akhirnya ulangan selesai ;w;~ sekarang saya bisa nulis dengan tenang deh hahaha _(:'3/
disclaimer: check chapter 1 c:
L – Loop
Summary: "Maafkan aku." Dia menangis. "Terima kasih." Dia tersenyum. "Siapa namamu?"
World: AU
Genre: Romance/Angst
Words: 643
Chung: Deadly Chaser
Eve: Various
.
.
.
"Maafkan aku."
Jari-jari tangannya yang bersarung tangan terselip di antara kulitku, begitu pas cocok hingga aku berpikir kalau kita memang seharusnya bersama.
Memang. Andai saja takdir tidak sekejam ini kepada kami.
Perlahan-lahan kehangatan tangannya meninggalkanku. Wajahnya yang terlihat kesakitan kini memaksakan sebuah senyum, justru membuatku tidak merasa lebih baik.
Ku helai rambut peraknya yang tergerai, menempelkan sebuah ciuman di keningnya yang berkeringat. Kata perpisahan hendak meluncur di bibirku, yang sekuat tenaga ku tahan.
Karena kami akan bertemu lagi.
Saat bibirku meninggalkan kulitnya, dia memberikan sebuah senyum. Matanya yang biasanya kosong kini menampilkan begitu banyak emosi; sedih, kecewa, dan segala yang tak ingin ku lihat.
Kemudian dia berbalik, enggan mengatakan apapun lagi kepadaku. Saat kulihat punggung mungilnya menjauh dan menghilang di balik taman yang ditumbuhi berbagai jenis tanaman, aku tahu segalanya akan berubah dalam hidupku.
Dan dalan saat yang sama, akan terus dan terus mengulang—
.
.
.
Aku menyisir rambut peraknya yang berantakan dibawah gazebo yang menghadap ke arah taman bunga, menikmati keheningan yang nyaman dan harum bunga bercampur teh earl grey yang dibawakan salah satu pelayan.
"Kau terlihat begitu cantik jika rambutmu rapi." Kataku, meletakkan sisir yang sejak tadi kugunakan di sebelah cangkir teh yang belum tersentuh dan ganti menyisir rambutnya yang lembut dengan tiga jari.
Dia mendongak, menatapku dalam keheningan sebentar sebelum menggumamkan permintaan maaf.
Aku segera melambaikan tangan dengan cepat, "Bukan apa-apa, sungguh." Kemudian mengambil sisir di atas meja dan kembali menyisir rambutnya. "Aku akan selalu mencintai Eve."
Saat dia hendak meminta maaf kembali, aku buru-buru memotongnya, "Dan sudah kubilang, bukan? Berhentilah meminta maaf padaku, oke?"
Sudah cukup aku mendengar permintaan maaf darimu.
Eve menatapku dengan sepasang bola mata emas yang kosong, kemudian mengangguk pelan dan mengembalikan fokusnya kepada taman bunga yang menenangkan.
"Terima kasih."
Suaranya begitu pelan, seolah bisa menghilang terbawa angin jika aku tidak mendengar dengan seksama.
Aku menggumamkan 'sama-sama', kemudian mencium puncak kepalanya dengan lembut.
.
.
.
Aku melihatnya terbaring di atas kapsul; berbagai kabel terpasang pada tubuhnya yang telanjang, dan wajahnya yang ternoda keringat dan terlihat kesakitan.
Aku sudah melihatnya seperti ini berkali-kali, mengutuk diriku sendiri yang mulai tidak merasakan apapun ketika mendengar jeritannya. Mengutuk diriku sendiri yang tidak bisa mengambil maupun merasakan kesakitan yang ia rasakan.
Darah mengalir dari ujung besi pisau yang kupegang; darah yang berasal dari luka di tangan kiriku yang tersayat. Entah mengapa aku tidak bisa merasakan rasa sakit. Namun merasakan pipiku basah, aku yakin seperti inilah perasaan Eve; bagaimana merasakan rasa sakit namun harus terus menerus merasakannya.
Aku meyakinkan diriku sendiri kalau inilah yang selalu dilalui Eve. Dan sebagai orang yang akan berada di sisinya selamanya, aku akan menahan rasa sakit ini demi bisa merasakan rasa sakit yang selalu kau rasakan.
.
.
.
Dia masih berada di sana, terduduk di bawah gazebo sambil memandangi taman bunga dengan tatapan kosong, seolah keindahan taman itu sama sekali tidak berpengaruh padanya.
Tapi aku tahu lebih dari siapapun; Eve menyukai taman bunga ini, dia pernah bilang padaku satu ketika—ah, kapan dia mengatakan itu? Bahkan aku sendiri tidak ingat. Sudah lama sekali dia mengatakan itu.
Ah, aku bukanlah pacar yang baik yang melupakan kata-kata pacarnya, bukan?
Aku berjalan ke arahnya. Aku tahu aku akan memulai segalanya dari awal lagi; kami bertemu, saling jatuh cinta, dan terpisah dengan tragis sementara aku melihatnya tersiksa tanpa bisa melakukan apapun.
Dia menoleh, sepertinya mendengar suara kakiku menginjak ranting kayu yang tergeletak entah dimana. Helai rambut yang terlepas dari ikatan di sisi kepalanya bergoyang dengan indah ketika dia menengok ke arahku.
Dengan sebuah senyum kecil, dia menyapaku, kemudian menanyakan pertanyaan yang sama setiap pertemuan 'pertama' kami.
"Siapa namamu?"
.
.
.
Aku tidak keberatan terus mengulang dalam spiral yang berakhir tragis ini. Karena suatu saat, aku akan membawamu keluar dari tempat ini.
Dan aku akan terus menunggu hingga saat itu tiba.
