aaaah saya telat update ;; sumimasen ;; #sujud
terinspirasi dari lagu Kokoro-nya Kagamine Rin~
disclaimer: check chapter 1 c:
edit 7/3: genre berubah jadi hurt/comfort biar nyambung c:
M – Machine
Summary: Aku adalah nasod, dan aku tidak memiliki hati yang kau inginkan.
World: AU
Genre: Hurt/Comfort
Words: 612
Chung: Tactical Trooper
Eve: Code Battle Seraph
.
.
.
Namaku Eve. Aku adalah seorang nasod yang diciptakan oleh seorang profesor yang bernama Chung Seiker. Chung selalu mengatakan kalau aku adalah orang yang paling dicintainya, dan aku juga adalah orang yang paling mencintainya—itulah tujuanku dibuat.
"Aku tidak mengerti apa itu cinta," aku pernah mengatakan itu pada tuanku.
"Kau akan mengerti suatu saat." Dia hanya menjawab dengan sebuah senyum penuh arti.
.
.
.
Setiap pagi Chung selalu mengeluarkanku dari tabung, menunjukkan sebuah taman bunga yang ditumbuhi oleh mawar merah. Dia membawaku ke bawah sebuah gazebo, kemudian menyuguhkan segelas teh kepadaku.
Sebagai seorang nasod, aku tidak dapat meminum teh manusia. Aku juga tidak pernah tertarik pada benda yang dibutuhkan manusia untuk menambah tenaga mereka.
Dia selalu bertanya padaku, "bukankah taman ini indah?" dan jawabanku selalu sama, "Apa itu indah?" kemudian kami hanya akan memandangi taman bunga itu dalam keheningan.
.
.
.
Dia selalu membawakanku pakaian setiap hari.
Pakaian yang dibawanya selalu berbeda setiap saat, mulai dari gaun yang panjang hingga celana yang pendek, selalu memintaku untuk memakai mereka dan menanyakan pendapatku tentang pakaian-pakaian tersebut.
Dan jawabanku selalu sama, "Apa bedanya pakaian-pakaian ini?"
.
.
.
Dia selalu terlihat sedih ketika aku menyapu kelopak-kelopak bunga mawar yang berjatuhan di depan laboratorium.
.
.
.
Dia selalu memintaku untuk tersenyum, sebuah permintaan yang tidak pernah bisa kukabulkan.
.
.
.
Aku adalah nasod, dan aku tidak memiliki hati yang kau inginkan.
.
.
.
Ratusan tahun berlalu. Sebagai seorang nasod, hidupku akan jauh lebih lama darinya, yang hanya seorang manusia. Tanpa kusadari, dia telah terkulai di kursi putar yang selalu dia duduki. Kulit telah menghilang, dengan jas putihnya menutupi tubuh yang hanya tersisa tulang belulang.
Mataku menangkap layar komputer yang selalu kau gunakan, memicing ketika melihat benda itu masih menyala setelah ratusan tahun ini. Tanganku menyentuh keyboard usang yang telah menabung debu, dan mulai mengetik sesuatu yang selalu kau harapkan kumiliki.
.
.
.
"Jangan pernah membuka software itu,"
"Kau masih belum bisa memilikinya,"
.
.
.
Ah—
Saat itulah aku merasakannya.
Perasaan yang meluap ketika membuka software yang telah ia larang untuk kubuka.
Sirkuitku terasa panas, tidak kuat menerima kode-kode baru yang merubah kode yang telah tertulis dalam diriku.
Ratusan, bahkan ribuan gambar-gambar muncul dalam kepalaku. Semua dari mereka adalah foto sang profesor dengan senyum yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Bersamanya adalah seorang wanita yang sama persis denganku. Tersenyum pada profesor Chung.
"Aku dan Eve, di kebun mawar."
"Bukankah taman ini indah?"
"Aku dan Eve, mencoba pakaian."
"Bagaimana pakaian ini?"
"Aku dan Eve, membuat rangkaian bunga."
"...Kau akan membuangnya?"
"Eve tersenyum, manis."
"Maukan kau tersenyum untukku?"
"Eve terbaring, jangan tinggalkan aku."
"Tinggallah denganku selamanya."
"Eve telah pergi dariku. Maafkan aku..."
"Maafkan aku, Eve. Aku harus meninggalkanmu."
Seluruh gambar itu, gambar itu, terbesit dan mengiris sesuatu dalam dadaku. Semakin lama semakin buram, hingga aku baru menyadari kabut basah telah membungkus mataku.
.
.
.
Taman yang kau tunjukkan padaku adalah taman terindah yang pernah kulihat.
Pakaian yang kau berikan begitu bagus.
Bunga-bunga itu tidak pantas berada di tempat sampah.
Hei, profesor, dapatkah kau melihat senyumku sekarang?
.
.
.
Hei, profesor?
Maukah kau tetap bersamaku?
.
.
.
Tanganku menyentuh sisa tanganmu, mengangkatnya perlahan, membawanya ke pipiku. Ingin kurasakan kehangatan tanganmu—yang sebelumnya tidak pernah kurasakan—ketika membelai pipiku.
—Code: 999; system overload—
Aku memeluk tubuhmu perlahan-lahan, tidak ingin sisa darimu menghilang dari hadapanku.
—shutting down system in ten seconds—
Aku mendongak, menemukanmu tersenyum padaku.
"Ayo kita pergi, Eve."
Aku tersenyum, membiarkan air mataku tumpah di dadanya.
"Baiklah. ...Chung."
—Thank you. Good bye—
.
.
.
Aku adalah nasod. Namun sekarang, aku memiliki sebuah hati.
