Entah kenapa saya suka sama overprotective!Chung, walaupun jadinya malah kayak Add (*`w`) #jduk
disclaimer: check chapter 1 c:
X – Xavier
Summary: Kalau orang bertanya Chung Seiker itu orangnya seperti apa, jawabannya pasti 'Sempurna'. Tetapi bagi Eve, pacarnya, kalau dia adalah orang yang mengerikan.
World: AU
Genre: Romance
Words: 800
Eve: Code Empress
Chung: Iron Paladin
.
.
.
Kalau orang bertanya; Chung Seiker itu orangnya seperti apa sih? Jawabannya pasti rata-rata sama; dia baik hati, tampan, dan romantis. Pokoknya sempurna.
Ya, Chung Seiker adalah laki-laki idaman para perempuan di SMA Velder. Rambutnya yang pendek berwarna pirang dengan dua titik cokelat, yang senada dengan kulitnya yang putih. Mata birunya yang indah dan pupil berbentuk kaki anjing, terlihat begitu manis. Dia juga murah senyum dan sopan. Apalagi dia juga kaya. Tidak salah dia diberi nama panggilan 'sang Pangeran dari Hamel'.
Yang membuat bingung seluruh warga sekolah adalah; kenapa sang pangeran ini berpacaran dengan Eve, si empress yang tidak beremosi dan dingin?
Eve berkebalikan seratus delapan puluh derajat dari Chung. Dia dingin, jarang berbicara, dan jarang tersenyum. Walaupun dia manis; rambutnya perak panjang, dan mata emasnya juga tidak kalah indah, walaupun jarang menampilkan emosi apapun. Dia tidak terlalu disukai oleh kalangan wanita karena suka mengatakan hal buruk tentang pacarnya (...tunggu, apa?).
Kalau Chung selalu terpilih menjadi laki-laki paling populer, Eve hanya mendapat satu suara sebagai perempuan paling populer, yaitu dari Chung sendiri.
.
.
.
Untuk mendapat informasi tentang Chung, para jurnalis sekolah lebih suka berbicara dengan Chung, berhubung laki-laki itu juga cukup tertutup. Walaupun yang dia dengar dari sang kekasih hanyalah hal yang buruk.
(Entah mengapa Eve selalu meminta mengadakan wawancara di tempat sepi, dan jauh dari Chung)
Saat bertemu dengan para jurnalis, mata sang empress memicing—ketakutan? "...Aku yakin aku mengatakan dengan jelas kalau aku tidak ingin di wawancarai oleh laki-laki."
"Ah... ermm... ju-jurnalis perempuan yang lain sedang sibuk sekarang..." Tidak sepenuhnya benar. Masih ada jurnalis perempuan yang tidak sibuk, hanya saja ketika diminta untuk mewawancarai seorang Eve, semua langsung menolak keras.
Gadis berambut perak itu menatap mereka datar, seolah berusaha untuk melihat tembus ke jiwa mereka, sebelum akhirnya mendesah dan menggeleng sambil bergumam, "Aku sudah memperingatkanmu."
'Dia akan membunuh kita.' Kompak jurnalis itu membatin.
Eve mendesah keras, kemudian menatap kedua jurnalis itu dengan dingin. "Jadi, apa yang ingin kalian tanyakan?" Sebelum bisa menjawab, Eve langsung mengangkat tangannya, "—Jangan tentang Chung. Tolong."
"K-Kami memang hendak bertanya tentang dia..."
Sang Empress sekarang terlihat seolah dia tengah menghadapi masalah penyakit malaria di negerinya. Dan para jurnalis merasa kalau hidup mereka bisa berakhir kapan saja di tangannya.
Mereka bersyukur Eve tidak benar-benar melakukan itu. Dia hanya melipat tangannya, dan wajahnya yang biasanya datar kini terlihat kesal—benar-benar kesal. Kemudian dia menjawab pertanyaan yang sering ditanyakan dengan jawaban yang biasa ia berikan, "Chung itu mengerikan. Apa itu belum cukup?"
"Mengerikan? Bisa tolong jelaskan—"
Gadis itu mengangkat satu jari, "Dia bisa tahu dimanapun aku berada," kemudian satu jari lagi, "Dia bisa tahu dengan siapa aku berada," satu jari lagi, "Dia bisa tahu apa yang ku bicarakan," satu jari lagi, "Dia bisa berada dimana saja, bahkan bisa saja ada di belakangmu—"
"Kalian sedang membicarakan apa?"
Ketika suara yang lembut itu muncul tiba-tiba dari belakang kedua wartawan yang tengah mewawancarai Eve. Bahkan Eve sendiri, yang sepertinya tidak menyadari keberadaan laki-laki itu, wajahnya berubah kaget sekilas.
Laki-laki yang baru muncul tersenyum lembut pada Eve, sebelum meraih tangannya dan menariknya dari tengah-tengah para laki-laki. "Aku mencarimu kemana-mana, Eve." Dengan santai dia mengelus rambut perak Eve, yang terlihat tidak menyukai perlakuan tersebut. "Ayo kita makan siang, oke?"
"Chung." Eve menggerutu sambil memutar matanya. "Bagaimana dengan para fans-mu?"
Wajah Chung terlihat tidak senang. "Aku tidak ingin makan dengan mereka. Aku ingin makan denganmu." Kemudian mulai berjalan menjauh dari dua orang yang masih tersungkur di lantai. Sebelum tiba-tiba laki-laki berambut pirang itu berhenti dan berbalik, kali ini menatap dua wartawan tersebut. "...Kalian ditunggu seseorang di belakang sekolah. Pergilah."
Kedua laki-laki, yang sepertinya tidak menduga akan mendapatkan wajah dan suara paling dingin dari sang 'Pangeran SMA Velder', langsung lari terbirit-birit tanpa mengatakan apapun.
.
.
.
"Apa kau perlu melakukan itu?"
Chung menatap lurus ke arah Eve, yang sekarang terkurung antara tubuhnya dan dinding, kemudian memutar bola matanya. "Mereka seharusnya mendapatkan lebih." Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Eve, hingga perempuan itu bisa merasakan nafas hangatnya di kulitnya. "...Mereka mendekatimu tanpa izinku."
"Karena itulah mereka terus datang." Perempuan berambut perak itu mendengus, membiarkan Chung mencium puncak kepalanya dengan lembut. "Kau tidak pernah membiarkanku berbicara dengan orang lain."
Kali ini giliran Chung yang memutar bola matanya—walaupun Eve tidak bisa melihatnya. "Kau yang membuatku begini." Kemudian dia memeluk Eve dengan erat. "Kau yang membuatku jatuh cinta padamu. Bertanggung jawablah dan jadilah milikku."
Eve mendesah, dan akhirnya membiarkan dirinya sendiri hanyut dalam kehangatan Chung. "Kau berlebihan." Lalu tersenyum lembut. "Aku sudah berjanji. Percayalah padaku sedikit."
Laki-laki berambut pirang itu hanya menggumamkan 'tentu', kemudian kembali mencium puncak kepalanya. Sebelum akhirnya dia tersenyum dingin—sebuah ekspresi yang ditunjukkan pada dua tubuh babak belur yang terbaring di dekat mereka, di belakang sekolah. Ekspresi itu tidak akan ia tunjukkan pada siapapun, kecuali pada orang yang berani mendekati dan menyentuh Eve.
