Chung, "Bisa tolong kecilkan suaramu? Aku tidak bisa konsentrasi melakukan tugasku kalau kau berisik." Suaranya monoton. "Kau seperti perempuan saja. Baru begitu sudah merengek."

Chung langsung merasa kesal. "Kau tidak akan mengerti, punya rambut panjang itu menyulitkan!"

"Rambutku lebih panjang dari rambutmu." Eve memutar bola matanya.

"Baiklah, bagaimana kalau kita taruhan?" Chung langsung melompat ke depan Eve, mata biru bertemu dengan emas. "Siapa yang bisa memiliki rambut lebih panjang, dialah yang menang."

Eve memang tidak memiliki hati—atau begitulah dia mengaku—tapi dia memiliki kebanggaan sebagai seorang ratu. Dan seorang ratu tidak akan pernah kalah.

"Baiklah. Ku terima tantanganmu."

Mungkin sejak saat itu Chung baru mulai memperhatikan Eve; apakah rambutnya tambah panjang atau tidak, apa yang dia lakukan untuk membuat rambutnya tambah panjang—

Dan mungkin sejak saat itulah Chung mulai menyukai Eve.

Walaupun Eve sendiri sepertinya tidak sadar, bahkan lupa dengan tantangan yang mereka buat bersama-sama.