sekali lagi bikin horor, semoga ini cukup horor untukmu *lirik Sugarlatte* c;
yandere!Eve OOC to the max 8D #thousandstar'd
disclaimer: check chapter 1 c:
Q – Quiet
Summary: Dia tahu yang perlu dia lakukan sekarang adalah diam.
World: AU
Genre: Suspense/Horror/Romance
Words: 719
Eve: Code Nemesis
Chung: Tactical Trooper
Aisha: Dimension Witch
.
.
.
Tok tok.
Suara itu lagi.
Sudah berapa kali ia mendengarnya hari ini? bahkan Chung sendiri tidak menghitung lagi. Bisa-bisa jari tangan dan kakinya tidak cukup untuk menghitung jumlah wanita itu mengetuk dari balik pintu apartemennya.
Ya, yang membuat seorang Chung Seiker, laki-laki yang disebut sebagai pangeran di SMA Hamel, sekarang tengah duduk memunggungi pintu depannya sambil memeluk lututnya. Ketakutan karena seorang stalker yang selalu berada di depan pintunya setiap saat.
Bagi laki-laki lain, Chung Seiker adalah laki-laki paling beruntung di dunia. Uang? Punya. Paras? Punya. Karisma? Punya.
Tetapi bagi Chung sendiri, bakat yang ia miliki adalah sebuah kutukan. Sekarang dia mulai merutuki ayahnya yang menikah dengan orang luar negeri untuk memperbaiki keturunan.
Tok tok.
Pada awalnya, Chung sendiri bisa mengabaikan para stalker yang selalu siap dua puluh empat jam di depan gerbang apartemennya hanya sekedar untuk mengucap selamat pagi. Bukan masalah; setidaknya mereka tidak berada di depan pintun kamarnya seperti yang satu ini.
Eve, orang yang pernah ia sebut sebagai sahabat baiknya. Mereka sudah bersama sejak kecil, dan Chung sendiri sudah menganggap perempuan berambut putih itu sebagai adiknya sendiri. Belum lagi karena apartemen mereka yang bersebelahan.
Sekarang dia merutuki dirinya di masa lalu yang hanya mengatakan dengan santainya kalau ini adalah sebuah kebetulan yang menyenangkan.
Pada awalnya Eve tidak seperti ini; Chung bukan orang dungu, jadi dia tahu kalau Eve menyukainya. Dia tahu perlakuan hangat Eve hanya ditunjukkan padanya, dan setiap kali Eve memicingkan mata emasnya ketika salah satu penggemar Chung menggodanya, tentu saja Chung menyadarinya.
Namun semua itu berubah ketika kebetulan—sekarang dia yakin kalau itu bukanlah sebuah kebetulan—Chung mendapati kakak kelas yang sudah lama ia sukai, Aisha, memberikannya sebuah surat cinta. Tentu saja Chung senang bukan main, bahkan tidak bisa menahan senyumnya ketika dia pulang bersama dengan perempuan berambut putih tersebut.
Dan saat itulah semuanya mulai jatuh berkeping-keping.
Eve menemukan surat beramplop merah muda yang ia simpan dalam lemarinya; Chung sendiri yang mendapati perempuan berambut putih itu berada dalam kamar tidurnya, mengobrak-abrik tempat itu dan membuatnya seolah pencuri bisa memasuki ruangan yang memiliki keamanan paling ketat se-Lurensia itu. Kemudian tidak terlihat berdosa, justru marah, Eve mengacungkan surat tersebut dan menamparkannya di wajah Chung, "...Kau tidak memberi tahuku soal ini!"
Chung menggigit bibir, tidak membiarkan 'ini bukan urusanmu' lepas dari mulutnya. Sejujurnya dia sendiri masih kebingungan bagaimana Eve bisa masuk dalam ruang apartemennya padahal dia mengunci pintunya dan dia ingat tidak pernah memberikan kuncinya pada Eve dan tidak ada tanda-tanda pembobolan di lubang kuncinya.
Keesokan harinya, dia mendapat sebuah paket dari seseorang yang tidak menuliskan nama maupun alamatnya. Awalnya dia curiga dan merasa tidak enak karena mendapat sesuatu yang begitu mencurigakan, namun mengingat kalau hal ini biasa dari penggemarnya dan berisi barang-barang yang aneh, dia hanya mengabaikan perasaan tidak enaknya dan membuka paket tersebut.
Sepuluh pasang jari mungil yang tidak berkuku terlihat dari dalam kotak kecil tersebut. Bersih tanpa noda darah dan kotoran.
Tentu saja Chung langsung menjerit dan menutup kembali paket tersebut, kemudian membuangnya ke sudut kamarnya yang gelap, memutuskan untuk melupakan benda itu pernah ada dan mengabaikannya.
Namun paket itu tidak berhenti sampai di sana. Keesokan harinya dia mendapatkan sepuluh pasang jari, namun lebih kecil dari sebelumnya. Keesokannya lagi sepasang kaki. Keesokannya lagi sepasang lengan. Keesokannya lagi perut. Keesokannya lagi dada.
Kemudian keesokannya lagi, dia menemukan Eve tengah berdiri di depan kamarnya, membawa sebuah kotak yang lebih besar dari sebelumnya, dan langsung mendorongnya dalam pelukan Chung. Sebelum akhirnya langsung berlari ke dalam kamarnya dengan sebuah pesan terakhir, "...Ku harap kau menyukai hadiahku, Chung."
Chung sudah bisa menebak apa yang ada dalam kotak tersebut. Dan dia berharap tebakannya salah.
Dia hanya melihat rambut ungu ketika membuka kotak tersebut.
.
.
,
Tok tok.
"Chung. Buka pintunya, Chung."
Kata-kata itu terdengar seperti pernyataan daripada sebuah permintaan di telinga Chung, terucap dengan nada datar seperti biasa.
Laki-laki pirang itu melirik jam. Sekarang sudah pukul delapan, dan dari jendela sudah terlihat begitu gelap. Dan perempuan gila itu masih di depan pintunya, mengetuk-ngetuk pintunya dengan keras dan cepat seiring waktu berlalu.
"Aku tahu kau di dalam, Chung."
Bahkan setelah dia mengatakan itu, Chung tetap tidak bergeming.
Dia tahu yang perlu dia lakukan sekarang adalah diam. Sambil mengeluarkan benda yang sembari dia bawa dari dapur, dia akhirnya berdiri dengan tangannya menggenggam knop perak yang terasa begitu dingin malam ini.
Dan dengan cepat, dia membuka pintunya.
