The pun is punnier on my head- #duagh
disclaimer: check chapter 1 c:
Summary: Ice Cream
Summary: Dia membuka halaman pertama dari album itu. Kenangan pertama mereka adalah dengan sebuah es krim.
World: AU
Genre: Romance/Angst
Words: 616
Chung: Deadly Chaser
Eve: Code Empress
Add: Lunatic Psyker
.
.
.
Chung membuka halaman pertama dari album itu; sebuah album merah yang telah menabung debu di ujung lemari tuanya. Album yang menyimpan semua kenangan tentang dia dan orang yang ia cintai seumur hidupnya, Eve.
Halaman pertama yang menampilkan kenangan mereka adalah dia dan Eve yang tengah berpose bahagia (lebih tepatnya hanya dia, Eve memasang wajah datarnya seperti biasa) berlatarkan taman bermain di Hamel. Di tangan mereka berdua memegang es krim cone berwarna putih. Di sudut foto itu tertulis tanggal hari ini sepuluh tahun yang lalu.
Chung tersenyum, mengingat hari itu seolah baru kemarin. Dia ingat dia telah mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengajak Eve ke taman bermain yang baru saja dibuka. Dan ketika mendengar jawaban positif dari sang gadis berambut perak, dia merasa ingin sekali langsung bersujud ke arah matahari yang bersinar.
Hari itu adalah hari paling bahagia bagi Chung. Dia mengingat wajah kesal Eve ketika tidak bisa mengenai target dari permainan tembak di sebuah stand. Dia mengingat senyum kecil Eve ketika mereka menaiki berbagai wahana di taman bermain itu. Dia mengingat Eve yang berusaha setengah mati menahan tawa ketika Chung berusaha keras untuk membantu seorang pelancong asing dengan bahasa inggrisnya yang berantakan setengah mati.
Kenangan indah itu memukulnya seperti angin topan; cepat dan menyakitkan.
Halaman kedua dari album itu adalah ketika 'kencan' mereka yang kedua. Chung yang saat itu memang hanya berjalan-jalan di kota tidak sengaja bertemu dengan Eve, dan akhirnya mereka memutuskan untuk berjalan bersama dan berakhir makan di sebuah restoran keluarga yang sederhana. Chung ingat foto itu di ambil ketika mereka melewati sebuah photo booth di depan sebuah tempat bermain, dan Chung memutuskan kalau mengambil foto untuk mengingat hari ini adalah ide yang bagus.
Halaman ketiga adalah ketika mereka sedang piknik bersama dengan teman-teman mereka di sebuah taman kecil di Velder. Di foto itu terlihat Elsword yang wajahnya kotor dengan selai blueberry, namun tetap tersenyum. Di sebelahnya, kekasih Elsword, Aisha masih sibuk menodai pipi laki-laki berambut merah itu dengan selai—kini kacang. Di sebelah Aisha, Rena berusaha untuk menghentikan Aisha. Di belakang Elsword, Raven menatap kamera dengan tatapan datar. Chung dan Eve duduk bersebelahan, sama-sama tersenyum menatap kamera. Itulah pertama kali dia (dan teman-temannya) melihat Eve tersenyum begitu lebar. Di saat yang sama, Chung lega karena bisa melihat Eve tertawa seperti perempuan seumurannya; begitu lepas.
Halaman selanjutnya—Chung menggigit bibir bawahnya—adalah Eve dengan calon suaminya, Add. Saat itu ketika pesta perayaan perjodohan keluarga Eve dengan Add. Chung, yang menolak berada di antara kebahagiaan dua insan—dengan salah satu adalah cinta pertamanya—memutuskan untuk menjadi orang yang mengambil foto.
Chung tidak pernah berfoto bersama Eve di lembar berikutnya.
Dan di halaman terakhir adalah foto pernikahan Add dengan Eve, yaitu ketika mereka bertukar cincin. Chung mengingat jelas perasaannya saat itu; hancur lebur, tidak berbentuk, tidak dapat melakukan apapun ketika mereka mengucap janji suci.
Dia hanya ingin menjerit—hal yang paling tidak ingin ia lakukan. Oleh karena itu dia hanya tersenyum.
Chung meletakkan album yang sejak tadi ia buka dan meletakkannya di depan sebuah rumah—rumah sederhana di pinggir kota Altera yang dibeli oleh pasangan Add dan Eve Kim—meninggalkan semua kenangan indah yang ingin dia lupakan bersama dengan album itu, dan dia mengetuk pintu kayu itu.
Tanpa menunggu jawaban, dia langsung berlari—berusaha untuk tidak terlihat oleh sang pemilik rumah. Dia melihat Eve membuka pintu, melihat sekeliling, sebelum pandangannya jatuh kepada album yang ia tinggalkan. Dia melihat wanita itu memungut album tersebut dan memasuki rumahnya, bahkan tanpa melihat kearahnya sama sekali.
Tidak apa-apa. Ini sudah cukup.
Karena asalkan Eve bahagia, Chung pasti bahagia.
Dan Chung hanya bisa meneriakkan seluruh kesedihannya dalam dirinya sendiri.
