CHAPTER 2

"Jae…," panggil Daehyun.

"….."

Tidak mendapatkan respon dari namja di sampingnya, Daehyun meletakkan tangan kanannya yang sedari tadi berada di atas kemudi di paha Youngjae yang – untungnya – terbalut celana oleh selembar celana kain yang ia kenakan. "Yoo Youngjae…"

"….." Tetap tidak ada jawaban.

"Yoo Youngjae," ulangnya.

Kini Youngjae sedikit tersentak, rupanya ia tadi sedang melamun sambil memandang ke luar jendela. "Ne?"

"Sudah malam, dan jalan masih macet panjang, bagaimana kalau kita makan malam dulu? Mungkin setelah makan malam jalan sudah agak lega."

Youngjae menimbang-nimbang ajakan Daehyun, dan beberapa detik kemudian ia menjawab, "mainahe, Dae, tapi aku belum lapar."

"Makan disaat belum lapar juga tidak apa-apa kok, aku tau siang tadi kau hanya makan sedikit."

"Tapi…."

"Jangan menolakku."

Youngjae terdiam. Hatinya senang karena sebenarnya ia menyukai Daehyun, namun ia juga takut dan merasa bersalah mengingat status Daehyun yang sudah menikah, bisa-bisa dia dianggap sebagai orang ketiga dalam rumah tangga Daehyun dan Baekhyun, apalagi siang tadi…

Lamunan Youngjae buyar saat menyadari kemana mobil yang mereka tunggangi belok, bukan ke restoran atau rumah makan seperti yang ia sangka sebelumnya melainkan ke sebuah hotel.

"Dae… Kita…"

"Restoran yang ada di hotel ini sangat enak, Jae," potong Daehyun seolah mengerti apa yang dipikirkan oleh namja di sampingnya itu.

Youngjae menghembuskan nafas lega mendengarnya.

.

.

.

"Jae, tunggu disini sebentar ne, aku akan segera kembali," pesan Daehyun pada Youngjae.

Youngjae mengangguk, ia masih duduk di kursi restoran, baru saja menyelesaikan makan malamnya bersama Daehyun. Hatinya sungguh sangat gelisah membayangkan apa yang akan Daehyun lakukan setelah ini, namja itu benar-benar tidak bisa ditebak. Sebenarnya bisa saja sih kalau dia mau melarikan diri, tapi jarak antara tempatnya berada saat ini dan rumahnya masih cukup jauh dan tidak mungkin ditempuh dengan berjalan kaki. Naik bus atau taxi? Tas yang berisi dompet dan seluruh uangnya tertinggal di mobil Daehyun.

Beberapa saat kemudian Daehyun kembali dan langsung menggandeng Youngjae untuk meninggalkan restoran itu. Youngjae menurut saja, pasrah lebih tepatnya.

"Jung, Jung Daehyun, kita mau kemana?" tanya Youngjae bingung saat Daehyun terus membawanya masuk lebih dalam, melewati mobil Daehyun yang terparkir di lapangan parkir yang terletak di antara restoran dan gedung utama hotel.

"Diam dan ikuti saja permainanku," jawab Daehyun sambil mengeluarkan smirk mengerikannya.

.

.

.

Di tempat lain terlihat seorang namja cantik tengah mengamat-amati sebuah benda berbentuk persegi panjang di tangannya, saat ini ia sedang berada di supermarket dan tengah berpikir keras apakah ia akan membeli benda yang kini dipegangnya itu atau tidak. Berulang kali ia mengambil benda itu, meletakkannya di troli belanja, kemudian mengembalikannya ke tempat semula, dan mengambilnya kembali. Ia sungguh ragu apakah ia akan membelinya atau tidak. Takut menyesal jika tidak membelinya dan juga takut kecewa jika membelinya.

Namja bertubuh mungil itu kemudia memutuskan untuk membelinya, ia melemparkan benda berwarna biru tersebut ke dalam troli belanjanya yang sudah hampir penuh. Ia menghela nafas panjang kemudian mendorong trolinya menuju ke kasir.

.

.

.

KRIIIINGGG!

KRIIIINGGG!

Youngjae melirik ke arah handphone Daehyun yang sedari tadi tak henti-hentinya berdering, ia ingin mengintip siapa orang yang menelpon atasannya tersebut namun ia sadar kalau itu bukan urusannya, biarlah nanti Daehyun yang menjawab panggilan itu sendiri setelah kembali dari kamar mandi.

Mengacuhkan suara handphone Daehyun, Youngjae merebahkan tubuhnya yang sudah bersih dan wangi ke atas kasur. Ia berusaha untuk segera memejamkan matanya dan tertidur. Ditariknya selimut tebal yang ada untuk menutupi dirinya hingga sampai kepala.

Suara derap langkah kaki yang terdengar semakin mendekat membuat jantung Youngjae berdetak berkali-kali lebih cepat dari semula.

"Jae…," panggil Daehyun lirih. Namja tampan berkulit gelap tersebut mendudukkan dirinya di sisi ranjang yang lain. Daehyun tahu persis kalau Youngjae hanya berpura-pura tidur, maka dari itu ia membuka selimut yang menutupi tubuh sekretarisnya itu. "Kenapa bersembunyi, Jae?"

Youngjae yang sudah ketahuan hanya bisa tersenyum miris menatap Daehyun yang sudah menyelesaikan acara mandinya dan kini kembali hanya dengan selembar handuk di pinggangnya.

Daehyun mengecup singkat kening Youngjae kemudian beranjak untuk mematikan lampu sehingga kamar yang mereka tempati benar-benar gelap sekarang. Kesempatan emas untuk Youngjae, dengan keadaan kamar yang gelap gulita ia pikir ia bisa melarikan diri dari terkaman seorang Jung Daehyun. Perlahan tanpa mengeluarkan suara Youngjae turun dari atas ranjang kemudian merangkak menuju ke arah pintu.

DUK!

Youngjae merasakan kepalanya menabrak sesuatu yang cukup keras.

"Mau kemana, Jae?"

DEG!

Youngjae merasa jantungnya berhenti berdetak selama beberapa saat demi mendengar suara itu, suara Daehyun. Ia merutuki dirinya sendiri kenapa tidak kabur saat Daehyun berada di kamar mandi tadi saja.

"Mau kabur eoh?"

Youngjae terdiam, masih dengan posisi menungging di lantai karena tadi ia merangkak.

Tak mau membuang waktu lebih lama lagi, Daehyun segera mengangkat tubuh Youngjae yang hanya terbalut oleh selembar kimono mandi dan menjatuhkannya ke atas ranjang.

"Dae, tadi saat kau mandi handphonemu terus bordering, mungkin Baek…"

Tidak mau mendengar kelanjutannya, Daehyun mengunci bibir Youngjae dengan bibir tebalnya, mulai melumat lembut bibir namja yang kini telah berada di bawahnya itu.

"Dae…"

"Jangan menolak, Jae… Aku mohon, untuk malam ini saja…"

.

.

.

Youngjae bergerak gelisah di atas tempat tidur, ia mendengarkan suara dengkuran halus yang berasal dari namja di sampingnya, Daehyun. Youngjae terus berusaha memejamkan matanya namun tidak berhasil, ia tidak bisa tidur. Mungkin karena berpindah tempat tidur, mungkin juga karena keberadaan Daehyun di sampingnya. Melarikan diri? Mau pulang dengan apa? Ia baru ingat kalau tas serta dompetnya masih ada di mobil Daehyun, jadi seandainya dia berhasil melarikan diri tadi pun ia tidak tahu bisa sampai di rumahnya atau tidak karena tidak membawa uang sama sekali. Lagipula, walaupun ia bisa melarikan diri malam ini, besok pagi ia harus kembali bertemu dengan Daehyun di kantor. Pindah kerja? Tentu saja ia harus mendapatkan pekerjaan baru terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mengundurkan diri jika tidak mau jadi pengangguran.

Youngjae merasakan Daehyun bergerak, namun untungnya Daehyun hanya sekedar mengubah posisi tidurnya saja dari terlentang menjadi miring ke kanan, membelakangi Youngjae. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya besok, apalagi jika bertemu dengan Baekhyun, ia merasa sangat berdosa, tapi ia tidak memiliki pilihan lain.

.

.

.

Baekhyun duduk dengan gelisah di teras rumahnya, menanti sang suami yang tidak pulang semalam. Tidak biasanya seperti ini, Daehyun tidak pulang tanpa memberi kabar, apalagi semalam ia berusaha menghubungi ponsel Daehyun namun tidak diangkat sama sekali, ia telah mengirimkan pesan tapi juga tidak dibalas padahal sudah dibaca.

"Apa ini ada kaitannya dengan apa yang aku lihat kemarin?" tanya Baekhyun pada dirinya sendiri, tiba-tiba ia teringat akan DaeJae moment yang ia lihat di ruang kerja Daehyun kemarin.

Namja bersurai hitam tersebut menggeleng agar semua prasangka buruk yang ada di dalam kepalanya pergi. "Ani, aku harus positive thinking. Daehyun masih mencintaiku, dia suamiku, aku harus percaya padanya. Apa yang aku lihat kemarin pasti tidak seperti yang aku pikirkan. Ya, aku hanya salah paham," Baekhyun berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan gerbang rumahnya dan seorang namja yang Baekhyun yakini sebagai suaminya keluar dari dalam mobil itu dengan mengenakan pakaian yang masih sama seperti kemarin.

"Dae," sapa Baekhyun sembari menghampiri suaminya yang sudah wangi namun belum berganti baju tersebut.

"Aku hanya pulang untuk ganti baju saja, hyung. Setelah ini aku akan langsung kembali ke kantor. Kau ada makanan yang bisa aku bawa?" Daehyun berbicara sambil berjalan masuk ke dalam rumah, menuju ke kamar tepatnya.

Baekhyun mengekor di belakang suaminya.

"Nanti mungkin aku juga akan pulang sedikit terlambat, jangan tunggu aku, kamu makan malam saja duluan kalau aku belum pulang." Sepertinya Daehyun sudah lupa kalau baru kemarin ia kepergok selingkuh oleh istrinya itu.

"Memangnya selama kamu tidur dimana?" tanya Baekhyun curiga. Dan kecurigaannya bertambah ketika Daehyun melepaskan kemeja yang ia kenakan, menampilkan sebuah bekas gigitan di bahu kiri suaminya yang ia yakini bukan hasil karyanya. "Ini kenapa? Siapa yang melakukannya?"

Daehyun sedikit tersentak ketika Baekhyun menyentuh lukanya. "Eh?"

"Siapa, Dae?"

"Ah… Itu… Itu kamu kan, kamu yang gigit aku."

"Aku? Seingatku aku enggak pernah gigit bahumu sekalipun, Dae. Selama satu tahun kita menikah aku belum pernah sekalipun menggigit bahumu Dae, dan kamu ingat, sudah lebih dari seminggu kita tidak melakukannya. Jadi aku yakin bukan aku."

Daehyun membalikkan badannya, berpura-pura mencari kemeja ganti di dalam lemari untuk menutupi rasa gugupnya. Namun justru dengan membelakangi sang istri Daehyun memamerkan punggungnya yang dihiasi beberapa garis bekas cakaran hasil karya seniman yang sama dengan seniman pembuat bekas gigitan di bahunya.

"Dae, punggungmu…"

Namja tampan yang kini tengah mengambil sebuah kemeja berwarna hijau toska dari dalam lemarinya itu tersentak, ia sepenuhnya lupa akan bekas cakaran Youngjae semalam yang ada di punggungnya jika Baekhyun tidak meningatkannya.

"Ah… Itu juga kamu kan," jawab Daehyun sambil memakai kemejanya.

"Aku? Kamu ingat kapan terakhir kali kita melakukannya, Dae? Tidak mungkin aku."

Daehyun yang merasa terpojok membalikkan tubuhnya menghadap ke Baekhyun yang kini menatapnya penuh kebencian.

"Memangnya kenapa kalau orang lain yang melakukannya denganku? Cemburuh eoh?"

"Memangnya salah kalau aku cemburu, Dae? Kamu itu suamiku!"

Daehyun tersenyum kecil kemudian masuk ke kamar mandi untuk mengganti celana, sebenarnya tidak masalah kalau ia ganti celana di depan Baekhyun yang notabene adalah istri sahnya, tapi ia berusaha untuk menghindar, karena sudah tertangkap basah dan tidak bisa mengelak lagi.

Tak lama kemudian Daehyun keluar dari dalam kamar mandi sudah dengan berganti celana, tanpa menghiraukan Baekhyun yang menunggunya dengan duduk di tepi ranjang ia berjalan begitu saja ke arah keluar kamar.

"Daehyun-ah, chakkaman…"

"Kita bicara nanti malam saja, aku buru-buru."

Baekhyun berusaha mengejar Daehyun hingga ke ruang tamu, namun lagi-lagi Daehyun menghindar. Akhirnya yang bisa dilakukan Baekhyun hanya menatap punggung suaminya yang semakin menjauh dan menghilang masuk ke dalam mobilnya.

.

.

.

"Mian membuatmu menunggu lama," ucap Daehyun begitu ia masuk ke dalam mobil pada Youngjae yang duduk diam di bangku penumpang.

"Gwencahana," jawab Youngjae singkat.

"Jae…"

"Ne?"

"Morning kiss…" Daehyun mendekatakan wajahnya ke Youngjae dan memajukan bibirnya.

"Eh? Itu kan tugas Baekhyun hyung."

"Mulai sekarang itu jadi tugasmu, Jae."

"Tapi…"

CUP!

Belum selesai Youngjae berucap bibir kissablenya sudah disambar oleh namja yang telah membuatnya tidak pulang ke rumah semalam itu.

"Jung! Keumanhae!"

"Araseo… Araseo…"

Daehyun mengalah, ia menyalakan mesin mobil dan menjalankannya menjauh dari rumah yang ia tinggali bersama dengan Baekhyun tersebut.

.

.

.

Saat Daehyun kembali ke rumahnya di malam hari semua gelap. Tidak satupun lampu menyala. Daehyun berpikir Baekhyun sedang pergi shopping atau berkunjung ke rumah orang tuanya, ia tidak mempermasalahkan keadaan rumah yang gelap gulita saat ia pulang, toh hanya dengan menekan tombol lampu satu kali maka ruangan akan berubah menjadi terang.

Setelah membersihkan diri Daehyun membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menoleh ke arah kanan, tempat biasanya Baekhyun berbaring. Tempat itu kini kosong. Daehyun merasakan ada sesuatu yang aneh, tapi tidak bisa menemukan apa itu.

Perlahan tangan Daehyun meraba-raba meja nakas yang berada di samping kiri tempat tidur, meraih ponselnya. Dengan jari telunjuk kirinya ia menyentuh layar touchscreen di tangannya yang lain beberapa kali, kemudian menempelkan benda persegi panjang tersebut ke telinga.

Daehyun sedang mencoba menghubungi Baekhyun.

Tidak ada jawaban.

Baekhyun tidak menjawab teleponnya hingga nada tunggu berakhir.

"Ah, namja itu pasti sedang berada di mal. Midnight sale, apa lagi?"

Daehyun meletakkan kembali ponselnya kemudian menarik selimut hingga menutupi wajah tampannya.

TBC

a/n: Mian, updatenya lamaaaaaa banget... T.T

Entah kenapa tiba-tiba malem ini pengen update, jadilah aku update malam ini walaupun cuma sedikit

.

.

.

Balasan buat yang review di chap 1

DaeMinJae : Annyeong, iya kamu yang pertama, chingu... Aku juga suka yang official-official, kecuali satu... Kekasih Ren itu JR la, bukannya Baekhyo sama Minhyun ya? (balik nanya) Cerita Baek muntah? Aku malah udah lupa kalau Baek sempet muntah, hehehe... Aku juga sama kok, tenang aja T.T
EganimEXO : kan baekhyunnya uda punya Taeyeon sekarang *confused*... Mian updatenya lama, tapi uda di update kok ^^

mokythatha : Ya, Daehyun memang mesum dari sononya, hehehe... Ya, diusahain bisa lanjut lagi...

mayaDJ : Daehyun sama Youngjae sih mungkin, tapi kalau Baekhyun... Kan uda punya Taeyeon... Chanyeol? Entahlah

jung youngjae : Mungkin, mungkin, tapi belum pasti juga sih...

daehan : untuk endingnya belum kepikiran, hehehe... Tapi akan dipertimbangkan...

guest : ya, ini udah di lanjut...

yjayyoo : belum tau, tapi akan dipertimbangkan

yeje : aku juga T.T... Justru aku sukanya karena V, ngeliat V itu kayak lihat Daehyun, tapi kadang kayak fotocopy-nya Baek. Hahaha... Iya, Baekhyun kayaknya lebih cocok dijadiin pihak yang teraniaya *evil laugh*

.

Dan terima kasih juga buat semua yang udah baca, review, follow, add to favorite...

Sekali lagi, Gomawoseubnida ^^