entah kenapa saya kena writer block akhir-akhir ini ;w; sumimasen kalo makin pendek dan gajes ;A;
disclaimer: check chapter 1 c:
U – Utopia
Summary: Karena Nasod tidak diizinkan untuk bermimpi, maka dia diharuskan untuk menyaksikan kenyataan pahit yang ada di hadapannya.
World: Canon-ish
Genre: Romance/Angst
Words: 262
Eve: Code Nemesis
Chung: Tactical Trooper
.
.
.
Walaupun dia adalah seorang ratu, dia memahami betul posisinya sebagai seorang Nasod; sebuah makhluk yang tidak sempurna, tidak bisa melebihi manusia tidak peduli bagaimanapun dia berusaha.
Namun dia berbeda. Dia tidak melihatnya sebagai seorang Nasod. Dia hanya melihatnya sebagai Eve; seorang gadis yang—walaupun seorang nasod—memiliki kebutuhan yang sama dengan manusia lainnya. Dia memberikan segala yang ia butuhkan sebagai seorang perempuan; perhatian, apapun yang dia minta, dan cinta.
Dia adalah seorang Nasod, maka dia tidak bisa—tidak diizinkan—untuk mencintai sesuatu, terlebih seorang manusia. Selama ribuan tahun, dia menerima fakta tersebut dan menanamkannya dengan dalam di sirkuitnya, namun semuanya berubah ketika dia bertemu dengannya.
Dia tahu dia salah. Dia telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Oleh karena itu dia bermimpi, berada di sebuah tempat yang begitu indah, dimana dia bisa mencintai orang itu layaknya manusia lain. Dimana dia tidak perlu memikirkan tentang kenyataan pahit bahwa dirinya hanyalah sebuah Nasod. Dimana dia bisa mengembalikan cinta yang telah diberikan oleh laki-laki itu.
Namun semuanya salah. Karena Nasod tidak diizinkan untuk bermimpi, maka dia diharuskan untuk menyaksikan kenyataan pahit yang ada di hadapannya.
Lengannya menggantung seolah tidak ada apapun yang menyandangnya. Mata lebar dan darah yang mengalir dari mulutnya, dan tubuhnya yang tertimpa sebuah batu besar hanya untuk melindunginya.
Dan dia seorang diri di sisinya, memeluk kepala laki-laki itu sambil menggumamkan ribuan maaf yang tidak akan sampai padanya.
Dia hanya terdiam di sana, membayangkan sebuah tempat yang begitu indah—utopia—milik mereka berdua, dimana mereka bisa berbahagia selama-lamanya.
Tanpa memikirkan sebuah batu besar yang terjatuh tepat di atasnya.
