disclaimer: check chapter 1 c:


V – Violin
Summary: Orang itu adalah seorang pemain biola terbaik, dan dialah orang yang mengacaukan semuanya.
World: AU
Genre: Friendship/Angst
Words: 575

Eve: Code Empress
Chung: Tactical Trooper

.

.

.

Orang itu pernah menjadi seorang pemain biola terbaik. Dia pernah mendengarkan permainan orang itu sekali, dan dibalik topeng tidak tertarik yang selalu ia tunjukkan pada dunia, dia begitu menyukai permainannya dan selalu mendengarkannya di saat dirinya merasa tidak enak.

Mengejutkannya lagi, orang itu memiliki umur yang cukup dekat dengannya—berada dalam satu sekolah, malah. Orang itu pindah ke kelas sebelahnya beberapa bulan yang lalu. Dan dia, yang memang nyaris tidak pernah berbicara dengan siapapun tentu saja tidak pernah mendengar berita kedatangan orang itu.

Orang itu, setelah dia perhatikan, sama seperti dia. Wajah datar, lebih memilih untuk menyendiri daripada berbicara dengan orang yang—menurut dia—tidak menghargai permainannya sama sekali. Walaupun belum berkenalan, dia sudah merasa cocok dengan orang itu.

Orang itu selalu berada di ruang musik setiap istirahat, memainkan biola-nya di dalam ruangan yang cukup terpencil di gedung lama. Tanpa sadar, dia selalu mengikutinya dan mendengarkan permainannya dari luar. Menjadi pendengar rahasia sudah cukup kok, dia membatin. Mengabaikan rasa penasaran akan orang itu dan ingin mengenalnya lebih jauh.

(Dia sudah bersifat seperti stalker. Dia tidak ingin orang itu berpikiran yang sama.)

Hingga suatu ketika—entah karena ketidak sengajaan atau apa, pintu yang biasa tertutup ketika dia bermain terbuka. Dia yang selalu bersandar di daun pintu otomatis terjungkal ke belakang. Kemudian matanya bertemu dengan mata orang itu.

Orang itu terlihat kikuk sekilas, sepertinya tidak menyangka akan ada orang yang mendengarkannya bermain, sebelum menyapanya dengan canggung, "...Hai."

Dia mengutuk dirinya sendiri. Pasti dia sudah di label aneh oleh orang itu. Sambil tersenyum malu, dia membalas dengan sama canggungnya, "Apa aku mengganggu?"

"Tidak juga." Orang itu mengangkat bahu. "Aku hanya... tidak menyangka ada yang mendengarkanku."

"Aku suka permainanmu."

Orang itu tersenyum, kali ini sepenuh hati, "Terima kasih." Kemudian dia terdiam. "...Oh ya, apa aku mengenalmu?"

"Tidak, tidak. Kita berbeda kelas."

"Begitu? Aku tidak keberatan jika ada yang menyukai permainanku dan berada dalam satu kelas denganku."

Dia ikut tersenyum.

Semakin lama, pembicaraan mereka semakin panjang. Atmosfir canggung yang awalnya menyelimuti mereka menghilang, seolah memang tidak pernah ada disana sebelumnya. Dan tanpa mereka sadari, mereka telah menjadi teman baik.

.

.

.

Matanya menyusuri tubuh orang itu—rambut pirangnya, mata birunya yang menatap kosong ke luar jendela, kemudian lengannya yang dibebat.

Dia tidak bermaksud akan itu. Sungguh. Dia tidak pernah bermaksud untuk melukai tangan orang itu satu minggu sebelum konser terbesarnya, tidak peduli bagaimanapun orang itu terus mengatakan kalau kejadian itu bukan salahnya.

Andai saja dia tidak mengajak orang itu hari itu. Andai saja orang itu membiarkannya mati tertabrak truk daripada menyelamatkannya, mungkin saja dia masih bisa bermain biolanya sekarang. mungkin bisa terkenal hingga ke luar negeri—

"Ini bukan salahmu, Eve." Orang itu berkata, seolah meyakinkan dirinya sendiri, sambil menoleh ke arahnya dengan wajah kosong. "Aku hanya ceroboh saat itu—"

"Ini salahku, Chung." Dia langsung memotong. Topeng datar yang selalu ia pakai mulai rapuh. Suaranya bergetar.

Chung menggeleng. Lengannya yang bebas menyentuh puncak rambut perak Eve, yang perlahan-lahan mulai mengeluarkan isakan pelan. Sebelum menjatuhkan dirinya di pangkuan Chung yang masih berbaring di kasur rumah sakit.

"Maafkan aku, Chung..." kata-kata itu keluar seperti mantra dari bibir Eve, tidak peduli bagaimana pun Chung terus membantahnya.

Sementara Chung, yang terus memaksakan wajah tegar di depan Eve, wajahnya mulai jatuh ketika Eve mulai menangis dan terisak di pangkuannya; sebuah pemandangan yang tidak ingin ia lihat seumur hidupnya.

"...Maafkan aku, Eve..."