omg saya ngeliat reviewnya banyak banget _(:'3/ arigatou gozaimasu~ ;w;
ini saya label canon karena saya bayanginnya wedding system ahai _(:'3/
Disclaimer: check chapter 1 c:
W – Wedding
Summary: Dalam sehat dan sakit, hingga ajal menjemput. Di bawah janji suci, Chung Seiker mengucap janji pada seorang Eve.
World: Canon
Genre: Romance
Words: 686
Chung: Deadly Chaser
Eve: Code Battle Seraph
Raven: Blade Master
.
.
.
Untuk kesekian kalinya dia menautkan diri di depan cermin yang setinggi tubuhnya, sesekali mengubah letak dasi pita yang terasa mencekiknya hanya untuk membuatnya sedikit lebih longgar. Walaupun begitu, tetap saja paru-parunya terasa sesak seperti diinjak-injak hingga dia tidak bisa bernafas.
Sekali lagi dia mendesah. Memutuskan untuk menyerah tentang dasinya, dia meraih sebuah sisir dan merapikan rambutnya yang berantakan, tidak peduli sudah berapa kali dia mencoba merapikannya. Dia ingat kata temannya, Raven, kalau dia tidak boleh membiarkan rambut panjangnya begitu saja, atau dia akan dikira perempuan oleh orang lain. Dia memutar bola matanya. Sepertinya dia sudah cukup terbiasa tentang itu, dan dia sudah tidak peduli lagi.
"Pikirkan juga perasaan calon istrimu, bodoh." Raven berkata saat itu, masih memegangi rambutnya dengan halus (baca: menjambak) supaya lebih mudah menyisirnya. "Mana ada perempuan yang senang jika dikira menikahi perempuan lain?"
Baru saja dia hendak mengatakan 'Banyak perempuan diluar sana', tetapi berhasil di tahan. Dia tidak ingin menyamakan calon istrinya dengan wanita yang lebih memilih sesama jenis. Tidak. Karena calon istrinya telah memilihnya, dia tidak perlu melihat wanita lain.
Pintu tiba-tiba terbuka kasar, dan wajah kusut Raven kembali terlihat di ambang pintu. Tidak lagi, dia memutar bola matanya dan mendesah lelah. Terutama ketika laki-laki berambut hitam itu mulai memperhatikan dirinya dari ujung rambut hingga kaki.
"Kau—" Dia membuka mulut, namun langsung berhenti dan mendesah. Memijat keningnya dengan ekspresi capek yang tidak berusaha di sembunyikan. "—sebenarnya yang mau menikah di sini siapa, aku atau kau?"
"Tentu saja aku."
Mendengar pertanyaan ironis dijawab dengan jujur dan naif, Raven memutar manik emasnya. "Aku tahu. Aku hanya bingung kenapa aku yang kelelahan, bukan kau."
"Aku juga lelah." Dia memotong, yang diabaikan oleh Raven. Laki-laki berambut hitam pendek itu berjalan ke arahnya dan membetulkan letak dasi pitanya, mengembalikan posisi benda mengerikan tersebut hingga kembali mencekiknya seperti sebelumnya.
Melihat tatapan paniknya, laki-laki yang lebih tua itu menepuk bahunya. "Kau akan baik-baik saja, Chung." Wajah kusutnya menghilang, berganti dengan ekspresi yang lembut. "...Aku yakin ayahmu sangat bangga padamu sekarang. Jangan kacaukan hari ini, oke?"
Chung tersenyum lembut, mengingat ayahnya yang kini telah mengawasinya dari jauh, merasakan kalau ia ingin membahagiakan orang paling penting—sekarang kedua setelah calon istrinya—untuk terakhir kalinya. Setelah memberikan anggukan yakin, laki-laki berambut pirang itu langsung memeluk Raven, yang selama ini telah ia pandang sebagai sosok seorang kakak.
"Terima kasih." Suaranya terasa begitu berat. "Terima kasih, kakak."
Raven mengembalikan pelukan dari Chung dengan senang hati sambil menepuk punggungnya. "...Pergilah, Chung. Tunjukkan pada Eve kalau kau akan selalu menjaganya, seperti janji-janjimu sebelumnya."
.
.
.
Sepasang kekasih—yang kini akan menjenjang sebuah jalinan hubungan yang lebih dalam—berdiri di hadapan altar yang berhias bunga mawar putih, dengan seorang pendeta membacakan janji suci untuk mengikat mereka dalam hubungan yang abadi.
Chung melirik wanita yang berdiri di sebelahnya; seorang malaikat berbalut pakaian putih yang seolah jatuh langsung dari surga, langsung ke tangannya. Kulit putih tanpa noda dengan sedikit rona merah di wajahnya, dan mata keemasan yang melembut, sesekali meliriknya dan tersenyum hangat.
Dalam sakit dan sehat.
Mereka saling berhadapan. Ketika Eve tersenyum, Chung merasakan jantungnya kembali berdebar lebih cepat daripada sebelumnya.
Dalam hidup dan mati, hingga ajal menjemput.
Dia sudah berjanji padanya akan selalu melindunginya—dari semua kesedihan di dunia, dari semua yang selalu menyakitinya, dan akan selalu memberikan segala kebahagiaan yang ada di dunia ini.
"—Apakah kau bersedia menerima Chung Seiker sebagai suamimu?"
Sang pendeta bertanya, dan Eve menjawab dengan yakin, masih menatap Chung dengan keyakinan yang sama.
"Ya."
Kalimat yang singkat, namun cukup untuk membuat Chung menjadi seorang laki-laki yang paling bahagia di dunia ini.
Tanpa memikirkan dunia di sekeliling mereka, wajahnya langsung mendekati Eve. Nafas mereka bersatu, saling mengikat, sebelum bibir mereka bertaut, seolah memperkuat janji suci yang mereka ucapkan atas nama Tuhan. Dan ketika wajah mereka berpisah, dengan wajah memerah, mereka saling tersenyum satu sama lain. Menyambut tepuk tangan meriah yang ditunjukkan pada mereka.
Sekali lagi Chung menunduk, mendekatkan bibirnya dengan telinga Eve, dan membisikkan kata-kata yang tidak bosan-bosannya ia ucapkan dengan nada tulus.
"Aku mencintaimu lebih daripada apapun di dunia ini, Eve—Eve Seiker."
Dia merasakan Eve tersenyum.
"Aku juga mencintaimu, Chung Seiker."
