Gomeen saya udah seminggu nggak update _(:'3 inet lagi kelewat lemot, edit di ffn aja susah banget _(:'3

disclaimer: check chapter 1 :3


O – Oppress
Summary: Eve terkenal sebagai seorang ratu yang memimpin dengan tangan besi, dan hanya Chung yang tahu tentang semua yang ada di balik topeng milik sang ratu.
World: AU
Genre: Romance/Angst
Words: 945

Chung: Deadly Chaser
Eve: Code Nemesis

.

.

.

Altera, salah satu dari kerajaan terbesar di Elrios. Kerajaan yang dihuni oleh robot yang dibangun sejak lama oleh-entah-siapa bersama dengan makhluk langka seperti tikus bernama Ponggo. Altera telah lama dikenal oleh kerajaan lain sebagai kerajaan dengan kekuatan militer paling kuat, bahkan lebih kuat daripada milik Hamel, kerajaan terbesar sendiri. Selain kekuatan militer yang tangguh, mereka juga menduduki posisi yang stabil dalam hal perekonomian.

Dibalik sebuah kerajaan yang maju, pastilah terdapat pemimpin yang tangguh dan warga yang patuh pada pemimpin mereka.

Terdapat sebuah rumor yang aneh dikalangan para petinggi kerajaan; yaitu tentang identitas sang pemimpin Altera adalah seorang gadis nasod yang masih muda. Sang pemimpin memang tidak pernah menunjukkan wujudnya, baik ketika pertemuan penting maupun pesta dansa. Dia hanya mengirim salah seorang utusan yang berakhir tidak pernah berkomunikasi dengan siapapun. Hal itu telah dianggap sebagai sebuah penghinaan bagi kerajaan lain.

Walaupun begitu, tidak pernah sekalipun terlintas dalam benak mereka untuk memutus hubungan dengan kerajaan Altera. Mereka semua memiliki seorang pemimpin yang bijaksana; dan mereka tahu kalau mengajak perang dengan Altera bukanlah sebuah keputusan yang bijak.

.

.

.

Saat itu adalah sebuah hari yang biasa di negeri Altera. Para nasod yang telah terlatih sebagai prajurit berbaris dengan rapi, tidak bergerak sama sekali walaupun para ponggo terus mendorong barisan para robot untuk menembus mereka.

Mereka hanya bisa menyaksikan salah satu teman sesama ponggo mereka yang tangan dan kakinya di ikat dengan rantai, dan salah satu nasod menyeretnya seolah dia adalah hewan ternak.

Sang nasod kemudian berhenti di depan sebuah panggung kayu dan berlutut di hadapan seorang wanita berambut perak yang duduk dengan santai di singgasananya, wajahnya jelas-jelas terlihat bosan. Di sisinya, berdiri seorang laki-laki berambut pirang yang menatap iba kepada ponggo yang terikat.

Nasod itu memberikan sebuah penghormatan, kemudian berdiri dan mengumumkan dengan jelas. "Ponggo ini telah berusaha untuk mencuri buah yang hendak di impor ke negeri Velder pada pagi buta hari ini. Mohon keputusanmu untuk menghukum makhluk rendahan ini, yang mulia."

Sang wanita mengangkat tangannya, dan dengan sigap laki-laki yang ada di sisinya maju selangkah untuk membisikkan sesuatu pada wanita itu. Wanita itu terlihat kesal sekilas, kemudian menjauhkan wajah laki-laki itu dari sisi wajahnya.

"Hukuman mati."

Kalimat singkat dari sang ratu sudah cukup untuk membuat kericuhan di antara para Nasod; ada yang melempar ejekkan, ada yang menangis hingga meraung, bahkan ada yang memukul pasukan penjaga dengan cangkul mereka. Tidak ada yang berhasil—para pasukan penjaga hanya diam di tempat, seolah hanyalah sebuah patung dari besi.

Sementara ponggo yang telah divonis bersalah oleh ratu hanya bisa menerima nasib. Dia membiarkan dirinya di seret dengan kasar oleh penjaga, kemudian badannya di rantai di sebuah alat pemenggal kepala.

Tidak perlu menunggu lama baginya sebelum bilah alat tersebut jatuh dan memutuskan hubungan kepalanya dengan badannya.

Itulah sebuah keseharian orang-orang yang tinggal di kerajaan Altera; kerajaan yang dijuluki sebagai salah satu kerajaan terkuat hanyalah sebuah tempat penuh kengerian dibawah tirani ratu mereka yang mengerikan.

.

.

.

"Eve!"

Eve, nama sang ratu tiran Altera, terlihat tengah menyandarkan diri di sebuah tiang dalam istana. Wajahnya sedang memunggunginya, namun dia tahu jelas apa yang sedang dirasakan oleh sang ratu. Begitu mendengar namanya di panggil, dia buru-buru menegakkan dirinya dan berbalik. Wajahnya terlihat datar seperti biasa—atau setidaknya, dia sudah tidak tertipu lagi dengan topeng yang selalu dikenakan Eve.

"...Chung. Sudah kubilang untuk berhenti memanggilku itu." Suaranya terdengar begitu elegan, namun mematikan.

Chung mendesah pelan. Penasihat sekaligus tunangannya dari Hamel bisa dibilang satu-satunya orang yang mengerti tentang penderitaan Eve. Hal itu tidak membuat Eve senang, namun entah mengapa dia merasa begitu bahagia ada yang mengerti tentang perasaannya.

"...Eve." Chung menarik tubuh mungilnya dalam pelukannya. "Kau hanya seorang manusia. Jangan memaksakan dirimu."

"Berhenti mengatakan itu. Aku bisa saja memutuskan hubungan dengan Hamel."

Laki-laki berambut pirang itu tidak menjawab, hanya menarik sang ratu ke dalam pelukannya, mengelus rambutnya yang tergerai dengan lembut.

"...Kau sudah bekerja keras, Eve." Chung berbisik di samping telinga Eve, mengeluarkan sesuatu dari punggungnya. "...Istirahatlah."

Eve merasakan sesuatu yang dingin menempel di samping kepalanya. Mengetahui apa yang sudah menunggunya di depan sana, dia hanya menutup matanya dan tersenyum—sesuatu yang tidak akan pernah Chung lihat lagi (mana mau dia memperlihatkan senyumnya pada orang ini?—dan memeluk laki-laki itu dengan erat.

"...Terima kasih."

Sang ratu terkulai lemas dalam pelukan Chung. Warna merah menodai rambut peraknya yang tergerai.

.

.

.

Sejak pertama kali bertemu, Chung sudah jatuh cinta kepada Eve.

Dia tahu pernikahan politik ini tidak membuatnya bahagia sama sekali, dan hal itu juga berlaku untuk sang ratu muda. Setidaknya dia senang ada seseorang yang mau setuju dengannnya.

Terutama karena tujuan awal dari 'pernikahan' ini bukan untuk menikah sama sekali; dia hanya ditugaskan untuk mengawasi Eve, menghentikannya dari membunuh rakyatnya sendiri. Dan jika gagal, Chung diharuskan untuk membunuh Eve.

Chung bisa membaca Eve seperti buku yang terbuka; dia tahu kalau Eve tidak pernah menikmati membunuh rakyatnya sendiri. Chung tahu wanita itu melakukan ini untuk menjaga keamanan negerinya. Namun yang rakyatnya lihat dari ratu mereka hanyalah seorang tiran yang kejam dan berhati dingin.

Tubuh dingin dari sang ratu sekarang menumpu padanya. Darah segar mulai mengotori ujung dari pistol putihnya. Namun sekarang itu sudah tidak penting. Sejak awal Chung memang tidak bisa membunuh sang ratu yang patut di kasihani. Dan sekarang dia sudah membunuhnya; dia sudah tidak punya tujuan lain selain mengakhiri hidupnya sendiri.

Dengan mudahnya, dia memindahkan ujung pistol miliknya dari kepala Eve ke sisi kepalanya sendiri. Wajahnya kosong, seolah tidak ada beban ketika dia hendak membunuh dirinya sendiri.

Wajah itu bertahan ketika dia menarik pelatuk dan menyarangkan sebuah peluru dalam kepalanya sendiri.