kayaknya jadwal update saya terancam makin kacau gara-gara internet... mohon dimaklumi _(:'3/
coba-coba bikin horor, kayaknya gagal _(:'3/ sumimasen
disclaimer: check chapter 1 c:
P – Painting
Summary: Saat berkeliling di sebuah pameran, bukankah tidak aneh jika bertemu dengan orang yang mirip dengan yang ada di lukisan?
Genre: Horror
World: AU
Words: 912
Eve: Code Empress
Chung: Iron Paladin
Raven: Veteran Commander
.
.
.
Gambar itu begitu indah, begitulah pikir seorang Chung Seiker, mahasiswa seni di sebuah universitas di Velder tentang sebuah gambar yang sendirian di sebuah ruangan terpencil. Dia menyukai bagaimana warna putih dari rambut dan gaun wanita yang kontras dengan latar belakang gelap terlihat begitu menawan. Dia suka bagaimana warna mata emas wanita itu menatapnya lekat, seolah wanita itu benar-benar berada di hadapannya dan menatapnya menembus jiwanya.
Singkat kata, wanita dalam lukisan ini mengagumkan.
Chung tersenyum kecil. Tidak rugi dia menghabiskan beberapa ED-nya yang terbatas untuk datang dan melihat-lihat lukisan dan patung-patung di tempat ini. "Sebagai bahan pelajaran," Kata teman satu fakultasnya, Raven, sambil tersenyum penuh arti. Ini adalah pertama kalinya Raven mengajaknya ke tempat yang bukan toko buku porno dan Chung tidak ingin memukulnya.
Ah, ralat itu. Dia masih ingin meninjunya, sepertinya.
Laki-laki yang sejak tadi ia bicarakan sebenarnya sudah ia tunggu sejak lima belas menit yang lalu, masih belum menunjukkan batang hidungnya. Walaupun laki-laki itu sendiri yang mengajaknya ke tempat ini dan laki-laki itu sendiri yang akan mengajaknya berkeliling. Dan laki-laki itu sendirilah yang datang terlambat.
Sungguh, seharusnya Raven adalah orang yang paling tahu untuk tidak membuat Chung marah. Padahal mereka sudah berteman selama yang bisa ia ingat, dasar orang itu—
"Kau menghalangi jalan."
Chung sontak menjerit kaget dan melompat ke belakang, menemukan sosok seorang gadis yang lebih pendek darinya sudah ada di belakangnya.
Chung menegak ludah, sejak kapan dia ada disini? Apakah Chung begitu seriusnya berpikir sampai dia tidak merasa kalau ada orang di belakangnya? Tidak mungkin. Chung selalu di didik untuk mengetahui kalau seseorang datang—terlebih seorang wanita—sebagai tanda hormat seorang laki-laki.
Wanita itu berdeham sekali, mata emasnya masih menatap Chung lurus-lurus. "...Kau mau geser atau tidak?"
"Eh—Ah!"
Langsung Chung melompat ke samping, menghindar dari jalan perempuan itu—walaupun dia sendiri tidak yakin kemana wanita itu akan pergi, berhubung di depan mereka hanyalah sebuah dinding dengan lukisan besar.
Tunggu dulu—
Chung menatap wanita itu lekat-lekat, kemudian kembali ke gambar yang menggantung di dinding, baru menyadari betapa miripnya perempuan itu dengan wanita yang ada di lukisan—
"Kau menyukai lukisan ini?"
Ketika wanita itu bertanya, laki-laki itu agak terperanjat.
"...A-Ah, begitulah." Berusaha menenangkan dirinya sendiri, Chung berdeham. Kemudian dia menoleh ke arah gambar yang terpajang di dinding dengan senyum kecil. "Kakek buyutku menggambar lukisan ini bertahun-tahun lalu."
Laki-laki pirang itu tertawa pelan ketika mengingat wajah marah kakeknya ketika ayahnya memutuskan untuk menyumbangkan lukisan yang disebut-sebut sebagai pusaka keluarga Seiker kepada musium lokal. Kemudian kakeknya memutuskan untuk pergi dari rumah dan tidak pernah terdengar lagi hingga sebuah surat yang menyatakan kakeknya meninggal tiba di rumah beberapa bulan lalu. Chung sendiri tidak yakin apakah kakeknya masih mengutuk ayahnya atau tidak. Chung lebih memilih pilihan kedua, tentu saja.
Wanita itu memiringkan kepalanya, kemudian tersenyum kecil. "...Kalau begitu, apa kau tahu apa nama lukisan yang indah ini?"
Chung menoleh ke arah wanita itu, wajahnya agak memanas ketika menemukan dirinya sendiri berpikir kalau sikap wanita aneh ini begitu manis.
Dia tidak terlalu ingat, tetapi kalau tidak salah kakeknya pernah menunjukkan lukisan ini padanya ketika dia kecil dan menceritakan secara detail tentang lukisan ini; bagaimana lukisan ini adalah hadiah yang ditunjukkan dari kakek buyutnya kepada kerajaan altera, wanita berambut putih dengan baju ekstravagan yang tengah duduk di singgasana emas adalah ratu dari kerajaan altera di masa lalu, dan berbagai orang-orang yang berada di latar belakang adalah pemujanya.
Mungkin hanya perasaannya, tapi kakeknya pernah mengatakan kalau orang-orang yang ada di latar seharusnya hanya ada delapan orang –kenapa sekarang terasa lebih banyak?
"Bagaimana?"
Chung mendongak, tersenyum simpul, sebelum menjawab dengan ragu. "...Kalau tidak salah, All Hail our Queen Eve, benar?"
Manik emas wanita itu melebar, sebelum akhirnya dia tersenyum pelan. "Kurang tepat, tapi tidak masalah." Dia menoleh ke arah gambar itu. "Judulnya adalah My Beloved Queen, Eve. Setidaknya kau cukup dekat dengan jawabannya. Lukisan ini dibuat oleh Add Seiker."
Setelah jeda beberapa menit, wanita itu kembali menatapnya dengan datar. "Temanmu sudah menunggu di depan." Kemudian dia tersenyum. "Semoga kita bisa berjumpa lagi, Chung Seiker."
"Eh? Kau tahu darimana—"
"Oi! Chung!"
Chung menoleh ke belakang, mendapati seorang laki-laki berambut hitam yang jauh lebih tinggi darinya tengah berlari kecil ke arahnya. Sesekali dia menabrak seseorang, namun sepertinya tak dihiraukannya.
"Raven! Kau telat!" Chung mendesah kesal sambil menghampirinya. "Aku sudah menunggumu sejak tadi!"
Laki-laki yang dipanggil Raven menaikkan satu tangan ke depan wajahnya, terlihat meminta maaf. "Tadi Elsword bilang dia akan datang, tapi dia langsung membatalkannya karena kencan dengan rambut anggur."
Chung memutar bola matanya. Jika Aisha mendengarnya, mungkin sekarang Raven sudah berteriak kesakitan sekarang.
"Oh ya, sejak tadi kulihat kau berdiri di sini sendirian. Kau menyukai lukisan ini?"
Begitu Raven menyebut tentang lukisan itu, Chung langsung teringat dengan wanita yang sejak tadi ia ajak berbicara dan langsung berbalik. Berniat untuk memperkenalkan wanita aneh itu pada Raven—
"Eh?"
Wanita itu sudah tidak ada.
"Kenapa?" Raven bertanya, sebelum ekspresinya menjadi sebuah seringai mengerikan—atau setidaknya dia berusaha. "...Jangan-jangan kau bertemu dengan wanita dalam lukisan ini!"
Wajah Chung seketika memucat. Bahkan setelah Raven melanjutkan, "Kau tahu, jika kau kurang beruntung, kau bisa bertemu dengan wanita yang sama persis dengan lukisan ini. jika kau salah menjawab pertanyaannya, kau akan dihisap ke dalam lukisan ini! tapi itu hal bodoh, bukan?"
Raven tertawa. Wajah Chung masih pucat.
Seperti baru menyadari wajah pucat sahabatnya dan bagaimana Chung tidak ikut tertawa dengannya, tawa Raven seketika menghilang dan wajahnya ikut memucat.
"...Kau serius?"
