gomen saya telat update lagi ;;A;;
disclaimer: check chapter 1 c:
N – narcotics
Summary: Bagi Eve, keberadaan dan senyum Chung adalah sebuah narkoba. Dan Eve, yang telah mencoba narkoba tersebut, tidak akan bisa berhenti untuk terus menginginkannya.
World: Canon
Genre: Romance
Words: 709
Chung: Deadly Chaser
Eve: Code Battle Seraph
Rena: Grand Archer
Elsword: Rune Slayer
.
.
.
Chung Seiker adalah seseorang yang berbahaya.
Pikiran itu tertancap dalam sirkuit Eve sejak beberapa minggu yang lalu. Sesuatu tentang laki-laki pirang itu mengganggunya. Dan bagaimanapun dia mencoba, tetap tidak bisa dia menyingkirkan pikiran itu dari kepalanya.
Eve tidak mengerti bagaimana pikiran itu tiba-tiba muncul; Chung adalah orang paling baik dalam kelompok mereka. Jikalau bukan karena Rena, dialah orang paling perhatian dan hampir tidak pernah marah sekalipun (untuk yang kedua, dia lebih baik daripada Rena). Dia tidak pernah segan membantu teman-temannya jika mereka dalam kesulitan dan selalu mampu melindungi dia dan yang lain. Tidak lupa Eve selalu meminta saran padanya jika dia butuh bantuan tentang barang elektronik lainnya.
Mungkin justru karena itu Eve menganggapnya berbahaya; bagaimana cara Chung membuat sesuatu dalam dirinya berdetak dengan cepat hanya dengan senyuman, bagaimana cara Chung membuat wajahnya terasa panas hanya dengan berada di sisinya.
Eve seharusnya tahu dia tidak perlu mendengarkan rasa ingin tahunya yang bodoh terhadap si pirang tersebut. Baginya itu adalah sebuah kesalahan terbesar, seolah telah memakan buah terlarang yang ada di surga.
.
.
.
Keberadaan Chung Seiker di sisi Eve adalah sebuah keharusan yang mutlak.
Eve tahu dia menjadi egois sekarang—hei, seorang ratu boleh menjadi egois, kan?—tetapi suasana tanpa Chung seolah seperti berada di ladang penuh salju yang tidak berpenghuni; begitu sepi dan dingin, walaupun Elsword terus menerus mencerocos tentang kakaknya sementara Aisha dan Raven berusaha menghentikannya dengan paksa.
Memang Chung hanya pergi sebentar untuk melakukan misi, tetapi waktu yang dihabiskan Eve tanpa Chung seolah seperti selamanya. Bahkan terasa lebih lama daripada waktu Eve tertidur dalam kapsul di Altera.
Tak henti-hentinya Eve menengok ke arah jendela, berharap Chung segera kembali dari misinya dan langsung mengikuti apapun yang sahabat seperjalanannya ini bicarakan (setidaknya Eve bisa terhibur melihat Chung berbicara dengan yang lain). Tak jarang pula Eve tertangkap basah tengah melihat ke jendela, yang berakhir dengan godaan tanpa henti dari Rena tentang istri muda yang menunggu sang suami kembali. Biasanya ruang tamu langsung menjadi kapal pecah seketika, dan perang kecil antara dia dan sang elf berhenti seketika ketika Chung kembali.
Dan ketika dia kembali, biasanya Eve akan langsung memukulnya dengan keras dan memerintahkan laki-laki itu untuk tidak kembali terlalu lama. Sekali lagi, membuat orang-orang lain yang sudah tahu terkekeh pelan di belakang.
.
.
.
Chung diharuskan untuk memberikan Eve sebuah senyum; baik di pagi hari ketika mereka berpapasan di lorong rumah, di siang hari ketika mereka melakukan misi bersama, maupun di malam hari ketika mereka berpisah di lorong menuju kamar masing-masing.
Seperti jemaah keagamaan yang taat, Chung melakukan tiga hal itu secara rutin setiap hari. Semakin lama menjadi kebiasaan sang ratu nasod untuk memiliki wajah merah di pagi hari dan terkadang tidak fokus ketika melakukan misi.
Bukannya Eve keberatan. Setidaknya dia bisa melihat senyum Chung setiap hari tiga kali sehari.
Pernah suatu ketika, Elsword melemparkan sebuah kalimat datar, "...Kalian kenapa terus tersenyum seperti idiot? Sana cari ruang sendiri!"
Sontak senyum Chung langsung menghilang, terganti dengan wajah merah dan teriakan marah kepada Elsword. Eve mengerutkan kening, terutama ketika Chung terus menerus mengabaikannya hari itu juga dan pergi darinya dengan wajah merah.
Dan demi tuhan, nyaris saja Elsword berubah menjadi makan malam hari itu andai saja Eve tidak berbicara langsung dengan Chung.
"...K-Kau tahu?" Chung berkata, matanya terarah ke lantai. "Bukannya aku marah padamu, hanya saja aku tidak enak jika Elsword terus mengejekmu seperti itu karena dekat denganku."
Eve memiringkan kepala, jelas tidak mengerti dengan satu kata pun yang terucap olehnya. "...Memangnya kenapa kalau kita berbicara seperti ini?" Kemudian dia mengangkat bahu. "Lagipula, aku tidak peduli dengan apapun yang idiot itu katakan."
Chung mendongak, sebelum akhirnya tersenyum hangat—sekali lagi membuat sirkuit Eve begitu panas hingga dia merasa bisa meledak kapan saja. "Kau benar, Eve. Aku sungguh bodoh." Kemudian dia menepuk rambut perak Eve dengan lembut sebelum pergi ke kamarnya sendiri.
Eve terdiam sebentar di tempatnya dengan wajah memerah, sebelum akhirnya masuk ke kamarnya sendiri dengan buru-buru dan langsung menjalankan program untuk mendeteksi eror dalam sistemnya.
.
.
.
Bagi Eve, keberadaan dan senyum Chung adalah sebuah narkoba. Dan Eve, yang telah mencoba narkoba tersebut, tidak akan bisa berhenti untuk terus menginginkannya.
